Balada Online Shopping

online-shop

Dulu, saya bukan termasuk orang yang gemar berbelanja secara online. Buat saya, kalau mau beli barang ya lihat secara langsung; kalau cocok dibeli, kalau enggak ya enggak beli. Pun ketika saya sudah tinggal di Jakarta, yang notabene hampir semua barang tersedia dan bisa didapatkan dengan mudah. Dulu waktu trend belanja via online baru muncul, sempat ragu juga. Alasan utamanya ya takut ditipu. Ya wajarlah, secara, barang yang ditawarkan cuma bisa kita lihat dalam bentuk foto, bagusnya tampilan barang belum tentu bisa menjamin kualitas barang, kan? Belum lagi kalau sudah di-retouch dengan photoshop di sana-sini. Barang yang sebenarnya nggak kinclong-kinclong amat aja

Saya baru sedikit tune in dengan yang namanya online shopping itu ketika saya ngeblog di multiply.com sekitar tahun 2006-2007-an, ketika ada beberapa teman di friend list saya yang awalnya membuat akun pribadi, lama-lama berubah menjadi akun jualan. Perubahan ini memang tidak drastis; awalnya mereka menawarkan produk baju, kain, kosmetik, atau bahkan barang second yang secara fisik masih layak guna dalam jumlah yang terbatas. Tapi ketika melihat respon teman yang lain ternyata bagus, mulailah mereka menambah jumlah koleksi dan meng-update-nya secara berkala.

Lantaran keseringan buka situs multiply.com dan melihat tampilan update koleksi jualan mereka, akhirnya kekukuhan saya untuk tidak berbelanja via online pun pelan-pelan runtuh. Apalagi ketika bentuk badan saya masih melar ke mana-mana pascamelahirkan, jadi yang saya butuhkan masih berupa baju-baju berpotongan longgar untuk menyembunyikan’ kelebihan sisa lemak yang masih tertimbun di sana-sini, sementara untuk sengaja beli baju ke mall kok pas males. Sejak saat itulah saya mulai keranjingan berbelanja via online dan setia menunggu update koleksi terbaru dari salah satu lapak langganan saya.

Nah, saya pikir semua online shopping kalau sudah berani buka lapak, ya berarti pelayanannya juga maksimal (sama seperti online shopping langganan saya). Tapi toh ternyata tidak semuanya begitu. Pernah juga saya mengalami kejadian kurang menyenangkan dengan online shopping sekitar 6 tahun yang lalu.

Berawal dari sekadar ‘window-shopping’ di facebook. Dari sana ternyata ada sepasang baju batik sarimbit yang warna dan modelnya lucu. Seperti prosedur yang biasa saya lakukan ketika belanja online, saya pun melakukan pemesanan, berkomunikasi dengan penjualnya, dan melakukan pembayaran. Kebetulan lokasi tokonya ada di Jawa Tengah (saya lupa tepatnya di mana). Tunggu punya tunggu, kiriman yang seharusnya paling lama sudah saya terima dalam jangka waktu 3 sampai 7 hari kerja itu kok nggak muncul-muncul ya; padahal janjinya barang akan segera dikirim. Si Penjual kok sepertinya juga adem ayem saja, nggak ada info apa-apa, ya? Mulai khawatir dong. Jangan-jangan ini modus penipuan, atau paket hilang di jalan. Ah, tapi kan ada resi pengiriman, jadi barang bisa dilacak keberadaannya di mana. Lha tapi saya juga nggak dikasih tahu nomor resinya, gimana saya bisa melacak? Saya juga sudah konfirmasi ke orang rumah apakah ada paket buat saya, tapi nyatanya memang belum ada paket apapun yang apa-apa yang tiba di rumah.

Usut punya usut, setelah saya konfirmasi via sms/e-mail (karena yang bersangkutan susah sekali ditelepon), ternyata barang belum dikirim! Lhah, kok bisa? Alasannya klise dan terdengar sedikit kurang profesional.

“Maaf Mbak, barang memang belum saya kirim karena saya kan packing, kirim sendiri, sementara pesanan menumpuk. Apalagi tempat ekspedisinya jauh dari rumah saya, dan saya nggak punya kurir. Besok deh saya usahakan kirim, Mbak. Maaf ya…”

Lho, gimana tho? Ya kalau memang belum dikirim atau ada kendala pengiriman hambok ya diinformasikan ke pembeli, biar pembeli nggak harap-harap cemas menunggu kiriman datang. Walaupun dengan kening sedikit berkerut, tapi saya coba berpikiran positif dan memaklumi. Ya sudahlah, toh bajunya nggak urgent-urgent amat, nggak segera dipakai ini, dan saya pun mulai menunggu kembali.

Tak terasa waktu pun bergulir, dan hampir seminggu setelah komunikasi terakhir saya dengan Si Mbak itu, akhirnya ada konfirmasi sms darinya:

“Mbak, barang pesanan Mbak dikembalikan lagi ke saya karena alamat Mbak tidak jelas dan itu rumah kosong”

Lah, gimana bisa rumah kosong, sih? :-o. Aduh! Saya pun mengelus dada dan mengucap istighfar berkali-kali. Sekali lagi, usut punya usut ternyata Si Mbak itu yang salah tulis alamat. Salah/kurang menulis angka romawi VIII menjadi VII ya akhirnya fatal nyasar ke mana-mana… 😥

Jujur, dengan banyaknya alasan yang disampaikan oleh Si Mbak itu, saya nyaris putus asa dan memutuskan untuk membatalkan pesanan saya saja. Tapi entah kenapa kok saya malah kasihan sama Si Mbak itu. Dalam pikiran saya, mungkin dia baru mencoba membuka usaha, jadi masih kelimpungan dengan delivery, administrasi, dll. Tapi ya itulah risiko bisnis, IMHO seharusnya sudah dipertimbangkan sebelum memulai usaha. Jadi ya sudahlah ya, saya kembali mencoba bersabar untuk ke sekian kalinya.

Ah, akhirnya, setelah drama panjang yang telah saya lalui selama sebulan lebih itu pun, pesanan saya akhirnya datang juga, Sodara! Pffiuh! Leganya… *usap peluh*. Rasanya ini adalah pengiriman barang dengan delivery paling lama sedunia, padahal Mama saya kalau kirim paket dari Surabaya paling lama 3 hari sudah saya terima, ini yang cuma di provinsi sebelah saja kok ya pengirimannya ngalah-ngalahi pengiriman paket dari luar negeri.

Dengan antusias saya mulai buka paket yang masih terbungkus kertas cokelat lusuh itu. Tapi antusiasme saya mendadak kuncup seketika, saya pun kembali harus menelan kekecewaan, barang yang tiba ternyata bukan sepasang batik yang saya pesan, baik warna, model, maupun ukurannya. Hwaaaa! 😥 Duh, Mbak. Niat jualan nggak, sih? *jambak-jambak rambut*. Sudah pengirimannya lama, sempat salah alamat, pas sudah sampai kok ya salah kirim jenis barangnya. Itulah terakhir kali saya protes ke Si Penjual, dan langsung berjanji dalam hati untuk tidak lagi berbelanja di online shop satu ini.

Semakin banyaknya online shop yang bermunculan, saya pun semakin selektif dalam berbelanja online. Terhitung saya hanya berbelanja di 3 situs belanja terpercaya saja, itu pun setelah melalui proses seleksi dan perbandingan dengan online shopping-online shopping yang lain, dan kebetulan barang-barang yang ditawarkan di sana sesuai dengan selera saya, hihihik :mrgreen: . Pernah saking lapar matanya melihat koleksi barang yang mereka tawarkan, saya pun kalap, dan besoknya… saya puasa. Ter-la-luh! 😐 😆

Seperti hari ini pun, saya harus menahan diri untuk tidak membuka situs salah satu online shop (padahal email notifikasi up date-nya sudah terbuka di depan mata), pertimbangannya sih selain belum gajian juga karena ada prioritas lain yang jauh lebih penting dari sekadar belanja baju yang lucu-lucu itu. Ya sedang mencooba belajar jadi smart shopper, nih. Ihik! 😉

“Tapi tenang, kalau kita berjodoh, kalian pasti jadi milikku…”
*ngomong sama salah satu barang inceran*

Lhoh!

 

 

[devieriana]

sumber ilustrasi dipinjam dari sini

Continue Reading

Bangku Taman

bangku taman 1

Sudah sejak bulan Oktober tahun 2013 di di sepanjang trotoar jalan protokol di Jakarta dihiasi oleh bangku-bangku taman yang sandarannya terbuat dari kayu jati dipadu dengan besi cor yang dicat putih. Tampak indah dan tidak mengganggu pemandangan.

Saya sendiri baru merasakan manfaat keberadaan bangku-bangku taman itu ketika akhir-akhir ini saya lebih suka naik shuttle bus milik salah satu mall dibandingkan Transjakarta yang uyel-uyelan. Jadwal shuttle bus lewat depan kantor saya sekitar pukul 16.00-16.30/16.45-an, jadi ya lumayanlah kalau berdiri selama 30-45 menitan. Jadi, kalau cuaca sedang cerah, daripada saya terlalu lama berdiri di depan gerbang kantor, saya sering berjalan kaki menuju ke arah Monas untuk menunggu sambil duduk di bangku taman 😀

Lumayan nyaman, karena saya bisa menunggu bus sambil membaca buku atau mendengarkan musik. Deretan pohon yang teduh dan trotoar yang lebar juga menambah kenyamanan bagi siapa saja yang duduk di sana. Apalagi di daerah Sudirman-Thamrin, jika jam pulang kantor, bangku-bangku taman tersebut penuh diduduki oleh para pekerja yang pulang kantor dan sedang menunggu jemputan/bus sambil mendengarkan musik di earphone, membaca buku, atau mengobrol. Kapasitas bangku tersebut sekitar 3-4 orang.

Tapi sayangnya di sekitaran Monas itu sepertinya jarang tempat sampah, deh. Alhasil sampah-sampah sering terlihat teronggok begitu saja di sekitaran bangku taman. Sayang banget, kan?

Oh ya, ada sedikit pemandangan ‘aneh’ di sekitaran Museum satria Mandala dan Gedung Telkom Merah Putih tadi pagi. Ternyata salah satu bangku itu yang sandarannya hilang. Hihihihi, kok bisa, ya? Iya, sandaran kayu yang tertempel di besi cor itu hilang, sekaligus besi cor-coran sandarannya. Semoga yang duduk di sana tidak bersandar, ya. Nanti nggeblag ke belakang gimana… :mrgreen:

Lha iya, besi dan kayunya bangku taman saja bisa hilang, apalagi kalau bangku tamannya dikasih nyaman-nyamanan berupa bantal, ya.. :mrgreen:
*dianggap sofa ruang tamu*

[devieriana]

Continue Reading

Berubah!

---Hai, apa kabar? Adakah yang mengalami kebanjiran selama musim hujan yang gahar ini? Semoga ‘badai’ segera berlalu, dan kondisi alam kembali normal. Aamiin…

Whoaa, rasanya lama banget saya nggak up date blog ya. Iya, nih mood saya lagi ajrut-ajrutan buat nulis. Jangankan nulis blog, mainan socmed saja saya lagi males banget. Ibaratnya sedang memasuki waktu Indonesia bagian off peak-mood, gitu.

Ada banyak perubahan yang saya alami akhir-akhir ini, dan itu 180 derajat dengan sebelumnya. Kalau dulu saya addict banget sama social media, tangan seakan nggak bisa lepas dari HP/gadget, hari libur saya selalu sempatkan untuk buka laptop buat sekadar drafting blog, tapi sekarang jadi berkebalikannya. Login di akun-akun socmed cuma kalau lagi pengen; bisa seminggu sekali, bahkan lebih. Saya juga tidak terlalu intens lagi pegang gadget. Kalau dulu bisa nge-charge HP bisa sehari 2-3 kali sehari, sekarang cukup sehari sekali. Pokoknya beda banget dengan sebelumnya. Apakah ini sebagian efek dari HP hilang kapan hari? Hmm, mungkin ada 🙄

Trus, apa lagi yang beda? Oh ya, saya sekarang juga jadi jauh lebih kalem dan nggak senarsis dulu lagi, Kak. Hahahak :mrgreen: . Serius. Dulu kayanya saya ‘grubak-grubuk’ banget kalau jalan, ngomong, atau mengerjakan sesuatu. Sekarang jadi lebih anteng, kalem, nggak pecicilan, nggak terlalu bawel, dan nggak ‘sebedigasan‘ sebelumnya. Tumben, ya? Banget! Orang-orang di sekitar saya saja sampai heran, dikiranya saya habis salah minum obat 😐

Trus, dulu, tangan rasanya gatel banget buat foto-foto selfie, atau kadang kalau ada teman yang lagi sibuk foto bareng, saya suka ikutan nimbrung. Sekarang? Profil picture di HP saya saja rasanya sudah berbulan-bulan tidak pernah saya up date. Entah, apakah ada hubungannya dengan faktor cuaca atau tidak. Tapi memang iya, sih. Kalau lagi mendung kan pencahayaannya jadi kurang bagus, Kak. Lho? :mrgreen: . Atau apakah ini juga ada hubungannya dengan HP yang hilang kapan hari di mana ada banyak koleksi foto di sana. Hmm, mungkin saja, ya? Bayangkan, di sana kan ada banyak moment yang telah terabadikan yang tidak mungkin bisa diulang lagi, dan terpaksa harus ikutan lenyap bersama lenyapnya Si HP. Hiks 😥 . Ya untungnya sih nggak ada foto-foto ‘aneh’ di sana, selain foto-foto close up muka saya semua. Hmm, semoga sih beneran nggak ada, ya *jadi nggak yakin* :mrgreen:

Ya sudahlah, nggak apa-apa. Selagi bisa berubah, dinikmati saja. Jarang-jarang kan saya bisa berubah sedrastis ini. Kan kalau begitu-begitu terus lama-lama bosen. Anggap saja variasi 😛

Trus, inti postingan ini apa? Ya nggak ada, cuma pengen kasih tahu aja kalau saya lagi dalam mood yang sangat jauh berbeda dengan sebelumnya, anggap saja sedang ingin bertransformasi. Halaaaah… 😆 Jadi mohon dimaklumi saja kalau blog ini jadi banyak sarang laba-labanya karena pemiliknya kelamaan hibernasi, atau saya jadi jarang terlihat di akun socmed lantaran lagi mengalami kebosanan tingkat dewa. Eh, masih socmed-an ding di Path. Tapi postingannya kan lebih terbatas dan kuantitas postingannya tidak semasif di akun socmed lainnya. Paling sehari cuma sekali doang, itu juga nggak rutin.

Anggap saja ini bawaan bayi 😀

Have a good day, people!

 

[devieriana]

ilustrasi dipinjam dari http://www.forwallpaper.com/

Continue Reading

Ngumpul tanpa gadget?

Beberapa waktu yang lalu ada seorang teman yang memosting gambar ini di grup bbm teman-teman SMA. Teman-teman di grup langsung membahas ‘tantangan’ itu dan akan menerapkannya kalau nanti kami reuni.

kumpul tanpa gadget

Sepertinya lumayan seru ya kalau ada tantangan no gadget selama berkumpul bersama teman/keluarga, karena melihat kebiasaan selama ini yang terlihat adalah secara fisik kita ada dalam sebuah ruangan, situasi, dan acara yang sama, tapi mata, jari, dan konsentrasi kita terfokus di layar gadget masing-masing.

Bahkan saya pernah ada dalam sebuah meet up di salah satu kedai kopi bersama dengan beberapa teman, secara fisik kami memang ada di satu ruangan, tapi kami justru sibuk saling mention di twitter dan cekikikan sendiri membaca respon demi respon yang muncul di layar handphone masing-masing. Nah, lho. Lalu esensi kumpul-kumpulnya di mana?

Sekarang saya sudah sangat jauh lebih rileks dengan gadget saya. Dulu, suami saya sempat jengkel banget dengan kebiasaan saya yang terlalu sibuk dengan gadget. Tangan saya hampir tidak pernah lepas dari smartphone. Di kantor sudah internetan, di rumah pun masih bersambung. Alhasil ancaman pembuangan gadget pun pernah terjadi, hiks :(. Kebiasaan saya sibuk dengan gadget itu baru jeda ketika gadget itu rusak dan harus diservis di dealer resminya selama hampir satu bulan lamanya. Tapi toh ketika gadget saya sudah sembuh, saya kembali disibukkan dengan komunikasi di social media. Hadeuh, Devi! *self keplak!*

Tapi untungnya semakin ke sini akhirnya saya insyaf bahwa ada hal-hal yang lebih precious dibandingkan dengan hanya sibuk menekuri layar gadget saja. Saya sekarang sudah bisa merasa jengah ketika di tengah kumpul-kumpul bersama keluarga/teman ternyata mereka sibuk dengan gadget-nya; seolah-olah saya tidak ada di situ. Obrolan yang nyangkut sekenanya, tanggapan yang ada pun cuma ala kadarnya. Bete? Banget! :p

Adanya perubahan fungsi gadget dari yang awalnya hanya untuk berkomunikasi dan berubah jadi bagian dari gaya hidup itu jadi mendekatkan yang jauh sekaligus menjauhkan yang dekat. Bagaimana tidak, kita bisa ‘dekat’ dengan teman/kerabat yang jauh, namun hubungan dengan orang-orang yang terdekat justru berasa jauh.

Sekitar tahun 2010-2012 saya pernah punya pengalaman dengan seorang teman yang tingkat adiksinya terhadap gadget dan teknologi begitu parah. Kalau untuk kerja sih bisa saya maklumi, tapi ini cuma untuk bergaul di social media. Dia sempat ngomel-ngomel cuma gara-gara tidak bisa login ke YM. Sangat uring-uringan ketika Macbook-nya mendadak hang. Stress lantaran salah satu gadget-nya kecemplung di ember berisi air sehingga mati total. Sampai-sampai, tanpa harus menunggu besok/lusa, malam itu juga dia langsung beli gadget baru. Panik ketika baterai handphone-nya habis tapi dia tidak membawa charger atau tidak sempat nge-charge… *usap peluh*

Penggunaan teknologi dalam porsi yang terkontrol dan wajar itu perlu. Tapi ada baiknya tetap mengingat bahwa di sekitar kita ada orang-orang dan keluarga yang juga butuh kehadiran kita secara nyata; bukan cuma hadir secara fisik, tapi juga konsentrasi dan perhatian yang utuh. Ada banyak hal menarik dan lebih manusiawi untuk dilakukan dalam kehidupan nyata daripada terus menerus berhadapan dengan pendar layar gadget yang menyala, bukan? 😀

Ah ya, saya juga sedang belajar ke arah sana, kok… :mrgreen:

“Better start manage our valuable life with more valuable thing”.

[devieriana]

Continue Reading

Pickpocket

pickpocketSejak akhir bulan kemarin saya harus belajar melupakan dan mengikhlaskan kepergian smartphone saya gara-gara kecopetan di bus sepulang dari diklat beberapa waktu yang lalu. Iya, smartphone yang sudah menemani saya selama kurang lebih 4 tahun ini mendadak raib dari dalam tas. Pffft, padahal sepertinya tingkat kewaspadaan saya sudah lumayan tinggi, tapi mungkin tingkat kelihaian para pencopet untuk menjarah isi tas saya jauh lebih tinggi.

Sore itu bertepatan dengan hari terakhir saya menjalani kegiatan di Pusdiklat Setneg. Dengan langkah cepat dan tergopoh-gopoh menghindari guyuran hujan yang semakin deras, saya bersama seorang teman protokol dari Setwapres langsung menaiki salah satu metromini yang biasa kami naiki dan kebetulan sedang mengetem di pojok perempatan Fatmawati. Sebagian besar bangkunya masih kosong, tapi kami terpaksa duduk di tempat yang terpisah karena kebanyakan sudah diduduki oleh penumpang yang menunggu sebelumnya.

Tak lama bus pun sudah dijejali penumpang. Saya mendekap tas ransel saya, waktu itu saya masih sempat mengirim pesan ke teman di seberang kursi, bilang kalau nanti bayarnya sendiri-sendiri saja, karena biasanya kami suka bergantian membayarkan. Setelah itu saya langsung memasukkan kembali HP ke dalam tas. Selama perjalanan saya juga dalam kesadaran penuh, tidak tertidur. Tapi mungkin keberadaan saya (dan beberapa penumpang lainnya) waktu itu sudah diincar, alhasil ketika turun saya sudah mendapati tas ransel saya resletingnya sudah terbuka di bagian atas dan samping. Beruntung dompet saya tidak ikut terjarah meskipun posisinya sudah mengkhawatirkan karena berada di salah satu kompartemen tas yang resletingnya terbuka tadi :cry:.

Yang saya rasakan saat itu perpaduan antara rasa cemas, sedih, panik, dan menyesal parah. Wajar, karena baru saja kehilangan barang yang sudah setia menemani selama 4 tahun terakhir ini, apalagi itu adalah kado ulang tahun dan saya tahu bagaimana kisah di balik itu, plus harus kehilangan semua kontak yang sudah terkumpul selama 4 tahun ini, sekaligus data-data lain yang belum sempat saya backup dan pindah ke hardisk. Tapi untuk mengharapkan smartphone saya kembali lagi kok rasanya hopeless juga, karena pastinya metromini dan pencopetnya itu entah sudah sampai di mana. Dan entah kenapa kecurigaan saya jatuh pada pria yang tadi duduk persis di belakang saya. Bukan menuduh, feeling saya bilang begitu karena sebelum saya turun dia ‘heboh’ pindah-pindah tempat duduk tanpa alasan yang jelas :|. Tapi, ya sudahlah, mungkin memang sudah waktunya harus ganti gadget yang baru *modus*.

Kemarin waktu meeting dengan teman-teman Indonesia Bercerita, mereka malah share tentang cerita-cerita lucu yang berhubungan dengan kecopetan dan kemalingan. Mungkin kalau menyaksikan atau mengalami sendiri di waktu itu belum tentu bisa sambil cekikikan menertawakan ‘tragedi’ yang dialami, ya. Tapi ketika kita sudah ikhlas dan cerita itu di-recapture ternyata bisa jadi hal yang lucu.

Seperti kisah seorang teman pria yang nyaris kehilangan HP di KRL. Iya, nyaris, karena setelah berdoa, dan dicari sedemikian rupa, HP yang sejak awal cuma disimpan di dalam saku celana sejak sebelum masuk KRL itu tiba-tiba ‘ditemukan’ terselip di sela kaki para penumpang KRL yang berseberangan arah dengan tempatnya berdiri, dan justru diinfokan oleh orang yang sebelumnya dia duga pencopet karena dari awal gerak-geriknya lumayan mencurigakan. Hmmm, agak suudzon sih, tapi kadang memang perlu demi meningkatkan kewaspadaan.

“Mas, HP-nya jatuh tuh, di sana, di bawah kursi…”

Lha iya, kok bisa-bisanya Mas itu tahu kalau itu HP milik si teman, dan kenapa jatuhnya jauh dari lokasi awal tempat si teman berdiri. HP ditemukan dalam kondisi ‘compang-camping’, baret sana-sini karena terinjak-injak penumpang lainnya. Tapi tak urung teman saya itu pun berterima kasih kepada Si Mas Misterius yang ‘menemukan’ HP-nya kembali. Doa orang teraniaya itu memang manjur.

Ada lagi kisah unik teman lainnya yang berhasil merebut kembali dompet dari tangan pencopet tanpa ada perlawanan samasekali dari Si Pencopetnya. Lucunya Si Pencopet malah terbengong-bengong, seolah baru sadar kalau barang jarahannya sudah diambil kembali oleh korbannya :lol:.

Tapi ada juga cerita lainnya. Ada seorang teman yang sadar kalau dia habis kecopetan langsung menangis tersedu-sedu. Bukan karena dompetnya yang hilang, tapi gara-gara tasnya yang berharga sekian juta itu menjadi korban usaha penyiletan para pencopet. Aduh, lagian kenapa harus pakai tas mahal-mahal sih kalau ‘cuma’ naik angkutan umum? 🙁 *simpan tasnya Angel Lelga ke lemari besi*

Namanya musibah/pencurian itu ada saja jalannya, ya? Kita yang sudah berhati-hati masih bisa lengah dan kecolongan. Kejadian kemarin benar-benar menjadi pelajaran berharga buat saya untuk lebih meningkatkan kewaspadaan selama di angkutan/tempat umum, melakukan backup data di HP secara berkala, dan menyimpan barang-barang yang dianggap penting/berharga di bagian tas yang lebih aman dan terlindungi. Semoga kejadian ini tidak terjadi lagi di kemudian hari.

Setelah melakukan blokir sana-sini dan pergantian berbagai macam passwor dan simcard, sekarang saya pakai handphone zaman Patih Gajahmada masih berkuasa. Ya sudahlah, yang penting bisa dipakai untuk sms/telepon. Walaupun diledek teman-teman, apalagi kalau sedang terima telepon,

“Lho, handphone-nya bisa bunyi tho?”

atau

“Ih, itu kan handphone zaman purbakala banget, sebangsa menhir, dolmen, pepunden berundak, sama artefak gitu, Kak”

HIH! Lebay memang. Padahal ya masih merk yang sama dengan smartphone saya sebelumnya walaupun tipenya agak down grade. Tetap bersyukur karena masih ada yang mau meminjamkan gadget ini biar saya tetap bisa dihubungi via sms/telepon.
*elus dada dengan tabah*
*dadanya mas-mas ganteng*

Ngomong-ngomong, nggak ada yang berencana urunan buat beliin saya gadget baru, apa?
:mrgreen:

 

[devieriana]

 

ilustrasi dipinjam dari sini

Continue Reading