Kompasianival 2012

Jumat sore kemarin (16/11) Mas Bukik mem-bbm saya, meminta tolong untuk hadir mewakili Indonesia Bercerita menerima penghargaan dari Kompasiana di hari Sabtu (17/11). Acara yang bertajuk Kompasianival 2012 ini merupakan rangkaian acara ulang tahun Kompasiana yang ke-4, yang tahun ini diadakan di Skeeno Hall – Gandaria City lantai 3.

Saya berangkat dari rumah sekitar pukul 18.00, sampai di sana sekitar pukul 19.00. Baru saja saya mendaratkan kaki memasuki ruangan yang penuh dengan booth-booth komunitas itu kok ya tepat pas acara pengumuman pemenang \:D/. Jadi semacam baru bangun tidur; nyawa belum genap, sudah diminta untuk berbaris ;)). Tapi bagus juga sih, jadi saya kan nggak perlu menunggu terlalu lama untuk menerima penghargaan itu. Bukan apa-apa, soalnya di sana nggak ada yang saya kenal; saya juga tidak bersama kru sekomunitas karena kebetulan masing-masing sudah punya acara di waktu yang sama. Jadi ya sudahlah, yang penting saya hadir untuk menerima penghargaan :D.

Sekadar laporan pandangan mata, Skeeno Hall sebagai tempat perhelatan acara Kompasianival kalau saya perhatikan sepertinya kurang dimanfaatkan secara maksimal, karena terlihat banyak space yang kosong. Entah karena jumlah booth komunitas peserta yang ikut tidak terlalu banyak, atau memang sengaja dibuat seperti itu. Humm, kalau menurut saya suasana di dalam Skeeno Hall juga kurang catchy, (cmiiw) sepertinya lebih banyak didominasi dengan warna hitam, ya? Semoga cuma mata saya aja yang siwer, ya. Dalam ekspektasi saya sepanjang perjalanan menuju ke lokasi acara, saya akan berada dalam sebuah suasana yang heboh layaknya sebuah event bertemakan karnaval. Tapi ketika sampai di sana ternyata nggak seheboh yang ada dalam bayangan saya. Ok, berarti sayanya yang lebay kali, ya? Tapi saya yakin panitia sudah bekerja dengan heboh dan berusaha mati-matian menyelenggarakan acara ini kok ya… 😉

Tentang apa dan bagaimana kriteria secara khusus sehingga 10 komunitas ini dianggap sebagai “Komunitas Paling Berjasa di Media Sosial” dan berhak mendapatkan plakat dan uang tunai sebesar satu juta rupiah (dipotong pajak) ini saya kurang jelas (karena bukan panitia, hehe..). Yang pasti ada 10 komunitas yang berhak meneriman penghargaan itu, beberapa diantaranya ada Coin A Chance, Save Street Child, Ayah ASI, dan Indonesia Bercerita \m/ \:D/

Anyway, selamat ulang tahun buat Kompasiana, semoga semakin hore dan sukses selalu. Terima kasih kepada Kompasianival yang telah memberikan penghargaan kepada komunitas kami, Indonesia Bercerita. Semoga api kecil yang kami sebarkan melalui mendongeng ini tidak akan berhenti sampai di sini saja, namun akan menjadi nyala yang lebih besar lagi, dan semoga akan ada banyak lagi orang yang terinspirasi untuk memiliki semangat yang sama; mendidik dan membangun karakter anak bangsa melalui dongeng \m/.

Buat Indonesia Bercerita, selamat ya… :-* >:D<

 

[devieriana]

 

foto: dokumentasi pribadi

Continue Reading

“Dear Transjakarta…”

 

Hari Selasa kemarin, di tengah mood swing dan ke-cranky-an akibat PMS, ternyata masih harus ditambah dengan kejengkelan dan keletihan luar biasa akibat menunggu bus Transjakarta selama kurang lebih 2 jam ~X(. Saya keluar kantor sekitar pukul 16.00 wib. Dengan semangat ’45 karena ingin segera sampai di umah untuk istirahat ditambah langit yang sudah gelap saya maka pun bergegas menuju ke halte Harmoni, halte busway terdekat dengan kantor saya. Ketika tiba di halte, kondisi antrean penumpang masih berjumlah 6 orang, tapi semakin sore semakin bertambah, dan makin mengular.

Biasanya sih saya naik Transjakarta yang ke arah Blok M, tapi sejak jurusan Ragunan-Kota dibuka saya pun memilih jurusan ini karena lebih praktis, tinggal sekali kali naik saja dan langsung turun di halte Duren Tiga. Memang pintu antrean ini tidak selalu dibuka, ada kalanya mas-mas petugas Transjakarta sengaja menutup pintu antrean yang ke arah Ragunan ini sambil menginfokan kalau armadanya bakal lama, sehingga calon penumpang bisa memilih antrean jurusan lainnya.

Tapi tidak dengan hari Selasa kemarin, pintu antrean untuk jurusan ini sengaja dibuka, dan ternyata kami harus menunggu selama kurang lebih 2 jam hingga bus yang ke arah Ragunan itu datang :-w. Mau ganti naik transportasi lainnya kok ya sudah keburu males, belum lagi di luar halte hujan mengguyur dengan deras, jadi ya sudahlah ya, hampir semua calon penumpang yang terlantar ini sepertinya berpikiran sama, memilih pasrah menunggu bus dengan kondisi kaki pegal-pegal :((.

Gusar itu pasti, apalagi melihat yang ke arah Blok M lebih sering dan lebih banyak yang lewat ketimbang bus ke arah Ragunan yang mungkin hanya Tuhan dan supir Transjakarta saja yang tahu kapan dia bakal lewat. Nah, kenapa nggak pindah ke antrean yang ke arah Blok M saja? Ada sih yang memilih pindah antrean ke jurusan Blok M, tapi sepertinya sebagian besar masih berharap bus yang ke arah Ragunan segera datang sehingga kita nggak perlu ribet gonta-ganti bus. Tetep keukeuh, ya… \m/

Kedongkolan kami ternyata masih harus ditambah ketika melihat salah satu petugas Transjakarta menjawab pertanyaan kami dengan kata-kata yang kurang simpatik. Waktu itu kami bertanya, “Mas, busnya ada nggak sih? Kira-kira datangnya jam berapa? Udah 2 jam nih! :|”  Mas-mas yang tidak diketahui namanya itu pun menjawab pertanyaan kami dengan songongnya, “Ibu jangan tanya sama saya dong! Tanya tuh  sama petugas yang di sono, sama di sono! Saya nggak tahu apa-apa!”  Oh, ok, kalau Mas nggak tahu apa-apa, trus Mas ngapain sok sibuk semprat-semprit sana sini, sok sibuk ngatur bus yang datang? Tupoksinya Mas di situ ngapain aja, sih? Kenapa nggak helpful sedikit, bantu carikan info kek, atau kasih alasan apa kek yang sekiranya bisa menenangkan hati calon penumpangnya. Kalau melihat attitude petugas  yang kaya begitu jadi curiga, jangan-jangan manajemen bus Transjakarta memang tidak pernah menyelenggarakan training soft skills buat pegawai-pegawainya, ya? 😕

Akhirnya bus yang kami tunggu-tunggu pun tiba. Jangan ditanya bagaimana beringasnya kami ketika naik bus. Saling dorong, saling seruduk, saling berebut tempat duduk. Bahkan teriakan mas guide, “biasa aja dong naiknya, nggak usah berebutan!” tidak kami hiraukan lagi. Yang penting sudah di dalam bus, capcus! Bus pun melaju dengan kecepatan sedang karena hujan dan jalanan yang macet. Ternyata penumpukan penumpang bukan hanya di halte Harmoni saja, tapi di halte-halte pemberhentian lainnya pun juga. Kebanyakan mereka mengeluh sudah 2 jam menunggu dan ketika bus datang pun mereka masih dipaksa harus menunggu lagi, karena bus kami sudah terlalu penuh.

Perjalanan terasa sangat lambat karena sudah semakin malam sehingga otomatis jalanan juga sudah semakin padat karena sudah jam pulang kantor, ditambah hujan pula. Perfect!

Puncak kegusaran hampir semua penumpang di dalam bus itu terjadi ketika bus yang kami tumpangi itu harus berhenti total selama kurang lebih 30 menit di daerah Dukuh Atas.  Tidak ada seorang polisi atau petugas dari Transjakarta pun yang terlihat membantu mengatur kendaraan yang melintas di daerah itu. Biasanya sih ada satu petugas dari Transjakarta yang membantu bus untuk mendapatkan prioritas jalan untuk menyeberang. Tapi tidak dengan sore itu, bus benar-benar stuck di tengah jalan, kalaupun bisa bergerak paling jaraknya tidak sampai satu meter. Sementara di dalam bus penumpang sudah saling celometan mengomentari pengemudi yang kurang cekatan, kurang sigap, kurang punya inisiatif untuk mengambil sela, dll. “Haduh, sudah dong, please… kalau kalian ngerasa lebih bisa mengemudi ya sudah ambil alih, gih :|” batin saya. Bukan bermaksud membela si pengemudi, tapi ya sudahlah, kita ada di kondisi yang sama, capek, ngantuk, gusar, tapi nggak perlulah menambah panas suasana dengan saling celometan kaya gitu! #-o

Dalam hati saya masih bersyukur karena masih kebagian tempat duduk. Penumpang-penumpang yang berdiri di depan dekat bangku pengemudi rupanya sudah tidak kuat berdiri, sebagian memilih untuk lesehan, duduk di bawah. Mereka sudah tidak peduli lagi apakah lantai busnya bersih/tidak, mereka sudah terlalu lelah untuk berdiri. Kalau dihitung-hitung total waktu yang saya perlukan untuk menempuh perjalanan dari Harmoni ke Mampang kurang lebih 1.5 jam, Sodara! Berasa rumah saya di sekitaran Bogor, ya?

Sekedar saran buat manajemen BLU Transjakarta, kalau memang rute Ragunan-Kota ini tidak sepenuhnya available, ketimbang pelayanannya setengah hati kenapa rutenya nggak ditutup aja sekalian? Kalau memang masih ingin membuka rute ini tapi armadanya terbatas, kenapa tidak dibuat saja jadwal seperti shuttle bus? Misalnya bus hanya beroperasi di antara jam sekian sampai jam sekian. Jadi kalau ada yang ingin menggunakan jasa layanan rute Ragunan-Kota bisa menyesuaikan di antara jam yang sudah diinfokan, di luar jam itu ya biarkan mereka mencari alat transportasi/jurusan alternatif. Atau kalau memang armada yang ke arah Ragunan memang terbatas, kenapa tidak dicarikan armada cadangan atau setidaknya kami diberikan update. Toh pihak manajemen pasti tahu jam berapa saja lonjakan penumpang itu terjadi, kan? Last but not least, khusus untuk petugas support (atau apapunlah istilahnya) mohon lebih sopan kepada penumpang, bukan menjawab dengan teriakan dan emosi yang seperti kemarin.

Saya tahu ini memang postingan ini sedikit nyinyir, tapi semoga bisa menjadi masukan buat manajemen BLU Transjakarta.

[devieriana]

 

 

ilustrasi dipinjam dari blog ini

 

Continue Reading

Cerita Sepanjang Jalan

Seorang ibu berbaju merah berpenampilan rapi menaiki Kopaja yang saya naiki di bilangan Gunawarman. Dia duduk di sebelah saya sambil menggengam selembar uang dua ribuan. Matanya celingukan ke sana-ke mari seolah mencari seseorang/sesuatu. Kalau boleh saya artikan sepertinya ibu itu mencari kenek bus yang biasanya sudah menagih ongkos sesaat setelah penumpang naik. Tapi kebetulan memang Kopaja yang kami naiki itu tidak ada keneknya, jadi semua penumpang yang akan turun dan membayar harus langsung ke sopirnya. Entah kalau yang duduk di belakang, apakah mereka sempat maju ke depan untuk sekadar membayar, atau memilih langsung turun begitu saja.

Ternyata benar apa yang saya perhatikan, ibu itu mencari kenek yang sedari tadi tidak menagih ongkos padanya.

Ibu X: “Eh Mbak, serius ini bus ini nggak ada keneknya, ya?”

Saya: “Sepertinya nggak ada, Bu. Soalnya sejak saya naik dari terminal Blok M semua penumpang bayarnya langsung ke sopirnya”

Ibu X: “Waduh, berarti ribet banget dong, ya? Kenapa nggak dibikin sistem kaya di luar negeri, ya? Begitu penumpang naik, mereka masukin koin di box dekat pintu masuk bus, baru naik. Nanti mereka tinggal turun. Kenapa nggak pakai sistem kaya gitu aja, ya?”

Saya: “Pemerinth kita belum kepikiran sampai ke sana kayanya, Bu :D” *jawab saya ngasal*

Ibu X: “Kalau kaya gini penumpang-penumpang yang di belakang bisa aja mereka males ke depan dan langsung turun, kan? Kasian dong sopirnya… ”

Saya: “Iya, sopirnya modal percaya sama penumpang aja sih kalau udah kaya begini, Bu :)”

Saya lihat ibu itu menggelengkan kepalanya beberapa kali, tanda keheranan. Saya hanya tersenyum samar, memaklumi. Mungkin ibu itu terbiasa dengan kultur di luar negeri, atau baru sekali ini naik Kopaja tanpa kenek. Memang kebayang sih betapa ribetnya transportasi besar tanpa kenek. Kalau di daerah mungkin masih banyak angkot yang tanpa kenek, itu hal yang lumrah. Tapi kalau bus tanpa kenek memang ya butuh kepercayaan tingkat tinggi sih.

Lain lagi cerita seseorang yang baru sebatas dengar cerita saya tentang betapa riweuh dan kumuhnya transportasi umum di Jakarta. Akhirnya kemarin ketika dia berkesempatan ke Jakarta, sengaja dia memilih naik angkutan umum seperti yang biasa saya naiki. Komentarnya, “Ya ampun, Kopaja itu busnya rusuh, jelek, dan nggak higienis banget, ya? Males aku naik Kopaja lagi!” Saya cuma tertawa. Dalam hati saya komentar, ya namanya juga transportasi umum yang murah meriah, bayar 2000 sampai di tujuan dengan selamat saja sudah alhamdulillah. Kalau mau yang higienis, bersih, adem, ya naik taksilah ;)).

“Sekarang aku jadi tahu gimana rasanya jadi kamu yang tiap pulang kantor selalu naik Kopaja/Metromini. Udah macet, busnya kaya begitu, sopirnya kalau nyetir ugal-ugalan. Sekarang aku ngerti gimana rasanya naik angkutan umum di Jakarta. Kamu juga harus hati-hati ya kalau di terminal Blok M, banyak premannya gitu :|” Saya sudah waspada sejak awal saya datang ke Jakarta kok, Kak :). Ya kadang kalau saya lagi males naik angkutan umum, lagi pengen borju dikit,  ya saya naik taksi juga sih. Tapi ya nggak sering-seringlah, bisa bangkrut saya.

Dulu saya sempat “mengidolakan” sarana trasportasi Transjakarta sebagai transportasi alternatif yang manusiawi karena ber-AC, tempat duduknya nyaman, dan aman. Tapi namanya orang bisa punya niat jahat kapan saja dan di mana saja, bahkan di Transjakarta sekalipun. Bukan hanya kriminalitas saja yang kerap terjadi, tapi juga pelecehan seksual yang bisa terjadi di atas sarana transportasi ini.

Saya juga pernah hampir mengalami pelecehan seksual di Transjakarta dan membuat sedikit trauma kalau harus pulang malam dari kantor dan naik Transjakarta. Dipepet sampai muka berhadap-hadapan dengan sangat dekat pernah. Hampir dicium sama bapak-bapak bertubuh gempal dan berbaju batik juga pernah :((. Baru kali itu saya begitu ketakutan sampai harus lari tunggang langgang turun dari Transjakarta di terminal Blok M, dan buru-buru naik Kopaja, dan menyembunyikan diri di bangku kosong paling depan.

Kalau kejadian yang paling baru sih kemarin, dalam perjalanan saya pulang kantor naik Metromini 75 arah Pasar Minggu tiba-tiba segerombolan siswa berseragam putih abu-abu memaksakan naik bus yangsudah penuh sesak. Mereka bergelantungan bukan hanya di pintu bus di depan saya sambil saling berpegangan tangan teman-teman lainnya yang punya posisi lebih masuk ke dalam, mereka bergelantungan di jendela-jendela yang saya tahu kacanya juga punya batas kekuatan untuk menahan beban. Sungguh miris dan ngeri. Belum lagi ketika bus harus berbelok ke arah Mampang Prapatan, sopir bus sengaja membelokkannya dengan tajam sehingga belasan siswa SMA itu nyaris terjatuh dan terlindas kendaranan lainnya. Berbagai cacian dan komentar miris menghiasi perjalanan saya sore itu, demi melihat mereka yang seperti punya nyawa cadangan bergelantungan di luar bus seperti itu.

Tiba-tiba seorang bapak duduk di sebelah saya sambil bersedekap dan geleng-geleng kepala.

Bapak X: “Yang di belakang udah bawa parang sama rantai tuh, Mbak…”

Saya: “Oh, ya? 😮 Mereka ini pulang sekolah atau mau tawuran sih, Pak?”

Bapak X: “Kayanya sih opsi yang kedua, Mbak… Mereka ini biasanya nggak bayar ongkos juga…”

Benar saja, sedetik kemudian mereka turun di daerah Buncit Raya dan memang mereka tidak membayar ongkos naik bus. Sambil mengacungkan kode ibu jari, mereka berteriak, “sampai ketemu di lokasi, yaaa!” Sekelebat saya melihat ikat pinggang spike yang digulung dan dimasukkan ke dalam tas. Hadeeeuh, selain nyawanya yang rangkap tujuh, mereka rupanya juga ikut kursus tawuran, ya? 😐

Beginilah pemandangan rutin yang saya temui ketika pulang kantor. Tetap waspada kalau mau naik transportasi apapun, sekali pun itu menggunakan taksi. Kalau naik taksi sendirian saya hampir selalu menginformasikan ke keluarga atau teman untuk mencatat nomor lambung taksi, nama pengemudinya, dan arah tujuan ke mana. Ya buat jaga-jaga aja sih. Yang waspada saja kadang masih kecolongan, apalagi yang lengah.

Buat yang baru datang di Jakarta, selamat datang di Ibu Kota kita yang tercinta. Selamat bergelut dengan segala kemacetan, kekusutan, dan hiruk-pikuknya Jakarta. Semangat ya, Kak! \m/

[devieriana]

Continue Reading

Serba-serbi CPNS

 Sejak beberapa bulan yang lalu hampir semua kementerian sudah mulai disibukkan dengan aktivitas rekrutmen/seleksi CPNS. Memang tahun ini masih terhitung tahun moratorium (penundaan) pengadaan CPNS, tapi berhubung ada banyak permintaan jabatan yang dikecualikan, maka rekrutmen pun dilaksanakan tapi dengan jumlah formasi yang tidak sebanyak rekrutmen reguler. Di kementerian saya saja hanya tersedia 20 formasi yang akan diperebutkan oleh ribuan pelamar.

Metode seleksinya pun berbeda dengan seleksi di tahun-tahun sebelumnya. Ujian dilakukan secara serentak tanggaln 8 September 2012 di semua kementerian. Kalau dulu kita bisa ikut ujian di beberapa kementerian karena jadwal ujian yang tidak bersamaan, kalau sekarang pelamar harus memilih akan mengikuti ujian di kementerian mana.

Dari sekian ribu pelamar yang masuk tentu saja tidak semua lolos seleksi administrasi dan hadir waktu verifikasi berkas fisik. Ada saja yang gagal karena faktor tertentu. Nah, mulai tanggal 28-31 Agustus kemarin pelamar-pelamar yang sudah lolos seleksi administratif diharuskan datang sendiri untuk verifikasi berkas ke Pusdiklat Setneg.

Kebetulan saya bertugas di hari ketiga dan keempat. Di hari pertama saya tugas kok ya pas pusing luar biasa dan demam tinggi setelah vaksin HPV sehari sebelumnya. Entah kenapa setiap kali habis vaksin badan saya selalu demam, nah yang kemarin termasuk reaksi yang terlebay, karena disertai pusing, mual, dan demam tinggi. Jadi,  memaksakan tetap tugas di sela kondisi badan yang kurang fit itu sesuatu banget. Karena tetap harus ramah padahal kepala nyut-nyutan dan badan menggigil. Alhamdulillah hari terakhir tugas badan sudah mendingan dan bisa lebih maksimal ketika melayani verifikasi berkas.

Jadi panitia CPNS itu tentu ada suka dukanya, termasuk lucu dan gemesnya. Berhubung telepon biro ada di meja saya, otomatis sayalah yang harus mengangkat dan kadang menjawab pertanyaan mereka. Seringnya mereka kurang membaca pengumuman dengan teliti, padahal di sana sudah disebutkan dengan jelas semua syarat, ketentuan, dan keterangan lainnya. Yah, berasa dejavu jadi petugas callcentre, padahal sudah pensiun 7 tahun yang lalu 😀

Ada beberapa kejadian absurd yang terjadi selama proses rekrutmen cpns ini. Berikut ini beberapa diantaranya.

 

1. Sudah diprint, Mbak!

Suatu siang, seorang pelamar dari Maluku Utara menelepon untuk memastikan informasi yang dibacanya di website kami.

Pelamar: Mbak, saya Raymond (bukan nama sebenarnya) pelamar dari Maluku Utara. Saya sudah dinyatakan lolos seleksi administrasi kemarin, kartu ujian juga sudah saya print, jadi saya tinggal datang nanti tanggal 8 September di Gelora Bung Karno ya, Mbak? *logat Indonesia Timur yang sangat kental*

Saya: Mas Raymond sudah baca semua pengumumannya, belum?

Pelamar: Oh, sudah, Mbak. Sudah.. Di situ disebutkan saya lolos seleksi administrasi, sudah saya print kartu ujiannya, dan saya nanti datang ujian tanggal 8 September 2012, toh?

Saya: Mas Raymod mendaftar untuk posisi apa?

Pelamar: Perancang Perundang-undangan

Saya: Kalau Perancang Perundang-undangan berarti Mas Raymond harus datang ke Jakarta Hari Kamis, 30 Agustus, pukul 09.00-15.00 wib, dong

Pelamar: E.. saya tidak ada informasi itu, Mbak. Mbak bisa kirimkan saja infonya ke email saya?

Saya: Lho, semua ada di website, silakan dilihat kembali, di sana juga sudah disebutkan secara jelas apa saja yang perlu dibawa. Atau silakan pengumumannya di-print saja biar bisa dibaca-baca ulang, sekaligus di situ kan ada petanya, biar nanti Mas Raymond nggak kesasar waktu mau ke Pusdiklat…

Pelamar: Oh sudah, Mbak… itu sudah saya print *mulai ngeyel*

Saya: Apanya, Mas?

Pelamar: Kartu ujiannya….

Saya: :(( *banting-banting konde*

 

2. Depannya aja, Mbak?

Setiap pelamar yang datang ke meja verifikator sudah haruis membawa berkas lengkap berupa ijazah, transkrip, KTP, surat pernyataan yang sudah dibubuhi materai, dan foto 3×4 dengan background warna merah.

 

Saya: Di belakang foto silakan ditulis nama dan nomor pesertanya ya, Mbak….

Pelamar: Oh, ok… di belakang belakangnya aja ya, Mbak?

Saya: Ya kalau Mbak mau bagian depannya digambarin kumis juga gapapa…

 

3. Toilet di mana, ya?

 

Pelamar: (sambil mengisi form surat pernyataan dan menulisi bagian belakang foto) Mbak, kalau toilet di mana ya, Mbak?

Saya: Tuh, di gedung depan, kan ada petunjuknya toilet belok kanan…

Pelamar: (sambil menulis tapi ngga menoleh ke arah yang saya tunjukkan tadi) Di mananya, Mbak? Di gedung depan itu terus ke?

Saya: Itu lho, gedung depan setelah keluar pintu ini lho, kan nanti ada tulisan toilet, trus ada panah-panahnya. Atau kalau kamu bingung ikutin aja remah-remah roti yang kita sebar menuju toilet….

Pelamar: emang saya semut? ;))

 

Lho, emang bukan? Ya kali, bakal lebih mudah nemuin toiletnya kalau dikasih remah-remah roti atau patahan ranting pohon 😐

 

4. Tolong dibulatkan…

Namanya juga usaha, ada saja usaha calon pelamar untuk mengelabuhi panitia demi bisa mengikuti seleksi, salah satunya dengan memudakan usia, dan atau memperbesar IPK. Kebetulan di kementerian kami minimal IPK yang dipersyaratkan adalah 3.00. Jadi ketika pelamar mencoba memasukkan IPK yang kurang dari 3.00 pasti akan ditolak. Nah, banyak yang berusaha menginput IPK 3.00 supaya bisa masuk ke sistem dan mengisi data. Biasanya ketahuannya kalau verifikasi berkas asli, karena kadang ukuran bekas yang di-attach terlalu kecil sehingga tidak bisa diverifikasi secara maksimal, jadi kita beri kesempatan untuk menunjukkan berkas asli.

 

Saya: Maaf ini IPK kamu kan 2.99, jadi mohon maaf belum bisa ikut ujian, ya. Kan minimal IPK yang dipersyaratkan 3.00. Jadi ini berkas aslinya saya kembalikan, surat pernyataan dan kartu ujian saya tarik, ya…

Pelamar: Lho, kalau saya nggak lolos kenapa saya diinfokan lolos seleksi administratif, Mbak? 😐

Saya: Karena IPK yang coba kamu masukkan 3.00, otomatis sistem mengizinkan kamu masuk untuk mengisi data. Sementara file attachment yang kamu masukkan sangat kecil jadi nggak bisa terbaca oleh kami. Makanya kami beri kesempatan kamu untuk menunjukkan berkas asli. Dan ternyata IPK kamu kurang dari yang dipersyaratkan. Jadi mohon maaf belum bisa ikut ujian, ya…

Pelamar: Yah…, tapi kan IPK 2.99 kalau dibulatkan juga bisa jadi 3.00, Mbak 😐

 

Kayanya anak ini belum pernah dibulatkan terus ditaburi wijen, ya? 😐

Sebenarnya jadi panitia itu seru, karena ada “hiburan” dibalik menyeleksi pelamar yang masuk. Seperti ketika ada seorang pelamar yang memasukkan data tertulis secara serius, tapi begitu dilihat attachment-nya lha kok semuanya foto. Empat file yang seharusnya berisi lampiran foto 4×6 background merah, ijazah, transkrip, dan KTP itu semuanya terisi foto narsis. Mending kalau dia perempuan ya, ini laki, Kak ;)).

Foto pertama adalah foto dia ketika diwisuda, memakai toga lengkap, menggenggam ijazah, senyum lebar, dengan pose yang agak miring. Foto kedua adalah foto dia bersama seorang bayi di baby stroller, tampak atas. Foto ketiga adalah foto gaya alay, diambil dengan kamera HP yang diambil tampak atas. Foto keempat adalah foto dia dengan baju batik lengan panjang dengan background katering kondangan, lengkap dengan dekorasi bunga di pinggir-pinggir meja prasmanan. Hmppfft… Dikira aplikasi kita ini facebook apa, yah? 😐

Alhamdulillah tahapan-tahapan awal seleksi sudah terlampaui, tinggal hari besarnya aja nanti tanggal 8 September nanti. Buat yang akan mengikuti ujian, jangan lupa berdoa, dan sarapan. Nggak usah terbebani, santai aja, kalau sudah rezeki nggak akan ke mana kok 😉

Good luck, ya! :-bd

 

[devieriana]

Continue Reading

What the hell is water?

Disclaimer: sesungguhnya ini adalah postingan nyinyir. Buat yang baca, sabar ya ;))

Jujur, saya suka sebel sama orang-orang yang minta tolong tapi pakai syarat harus begini, harus begitu. Lah, kalau minta tolong kenapa nggak semampunya yang nolong? Kenapa harus memberi syarat ini itu? Kalau memang ada syaratnya ya kenapa bukan dia aja yang melakukannya sendiri?

Seperti kisah ada seorang teman berikut ini. Dia adalah seorang fresh graduate yang minta dicarikan pekerjaan. Dia bilang kalau pengen kerja di perusahaan telekomunikasi. Berhubung dulu saya pernah kerja di telco, dan info terakhir yang saya terima waktu itu, tempat kerja saya yang dulu itu sedang butuh callcentre agent, ya saya informasikan apa adanya.

Awalnya dia tanya-tanya seputar kerjaan di call centre. Ya saya jelaskan semua segamblangnya. Tapi begitu saya bilang kalau pola kerjanya shifting, dia langsung mundur teratur. Dia pengen kerja yang office hour, dan nggak “cuma” staf. Maksudnya, dengan ijazahnya sekarang paling enggak dia dapet posisi dengan level supervisor, gitu. Lah, jadi saya yang bengong-bengong. Sepengalaman saya sih namanya cari kerja ya dari nol dulu, apalagi kalau masih “ijo royo-royo”, kalau telur nih baru netas, belum pernah kerja sebelumnya. Toh walaupun “cuma” staf kalau kerjaan kita bagus dan dianggap kompeten di bidang yang kita tekuni, karir dan gaji bagus selanjutnya akan mengikuti kok.

Atau ada lagi kisah seseorang yang berkali-kali mengirim surat ke kantor saya yang sekarang, bukan untuk melamar pekerjaan tapi untuk meminta bantuan supaya anak-anaknya dibantu mencari kerja. Itu pun pakai milih, kalau nggak di Pertamina, ya di Indomobil, di Astra, atau di kantor-kantor mentereng lainnya. Padahal dari cerita si bapak pengirim surat yang panjangnya selalu minimal 3 lembar (ditulis tangan itu) anaknya sekarang sudah bekerja di salah satu perusahaan besar tadi tapi berstatus karyawan outsource. Dia ingin anak-anaknya jadi pegawai tetap di salah satu perusahaan-perusahaan besar itu. Menurut kisahnya, anak-anaknya itu pernah ikut berbagai macam test tulis dan interview di berbagai perusahaan tapi selalu gagal. So, salahnya di mana, coba?

Mau bercita-cita setinggi langit, atau idealis sekalipun, sebenernya sih nggak ada masalah, tapi apa nggak sebaiknya tetap realistis? Bukan berarti seorang fresh graduate yang bercita-cita ingin langsung menjadi manager itu nggak realistis. Bisa aja kok. Siapa tahu pas rezekinya bagus, dia beneran langsung jadi manager. Keajaiban bisa terjadi kepada siapa saja, kan? Tapi kalau nggak ada keajaiban kaya gitu, ya kenapa nggak realistis menjadi staf aja dulu? Itung-itung sambil belajar, cari ilmu & pengalaman, biar ada yang ditulis di CV. Baru deh tuh, kalau memang selama bekerja dia dianggap capable, karir yang lebih baik pasti sudah menunggu. Seorang manager juga nggak mendadak jadi manager, kali. Mereka juga meniti karirnya dari bawah, bekerja dengan tekun, menguasai pekerjaannya dengan baik, dan punya jiwa kepemimpinan. Emangnya jadi manager itu gampang? Dipikir hanya berbekal ijazah S1 doang sudah berhak menentukan karir dia di mana? Ya kecuali kita punya perusahaan sendiri, atau kita seorang pewaris kekayaan dengan aset di mana-mana, yang seluruh asetnya wajib ditangani secara langsung oleh keluarga. Nah, kan… kalau ngomel-ngomel gini akhirnya jadi merepet panjang, kan? ;))

Kalau untuk kasus kedua, saya cuma bisa prihatin. Memang, orangtua mana sih yang nggak pengen anak-anaknya hidup enak, karir bagus, kalau bisa menunjang ekonomi keluarga, menjadi kebanggaan orangtua. Tapi dalam hal ini yang tertangkap kok kesannya jadi kurang bersyukur, ya? CMIIW.

Anak-anak bapak itu sebenarnya sudah bekerja kantoran, bukan kerja lapangan yang berpanas-panas di luar sana, nggak sengsara-sengsara amatlah. Notabene seharusnya  nggak ada masalah, ya. Soal besaran gaji itu relatif. Untuk memperbaiki karir, mereka juga sudah berusaha melamar pekerjaan yang memiliki masa depan lebih cerah, gaji yang lebih baik tapi kebanyakan selalu gagal di tahap seleksi masuk. Hingga akhirnya orangtuanya meminta bantuan agar anak-anaknya dibantu masuk di Pertamina, Indomobil, Astra, Kemenkeu, dll itu. Yah, kalau itu sih saya juga mau, Pak… hehehehe.

Saya dan kedua adik saya semua mencari kerja sendiri, nggak pakai ngelobby ke siapa-siapa. Selepas kuliah saya malah sempat menganggur setahun karena nggak dapat-dapat kerja :(. Dapat kerja pun dapatnya di perusahaan kecil di daerah yang jauh pula. Tapi ya saya jalani hampir 3 tahun. Ketika ada kesempatan pindah, saya pun pindah. Nyatanya ternyata tempat ini nggak jauh lebih baik.

Tapi sisi positifnya, ada ada product knowledge yang saya kuasai dengan baik, dan akhirnya bisa menjadi modal saya berkarir di tempat yang jauh lebih baik. Di perusahaan inilah saya mengabdikan diri selama hampir 7 tahun lamanya, sebelum akhirnya saya diterima sebagai PNS. Begitu pula dengan si bungsu, saya tahu bagaimana perjuangan mencari pekerjaan, hingga akhirnya sekarang diterima sebagai pegawai tetap di salah satu BUMD di Jawa Timur. Kalau adik saya yang kedua relatif jauh lebih beruntung, setelah lulus kuliah tanpa menunggu lama dia sudah mendapatkan pekerjaan sebagai Legal Officer di salah satu bank swasta nasional, dan bahkan sekarang ditarik ke kantor pusat.

Jadi teringat dengan salah satu paragraf tulisan David Foster Wallace. Ada 2 ekor ikan muda yang sedang berenang di air, tiba-tiba mereka berpapasan dengan seekor ikan tua yang mengangguk ke arah mereka dari arah yang berlawanan. “Morning, boys. How’s the water?” Dua ikan muda tersebut tetap berenang sambil saling menatap. Kemudian salah satunya bertanya, “What the hell is water?”

Poin utama dari cerita ikan di atas adalah sesungguhnya hal yang paling jelas & kenyataan yang paling penting, seringkali menjadi hal yang paling sulit untuk dilihat dan dibicarakan. Seperti itulah  hidup. Kalau mau langsung enaknya ya nggak ada. No pain, no gain. Apapun yang kita terima sekarang, disyukuri aja. Rezeki memang sudah ada yang mengatur, tapi bukan berarti kita nggak berusaha, kan?  😉

Nah, sebelum saya merepet makin panjang dan nggak jelas, cukup di sini dulu deh. Nulis panjang-panjang itu ternyata capek, Kak…:|

 

[devieriana]

 

ilustrasi dipinjam dari sini

Continue Reading