Kisah Bapak Tua dan Sejarah Masa Lalu

Di pagi menjelang siang hari ini, ada seorang bapak tua yang berbaju rapi, berpeci hitam, berjaket hitam yang di sisi dada kanannya terbordir logo Veteran Republik Indonesia, dan dada jaket sebelah kiri terbordir gambar lingkaran bendera beberapa negara, datang ke biro saya. Bapak itu sebenarnya sudah pernah ke kantor beberapa waktu yang lalu untuk menyampaikan berkas surat berkaitan dengan dirinya. Kalau dibaca, surat beliau alur ceritanya ‘lompat-lompat’, maksudnya tidak kronologis, kurang runut, dan sedikit membingungkan. Tapi kalau mendengarkan cerita beliau, saya agak pahamlah maksudnya.

Bapak itu curhat sekitar 30 menit; kelihatannya sebentar ya, tapi kalau 30 menit itu untuk mendengarkan orang bercerita tentang sejarah dan setengah marah-marah itu kok agak gimana, ya. Mau memotong nggak tega, kalau didengarkan kok ya kerjaan pas banyak. Tapi ya sudah, hitung-hitung nostalgia jadi customer service-lah. Kalau marah-marah sih sebenarnya beliau bukan marah sama saya, tapi sama pemerintah, sama pelaku sejarah lainnya yang menurut beliau tidak semestinya berbuat ‘dzalim’ (kepada beliau), tidak seharusnya mengubah, menghilangkan, dan memodifikasi sejarah seenak perut. Masih menurut cerita beliau, dulu beliau adalah orang dekat Presiden Soekarno. Tapi karena satu dan lain hal beliau tidak bisa lagi dinyatakan sebagai pegawai negeri, dan bahkan dinyatakan sebagai anggota komunis. Kesal, sedih, marah, dan kecewa, itulah yang dirasakan bapak ini, karena melekatnya label komunis itu menjadikan bapak itu tidak lagi bisa mendapatkan hak-hak keuangannya.

Emosional, itu yang saya tangkap dari sepanjang cerita di pertemuan pertama dan kedua ini. Ya wajarlah, siapapun tidak ada yang mau bernasib seperti itu. Tapi ‘ajaibnya’ ekspresi emosional itu bisa seketika lumer ketika beliau bercerita tentang keluarga; isteri, anak, dan cucu. Pun ketika beliau bertanya tentang anak dan keluarga saya nadanya berubah menjadi jauh lebih hangat.

Seperti halnya keluarga yang lain, semenjak tidak lagi mempunyai pekerjaan tetap, beliau tetap berusaha memenuhi tanggung jawabnya sebagai seorang ayah, suami, dan kepala keluarga yang baik. Demi cintanya kepada keluarga, demi memberikan pendidikan yang layak kepada kedelapan buah hatinya, akhirnya menjadi seorang supir taksi adalah pilihan pekerjaan selanjutnya. Hasil jungkir baliknya sebagai seorang supir taksi itu tidak sia-sia, karena selain beliau bisa mencukupi kebutuhan hidup keluarganya, beliau juga bisa membeli tanah di sekitaran Pancoran. Tapi dari semua itu ada saat yang membahagiakan sekaligus membanggakan; ketika dia bisa menuntaskan pendidikan kedelapan putra/putrinya. Bahkan matanya tampak berbinar ketika menceritakan keberhasilannya mengantarkan salah satu putra/putrinya menjadi dokter spesialis kandungan.

Entah kenapa, ketika mendengarkan kisah hidup bapak itu, terlepas dari benar tidaknya cerita yang sudah disampaikan, mata saya tiba-tiba terasa panas dan berair. Terharu. Saya membayangkan sosok di depan saya ini adalah Papa saya. Seorang yang sudah setua ini masih harus jungkir balik memperjuangkan keadilan atas hak-haknya sebagai manusia, dan meluruskan apa yang dia ketahui tentang sejarah. Dia tidak lagi peduli ketika berkas-berkas dan laporannya itu masuk dalam klasifikasi surat yang tidak ada harganya oleh berbagai instansi. Menurutnya, selama it worth fighting for, semua akan dijabanin.

Di akhir ‘sesi’ curhat, sambil memasukkan kertas-kertas yang tadinya dikeluarkan untuk ditunjukkan pada saya, bapak itu berpesan,

“Buat kamu, buat siapapun yang menerima kunjungan saya di setiap instansi, saya selalu berpesan. Siapapun kalian, apapun jabatan dan pekerjaan kalian, lakukan semuanya dengan hati, dengan tulus, ikhlas. Berikan yang terbaik untuk bangsa ini. Sisa umur saya paling tidak lama, tapi selama saya mampu, sebelum saya mati, saya ingin apa yang saya perjuangkan ini ada hasilnya, ada titik terangnya. Satu saja cita-cita saya, saya ingin orang Indonesia bisa tahu sejarah bangsa mereka yang sesungguhnya; bukan hasil rekayasa seperti yang sekarang ini kalian pahami. Itu saja…”

Suaranya sedikit parau. Tenggorokan saya tiba-tiba tercekat, tak mampu berkata-kata.

“Saya pamit dulu. Terima kasih sudah diterima baik di sini. Salam buat keluargamu ya, Devi… MERDEKA!”

Saya pun tersenyum. Mau tak mau, saya pun mengepalkan tangan kanan saya sambil berujar hal yang sama, “Merdeka!”

Hati-hati di jalan, Pak. Semoga Tuhan senantiasa menyertai segala usaha, dan perjuanganmu…

 

 

[devieriana]

Continue Reading

Bukan Sekadar (Cara) Berbusana

coco-chanel

Sering kali sambil iseng saya memperhatikan gaya berbusana orang-orang di sekitar saya secara random. Bukan hanya di mall, tapi juga di kantor, bus, halte, terminal, di stasiun, di jalanan, di meet up-meet up acara tertentu. Anywhere. Bahkan dari sanalah justru kadang inspirasi menjahitkan baju dengan model tertentu berawal.

Kadang saya juga sengaja mengunjungi toko-toko buku yang berinterior bagus, berpencahayaan lembut, dengan tata ruang yang sengaja dibuat spacious. Tujuannya selain memang mencari buku, sekaligus rekreasi jiwa dan mata. Namanya saja ruang publik tentu yang berkunjung pun beragam. Dari kesimpulan hasil pandangan mata secara random, rata-rata mereka yang datang ke sana pun berjenis yang sama dengan tatanan toko buku. Maksudnya sama rapinya, sama-sama enak dilihatnya, sama-sama stylish-nya. Entah mereka di sana benar-benar akan membeli buku, sekadar ingin membaca, menunggu seseorang, atau cuma ingin nongkrong sambil meeting. Semacam cara membunuh waktu dengan cara yang stylish, gitu.

Ngomong-ngomong, apakah kemampuan untuk tampil keren (bukan mahal) itu bakat, naluri, ‘taste‘, atau sesuatu yang tercipta karena life style, situasi, dan kondisi? Karena sering saya lihat seseorang yang tampil keren itu bukan selalu karena busana yang mahal, atau memakai produk branded dari atas sampai bawah. Tapi bisa karena mereka pandai memadu padan, pandai memilih gaya yang sesuai dengan bentuk badan, atau mereka bisa tampak stylish karena life style yang mereka ‘bawa’. Seperti misalnya berada di toko buku yang stylish, nongkrong di tempat yang menarik/gaul, padahal mungkin cuma pakai tshirt, jeans, postman bag/tas jinjing, flat shoes/keds/sneakers. Ah, saya sudah lama sekali tidak nongkrong di tempat beginian. Kalau pun harus nge-mall sekarang pilih mall yang ada nursery room yang nyaman buat Si Kecil. Life changing.

Sama seperti yang tertuang dalam buku seorang fotografer Douglas Kirkland, “Coco Chanel Three Weeks 1962”, kita pun bisa melihat seorang Coco Chanel, seorang ikon fashion paling penting di dunia, yang hanya mengenakan setelan jaket dan rok. Di foto tersebut dia pun sudah terlihat tua, jauh dari kesan seksi. Tapi, mengapa Coco Chanel masih terlihat sangat stylish? Semua karena life style yang dilakukan Coco di antara para jetsetter, serta kesibukannya di studio jahit yang eksklusif.

Mungkin jiwa mengamati orang lain sudah ada sejak saya masih kecil. Mama saya dulunya adalah seorang penari klasik. Ternyata, menjadi seorang penari yang tampilannya harus terlihat paripurna di atas panggung mempengaruhi cara berbusana mereka di luar panggung. Prinsip mereka, tidak harus berbusana mahal, asalkan nyaman, rapi, dan pantas dilihat. Kebanyakan mereka lebih menerapkan prinsip, “ajining diri saka lathi, ajining salira saka busana”. Layaknya adagium mulutmu harimaumu, harga diri seseorang tergantung dari apa yang diucapkan, harga jasmani tergantung dari apa yang dikenakan. Ajaran ini tidak bermaksud untuk menghargai seseorang hanya dari kulit luar atau pakaiannya saja, tetapi justru mengajarkan agar kita menjadi seorang yang valuable.

Menutup postingan saya yang random ini, saya akan mengutip kata-kata Coco Chanel:
“Fashion is not something that exists in dresses only. Fashion is in the sky, in the street, fashion has to do with ideas, the way we live, what is happening”

[devieriana]

 

gambar dipinjam dari sini

Continue Reading

Tentang Berat Badan…

weight scaleBerat badan, selalu saja jadi topik ngehits di antara kaum perempuan. Kalau sudah bicara soal berat badan, saya itu paling ‘ngiri’ sama orang yang bebas makan apa saja tapi berat badannya segitu-gitu saja, tetap ideal, tetap langsing. Ada yang memang bakat langsing, ada juga yang memang di-maintain dengan olahraga. Nah, yang paling benar memang ya diimbangi dengan olahraga dan asupan makanan yang seimbang, ya.

Ketika masih lajang, berat badan saya ketika masih lajang bergerak di kisaran angka 43-45 kg. Ketika mendekati angka 45 kg, Mama yang paling ribut me-warning supaya jangan sampai bablas. Sekarang jangankan sengaja rajin makan, nge-likes gambar Indomie saja berat badan saya naik 2 kg! Nggak ding. Tapi pokoknya cepet aja naiknya kalau porsi makan saya agak ‘tukang gali’ dikit. Pas hamil kemarin berat badan saya naik kurang lebih 10 kg, dan habis lahiran bukannya berat badannya turun, justru malah naik. Nyadar sih, kalau itu karena pola makan saya yang salah kaprah. Saya pikir kalau semakin sering makan, ASI-nya akan jadi lebih banyak. Ternyata volume ASI-nya tetap, berat badannya yang wassalam…

Sekarang sudah selang 18 bulan pascalahiran, apa kabar berat badan saya? Ya gitu deh. Tapi lumayan turun cepat ketika bulan puasa tahun lalu. Kondisi di mana saya tetap menyusui ketika puasa. Makin ke sini lumayanlah turun walaupun se-ons, se-ons.

Nah, bagian sedihnya adalah… sudah turunnya cuma se-ons, kok ya naiknya 2 kg! Duh! Gara-gara apa, coba? Beberapa bulan lalu di biro saya kedatangan seorang Kabag baru dari Setwapres, namanya Bu Epon. Nah, Bu Epon ini orangnya suka masak. Selama beliau di sini, beliau memanjakan kami dengan hidangan makan siang ala rumahan yang rasanya endeus! Pokoknya selama kurang lebih 5 bulan beliau di sini, kami tidak mengenal kata diet.

Efeknya baru terasa ketika beliau pensiun awal Februari kemarin, kok celana dan rok pada kesempitan ya? Ya di bagian paha, ya di bagian perut, ya di bagian lengan. Pokoknya baju jadi nggak ada enak-enaknya dipakai karena lemak mulai nyempil di sana-sini. Apalagi saya orang yang hampir tidak pernah olahraga, jadi ya sudah pasrah saja. Hiks…

Salut dengan perjuangan seorang teman yang demi mendapatkan berat dan bentuk badan yang ideal, dibela-belain daftar ke gym, olahraga dengan jadwal teratur, dan mulai mengatur pola makan. Hasilnya memang tidak instant terlihat, tapi perubahan itu mulai ada. Berat badannya mulai turun secara bertahap, dan dia terlihat lebih segar dibandingkan sebelumnya. Kuncinya sih sebetulnya mudah, niat yang kuat untuk berubah ke pola hidup sehat., cuma memang menjalaninya itu yang butuh tekad lebih kuat lagi.

Kalau saya sih niat selalu ada, tapi ya sudah dari dulu sampai sekarang sebatas niat…
*dilempar barbel*

[devieriana]

 

sumber gambar dipinjam dari sini

Continue Reading

Busy January 2016

Biro SDM Kemensetneg

Pffiuh, akhirnya, setelah sekian lama tidak menghasilkan tulisan apa-apa sejak November 2015, akhirnya terbit juga tulisan di hampir penghujung Januari 2016. Sebenarnya ada banyak cerita yang bisa ditulis di sini, kalau mau, kalau niat. Niat sih sebenarnya ada, ide juga tinggal metik doang. Tapi entah kenapa ketika sudah di depan komputer kantor, kalah melulu sama kerjaan. Ketika sampai rumah, niat menulis malah bablas, karena main sama Alea yang lagi bawel-bawelnya. Jadi, ya sudahlah, mungkin saatnya sekarang bersihkan blog dari sarang laba-laba dulu.

Eh iya, semoga berlum terlalu terlambat untuk mengucapkan, “Selamat tahun baru 2016, ya!”. Ada sebuah ucapan bagus yang saya terima di whatsapp, dari seorang teman pada awal Januari kemarin, “On this New Year I wish that you have a superb January, a dazzling February, a peaceful March, an anxiety free April, a sensational May, and Joy that keeps going from June to November, and then round off with an upbeat December!”.

Pergantian tahun dari 2015 ke 2016 kemarin, seperti tahun-tahun sebelumnya, saya lewatkan dengan tidur. Entah kenapa moment pergantian tahun selalu kurang menarik perhatian saya. Selain saya juga kurang suka kehingarbingaran, mata saya kurang bersahabat dengan jam malam, alias tidak kuat begadang. Jadi ya sudahlah, saya melewatkan moment pergantian tahun dengan bobo manis bersama bocah saja.

Kalau kantor lain, bulan Januari masih jadi bulan yang santai karena baru awal tahun jadi kesibukan masih belum ada, kalau di kantor saya sudah disibukkan dengan rapat koordinasi yang beruntun hampir tiap hari bahkan sejak hari pertama ngantor. Belum lagi di waktu yang mepet saya harus menangani acara gathering-nya Biro SDM di Sentul. Wait. What? Baru awal tahun sudah gathering? Justru karena masih awal tahun, kita butuh re-energize semangat kerja. Kadang, piknik itu memang harus disempatkan, kalau kerja melulu jadinya basi, hihihihik. Enggak gitu juga ding, mumpung kerjaan masih belum padat, jadi tidak ada salahnya kalau disempatkan piknik. Kalau sudah terlanjur sibuk kerja, mau piknik bakal kalah melulu sama tugas kedinasan. Bulan ini saja sudah ada 3 pelantikan yang sudah dijalani, dan masih akan ada lagi nanti di hari Jumat pagi di Gedung Utama. Jadi, keputusan untuk piknik duluan sebelum sibuk itu memang tepat.

Trus, kenapa harus Sentul? Location is important, but it doesnt have to be picture perfect. Kalau ke Bandung, khawatir pada capek duluan di jalan, dan toh kami juga sudah pernah mengadakan acara di sana 3 tahun yang lalu. Itulah kenapa kami akhirnya memilih lokasi di Sentul, toh yang penting kan bukan jauhnya, tapi moment kebersamaannya. Oh ya, kami memilih menginap di Villa Rosomulyo. Sebuah villa yang sungguh tersembunyi, di sekitaran Sentul. Serius, waktu survey bersama 2 orang teman, sempat ragu juga, ini villanya di mana, ya? Belum lagi pas survey bertepatan dengan hujan deras, dan petir menyambar-nyambar. Jadi, ketika kami menemukan lokasi villa seperti sudah tengah malam, saking gelapnya, padahal baru pukul 5 sore. Segala rasa was-was akhirnya terbayarkan ketika melihat penampakan villa Rosomulyo yang sesungguhnya. Bagus, Kak! Recommended sangatlah, buat yang mau gathering di sana.

Sebagai penanggung jawab acara, saya harus menjamin acara yang saya pegang selain lancar juga harus seru. Kalau cuma sekadar menginap di villa doang ya namanya cuma pindah tidur ya, kan? Jadi, selain ada acara hiburan, foto keluarga besar Biro SDM, juga harus ada fun games yang bisa lebih merekatkan kembali rasa persaudaraan di biro kami. Lagi pula kan belum semua merasakan yang namanya outbound atau fun games. Hasilnya? Alhamdulillah, acara lancar, kami pun kembali segar walaupun pipi agak kram karena tertawa melulu sepanjang fun games.

Sepulang dari gathering, bak jadwal artis yang padat merayap, saya masih harus menyiapkan diri untuk mengisi acara di Gedung Kridabhakti bersama teman-teman band saya. Nyanyinya sih cuma 1 lagu, nunggunya 4 jam *usap peluh*. Tapi ya sudahlah, yang penting semua acara berjalan lancar, orderan kenceng ya, Kakak. Kenceng anginnya, hahaha…

Jadi, begitulah cerita sepanjang bulan ini. Kerja itu penting, tapi piknik jauh lebih penting! *eh* .

Kalau kamu, iya kamu. Bagaimana kamu melewatkan Januari tahun ini? Semoga sama serunya ya…

Have a great and productive day, fellas!

 

 

[devieriana]

Continue Reading

Busy November

Tak terasa bulan November sudah berlalu di depan mata, dan sekarang ‘tiba-tiba’ sudah masuk bulan Desember aja. Kalau dipikir-pikir waktu setahun itu kok ya cepet banget, ya?

November kemarin jadi bulan sibuk bukan hanya buat saya tapi juga buat kantor. Jadi kalau November kemarin saya sama sekali tidak posting apapun di blog ini harap dimaklumi ya, hiks…

Sejak awal bulan sudah digeber dengan diklat Kehumasan, dilanjut dengan dinas-dinas, ngemsi-ngemsi, dan lomba-lomba. Kalau soal penggunaan suara pokoknya di bulan November itu maksimal banget, ya MC indoor, ya MC outdoor, ya nyanyi indoor, ya nyanyi outdoor, ya MC acarA formal, ya acara lomba aerobik yang pakai teriak, “AYO SUARANYA MANAAAA?!’ Pokoknya MC serbagunalah, emang gedung doang yang serbaguna? Hahaha…

Eh, trus, kok tumben ada lomba-lombanya? Iya, sebenarnya setiap bulan November itu diperingati sebagai hari ulang tahun KORPRI. Kebetulan tahun ini KORPRI berulang tahun yang ke-44. Setelah dua tahun lamanya berhibernasi, dan jauh dari keriaan, tahun ini ulang tahun KORPRI kembali diperingati dan diramaikan dengan berbagai lomba olah raga dan seni.

Kalau dilihat dari jenis lombanya, sudah jelas saya bukan partisipan lomba olah raga. Lha wong senam rutin tiap hari Selasa dan Jumat saja saya skip melulu, apalagi ikut lomba olah raga beneran. Sudah bisa ditebaklah saya ikut lomba apa. Iya, saya memeriahkan lomba menyanyi saja. Itu pun alhamdulillah, nggak menang; cuma sampai 9 besar saja, hahaha. Eh, tapi jujur, saya malah bersyukur dengan kekalahan itu karena justru mengurangi beban saya sendiri. Bayangkan saja, saya di-booking sebagai MC acara puncak peringatan HUT KORPRI di lingkungan kantor saya sejak awal November, dan rencananya para pemenang lomba menyanyi harus tampil di atas panggung untuk memperdengarkan suaranya. Sedangkan saya dan teman-teman band saya pun sudah dimasukkan dalam list penampil. Masa iya, saya yang ngemsi, saya juga yang tampil menyanyi solo, plus tampil bersama teman-teman band saya. Kok rasanya eksis amat, ya? Itulah kenapa saya malah bersyukur ketika saya tidak dinyatakan sebagai pemenang lomba menyanyi.

Saya mau cerita sedikit tentang lomba menyanyi kemarin ya. Ini adalah lomba menyanyi kedua yang saya ikuti di lingkungan kantor. Anggap saja lomba tingkat abal-abal, karena memang yang ikut ya para pehobi nyanyi saja, bukan yang pro. Saya sebenarnya sudah tidak mau ikut, tapi berhubung ada disposisi atasan yang meminta saya untuk ikut jadi ya sudahlah, saya ikut saja, itung-itung memeriahkan.

Di babak semifinal/penyisihan, rencana yang ikut sih sekitar 90 peserta yang terbagi dalam 2 sesi lomba. Lomba pertama diadakan di hari Jumat, 19 November 2019, dan sesi kedua diadakan di hari Senin, 23 November 2015, yang masing-masing terdiri dari 45 peserta, walaupun pada kenyataannya banyak peserta yang mengundurkan diri karena kegiatan kedinasan. Jadi, sepertinya sih jumlah pesertanya tidak sampai 90 orang.

Dua hari menjelang hari H, saya masih galau mau menyanyikan lagu apa. Hingga akhirnya pilihan lagu saya jatuh pada My Cherrie Amour-nya Stevie Wonder. Entahlah, mungkin suara saya cocok menyanyikan lagu-lagu lawas nan klasik macam begitu, karena di lomba 2 tahun sebelumnya pilihan lagu saya pun tak jauh dari lagu lama, Somewhere Over The Rainbow.

Juri lomba kali ini berbeda dengan tahun sebelumnya, kali ini ada 3 juri yang diambil dari luar, jadi harapannya bisa lebih netral dalam menentukan para calon finalis dan pemenang nantinya. Ya sudahlah, nothing to lose saja, kalau sudah rezeki tak akan ke mana kok.

Dan, tadaaa! Saya dinyatakan masuk final dan harus memilih salah satu di antara 25 lagu pilihan. Saya kembali galau. Masalahnya adalah, lagu-lagu itu tidak ada yang saya suka, hihihihik. Tapi ya sudahlah, ketika sesi pengambilan nada, pilihan saya jatuh ke lagu Kaulah Segalanya milik Ruth Sahanaya, tapi kata panitia lagu itu sudah dua orang yang memilih, jadi mereka menyarankan untuk memilih lagu yang lain. Nah, rempong lagi nih judulnya, padahal jiwa raga saya sudah siap menyanyikan lagu Kaulah Segalanya. Sampai akhirnya, pilihan saya jatuh pada lagu lamanya Rafika Duri, Tirai. Beuh, lawas banget! Ya sudah, biar nggak lawas-lawas banget dan terdengar lebih catchy, saya meminta untuk diversikan bossanova saja, sama seperti lagu Tirai di album Rafika Duri yang bertajuk Romantic Bossas, yang diaransemen ulang oleh Tompi.

Di hari H, modal saya hanya do my best, karena tak disangka ternyata bapak-bapak saya beserta teman-teman semuanya hadir memberikan dukungan. Antara haru dan seru, karena ternyata sayalah satu-satunya yang mewakili satuan kerja Sekretariat Kementerian dan Kedeputian, selebihnya adalah perwakilan dari Sekretariat Militer Presiden, Sekretariat Kabinet, Sekretariat Presiden, Sekretariat Dewan Pertimbangan Presiden.

Beda dengan lomba terdahulu. Dulu, mau dengar pengumuman saja saya deg-degan luar biasa, hahaha. Sekarang, biasa saja. Mungkin karena tidak ada beban. Jadi ketika diumumkan bahwa yang menjadi juara 1 dari Sekretariat Militer Presiden, juara kedua dari Sekretariat Presiden, dan juara ketiga dari Sekretariat Kabinet, saya sangat-sangat legowo. Kalaupun kekalahan saya itu salah satunya karena lagu yang saya bawakan bukan versi aslinya, hmmm… dalam bayangan saya nih ya, selama saya tidak menyalahi ketentuan yang ada di dalam rule of the game, ya seharusnya sah-sah saja memodifikasi aransemen lagu. Toh, di berbagai lomba pencarian bakat juga lagu-lagunya selalu diaransemen ulang menjadi lagu yang punya sentuhan baru.

Tapi ya, bagaimana pun keputusan juri adalah mutlak, dan pastinya sudah ada pertimbangan tertentu kenapa Si A, Si B, Si C jadi juara. Walaupun keluar dari aula Pak Deputi ngomel-ngomel karena keputusan dewan juri yang dianggap aneh, saya cuma bisa cengengesan. Ya jelas ngomel dong, kan perolehan medalinya jadi makin ketat sama Setmil dan Setpres, hahaha…

Teman-teman band saya cuma haha-hihi saja melihat vokalisnya malah kalah, hahahaha. Nggak ding, mereka tetap support kok.

Him: Are you sad?

Me: Eh, nggak dong…

Him: Lomba nggak jelas itu. Juri yang bener itu ada di penonton. Lagian penyanyi yang bener itu bukan cuma suara, mental sama attitude juga. Lagian, kamu udah nggak levelnya ikut lomba-lomba kaya gitu, Mbak…

Eh, makasih lho support-nya. Sorenya pas ketemu mereka buat persiapan tampil tanggal 29 November 2015 di acara pucak peringatan HUT KORPRI, saya pun habis diledekin mereka.

“Eh, kamu ntar nyanyi Lost Star-nya Adam Levine aja… Bintang yang kalah…”

Asyem! Hahaha…

 

[devieriana]

 

PS: foto-fotonya menyusul aja deh. Tapi kalau mau sekadar kepo bisa diintip di instagram ya..

Continue Reading