Work-Life Balance

life balance

Pada sebuah sore di penghujung tahun 2014, di menjelang jam pulang kantor, Kasubbag saya terlihat sibuk mondar-mandir dari kubikelnya ke ruang Kabag, tak lama lalu ke ruang Deputi, dan lalu ke ruang Kepala Biro, sambil membawa selembar berkas. Saya sendiri masih sibuk berkutat dengan setumpuk berkas surat yang harus diinput dalam aplikasi persuratan elektronik.

Tak lama kemudian dia mampir ke kubikel saya sambil menjentik-jentikkan jarinya ke arah surat yang dia bawa. “Gua harus cari yang qualified, nih!”. Saya menoleh sebentar ke arahnya, “(Ada) apaan sih, Kak?”. Dia cuma manggut-manggut nggak jelas sambil membawa kembali, “Nggak apa-apa, nanti deh…”.

Sambil agak bengong saya kembali fokus dengan setumpuk berkas yang tadi. Kasubbag saya itu lalu kembali ke kubikelnya, mengetik sebentar dan tak lama kemudian terdengar printer yang sedang mencetak dokumen. Dan setelahnya, dia segera bergegas ke ruang Deputi lagi.

Waktu sudah menunjukkan pukul 17.05 wib. Ruangan sudah mulai sepi karena memang sudah lewat jam pulang kantor pukul 16.00 wib. Tapi masih ada beberapa pegawai yang masih ada di ruangan karena lembur, termasuk saya. Kasubbag saya kembali mendatangi kubikel saya, menyeret kursi di sebelah saya, dan melontarkan pertanyaan ini:

“Kak, kamu mau nggak jadi Sekretarisnya Bu Menteri?”

“Hah? Bu Menteri siapa?”

Pikiran saya mendengar kata-kata ‘Bu Menteri’ kok langsung mengarahnya ke Menteri Susi Pudjiastuti ya; padahal perempuan yang menjabat sebagai menteri kan bukan cuma beliau ya. Tapi entahlah mungkin karena sosok Bu Susi terlalu kuat dan populer, sehingga kalau ada yang menyebut kata ‘Bu Menteri’, asosiasinya langsung ke beliau. Kembali lagi ke tawaran yang tadi, So, so, kalau jadi saya jadi Sekretarisnya Bu Menteri Kelautan dan Perikanan, berarti saya mau dimutasi ke sana, gitu? Pikir saya.

“Bu Menteri, Bu Menteri… Isterinya Pak Menteri… “, lanjut Kasubbag saya.

“Ooh, Bu Pratikno?”, jelas saya sambil menarik nafas lega.

“Iya, hehehe. Mau, nggak?”

“Aku? Lah, kenapa aku? Kok tiba-tiba aku? Mekanismenya gimana ini?”

“Iya, jadi gini… Ibu lagi butuh sekretaris untuk mendampingi beliau, karena nantinya beliau bakal sibuk banget. Bukan cuma sekadar menghadiri acaranya Bapak aja, tapi juga agenda bersama para ibu pejabat lainnya…”

“Trus?”

“Aku udah diskusi sama Pak Karo, plus menyeleksi sekretaris-sekretaris yang ada di kementerian kita, dan pilihan kita jatuh ke kamu. Kalau kamu setuju, kita akan ajukan nama kamu ke Ibu..”

“Lho, lho… sik, sebentar. Itu tugasnya ngapain aja?”

“Ya kamu akan melekat ke Ibu. Ke mana pun Ibu berkegiatan ya kamu akan ikut. Tapi prinsipnya sih lebih kurang semacam ajudannya Ibu gitu…”

“Lah, bukannya selama ini, kaya yang sebelum-sebelumnya, Bu Menteri biasanya disekretarisi plus diajudani oleh TNI/Polri, ya?”

“Iya sih, tapi kali ini ada permintaan dari Ibu khusus Sekretaris beliau nggak mau dari TNI/Polri, makanya kita tawarkan yang existing aja dulu. Gimana, mau nggak?”

“Terus, kenapa aku? Kenapa nggak di-FGD-kan aja, atau diajukan aja dulu nama-nama Sekretaris di sini terus kasih ke Ibu, biar diseleksi sendiri sama Ibu…”

“Ibu menyerahkan seluruh mekanisme pemilihannya ke kita, Kak. Kenapa kamu yang kita pilih ya karena kita lihat kamu lebih menonjol di antara kandidat yang lain. Gimana?”

“mmmmh….” saya tertegun

“Nggak harus sekarang sih jawabnya. You may think it first. You may discuss it with your family. Pikir positif negatifnya. Tapi jangan lama-lama mikirnya ya, Kak. Hehehe. Biar kita bisa segera komunikasikan ke Ibu gitu…”

“Ok, aku diskusikan dulu sama keluarga ya, Kak 🙂 “

Jujur, bukan sebuah keputusan mudah untuk menolak/menerima tawaran itu. Di satu sisi mungkin baik untuk pengalaman kerja saya, di mana saya bisa secara langsung menangani pekerjaan yang levelnya lebih tinggi dan lebih sibuk dibandingkan dengan pekerjaan yang saya tangani sekarang. Di sisi lainnya, kalau saya jadi menerima pekerjaan itu, artinya waktu saya bersama keluarga — terlebih dengan Alea — akan sangat berkurang, karena bisa saja saya akan lebih banyak bekerja dan dinas untuk mendampingi Ibu.

Alea sedang lucu-lucunya. Saat tawaran itu diajukan, Alea berusia 5 bulan. Walaupun masih 5 bulan, dia sudah tahu waktu, terutama tidur malam. Kalau sudah waktunya, dia pasti rewel ‘minta’ dikeloni sambil minum ASI, sambil diusap-usap punggungnya. Kalau waktunya bobo tapi saya belum ada buat dia, ya dia akan rewel terus, kasian Mama saya kalau Alea belum bobo-bobo.

Pernah suatu hari saya dan suami terpaksa terlambat sampai di rumah karena di tengah jalan ternyata hujan deras sehingga kami harus berteduh menunggu hujan reda. Sesampainya di rumah, ternyata Alea masih melek. Matanya agak sembab, perpaduan antara ngantuk berat dan habis menangis (rewel) karena tidak bisa bobo. Dan memang, tak lama setelah saya bersih-bersih badan dan shalat, dia pun tidur pulas dalam pelukan saya.

Tuntutan menjadi seorang istri dan ibu terkadang bentrok dengan keinginan untuk mengembangkan karir yang sudah lebih dulu dijalani. Menikah dan memiliki keluarga memang merupakan cita-cita setiap perempuan. Tapi toh pada praktiknya peran seorang perempuan menjadi begitu kompleks ketika memasuki dunia perkawinan. Seorang perempuan dituntut menjadi seorang istri sekaligus ibu yang bertanggung jawab atas anak dan kelangsungan hidup berumah tangga, tapi di sisi lain, perempuan juga memiliki keinginan untuk memajukan karir yang sudah dijalani sejak dulu. Pffiuh, akhirnya saya mengalami juga fase ini ya; memilih antara fokus di karir atau keluarga.

Dari diskusi bersama keluarga, dan pertanyaan kepada diri sendiri yang akhirnya langsung terjawab secara tidak langsung lewat Alea itu, akhirnya dengan ikhlas saya putuskan, lebih baik saya menjalani pekerjaan saya yang sekarang. Pekerjaan yang load pekerjaannya tidak setinggi jika saya menjadi Sekretarisnya Bu Menteri. Pekerjaan yang kalau saya jalani, saya masih punya waktu untuk keluarga, dan utamanya bisa menjalin kedekatan bersama putri saya. Kehadiran Alea sudah saya tunggu selama 6 tahun, masa iya ketika dia sudah dihadirkan di tengah keluarga, saya malah lebih memilih fokus ke pekerjaan. Agak dilematis memang. Tapi ya inilah hidup. Kita pasti akan dihadapkan dengan pilihan-pilihan. Itulah kenapa kadang kita butuh skala prioritas. Apabila prioritas saat ini adalah karir, mungkin ada beberapa kenyamanan yang harus dikorbankan, begitu pula sebaliknya.

Bukan bermaksud mengesampingkan karir, tapi kalau boleh flashback, alasan saya dulu memilih bekerja sebagai Pegawai Negeri Sipil, salah satunya adalah agar saya punya waktu untuk keluarga.

Saya percaya, setiap manusia sudah punya kesempatan dan rezeki masing-masing. Kalau soal materi insyaallah masih bisa dicari, tapi soal waktu… tidak akan pernah bisa kembali. Pertumbuhan dan perkembangan Alea tidak akan menunggu sampai mamanya punya waktu buat dia. Dia akan tumbuh berkembang di setiap harinya. Dan saat ini saya tidak ingin kehilangan moment melihat tumbuh kembangnya dari hari ke hari.

There is no such thing as work-life balance. Everything worth fighting for unbalances your life.
— Alain de Botton —

[devieriana]

ilustrasi saya pinjam dari sini

Continue Reading

Amazing 2014

it's a wrap

Tak terasa akhirnya kita sudah berada di penghujung tahun 2014, tahun yang katanya bersimbolkan kuda; shio saya :mrgreen: . Dalam beberapa hari ke depan kita akan segera meninggalkan tahun 2014 ini dan siap menyambut pergantian tahun yang baru 2015.

Dibandingkan tahun sebelumnya, tahun 2014 ini menjadi tahun yang relatif penuh dengan cerita, dan sekaligus menjadi awal segala perubahan dalam hidup saya. Highlight-nya adalah kehadiran seorang gadis kecil yang akhirnya mengubah seluruh hidup saya.

Tahun 2014 adalah tahun di mana saya resmi menyandang status ibu. Sebuah status yang sudah begitu lama saya tunggu pasca kehamilan pertama saya tahun 2008. Akhirnya di tahun inilah Allah mengizinkan saya dan suami untuk memiliki buah hati, setelah ‘kosong’ selama kurang lebih 6 tahun. Allah begitu baik, ketika Dia mengiyakan suatu kebaikan, Dia akan menyertakan kebaikan-kebaikan lainnya di belakangnya. Allah bukan hanya menganugerahi saya kehamilan yang sehat, tapi juga menghadiahi saya proses persalinan yang lancar, mudah, dan murah. Saya yang awalnya agak paranoid menggunakan BPJS ternyata ketika melahirkan secara cesar kemarin justru dibuat ternganga karena saya hanya membayar biaya naik kelas kamar saja sebesar Rp 315.000,00, selebihnya free. Bukan itu saja, ketika pasien lainnya mengalami kesulitan mencari kamar lantaran semua kamar penuh, sedangkan saya… seperti serbakebetulan, ada 1 kamar kelas 1 yang kosong, dan bisa segera saya tempati beberapa jam tepat setelah saya operasi. Alhamdulillah.

Sudah, itu sajakah? Ketika teman-teman dan tetangga saya yang kebetulan juga mengalami kelahiran cesar dan mereka masih susah payah mengembalikan staminanya pascaoperasi, alhamdulillah dalam 2 hari pascaoperasi saya sudah bisa menggendong Alea dan berjalan ke sana-ke mari (walaupun awalnya ya mewek juga karena namanya perut habis disayat tapi harus ‘dipaksa’ untuk bergerak supaya otot-otot di sekitar perut agar tidak kaku) sehingga pemulihannya jauh lebih cepat. Makanya saya sudah diperbolehkan pulang setelah 3 hari saya berada di RSUD Pasar Rebo, padahal dulu saya sempat seminggu di RS Medistra karena pemulihan saya berjalan lebih lama (mungkin juga karena secara fisik dan mental saya tidak sesiap sekarang). Dan seminggu setelah operasi saya malah sudah bisa belanja di rest area dekat rumah 😆 Allah memang sangat sayang sama saya. Dia bekerja dalam cara yang luar biasa dan tak tanggung-tanggung ketika memberi kebaikan kepada umatnya.

Ketika saya membuat postingan ini, gadis kecil saya sudah berusia 5 bulan 6 hari. Tak terasa sudah hampir setengah tahun dia bersama kami. Alhamdulillah, dia sehat dan dikaruniai tumbuh kembang yang sempurna. Hari ini terakhir saya mengantor sebelum cuti panjang sampai dengan awal tahun 2015. Besok, 24 Desember 2014 kami sekeluarga akan terbang ke Surabaya untuk berlibur di sana sampai dengan tanggal 3 Januari 2015, so ini akan menjadi penerbangan pertama Alea. Yaay! Akhirnya dia akan bertemu dengan keluarga besar Mamanya di sana :mrgreen:

Apakah lalu semua kejadian di tahun 2014 berjalan manis dan sempurna? Tentu saja tidak. Ada  beberapa kejadian yang kurang mengenakkan, yang awalnya terasa sulit saya lalui. Tapi lagi-lagi, kok ndilalah semuanya seperti sudah diatur oleh Allah, semua hal yang saya anggap sulit dan tidak mungkin itu semuanya dimungkinkan. Ah, Allah memang baik banget!

Kalau dari segi pekerjaan alhamdulillah semuanya lancar. Di tahun inilah untuk pertama kalinya saya merasakan bagaimana hiruk-pikuknya kantor saya ketika pergantian pemimpin negara terjadi. Eh, tidak secara langsung juga sih, karena di hari yang sama ketika pergantian Presiden saya sedang tidak berada di kantor. Tapi ikut merasakan kesibukan, keribetan, dan keharuan yang sama walaupun hanya memantau di social media :mrgreen:

Intinya, tahun 2014 ini adalah tahun yang ‘nano-nano’ buat saya. Semua peristiwa asam, manis, pahit, campur jadi satu. Tahun pembelajaran yang disertai dengan ‘kurikulum’ baru yang mengajarkan saya tentang bagaimana menjadi orangtua dan menjadi pribadi yang kuat.

Lalu, bagaimana dengan tahun 2015? Adakah resolusi seperti tahun-tahun sebelumnya? Ah, saya sebenarnya tidak pernah serius beresolusi kok, karena sering kali yang awalnya saya jadikan resolusi hasilnya malah bablas; tapi yang bukan jadi resolusi malah jadi 😆 . So, mendingan saya jalani saja tanpa ada resolusi-resolusian. Atau biar nggak berat, sebut saja rencana tahun 2015 :mrgreen:

Dear Allah, I thank you for this amazing 2014. Thank you for such a memorable journey, where the ups and downs are there. People jugde and learn from the past, they evaluate the things that they did, and project it to the future. They predict what tommorrow will be, but the future still remains Your mystery.

For everything that occured —the good and the bad thing— I feel so grateful and delighted because I have seen Your love and your kindness through this wonderful year. Your hands never let me go, Your protection is gentle and strong.

Dear Allah, I am pretty excited to welcome 2015 with a bunch of love, and faith again an again. Because I want to walk with You, want to feel and embrace the love You have.

Therefore, since all my plans are meaningless without Your blessings, I ask for Yours so then, let Your will be done in my life.

Semoga apa yang kita kerjakan dan cita-citakan di tahun 2015 berhasil dan menjadi berkah untuk kita semua. Semoga kita diberikan usia yang penuh manfaat, dan kesehatan yang sempurna. Kiranya Allah memperkenankan segala doa kita. Aamiin ya rabbal alamiin…

Jadi, sebelum saya berlibur sampai dengan awal tahun depan, saya ingin mengucapkan Selamat Natal bagi teman-teman yang merayakannya; dan Selamat Tahun Baru 2015 bagi semuanya.

Sampai bertemu (di postingan) tahun depan ya… 😀
Daaagh!

 

 

 

[devieriana]

sumber ilustrasi dari bedbathandbeyond

Continue Reading

A Self Reminder: Allah Sang Mahasutradara

-----

“Sesuatu yang kita anggap baik belum tentu baik di depan Allah, begitu pula sebaliknya, sesuatu yang kita anggap buruk belum tentu buruk di depan-Nya. Dialah Sang Mahatahu akan segala sesuatu…”

—–

Buat saya, hidup itu seperti layaknya sebuah film. Kita adalah aktor-aktor yang sedang menjalani sebuah script atau skenario, sedangkan Tuhan adalah sutradaranya. Film (kehidupan) saya dan film (kehidupan) kamu, pasti berbeda. Tapi, meski berbeda bukan berarti kita tidak pernah ada dalam satu frame yang sama. Mungkin saja kita yang berada di belahan bumi yang berbeda dipertemukan oleh-Nya untuk menjalani sebuah skenario; misalnya saling bertemu, mengerjakan sesuatu bersama, atau cuma sekadar saling sapa satu sama lain. Tapi sebaliknya mungkin saja kita yang duduk bersebelahan justru tidak saling mengenal satu sama lain karena kita lalu pergi begitu saja tanpa ada percakapan/perkenalan sama sekali. Bisa saja, kan? 🙂

Sesekali dalam hidup, kita pasti akan tertawa. Dan sebagai penyeimbang, kita pun pasti pernah menangis. Walau demikian hidup harus tetap berlanjut, kan? Dalam skenario itu mungkin kita harus beradegan berlari, terjatuh, berjalan, merangkak, bahagia, terluka, menangis dan tertawa, begitu seterusnya untuk menggenapkan skenario yang sudah ditulis oleh-Nya.

Saya adalah salah satu yang telah menjalani sebagian skenario-Nya. Hidup saya tidak selalu bahagia, tapi juga tidak selalu sedih. Namun apapun itu saya syukuri tiap sesi dalam hidup saya, karena saya yakin bahwa Allah punya rencana mahaindah yang tidak saya ketahui. Saya juga yakin dengan janji Allah, bahwa Dia tidak akan memberikan suatu cobaan di luar batas kemampuan umat-Nya. Dan, Dia menepatinya. Saya adalah salah satu ‘korban’ ketakjuban betapa indah skenario yang telah dibuat Allah bagi hamba-hamba-Nya.

Sebagai manusia yang punya banyak sekali kekurangan, saya juga sering melakukan perbuatan dosa, baik sengaja atau tidak. Dan selama itu pula Allah masih bersabar melihat tingkah laku saya. Hingga akhirnya Allah menegur saya dengan sebuah kejadian yang menjadi sebuah turning point dalam hidup saya. Kejadian yang sempat membolak-balikkan hati saya, menjungkirbalikkan nalar saya, me-roller-coaster-kan hidup saya. Di titik itulah saya sadar bahwa Allah sedang menegur saya dengan cara yang radikal; sekaligus menyapa saya dengan lembut.

“Kalau sudah begini, kamu mau minta tolong sama siapa? Manusia?”

Tuhan memberi apa yang kita butuhkan, bukan apa yang kita inginkan. Sejak itulah kehidupan spiritual saya berubah 180 derajat, karena sejatinya dengan dekat dengan-Nya-lah hidup saya jauh lebih tenang. There’s a blessing in every disguise. Saya yang dulu sering meninggalkan shalat, saya yang jarang bersedekah, saya yang jarang mengingat Allah, saya yang pecicilan sana-sini, pelan-pelan berubah. Saya luruh dalam tangis memohon ampun hampir di setiap sujud di sepertiga malam. Padahal sebelumnya, jangankan untuk tahajud, menggenapkan shalat 5 waktu saja rasanya enggan. Shalat hanya saya lakukan ketika ingin, ketika sempat, ketika ada maunya. Ya, saya pernah berada dalam fase sejahiliyah itu. Keimanan saya masih sangat tipis di usia saya yang sudah lebih-lebih dari seperempat abad ini 🙁

Seringkali kita menyebut sebuah kejadian itu cuma sebuah kebetulan, padahal tidak ada yang kebetulan di dunia ini. Kalau (iseng) kita tengok lagi ke belakang tentang film kehidupan kita, pasti ada episode di mana kita mengalami adegan-adegan layaknya sebuah kebetulan, padahal semuanya adalah hasil campur tangan Allah.

Ya Allah, terima kasih untuk semua reminder-Mu. Terima kasih untuk semua peristiwa yang terjadi dalam hidup saya. Apapun itu. Terima kasih karena masih berkenan mengingatkan hamba-Mu yang suka bertingkah semau-maunya ini.

Terima kasih, karena masih Engkau izinkan kami untuk meneruskan film kehidupan kami di planet bumi yang merupakan panggung termegah kami ini…

 

 

[devieriana]

sumber ilustrasi: clipartbest.com

Continue Reading

“I’m not always right, but i’m never wrong”

i am always right
Anyway, saya suka sekali memperhatikan karakter dan sifat/sikap orang lain, karena dari situ kadang saya bisa belajar tentang karakter manusia :D.

Dari sekian banyak teman yang saya kenal, saya memang dekat dengan salah seorang kakak tingkat saya waktu kuliah dulu. Sebut saja Kak Anggrek (karena penggunaan nama ‘Bunga’ sudah terlalu mainstream). Kebetulan dia dari fakultas dan jurusan yang berbeda. Saya mengenalnya sebagai sosok yang sederhana namun wawasannya sangat luas, sehingga ketika diajak diskusi apapun enak-enak saja. Dia juga sangat luwes dalam menilai sesuatu, tidak judgemental, menilai sesuatu dari 2 sudut pandang. Kebetulan dia juga seorang pengajar di salah satu universitas. Sepertinya kalau jadi, tahun depan dia juga akan ambil post doctoral di US atau negara lainnya. Tapi di balik semua kelebihan yang dia miliki itu dia adalah seorang yang sangat rendah hati; tidak menunjukkan siapa dia atau apa yang dia punya.

Sebaliknya, ada seorang teman yang lain yang berkebalikan dengan teman yang tadi. Sebut saja Kak Raflesia Arnoldi :mrgreen: . Di socmed, sering kali dia mengunggah quotation-quotation buatannya yang kebanyakan berisi tentang hidup, “how life should be” kepada yang lain. Menganggap socmed adalah sekolahan, dia adalah guru, sedangkan follower adalah murid-muridnya. Tak heran kalau status-status yang dibuatnya banyak menggunakan kalimat-kalimat yang terkesan menggurui lainnya.

Uniknya, dia bisa dengan ‘bangga’ mengkritik/mem-bully seseorang di social media (sebut saja Path, yang bisa tagging nama seseorang), atau siapapun yang tidak setuju dengan pemikirannya. Pernah juga dia memarahi salah satu follower-nya di Path. Kok rasanya kurang etis ya? Kalau memang dia membuat salah, kenapa tidak diselesaikan saja di media yang lebih privat? Kenapa harus diumbar di socmed? Apa sih tujuan sebenarnya dengan mengumbar kesalahan orang lain di ranah publik? Supaya yang satu terlihat salah dan lainnya terlihat benar, begitu? Namun sebaliknya ketika kalimat-kalimatnya, pemikiran-pemikirannya, asumsi-asumsinya itu ada yang mengkritisi, serta merta dia langsung menunjukkan ketidaksukaannya. Kalau sampai ada orang lain yang dia anggap menyaingi/menandingi dirinya, dia akan berusaha untuk membela diri, berperilaku layaknya orang yang tahu segalanya, padahal tujuan utamanya cuma satu. Menjaga harga diri. Hal itu selalu akan dilakukan secara spontan ketika dia diposisikan lebih rendah atau ketika dia diperlakukan kurang sesuai dengan apa yang dia mau. Baginya, apa yang dia katakan itu sudah yang paling benar, jadi jangan dibantah. Semacam sabda pandita ratu (?). Kalau sampai ada yang membantah/menyanggah, itu sama saja cari masalah. Bisa-bisa seharian dia ‘menyampah’ di akun socmednya dengan menyindir orang yang ‘berani’ menyanggah opininya. Eh, saya pernah lho sengaja mengkritisi dia dan berakhir dengan bbm yang panjang kali lebar kali tinggi, plus dibikinkan status sindiran di Path 😆 . Padahal sayanya biasa saja, lha wong memang niatnya cuma pengen ngisengin Kak Raflesia ini saja kok :mrgreen:

Entahlah, sepertinya kok masih jarang ya ada orang yang rela ‘menyembunyikan’ kemampuannya demi menghormati orang lain. Kalaupun ada, dia pasti adalah orang yang sudah ada di level sadar, bahwa apa yang dimilikinya itu cuma sebagian kecil kemampuan yang dianugerahkan oleh Tuhan kepadanya; dan percaya bahwa ada banyak orang yang jauh lebih mampu, lebih pandai, lebih mumpuni ketimbang dirinya. Jadi, pikirnya, kalau cuma sekadar untuk show off ya buat apa? Bukankah akan lebih baik jika kemampuan yang dimiliki itu diajarkan saja tanpa perlu dipamerkan/diperlihatkan ke banyak orang, ya? Walaupun agak susah juga sih kadang, karena batas antara niat tulus berbagi ilmu dan pamer kemampuan itu terlalu tipis. Tapi ya semuanya terpulang pada niat masing-masing sih.

Kemampuan terhadap penguasaan satu ilmu dengan ilmu lainnya pasti berbeda-beda. Kalau misalnya ada satu orang yang lebih mumpuni dibandingkan orang lainnya ya wajar. Jadi jangan menuntut level penguasaan yang sama terhadap sesuatu, karena sebenarnya ada hal yang jauh lebih penting untuk dicermati, yaitu ketika kita berani mengaplikasikan ilmu yang kita miliki itu untuk memberi manfaat bagi orang di sekitar kita, jadi bukan sekadar retorika semata. Kalau sudah sanggup mengaplikasikan keilmuan tersebut, nah… silakan membagikan ilmu yang dimiliki itu kepada orang lain dengan sepenuh hati.

IMHO. No matter what skills you have, but what is more important is how you enable others

Mungkin apa yang saya tulis ini cuma masalah perspektif, cara pandang. Bisa saja apa yang saya pikirkan ini berbeda dengan apa yang kalian pikirkan. Wajar, lha wong memang isi kepala kita juga beda. Tapi sebenarnya saya cuma ingin curhat, bahwa…

orang-orang yang seperti Kak Raflesia Arnoldi ini sejatinya ada… 😐
I’m not always right, but i’m never wrong. Paradoks.

[devieriana]

picture source here

Continue Reading

Stay positive?

self motivation

Entahlah, mendadak saya ingin sekali menulis tentang sesuatu yang beberapa waktu ini mondar-mandir di kepala saya setelah mengalami plus melihat teman-teman di sana, di sini, dan di situ lengkap dengan situasi yang menyertainya, yang tidak selamanya menyenangkan. Mungkin jadinya tulisan yang sedikit menggurui atau terlalu serius ya. Tapi… tak apalah. Toh cuma sesekali ini :mrgreen:

—-

Tidak semua orang yang ada di sekitar kita punya sifat yang baik. Ada orang yang (benar-benar) baik (luar dalam), ada juga orang yang menyebalkan, tapi banyak juga orang yang di depan kita baik tapi ternyata dia tidak sebaik yang kita kira. Yah, namanya juga hidup, segala sifat manusia itu ada. Semacam penyeimbang. Kalau semuanya baik/jahat mungkin hidup kita akan flat ya. Dan hei, mungkin saja, tanpa kita sadari orang lain ternyata punya pemikiran yang sama tentang kita, kita memang orang yang (dianggap) baik atau kita bukan orang yang benar-benar baik buat mereka (sekalipun kita sudah berusaha menjadi baik). Manusiawi.

Yang jelas, hidup itu pasti ada up and down-nya. Pasti kita pernah merasa, kok hidup kita sangat tidak adil, saking banyaknya/beratnya permasalahan yang kita hadapi, plus membandingkan hidup kita dengan hidup orang lain yang jauh lebih baik dan lebih menyenangkan. Entah kenapa rumput tetangga selalu terlihat lebih hijau (padahal kalau sudah masuk ke halamannya ya belum tentu terlihat sehijau yang terlihat dari rumah kita). Tapi mau tidak mau, suka tidak suka, toh kita tetap harus menjalaninya, bukan? Dengan kekuatan bulan segala cara kita akan berusaha untuk survive, salah satunya dengan tetap berpikir positif dan penuh harapan semoga semua masalah bisa terselesaikan dengan baik. Sayangnya, tidak semua orang mampu/mau menaklukkan ‘tantangan’ itu; ada yang menyerah begitu saja di tengah jalan, atau sebenarnya sudah ada usaha untuk menyelesaikan tapi terbentur oleh keadaan sehingga tampaknya masalah itu tak kunjung terselesaikan? Apapun itu, ketika sebuah masalah menjadi berlarut-larut dan tak terselesaikan, lambat laun, tanpa disadari, akan memicu seseorang berubah menjadi pribadi yang mudah galau, stress, pesimistis, cenderung sarkastik, sinis, bahkan toxic, sehingga dia bukan lagi menjadi orang yang menyenangkan to be around with. Itu menurut sepenglihatan saya sih… 🙁

Dari apa yang saya tulis sekilas di atas bukan berarti kita tidak boleh galau, mellow, dan merasa down. Sama seperti manusia normal lainnya, saya pun pernah ada di titik terendah, tak berdaya, mellow, galau, dan hopeless. Saya pikir kita punya ‘hak’ untuk galau kok, dan semua itu sah-sah saja. Tapi selanjutnya semua kembali lagi ke diri sendiri, kita yang ‘mengendalikan’ masalah, atau kita yang ‘dikendalikan’ masalah? I know this is indeed a challenge. But it is a challenge to face and conquer.

Ketika hal-hal yang tidak menyenangkan tiba-tiba datang (dalam hidup kita), saya percaya bahwa dengan tetap berpikir positif akan membawa energi positif pula; setidaknya membuat kita sedikit merasa lebih baik. Sulit memang, lha wong lagi sedih dan galau kok disuruh berpikir positif, yang ada ya makin galaulah. Iya, tahu. Tapi percaya deh, dengan tetap berpikir positif masih jauh lebih baik daripada membiarkan kita tenggelam, larut dalam kesedihan dan kegalauan. Masalah bukan tambah selesai, malah kian berlarut-larut.

I know, it is easier said than done. Tapi ketika semua hal yang tidak menyenangkan itu terjadi, dan bahkan ketika itu menjadi hal tersulit bagi kita untuk tetap (menjadi pribadi yang) positif, try it! It feels much better.

Just my two cents…
[devieriana]

 

pict source: here

Continue Reading
1 4 5 6 7 8 30