Saturasi Yang Tak Terbingkai Lensa

“I thought you’re happier when I’m not around..”

Kalimat itu meluncur begitu saja dari bibir Alea saat kami melihat-lihat arsip foto lama di Instagram saya. Sesaat, napas saya tertahan. Ada rasa sesak yang tiba-tiba menghimpit dada. Bagaimana mungkin seorang anak kecil bisa menarik simpulan seberat itu hanya setelah melihat kotak-kotak kecil di layar ponsel?

Kebetulan Alea belum memiliki akun media sosial. Komentar tadi bermula saat kami ngobrol berdua tentang aneka bentuk potongan rambut. Saya ingin menunjukkan rambut Pixie saya pada tahun 2013. Namun, siapa sangka, selagi saya menggulir layar, matanya yang jeli sibuk mengamati. Ia menemukan bahwa galeri Instagram saya di masa lalu begitu berwarna, jauh sebelum wajahnya hadir dan memenuhi beranda.

Lewat nalar polosnya, ia seolah sedang mencari jawaban, apakah kehadirannya benar-benar membuat hidup saya lebih berwarna, atau justru sebaliknya? Sebab di mata Alea, foto-foto saya pada rentang 2010 hingga 2014 tampil dengan warna-warna cerah dan kontras yang tajam, sangat berbeda dengan masa setelah ia lahir, di mana pilihan warna saya berubah menjadi deep & muted colors. Bagi Alea, warna cerah adalah simbol mutlak dari kebahagiaan. Maka saat warna di beranda saya tampak lebih redup, ia menyangka kegembiraan saya pun ikut berkurang.

Mungkin Alea benar. Instagram saya tak lagi seberwarna dulu. Mungkin karena kini saya jauh lebih pemilih ketika akan mengunggah konten. Ada idealisme bahwa setiap konten yang saya unggah harus punya cerita yang layak untuk dibagikan. Lagipula, stok foto diri saya sudah tak sebanyak dulu. Sekarang saya lebih sering berada di balik kamera ketimbang di depan lensa, sengaja memberikan ruang bagi cerita-cerita yang lebih baik dibagikan ketimbang disimpan sendiri, terlepas dari apakah nantinya ada manfaatnya bagi orang lain atau tidak.

Sambil mencoba meredam haru yang mendadak menyeruak, saya flashback ke era 2010-an, ketika Instagram masih menjadi media sosial yang bersaudara dekat dengan Posterous dan Tumblr. Masa ketika sebagian dari kita mungkin rela menjinjing DSLR ke mana-mana, sengaja berburu objek foto, lalu mengedit dengan saturasi terbaik, memastikan setiap inci gambar terlihat sempurna saat diunggah di berbagai platform media sosial.

Dulu, meski hanya bermodal kamera ponsel, saya selalu punya waktu untuk mencari sudut pandang yang pas agar hal-hal sederhana yang saya tangkap bisa terlihat unik. Objeknya pun bisa apa saja, bahkan hal-hal paling acak sekalipun: setangkai bunga di pinggir jalan, jamur yang tumbuh di sela kursi kayu, arsitektur gedung, mandatory photo memotret bentang alam dari jendela kabin pesawat, hingga cahaya yang membiaskan dasar botol mineral.

Saat itu, saya merasa sebuah gambar baru benar-benar ‘hidup’ jika hadir dengan shadow yang pekat serta warna yang tajam. Keindahan tampilan foto harus kontras agar warnanya bisa langsung dikenali mata.

Namun, ada satu hal yang luput dari ingatan saya adalah Alea tidak pernah melihat proses di balik layar itu. Ia tidak tahu bahwa dulu saya harus ‘memoles’ hasil foto sedemikian rupa agar tampak estetik.

Sementara bagi Alea, setiap gambar yang ia lihat adalah kejujuran yang ia serap utuh. Ia tidak akan mencari saya di balik titik-titik stories Instagram. Ia akan mencari saya di beranda utama dan memastikan bahwa dunia ibunya ini benar-benar masih berwarna ataukah kebahagiaan itu justru memudar sejak ia ada?

Namun, pada kenyataannya, kehadiran Alea memang mengubah cara mata saya menerjemahkan warna. Karena dunia saya menjadi ‘penuh’ sejak kehadirannya. Saya tidak lagi merasa perlu membuktikan kebahagiaan itu lewat polesan warna yang menyala di layar ponsel.

Saya menatap matanya, mencoba mencari kata yang paling sederhana untuk bisa ia simpan dalam ingatannya.

“Alea, rasa sayang orang tua itu tidak bisa diukur dari seberapa berwarnanya postingan mereka di Instagram. Kebahagiaan juga tidak ditentukan oleh seberapa sering kita mengunggah foto keluarga untuk dilihat orang lain.”

Saya mengusap rambutnya, memastikan ia merasa tenang.

“Dulu, kenapa Mama sering posting hal-hal random berwarna terang, Ya, memang begitulah cara dunia bercerita saat itu. Dulu Mama punya banyak waktu untuk memotret objek-objek random dan menulis apa pun di blog, karena itu adalah cara untuk mengisi waktu jauh sebelum ada Alea. Tapi begitu Alea lahir, kebahagiaan Mama jadi jauh lebih nyata, lebih terlihat. Mungkin foto-foto di Instagram Mama tidak lagi seberwarna dulu, tapi itu bukan berarti Mama tidak bahagia. Justru, Mama ingin menampilkan apa adanya keseharian Mama sama Alea. Kenapa? Because you’re the colour itself, Alea.

Air matanya mulai menggenang. Saya melanjutkan pelan.

“Mama sebenarnya lebih suka menulis cerita tentang Alea di Instastory. Di sana, Mama mencatat cara berpikir Alea yang unik atau obrolan-obrolan kita yang absurd. Mama menyimpan semuanya di sana supaya orang-orang tahu betapa istimewanya Alea. Dan kalau kelak kamu cari nama kamu di internet, kamu akan menemukan nama itu tertulis pertama kali di blog Mama di bulan Juli 2014. Selang beberapa hari setelah kamu lahir. Karena sejak hari itu, kamu adalah inti dari semua cerita yang Mama tulis.”

Dalam sekejap, binar matanya redup. Air mata yang ia tahan pun luruh, tak lagi mampu ia bendung. Ia dekap tubuh saya erat-erat, menyandarkan isak tangisnya dalam pelukan saya. Ada rasa haru yang menjalar saat menyadari bahwa ternyata selama ini, dalam diamnya, ia begitu teliti mengamati setiap keping kebahagiaan saya.

Ketelitian itu sebenarnya selalu hadir dalam rutinitas setiap kali saya pulang kantor. Dengan tulus ia pasti akan bertanya, “How was your day, Mama? Was everything good?” Ia pun punya cara yang sangat manis untuk mengungkapkan isi hati tanpa perlu menunggu alasan. Kapan pun dia mau, dia bisa saja berucap, “I love you…” yang kini saya sadari, itulah caranya menjaga agar ‘warna’ dunia saya baik-baik saja.

Sedikit saja perubahan pada raut wajah saya, ia akan cemas bertanya, “Mama, what’s wrong? Are you okay?” Padahal, mungkin memang begitulah ‘setelan wajah’ saya setelah seharian bergelut dengan lelah, tidak selalu bisa tampil cerah ceria setiap saat. Namun bagi Alea, sedikit saja mendung yang ia tangkap bergayut di wajah saya, itu sudah cukup menjadi tanda bahwa dunia saya sedang tidak baik-baik saja. Karena bagi Alea mata adalah indera utama yang ia gunakan untuk menyerap dunia. Di balik tatapan matanya ada pikiran yang sedang bekerja keras mengartikan cinta dengan cara yang sangat luar biasa.

Kesadaran itulah yang membuat saya terdiam dalam sebuah kontemplasi panjang semalam.Apakah selama ini saya terlalu sibuk berdiri di balik lensa, mengabadikan setiap jengkal tumbuh kembangnya hingga lupa untuk masuk ke dalam bingkai yang sama?

Memang ada kebahagiaan tersendiri setiap kali Google Photos memunculkan kembali foto-foto lama. Melihat fisiknya yang berubah, tawanya yang terekam kamera, dan binar matanya yang tak pernah gagal membuat hati saya terasa penuh. Namun, dokumentasi kebersamaan kami bertiga memang kerap kali tidak lengkap, kadang hanya berdua, atau lebih sering hanya dia seorang diri. Saya baru menyadari bahwa Alea tidak hanya butuh direkam. Ia butuh kami ada di dalam frame yang sama dengannya. Ia butuh bukti visual bahwa kami melangkah beriringan.

Jarangnya potret bertiga di beranda ini tak lepas dari kondisi kami yang menjalani pernikahan jarak jauh. Kondisi yang akhirnya menempatkan saya sebagai sosok satu-satunya yang hadir secara fisik dalam kesehariannya. Nun jauh di sana, papanya menjadi pilar yang memastikan kebutuhan kami terpenuhi, agar saya bisa sepenuhnya mendampingi tumbuh kembang Alea dengan optimal.

Di saat-saat inilah saya diajarkan bahwa kebahagiaan kadang tidak tumbuh dalam hiruk-pikuk. Sejujurnya belakangan ini, saya merasa jauh lebih nyaman menumpahkan isi kepala ke dalam bentuk tulisan ketimbang harus berpose di depan kamera. Mungkin kedewasaan perlahan menggeser keinginan untuk menjadi pusat perhatian. Ada potongan waktu yang terasa terlalu sakral jika harus diganggu oleh bunyi shutter kamera; ada tawa yang cukup disimpan rapat dalam ingatan, tanpa perlu divalidasi oleh jumlah likes di media sosial.

Namun, teguran Alea itu menyadarkan saya untuk mulai mencoba lagi. Saya ingin punya banyak kesempatan untuk mendokumentasikan kebersamaan kami lebih banyak dengan warna-warna cerah. Tentu saja kali ini bukan demi estetika, melainkan agar kelak ia punya jejak visual yang mengingatkannya akan betapa menggembirakannya masa kecil yang dia lalui bersama kami.

Ternyata, kepolosan cara berpikir seorang anak punya caranya sendiri untuk menyentuh hati. Dari Alea, saya belajar tentang arti kehadiran yang utuh, bahwa tugas orang tua bukan sebatas mencukupi raga anak-anaknya saja, melainkan juga merawat persepsi dan saling bertukar isi hati. Menjadi ibu ternyata adalah perjalanan pulang. Dari saya yang dulu sibuk ‘mencari cahaya’ dan spotlight, kini bertumbuh menjadi rumah bagi cahaya itu sendiri.

Kini saya tidak lagi membutuhkan saturasi warna yang tajam untuk merasa benar-benar hidup. Sebab spektrum warna yang paling jujur itu telah saya temukan pada binar mata Alea, pada renyah tawanya yang pecah saat kami berkelakar, pada emosi yang silih berganti mewarnai perjalanan tumbuh kembang kami bertiga, pada rentetan cerita absurd yang mewarnai hari, dan pada hangat yang menyusup di antara pelukan kami setiap waktunya.

Tugas saya sekarang adalah meyakinkan Alea bahwa dialah alasan dunia ini terasa jauh lebih berwarna, meski warna itu tak lagi mampu ditangkap oleh sensor kamera mana pun.

Untuk Alea: Maafkan Mama ya, jika beranda digital Mama yang sempat kamu lihat tampak lebih redup. Itu karena Mama sedang terlalu sibuk memandangi cahayamu yang begitu benderang di dunia nyata.

-Devieriana-

Gambar ilustrasi: Gemini AI & tangkapan layar Instagram @devieriana

Continue Reading

Painful Journey

Saat masih kecil, seringkali rasa sakit biasanya datang dalam bentuk yang sederhana—misalnya lutut yang terluka akibat kita jatuh dari sepeda, kepala yang tak sengaja terbentur meja, atau perut yang mules setelah jajan sembarangan. Tapi, biasanya rasa sakit itu cepat hilang karena kita tahu akan ada orang dewasa yang memberi kita pertolongan/obat. Secara mental kita tahu bahwa seiring waktu keadaan kita akan pulih, kita pulih seperti semula. Come back stronger, kalau kata anak sekarang, ya.

Namun, saat mulai memasuki usia dewasa, kita sadar bahwa rasa sakit yang muncul bukan lagi luka secara fisik, karena pencarian jati dirilah yang jauh lebih rumit. Sebagai orang dewasa, kita kini memegang kendali penuh atas hidup kita dan bertanggung jawab atas segala masa depan yang kita pilih. Semakin kita memahami kompleksitas hidup, semakin banyak pula berbagai keputusan besar yang harus diambil yang bisa saja mengubah arah hidup kita. Walaupun kesadaran ini seolah memberi kebebasan, jangan salah, ia juga datang dengan beban dan tanggung jawab yang berat.

Salah satunya adalah saat saya memutuskan untuk melanjutkan pendidikan di usia saya sekarang—dengan status sebagai seorang ibu, istri, dan pekerja—saya tahu ini bukan keputusan yang mudah. Perjalanan untuk menyeimbangkan antara pendidikan, pekerjaan, dan peran sebagai ibu dan istri, memang penuh dengan tantangan yang tak terduga. Setiap langkah yang saya ambil mengharuskan saya untuk terus mengatur waktu dan energi dengan bijaksana. Salah satu momen yang paling terasa adalah ketika saya harus membagi waktu antara belajar untuk studi saya dan membantu anak mengerjakan PR atau menyiapkan diri untuk ulangan. Di sisi lain, ada malam-malam panjang ketika saya duduk sendiri di depan laptop, berjuang melawan kantuk, menyelesaikan tugas yang tenggatnya semakin dekat. Di momen-momen seperti itu, rasa “painful” hadir begitu nyata.

Tantangan yang saya hadapi sehari-hari—mulai dari membagi waktu antara kuliah, pekerjaan, dan keluarga—sering kali terasa berat. Namun, saya tahu ini adalah bagian dari proses belajar dan berkembang. Yang lebih menantang lagi adalah menjalani hubungan jarak jauh dengan suami saya yang kini bertugas di luar kota. Meskipun terpisah jarak, kami terus berusaha saling mendukung, meski komunikasi sering kali terbatas karena kesibukan masing-masing. Ada rindu yang harus dipendam, ada lelah yang kadang tak bisa diungkapkan, namun kami tetap yakin bahwa semua pengorbanan ini adalah demi kebaikan bersama.

Di balik semua tantangan ini, ada keyakinan yang selalu saya pegang teguh. Saya percaya bahwa setiap keputusan yang saya ambil bukan hanya untuk diri saya sendiri, tetapi juga untuk keluarga saya. Ada harapan yang besar saat anak saya melihat ketekunan saya dalam belajar, dan memahami pentingnya kerja keras. Saya juga berharap keluarga saya menyadari bahwa mengejar mimpi tak mengenal usia atau status. Tentu saja, saya sadar bahwa rasa sakit, lelah, dan frustrasi yang kadang muncul adalah bagian dari proses. Justru proses yang penuh tantangan inilah yang mengajari saya untuk lebih sabar, lebih bijak dalam mengelola waktu dan energi, dan untuk terus percaya bahwa di ujung jalan, ada kebaikan yang menunggu.

Dalam hening saya sering merenung, berkontemplasi, dan berpikir tentang betapa banyak orang yang menghadapi tantangan jauh lebih besar dari yang saya hadapi namun tak pernah terceritakan, dan tetap menjalani hidup seperti biasa saja. Di saat-saat seperti itulah yang membuat saya sadar bahwa kita tak bisa membandingkan hidup kita dengan orang lain, karena setiap orang memiliki jalan dan perjuangannya masing-masing. Anadaikata pun saya bisa memutar waktu, saya tak akan mengubah apapun. Karena setiap momen, baik suka maupun duka, telah membentuk diri saya menjadi seperti sekarang.

Untuk kamu yang sedang menjalani perjalanan hidup yang berat, ingatlah, kamu tidak sendirian. Setiap langkah kecil yang kamu ambil membawa kamu lebih dekat ke versi terbaik dari dirimu. Tak masalah jika langkahmu terasa lebih lambat dibandingkan orang lain, karena setiap orang punya ritme hidupnya sendiri. Suatu hari nanti, kamu akan melihat kembali dan menyadari bahwa semua rasa sakit dan lelah itu benar-benar layak untuk dilewati. Jangan lupa untuk berterima kasih pada dirimu sendiri, karena meski tantangan terus datang, kamu tetap berdiri teguh. Teruslah berusaha menjadi versi terbaik dari dirimu, karena itu adalah hal yang paling penting.

“Every painful journey carries its own lessons; it’s in the struggle that we find our strength and in the scars that we discover our resilience.”

ilustrasi dipinjam dari sini

Continue Reading

Komparasi

“Kamu tuh nggak kaya adikmu. Adikmu rajin, ngatur barang-barangnya juga rapi. Kalau kamu, berantakan”

“Kamu itu beda ya sama kakakmu. Kakak kamu bahasa Inggrisnya pinter, kalau kamu kok agak kurang, ya…”

Dua percakapan di atas adalah nyata yang pernah pernah saya dan adik-adik saya alami di masa kecil. Mungkin itu hanya sebagian kecil dari banyaknya perbandingan yang kami terima. Sekali dua kali mungkin kami hanya bisa pasrah ketika dibandingkan, menghibur diri, karena kami menyadari memang seperti tu kenyataannya. Seperti misalnya, saya dulu bukan orang yang rapi dan apik dalam menjaga barang-barang saya, tapi seiring waktu manusia bisa berubah. Begitu pula dengan kedua adik saya, meskipun mereka bukan yang mahir bahasa Inggris, namun sekarang mereka memiliki karier yang baik di dunia perbankan. Tidak ada seorang pun yang ingin dibandingkan, baik dengan saudaranya sendiri bahkan jika harus dibandingkan dengan orang lain. Beruntung, setelah kami bicara baik-baik, orang tua bersikap terbuka, dan mau menerima komplain kami.

Namun di balik itu, kami merasa beruntung, meski pernah mengalami perbandingan semacam itu di masa lalu, nyatanya kami bertiga tetap chill menjalani hidup, tumbuh menjadi saudara yang saling menguatkan, memberi motivasi, dan dukungan satu sama lain. Bukan malah merasa iri ketika salah satu dari kami meraih prestasi ekstrakurikuler, akademis, atau memiliki karier yang baik, namun justru merasa bangga.

Mungkin sebagian dari kita pernah mengalami sebagai kejadian seperti kami di atas, menjadi objek yang dibandingkan, atau bahkan sebagai subjek yang membandingkan. Kektika orang tua sering membanding-bandingkan anak dengan orang lain karena hal ini berasal dari naluri manusia paling dasar. Manusia secara alamiah cenderung membandingkan sesuatu dengan yang lain. Tujuan kebiasaan ini bisa bermacam-macam, mulai dari ingin mencontohkan perilaku anak, hingga memandang pencapaian anak sebagai sebuah kompetisi. Sama seperti kita yang juga pasti pernah membandingkan sesuatu, sesederhana membandingkan cara makan bubur ayam, diaduk atau tidak. Banyak orang membandingkan dua hal itu sampai berantem. Begitu juga dengan kebiasaan orang tua yang membandingkan anaknya dengan orang lain, juga berasal dari insting dasarnya sebagai manusia.

Sedangkan bagi objek yang dibandingkan pasti akan merasa kurang nyaman, karena perbandingan semacam itu lambat laun mengikis rasa percaya diri anak, membuat anak merasa kurang, dan tidak cukup baik. Saat kita dibandingkan dengan orang lain, kita jadi cenderung fokus pada kekurangan diri sendiri dan mengabaikan kelebihan yang sebenarnya kita miliki. Hal semacam inilah bisa menyebabkan perasaan rendah diri atau bahkan kecemasan. Misalnya, ketika kita dibandingkan dengan teman yang berhasil meraih prestasi gemilang di bidang akademis atau memiliki karier yang cemerlang, sementara kita masih  tertinggal jauh di belakang, tentu bisa sangat mengecilkan hati.

Bukan hanya itu saja, perbandingan semacam ini dapat merusak hubungan sosial. Kita yang merasa selalu dibandingkan dengan pencapaian orang lain, pada akhirnya justru menciptakan jarak/konflik dalam hubungan dengan orang lain. Padahal, setiap orang memiliki perjalanan hidup dan kecepatan perkembangan yang berbeda-beda. Apa yang tampak sebagai keberhasilan bagi satu orang, namun ternyata belum tentu relevan atau tidak sesuai dengan tujuan hidup orang lain.

Sudah nonton film “Ipar Adalah Maut”? Dibintangi oleh Michelle Ziudith sebagai Nisa dan Deva Mahenra sebagai Aris, “Ipar Adalah Maut” mengisahkan cerita yang diadaptasi dari kisah nyata yang dipopulerkan oleh content creator asal Malang @elizasifaa melalui akun media sosialnya.

Kalau bicara tentang hujatan dan banyaknya komentar pedas yang ditujukan kepada sosok Rani –yang digambarkan sebagai sosok ipar antagonis yang seolah tidak memiliki hati, merebut suami kakaknya– ya sudahlah ya, mungkin sudah cukup diwakili oleh netizen. Namun, ada sesuatu yang menarik perhatian saya di podcast Deny Sumargo, Eliza Sifa mengungkapkan bahwa perselingkuhan yang terjadi antara Aris dan Rani bukan karena kegilaan Rani semata, melainkan didasari oleh salah satunya adanya dendam masa kecil. Rani dan Nisa yang selalu bersekolah di tempat yang sama sering dibanding-bandingkan. Nisa dianggap lebih cantik dan lebih pandai ketimbang Rani. Alih-alih melindungi Rani, Nisa justru merasa senang karena berbagai pujian itu. Rasa dendam masa kecil itu ternyata dibawa Rani sampai dia dewasa. Rani yang selama ini pasrah dan belum terpikir harus menyalurkan dendamnya dalam bentuk seperti apa, justru ketika dia berkesempatan tinggal bersama kakaknyalah pintu kesempatan membalaskan dendam itu terbuka lebar. Tanpa bermaksud membela Rani atau membenarkan tindakan perselingkuhan, namun penting untuk kita sadari bahwa setiap manusia memiliki latar belakang dan alasan tersendiri sebelum melakukan sesuatu.

Di sekitar kita, banyak sosok (orang tua, keluarga, teman, guru) dalam keseharian anak, yang justru tanpa sadar membandingkan anak satu dengan anak lainnya, murid satu dengan murid lainnya. Alih-alih memberikan motivasi, hal tersebut justru membuat anak menjadi demotivasi dan rendah diri. Tidak seharusnya kita membanding-bandingkan anak, apalagi jika hal itu kita lakukan di depan mereka, karena sesungguhnya setiap anak memiliki kemampuan, kecerdasan, dan bakat yang berbeda.

Mama saya pernah menganalogikan begini, “Ibarat anak ayam, meskipun dipelihara di tempat yang sama, diberi makanan yang sama, dirawat dengan cara yang sama, mereka bisa tumbuh dengan sifat yang berbeda. Analogi ini juga berlaku sama pada manusia, yang memiliki pikiran dan sisi emosi yang lebih kompleks.”

Analogi jadul itu pun bahkan terdukung oleh sebuah penelitian yang bertajuk “The Heritability of Attitudes: A Study of Twins” yang mengatakan bahwa anak kembar identik menunjukkan perbedaan dalam sikap dan ekspresi diri. Meskipun berasal dari sperma dan sel telur yang sama, perbedaan dalam kecerdasan, struktur sensorik, dan temperamen bisa menjadi faktor yang membedakan mereka. Selain itu, faktor lingkungan, perlakuan berbeda dari orang tua, teman, atau lingkungan sekitar juga dapat mempengaruhi perbedaan kepribadian anak kembar identik. Dari situ, kita dapat ambil kesimpulan bahwa meskipun saudara kandung, kembar identik sekalipun, mereka akan memiliki sifat dan sikap yang berbeda.

Penting bagi kita semua untuk menghargai keunikan dan perbedaan setiap individu, terutama dalam konteks keluarga, untuk menciptakan lingkungan yang mendukung pertumbuhan dan perkembangan anak yang lebih positif. Kita tidak pernah tahu bahwa perbandingan semacam itu dapat tertanam lekat dalam ingatan mereka hingga dewasa, yang pada akhirnya akan berdampak pada kesehatan mental mereka di masa depan.

— Devieriana —

ilustrasi dipinjam dari sini

Continue Reading

Inside Out 2

Film Inside Out perdana ditayangkan di Cannes pada 18 Mei 2015 dan kemudian dirilis di Amerika Serikat pada 19 Juni 2015. Sepuluh tahun berselang setelah kesuksesan film Inside Out, Pixar kembali memanjakan para penggemarnya dengan sekuel yang dinantikan, Inside Out 2 pada 14 Juni 2024. Jika dalam sekuel pertama dikisahkan Riley berusaha mengatasi masa kanak-kanak dengan menghadapi perasaannya terkait kepindahan keluarganya dari Minnesota ke San Fransisco, sekarang Riley telah menemukan rumah baru dalam bentuk sahabat-sahabat barunya, Bree dan Grace. Dalam sekuel ini, fokus cerita lebih pada hubungan Riley dengan teman-temannya daripada keluarganya, juga tentang rumitnya perjalanan emosional Riley yang saat ini berusia 13 tahun, dan sedang mempersiapkan diri untuk masuk ke SMA. Riley sangat fokus pada olahraga hoki yang telah membuatnya meraih banyak penghargaan.

Joy, Anger, Sadness, Fear, dan Disgust dihadapkan pada tantangan tentang rumitnya dinamika emosi masa remaja. Anxiety, Ennui, Embarrassment, dan Envy merupakan karakter-karakter baru yang memperkaya alur cerita dalam Inside Out 2. Masing-masing karakter ini mempersonifikasikan emosi dan perasaan yang lebih kompleks, serta menambahkan lapisan emosi yang lebih dalam dalam perjalanan emosional Joy, Anger, Sadness, Fear, dan Disgust. 

Anxiety, yang mewakili kecemasan, memperkenalkan ketegangan dan kekhawatiran yang mendalam. Ennui, yang berarti kebosanan, membawa nuansa emosi yang lebih suram, monoton, dan membosankan. Embarrassment yang mewakili rasa malu, memperkenalkan konflik internal yang terkait dengan harga diri dan citra diri Riley. Sementara itu, Envy, yang mewakili rasa iri, membawa persaingan dan konflik interpersonal yang lebih pelik. Jujur saya kagum dengan konsep desain Envy dan Embarrasement, yang menunjukkan bahwa “iri hati” digambarkan sebagai emosi yang kecil, sementara “malu” digambarkan sebagai emosi yang besar, yang secara realistis mencerminkan definisi dari kedua emosi tersebut.

Entah mengapa rasanya sekuel kedua ini sengaja menunggu kita tumbuh (lebih) dewasa. Mungkin salah satu tujuannya adalah supaya kita bisa lebih memahami apa yang dirasakan Riley yang sudah menjadi seorang remaja. Dan, memang, bahasan di film ini jauh lebih mendalam dari apa yang saya pikirkan sebelumnya.

Riley mulai mengalami dan menghadapi berbagai emosi yang berbeda saat memasuki masa pubertas. Riley mengalami munculnya berbagai emosi baru menggantikan emosi-emosi masa kanak-kanak dengan yang lebih dewasa. Perasaan kebahagiaan tergeser oleh kepanikan, ketakutan ditutupi oleh kebosanan, dan terkadang sarkasme digunakan untuk menyembunyikan rasa malu. Ketidakpastian Riley tentang masa depannya dalam grup hoki Firehawk membuatnya cemas dan mengambil langkah yang salah. Di sinilah peran orang tua dibutuhkan untuk secara penuh mendampingi anak-anak saat mereka merasa cemas, memberikan validasi perasaan, dan membantu mereka mengambil keputusan yang tepat.

Dalam perjalanannya membentuk jati diri, Riley juga pernah berusaha untuk menjadi orang lain agar diterima dalam grup hoki Firehawk, yang salah satu anggotanya, Valentina “Val” Ortiz adalah idola Riley. Namun pada akhirnya Riley menyadari pentingnya kejujuran dan menjadi diri sendiri. Dalam keadaan ini, penting bagi kita para orang tua untuk mengedukasi anak-anak agar tetap setia pada identitas mereka sendiri, tanpa perlu meniru orang lain hanya serta merta ingin diterima dalam lingkungan tertentu. Pun halnya ketika Joy berusaha keras menghapus kenangan negatif Riley untuk membentuknya menjadi pribadi yang positif, pada akhirnya, Joy menyadari bahwa semua kenangan, baik positif maupun negatif, penting untuk perkembangan Riley, karena kenangan tersebut membentuk bagian integral dari identitas dan pengalaman hidup Riley.

Ada saat di mana Riley mengalami momen emosional saat bermain di lapangan. Akibat tindakan terlalu ambisiusnya, menyebabkan dia dihukum sementara tidak bisa bermain di lapangan. Dia menangis, kecewa, dan merasa emosional, namun akhirnya menemukan kedamaian setelah menerima dan merangkul semua emosinya, berdamai dengan dirinya sendiri, serta memperbaiki hubungannya dengan orang-orang di sekitarnya. Sadness isn’t just crying. It’s the emotion of change, acceptance and most importantly, love.

Satu momen yang cukup membekas dalam benak dan berhasil membuat saya sesenggukan di sepertiga film. Adalah saat Joy menyadari bahwa hidup Riley tidak harus selalu diisi dengan kebahagiaan. “I don’t know how to stop anxiety, maybe it’s true that when you grow old, you’ll feel less happy.” Dan sejujurnya semua itu benar. Tapi semua itu tidak menjadi masalah. Tidak masalah merasa cemas, tidak masalah merasa takut, dan tidak masalah menyadari bahwa dunia ini bukan hanya tentang kebahagiaan. Saat kita tumbuh dewasa, kita menyadari bahwa Joy (kebahagiaan) bukanlah satu-satunya emosi yang utama. Tidak masalah merasakan apa pun yang perlu kita rasakan. Kita semua adalah campuran emosi, dan itulah yang membuat kita unik dan indah. Film ini mengajarkan kita bahwa semua emosi valid. Oleh karenanya orang tua wajib mengenalkan berbagai emosi kepada anak serta mengajari mereka cara mengendalikannya.

Inside Out 2 dengan sangat akurat menggambarkan berbagai emosi yang muncul karena berbagai perubahan yang menekan dalam kehidupan seorang manusia. Komedi yang menghibur dipadu adegan yang memperluas pemikiran dan perasaan, Pixar berhasil menciptakan sebuah film yang enjoyable. Alih-alih mengandalkan kisah klise yang sudah terlalu sering digunakan, mereka berhasil menjaga agar ceritanya tetap unik, tanpa kesan menggurui. Film ini cocok dinikmati oleh anak-anak sebagai tontonan yang menghibur, sementara bagi orang tua, film ini dapat menjadi kesempatan belajar tentang pentingnya memahami kondisi emosional anak-anak.

Inside Out 2 dirilis secara eksklusif di bioskop pada 14 Juni 2024, hampir tepat sepuluh tahun setelah rilis film pertamanya pada 24 Juni 2015. Keberhasilan Inside Out 2 ini tak bisa dipandang remeh. Dengan pendapatan mencapai 295 juta dolar AS hanya dalam sepekan penayangan perdananya menjadikan Inside Out 2 sebagai salah satu film animasi dengan pembukaan penayangan terbaik sepanjang masa. Hal ini menunjukkan betapa menarik dan kuat cerita/narasi yang dimiliki oleh Inside Out 2. Tentu saja dengan keberhasilan ini, Pixar sekali lagi mengukuhkan posisinya sebagai raja animasi yang mampu menyentuh hati dan pikiran penonton dari segala usia, sekaligus menegaskan kontribusinya dalam mengangkat standar industri animasi secara keseluruhan.

— devieriana —

Ilustrasi dipinjam dari sini

Continue Reading

Beyond the Report Card

Pagi itu, saya, suami, dan Alea, bersiap untuk menghadiri penerimaan rapor di sekolah. Kami sengaja tiba di sekolah 30 menit lebih awal untuk mengantisipasi segala kemungkinan. Di depan kelas, sudah ada beberapa orang tua yang sudah mendapat giliran sebelumnya. Saya pun bergabung di antara mereka, sekadar say hello dan berkoordinasi tentang pembagian kenang-kenangan untuk guru Alea. Di antara topik percakapan pagi itu jauh dari bahasan tentang nilai atau prestasi akademis. Sebaliknya, kami lebih banyak berdiskusi tentang rencana liburan, destinasi menarik, dan kegiatan lainnya. Meskipun ada yang sempat menceritakan hasil rapor anaknya yang naik/turun dari semester lalu, namun topik itu segera berganti dengan obrolan ringan lainnya.

Tibalah giliran Alea tiba untuk masuk ke kelas untuk menerima rapor. Jantung saya berdegup makin kencang meski mencoba menenangkan diri dan menaruh harapan yang paling realistis. Saya tanamkan dalam pikiran saya, apapun hasilnya, saya yakin itu adalah pencapaian terbaik yang Alea bisa raih selama kelas 4. Setelah mempresentasikan tentang target dan realisasi pembelajaran semester 2 dalam Student-Led Conference, tibalah penyerahan rapor kelas 4 semester 2. Meski diselingi dengan candaan-candaan di antara Miss/Mr-nya Alea, namun hal itu tidak cukup mampu mengompromikan detak jantung saya yang makin menjadi-jadi. Buku rapor pun dibuka, satu persatu nilai mata pelajaran mulai dibandingkan dengan semester sebelumnya. Saya menyimak dengan saksama. Rasa haru tiba-tiba saja menyeruak. Ada rasa hangat yang menghampiri. Tertera nilai-nilai Alea yang hampir semua meningkat secara signifikan dibandingkan dengan semester sebelumnya. Alhamdulillah, Ya Rabb.

Jujur, setiap kali terima rapor, saya butuh lebih mempersiapkan mental dalam menerima hasil belajar Alea. Karena dalam kesehariannya, Alea adalah anak yang lebih banyak berkomunikasi dalam bahasa Inggris ketimbang bahasa Indonesia, sementara mata pelajaran di sekolah meskipun bilingual, banyak pelajaran berbahasa indonesia yang menuntut pemahaman secara menyeluruh. Selama ini Alea harus struggle menghadapi berbagai pelajaran yang berbahasa Indonesia yang perlu dihafal. Apalagi waktu kemarin mata pelajaran IPAS, di mana bab terakhirnya membahas tentang kerajaan-kerajaan di Indonesia. Bukan suatu hal yang mudah bagi Alea menghafalkan berbagai istilah berbahasa Sansekerta. Seringkali untuk menghafal beberapa istilah bahasa Indonesia, Alea harus menghubungkan dengan kata tertentu supaya mudah diingat. Dia pun membutuhkan waktu belajar yang sedikit lebih lama supaya mendapatkan gambaran dan pemahaman yang lebih mendalam. Kecuali di mata pelajaran bahasa Inggris, saya tidak perlu menghabiskan waktu yang lama untuk mendampingi Alea belajar.

Bahasa Inggris bagi Alea layaknya bahasa ibu, karena kesehariannya baik berkomunikasi dengan kami di rumah (meskipun kami selalu berbahasa Indonesia, namun jawaban Alea 90% menggunakan bahasa Inggris) maupun dengan teman-temannya di sekolah atau bermain Roblox pun Alea konsisten menggunakan bahasa Inggris. Sedikit intermezzo, ketika kami menginap di salah satu hotel di Bali, di kolam renang dia bisa langsung mingle dengan sekelompok anak keluarga turis asing asal Australia. “Mama, I made friends with some of Australian kids. May I met them again tommorrow in the pool?”  Alea adalah seorang native speaker.

Dan seperti biasa, seusai sesi terima rapor, saya selalu berbagi kabar dengan aunty-nya Alea (adik saya), dan eyangnya Alea (Mama saya). Sama, mereka pun bersyukur atas pencapaian akademik Alea. Tapi entahlah, sepertinya Mama bisa membaca pikiran saya meski jarak jauh. Tiba-tiba saja Mama berpesan, “Sudah, jangan membanding-bandingkan Alea dengan anak lainnya. Setiap anak punya latar belakang yang berbeda-beda, tumbuh dalam lingkungan yang unik, dididik oleh orang tua yang berbeda, serta menganut nilai-nilai yang bervariasi. Pelajaran-pelajaran Alea jauh lebih menantang daripada pelajaran kamu yang dulu. Jadi beri dia kesempatan untuk berkembang sesuai dengan kemampuannya sendiri. Kamu sebagai orang tua wajib memberi dukungan supaya Alea bisa terus memperbaiki diri.” Ah, Mama. Bagaimana Mama bisa tahu apa yang sedang saya pikirkan? Tak terasa, air mata mulai menggenang di pelupuk mata.

Malamnya, ketika semua sudah terlelap, pikiran saya tetap sibuk. Sibuk berkontemplasi dan mengevaluasi diri sendiri. Mencurahkannya ke dalam bentuk tulisan sebagai pengingat diri. Sebagai ibu bekerja yang juga mahasiswa, saya merasa belum adil dalam meluangkan waktu untuk berbagai peran dalam hidup saya. Acapkali saya belum bisa memberikan waktu yang maksimal untuk Alea. Dalam beberapa semester kemarin saya berjibaku mengatur keseimbangan hidup. Belum lagi batas waktu penyelesaian tugas kuliah dan jadwal ulangan Alea yang saling berkejaran, hal itu sering membuat saya cranky. Memang inti dari semua ini adalah manajemen waktu.

Sedikit flashback ke masa saya masih sekolah, nilai ulangan dan rapor saya tidak selalu dihiasi dengan angka-angka sempurna. Tak jarang nilai saya lebih pantas dikatakan mengenaskan dibanding sempurna. Beberapa kendala yang saya alami mungkin kombinasi antara keterbatasan saya dalam mencerna pelajaran, atau mood belajar yang tidak selalu stabil. Jadi kalau ada nilai mata pelajaran yang di atas 80, sudah selayaknya dia diperlakukan layaknya sebuah mahakarya yang patut diselebrasi. Entahlah, apakah kedua orang tua saya pernah bangga pada saya waktu itu. Titik kulminasi prestasi akademis saya adalah saat menuntaskan pendidikan di sekolah menengah atas dan bangku kuliah. Di luar itu, saya adalah siswa dengan nilai yang rata-rata.

Sebagai orang tua, melihat anak berhasil dan selalu menjadi yang terbaik di kelas adalah suatu kebahagiaan dan kebanggaan. Prestasi anak merupakan hasil dari kerja keras mereka dan dukungan orang tua. Namun, dalam lingkungan yang kompetitif, penting untuk menyadari bahwa kemampuan anak tidak bisa diukur secara hitam-putih. Meskipun penting untuk memastikan anak meraih prestasi baik di sekolah dan menunjukkan peringkat, sejatinya terdapat aspek non-akademis yang lebih berpengaruh dalam menentukan kesuksesan anak di masa depan. Hidup penuh ketidakpastian, hidup bukan layaknya soal ujian kelas yang selalu punya kunci jawaban. Banyak kejutan tak terduga muncul di berbagai tikungan kehidupan, kemampuan sosial, emosional, dan mengambil risiko memainkan peran penting dalam kesuksesan anak.

Setiap anak memiliki minat dan bakatnya sendiri, dan proses pendidikan adalah perjalanan seumur hidup. Mungkin di sekitar kita ada siswa yang menyukai Matematika namun tidak jago di bahasa Inggris, ada siswa yang menyukai Sejarah namun tidak pintar di Matematika, dan ada pula siswa yang kurang pintar di bidang akademis namun jago dalam olahraga atau aktivitas fisik, karena setiap anak memiliki minat dan bakatnya masing-masing. Setiap anak itu unik dan istimewa. Akan tidak adil rasanya, jika anak hanya dinilai dari ranking atau nilai akademisnya. Anak juga perlu memahami bahwa you’re not the center of the universe, tidak semua keinginan bisa terwujud, kehidupan tidak akan selalu sesuai harapan, dan ini merupakan bagian penting dalam pembelajaran menghadapi tantangan dan penyesuaian diri. Dengan memahami bahwa hidup tidak selalu berjalan mulus, anak-anak dapat belajar untuk menjadi lebih tangguh, fleksibel, dan mampu mengatasi rintangan yang mungkin terjadi di masa depan. Memberikan pemahaman ini juga dapat membantu mereka mengembangkan sikap positif terhadap kegagalan dan ketidakpastian, yang pada akhirnya akan membantu mereka tumbuh dan berkembang sebagai individu yang kuat dan mandiri.

Pasti bukan hal mudah bagi kita yang hidup di zaman tolok ukur kepandaian dilihat dari nilai rapornya. Tapi mau tidak mau, suka tidak suka, kita harus mengubah mindset bahwa nilai rapor hanya sebagai salah satu indikator untuk mengetahui titik lemah, titik unggul, dan progress belajar anak, sehingga kita sebagai orang tua tahu di titik mana harus membantu anak belajar. Dan, penekanan yang berlebihan pada ranking dan nilai akademis sejatinya dapat memberikan tekanan psikologis (kecemasan, rendahnya rasa percaya diri, dan persepsi yang keliru tentang nilai diri) pada anak. Untuk itulah, orang tua wajib memerhatikan kesehatan emosional anak, serta memberikan apresiasi terhadap beragam bakat dan minat yang dimiliki oleh setiap anak. Sesekali boleh lho mengajak mereka keluar rumah, menikmati lingkungan, bergaul, belajar dengan cara praktik langsung.

Setiap anak memiliki potensi dan kelebihan yang tidak selalu tercermin dalam pencapaian akademis. Ketika orang tua memerhatikan aspek non-akademis, kesehatan mental, dan motivasi intrinsik anak, akan membantu menciptakan lingkungan belajar yang inklusif dan berkelanjutan bagi anak-anak tercinta.

Semangat mendampingi anak-anak belajar dan berkembang, Parents!

— Devieriana —

sumber gambar dipinjam dari https://www.educationworld.com/teachers/beyond-report-card-alternative-ways-assess-student-progress

Continue Reading
1 2 3 5