Ketika Hati Terpanggil..

Kalau Anda sempat melihat tayangan Kick Andy di Metrotv kemarin, tanggal 18 Apil 2010, Anda mungkin akan merasakan hal yang sama dengan saya, terharu. Karena tayangan itu benar-benar membukakan mata saya bahwa ternyata masih banyak orang baik di dunia ini. Kok kesannya saya skeptis bahwa sudah tidak ada orang baik di dunia ini ya? Sudah terlalu banyakkah saya menelan berita yang kurang bagus selama ini? Mungkin ya.. 🙁

Anda pasti mengenal sosok Anne Avantie bukan? Sosok seorang perancang kebaya yang selalu menghasilkan karya masterpiece dalam setiap goresan kebayanya, salah seorang perancang terbaik yang dimiliki Indonesia. Selama ini kita hanya mengenalnya sebagai seorang perancang busana, tanpa mengetahui kiprah kemanusiaan apa yang telah dilakukan oleh wanita satu ini. Rumah Singgah Kasih Bunda, adalah sebuah yayasan sosial yang didirikannya sebagai tempat anak-anak orang tak mampu untuk mendapat pengobatan gratis berkaitan dengan penyakit hydrocephalus, atresia ani tumor, bibir sumbing, labiopalataschisis, dan penyakit lain yang memerlukan penanganan darurat. Yang membuat terharu adalah statement dia yang menyebutkan, “Apapun penyakit mereka, siapapun mereka, darimanapun mereka, apapun keluhan mereka, ketika mereka datang ke tempat ini, pasti akan kami terima dengan tangan terbuka. Mereka butuh kaki, akan kami buatkan kaki buat mereka. Semuanya kami lakukan tanpa pamrih, ikhlas..”.

Ketika ditanya oleh Andy F. Noya, apakah semuanya ketika membutuhkan operasi semuanya akan dibantu? Anne Avantie pun menjawab dengan senyum tulus seorang ibu, “ya, akan kami bantu..”. Teduh sekali mendengar jawaban itu ya. Melegakan. Begitu pula ketika ditanya apa yang menjadi obsesi terbesar dalam hidupnya. Dijawab dengan menahan tangis, “saya ingin punya klinik sendiri. Selama ini kami kurang tahu mana yang perlu perawatan lebih dahulu, pasien mana yang harus diprioritaskan. Jika saya punya klinik sendiri saya tidak akan lagi tergantung dengan rumah sakit yang sudah ada..”. Mulia sekali. Setidaknya akan ada secercah harapan, Melihat begitu banyak masyarakat kurang mampu yang mengalami masalah serius dengan kesehatannya.

Berikutnya, tak kalah mengharukan bahkan cukup membanggakan bagi kita orang Indonesia. Dimana sosok yang ternyata sangat peduli terhadap bangsanya, namun justru tidak terlihat oleh mata bangsanya sendiri, ternyata mendapat perhatian dari CNN. Dialah sosok Capt. Budi Soehardi yang dianugerahi sebagai CNN Heroes 2009 karena karena dedikasinya menjalankan sebuah panti asuhan di Kupang NTT.

Capt. Budi Soehardi, seorang pilot asal Indonesia yang bekerja untuk Singapore Airlines, one of the best airline in the world, tinggal di Singapura bersama sang istri, Peggy, dan 3 orang anak kandungnya, rela bolak-balik Singapura – Jakarta – Kupang untuk tinggal & menjaga 54 anak-anak di panti asuhan Roslin yang mereka dirikan. Memiliki hubungan yang erat dengan masing-masing dari mereka & menganggap mereka bagian dari keluarga mereka. Mereka masuk panti asuhan sebagai bayi kebanyakan dari keluarga kurang mampu -beberapa dari mereka kecil korban dan pengungsi dari konflik di Timor Timur- sengaja diasuh agar bisa mendapat pendidikan dan kesehatan yang layak. Diharapkan mereka nantinya akan mampu menjadi pribadi yang mandiri, percaya diri & mampu mengembangkan diri & lingkungannya kelak. Untuk kepentingan pendidikannya, setiap anak dibekali asuransi sampai perguruan tinggi. Kemandirian yang ditanamkan sejak kecil juga melekat dihati Gerson. Salah satu anak asuh Budi ini, sebentar lagi jadi dokter.

Sambil menangis Budi menceritakan awal ide mengulurkan bantuan untuk mereka di Atambua adalah ketika dia bersama keluarganya di Singapura, hendak melakukan perjalanan keliling dunia. Namun ketika melihat tayangan di televisi yang menggambarkan betapa menderita & mirisnya memakan sebungkus mie instant berduabelas orang, keluarga yang tinggal di kardus, anak-anak mengenakan kain untuk pakaian, dan sanitasi yang nyaris tidak ada. Batinnya terketuk untuk membantu mereka, membatalkan perjalanan keliling dunianya bersama keluargam beralih menjadi misi sosial ke Atambua.

Hari itu juga dia mulai menulis email untuk mulai mengkoordinasi sumbangan keuangan, makanan, pakaian, peralatan mandi, obat-obatan, dll. Dalam waktu yang tidak terlalu lama, terkumpullah sekitar 40 ton sembako & kebutuhan hidup bagi mereka di Timor Timur. Yang membuat saya merasa amazed adalah, semua dilakukan tanpa publikasi, tanpa sorotan media cetak maupun elektronik yang mengekspos layaknya yang selama ini kita lihat. Yang biasa kita lihat kan pejabat memberi beras sekilo aja ke fakir miskin minta diekspos wartawan ya. Tapi tidak demikian dengan keluarga Budi Soehardi. Semuanya dilakukan dalam diam, namun nyata adanya.

Yang tak kalah hebatnya adalah, Panti Asuhan Roslin ini juga berusaha untuk berusaha bagaimana berswasembada beras. Jaman sekarang jarang sekali yang bersedia sampai sedemikian uletnya, berswasembada beras. Ah salut sekali saya sama pasangan mulia ini.. 🙂

Jerih payah Budi dan Peggy akhirnya berbuah manis, usaha mulia mereka ini ternyata mendapat perhatian dunia. Pada bulan Desember 2009 di Los Angeles, Amerika Serikat, Budi dinobatkan jadi salah satu CNN Heroes. Wow.. Saya tersenyum sendiri ketika mendengar pertanyaan Andy F. Noya yang menanyakan dengan nada bercanda, “bagaimana sih Pak, rasanya dicium Kate Hudson? Kalau saya yang jadi Anda, saya bakal kepikiran berhari-hari..” ;)). Kate Hudson adalah salah satu aktris International yang juga aktif di Wild Aid.

Lebih terharu lagi saat mendengar Budi menjelaskan, “Heroes sebenarnya adalah istri dan 3 anak saya, mereka mengorbankan liburan mereka selama ini, walau sebenarnya bisa travel dengan fasilitas first class yang saya dapatkan dari fasilitas jabatan sebagai pilot. Tapi mereka memilih budget liburan dipakai untuk membantu Roslin Orphanage”.

Lain lagi kisah seorang Daniel Alexander. Pria asal Jawa Timur itu sudah menjelajahi hampir seluruh belahan dunia, mulai Eropa, Amerika hingga Australia dia jelajahi untuk memberikan pelayanan di bidang agama. Salah satu obsesi terbesar dalam hidupnya adalah ingin membantu orang-orang miskin yang daerahnya sangat tertinggal. Terdengar idealis ya? Memang. Tapi jika niat tulus itu direalisasikan, masihkah kita mengatainya dengan ide yang terlalu idealis? Namun ironisnya, suatu ketika secara tidak sengaja dia membaca sebuah buku yang berjudul From Jerusalem to Irian Jaya (kenapa bukan Jerusalem to Indonesia? kenapa Irian Jaya?), kisah tentang para misionaris yang hidupnya benar-benar didedikasikan untuk membantu masyarakat yang tinggal didaerah-daerah tertinggal, ternyata justru sejak saat itulah dia merasa terpanggil untuk datang & membantu masyarakat di pulau paling Timur Indonesia itu. Jauh-jauh melanglang buana ternyata “pulangnya” ke Indonesia juga ya Pak Daniel 🙂

Sekali lagi, kenyataan yang harus dia (dan kita juga) terima adalah pulau yang kaya akan sumber daya alam itu ternyata penduduknya banyak yang terbelakang terutama di bidang pendidikan, juga tuli 🙁 . Itulah kenapa akhirnya dia bertekad untuk memajukan pendidikan dan penghidupan mereka. Bukan sebuah hal yang mudah untuk mengubah pola pikir & cara pandang masyarakat yang sudah puluhan tahun hidup dalam tatanan kehidupan yang sudah sedemikian terpola. Namun toh akhirnya setelah melalui perjuangan yang keras, Daniel Alexander ditemani istrinya Louise yang warga negara Kanada akhirnya berhasil mendirikan sekolah mulai TK hingga SMA. Sekolah dengan sistem asrama yang didirikan oleh Daniel itu sudah tersebar di berbagai pelosok Papua lho, diantara Jaya Wijaya, Nabire, dan Kerom. Ah, keren banget yah? 🙂

Menolong sesama bukan berdasarkan nilai seberapa besar yang sudah kita berikan, namun seberapa ikhlas kita melakukannya. Semoga kisah-kisah tersebut mengilhami kita untuk tetap ikhlas dalam menolong sesama ya.. 🙂

[devieriana]

gambar dari sini

Continue Reading

You Are What You Wear..

Sebenernya ide postingan ini muncul ketika kemarin siang saya makan siang di kantin bersama 3 orang teman kantor. Awalnya sih cuma berdua, tapi yang 2 lagi nyusul setelah kami selesai makan. Awalnyapun nggak berniat membahas soal outfit, tapi begitu celetukan demi celetukan muncul mengomentari pakaian masing-masing kok saya jadi ngikik sendiri ya. Masalahnya yang kita komentari itu orangnya.. ah sudahlah ;))

Ada salah satu temen kantor, cowok, yang bajunya selalu rapi jali. Celana selalu tersetrika dengan 1 garis lurus (nggak dobel-dobel), kemeja lengan panjang yang selalu dimasukkan, sepatu yang selalu tersemir dengan mengkilat, rambut yang kelimis dan.. ah pokoknya rapilah. Saya aja yang perempuan suka minder kalau deket dia, rapian dia soalnya, padahal sudah berusaha terlihat tertib & rapi tapi kalau sama dia saya masih kalah ~X( .

Mama saya sering bilang, “ajining diri gumantung ing lathi (kita akan dihargai orang karena kepribadian kita, ucapan kita), ajining raga saka busana (kita dihargai karena penampilan, kalau penampilan kita rapi, sopan, orang juga akan segan)”.
Almarhumah nenek saya juga begitu, berusaha selalu rapi. Jangankan dirumah, kadang mau main ke tetangga aja atau ke warung sebelah pasti benerin baju dulu, merapikan sanggul (nenek saya biar kata masih pakai kain (jarid) tetep keliatan keren lho.. \m/ ), setidaknya nggak terlihat kedodoran. Akhirnya kebiasaan rapi itu menurun ke mama & tante-tante saya, sekarang nurun ke saya dan adik-adik saya. Enggak, enggak, saya nggak pakai jarid kok ;))

Kalau soal merk, saya kebetulan bukan orang yang brand minded. Kalau nemu (kaya mungut dijalanan aja ya kesannya) baju yang modelnya lucu, pas badan, enak dipakainya, ya sudah saya beli. Nggak harus yang merknya ini, modelnya begitu. Tapi jujur kalau soal harga ya masih mikir-mikir jugalah ;)). Ya intinya kalau memang bajunya layak dengan harga segitu, selama masih affordable ya saya beli. Tapi kalau enggak ya nggak maksa. Baju bisa kebeli habis itu saya puasa :-?? . Paling-paling solusinya beli kain, nanti modelnya saya contek, bawa ke penjahit. Udah deh. Eh,tapi jarang sih yang kaya begitu. Ke penjahit khusus buat jahit kebaya aja. Selebihnya kalau buat baju pesta atau kerja lebih seneng beli. Lebih memilih ke praktisnya aja sih.

Nah kebetulan kita kemarin membahas tentang merk & kenyamanan pakai serta tingkat keawetannya. Pilih mana, mahal tapi awet atau murah tapi gampang soak? Kalau saya sih, murah tapi awet :p . Eh nggak ada dalam option ya? *dilempar sapu*. Salah satu temen yang nggak disangka-sangka harga bajunya tiba-tiba minta ditebak berapa harga sepatu yang dia pakai. Kita asal aja dong nebaknya, “seratus ribu!”. Dia menggeleng sambil mencibirkan bibir (iyalah, masa mencibirkan lutut?).

Temen 1 : “salah.. Ayo tebak lagi!”
Temen 2 : “limapuluh ribu!”
Temen 1 : “lah, kok malah turun sih?”
Temen 2 : “lho, lha wong pantesnya segitu..”

Setan bener dah nebaknya :))

Temen 1 : “yang bener, tujuh ratus ribu..”
Kami : “HAAAAAA?! ” &*@)*^%!?& (diucapkan dengan ekspresi ketidakpercayaan yang sangat tinggi)
Temen 1 : “lho, kenapa? emang harganya segitu kok.. Coba tebak, baju batikku yang merah itu harganya berapa?”
Saya : “limapuluh ribu!”
Temen 2 : “seratus 3!” –> eh buset, parahan dia malah =))
Temen 3 : “tigapuluhlima ribu!” –> nyahahahaha ;))

*pelecehan & penginjakan harga diri habis-habisan*

Temen 1 : “salah semuaa.. yang bener enamratus ribu!”
Kami : “HAAAAAAAA??!” &*@)*^%?&! (diucapkan dengan ekspresi ketidakpercayaan lapis tujuh)
Saya : “emang beli dimana sih? Ambassador?” –> mulai rese’
Temen 2 : “terbuat dari apa sih bahannya? Sutera ya?”
Temen 3 : “mungkin lilin batiknya bukan dari lilin biasa, tapi lilin yang dipake buat di kuil-kuil ya..”

*ngakak =))*

Temen 1 : “salah semua ah kalian, emang harganya segitu. Aku belinya di Ce*tro..”

Nggak tahu kenapa kami bertiga cekikikan setengah nggak percaya kalau baju batik warna merah yang suka dipakai sama dia itu harganya segitu amat. Padahal keliatannya ya emang “nggak gitu-gitu amat”. Beneran ;)) .

Temen 3 : “kesan si baju itu tergantung dari siapa yang pakai. Kalau kita yang pakai, mbok ya mau harga ratusan ribu bakalan keliatannya biasa-biasa aja, nggak bakal keliatan kalau harganya ratusan ribu. Tapi coba kalau yang pakai itu kelasnya deputi, mbok ya mau beli baju yang harganya limapuluhribuan kita akan tetep nyangkanya harganya pasti lebih dari itu..”
Saya : “oh, limapuluhribu limaratus ya..”


Beda cuma limaratus perak doang! ;))

Tapi iya juga sih. Kalau kita pintar memilih bahan, memadu padan dengan warna & bahan yang sesuai atau memilih model yang sesuai dengan bentuk tubuh & “kesannya” mahal, baju yang kita pakai kesannya juga akan keliatan mahal. Sering saya kaya begitu. Dikira bajunya beli dimana, nggak taunya.. dimana coba? :p (ealah, malah main tebak-tebakan). Saya lebih setuju dengan pendapat ini sih. Ketimbang memilih outfit yang bener-bener branded & berharga selangit tapi modelnya biasa aja. Udah mahal tapi nggak ada yang tahu. Eh, bukan berarti kalau habis beli baju mahal trus bandrol harganya nggak usah kita lepas lho.. :D. Sesekali beli barang branded selama masih masuk selera, affordable (terjangkau) dan layak untuk dibeli sih boleh kok. Terlepas dari itu semua faktor kenyamanan & keawetan barang yang kita beli itu yang masih jadi pilihan utama, terlebih buat saya.. ;;)

[devieriana]

gambar pinjam dari sini

Continue Reading

Pasanganmu Romantis? Saya, err…

Saya orangnya nggak romantis blas, cenderung suka yang gokil-gokil. Dulu saya juga nggak suka sama pria romantis, karena menurut saya (waktu itu), pria romantis itu tukang gombal *ngepel* ;)). Tapi sejalan dengan bertambahnya usia..tsaahh.. saya akhirnya pasrah pada kenyataan bahwa, sebenarnya saya itu butuh diromantisin dan saya sejatinya adalah perempuan yang romantis. Halaaaah.. :)).

Mantan-mantan saya dulu (eh kok kesannya banyak ya? Ah enggak kok, cuman 5..), juga kebetulan jarang ada yang romantis. Semuanya dalam kadar keromantisan skala 1 s/d 6 . Biasa aja. Sama seperti apa yang saya mau pada waktu itu. Sampai suatu hari ada salah satu penggebet (eh buset, bahasanya..) yang memberikan saya buket anggrek dan dua batang coklat Silverqueen yang kalau diterjemahkan (saya sampai iseng nyari artinya kalau cowok memberikan coklat itu artinya apa lho ;)) ) adalah : “saya ingin mengenalmu lebih jauh”. Saat itu yang saya rasakan justru geli, aneh, lucu, dan.. ya karena nggak biasa itu kali ya. Padahal temen-temen kantor saya udah “ciyah-ciyeh” melulu dari siang. Belum lagi pas pulang, saya kan naik angkot, kebayanglah saya bakal bawa-bawa hand bouquette nan eye catching begitu. Malah ada yang ngirain saya habis menang lomba.

Sampai rumah mama papa saya sampai heran, ini cowok mana yang kesambet sampai ngasih kembang sama saya. Berhubung bunganya bagus ya saya pajang di ruang makan (soalnya kalau di ruang tamu takut dianya GR kalau pas kebetulan main ke rumah saya. Padahal ya nggak pernah main. Ya sebagai langkah antisipasi aja. Ciih, ke-GR-an sangat :p), lagian juga sayanglah kalau dibuang ;)). Nah kalau coklatnya saya makan bareng-bareng sama temen-temen. Itupun pakai acara dilangkahin dulu, karena kata temen saya takut diguna-guna :)) . D’oh, parah sekali ya, jadi pengen mbakar menyan deh..

Suami saya apalagi, termasuk makhluk yang paling nggak romantis sedunia. Mungkin juga karena dia orang teknik ya, jadi nggak bisa & nggak biasa nyastra-nyastra gitu, walaupun nggak ada hubungannya juga antara orang teknik, suka nyastra, atau masalah romantisme ya. Karena menurut dia, rasa sayang/cinta itu tidak selalu harus ditunjukkan dengan kata-kata, tapi lewat perbuatan. Uhuk!! Hmm, ada benernya sih, walaupun sampai sekarang saya belum pernah tuh saya tiba-tiba dikasih kalungan kalung permata atau jari saya diselipin cincin berlian.. *dikeplak*. Lho, katanya lebih ke perbuatan kan? Saya menganggap dia romantis kalau habis gajian, momen ketika dia menyerahkan gajinya sama saya.. *eh* :)).

Gara-gara kebanyakan kumpul sama para “pujangga” blog dan social media, akhirnya jiwa romantis saya muncul dengan sendirinya. Sekali lagi bukan suami saya yang romantis ya, justru saya yang “ngeromantis”, halah ;)) . Yang dulunya nggak pernah nulis tentang sastra, mendadak mau belajar nulis tentang cara menulis dengan majas metafora. Yang dulunya cuma suka baca/ikut lomba baca puisi, sekarang sesekali bikin puisi tentang cinta. Tapi anehnya puisi saya lebih sering puisi patah hati, kenapa yah? :-/ . Lebih gampang aja gitu nulisnya. Ketimbang saya mesti harus merayu pulau kelapa, rasanya kok susah banget ya :((. Ah, berarti romantisnya saya masih tingkat basic, belum intermediate, pun advance :D.

Sampai suatu hari saya nanya ke suami saya :

Saya  : “kamu kok nggak pernah bilang I love you sih sama aku?”
Suami  : “emang harus diomongin ya?”
Saya  : “ya.. mbok ya sesekali gitu. Tapi, ya wis seikhlasnya ajalah, dibilang ya syukur, nggak juga nggak apa-apa deh..” *ngurek-urek tanah*
Suami  : *tertawa* “Cinta atau sayang itu nggak selalu harus diomongin atau diobral..”
Saya  : “ya kagak diobral kali, sesekali bilang lho nggak apa-apa, Bibo (panggilan saya sama dia karena saya selalu membayangkan dia adalah makhluk yang empuk  *dilempar elpiji* )
Suami  : “Aku suka bilang gitu kalau pas kamu udah tidur..”
Saya  : “lah, meneketempreng kalo aku udah tidur..”
Suami  : “ya emang, tujuannya biar ketempreng itu tadi.. Kamu kenal aku berapa lama? Udah tahu kan kalau aku nggak biasa dengan pengungkapan secara verbal. Nggak pernah bisa romantis. Kalau kamu nanya aku sayang apa enggak sama kamu, ya pasti aku bilang sayang kan?”
Saya  : “ya tapi kenapa mesti dipancing dulu? Mbok ya sesekali bilang  I love you kek, atau apa gitu..”
Suami  : “ya udah, I love you Kek..”
Saya : *hiyaaatt*

Ya begitulah kadang-kadang. Kalau soal pengungkapan perasaan secara verbal, suami saya paling nggak jago deh. Tapi pernah sih pas saya ulang tahun, dua tahun yang lalu. Dia yang dari kemarinnya udah bikin masalah dan bikin saya kesel, mendadak siang-siang kekantor nganter kue tart buat saya lengkap dengan lilin dan pisaunya (iya, soalnya emang sudah satu paket) <:-P . Simple, but.. nice :). Mau masih kesel ya gimana ya, lha wong udah disogok tart ulang tahun. Jadi ya, biar gondok (dikit) saya terima kuenya deh.. *pamrih*

Sebulan yang lalu saya request ke suami karena saya “kangen” dikasih bunga. Serius. Saya yang pecicilan ini mendadak pengen dikasih buket bunga padahal nggak ada hujan & nggak ada angin. Nggak tahu deh kerasukan apaan. Terserahlah mau dikasih buket bunga apa aja, pokoknya bukan buket bunga bangkai. Gara-garanya pas pulang saya lewat di Pasar Hias daerah Cikini yang tokonya banyak jualan buket bunga yang cantik-cantik.

Pulangnya saya langsung request dong, buat ulang tahun saya yang kurang 2 bulan lagi  :

Saya  : “Bibo, aku mau dikasih buket bunga dong. Nanti kalau aku ulang tahun aku mau dikirimin buket mawar atau apa gitu ya, ke kantor tapinya yah..”, saya mendadak kecentilan
Suami  : *meraba dahi saya dengan muka khawatir* “kamu nggak apa-apa kan ya?”
Saya  : “eh kenapa sih? aku tuh serius tau, nggak lagi ngigau..”
Suami  : “lah, trus kamu kenapa mendadak pengen dikasih bunga segala?”
Saya  : “ya gapapa, pengen aja, sekali-kali gitu Bibo. Kasih aku buket bunga ya.. Cewek tuh seneng lho kalo dikasih bunga ;;). Nanti ulang tahun nggak usah dibeliin kue tart juga gapapa deh, asalkan aku dikirimin buket bunga aja, ya.. ya..”
Suami  : “Halah sayang, ngapain sih? Aneh bener dah bini gue hari ini. Nih ya, ulang tahun itu beli yang bisa dimakan rame-rame sama temen dikantor gitu. Bunga kan nggak bisa dimakan, diliatin doang, paling-paling tar 2 hari juga udah bubar jalan itu bunga.. Kecuali kamu masih sodaraan sama Suzanna sih ya gapapa, tar aku beliin melati sekalian..”
Saya  : *pasang muka dingin*  “Bang, sate Bang.. seribu tusuk. Mentah juga nggak apa-apa..” :-w –> intonasi Suzanna waktu jadi sundel bolong

Jadi ya gitu deh.. Nggak tahu deh nanti pas saya ulang tahun beneran dia ngasih saya buket bunga atau enggak. Atau, mungkin ada yang mau ngirimin saya hand bouquette? @};- . Kalau iya ada yang ngasih, berarti.. kamu baik deh.. Sini, sini, akun facebook sama twitternya apa sih? Sini aku follow ;))

[devieriana]

Continue Reading

Makanya, Jadi Orang Yang Sabar!

Sore ini seperti biasa saya dan sahabat saya pulang kantor menyusuri jalanan Thamrin, Sudirman dan sekitarnya menuju Gatot Subroto. Seperti biasa pula yang namanya macet nggak mungkin bisa dihindari, apalagi menjelang long weekend seperti sekarang ini. Semua orang pasti pikirannya sama, ingin lebih cepat sampai dirumah. Ya iyalah kapan lagi bisa kumpul lebih lama dengan keluarga apalagi besok libur. Ya kan? 🙂

Nah, seperti biasanya pula kami selalu ada “ritual” pilih jalur ketika akan memasuki daerah Sudirman. Ya kan pilih jalur yang nggak terlalu macet, biar lebih cepat sampainya. Dan herannya, ko ya selalu salah ;)) . Feeling kalau jalur sebelah kiri bakal lebih sepi & lebih cepat ternyata kena macet-macetnya bis yang segede-gede gaban itu. Pas ngira kalau jalur kanan jauh lebih sepi, eh malah kena sistem buka-tutup jalur sama polisi, yang bukanya lamaa banget. Alhasil kita stuck di jalan juga kan? Jadi ya begitulah, sama aja kayanya

Sore inipun kami menjalani “ritual pilih jalur” dan kali ini kami memilih jalur kanan. Apakah pilihan kami sore ini benar? Oh tentu, Maria! Tentu tidak! Karena pas kita lihat dijalur kiri jalanan begitu lengang, kendaraan dengan kecepatan sedang melaju dengan santai. Dengan hiperbola kami membayangkan mereka melambaikan tangan sambil daddah-dadah pada kami berdua. Coba bandingkan dengan kami yang jejeritan nggak jelas karena lagi-lagi salah pilih jalur & terpaksa harus berhenti ditempat. Sampai akhirnya ketika jalan merambat menimbulkan ide untuk pindah ke jalur kiri yang lebih lengang, menuju ke arah Plaza Semanggi. Berhubung memang tampak lengang sekali, maka pindahlah kita kesana. Tapi kita tidak tahu kalau sebenarnya disisi jalanan itu, diujung sana tepatnya, sedang macet-macetnya! Dan yak, bagus.. kita gantian terkurung dalam kemacetan di sisi lainnya.. :((

Kesel? Jelas. Gondok? Pasti. Lha wong niatnya pindah jalur biar nggak kena macet, ini malah nggak bisa gerak. Seolah-olah mencari kemacetan yang lain gitu.Ya bagus deh ~X( . Tapi justru disitu kita jadi menertawakan diri sendiri. Andai kita tadi sabar buat menunggu jalanan terbuka, pasti kita nggak akan malah stuck ditengah jalan kaya begini, dihimpit, bis dan mobil-mobil (iyalah, masa dihimpit sama ongol-ongol?). Tapi ya itulah, kan tadi kita yang milih sendiri, jadi ya tanggung resikonyalah ya ;)) .

Yang biasanya waktu tempuh sekitar 30 menit sampai ke Gatot Subroto, kali ini hampir satu jam. Tapi ada yang lucu pas kita sudah hampir berhasil melewati kemacetan dan mulai masuk kawasan Gatot Subroto (depan Plaza Semanggi), mendadak mobil hitam yang kami naiki dihentikan oleh seorang petugas polisi. Aduh, iya.. masih jamnya three in one yah? Padahal kita biasanya lempeng aja lho jam segitu, nggak pakai acara cegat-cegatan begitu. Ah, ya sudahlah, kita minggir dulu yah..


Polisi  :
“Selamat sore, ..”
Teman  : “Selamat sore pak. Ada apa ya?” *(sok) polos*
Polisi  : “mohon maaf ada berapa orang dalam mobil?”
*sambil melongok ke dalam mobil* .

Eh, sumpah ya, kita pengen boneka ayam-ayaman di jok belakang itu mendadak hidup dan duduk manis terus senyum sambil benerin kacamata sama polisi itu. Biar kita nggak ditilang karena jumlahnya kan udah 3 orang.
Polisi  : “cuma berdua ya bu? Boleh saya lihat kelengkapan surat-suratnya?”
Teman  : “oh, boleh pak.. Emang jam berapa sih three in one-nya pak? Bukannya mulai setengah lima?”
Polisi  : “iya bu, memang benar ini kan sudah jam lima kurang seperempat..”
Teman  : “lho, bukannya mulainya setengah lima?”, tanya temen saya ngotot sambil buka dompet.

Nggak nyadar apa sama pertanyaannya barusan. Ini udah jam lima kurang seperempat Neng, three in one itu mulainya setengah lima. Ya jelas kita kenalah.. ;))


Polisi  : “iya bu, ini sudah jam setengah lima lebih, jadi ya sudah mulai yah.. Bisa minta tolong mobilnya dipinggirkan?”
Teman  : “oh iya ya? Udah setengah lima ya? “, dia terkekeh sendiri.

Tuh kan, lola jangan dipelihara dong ah.. *plaak!*

Sementara teman saya turun, saya lihat dari dalam mobil sambil terus memperhatikan mereka berdua. Eh, tapi kok saya, dia, dan bapak polisi itu jadi cengengesan ya? Kalau saya sih geli aja melihat ekspresi teman saya sama polisinya. Tapi kalau temen saya sama polisinya ngapain coba? Saya lamat-lamat mendengar percakapan mereka dari balik kaca yang sudah saya buka.

Polisi  : “iya ini tilangnya 500 ribu ya bu..”
Teman : “oh gitu ya pak? Wah, saya bener-bener nggak tahu pak. Biasanya saya bertiga, kali ini aja saya cuma berdua.. Aduh, maaf ya pak..”
Polisi  : ” Baik,  ibu rumahnya dimana?”
Teman  : “saya di Halim, Pak..”
Polisi  : “Lho, ibu istrinya anggota?”
Teman  : “iya..”
Polisi  : “Polri atau TNI?”
Teman  : “TNI, pak..”
Polisi  : “yah, kenapa ibu nggak bilang dari tadi Kalau saya tahu ibu istrinya anggota, mana mungkin saya tilanglah bu..”
Teman : “lah ya masa saya mau pamer-pamer kalau saya istrinya anggota. Ya kalau memang saya salah ya tegur aja pak, nggak apa-apa. Nggak usah sungkan apakah saya istri anggota apa bukan.. ”
Polisi  : “ya tapi saya yang nggak enaklah bu, masa istrinya anggota saya tilang juga..Ya sudah, silahkan dibawa kembali surat-suratnya. Salam buat bapak ya bu.. Hati-hati dijalan..”
Teman  : “baik pak terimakasih sudah diingatkan..”

Ah, untung polisinya baik hati. Salam buat komandannya ya Pak.. ;))

Begitu kita jalan, kita berdua ngakak-ngakak. Menyadari kebloonan kita, keteledoran kita, ketidaksabaran kita. Tentu saja menertawakan dengan lega kejadian yang baru saja kita alami. Nggak jadi ditilang gitu lho #:-s. Kayanya si pak polisi itu juga sempat melirik foto di dompet teman saya, plus “ngeh” dengan kata-kata “Halim” yang identik dengan pangkalan Angkatan Udara.

Ah, ya.. sore yang unik. Tapi justru dari situ ada sebuah pesan moral yang bisa kita ambil. Jadi orang itu mbok ya yang sabar. Karena kalau saja tadinya kita sabar, bertahan di jalur kanan, pasti nggak akan kena macet berkali-kali gara-gara tergiur pindah jalur yang lebih sepi yang akhirnya macet-macet juga bahkan lebih parah :)) . Sering-sering lihat jam, apalagi kalau niat masuk jalur three in one dengan penumpang kurang dari 3 orang.. ;))

[devieriana]

gambar dari situ

Continue Reading

Aku kenal kamu bukan tadi siang kan?

Saya dulu pernah menulis tentang chemistry. Kali inipun saya masih berminat menulis tentang hal itu. Bukan apa-apa, masih suka merasa ajaib aja dengan fenomena ini sebenarnya. Karena bukan suatu hal yang mudah untuk bisa membaur, merasakan dan tune in dalam satu “garis frekuensi” dengan seseorang. Belum tentu orang yang dekat dengan kita itu memiliki gelombang yang sama dengan kita.

Ngomongin apa sih kok dari tadi tentang frekuensi, gelombang, tune in. Bukan tentang radio kan ya? Bukan.. Wong saya mau membahas tentang perasaan kok 😉 . Saya sebenarnya termasuk orang yang nggak selalu mendapatkan chemistry dengan seseorang. Kalau pas sama gilanya bisa jadi celetukan-celetukan yang muncul bisa nyambung banget, tektoklah istilahnya. Tapi ada juga yang walaupun dia dekat dengan saya tapi belum tentu saya bisa merasakan apa yang dia rasakan saat itu juga, begitu juga sebaliknya. Ya maklum namanya juga bukan cenayang ya, makanya feelingnya masih suka salah-salah ;)) . Tapi saya punya 2 orang teman yang  bisa merasakan apa yang dia rasakan, begitu juga sebaliknya. Satu laki, satu perempuan. Keduanya bisa tune in satu gelombang dengan saya.

Salah satunya saya kenal sekitar 3 tahun yang lalu. Frekuensi percakapan kami selama ini sebatas window chat, itupun juga tidak setiap hari. Kalau kebetulan dia lagi nggak sibuk, atau sebaliknya kita suka klik ketemu di dunia maya, nggak janjian lho. Kami terpisah jarak & benua, saya di Asia sedangkan dia di Eropa. Awalnya saya juga tidak pernah menyangka bahwa kita akan menjadi sahabat. Wong komunikasi aja waktu itu juga jarang-jarang. Tapi entah kenapa saya “nyambung” sekali dengan dia, begitu juga (mungkin) sebaliknya. Tanpa diminta dia ada ketika saya butuh teman ngobrol aatu sekedar curhat. Cling, tiba-tiba dia ada di YM, atau g-talk. Tanpa saya ceritapun dia seolah tahu kalau saya lagi sedih, not in the mood, BT atau lagi bahagia sekalipun. Ah, dia memang sakti.. Jangan-jangan dulu dia pernah jadi anak buahnya paranormal siapa gitu yang melakukan ritual di Gunung Kawi.. ;))

Sampai tadi siang ketika saya lagi BT banget (biasalah ya masalah hormonal, menjelang PMS kayanya), dia tiba-tiba bilang :

Teman : ” udah, jangan manyun gitu.. ” :p
Saya :  ” siapa yang manyun, aku biasa aja kok” ~X(
Teman :  “aku bisa lihat lhoo..” ;))

Mau tak mau saya jadi senyumlah ya, masalahnya kan aneh aja kalau dia sampai bisa liat saya monyong-monyong BT gitu, kan? 😕

Teman  :  “kamu lagi sedih ya? ”
Saya :  “enggak, wong lagi becanda-becanda kok..” :^o
Teman  :  “ah, enggak, kamu lagi nggak lagi becanda. Kamu kenapa?” :-w
Saya  :  ” kok kamu bisa tahu aku lagi sedih atau mood jelek? ”
Teman  :  “aku ngerasa aja.. Aku kenal kamu bukan tadi siang kan?”
Saya  :  “iya.. ”
Teman  :  “makanya aku bisa ngerasa kalau kamu ada apa-apa..”

Wah, saya harus seneng apa takut ya kalau punya temen yang bisa tahu apa yang saya rasakan? :D. Gak denk becanda. Saya justru senenglah punya temen yang bisa mengerti saya. Tahu sifat-sifat saya dari yang baiknya sampai yang buruknya. Yang ada di pikiran saya nggak selalu dia tahu sih >:) , tapi kalau ngerasa sih iya.

Kalau yang pernah saya baca sih bilangnya begini  :

” Chemistry is a connection, a bond or common feeling between two people. It starts very early in a friendship/relationship. Positive or negative chemistry is often one of the first feelings two people have about each other. It can be verbal or nonverbal, conscious or unconscious—yes, just like you were hit over the head with it! “

To my dear friends, thanks for the chemistry we build. Love that!  >:D<

[devieriana]

Continue Reading