Menulis saja…

shakespeare-blog-cartoon

Jujur, saya sering iri melihat teman-teman yang punya banyak kegiatan, punya banyak pengalaman yang berhubungan dengan banyak orang, punya pengalaman mengelola sebuah kegiatan, teman yang sering bepergian ke dalam negeri atau ke luar negeri entah itu untuk berlibur atau dalam rangka dinas. Hmm, sudah se-desperate itukah hidup saya sampai saya harus iri dengan kehidupan orang lain? Hehehe, bukan begitu.

Saya punya beberapa teman pramugari yang sering berbagi foto dan ceritanya di group whatsap/bbm. Foto-foto ketika dia singgah di sebuah kota/negara, ketika dia berkesempatan mampir di sebuah tempat tertentu, foto ketika dia menikmati suasana/makanan khas daerah yang disinggahi itu, menceritakan segala excitement sekaligus kekesalan yang dia rasakan pada kami. Intinya cerita tentang apapun. Nah, irinya saya bukan karena kenapa saya tidak jadi pramugari, tapi iri karena dia sebenarnya punya banyak cerita yang bisa ditulis di blog baik itu dalam bentuk foto atau tulisan, daripada cuma di-share di whatsap/bbm dengan kami. Pengalamannya pergi ke banyak negara dan berbagai kota/benua, bertemu dengan banyak orang, merasakan perubahan suasana dari satu tempat ke tempat yang lain, menikmati berbagai suguhan khas di sebuah kota/negara, merupakan sebuah pengalaman yang tidak semua orang berkesempatan mengalami.

Saya juga punya teman-teman yang sering terlibat dalam penyiapan sebuah acara/forum kegiatan internasional yang melibatkan para pemimpin negara. Buat saya itu juga menarik untuk diabadikan dalam sebuah tulisan, karena tidak semua orang bisa punya kesempatan mengelola sebuah kegiatan tingkat internasional, tidak semua bisa merasakan adrenaline rush ketika detik-detik penyelenggaraan acara sudah semakin dekat, tidak semua bisa merasakan bagaimana pusingnya mereka ketika ada masalah di lapangan dan bagaimana mereka harus segera mengambil keputusan supaya acara kembali berjalan normal.

Sebenarnya ada banyak topik yang bisa menjadi bahan tulisan di blog. Tidak harus berawal dengan kejadian-kejadian besar yang epic. Banyak hal sederhana dari keseharian kita pun bisa dijadikan tulisan di blog. Cuma kadang saya yang sering kurang peka menangkap sebuah ide untuk dijadikan topik tulisan, dan lebih sering beralasan, nantilah, belum ada ide nulis, nih. Sayangnya teman-teman saya yang punya banyak kejadian menarik tadi juga belum tertarik untuk mengabadikan semua kegiatannya itu ke dalam bentuk tulisan dengan alasan tidak ada waktu, sibuk, ribet, dan alasan aku nggak tahu harus mulai menulis dari mana.

Seperti halnya usia manusia yang punya batas, usia profesi pun ada batasnya. Kita tidak selamanya akan berada di posisi yang sama dan mengerjakan pekerjaan yang sama, ada saatnya kita mungkin berpindah tempat kerja, menjalani pekerjaan yang berbeda dengan sebelumnya, dan mengalami hal-hal baru lainnya. IMHO, sebuah blog/photoblog bisa jadi sarana untuk mendokumentasikan semua kegiatan kelak ketika kita sudah tidak lagi aktif terlibat dalam pekerjaan/kegiatan itu.

Sama seperti seorang teman yang mendokumentasikan semua proses hidupnya sejak dia masih single, menikah, hamil. detik-detik melahirkan, hingga akhirnya sekarang Si Kecil sudah bisa berlarian ke sana ke mari. Semua sengaja direkam rapi olehnya dalam bentuk tulisan. Alasannya:

Aku kan bukan public figur yang otobiografinya bisa dibaca oleh siapa saja, Devi. Salah satu tujuanku nulis di blog ya biar aku punya dokumentasi hidup. Biar nanti kalau anak-anakku sudah gede, sudah bisa baca, mereka bisa lebih tahu/kenal ibunya lewat blog. Mereka bisa baca gimana kehidupan ibunya sebelum mereka ada. Gimana kehidupan setelah kedua orang tua mereka menikah. Gimana kehidupan setelah mereka ada, dan apa saja perubahannya. Sederhana saja, aku pengen punya biografi online yang bisa dibaca sama anak-anakku kelak. Syukur-syukur kalau ternyata ada topik yang berguna buat pembaca yang lain. Itu juga kalau ada, hehehe…

Sama seperti dia, awal mula saya menulis di blog selain ingin menyalurkan kelebihan energi dan ide yang sering berlompatan di kepala, alasan lainnya karena ingin punya dokumentasi tentang apa yang terjadi di hidup saya, kegiatan apa saja yang pernah saya lakukan, dan apa saja yang pernah saya pikirkan di suatu waktu. Walaupun tidak semua hal sempat saya ingat dan bisa langsung saya tuangkan dalam bentuk tulisan, tapi inti mengapa saya menulis di blog adalah karena waktu tidak bisa ditarik ke belakang, dan otak punya kapasitas memori yang terbatas untuk menyimpan dan mengingat semua hal.

Ada juga yang menarik dari hasil ngobrol dengan seorang teman dalam perjalanan pulang beberapa hari yang lalu,

Mbak, aku tuh sering baca blog kamu, dan tahu nggak, itu bikin aku menyesal. Menyesal kenapa aku nggak nulis sejak dulu. Ada banyak kejadian luar biasa dalam hidupku beberapa waktu ini baik dari segi pekerjaan atau pribadi. Tapi aku lebih sering melewatkan itu karena bingung sendiri, aku harus menulis topik yang mana dulu? Gimana cara mengawalinya? Lagi pula kejadiannya sudah terlanjur terlewat jauh.

Tidak ada kata terlambat asalkan kita mau. Kalau mau memulai menulis ya sudah menulis saja. Topik yang mana dulu? Ya mana saja yang paling diingat. Tidak ada aturan yang mengharuskan seseorang menulis di blog itu harus begini/begitu. Tidak ada peraturan yang mewajibkan sebuah postingan di blog itu reverse atau chronological. Mau menulis saat itu juga dan langsung di-publish, silakan. Atau mau di-back date biar tulisannya terkesan aktual sesuai dengan waktu kejadian? Monggo. Atau kalau sedang banyak ide dan ingin disimpan dulu untuk di-publish nanti (scheduled post)? Tidak ada yang melarang kok. Bebas!

And by the way, everything in life is writable about if you have the outgoing guts to do it, and the imagination to improvise. The worst enemy to creativity is self-doubt.

Sylvia Plath

 

 

[devieriana]

 

Ilustrasi dipinjam dari sini

Continue Reading

Welcome, supershort haircut!

hair-cutSebenarnya sudah lama saya ingin punya rambut pendek lagi pascamenikah. Dulu, rambut saya hampir selalu pendek; kurang lebih seperti rambut Demi Moore di film Ghost. Rasanya lebih ringan dan cenderung nggak ribet kalau punya rambut segitu. Nggak perlu waktu lama untuk menata rambut, bahkan disisir pakai tangan saja rasanya sudah terlihat stylish. Dasar pemalas! :mrgreen:

Terakhir punya rambut cepak sekitar tahun 2007, setelah itu selalu ‘gondrong’; paling pendek sepanjang bahu, itu pun kalau ingin potong rambut lebih pendek lagi izinnya akan lebih ribet daripada pengurusan KTP. Jadi ya sudahlah daripada urusannya panjang, mendingan sementara saya pendam dalam-dalam keinginan saya untuk berambut cepak lagi. Karena toh rambut panjang pun masih bisa dibikin stylish dengan model curly di ujungnya, diluruskan, diikat/kepang, dibikin pony tail, digelung, dll; hibur saya dalam hati. Jadi, begitulah gaya rambut panjang saya dalam beberapa tahun terakhir ini.

Setiap kali melihat perempuan berambut pendek, rasanya gatal ingin potong rambut segitu juga. Tapi kalau melihat sudah sepanjang apa rambut yang saya punya kok jadi agak sayang ya. Rambut saya jarang dipotong, pergi ke salon cuma untuk keperluan treatment atau sekadar merapikan model potongannya saja. Kebayang kan seberapa panjang rambut yang saya punya? Iya, panjang banget! *lebay* . Nggak ding, kurang lebih sepingganglah kalau dicatok lurus 😆 Pertimbangan lainnya mengapa saya begitu ‘ngidam’ punya rambut pendek, karena rambut saya mulai banyak yang rontok. Beruntung saya memiliki helaian rambut yang tebal, jadi serontok-rontoknya rambut saya masih terlihat banyak dan megar. Padahal kalau sedang menyisir ya lumayan merasa ngenes juga melihat jumlah helai rambut yang rontok dari kulit kepala saya :(.

Nah, entah ada angin apa, tiba-tiba saya mendapat izin untuk potong rambut. Yaaaay! Mungkin dia lama-lama jengah juga tiap mendengar kata-kata saya ingin punya rambut pendek. Jadi ya sudahlah, terserah deh, rambut-rambut kamu ini. Yess! Kesempatan ini saya manfaatkan dengan maksimal. Akhirnya dengan kemantapan hati yang nyaris 1000% ditambah dengan rasa deg-degan yang lumayan lebay, saya melangkahkan kaki menuju ke salah satu salon di Pejaten Village, Jakarta Selatan.

Kenapa pakai deg-degan segala? Ya karena saya sudah terbiasa melihat diri sendiri dengan tampilan rambut panjang; dan dalam beberapa waktu ke depan saya harus siap melihat hal yang akan mengubah keseluruhan penampilan saya. Itu juga kalau hasilnya bagus, kalau ternyata kapsternya salah potong model rambut dan saya kembali berpenampilan seperti mbak-mbak Briptu seperti dulu, bagaimana? 😐

Setelah memutuskan di salon mana rambut saya akan ‘dibantai’, akhirnya di sinilah saya, duduk di kursi customer, siap untuk dieksekusi.

“Ok, ini rambutnya mau digimanain? | Dipotong pendek 😀 | Ok, seberapa pendek? *sambil memegang dan mengurai rambut saya yang masih tergelung pakai jepit rambut* | Hmm,  kalau sependek rambutnya Fenita Arie, bagus nggak? :mrgreen:  | What, serius? Bagus sih, tapi ini rambutnya panjang banget lho. Yakin mau dipotong sependek itu? 😮 | Iya 😀 | Baru kali ini nih saya dapat customer yang ditanya pengen potong rambut sependek apa dan dia yakin potongnya langsung pendek banget. Biasanya sih selalu ada kata-kata, “jangan pendek-pendek ya, Mas”. Kalau Mbak minta langsung cepak. Ya udah, tunggu sebentar, aku ambil karet gelang ya… :)”

Mas kapster itu mengambil karet gelang di meja receptionist, mengikat rambut saya, dan… “Kress! Kress! Kresss!”, suara gunting terdengar begitu dekat di telinga, memangkas rambut panjang saya.

“Ok, ini rambut Mbak. Mau dibawa pulang? | Oh, boleh ya? | Ya bolehlah, lagian di sini juga buat apa, nanti juga dibuang… | Yah, jangan dong kalau dibuang, ya udah deh, sini buat aku lagi! :lol:”

Selanjutnya, dia basahi rambut saya ala kadarnya dan dengan cekatan rambut saya pun ‘disulap’ sedemikian rupa tanpa banyak komentar kecuali, “rambutnya tebel juga ya…” Dalam hitungan tak kurang dari 15 menit penampilan rambut saya pun berubah.

Dengan perasaan excited saya mengacak-acak rambut yang baru saja selesai dipotong itu. Inilah model rambut yang saya saya inginkan selama beberapa tahun terakhir ini. Setelah melalui beberapa tahap ‘pengolahan’, tibalah pada saat finishing touch.

Voila!

devi short

Sepertinya mas kapster ini tahu betul apa yang saya mau. Tanpa perlu saya beri arahan tertentu, dia sudah langsung memberikan model rambut seperti yang saya inginkan 😀

Reaksi teman dan keluarga melihat saya berubah tatanan rambut tentu saja beragam, tapi sejauh ini masih positif, walaupun pertanyaan, “nggak sayang tuh rambut sepanjang itu dipotong jadi sependek itu?” selalu menyertai hampir di setiap komentar.

Entah apa komentar teman-teman kantor saya besok, karena kami belum bertemu sejak hari Sabtu; kan ada Senin ada cuti bersama menjelang Idul Adha :mrgreen:

So, welcome back my supershort haircut!

[devieriana]

 

ilustrasi dipinjam dari sini dan pribadi

Continue Reading

Balada Cincin Berlian

diamond ring

Di suatu siang, di tengah kesibukan saya menyelesaikan berkas yang menumpuk di meja, tiba-tiba smartphone saya berbunyi lirih. Sepintas terlihat nama seorang teman dari biro sebelah. Hmm, tumben dia bbm; biasanya jarang banget kalau nggak ada perlu/nanya sesuatu 😀

Teman: Hei, Mbak… Kamu suka cincin, nggak?

Saya: Hmm, suka… Aku suka pakai aksesoris-aksesoris gitu. Cincin apaan?

Teman: Nah, kalau gitu kebetulan banget dong, aku ada cincin berlian nih, Mbak. Mbak mau nggak? hehehe….

WHAT?! Siang-siang begini tiba-tiba ditawari cincin berlian? 😮

Saya: Bentar, bentar, kamu ini nanya, mau ngasih, apa mau jualan? :mrgreen:

Teman: Hihihihihik, mbak mau liat nggak? Ada sertifikatnya kok, Mbak….

Saya: Wah, jualan nih kayanya 😆

Teman: Kinda, Mbak :lol:. Ya, namanya nyoba bisnis kecil-kecilan, Mbak…

Saya: Kalau bisnis berlian aja disebut bisnis kecil-kecilan, gimana bisnis gede-gedeannya? Jual langsung di tambangnya kaya grosiran gitu? 😆

Teman: Cuma bantuin bisnisnya mertua aku, Mbak…

Saya: Kamu tuh, mbok ya kalau nawarin berlian itu ke ibu-ibu deputi, Bu Menteri, atau ibu-ibu pejabat lainnya gitu. Nawarin berlian kok ke staf Kepala Biro. Udah gitu nawarinnya nggak pakai kira-kira, yang paling gede pula berliannya 😆

Teman: Hahahahak, kemarin aja aku bawa 6 buah ke kantor, cuma sisa 1 yang paling besar dan paling bagus. Menurutku sih modelnya ok banget!

Saya: Laris amat? 😮 Emang harganya berapaan sih? Bisa dicicil lewat koperasi, nggak? :mrgreen:

Teman: Murah kali, Mbak. Dari mertua aku harganya 22,5 juta. Mbak mau ambil berapa? Buat mamanya Mbak juga gapapa, kok. Kemarin aku bawa cincinnya lengkap, tapi aku lupa mau nawarin ke Mbak 😀

Eh, buset dah ya, demi apa siang-siang begini ditawari cincin berlian seharga dua puluh dua setengah juta? Habis beli berlian trus saya harus puasa, gitu? 😮

Iseng saya cerita ke salah satu teman di kantor yang kebetulan mengurusi masalah simpan pinjam di kantor, beliau komentar,

“Kan kalau pinjaman yang kemarin di-approve masih ada kembaliannya tuh, Dev. Udah, beli aja! Cuma 22,5 juta ini! :mrgreen:”

Hih, kompor!

Lain lagi dengan komentar salah satu teman saya yang pecah tawanya seketika mendengar saya ditawari cincin berlian seharga 22,5 juta itu.

“Nah, berarti menurut dia kamu itu potential customer, Mbak….”

Oh, gitu ya? Jadi gimana? Perlu nge-print duit sekarang nggak nih?
😆

 

[devieriana]

 

ilustrasi dipinjam dari sini

Continue Reading

Ekspresi(f)

expression

Pernah memperhatikan gaya dan ekspresi kita/orang lain sewaktu berbicara, nggak? Kalau saya sih selalu. Saya sering diam-diam memperhatikan lawan bicara saya ketika bicara atau menjelaskan sesuatu. Ternyata gayanya bermacam-macam; ada yang sangat ekspresif, biasa saja, tapi ada juga lempeng banget (nyaris tanpa ekspresi).

Saya termasuk orang yang cenderung ekspresif ketika berbicara, mungkin sudah settingannya seperti ini sejak kecil. Bukan hanya ketika ngobrol dengan sesama orang dewasa saja, tapi ke anak-anak kecil pun gayanya juga sama. Di rumah sering ada anak-anak kecil, entah keponakan atau anak tetangga. Kalau sedang bermain/ngobrol/membacakan buku dongeng saya sering berekspresi aneh-aneh menyesuaikan tema obrolan/cerita saat itu. Mereka sontak menatap saya sambil terlongong-longong. Tapi begitu saya selesai bicara mereka seperti tersenyum lega. Entah lega karena saya akhirnya selesai bicara, atau ada yang lucu dengan kata-kata atau ekspresi saya. Semoga mereka nggak menganggap saya aneh, ya…

Kurang lega rasanya kalau menceritakan sesuatu secara lurus-lurus saja, tanpa ada penekanan kata, ekspresi, dan gerakan tangan. Bahkan untuk menyatakan kata ‘jauh’ atau ‘banyak’ saja rasanya kurang mantap kalau cuma bilang, “rumahnya jauh banget’. Jadi harus ditekankan lagi “rumahnya tuh, gila… jauhhhh banget!”. Itu untuk menggambarkan waktu tempuh yang berjam-jam dan jarak tempuh yang berkilo-kilometer jauhnya. Pun halnya dengan menceritakan jumlah; kalau sekadar bilang ‘banyak’ atau ‘sedikit’ tanpa ada penekanan kata rasanya belum lega. Itu belum dengan gerakan tangan yang ke mana-mana, ekspresi wajah yang sedemikian rupa, dan masih harus ditambah dengan pembedaan warna suara dan ekspresi kalau sedang bercerita tentang karakter orang lain. Heboh, ya? Iya! 😆

Sebaliknya, saya punya teman yang kalau bercerita ekspresi mukanya datar saja. Untuk menggambarkan rumah yang jauh tidak ada pembedaaan antara jarak yang cukup jauh dan jauh banget. Pun untuk menggambarkan perasaan sedih, senang, gembira, dan takut, cuma ada satu level ekspresi. Lempeng banget.

“Aku kemarin abis kecopetan di bus dong, Dev”

Kok pakai ‘dong’, ya? Kesannya abis kecopetan kok sombong amat? :mrgreen:

“Hwaaa… trus, trus?”

“Ya udah, mau gimana lagi? Aku lagi lengah, kali”

“Yah, kasian :(. Trus?”

“Ya sedih sih, tapi mau gimana lagi, namanya juga musibah. Pelajaran, harus lebih hati-hati lagi. Habis ini mau ke kantor polisi, mau bikin surat kehilangan”

Semua itu diceritakan dalam nada dan ekspresi yang datar, lurus, dan biasa saja. Kalau diibaratkan dengan handphone, mungkin dia adalah sejenis HP monophonic. Tapi memang sejak dulu gaya berbicaranya setelannya sudah seperti itu sih. Dia memang bukan tipikal orang yang butuh ekspresi berlebihan ketika menceritakan sesuatu. Padahal kalau saya mungkin sudah sambil kayang dan salto segala.

Begitu juga ketika menjelaskan tentang rute menuju suatu tempat. Nggak ada tuh yang namanya tangan berbelok-belok, lurus, naik, turun, melebar/menyempit. Penggambaran lewat tangannya hanya berhenti di satu titik saja; di tengah. Entah itu mau lurus, belok kanan/kiri, naik, turun, posisi tangannya hanya bergerak di titik itu saja. Berbeda dengan saya yang kalau bercerita tentang rute menuju ke sebuah tempat bisa sambil saya gambar di udara/tanah. Berasa main dam-daman…

Seperti ketika saya menceritakan ulang tentang betapa ribetnya seorang penumpang pesawat di sebelah saya, yang sepanjang perjalanan dari Jakarta ke Surabaya sibuk sendiri itu juga saya peragakan di depan teman-teman saya lho. Mulai dari dia mengeluarkan permen, mengeluarkan roti. Makan sebentar, lalu mengeluarkan buku. Benerin jilbab. Mengalungkan tas ke leher. Tasnya diilepas lagi lalu dipangku. Mengeluarkan obat batuk, dibuka tutupnya, nggak jadi diminum. Memasukkan lagi obat batuknya ke dalam tas. Memasukkan buku di saku tas belakang. Resleting tasnya ternyata nggak bisa ditutup, tas dibuka lagi, buku dikeluarkan, ditekuk jadi dua, ternyata tetap nggak bisa masuk. Buku dimasukkan ke dalam tas plastik. Diam sebentar, mengeluarkan permen, nawarin ke tetangga kiri/kanan, nggak ada yang mau, permen dimasukkan kembali ke dalam tas. Batuk-batuk, tutupin pakai syal. Buka tas lagi, mengeluarkan buku yang tadi, dan bermaksud untuk dibaca. Belum ada satu halaman sudah ngobrol sama teman di kursi sebelah. Lipat lagi bukunya… dst. Sampai akhirnya tiba di Surabaya..

“Liat kamu cerita kenapa aku jadi ikut capek ya, Dev…”

Ih, situ baru denger saya cerita aja capek. Gimana saya yang mengalami langsung.

Bagaimana dengan gaya bercerita/berkomunikasi kalian? Ekspresif, biasa saja, atau cenderung tanpa ekspresi? 😀

 

 

[devieriana]

 

ilustrasi dipinjam dari sini

 

Continue Reading

Serius pengen jadi PNS?

applicant job

Sejak pembukaan lowongan CPNS mulai digelar, ada banyak sekali perbincangan di social media seputar alasan mengapa ingin menjadi PNS. Geli sendiri baca berbagai alasannya. Ada yang bilang ingin jadi PNS biar kerjanya santai, ada juga yang bilang biar bisa (disambi) mengerjakan hal lainnya, atau biar dapat pensiun seumur hidup, dan ada juga lho yang bilang kepuasan pribadi. Jiyeee, serius kerja jadi PNS demi kepuasan pribadi? 😉

Terlepas dari apapun alasan seseorang ingin bekerja sebagai PNS, pun pendapat lainnya tentang positif negatifnya menjadi PNS, di setiap tahun begitu lowongan seleksi CPNS dibuka ada ribuan pelamar dari seluruh daerah yang mencoba mengisi posisi yang disediakan, walau harus bersaing dengan ribuan pelamar lainnya hanya untuk memperebutkan 1-2 posisi saja. Demi mengikuti seluruh prosedur yang dipersyaratkan, mereka pun rela datang ke lokasi tes walaupun itu jauh. Seperti misalnya di pelaksanaan seleksi CPNS tahun lalu, ada peserta yang datang dari Papua juga lho.

Bersama mereka yang berusaha di jalur ‘normal’, banyak juga yang berusaha mencari ‘kesempatan’ karena merasa punya jabatan, dan atau pernah punya jabatan. Mereka sama gigihnya berusaha mencari ‘celah’ agar bisa memasukkan anggota keluarganya menjadi PNS, mulai dari membawa-bawa nama orang tua, nama pejabat/Presiden zaman tahun kapan, bahkan ada lho yang sampai membawa berkas almarhum kakek/neneknya biar kami yakin bahwa mereka masih kerabat seorang pejabat. Sampai segitunya, ya? 🙂

Seperti halnya siang itu, ketika saya tengah berkutat dengan beberapa berkas pekerjaan, dari arah pintu masuk terlihat seorang perempuan setengah baya, membawa tas tangan, pakaiannya modis, berkerudung, dan wajahnya hanya disapu make up tipis. Cantik natural. Dia datang bersama seorang pria yang usianya sekitar dua puluhan, mungkin putranya.

Dengan sopan beliau menjelaskan maksud kedatangannya ingin bertemu dengan pimpinan saya, tapi berhubung Bapak sedang Diklatpim maka saya coba membantu menanyakan hal-hal standar yang mungkin bisa dibantu oleh pejabat lain yang berwenang. Ya biasalah, tamu kan sering begitu, kurang percaya dengan staf, inginnya bertemu langsung dengan pimpinan, padahal sebenarnya bisa ditangani oleh staf.

Beliau mulai mengeluarkan setumpuk berkas dari dalam amplop plastik berwarna pink. Beberapa di antara berkas itu warnanya sudah menguning; sepintas saya melihat ada goresan tanda tangan mantan Presiden Soeharto di sana. Awalnya saya masih belum ‘ngeh’ dengan maksud beliau menunjukkan sekian banyak berkas pada saya. Sampai akhirnya beliau mulai bercerita tentang siapa dia dan apa maksud kedatangannya ke kantor saya.

Sambil mendengarkan penjelasan ibu itu, selintas saya melirik ke tempat di mana seorang pria muda yang tadi datang bersama Ibu itu duduk. Dia tampak sedang sibuk memainkan smartphone-nya.

“Papa saya dulu pejabat di sini lho, Mbak. Beliau stafnya Pak Solihin G.P, dulu kantornya di Bina Graha. Oh, mungkin Mbak belum lahir ya? Dulu Papa saya itu orang kepercayaannya Bapak (Presiden). Mama saya apalagi, beliau itu aktif mengikuti semua kegiatan kantor ini. Saya juga dulunya penari dan MC di Istana, Mbak. Saya sering nari di depan Pak Harto dan Bu Tien. Makanya, saya ke sini mau mengajukan berkas lamaran CPNS untuk anak saya. Kan pasti ada dong jatah buat keluarga besar kantor ini. Iya, kan?”

Sampai di sini saya bengong. Di saat yang sama rasanya ingin menepuk pipi saya sendiri, supaya sadar kalau saya tidak sedang hidup di Orde Baru.

“Mohon maaf Bu, saat ini untuk seleksi dan pendaftaran CPNS semua dilakukan secara online. Jadi bukan lagi dengan melampirkan berkas fisik :)”

“Iya, saya tahu. Makanya, saya mau ketemu sama Pak Kepala Biro aja, saya mau ngobrol langsung sama beliau. Setahu saya sih ada lho instansi-instansi yang sengaja memberi ‘chance’ buat keluarga pegawai atau mantan pegawai untuk menjadi PNS di instansi yang sama. Apalagi Papa saya dulunya pejabat lho, Mbak…”

Kata-kata ‘pejabat’, ‘papa saya’, beserta sederet kegiatan dan jasa yang pernah dilakukan oleh keluarga beliau di masa lalu mulai berhamburan sekadar untuk meyakinkan saya bahwa beliau pernah sangat dekat dan punya ikatan yang kuat dengan instansi tempat saya bekerja, sehigga puteranya dianggap layak mendapatkan hak istimewa untuk menjadi PNS melalui ‘jalur khusus’.

“Ok, kalau cuma ikut tes mah anak saya pasti bisalah. Dia sudah biasa ikut tes-tes seleksi semacam itu. Yang penting kan ‘tahap setelah seleksi’ itu, kan? Kalau soal ‘itu’ sih saya yang akan bicara secara pribadi dengan Pak Karo. Trus, kalau mau daftar ke mana sih, Mbak?”

Di tengah ketertegunan saya melihat usaha gigih beliau, Ibu itu memanggil puteranya untuk mencatat website yang akan saya diktekan.

“Sini, Yang… Coba dicatat dulu alamat website-nya…”

“Aku udah tahu, Ma. Aku udah pernah cek, tapi belum ada infonya…”

Saya pun menjelaskan kalau memang info dan pendaftarannya belum dibuka. Tapi nanti kalau sudah ada infonya pasti akan di-upload di website yang bisa diakses oleh semua calon pelamar.

“Oh, gitu… Ya udah, syarat-syaratnya aja deh. Biasanya syaratnya apa aja sih? Biar nanti disiapkan sama anak saya…”

“Untuk persyaratan tahun ini kami belum ada informasi resminya, Bu. Karena memang belum ada informasi dari Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi. Ini persyaratan yang tahun lalu ya, Bu. Usia pelamar maksimal 28 tahun, IPK minimal yang kami persyaratkan adalah 3,00, melampirkan scan transkrip nilai, dan ijazah terakhir. Itu saja. Selanjutnya nanti seluruh pelamar yang memenuhi syarat akan kami panggil untuk verifikasi berkas, dan….”

“Sebentar, sebentar… emang IPK minimalnya harus 3,00 ya? Wah…, berarti anak saya nggak bisa ikut tes, dong? IPK anak saya cuma 2,74. Eh, tapi… sebenarnya dia itu IPK-nya di atas 3,00 lho, Mbak. Kenapa IPK-nya jadi cuma segitu itu karena dia kena tipes. Bener lho, Mbak. Anak saya itu pinter, cuma karena sakit aja nilainya jadi jelek…”

Ibu itu berusaha meyakinkan saya bahwa sebenarnya putranya itu pintar, dan IPK yang tidak mencapai 3,00 itu bukan 100% ‘kesalahan’ putranya, tapi lebih dikarenakan kondisi kesehatan. Padahal sebenarnya tidak ada yang ‘salah’ dengan IPK 2,74 , namanya kemampuan orang kan beda-beda, karena saya pernah punya teman yang IPK-nya ‘nasakom’, alias Nilai (IPK) Satu Koma. Tapi demi menghormati beliau saya menanggapi secukupnya dengan mengangguk paham sambil tersenyum sopan.

Lalu mengalirlah cerita bahwa sebenarnya putranya sudah bekerja di salah satu firma hukum sebagai seorang Pengacara. Dalam hati saya heran, “lah, bukannya menjadi Pengacara itu sudah yang bagus, ya?” Alasan beliau mengusahakan agar putranya bisa bekerja sebagai PNS di instansi tempat saya bekerja karena almarhum kakeknya (ayah ibu itu) pernah bekerja sebagai staf kepercayaan di Istana, dan kebetulan ibu itu dulu juga pernah aktif sebagai penari dan MC di Istana. Jadi apa salahnya kalau sekarang pria muda yang berdiri tegap di sebelahnya ini meneruskan pekerjaan/karir yang sama dengan almarhum kakeknya. Saking speechless-nya, lagi-lagi saya cuma bisa tersenyum mafhum.

Ketika saya ceritakan ini pada sahabat saya dia cuma nyengir,

“I don’t want to prejudice, but she’s a good mom. Semoga pas waktunya anakku kerja I don’t have to do that. It’s a hard job for parents to make kids stand on his own…”

Saya selalu bilang ke junior-junior saya, bahwa bekerja itu tidak harus menjadi seorang pegawai negeri. Kalau memang tujuannya mencari gaji dan tunjangan yang besar solusinya bukan jadi PNS, tapi bekerjalah di swasta atau jadi pengusaha sekalian. Kalau soal menyambi sih, tergantung bisa-bisanya kita membagi waktu saja sih; dulu waktu saya masih bekerja di swasta juga bisa mengerjakan pekerjaan yang lain kok. Kalau hal-hal lain seputar stigma PNS sih saya sudah tidak terlalu kagetlah ya. Soal stigma itu masalah klise. Mengubah stigma itu tidak mudah, apalagi yang sudah tertanam bertahun-tahun. Jadi, soal stigma itu saya anggap cuma soal ‘sawang sinawang‘; soal perspektif saja.

Banyak lho PNS yang memutuskan untuk resign setelah menjalani karir sebagai PNS, dan memilih untuk bekerja sebagai pegawai swasta/BUMN karena setelah dijalani ternyata jiwa mereka sebenarnya bukan sebagai PNS.

Sesungguhnya esensi sebuah pekerjaan adalah ketika pekerjaan itu punya ‘nyawa’ bagi yang menjalaninya.

Jadi, serius masih minat jadi PNS? :p

 

[devieriana]

 

ilustrasi dipinjam dari sini

Continue Reading