Jiwa Yang Terabai

crossroad

 

Berdiri dia dalam diam
di sudut sebuah persimpangan..
Jalanan didepannya terpecah dalam satuan kilometer
yang panjang dan tak beraturan
Debu jalanan mengaburkannya
menjadi jalanan panjang tak berujung
dan kumparan yang terulur

Dimanakah sosok itu?
Meninggalkan sebuah hati yang bias dan tak jelas
Terabai bagai angin yang tak tergapai
Tercekik, mengejang..
Lalu melayang..

Akankah sosok itu akan hilang menembus labirin waktu yang berbeda?
Pelahan memasuki sekat ruang yang tak bisa dia ingat kalau dia pernah ada
Atau akankah hanya horizon sang waktu
yang mampu menjawab sebuah tanya?

 

 

 

 

gambar dipinjam dari

 

 

Continue Reading

Untuk Jakarta Fashion Week..

 

First of all, saya mau cerita kalau saya alhamdulillah kepilih jadi salah satu penonton yang nantinya akan membuat reportase (eh, gila bahasanya ketinggian bu), apa ya, cerita tentang Jakarta Fashion Week yang salah satu sponsor utamanya adalah majalah Femina. Nanti kita akan diminta posting tentang Jakarta Fashion Week ini di blog masing-masing yang selanjutnya akan dipilih oleh Femina menjadi ulasan terbaik.

Oh Man, ini kesempatan langka. Bisa join di event besar macam ini. Kebanggan tersendiri buat saya untuk bisa membuat sebuah apresiasi terhadap dunia yang pernah saya singgahi beberapa tahun lalu sebelum saya aktif bekerja di telekomunikasi seperti sekarang ini.

Dulu, saya pernah bekerja sebagai desainer di sebuah perusahaan garment yang bergerak di bidang menswear & jeanswear di kota Malang. Nggak nyambung sama background edukasi saya yang sekretaris itu sih. Lebih ke hobby  sebenernya. Hobby menggambar yang saya mix dengan ketertarikan saya dengan dunia fashion, meski saya nggak bisa jahit.. 😀

Dan siang ini ada sebuah email dari salah satu moderator yang meminta saya kirim url blog saya, nomor HP & foto diri buat ID Card masuk ke event pagelaran JFW nantinya. Percakapan lucu via email terjadi antara saya & mbak moderator ..

————————————–
Dear Olive n Devi,

Bisa tolongin gak? Kita butuh nmr hape, alamat blog dan foto kalian berdua buat ID card ke acara ini (JWF). sori kalo udah ngirim di email sebelumnya, sini lg ribet panik bingung mo bongkar2 inbox lagi. Pretty please…aku tunggu secepatnya ya? Thx a lot 🙂

—————————————-

Saya : xixixixix.. tenang bu..
nyoh tak kasih..
* Devi Eriana Safira
0811 177x xxx
http : www.www.devieriana.com
fotonya mesti pasfotokah? aku ndak bawa..

 

Mod :  fotonyaaaaaaaa………. *kok pasfoto sih* 😆

 

Saya :  lho lha iya kan katanya foto.. foto diri kan?
butuhnya yang gimana? berbentuk pasfoto atau boleh apa aja pokoke gambar diri kita?

 

Mod : berbentuk poster atau baliho gitu lah, wahahahaha…
eh mbuh deng aku jg blm tanya fotonya yg kyk gmn, blm ngirim fotoku jg. doh… bntr aku tanyain ya..

 

Saya : woooo emang deh, dasar.. 😆 . Kirain udah paham, ternyata enggak.. :mrgreen: *ngesend foto dalam bentuk spanduk*

 

Mod : Ok pasfoto aja katanya, diattach di email aja. Gak trima spanduk apalagi keset 😆

 

Saya : lhoo.. terlanjur tak send dalam bentuk celana dalam.. 😀
Udah tak bilang tadi kalo yang pasfoto diriku ndak bawa. Tapi kalo foto narsis agak-agak tampak samping gitu ada.. Udah tak crop, tak kasih cap bibir sekalian 😆   .Boleh ndak? wis tho, yang penting kan mukanya sama .. 😀 .
Kalo ok, tak kirim sekarang nih..

 

Mod : Ya udah kirim aja lah  *males mikir*  😆

 

Saya : mwahahahahahahahahahaha.. Ya wis, ini aja ya.. Nggak punya lagi aku..

 

Mod : *glek* SIAPA INIIIII???? CHRISTINE PANJAITAN YAAAAAAA????  😆

 

Saya : ya.. daripada dibilang Azis Gagap.. ya sudahlah, tak apa kau bilang Christine Panjaitan.. Eh butuh yang lainkah? yang ada brengos sama jakunnya mungkin?tak kasih pose yang sebelum operasi ke Thailand..
*ngakak kayang*

 

——————————————-

 

 

Ya begitulah.. Emmh, wish me luck yah.. 🙂

 

 

 

Continue Reading

Untuk Bulat Duniamu..

world in hand

Kau bilang duniamu itu bulat, persis seperti bola yang mudah menggelinding kesana kemari. Aku bilang duniaku bentuknya kotak persis seperti kubus yang hanya bisa diam di tempat mana dia diletakkan & hanya akan berpindah ketika ada yang memindahkan. Kau menertawakanku terbahak-bahak, “hei, mana mungkin dunia itu kubus!”. Tapi coba kau lihat, duniaku memang kubus. Lagi-lagi kau tertawa, bahkan kali ini jauh lebih keras.

Aku termenung gusar… Kami sama-sama punya dunia. Tapi mengapa dunia kami bentuknya berbeda? Seringkali kami berbeda kata menyikapi hal-hal yang terjadi di dunia kami. Ah ya, baiklah… mungkin karena aku belum sempat mengasah sudut-sudut duniaku hingga nantinya tampak bulat seperti duniamu ya?

Aku pun mulai sibuk mengikir sudut-sudut duniaku. Kau diam terpaku sembari sesekali mengernyitkan dahimu. Kenapa? Heran? Aku melakukan ini untukmu.  Ya, lihatlah, setidaknya aku mencoba membulatkan duniaku hingga mirip duniamu supaya kita punya dunia yang sama, dan aku tak salah lagi mengartikan cerita tentang duniamu.

Kupinta kau untuk melihat sejenak dunia yang ada di tanganku menggunakan kacamataku. Bagaimana? Sudah cukup bulatkah? Kau mengerinyitkan dahi dan berseru, “ini belum bulat!” Aku menghela nafas.

Aku lelah, aku tidak punya ribuan pangkat kesabaran seperti yang kau mau. Tak tahukah kau, sebenarnya yang kupinta hanya satu…

Sebuah pengertian…

* sebuah refleksi perenungan dari curhat seorang teman *

[devieriana]

gambar pinjam dari sini

Continue Reading

Inilah Jakarta, Darling!

 

Beberapa kali saya melintasi daerah-daerah pinggiran kota Jakarta yang kumuh. Kadang hanya sekedar melintas, tapi kadang juga karena mencari jalan tikus untuk menghindari banjir atau kemacetan. Pemandangan yang membuat trenyuh kerap tersaji secara gamblang & apa adanya. Gambaran sebuah usaha untuk survive di ibukota terpampang jelas di depan mata.

 

Salah satunya adalah para penjaja makanan di sepanjang kolong kereta api. Jika ditilik dari keamanan & kenyamanan tentu jauh dari kata “aman & nyaman”, apalagi jika dibandingkan dengan restoran dengan pelayanan prima dan lingkungan yang cozy baik untuk sekedar hangout, ngobrol atau makan bersama keluarga/kerabat. Tapi apalah daya ketika perut mulai meronta minta diisi tentu tak banyak pilihan yang ada di otak mereka selain bagaimana cara menyumpal mulut dengan makanan yang “nampol” di perut. Higienitas? Ah itu urutan nomor sekian, yang penting kenyang aja dulu.

“Welcome to Jakarta, darling! Inilah Jakarta, lengkap dengan kehidupan keras yang menempa manusia-manusia di dalamnya. Jadi, jangan heran kalau lihat hal-hal begitu. Itu mah udah biasa. Kalau nggak kaya gitu mana bisa hidup di ibukota kaya begini. Bukankah ibukota lebih kejam dari ibu tiri,? “, begitu kata seorang sahabat ketika iseng saya bercerita tentang hal-hal yang saya lihat.

 

Kenapa jadinya ironis banget sama slogan pariwisatanya Jakarta, “Enjoy Jakarta”, ya. Buat yang kemampuan finansialnya diatas rata-rata  ya jelas enjoy. Lha kalau buat yang kemampuan finansialnya cekak, nggak punya pekerjaan alias pengangguran, apanya yang mau di-enjoy? Paling-paling juga dijawab, “siapa suruh datang Jakarta?” 😀

 

Seperti pemandangan yang saya lihat, yaitu menjamurnya warung-warung di bawah rel kereta api. Hanya mencoba membayangkan, bagaimana ya rasanya makan di sela getaran kereta api yang setiap kali melintas tepat diatas mereka? Bagaimana rasanya berusaha menikmati makanan tapi dalam keadaan was-was (buat yang tak terbiasa makan disana)? Katakanlah saya sedang berkhayal ya.. apa mereka tidak khawatir kalau tiba-tiba kereta apinya anjlok lalu menimpa mereka yang tengah asyik makan disana? “ya jangan makan disanalah, kaya nggak ada pilihan tempat makan yang lain aja, kan banyak tuh yang nggak di bawah rel kereta api..”. Ok, ini hanya sebuah umpama. Pada kenyataannya mereka justru hidup dari hasil membuka kedai makanan disana selama bertahun-tahun. Toh buktinya mereka juga bisa eksis walaupun kondisi kedai makanan mereka sangat jauh dari kata “aman & nyaman”. Karena buat konsumen kelas mereka, “yang penting murah & kenyang”. Meski mungkin pernah terselip juga kekhawatiran di benak mereka seperti yang saya bayangkan tadi. Life must go on. tak ada pilihan lain selain bertahan dengan bisnis di lokasi berbahaya, karena mendirikan “usaha” dengan lahan & lokasi yang layak jelas jauh dari kemampuan finansial mereka. Jangankan buka usaha dengan lokasi yang layak, buat hidup aja mereka masih ngos-ngosan.

 

Ah, bisnis memang tak pernah kenal rasa takut. Setidaknya bagi para pemilik warung di bawah rel kereta api itu. Bagi mereka, dimana ada pasar & kesempatan, disitulah ada uang. Terlebih lagi jika menilik kondisi perekonomian negara kita yang sering tidak berjalan sebagaimana mestinya.

 

Ya, seperti kata sahabat saya :  Inilah Jakarta, darling!

 

 

 

Continue Reading

Arif.. Oh Arif..

Malam itu saya masih ada di parkiran Plaza Semanggi ketika ada miscall dari nomor 08563342xxx. Saya pikir salah satu teman saya yang nelpon, mau konfirmasi kalau nomor kartuHALO-nya sudah aktif. Jadi ya udah saya biarin aja, toh nanti kalau dia butuh lagi pasti nelpon.

Sampai dirumah, setelah makan & mandi ternyata nomor itu telpon lagi.  Berhubung tangan masih basah habis nyuci piring akhirnya saya minta tolong suami buat angkatin telpon karena saya pikir teman saya itu lagi yang telpon. Setelah melihat saya selesai berurusan dengan piring-piring itu akhirnya dia mengangsurkan telpon ke saya, “bukan dari Lukman nih.. katanya dari Arif..”.
Sayapun menerima telepon sambil berusaha mengingat-ingat Arif mana yang “tumben” nelpon saya.

“halo..”, jawab saya.
“Halo, mbak Devi?”, sahut suara diujung sana dengan logat Suroboyoan
“he-eh.. siapa ini?”
“aku Arif, mbak..”
“oh.. ya, ada apa Rif?”, jawab saya sambil berusaha loading mengingat Arif siapakah ini.
“Iku lho mbak, aku arep takon, sampeyan wingi mari nggawe SPK, trus sampeyan deleh endi file’e, Mbak?”
(Itu lho mbak, aku mau nanya, kamu kemarin habis bikin SPK , trus kamu taruh mana file-nya, Mbak?)

” eh.. SPK? SPK yang mana ya? “, tanya saya bloon
” itu lho, SPK yang kemarin disuruh bikin..”
” kemarin.. disuruh bikin SPK? eh, SPK itu apa sih?, jawab saya makin bingung
” halah, SPK-SPK mbak.. yang kemarin disuruh bikin sama Pak.. (dia menyebut nama, tapi saya udah lupa) itu lho. Sampeyan taruh mana? Udah selesai kan?”, jawab suara diseberang sana berusaha menjelaskan.

” bentar deh, ini Arif mana sih?”, tanya saya curiga
” halaah mbaak.. ini aku Arif, Arif.. Arif PLN! Mosok sampeyan nggak kenal sama aku..”, jawab si Arif berusaha membuat saya kenal sama dia
” Arif PLN? “, tanya saya masih belum loading..
” iya, masyaalloh rek mbak Devi iki.. Aku Arif mbak, lantai tigaa..”, jawabnya makin gemes
” Arif, lantai TIGA?! “
” iya.. aku kan sering ke tempatnya sampeyan tho. Wis inget ta?”

” enggak.. 🙁 “, jawab saya polos
” sik..sik bentar.. tapi iki bener mbak Devi kan?”, tanyanya mulai ragu
” iya..aku Devi “
” sampeyan sekretaris’e Pak.. (dia menyebut nama lagi), bukan?”
” bukan, hehehhe..”, jawab saya cengengesan
” woalaaah.. pantes nggak nyambung. Tak kirain mbak Devi yang sekretaris. Nomer’e sampeyan tadi aku langsung copy dari HPnya si Erfan. Mungkin sampeyan yang kenal sama Erfan ya?”

” Emh, Erfan mana ya? kayanya kok enggak juga ya..”, jawab saya makin geli
” waduh mbak.. sepurane ya.. salah sambung nih kayanya.. Maaf ya mbak..”
” iya, gapapa.. “
” monggo mbak..”
” monggo..monggo..”

KLIK ..

Habis nutup telpon saya jadi cengengesan sendiri. Salah sambung kok nyambung. Erfan ini Erfan yang mana? Kenapa ada nomor HPku di HP-nya dia ya? Trus, kenapa salah sambung itu saya tanggepin? ya karena saya memang Devi. Dan kalau mendengar suaranya kok kayanya agak familiar & dia ngotot kenal sama saya. Udah gitu logatnya Suroboyoan pula, jangan-jangan saya kenal sama dia tapi sayanya yang lupa. Nanti kalau saya lupa kan nggak enak, kalau dibilang ngelupain temen.. :p

Dan nyatanya..
.
.
.
.
.

Saya emang nggak kenal.. 🙁

 

*hayo siapa anak PLN yang namanya Arif yang nanya-nanya SPK sama saya? :))

 

 

[devieriana]

Continue Reading