Pengen nulis, tapi..

“Dev, tau gak sih, aku tuh benernya pengen nulis kaya kamu gitu, punya blog. Tapi aku mikir kapan ngerjainnya ya. Kadang kalo udah di kantor aku udah sibuk sama kerjaan, kalo sudah di rumah udah males ngutak-atik komputer. Di rumah ya udah aku pakai buat istirahat. Tapi lama-lama mikir sendiri kok aku nggak nulis-nulis ya?”

Itu pernyataan yang sering saya dengar akhir-akhir ini ;)).  Eh, kok jadi mikir sendiri, kalau blog saya update terus apakah kesimpulannya saya sudah kelebihan waktu?:-?. Sebenarnya sih sama saja, saya juga hanya punya 8 jam kerja. Kerjaan segambreng kadang sampai harus hutang load kerjaan untuk diselesaikan besoknya. Tapi kalau buat menulis sih kapan saja juga sempet, tergantung kita niat apa enggak. Gitu sih kalau menurut saya 😀

Entah ya, kalau untuk menulis hampir selalu bisa saya lakukan walaupun itu ditengah-tengah kesibukan saya dikejar deadline, sestres-stresnya saya dihabeg-habeg sama pekerjaan, sehectic-hecticnya sama meeting dan training. Paling tidak selalu saya luangkan waktu beberapa menit untuk sekedar menulis, bahkan kadang untuk tema yang tidak penting sekalipun :D. Rasanya kalau sudah posting satu tulisan saja sehari rasanya satu hajat hidup saya terpenuhi, terlepas dari pakah isinya penting atau tidak buat orang lain, bermanfaat atau tidak buat yang baca.

Salah 1 kebutuhan saya memang adalah menulis. Kalau lagi banyak ide menulis bisa saja terlahir 2-3 tulisan sehari, walaupun bisa saja saya simpan ide itu untuk beberapa hari kedepan. Tapi entah ya, ada rasa yang “ngganjel” kalau ide yang terlanjur berseliweran itu tidak segera dipetik & ditulis. Karena feel yang kita dapat ketika menulis pertama kali dengan yang hasil endapan bisa jadi beda. Apalagi untuk tulisan-tulisan yang sifatnya aktual. Yang baru saja terjadi, yang menyangkut pemikiran & perasaan kita saat itu, saya cenderung ingin cepat-cepat menuangkannya dalam bentuk tulisan. Maruk banget ya bisa 2-3 postingan sehari? ;))

Kadang memang saya “selamatkan” ide-ide itu di notepad atau sms di HP. Nanti kalau pas lagi sepi ide saya bisa mengolah dari ide-ide yang sudah saya selamatkan itu. Buat saya menulis di blog seperti sekarang itu ibarat catatan history pikiran/perasaan saya kalau, “dulu ternyata saya pernah berpikir tentang ini, itu, anu. Berpendapat begini, begini, begini”. Soal komen atau dibaca sama orang lain itu bonus. Menulis saja dulu. Kalau sampai orang memberi pujian berarti itu reward. Kalau yang ngasih kritikan itu hadiah :D. Jadi apapun tanggapan orang lain tentang tulisan-tulisan kita ya cukup berpikir positif. Kalau sampai ada yang mengkritik tulisan kita ya tandanya orang lain perhatian sama tulisan-tulisan kita. Jadi tidak perlu merasa terbebani, “nanti kalo dikritik orang gimana? nanti kalau nggak dibaca orang gimana, kan capek nulis panjang-panjang..”. Santai aja kali :-bd

“Aku tuh orangnya sibuk banget, Dev.. Jangankan buat menulis, buat cari ide aja susah” . Mmh, sebenarnya sih ide banyak banget lho. Bisa dimulai dari sekeliling kita. Cuma kadang memang kitanya yang malas untuk menuangkannya dalam bentuk tulisan. Yang ada dipikiran kita : “ah ini kan biasa banget, buat apa ditulis..”. Kesannya harus ada kejadian “istimewa” dulu baru ditulis. Padahal ibaratnya seribu langkah pasti diawali dari satu langkah dulu bukan? 🙂

” Trus, gimana biar aku mau nulis, Dev?”. Nah lho, kesannya kok menulis itu kewajiban, dan dijalani dengan kurang ikhlas gitu ya? ;)). Motivator terdahsyat dalam hidup itu kan diri sendiri, bukan orang lain. Percuma juga kan kalau kita paksa orang untuk menulis, kalau dari dianya sendiri tidak ada keinginan untuk menulis. Ya kan? 🙂

Jadi, mulai menulislah dengan hati. Itu saja dulu.. 🙂

[devieriana]

Continue Reading

Menari Bersamaku ..

.. rantoyo putri I alus, rantoyo putra I alus, golek sri rejeki, gambyong pareanom, srimpi gelas, retno tinanding, gambiranom, gunungsari, golek asmorondono ..

Rasanya sudah belasan tahun lalu terakhir saya menarikan tari-tarian Jawa alus tersebut. Menari, dalam keluarga saya sudah mendarah daging. Terlahir dari seorang Mama seorang penari lulusan sekolah tari Wilwatikta membuat kami berdua (saya & adik perempuan saya) harus bisa menguasai tari tradisional Jawa halus & kontemporer. Awalnya banyak yang mengira kami sengaja diarahkan untuk menjadi penari, tapi sebenarnya maksud kedua orang tua kami adalah supaya kami punya kegiatan ekstrakurikuler, jadi nggak melulu sekolah.

Berawal dari sebuah sanggar tari pimpinan Pompong Supardjo di Malang, saya mulai belajar tari Jawa mulai tahap yang paling dasar. Waktu itu saya masih usia 8 tahun (kelas 3 SD). Semua siswa setelah mengikuti beberapa bulan latihan (dulu saya 6 bulan sekali) wajib ikut ujian tari yang diadakan di Taman Budaya Jawa Timur dengan menari secara berkelompok maximal 5 atau 6 orang sekali tampil di depan 3 orang juri yang notabene semuanya penari senior. Yang dinilai meliputi wiraga (keluwesan gerak), wirama (ketepatan gerak dengan irama/gending), wirasa (penghayatan), dan kerapian busana.

Busana yang kami kenakan hanya terdiri dari atasan kaos sanggar tari, jarid wiron (parang kecil untuk menari tari jawa putri alus, parang besar untuk menarikan tarian jawa putra alus), plus stagen & sampur (selendang tari). Saking seringnya ujian saya kelas 5 SD sudah bisa membuat wiron & pakai jarid (kain) sendiri :D. Kadang saya kangen pengen kembali lagi ke masa culun-culunnya saya nari, ikut ujian, & kumpul-kumpul sama teman-teman sanggar tari saya.

Menari buat saya ibarat delicacy, makanan yang enak. Saya suka menciptakan tarian, tampil sendiri menarikannya, kadang mengajarkannya kepada teman, atau ikut lomba.  Suatu kepuasan tersendiri saat bisa menampilkannya di depan penonton. Itu masih belum seberapa jika dibandingkan dengan kepuasan ketika melihat orang lain menarikan tarian kita. Rasanya tidak ada yang bisa membayar saya kecuali kepuasan itu tersendiri.

Kalau saya sendiri lebih suka menari tunggal, dengan alasan : Pertama, kalau salah nggak bakal kelihatan! ;)) Iyalah, coba kalau nari berpasangan salah satu salah kan bisa jadi pikiran orang , “ih… kok narinya ga kompak?”. Kedua, bisa berekspresi (sesuka saya) sesuai dengan karakter tari yang saya bawakan. Ketiga, perhatian penonton bisa fokus ke saya! Kalau yang ini sih cari perhatian banget ya.  Enggaklah, becanda kok ;))   Sebenarnya buat saya menari solo maupun menari secara berpasangan tidak ada masalah, tapi berhubung setting default-nya penari tunggal jadi kalau harus menari berpasangan/rame-rame harus di-briefing dulu (maksudnya sayanya yang harus di briefing ;)))

Kalau ditanya kapan terakhir kali saya menari & tari apa yang saya bawakan, jawabannya : sudah lama banget, sekitar tahun 1998 & waktu itu saya menari didepan peserta rakernas something (saya lupa) yang dibuka oleh Akbar Tandjung yang waktu itu masih menjabat sebagai Menpora, diadakan di Universitas Brawijaya dengan peserta rakernas dari seluruh Indonesia. Tari yang saya bawakan adalah Jaipong Adumanis, salah satu tari favorit saya karena termasuk tarian yang energik & ekspresif. Kalau disuruh memilih tari apa yang saya sukai, saya suka semua, eh disuruh memilih ya tadi? :p  Tari Jawa & Sunda.

Kenapa tari Jawa karena tari Jawa itu basic skill seorang penari. Ya seperti yang saya sebutkan tadi wiraga, wirama, wirasanya harus bener. Menghayati tari Jawa klasik itu sulit, kita harus sabar mengikuti setiap ketukan irama yang mengalun lembut, pelahan. Harus ikut pakem tari yang sudah ada karena bukan tari kontemporer. Contohnya tari Gambyong Pareanom atau Golek Sri Rejeki, di seluruh Indonesia ya gerakannya sama, mau yang menarikannya orang Jawa, Sunda, Sumatra, Kalimantan, Papua (kalau semua mau belajar) ya gerakannya sama semua sesuai pakem tari Gambyong & Golek  itu seperti apa.

Beda dengan tari kontemporer (tradisional kreasi baru), kita bisa mengkreasikan sesuai dengan inspirasi & kemauan kita, asal enak dilihat & variasi gerakannya tidak monoton ya nggak masalah. Misal : Tari Punjari (tari tradisional asal Banyuwangi) yang tersohor sekitar tahun 1990-an itu versi masing-masing pencipta tari tidak sama. Ngomong-ngomong soal tarian yang satu ini jadi ingat masa “kejayaan” saya sebagai penari. Tarian awal yang saya kuasai & berani saya tampilkan didepan publik ya Tari Punjari ini :D. Kemanapun saya tampil ya tarian ini yang saya bawakan ;)). Sampai ada celetukan yang bilang, “gimana kalau sekarang nama kamu diganti jadi Devi Punjari” Berasa sutradara film. Itu Punjabi, ding ;))

Lalu, kenapa saya suka tari Sunda, saya kurang tahu apa ada hubungannya atau enggak, saya terlahir dengan darah a half sundanese. Almarhumah nenek saya adalah orang asli Sunda yang bsama sekali nggak bisa ngomong Jawa. Menurut saya tarian Sunda – terutamanya Jaipong – gerakannya sangat energik, bisa full ekspresi & semangat ketika menarikannya. Apalagi dengan diiringi hentakan gendang & suara sinden yang nyaringnya khas, rasanya durasi 10 menit itu nggak terasa banget, padahal sudah ngos-ngosan.  Jadi mikir, nari dengan durasi segitu aja sudah ngos-ngosan apalagi nari Bedhaya Ketawang yang durasinya 130 menit ya..

Andai saya masih ada kesempatan untuk sekedar menyalurkan rasa kangen saya untuk menggung, ya. Sudah kurang punya cukup waktu untuk sekedar melemaskan otot-otot saya berliak-liuk menari dengan iringan gending Jawa/Sunda..

Ada yang mau ngajak saya nari? Yuk! 😉

[devieriana]

Source gambar  ada di sini

Continue Reading

Tuhan, andai saya boleh memilih ..

merenung1

 

” Dev, andai saja ya aku boleh menentukan jalan hidup mana yang aku pilih, andai aku boleh memilih sendiri jodohku, andai aku boleh mengabulkan apa saja keinginanku..”

Itu curhat salah seorang sahabat saya, kemarin siang ..

 

Hmm.. kalau semua “andai” itu bisa kita lakukan, trus apa gunanya Tuhan? ngapain harus ada Tuhan kalau kita bisa “triiing.. voilaa..” apa yang kita inginkan dalam sekejap ada di depan mata, apa yang jadi keinginan kita langsung terkabul, ga akan ada namanya kegagalan, orang salah arah & salah langkah dalam hidupnya, semua berjalan sesuai rencana..  Tapi apa iya kalau sudah menjadi “tuhan” kecil seperti itu lantas kita bisa puas, kehidupan akan seluruhnya berhasil sesuai rencana? Apa ga malah jadi kacau balau karena berjalan sesuai dengan keinginan masing-masing, bisa bentrok sana-sini, tidak ada sentralisasi, jadi “otonomi daerah” semua.

 

Saya yakin pemikiran seperti diatas pasti pernah mampir ke otak masing-masing orang, tapi kembali laagi ke akal sehat, yakinkah kita ketika semua serba dituruti, apapun keinginan & cita-cita kita serba in a minute langsung jadi, apa malah ga bikin kita jadi cerdas, ulet, & berusaha? Yang ada bakal menambah populasi orang malas di dunia ini. Bener ga? “Aku mau uang yang banyak, yang ga usah pake kerja”.. TRIING.. berkarung-karung uang sudah ada di depan mata. “Aku mau nikah sama si X dong, soalnya aku suka sama dia”.. TRIIING.. Si X sudah jadi suami/istri kita. “Aku mau lulus cumlaude tapi ga usah pake kuliah dong..”.. Yee, mana bisa begitu? enak aja.. hehehehe.. 😀

 

Pun halnya memilih pasangan hidup, pekerjaan, jalan hidup, dll. Saya percaya semua itu pasti ada “jodohnya”. Maksud saya begini, semua ditakdirkan untuk berpasang-pasangan (bukan hanya pasangan hidup), pun halnya dengan pekerjaan. Si A gonta-ganti tempat kerja dari perusahaan X ke perusahaan Y, ga cocok, resign ngelamar ke perusahaan Z, eh kok enak ya.. gaji gede, posisi enak, kerjaan gampang & lingkungan kerja yang kondusif. Hal yang seperti itu yang saya namakan jodoh. Begitu juga dalam menentukan pasangan hidup pun, kalau saya boleh memilih nih, saya bakal pick one orang yang saya sukai,  Si Anu misalnya. Tapi balik lagi, yakinkah kita jika si Anu ini jadi pasangan hidup kita, kita bakal jadi orang yang lebih baik daripada sekarang? Mesti mikir dulu deh. “Hhalaaaahh… kalau kebanyakan mikir keburu dia disamber orang, bu..”. Ya udah berarti dia bukan jodoh kamu.. Gitu aja. Simple kan? 🙂 . Tapi inget, pasrah bukan berarti ga usaha ya. Kalau memang kita suka dengan si A/B/C, atau kita punya keinginan & cita-cita ya harus ada usaha dululah. Do the best, lets God do the rest..

 

Proses berpikir saat akan melakukan pengambilan keputusan sangat dibutuhkan. Kenapa? Ya supaya kita ga salah pilih, ga salah jalan. Saya juga pernah berpikir bahwa Tuhan itu kok kayanya ga adil banget deh. Ada orang yang hidupnya kayanya sangat beruntung, dapat pasangan yang perfect, dikaruniai anak yang lucu-lucu, seems mereka bahagia banget.. what a perfect life-lah pokoknya. Sementara saya ya biasa-biasa aja. Tapi tadi pagi saya mendapatkan perenungan bagus setelah semalam saya bertemu dengan seseorang dari masa lalu saya. Mendadak saya bersyukur dengan kehidupan saya sekarang. Andai beberapa tahun lalu Tuhan mengiyakan keinginan saya untuk hidup bersama dia, saya ga yakin bahwa kehidupan spiritual saya akan semakin dekat dengan-NYA. Secara ya, kadang shalat aja saya masih bolong-bolong, baca Qur’an kalau saya lagi pengen. Kalau saya hidup sama dia apa iya saya ga makin jauh dari-NYA? Okelah secara financial kehidupan saya akan tercukupi, tapi kebutuhan rohani saya besar kemungkinannya akan makin kosong karena kehidupaan rohaninya sendiri ga lebih baik daripada saya  🙁

 

Selalu ingatlah akan 3 hal  :

1. Jika Allah mengatakan Ya !
Maka kita akan mendapatkan apa yg kita minta..

2. Jika Allah mengatakan Tidak !
Maka kita akan mendapatkan yang lebih baik..

3. Jika Allah mengatakan Tunggu !
Maka kita mendapatkan yang terbaik sesuai kehendak-Nya.
Allah tidak pernah terlambat, Dia tidak juga tergesa gesa, namun Dia selalu tepat waktu..

 

Tuhan ga pernah salah, Dia selalu memberikan apa yang kita butuhkan, bukan apa yang kita inginkan. Karean kadang apa yang kita inginkan sebenarnya bukan yang kita butuhkan secara hakiki. Namun kadang kita lupa, saat dalam hidup ada 1 pintu yang tertutup bagi kita, kita hanya bisa menangis, mengeluh, meraung-raung agar pintu itu dibuka, sampai kita tidak sadar bahwa ada pintu lain yang Tuhan sudah buka untuk kita..

Berserahdirilah, karena Tuhan Maha Tahu segala yang terbaik untuk kita ..

 

teruntuk sahabat saya.. cheer up ya Dear  🙂

 

 

Continue Reading

Do you love me too?

 

love

 

Lucu nih, hari ini baca posting blog seorang teman yang cerita kejadian masa lalu yang temanya tentang “mengungkapkan perasaan kepada lawan jenis”. Pantas ga sih, wajar ga sih seorang perempuan menyatakan perasaannya lebih dulu a.k.a nembak ke lawan jenisnya? Secara ya, itu masih dianggap hal yang kurang biasa beerlaku di masyarakat kita.. halaah.. masyarakat.. 😀

 

Ya menurut saya sih masih wajar-wajar aja tuh, buktinya banyak kok yang bilang suka duluan sama cowoknya. Banyak juga yang akhirnya berujung bahagia (halaah..). Ya masalah diterima/gak ya itu pasti ada lah ya.. namanya juga resiko. Analoginya, ketika kita melamar pekerjaan, pasti kan belum tentu diterima kalau kita dianggap belum memenuhi kualifikasi yang dibutuhkan perusahaan. Nah, sama halnya ketika seorang pria/wanita menyatakan perasaannya ke wanita/pria idamannya ya pasti harus siap menghadapi resiko penolakan dari “objek penembakan” itu kalau kebetulan si objek ternyata ga punya rasa yang sama. Cuman tingkat sakit hatinya emang bisa beda-beda, tergantung seberapa besar rasa yang dipendam, tingginya harapan, dan mental yang dimiliki si pria/wanita. Kalau misal di tolak secara halus dengan argumentasi yang tepat kenapa sampai menolak, mungkin sakit hatinya beda dengan ketika mendapatkan penolakan secara , “HAH, APAA? lu suka ama gue? gila lo ya, berani-beraninya lu nembak gue. Emang siapa lo? Ngaca dong.. ngacaa..!!”, hehehe.. Ini sebenernya subyek sama obyeknya saling kenal gak sih, kok sampai tanya “siapa elo?”. Kenalan dulu deh kayanya 😀 .  Ya maksud saya, kalau nolaknya kasar kan juga udah dapetnya sakit hati, plus dendam kesumat bisa-bisa berujung santet nih.. 😀

 

Kalau yang menyatakan perasaan ini seorang pria, wajar deh. Tapi kalau yang menyatakan ini seorang wanita, yang notabene mentalnya ga sekuat pria (syukur-syukur kalau wanitanya bermental baja, bermuka tembok, dan berhati besi..  Ini orang apa bunker sih sebenernya?). Pria juga banyak yang gak kuat mental kok kalau ditolak sih sebenernya :p . Nah kalau wanita yang nembak, trus ternyata ditolak, stress, terus mulai nyanyi-nyanyi sendiri, ketawa-ketawa sendiri gimana? Makanya itu, saya bilang melakukan “penembakan” itu butuh waktu yang tepat, mental yang cukup kuat, hati yang lapang ditambah ikhlas kuadrat pangkat dua. Take it easy ajalah, namanya juga perasaan, ga bisa dipaksa. Kalau memang suka ya diomongin, toh gak bakalan masuk neraka kok. Soal ditolak mah anggap aja biasa, manusiawilah. Gak mungkin kan kita harus maksa-maksa orang mesti terima cinta kita padahal dianya biasa aja sama kita. Emang kalau kita di posisi itu nyaman?

 

Mungkin yang perlu diolah adalah cara penolakannya kali ya. Tidak perlu malu jika pada akhirnya jawaban yang kita peroleh tidak sesuai harapan. Tapi seandainya kita di posisi sebagai “objek penembakan” jangan sekali-sekali menunjukkan arogansi & besar kepala yang membuat si “penembak” merasa menyesal telah “menembak” sasaran yang kurang tepat & ternyata tak patut diberi hati..  🙂

 

 

[devieriana]

Continue Reading

Curhat sama facebook?

facebook

 

 

Masih pokok bahasan yang sama : FACEBOOK.. rasanya situs 1 yang lagi hip bin booming ini tidak ada habis-habisnya untuk dibahas, diulik, diomongin, dikecam, sekaligus dicintai, hehehe..  Dari facebook bisa merembet ke arah gosip, cerita seru, cerita nyata, intrik (halah), maupun cerita bersambung (maksudnya nunggu kelanjutan status & obrolan wall to wall apa yang akan ditulis berikutnya, hehehe..)

 

Berawal dari obrolan saya bersama 4 orang teman sebelum pulang tadi tentang facebook & para penggunanya (kebetulan hanya tinggal saya & 4 orang itu yang masih ada di kantor, selebihnya sih udah stress pulang duluan, hehehehe… Enggaklah, ya emang kerjaannya udah selesai). Nah mulai deh tuh dibahas yang namanya facebook. Mulai perseteruan antar  teman, gosip terhangat antar karyawan, sampai curhatan wall to wall yang lumayan bisa dibuat baca-baca, mulai yang hangat romantis sampai mengarah ke konflik tajam menuju putus, hahahaha..  :D.  Kidding 😀

 

Heran aja sebenernya, emang penting ya curhat aja sampe ditulis di wall? Sudah tidak ada tempat yang lain yang lebih private-kah untuk curhat selain di facebook yang notabene pengikutnya sudah berjuta-juta & tidak menutup kemungkinan bisa dibaca oleh orang yang punya hubungan “mutual friend”. Ccckk..ccck…ccckkk.. geleng-geleng kepala saya jadinya. Kalau memang sifatnya private mbok ya mending jangan posting di wall-lah, apa fungsinya private message kalau postingnya di wall-wall juga, yang pasti bisa dibaca orang lain juga kan..

 

Seperti halnya tadi pagi ketika saya iseng buka facebook, terpampanglah itu curhatan seorang istri ke suaminya. Kebetulan saya tahu & kenal mereka berdua. Curhatan kekecewaan seorang istri kepada suaminya, curahan hati istri tentang (dari apa yang saya tangkap di wall to wall itu ya) adanya kebosanan, kejenuhan dalam hubungan mereka. Cerita tentang perbedaan perlakuan suami ke istri yang beda jauh ketika masih pacaran dulu dengan kehidupan rumah tangga  (udah ga romantis gitu ceritanya, hehe). Waduh, apa itu bukan termasuk golongan masalah rumah tangga ya? Kenapa dibawa-bawa ke facebook sih? Apa mereka gak sadar kalau “percakapan” mereka itu dibaca banyak orang? Emangnya udah ga tinggal serumah ya kok sampai komunikasi aja harus lewat facebook? Emang HP-nya kemana, kenapa ga sms/teleepon aja? Emang ga ada teknologi yang namanya email yang bisa dibaca si penerima secepat kita mengirimnya? Kadang mikir, masyaallah.. kemana sih logikanya orang-orang ini?  🙁

 

Itulah kenapa saya kemarin posting shoutout : “emang penting ya semua kegiatan dilaporkan ke facebook”. Sudah bisa ditebak , yang komentar banyak. Maksudnya banyak yang protes gitu, intinya sih : “ya suka-suka guelah Dev, facebook-facebook gue”. Ok, facebook-facebook kalian tapi nyadar ga sih postingan kalian itu kan biasanya mostly disesuaikan dengan apa yang tengah kalian lakukan sekarang, apa yang tengah kalian rasakan. Ya syukur-syukur kalau postingan statusnya positif. Lha kalo pas moodnya lagi marah-marah sama orang terus ditulis di status terang-terangan, lanjut ke omongan kasar yang menyinggung pihak tertentu, apa ya gak jadi rame tuh? (ini kisah nyata, ada lho yang kaya gini di sekitar saya saking emosinya). Makanya di beberapa kantor situs 1 ini sudah ada yang mulai di banned. Bahkan sudah ada yang di pecat karena facebook. Nah lho, serem juga kan?  🙁

 

Ok, facebook memang jitu bin powerful utamanya buat menemukan teman-teman lama yang udah spreading ga tau kemana rimbanya (isi facebook saya padahal temen-temen SMA, kuliah, kantor, sama temen-temennya temen, hehe.. Rehoming dari friendster ke facebook semua..). Tapi ingat facebook juga ada negatifnya. Bisa menyebarkan informasi apapun secepat kita menulisnya, entah positif maupun negatif. Sebenernya sih bukan cuma facebook, situs lainnya pun juga sama, bisa menyebarkan info apapun secara cepat hanya dengan sekali tekan tombol send/enter. Jadi, berhati-hatilah. Secanggih apapun , seasyik apapun, segaul apapun situs pertemanan yang kita ikuti jangan terlalu open juga. So,  just be wise, & be careful dear ..  🙂

 

 

Continue Reading