Tentang Forum Tematik Bakohumas Itu

Forum Tematik Bakohumas 2015

Di suatu siang, di sela mengerjakan pekerjaan rutin, berderinglah telepon di meja kerja saya.

“Hai, Mbak Dev… aku dari Biro Humas. Aku mau nanya dong, kira-kira tanggal 5 Maret nanti jadwalnya padat, nggak?”

“Jadwal Bapak?” *sambil melihat ke arah papan jadwal pimpinan*

“No, jadwal kamu…”

“Jadwalku? Kosong, sih… Kenapa, Mbak?”

“Ok, aku mau minta tolong buat jadi MC Forum Tematik Bakohumas, ya. Ini sebenarnya acaranya Kemenkominfo, tapi dia bekerja sama dengan Setneg dan Setkab untuk penyelenggaraannya. Acaranya sendiri nanti di Aula Gedung 3 ya, Mbak…”

“Oh, gitu. Boleh deh… Nanti aku bisa minta run down-nya ya, biar aku pelajari dulu”

“Sip. Untuk detail acara nanti aku email dan fax, ya Mbak”

Tak lama setelah saya menutup telepon, selembar fax masuk; ternyata dari teman yang menelepon barusan. Saya baca sekilas draf susunan acara yang tertera di sana. Tapi sejurus kemudian mata saya berhenti di bagian daftar narasumber. Di situ saya baru sadar, kalau acara yang akan saya pandu nantinya ini ternyata acara yang akan dihadiri bukan hanya oleh pengelola kehumasan di seluruh Indonesia, tapi juga akan dihadiri oleh 4 orang menteri dan Seskab.

Jujur ini agak sedikit di luar perkiraan saya. Tadinya saya cuma berpikir bahwa acara yang akan saya pandu ini ‘sekadar’ acara seminar atau sosialisasi yang akan dinarasumberi oleh pejabat terkait kehumasan, atau seperti acara-acara kantor yang selama ini saya pandu. Kalau sampai 4 menteri ini hadir dalam satu acara, berarti bukan acara yang ‘ala kadarnya’. Baru kali ini saya dipercaya untuk memandu acara antarinstansi seperti ini, dan dengan level acara yang lebih tinggi lagi dari acara-acara yang biasa saya pandu. Bagi saya ini sebuah tambahan pengalaman.

Menurut informasi panitia, hampir 90% pejabat kehumasan pemerintah yang diundang menyatakan confirm hadir dalam acara ini. Bagi panitia ini termasuk rekor karena biasanya yang confirm hadir tidak pernah sebanyak itu. Entahlah, mungkin lokasi acara juga ikut menentukan mood kehadiran peserta πŸ˜€

Akhirnya, hari yang dijadwalkan itu tiba. Semua petugas menyiapkan diri sebaik mungkin, termasuk saya. Butuh banyak koordinasi dengan protokol masing-masing menteri/Seskab dan pihak penyelenggara. Ya siapa tahu ada perubahan di tengah acara, kan saya harus mengantisipasi itu.

Acara yang sedianya dijadwalkan mulai pukul 13.30 wib itu nyatanya sempat molor hingga pukul 14.00 karena para menteri ada rapat di Istana Negara. Itu masih untung, karena sedianya rapat digelar di Istana Bogor. Lalu terbayang dong bagaimana ribetnya menteri-menteri itu berpindah acara dari Bogor ke Jakarta dengan perjalanan yang tidak mungkin ditempuh dalam hitungan 5-10 menit, sementara para peserta dan jurnalis media sudah menunggu.

Akhirnya, para narasumber itu pun tiba di lokasi. Ternyata yang berkenan hadir sebagai narasumber ada Mensesneg (Pratikno), Menkominfo (Rudiantara), Menpan RB (Yuddy Chrisnandi), Sekretaris Kabinet (Andi Widjajanto), sementara Mendagri (Tjahjo Kumolo) yang sedianya berkenan hadir sebagai salah satu narasumber ternyata berhalangan hadir karena dalam waktu yang sama beliau ada acara yang tidak bisa ditinggalkan.

Ada yang sedikit unik di acara ini. Kalau boleh saya istilahkan, acara yang sedikit ‘koboian’. Seharusnya, sesuai dengan susunan acara, Menkominfo akan memberikan memberikan sambutan sekaligus membuka acara ini secara resmi. Tapi ketika saya undang untuk memberikan sambutan, yang maju adalah Mensesneg. Semua panitia sempat kaget, karena ini di luar skenario kami. Ternyata hal itu memang disengaja oleh Mensesneg karena kebetulan beliau pukul 14.00 harus menghadap Presiden, sementara jadwal beliau untuk membawakan keynote speech baru nanti pukul 14.05-14.20 wib, jadilah terpaksa bertukar jadwal dengan Menkominfo untuk mengejar kesesuaian jadwal acara bersama Presiden. Pffiuh! Lha, ini saya baru deg-degan. Saya pikir saya yang salah 😐

Lalu ‘koboi’-nya di mana? Ya gaya tukar menukar jadwal tanpa koordinasi ke panitia itu termasuk gaya ‘koboi’. Gaya penyampaian speech beliau pun tidak formal/kaku, dan tidak menggunakan slideshow seperti layaknya sebuah paparan. Tapi justru seperti sedang memberikan kuliah umum. Mungkin jiwa dosennya masih terbawa :mrgreen: . Btw, sebenarnya Pak Menteri kurang menyukai adanya podium dan panggung, tapi apa boleh buat setting dari ‘sananya’ sudah begitu. Gaya tanpa slideshow presentasi ini ternyata juga diikuti oleh Seskab dan semua menteri yang hadir sebagai narasumber dalam acara tersebut. Pokoknya gaya para narasumber semuanya santai dan ya itu tadi semacam forum sharing.

Dalam kesempatan itu Menkominfo mengimbau kepada seluruh jajaran pengelola kehumasan, selain memanfaatkan media konvensional, mereka juga harus memanfaatkan teknologi media sosial. Intinya menggunakan pendekatan ke masyarakat dengan cara yang lebih modern dan partisipatif. Memiliki dan menggunakan akun twitter juga disarankan oleh Menkominfo. Karena humas berada di dunia yang sangat dinamis, jadi sesuatu yang reachable sangat dibutuhkan oleh masyarakat. Humas harus punya setidaknya dua akun twitter; akun kantor dan pribadi, dua-duanya harus jalan.

Oh ya, sebagai orang yang kadang-kadang masih bermain di ranah socmed, saya setuju dengan pernyataan Menkominfo, “media sosial membuat semua orang bisa menjadi jurnalis. Entah isinya kredibel, semi kredibel, atau tidak kredibel sama sekali.”

Mensesneg dalam kesempatan ini mencontohkan website yang sudah mencerminkan karakter pemerintah yaitu http://setkab.go.id . “Kehumasan itu mencakup hal yang sangat kaya, menjembatani dua pihak, membangun publik trust. Saya ingin humas itu seindah aslinya. Bukan hanya isi kebijakan tetapi juga karakternya.” Ada pernyataan Mensesneg yang cukup menarik dan sempat saya twit juga, “Adanya media sosial, membuat adanya jurnalisme tanpa dewan redaksi”. Benar, Pak. Semua bisa memberitakan apapun via akun socmednya. Dewan redaksinya ya pemilik akun masing-masing.

Masih ada paparan menarik yang lainnya yang juga disuguhkan oleh Seskab. Sebagai orang yang selalu mendampingi Presiden di dalam tugasnya sehari-hari, Seskab mendayagunakan socmed untuk meng- up date kegiatan Presiden. Saya sendiri baru tahu lho, kalau ternyata 1/3 foto yang ada di http://setkab.go.id dan yang ada di akun twitter resmi Setkab adalah hasil jepretan Andi Widjajanto. Andi Widjajanto juga menuturkan bahwa sebenarnya bahasa narasi sudah lewat masanya, sekarang adalah masanya bahasa visual. Bahkan bahasa visual ini pun sekarang sudah berkembang menjadi animasi.

Walaupun saya bukan bekerja di bagian yang menangani kehumasan, tapi melalui kegiatan ini saya jadi mendapatkan up date informasi dan tambahan pengetahuan baru tentang bagaimana seharusnya seorang humas pemerintah itu menjalankan tugasnya di era yang serbacanggih ini.

Btw, thank you teman-teman Kemenkominfo yang sudah memberi saya kepercayaan untuk memandu acara Forum Tematik Bakohumas beberapa waktu lalu ya πŸ™‚

[devieriana]
Continue Reading

Limitless Love

happy-mom-daughter

My mother was the most beautiful woman I ever saw. All I am I owe to my mother. I attribute my success in life to the moral, intellectual and physical education I received from her.
– George Washington –

Ibu adalah sosok yang rasanya tak akan pernah habis untuk diceritakan. Sosok istimewa yang sudah jatuh cinta kepada anak-anaknya bahkan sebelum mereka terlahir ke dunia. Jadi wajar kalau akhirnya Ibu menjadi sosok inspiratif bagi semua orang. Saya pun punya pemikiran yang sama; bagi saya Mama adalah sosok yang banyak memberikan saya inspirasi.

Sejak menikah, Mama memilih untuk menjadi ibu rumah tangga. Padahal dulu Mama juga bekerja dan punya kesempatan berkarir yang cukup bagus. Namun demi keluarga yang baru dibangunnya, Mama memilih untuk menjalani karir sebagi ibu rumah tangga yang jam kerjanya 24 jam sehari, 7 hari seminggu, dan itu sepanjang tahun.

Mama adalah pribadi dengan kombinasi yang unik. Sosok ibu yang cerewet, tegas, disiplin, keras kepala, dan absurd. Namun di luar itu semua Mama adalah sosok yang penyayang, berhati lembut, konsisten, dan luwes bergaul dengan siapa saja. Bukan itu saja, saking dekatnya beliau dengan kami bertiga, Mama sampai hafal satu per satu sahabat kami lengkap dengan cerita mereka. Si A rumahnya di mana, Si B pacaran sama siapa, Si C silsilah keluarganya bagaimana, Si D sekolah/kerja di mana, dan seterusnya.

Bukan hanya itu saja, kami (terutama adik saya yang bungsu) sering menjadikan rumah sebagai tempat nongkrong, Mama pun aktif mengajak ngobrol mereka. Bagi kami, Mama bukan hanya seorang ibu, tapi juga sahabat untuk anak-anaknya. Kami bisa cerita tentang apapun, karena Mama adalah pendengar yang baik untuk setiap cerita yang kami ceritakan. Mama adalah sosok yang istimewa. Seistimewa masakan-masakannya yang racikan, takaran, dan rasanya selalu pas!

Orang tua kami kebetulan adalah pasangan yang kompak dalam membesarkan kami. Mereka bukan hanya memberikan kami hal-hal yang manis saja, tapi juga ‘pahit-pahitnya’. Kalau soal dijewer, dimarahi, dihukum, itu sih biasa. Toh imbangannya kami juga sering mendapatkan hadiah dan kebahagiaan dalam bentuk lainnya. Semua diberikan dalam ‘dosis’ yang pas dan seimbang.

Lewat Mama, saya belajar prinsip-prinsip kehidupan; baik sebagai pribadi maupun sebagai individu dalam lingkup sosial. Ada salah satu nasihat yang paling saya ingat dari Mama, “ajining diri dumunung ana ing lathi, ajining raga ana ing busana”, artinya: manusia itu dihargai dari ucapan/kata-kata dan penampilannya, karena penampilan adalah salah satu cerminan kepribadian. Masih menurut Mama, seorang Ibu harus mampu mendidik anak-anaknya lewat perilaku. Anak akan dididik oleh ibunya bukan secara lisan semata, tapi juga pada perilaku dan kesehariannya.

Kini, saya adalah ibu dari bayi mungil bernama Alea yang berusia 6,5 bulan. Menjadi seorang ibu sama seperti diberi kesempatan untuk merasakan keajaiban dalam hidup. Mata saya jadi lebih terbuka. Ternyata menjadi seorang isteri yang sekaligus ibu bekerja ternyata bukan perkara mudah. Setelah cuti selama 2 bulan pasca melahirkan, saya kelimpungan mencari pengasuh bagi Alea.

Bukan hal mudah mencari pengasuh bayi di zaman sekarang, apalagi menyerahkan begitu saja pengasuhan bayi kepada seorang yang belum saya kenal sebelumnya. Hingga akhirnya Mama menawarkan diri untuk membantu menjaga dan mengasuh Alea selama saya bekerja. Tentu saja tawaran ini saya terima dengan suka cita karena dulu saya pernah ‘bercita-cita’ kelak suatu hari kalau saya sudah punya anak, saya ingin Mama saya yang menjaga anak saya πŸ˜€ .

Keputusan ini sedikit dilematis memang, karena dengan Mama sementara tinggal bersama saya di Jakarta, berarti akan meninggalkan Papa di Surabaya. Walaupun masih ada adik bungsu saya yang tinggal sekota dengan Papa tapi tetap saja muncul segumpal rasa berat. Tapi untunglah Papa sangat pengertian. Beliau ‘merelakan’ Mama menjaga Alea daripada Alea diasuh oleh orang yang belum tentu bisa menjaga Alea dengan benar. Tentu saja kami akan beberapa kali ke Surabaya untuk pulang ke Papa.

Sampai sebegitunya ya pengorbanan orang tua. Bukan hanya berhenti sampai ke anak, tapi sampai ke cucu. Their love and affection are limitless!

Buat saya Mama adalah guru pertama saya dalam hal pengasuhan anak. Seringkali saya menemukan insight tentang parenting dari beliau. Memang beliau bukan sosok ibu yang sempurna. Sebagai manusia, saat menjalani berbagai perannya, Mama tentu punya kelebihan dan kekurangan. Tapi yang jelas, ketika saya officially menjadi orang tua, orang pertama sekaligus tempat saya berguru tentang parenting ya Mama saya sendiri. Ya, kalau misalnya ada perbedaan cara mengasuh di sana sini ya wajarlah, namanya beda zaman, beda generasi, beda up date informasi. Jadi, adjustment itu pasti diperlukan. Tapi alhamdulillah sejauh ini masih discussable.

Ada satu nasihat sekaligus doa bagi kami, anak-anaknya, “semoga kelak ketika kalian sudah menjadi orang tua, kalian bisa mendidik anak-anak kalian menjadi anak-anak yang sesuai dengan zamannya, humanis, rasional, dan bahagia.”

Pamela Druckerman menulis dalam bukunya yang berjudul Bringing Up Bebe :

” to be a different kind of parent, you do not just need a different parenting philosophy. You need a very different view of what a child actually is. “

Btw, you did it, Ma! πŸ™‚
[devieriana]

 

___

sumber ilustrasi diambil dari sini

Tulisan ini disertakan dalam kegiatan Nulis Bareng Ibu. Tulisan lainnya dapat diakses di website http://nulisbarengibu.com

Continue Reading

Happy Holiday!

Museum Angkut 2

Hai, apa kabar kalian? Bagaimana suasana pergantian tahun di tempat kalian? Saya, seperti biasa, seperti tahun-tahun sebelumnya menghabiskan suasana pergantian tahun di tempat tidur. Apa lagi kalau bukan tidur πŸ˜† . Mau belum ada bayi atau sudah ada bayi pun sama saja. Bedanya, tahun ini saya melewatkan pergantian tahun di Jawa Timur, di rumah orang tua saya, sambil ngeloni bayi yang tidurnya kurang begitu tenang ketika pergantian hari karena di luar sana bunyi mercon dan kembang api sahut menyahut sampai kurang lebih pukul 01.00 wib.

Oh ya, ini adalah pertama kalinya saya beserta keluarga mudik ke Jawa Timur, bersama Alea tentu saja. Sebelum berangkat kami sempatkan untuk memenuhi jadwal kontrol Alea ke dokter sekalian konsultasi tentang semua hal yang harus dilakukan ketika terbang bersama bayi. Karena membawa bayi saat bepergian menggunakan pesawat terbang itu sedikit lebih ribet dibanding mengajak anak yang usianya di atas satu tahun. Kata dokternya Alea saat memberikan penjelasan pada kami, pada saat mengangkasa, biasanya udara di dalam kabin cenderung tidak stabil. Udara panas atau dingin dapat berubah cukup cepat. Itulah sebabnya bayi harus mendapat perhatian lebih, karena tidak semua bayi mampu beradaptasi dengan berbagai keadaan di angkasa. Kalau dilihat dari usia dan kondisi kesehatan Alea insyaallah Alea aman diajak bepergian naik pesawat.

AleaSebenarnya mau pergi naik pesawat yang jam berapapun sih aman-aman saja untuk bayi. Oleh dokter kami disarankan untuk mudahnya dan biar nggak ribet, pilih saja jam penerbangan yang merupakan jam tidurnya bayi. Tapi mau terbang di jam berapapun sih sebenarnya nggak ada masalah kok. Intinya bayi harus dalam keadaan sehat, tidak sedang flu, dan ketika take off dan landing bayi harus disusuin (dalam keadaan mengunyah).

Awalnya sih agak mikir juga, kalau jam tidur yang panjang ya malam hari atau pagi-pagi buta. Agak kasihan juga kalau harus membangunkan Alea di pagi buta untuk berangkat ke bandara. Tapi bismillah sajalah, semoga segalanya dimudahkan. Eh, ndilalahnya kami dapat penerbangan paling pagi, jam 05.00 dengan menggunakan Lion Air. Kami mulai bersiap pukul 02.30 dini hari, dan mulai membangunkan Alea pukul 03.00. Untungnya dia nggak rewel, bahkan jam segitu dia langsung bangun, ngoceh-ngoceh, ketawa, gegulingan, ceria sekali, seolah tahu kalau mau diajak pergi. Dia juga tidak rewel selama perjalanan menuju bandara, walaupun cenderung diam. Entah diam melihat pemandangan yang masih gelap gulita, atau sebenarnya dia masih ngantuk πŸ˜€

Sesampainya di bandara suami langsung mengurus segala sesuatunya termasuk konfirmasi ke petugas bandara/maskapai bahwa kami membawa bayi, karena ada formulir khusus yang harus diisi. Entahlah missed-nya di mana/siapa, hingga kami di atas pesawat pun tidak ada formulir yang kami isi, padahal hampir di setiap gate kami lapor ke petugas, bahkan sampai di ruang tunggu pun kami konfirmasi kalau kami bawa bayi. Agak heran juga. Apakah memang cukup dengan lapor secara lisan aja atau seharusnya ada formulir yang harus kami isi?

Ketika kami sudah duduk di seat kami, barulah ada pramugari dan petugas yang ‘ngeh’ kalau kami membawa bayi. Duh! Lha tadi ke mana saja? Tidak adakah koordinasi dari petugas maskapai di bandara dengan yang on board? Pramugari yang sama menanyakan pada saya berapa usia bayi sebanyak 2x. Kalau mbak itu jadi petugas callcentre bisa saya kasih nilai nol di poin “mendengarkan dengan sungguh-sungguh” lho :-p. Barulah setelah itu ada petugas yang meminta saya untuk mengisi form. Owalah, Mas, Mas. Tadi ke mana saja?

Alhamdulillah Alea tidak rewel sama sekali, selama penerbangan dia tidur dengan pulas dan baru bangun ketika sudah landing di Juanda. Kok ngerti ya kalau sudah sampai tempat tujuan, ya? :mrgreen: . Pun ketika dalam perjalanan dari Juanda menuju ke rumah, dia juga tidur dan langsung bangun ketika sudah masuk komplek rumah πŸ˜† . Padahal dia kan baru pertama kali ke rumah eyangnya, kok bisa bangun pas sudah dekat rumah ya? πŸ˜†

Museum Angkut 1Selama liburan kami menghabiskan waktu dengan berkumpul bersama seluruh keluarga, sekalian jalan-jalan ke Malang. Ah, ya… kami juga menyempatkan ke Museum Angkut. Iya, itu satu-satunya tempat yang sempat kami kunjungi selama di Malang. Itu juga sampai di sana sudah sore karena kami harus mengantarkan adik yang pulang duluan ke Jakarta lantaran dia sebenarnya belum dapat cuti. Maklum pegawai baru πŸ˜€

Ah ya, secara keseluruhan Museum Angkut itu keren, karena menyajikan banyak sekali objek foto yang instagramable, dan spot foto yang lucu buat ajang narsis-narsisan. Tapi sayang, jiwa narsis saya sudah mulai punah. Sudah nggak pede lagi berfoto dengan badan yang menggendut dan pipi chubby seperti sekarang πŸ˜† .

Oh ya, hampir saja saya lupa. Akhirnya saya bisa merasakan makan Bebek Sinjay yang tersohor asal Bangkalan itu! Awalnya sih beneran mau ke Bangkalan Madura sana Tapi pas kita lihat di Jln. Jemursari , Surabaya (depan taman Pelangi) kok ternyata juga ada cabang, tanpa pikir panjang kita pun langsung capcus nongkrong di depot yang pengunjungnya ramai, sampai antre-antre. Soal rasa, jangan ditanya. Enaknya pakai banget! Apalagi dimakan pas nasinya anget, bebeknya juga empuk, kremesannya juga gurih, plus ditambah pakai sambal pencit (mangga muda). Beuh… *lap iler*

bebek sinjaySo far liburan kali ini alhamdulillah lancar, dan menyenangkan. Sengaja kami pilih pulang di hari Sabtu, 3 Januari 2015, supaya hari Minggunya kami bisa istirahat. Kebetulan kali ini kami naik Garuda, penerbangan pukul 06.15 wib. Isi kabin pesawat kebanyakan anak-anak yang sepertinya akan pulang selepas libur panjang. Sengaja kami pilih penerbangan pagi biar Alea bisa bobo selama di perjalanan. Dan ternyata kami tidak salah pilih jadwal, karena Alea tidur pulas dalam gendongan sejak di ruang tunggu bandara sampai dengan di Soekarno-Hatta. Anak pintar! :-*

Hmm, sepertinya mulai siap untuk merencanakan liburan berikutnya. Hei, Bromo apa kabar, ya? Masih belum sempat ke sana padahal sudah direncanakan berkali-kali. Entahlah, mungkin kami memang belum berjodoh.

Bagaimana dengan liburan kalian di akhir tahun kemarin? Semoga juga sama menyenangkannya ya πŸ™‚

 

[devieriana]

Continue Reading

Amazing 2014

it's a wrap

Tak terasa akhirnya kita sudah berada di penghujung tahun 2014, tahun yang katanya bersimbolkan kuda; shio saya :mrgreen: . Dalam beberapa hari ke depan kita akan segera meninggalkan tahun 2014 ini dan siap menyambut pergantian tahun yang baru 2015.

Dibandingkan tahun sebelumnya, tahun 2014 ini menjadi tahun yang relatif penuh dengan cerita, dan sekaligus menjadi awal segala perubahan dalam hidup saya. Highlight-nya adalah kehadiran seorang gadis kecil yang akhirnya mengubah seluruh hidup saya.

Tahun 2014 adalah tahun di mana saya resmi menyandang status ibu. Sebuah status yang sudah begitu lama saya tunggu pasca kehamilan pertama saya tahun 2008. Akhirnya di tahun inilah Allah mengizinkan saya dan suami untuk memilikiΒ buah hati, setelah ‘kosong’ selama kurang lebih 6 tahun. Allah begitu baik, ketika Dia mengiyakan suatu kebaikan, Dia akan menyertakan kebaikan-kebaikan lainnya di belakangnya. Allah bukan hanya menganugerahi saya kehamilan yang sehat, tapi juga menghadiahi saya proses persalinan yang lancar, mudah, dan murah. Saya yang awalnya agak paranoid menggunakan BPJS ternyata ketika melahirkan secara cesar kemarin justru dibuat ternganga karena saya hanya membayar biaya naik kelas kamar saja sebesar Rp 315.000,00, selebihnya free. Bukan itu saja, ketika pasien lainnya mengalami kesulitan mencari kamar lantaran semua kamar penuh, sedangkan saya… seperti serbakebetulan, ada 1 kamar kelas 1 yang kosong, dan bisa segera saya tempati beberapa jam tepat setelah saya operasi. Alhamdulillah.

Sudah, itu sajakah? Ketika teman-teman dan tetangga saya yang kebetulan juga mengalami kelahiran cesar dan mereka masih susah payah mengembalikan staminanya pascaoperasi, alhamdulillah dalam 2 hari pascaoperasi saya sudah bisa menggendong Alea dan berjalan ke sana-ke mari (walaupun awalnya ya mewek juga karena namanya perut habis disayat tapi harus ‘dipaksa’ untuk bergerak supaya otot-otot di sekitar perut agar tidak kaku) sehingga pemulihannya jauh lebih cepat. Makanya saya sudah diperbolehkan pulang setelah 3 hari saya berada di RSUD Pasar Rebo, padahal dulu saya sempat seminggu di RS Medistra karena pemulihan saya berjalan lebih lama (mungkin juga karena secara fisik dan mental saya tidak sesiap sekarang). Dan seminggu setelah operasi saya malah sudah bisa belanja di rest area dekat rumah πŸ˜† Allah memang sangat sayang sama saya. Dia bekerja dalam cara yang luar biasa dan tak tanggung-tanggung ketika memberi kebaikan kepada umatnya.

Ketika saya membuat postingan ini, gadis kecil saya sudah berusia 5 bulan 6 hari. Tak terasa sudah hampir setengah tahun dia bersama kami. Alhamdulillah, dia sehat dan dikaruniai tumbuh kembang yang sempurna. Hari ini terakhir saya mengantor sebelum cuti panjang sampai dengan awal tahun 2015. Besok, 24 Desember 2014 kami sekeluarga akan terbang ke Surabaya untuk berlibur di sana sampai dengan tanggal 3 Januari 2015, so ini akan menjadi penerbangan pertama Alea. Yaay! Akhirnya dia akan bertemu dengan keluarga besar Mamanya di sana :mrgreen:

Apakah lalu semua kejadian di tahun 2014 berjalan manis dan sempurna? Tentu saja tidak. AdaΒ  beberapa kejadian yang kurang mengenakkan, yang awalnya terasa sulit saya lalui. Tapi lagi-lagi, kok ndilalah semuanya seperti sudah diatur oleh Allah, semua hal yang saya anggap sulit dan tidak mungkin itu semuanya dimungkinkan. Ah, Allah memang baik banget!

Kalau dari segi pekerjaan alhamdulillah semuanya lancar. Di tahun inilah untuk pertama kalinya saya merasakan bagaimana hiruk-pikuknya kantor saya ketika pergantian pemimpin negara terjadi. Eh, tidak secara langsung juga sih, karena di hari yang sama ketika pergantian Presiden saya sedang tidak berada di kantor. Tapi ikut merasakan kesibukan, keribetan, dan keharuan yang sama walaupun hanya memantau di social media :mrgreen:

Intinya, tahun 2014 ini adalah tahun yang ‘nano-nano’ buat saya. Semua peristiwa asam, manis, pahit, campur jadi satu. Tahun pembelajaran yang disertai dengan ‘kurikulum’ baru yang mengajarkan saya tentang bagaimana menjadi orangtua dan menjadi pribadi yang kuat.

Lalu, bagaimana dengan tahun 2015? Adakah resolusi seperti tahun-tahun sebelumnya? Ah, saya sebenarnya tidak pernah serius beresolusi kok, karena sering kali yang awalnya saya jadikan resolusi hasilnya malah bablas; tapi yang bukan jadi resolusi malah jadi πŸ˜† . So, mendingan saya jalani saja tanpa ada resolusi-resolusian. Atau biar nggak berat, sebut saja rencana tahun 2015 :mrgreen:

Dear Allah, I thank you for this amazing 2014. Thank you for such a memorable journey, where the ups and downs are there. People jugde and learn from the past, they evaluate the things that they did, and project it to the future. They predict what tommorrow will be, but the future still remains Your mystery.

For everything that occured —the good and the bad thing— I feel so grateful and delighted because I have seen Your love and your kindness through this wonderful year. Your hands never let me go, Your protection is gentle and strong.

Dear Allah,Β I am pretty excited to welcome 2015 with a bunch of love, and faith again an again. Because I want to walk with You, want to feel and embrace the love You have.

Therefore, since all my plans are meaningless without Your blessings, I ask for Yours so then, let Your will be done in my life.

Semoga apa yang kita kerjakan dan cita-citakan di tahun 2015 berhasil dan menjadi berkah untuk kita semua. Semoga kita diberikan usia yang penuh manfaat, dan kesehatan yang sempurna. Kiranya Allah memperkenankan segala doa kita. Aamiin ya rabbal alamiin…

Jadi, sebelum saya berlibur sampai dengan awal tahun depan, saya ingin mengucapkan Selamat Natal bagi teman-teman yang merayakannya; dan Selamat Tahun Baru 2015 bagi semuanya.

Sampai bertemu (di postingan) tahun depan ya… πŸ˜€
Daaagh!

 

 

 

[devieriana]

sumber ilustrasi dari bedbathandbeyond

Continue Reading

A Self Reminder: Allah Sang Mahasutradara

-----

“Sesuatu yang kita anggap baik belum tentu baik di depan Allah, begitu pula sebaliknya, sesuatu yang kita anggap buruk belum tentu buruk di depan-Nya. Dialah Sang Mahatahu akan segala sesuatu…”

—–

Buat saya, hidup itu seperti layaknya sebuah film. Kita adalah aktor-aktor yang sedang menjalani sebuah script atau skenario, sedangkan Tuhan adalah sutradaranya. Film (kehidupan) saya dan film (kehidupan) kamu, pasti berbeda. Tapi, meski berbeda bukan berarti kita tidak pernah ada dalam satu frame yang sama. Mungkin saja kita yang berada di belahan bumi yang berbeda dipertemukan oleh-Nya untuk menjalani sebuah skenario; misalnya saling bertemu, mengerjakan sesuatu bersama, atau cuma sekadar saling sapa satu sama lain. Tapi sebaliknya mungkin saja kita yang duduk bersebelahan justru tidak saling mengenal satu sama lain karena kita lalu pergi begitu saja tanpa ada percakapan/perkenalan sama sekali. Bisa saja, kan? πŸ™‚

Sesekali dalam hidup, kita pasti akan tertawa. Dan sebagai penyeimbang, kita pun pasti pernah menangis. Walau demikian hidup harus tetap berlanjut, kan? Dalam skenario itu mungkin kita harus beradegan berlari, terjatuh, berjalan, merangkak, bahagia, terluka, menangis dan tertawa, begitu seterusnya untuk menggenapkan skenario yang sudah ditulis oleh-Nya.

Saya adalah salah satu yang telah menjalani sebagian skenario-Nya. Hidup saya tidak selalu bahagia, tapi juga tidak selalu sedih. Namun apapun itu saya syukuri tiap sesi dalam hidup saya, karena saya yakin bahwa Allah punya rencana mahaindah yang tidak saya ketahui. Saya juga yakin dengan janji Allah, bahwa Dia tidak akan memberikan suatu cobaan di luar batas kemampuan umat-Nya. Dan, Dia menepatinya. Saya adalah salah satu ‘korban’ ketakjuban betapa indah skenario yang telah dibuat Allah bagi hamba-hamba-Nya.

Sebagai manusia yang punya banyak sekali kekurangan, saya juga sering melakukan perbuatan dosa, baik sengaja atau tidak. Dan selama itu pula Allah masih bersabar melihat tingkah laku saya. Hingga akhirnya Allah menegur saya dengan sebuah kejadian yang menjadi sebuah turning point dalam hidup saya. Kejadian yang sempat membolak-balikkan hati saya, menjungkirbalikkan nalar saya, me-roller-coaster-kan hidup saya. Di titik itulah saya sadar bahwa Allah sedang menegur saya dengan cara yang radikal; sekaligus menyapa saya dengan lembut.

“Kalau sudah begini, kamu mau minta tolong sama siapa? Manusia?”

Tuhan memberi apa yang kita butuhkan, bukan apa yang kita inginkan. Sejak itulah kehidupan spiritual saya berubah 180 derajat, karena sejatinya dengan dekat dengan-Nya-lah hidup saya jauh lebih tenang. There’s a blessing in every disguise. Saya yang dulu sering meninggalkan shalat, saya yang jarang bersedekah, saya yang jarang mengingat Allah, saya yang pecicilan sana-sini, pelan-pelan berubah. Saya luruh dalam tangis memohon ampun hampir di setiap sujud di sepertiga malam. Padahal sebelumnya, jangankan untuk tahajud, menggenapkan shalat 5 waktu saja rasanya enggan. Shalat hanya saya lakukan ketika ingin, ketika sempat, ketika ada maunya. Ya, saya pernah berada dalam fase sejahiliyah itu. Keimanan saya masih sangat tipis di usia saya yang sudah lebih-lebih dari seperempat abad ini πŸ™

Seringkali kita menyebut sebuah kejadian itu cuma sebuah kebetulan, padahal tidak ada yang kebetulan di dunia ini. Kalau (iseng) kita tengok lagi ke belakang tentang film kehidupan kita, pasti ada episode di mana kita mengalami adegan-adegan layaknya sebuah kebetulan, padahal semuanya adalah hasil campur tangan Allah.

Ya Allah, terima kasih untuk semua reminder-Mu. Terima kasih untuk semua peristiwa yang terjadi dalam hidup saya. Apapun itu. Terima kasih karena masih berkenan mengingatkan hamba-Mu yang suka bertingkah semau-maunya ini.

Terima kasih, karena masih Engkau izinkan kami untuk meneruskan film kehidupan kami di planet bumi yang merupakan panggung termegah kami ini…

 

 

[devieriana]

sumber ilustrasi: clipartbest.com

Continue Reading
1 4 5 6 7 8 44