Balada 17 Agustusan

Dirgahayu RIAkhirnya, setelah sekian lama hibernasi nggak jelas, blog ini pun ada up date. Kebetulan di bulan Agustus ini ada beberapa kegiatan yang cukup menyita waktu dan tenaga, belum lagi mood menulis yang sedang labil, plus blog yang sempat kacau balau kemarin. Jadi, ya sudahlah ya, semakin drama dan komplekslah alasan ketidakapdetan blog ini 😐

Oh ya, mumpung masih bulan Syawal, semoga masih belum basi untuk memohon maaf lahir batin buat semua teman yang masih rajin blog walking ke blog saya. Mohon maaf kalau ada salah kata dalam kalimat di paragraf-paragraf blog saya. Mohon maaf juga kalau selama ini belum sempat berkunjung untuk melakukan blog walking ke blog kalian. Wis, pokoknya mohon dimaafkan, ya >:D<

Seperti biasa, menjelang 17 Agustus, ada semacam tradisi di kantor saya untuk menginap. Sebenarnya nggak wajib sih, tapi ini sebagai salah satu antisipasi buat yang rumahnya jauh biar nggak datang terlambat waktu upacara esok hari, mengingat ada banyaknya ruas jalan protokol yang akan ditutup menjelang penyelenggaraan upacara di Istana Merdeka.  Alhasil, malam itu saya sukses tidur melungker mirip anak kucing di sofa yang ada di ruangan Pak Deputi. Ya sudahlah, demi tugas negara ini, ya. Halah :p

Berbeda dengan penyelenggaraan upacara 17 Agustusan di tahun-tahun sebelumnya, upacara 17 Agustusan tahun ini tidak bertepatan dengan bulan puasa, jadi malam harinya sambil semuanya mempersiapkan segala pernak-pernik untuk upacara di pagi harinya, di malam harinya seluruh pegawai dihibur oleh penampilan dari beberapa grup band.

Indische - Gedung 1 - 16082013 (1)Untuk pertama kalinya band saya yang unyu itu diberi kesempatan tampil membawakan beberapa buah lagu. Kalau dibandingkan dengan band-band yang tampil di malam harinya, band kamilah yang paling junior dan membawakan genre musik yang berbeda dengan band lainnya. Ketika band lainnya memainkan lagu-lagu Top 40 dan rock, kami membawakan musik-musik yang lembut ala-ala musik-musik lounge. Ya masa semua mau tampil sama, nanti penontonnya bosen :p

Indische - Gedung 1 - 16082013 (2)Uniknya, selama menjelang perhelatan beberapa acara di bulan Agustus yang membutuhkan suara saya itu, saya malah terserang flu berat, batuk, dan pilek :(. Khawatir itu pasti, karena ya nggak lucu kalau sampai suara terdengar bindeng, sengau, atau parau mirip sinden yang kehabisan suara setelah menyanyi semalam suntuk. Yang paling mengkhawatirkan itu karena puncaknya adalah saya harus bertugas sebagai Pembaca UUD 1945 di upacara bendera 17 Agustus, pastinya butuh power suara lebih besar di sana. Tapi untunglah semua berjalan lancar, yang jelas saya merasa sangat terbantu dengan mikropon yang telah di-setting sedemikian rupa sehingga suara saya terdengar utuh ;)). Ah, andai saja mereka tahu betapa tersiksanya saya semalam suntuk karena batuk-batuk :((

Ajaibnya, seusai semua acara itu kok penyakit saya malah sembuh :((. Mungkin si pita suara ‘meminta’ saya untuk tidak terlalu memforsir dia, ya? Tapi alhamdulillah pita suara saya selama menjalankan tugas di beberapa acara kemarin cukup kooperatif, sehingga semua kekhawatiran saya itu tidak terjadi *elus-elus tenggorokan*.

Dirgahayu Indonesiaku. Semoga menjadi negara yang lebih maju, tingkat korupsinya semakin berkurang, dan bukan hanya akan menjadi negara yang mampu mengurangi angka kemiskinan dan pengangguran terbuka saja, tapi juga mampu meningkatkan standar dan kualitas hidup orang banyak…

Aamiin…

[devieriana]

 

foto diambil dari instagram saya dan koleksi pribadi

Continue Reading

“Dear Mr. Postman…”

postman

“Hari ini ‘ku gembira
Melangkah di udara
Pak Pos membawa berita
Dari yang ‘ku damba…”

—–

Bagi generasi tahun 2000-an mungkin sudah terbiasa dengan kehidupan yang serba eletronik, termasuk hal surat-menyurat. Tapi bagi yang tumbuh di era ’90-an seperti saya, tentu masih ingat bagaimana memaksimalkan jasa PT Pos Indonesia dengan segenap fitur pelayanannya. Keberadaan surat kala  itu masih menjadi media yang sangat diandalkan terutama untuk berkirim kabar dengan keluarga/teman yang tinggal di luar kota atau luar negeri. Bagi saya yang sangat menggilai korespondensi, pengiriman surat bukan cuma untuk bertukar kabar dengan teman/keluarga saya yang di luar kota saja, teman sebangku yang tinggalnya masih satu kecamatan pun saya ajak kirim-kiriman surat. Bahkan jarak rumahnya saja jauh lebih dekat dengan rumah saya ketimbang kantor pos tempat saya mengirim surat. Serius! :-j

Beda Pak Pos generasi saya dengan Pak Pos generasi orang tua saya mungkin ada di tampilan Pak Posnya. Kalau di zaman orang tua saya dulu, Pak Pos menjalankan tugasnya dengan naik sepeda kumbang. Di jok belakang sepedanya ada tas mirip pelana kuda, berisi surat-surat yang siap diantar. Sedangkan di zaman saya, sudah ada sedikit kemajuan, dia naik motor berwarna oranye cerah, kadang membawa tas yang mirip pelana kuda itu, tapi tak jarang juga membawa kotak yang tampilannya mirip bus surat.

Oh ya, ngomong-ngomong tentang bus surat, dulu keberadaan bus surat sangatlah eksis. Dia berada di mana-mana untuk memudahkan para pengguna jasa pos menyampaikan suratnya tanpa harus ke kantor pos. Beberapa hari sekali dipastikan akan ada Pak Pos yang mengambil surat-surat dari dalam bus surat itu untuk kemudian dibawa ke kantor pos dan diproses lebih lanjut. Tapi sepertinya keberadaan bus surat sekarang sudah jarang, ya? Kalaupun masih ada, jumlahnya tidak sebanyak dulu, dan kondisinya pun nyaris tak terawat.

Setiap mendengar deru suara motor berwarna oranye yang berhenti di depan rumah selalu saja  menimbulkan keriangan dan adrenalin tersendiri. Terlepas dari Pak Pos akan menyampaikan surat untuk siapa, saya selalu berharap setidaknya ada satu surat yang akan saya terima. Apalagi kalau sepulang sekolah/kuliah/kantor dan melihat ada sebuah amplop yang sengaja diletakkan di meja belajar oleh Mama saya sudah senang luar biasa. Apalagi kalau tahu itu surat dari gebetan. Uhuk! *batuk rejan*

Traffic pengiriman dan penerimaan surat saya termasuk cukup tinggi, di hari biasa saya bisa mendapatkan surat 3-4 surat dalam seminggu. Apalagi ketika menjelang Lebaran; saya dan adik saya seperti ‘berlomba’ banyak-banyakan menerima kartu Lebaran. Bahkan saking kecanduannya, saya sering sengaja mengirim surat untuk keluarga atau teman dengan harapan mereka akan membalas surat saya beberapa hari kemudian. Isi surat saya pun sangat random, selalu ada saja hal yang saya ceritakan di sana. Saking semangatnya saya bisa menulis lebih dari 2-3 lembar halaman folio bergaris; ukuran font-nya normal lho ya, bukan font berukuran 40-an (hih, pakai istilah font, padahal nulis suratnya saja pakai tangan, bukan diketik pakai komputer [-(). Walaupun habis itu saya keretekin jari karena terasa keriting papan. Ah, mungkin karena saya memang suka sekali bercerita dan menulis essay ketika pelajaran Bahasa Indonesia, ya? Atau jangan-jangan sebenarnya dari sanalah awal mula saya menyukai dunia tulis menulis sehingga akhirnya saya ‘terjerumus’ dalam dunia blogging? :-??

Dari surat menyurat itu saya bisa berkenalan dengan beberapa teman baru. Bukan cuma bertukar cerita, tapi juga bertukar foto (iya tahu, cupu banget), tukar menukar hadiah, dikirimi bermacam-macam stiker lucu, cinderamata, dan yang jelas dari hobby korespondensi itu saya bisa menambah koleksi perangko. Ah, untung waktu itu cuma koleksi perangko ya, bukan koleksi pacar… :-”

Tapi sejak saya menginjak bangku kuliah, intensitas berkirim surat sudah mulai banyak berkurang. Mungkin ada faktor kejenuhan juga, ya? Tapi yang jelas surat-surat manual itu lambat laun sudah mulai tergantikan dengan sms dan email. Surat menyurat yang dulu bisa seminggu 3-4 kali, berkurang drastis menjadi 1-2 kali dalam sebulan. Apalagi setelah saya bekerja, saya lebih banyak menggunakan e-mail sebagai salah satu cara untuk menjalin komunikasi dengan teman/kerabat yang lain, pun untuk koordinasi dan pengiriman laporan pekerjaan. Lama-kelamaan pengiriman surat secara manual itu telah tergantikan dengan e-mail, sms, bbm, dan teknologi lainnya yang jauh lebih praktis, hemat, dan cepat.

Dibandingkan dengan surat yang diketik komputer, saya lebih suka menerima surat yang ditulis tangan. Bukan apa-apa, terasa jauh lebih berkesan dan pribadi saja buat saya, karena ternyata masih ada orang yang rela meluangkan waktu untuk menulis surat , tidak peduli bagus/tidaknya bentuk tulisan tangannya walaupun habis itu saya harus mendekrip tulisan mereka menjadi bentuk tulisan yang lebih mudah dibaca.

Sampai sekarang saya masih menggunakan jasa pos untuk mengirimkan paket/surat, karena kebetulan di basement kantor saya ada kantor pos kecil yang menyediakan jasa pengiriman paket/surat baik pribadi maupun dinas; ya daripada harus keluar kantor kan makan waktu dan tenaga, gitu 🙂

Hari ini tiba-tiba saya merasa rindu kedatangan surat-surat yang ditulis tangan, rindu mendengar suara deru motor berwarna oranye yang berhenti di depan rumah, rindu Pak Pos yang menyampaikan surat-surat pribadi secara langsung ke tangan saya (bukan surat tagihan kartu kredit atau promosi perbankan lainnya).

Ah, maafkan saya yang sering mengubah syair lagunya Vina Panduwinata menjadi:

Hari ini ‘ku gembira,
Pak Pos melayang di udara

Semoga masih boleh lebay sedikit; cuma mau bilang, “terima kasih sudah menjadi bagian dalam hidup saya. Wish you the greatest thing in life, dear Mr. Postman… :)”

[devieriana]

ilustrasi dipinjam dari sini

Continue Reading

Wajah yang tidak mudah dikenal itu…

sketch-meEntah apa yang aneh dengan wajah saya, selama kurang lebih 4 tahun saya bekerja di kantor ini kok sepertinya tidak banyak orang yang familiar dengan wajah saya;  kecuali orang-orang yang setiap hari bertemu/berinteraksi dengan saya, ya. Sebenarnya agak nggak penting juga sih ya bahas beginian, tapi berhubung ada beberapa kejadian ‘unik’ yang berhubungan dengan ‘wajah’ ini jadi pengen share di sini juga.

Agak unik rasanya setelah beberapa kali mengisi acara di kantor, hampir di setiap akhir acara pasti ada saja yang menanyakan siapa saya, dari instansi mana, dan selalu dikira bukan pegawai kantor ini, padahal sudah pakai name tag :((. Bahkan dulu ketika awal-awal baru bekerja di sini saya malah dikira tamu/konsultan rekanan kantor, dan parahnya sempat diinterogasi oleh seorang petugas Unit Keamanan Dalam karena disangka tamu yang mau asal nyelonong masuk tanpa seizin mereka 😐

Ya sudahlah ya, mungkin nanti seiring dengan waktu dan sudah mulai banyaknya orang yang mengenal saya ‘sindrom wajah tak dikenal’ ini akan hilang dengan sendirinya [-o<. Begitulah doa dan harapan saya beberapa waktu lalu.

Tapi ternyata, sindrom itu masih ada, Kak. Selesai mengemsi di sebuah acara di kantor, saya yang waktu itu sedang asyik duduk menikmati snack tiba-tiba diajak ngobrol oleh seorang peserta sosialisasi. Beliau tanya saya dari instansi mana (karena dikira saya MC dari luar). Ya saya jawab kalau saya dari instansi yang sama dengan beliau. Malah dijawab, “Ah, masa? Emang Mbak angkatan masuknya tahun berapa? Kok saya nggak pernah lihat mbaknya?” Yaelah, Pak… ya jelas panjenengan nggak pernah lihat saya, lha wong Bapak ngantornya di Kebon Sirih [-(

Cerita lainnya ketika briefing sebelum keberangkatan Diklat Keprotokolan di Singapore beberapa waktu yang lalu. Saya datang bersama calon peserta lainnya. Beberapa wajah yang saya lihat di kelas itu ada yang sudah familiar karena kebetulan teman sekelas waktu diklat sebelumnya. Saya baru tahu kalau saya sempat dikira dari instansi lain selang beberapa hari setelah diklat berlangsung. Dan statement itu justru dari ketua kelas saya ;))

“Dulu aku pikir kamu tuh kalau nggak dari Gelora Bung Karno ya dari Arsip Nasional, atau peserta yang dari instansi lain lho, Mbak… Soalnya aku belum pernah lihat kamu sebelumnya. Ealah, ternyata sekantor…”

Yang terbaru ada lagi, baru saja terjadi beberapa hari yang lalu. Diceritain sama teman band yang kemarin sama-sama mengisi acara di kantor sebelah.

Teman: “Eh, Dev. Kok banyak yang nyangkain lo orang luar sih?”

Saya: “Iya nih, aku juga bingung. Sejak pertama kali ngantor di sini sudah banyak yang nyangka begitu. Muka aku mungkin muka-muka bunglon gitu kali ya, jadi nggak gampang dikenali :-??. Emang ada kejadian apaan?”

Teman: “Lo inget nggak pas gue habis ngisi acara bareng sama lo, kan gue pamit sama panitianya tuh. Gue ditanya, “kok mainnya cuma sebentar?” Ya gue bilang kalau keyboard (mereka) kurang enak buat dimainin karena emang harus diservis, lagian kan gue mau latihan paduan suara jam 11.30…”

Saya: “Trus?”

Teman: “Iya, ibu itu bilang, “wah, sayang banget ya… mana kamunya udah terlanjur bawa penyanyi dari luar pula…”  Nah, gue bengong dong. Kok penyanyi dari luar sih? Kan lo orang sini juga… :-?”

Saya tertawa. See? See? =))

Saya: “Trus kamu jawab apa?”

Teman: “Ya gue bilanglah kalo lo itu pegawai sini juga, tuh gedungnya berseberangan sama gedung ini, jadi bukan penyanyi dari luar. Trus, pas gue abis latihan sama lo di basement, kan anak-anak paduan suara sebagian udah pada datang dan lagi makan siang dulu tuh. Nah, pas lo udah balik ke atas, mereka pada nanyain lo siapa, orang mana. Ya gue bilang kalo lo orang lantai atas. Eh, pada bilang, “masa? kok nggak pernah liat?”. Kok pada nggak kenal sama lo sih, Dev?”

Saya: “tau’, ah! Ya emangnya sekian ribu pegawai di kantor ini harus tahu aku? :))”

Begini nih kalau punya wajah yang sulit dikenali orang, jadi serbasalah. Sudah pakai seragam saja kadang saya masih sering disangka anak baru (CPNS). Apalagi pas lagi nggak pakai seragam, pasti disangka tamu.

Tapi masih mending disangka CPNS ding, ketimbang disangka tamu dan diinterogasi sama Unit Keamanan Dalam [-(

 

[devieriana]

Continue Reading

“The Band…”

music-clipart4-1024x835

Mungkin benar apa kata pepatah, “buah takkan jatuh jauh dari pohonnya…”. Mengapa saya tiba-tiba bilang begitu? Karena saya mengalami hal yang sama. Terlahir dari sepasang orang tua yang memiliki darah seni yang kental, secara otomatis jiwa seni itu pun mengalir deras dalam tubuh saya. Mama yang dulunya adalah seorang penari Jawa klasik dan Papa yang mantan seorang pemain band plus guru musik itu menurunkan bakatnya yang sama persis kepada saya. Apa yang dulu dilakukan oleh orang tua saya di masa muda, sekarang ternyata juga saya lakukan.

Nah, seperti yang pernah saya janjikan di sini saya akan bercerita tentang kegiatan ‘ekstrakurikuler’ saya yang baru. Berasa anak sekolah aja pakai istilah ekstrakurikuler ;))

Beberapa waktu yang lalu saya mendadak direkrut jadi vokalis band kantor. Heran, Kak? Tenang, kalian nggak sendiri… karena saya pun heran sejadi-jadinya. WHY ME? :-?? Lha wong, suara pas-pasan begini kok ya dipungut jadi vokalis; sepertinya teman-teman yang memungut saya jadi vokalis itu sedang khilaf. Mungkin mereka berpikir begini:

“Ya daripada band ini jadi band instrumentalia, ya sudahlah, yang nyanyi Devi ajalah, ya. Kasian… “

Ya, sekadar untuk memenuhi syarat kelengkapan sebuah band aja, Kak 😐

Jujur, bergabung dalam sebuah band sama sekali di luar ekspektasi saya. Band —yang sampai sekarang belum ada namanya— ini terbentuk karena adanya harapan para senior yang ingin anak-anak muda di kantor ini, yang kebetulan punya kemampuan bermusik agar membentuk sebuah band. Ah, mulia sekali harapan para senior ini, ya. Akhirnya, setelah melalui proses rekrut sana-sini, cabut sana-sini, maka pada tanggal 31 Mei 2013 kami bertemu untuk latihan pertama kali \:D/

Awalnya kami sepakat untuk bermain di jalur musik Top 40 saja, karena kami beranggapan bahwa musik-musik jenis ini lebih mudah diterima oleh semua telinga. Namun ternyata dalam perkembangannya, setelah melalui beberapa kali sesi latihan dan pertemuan yang lebih intensif, arah permainan musik kami pun pelan-pelan mulai mengalami perubahan. Yang awalnya bermain di musik-musik Top 40, lambat laun  bergeser ke genre musik jazz, funk, dan swing. Bukan sok-sokan mau nge-jazz ya, tapi ternyata teman-teman ternyata ingin mencoba bermain di jalur musik yang berbeda dengan yang sudah pernah mereka mainkan sebelumnya. Apalagi, menurut mereka vokal saya juga mendukung ke arah pilihan musik mereka. Ah, masa? 😕

Ternyata menjadi anggota grup band itu tidak mudah, karena dalam sebuah band pasti terdiri dari banyak kepala dengan isi, selera, dan keinginan yang berbeda-beda. Selain attitude;  keterbukaan, toleransi, dan komunikasi juga penting;  karena sedikit saja ada masalah yang tidak dikomunikasikan dengan anggota yang lain akan berpotensi menjadi bom waktu yang siap meledak kapan saja.

Setpres
beginilah kalau mereka sedang serius mengulik lagu

Berhubung kami hanya bisa berkumpul di jam-jam pulang kantor (itu pun tidak setiap hari), dan tak jarang karena kesibukan masing-masing kami tidak bisa latihan secara full team, kami pun lebih sering menyambung diskusi melalui BBM, whatsap, dan email. Saya yang biasanya memberikan referensi lagu apa yang akan dipelajari bersama, dan merekam hasil latihan untuk dievaluasi keesokan harinya; dengan harapan ketika kami bertemu di sesi latihan berikutnya lagu lama yang belum kami mainkan dengan sempurna bisa lebih disempurnakan lagi, sedangkan lagu yang baru juga sudah siap untuk dimainkan.

Sebagai band yang masih ‘bayi’, kami tak segan berguru kepada para senior tentang bagaimana cara bermusik yang baik. Sama seperti teman lainnya yang terus mengeksplorasi dan menyempurnakan kemampuan bermusiknya, mau tak mau saya pun harus belajar teknik vokal yang baik dan benar, mengingat suara saya yang masih ‘mentah’, cenderung tipis, dan tinggi :|.

Sejauh ini saya menganggap aktivitas nge-band ini baru sebagai sarana untuk menyalurkan hobby dan mengurangi kepenatan setelah menjalani aktivitas rutin di kantor. Dalam beberapa kesempatan kami sudah sempat ditanya oleh para atasan, apakah kami sudah siap untuk tampil di depan para pejabat/pegawai di lingkungan kami bekerja? Huhuhuhu, jujur, kalau untuk memenuhi tuntutan itu kami antara siap dan belum, Kak :-s. Band kami kan belum sepenuhnya sempurna, kami juga masih harus banyak berlatih agar penampilan kami lebih layak tonton dan dengar, gitu.

Kemarin sempat ‘nekad’ mengisi live music di bazarnya kantor sebelah. Kebetulan saya cuma tampil berdua dengan keyboardis band saya, karena 1 teman sedang sakit, dan 2 orang lainnya sedang dinas. Kalau noise-nya banyak harap dimaklumi ya Kak, namanya juga nyanyi di ‘keramaian’. Berasa lagi di kondangan, ya? ;))

Di balik apa yang telah saya jalani selama beberapa tahun ini, saya bersyukur bahwa ternyata Tuhan memberikan saya kesempatan yang sangat luas dalam mengembangkan minat dan bakat yang saya miliki tanpa harus ngoyo mengejarnya. Senang bisa dipertemukan dengan banyak teman yang memiliki passion, ilmu, dan talenta yang luar biasa di berbagai bidang sehingga saya bisa belajar banyak dari mereka.

Saya percaya bahwa semua ada jodohnya. Bukan cuma untuk urusan hati, tapi juga dalam hal pertemanan, pekerjaan, termasuk di dalamnya berkomunitas. Ya, lagi-lagi semua tentang chemistry. Semoga chemistry yang telah terjalin di antara saya dan teman-teman band ini bisa longlasting, sehingga kami sanggup melalui semua tahapan ke depannya dengan lebih mudah [-o<

Oh ya, sambil menunggu teman yang lain, kami main iseng akustikan di kantor. Kalau kualitas rekamannya terdengar agak ajaib, mohon dimaklumi ya, namanya juga rekaman pakai handphone, Kak ;))

 

[devieriana]

ilustrasi dipinjam dari sini & foto koleksi pribadi

 

Continue Reading

Tentang basa-basi

basa-basi

“PING!!!”

Blackberry saya bergetar sesaat setelah sebuah ping mendarat di bbm. Sekilas tampak di layar Blackberry saya terbaca nama seorang teman kantor yang lama. Tumben nih sampai nge-PING!!! segala, pikir saya. Jujur sebenarnya saya kurang suka di-PING!; atau ada percakapan yang didahului dengan sebuah ‘PING!!!’ . Sama seperti fungsi ‘BUZZ!’ di Yahoo! Messenger, sebenarnya fungsi ‘PING!!!’ itu seperti menarik perhatian bbm contact atau menyolek. Kalau saya sih mengumpamakannya lebih ekstrim lagi, di-PING!!! itu seperti diteriaki. Memang tidak ada aturan pasti yang mengatur tentang penggunaan ‘PING!’ di bbm; tapi mungkin lebih ke etika, ya?

Ok, kembali lagi ke bbm si teman. Dengan setengah hati bbm berisi ‘PING!!!’ itu saya baca tanpa antusiasme untuk membalas, sampai akhirnya dia menyapa setelah tahu ‘PING!!!’ yang dikirimnya saya baca.

“Hei, Devi… apa kabar? Long time no see, ya? :)”
“Alhamdulillah baik… Apa kabar, Kak? :)”
“Aku baik juga… Tambah ok aja nih… Eh, sekarang kamu kerja di mana sih, Dev?”
“Masih di tempat yang kemarin kok, Kak. Belum pindah…”
“Oh, masih di seputaran Istana? :D”
“Masih… Hmm, ada perlu apa Kak, kok tumben bbm aku siang-siang gini?”
“Hehehe… emang kalo bbm siang-siang itu pasti ketahuan ada perlunya, ya?”
“Ya, mungkin… Kan tumben-tumbenan nih Kakak bbm aku :)”
“Hehe, iya sih… sebenernya gini lho Dev… aku kan lagi buka usaha… bla-bla-bla…”

Dan, lalu mengalirlah cerita tentang usaha barunya berniaga makanan ringan dan kuliner siap saji, sampai ke cerita bisnis online baju anak/dewasa. Saya menyimak dengan seksama sambil mengira-ngira ke manakah obrolan ini akan bermuara; walaupun sebenarnya sangat mudah untuk ditebak sih.

“Nah, trus gini Dev… Aku tuh mau nanya, kira-kira nih, kalau aku mau mengajukan penawaran kerja sama ke kantor kamu gimana, ya?”

See? Benar kan dugaan saya? Duluuu sekali,  saya belum berani menjadikan ini sebagai sebuah teori. Tapi lama-lama, ketika banyak orang yang melakukan hal yang sama, kok saya jadi ingin berteori:

“ketika ada seorang teman lama yang sudah sangat lama sekali tidak saling kontak/berhubungan (tapi sebenarnya dulunya pun kita tidak terlalu akrab) tiba-tiba menghubungi, pasti ada sesuatu di balik basa-basinya.”

Ok, mungkin teori saya ini belum sepenuhnya valid, tapi mengingat sering kejadian begitu, jadi biarkan sementara teori ini berlaku untuk saya sendiri ;))

Bukan cuma sekali dua kali teman-teman lama tiba-tiba meng-invite bbm dan menghubungi lagi, tapi ujung-ujungnya ada maksud dan tujuan tertentu. Frankly, sebenarnya saya nggak keberatan kok; selama bisa saya bantu pasti saya bantu, selama saya tertarik dengan kegiatan yang mereka ajukan saya juga pasti akan antusias. Tapi kalau ternyata nggak bisa, ya mohon maaf lahir batin ajalah ya 😀

Uniknya lagi, pola mereka ini kok ndilalah sama. Ketika ada butuhnya mereka dengan intensif menghubungi dan dengan ramah mengajak ngobrol untuk mencari informasi. Tapi setelah informasi yang mereka butuhkan itu didapat serta merta mereka menghilang bak ditelan bumi; sama sekali tidak menghubungi kembali 😕

Bahkan dulu ada seorang teman yang secara terang-terangan saya omeli gara-gara masalah ini. Gara-garanya sih sama, setelah menanyakan kabar, puja-puji dan basa-basi ini itu, dia pun meminta info yang dia butuhkan dan setelah itu… daaagh… :-h

Saya: “Oh, jadi tadi nanya kabarku itu sebenernya cuma mau tanya gimana prosedur mahasiswa kalau mau Praktik Kerja Lapangan di kantorku prosedurnya gimana, gitu? [-(“

Teman: “Yah, Devi… bukan gitu :(. Jangan marah, ya. Maaf, ini aku sambil nyetir. Nanti deh, kita ngobrol lagi, ya :)”

Dan menyetirnya pun sepertinya membutuhkan berbulan-bulan lamanya, entah menyetir ke mana. Maksudnya setelah percakapan itu beliaunya nggak ada kabar lagi gitu. Ah, mungkin dia sedang dalam perjalanan ke Timbuktu :-”

Kalau saya pas lagi butuh info ke teman sih biasanya malah nggak pakai basa-basi tanya kabar dan memuji sana-sini, langsung to the point tanya informasi yang saya butuhkan. Lho, sebenarnya ini malah lebih kurang ajar lagi, ya? ;)). Tapi setelah itu komunikasi ya jalan terus, bukan kalau pas lagi saya ada butuhnya saja saya ngobrol sama mereka gitu 😀

Anyway, pernah punya pengalaman yang sama, atau cuma saya sendiri yang sering mengalami kejadian seperti ini? 😀

 

[devieriana]

 

ilustrasi dipinjam dari sini

Continue Reading
1 8 9 10 11 12 44