Membawa Alea Ke Kantor Itu…

Jadi ceritanya hari Selasa minggu yang lalu sampai dengan hari Senin kemarin, Eyangnya Alea (Mama saya) pulang ke Surabaya karena Eyang Kakungnya Alea (Papa saya) lagi kurang sehat. Alhasil, karena selama ini yang menjaga Alea sehari-hari itu Mama saya, jadilah selama 3 hari kemarin Alea ‘ngantor’ bareng saya.

Ini pengalaman kedua, mengajak Alea ngantor seharian. Sedikit ribet memang, tapi sejauh ini saya masih menikmatinya, walaupun ada rasa kasihan karena jadwal anak yang biasanya tertib jadi kurang tertib karena ada part-part yang terpaksa harus di-skip. Tapi ya itulah yang namanya hidup, tho? Selalu saja ada adjustment yang harus kita lakukan, termasuk dengan mengajak anak ke tempat kerja.

Untuk sementara waktu lupakanlah soal busana yang modis, hijab yang tertata rapi seharian. Memilih baju pun yang penting breast feeding friendly, karena Alea masih ASI. Risiko mengajak bayi/batita ke tempat kerja itu yang pasti barang bawaan jadi jauh lebih banyak. Barang bawaan Alea saja bisa satu tas sendiri. Isinya baju ganti, pampers, perlengkapan mandi, perlengkapan setelah mandi, jaket, topi kupluk, boneka, snack, dan jeruk. Kebetulan Alea sudah bisa makan segala, sehingga saya tidak perlu membawa makanan khusus bayi, Alea bisa berbagi makanan dengan saya, yang penting tidak spicy/pedas karena lidahnya masih sensitif.

perlengkapan Alea yang harus dibawa selama ikut ke Mama ke kantor

Untunglah lingkungan kerja memungkinkan saya dan teman lainnya yang kebetulan juga tidak punya pengasuh, bisa membawa anak ke kantor. Jadi membawa anak ke kantor itu sudah jadi pemandangan yang biasa. Membawa anak ke kantor sudah jadi risiko ibu bekerja ketika para support village atau yang biasa menjaga anak sedang berhalangan mengasuh. Ndilalah, dalam minggu kemarin atasan sedang banyak tugas/dinas di luar kantor, sementara pekerjaan juga sedang tidak terlalu hectic; hanya pekerjaan yang sifatnya rutin saja.

Membawa bayi/batita yang lagi senang-senangnya jalan juga tidak mudah. Alea adalah anak yang tidak betah diam, ada saja yang ingin disentuh, dipegang, diutak-atik, dan ditarik ke sana-sini. Jadi sambil bekerja, saya juga harus tahu di mana ‘titik koordinat’ Alea saat itu dan sedang apa, karena dia suka jalan-jalan sendiri ke kubikel lainnya dan lalu asyik mainan sendiri di sana, misalnya kertas, printer, atau apapun yang menarik perhatiannya. Disetelkan film kartun di youtube pun kadang suka tidak betah. Jadi untuk amannya, kadang suka saya alihkan perhatiannya dengan cara menggendong dan menyetelkan Big Hero, film favoritnya di youtube, terutama di jam-jam dia seharusnya istirahat. Sejauh ini sih, it works, bahkan sampai ngantuk sendiri.

Untungnya di ruangan ada juga teman yang selalu membawa balitanya ke kantor, jadi Alea punya teman main. Dia seorang anak laki-laki berusia 4 tahun yang sudah bersekolah di TK. Alea jadi lumayan terhibur karena ada teman main, tapi tetap saja harus diawasi, karena teman mainnya pun masih kecil.

Alea dan teman baru
Alea dan teman baru

Ada sisi positif/negatifnya membawa anak ke kantor. Negatifnya, konsentrasi bekerja jadi kurang maksimal karena harus berbagi perhatian ke anak dan pekerjaan. Positifnya, ada bonding yang jauh lebih kuat antara ibu dan anak karena ibu bekerja yang biasanya baru bertemu anak di sore/malam hari sepulang kantor, sekarang mulai anak bangun tidur sampai dengan tidur malam menjadi tugas dan tanggung jawab ibu. Sedikit lebih capek memang, tapi sejauh ini saya merasa fun kok.

Ada perasaan haru ketika malam hari melihat Alea tidur nyenyak setelah seharian ikut saya bekerja. Di usianya yang baru menginjak 15 bulan dia ternyata bisa menyesuaikan diri dengan cepat, pun halnya dengan fleksibilitas. Seolah dia tahu mamanya sedang sibuk, jadi dia tidak pernah rewel, kalau pun menangis sesekali wajarlah, paling kalau ngantuk atau tidak sengajak jatuh/kepentok sesuatu, ya namanya juga masih bayi. Tapi secara keseluruhan dia anak yang lovable.

Hari ini Alea tidak ikut ke kantor lagi seperti 3 hari yang lalu, sekarang dia ada di rumah bersama Eyangnya, dan sudah kembali menjalani aktivitas dan rutinitas seperti biasa.

To my lovely Alea, I love you dearly and always…

Buat para ibu bekerja di luar sana, tetap semangat ya! 🙂

[devieriana]

Continue Reading

Imaginary Friends

bing bong

Minggu lalu saya baru nonton Inside Out. Kebetulan Alea sedang senang-senangnya menonton film animasi. Tapi berhubung Eyangnya Alea agak kurang setuju kalau Alea menonton film ini, dengan alasan ada muatan film yang belum pas kalau ditonton Alea di usianya yang sedang senang-senangnya meniru apapun yang dia lihat. Jadi, ya sudahlah, saya tonton sendiri dulu kali ya.

Di sepertiga film itu itu ada adegan yang mengingatkan saya ke masa kecil dulu. Ketika tokoh Joy dan Sadness terlempar ke daerah Ingatan Jangka Panjang; saat mereka bertemu dengan sesosok makhluk yang bentuknya merupakan gabungan antara permen kapas, kucing, gajah, lumba-lumba dan memperkenalkan dirinya sebagai Bing Bong . Dia adalah teman khayalan masa kecil Riley, tokoh utama film ini.

Bicara tentang teman khayalan, dulu saya juga punya teman khayalan yang bernama Vikung. Vikung ini adalah sosok yang punya kepribadian abu-abu. Tidak selamanya baik, tapi juga tidak selalu jahat. Pokoknya manusiawi, walaupun lebih banyak ngeselinnya daripada menyenangkannya. Tapi di balik ‘ngeselinnya‘ itu Vikung tetap sosok yang baik, suka menemani saya main dan ngobrol. Sosok Vikung itu saya ‘gambarkan’ sebagai anak perempuan yang seusia saya. Rambutnya sebahu, suka dikuncir dua, berponi, agak kurus, pipi kiri kanannya masing-masing ada jerawat 3 biji, dan suka pakai kaos kaki panjang, sepintas mirip sosok Pippi Longstocking. Entah kenapa sosok Vikung mirip dengan Pippi Longstocking, apakah karena waktu itu saya lagi suka-sukanya baca buku-buku fiksi anak, macam Lima Sekawan, Pippi Si Kaus Kaki Panjang, dan sejenisnya ya?

teman khayalan - Pippi Longstocking
teman khayalan versi saya

Kurang pasti kapan Si Vikung ini hadir menemani hari-hari saya, tapi yang jelas seiring dengan semakin bertambahnya usia saya, semakin sibuknya saya di sekolah, dan semakin banyaknya teman yang saya miliki, lambat laun sosok Vikung ini ‘menghilang’ dengan sendirinya. Dulu sempat mikir, apa saya saja ya yang punya teman khayalan? Saya aneh nggak sih karena punya teman khayalan? Gimana nggak ‘aneh’ kalau saya main sendiri, ngobrol sendiri, ‘berantem-berantem’ sendiri, kadang seolah berebut sesuatu dengan ‘seseorang’ padahal ya saya sedang sendiri. Ngeri, ya? Hahaha…

manfaat-teman-imajinasi

Tapi sebenarnya sebagian besar anak kecil yang berusia antara 3-5 tahun wajar kalau memiliki teman khayalan dengan bentuknya masing-masing. Usia di mana mereka mulai membentuk identitas diri dan mulai tahu batas mana dunia khayal dan dunia nyata.

Tapi ada kelegaan juga, karena kalau merujuk pada salah satu artikel di Parents Indonesia, menyatakan:

“Penelitian menyebutkan bahwa anak yang memiliki teman khayalan punya kemampuan berempati lebih baik dibandingkan teman sebaya yang tidak punya sahabat imajiner. Studi lain juga menyatakan anak-anak tersebut memperoleh nilai tes bahasa yang lebih tinggi, mampu bersosialisasi dengan baik, dan yang paling penting punya lebih banyak teman.”

Begitu juga ketika saya iseng baca di The Verge :

“children who keep imaginary friends, eventually develop better internalized thinking, which separately has been found to help children do better with cognitive tasks like planning and puzzle solving.”

Jadi, kalau kebetulan kita punya anak yang punya teman imajiner, jangan terburu-buru mengecap anak kita aneh. Karena justru dari situlah perkembangan emosi dan cara berpikir anak dimulai. Anak yang punya teman khayalan akan tumbuh menjadi anak yang penuh rasa ingin tahu, mudah berteman, kaya kosakata, dan kreatif.

Menurut saya, selama anak tidak banyak menghabiskan waktunya setiap hari berbicara dan bermain dengan teman khayalannya, dalam artian dia masih mau berbicara dan bermain dengan teman nyata (non-imajiner), berarti masih dalam taraf normal. Tapi kalau ternyata sebaliknya, anak lebih suka menghabiskan kesehariannya untuk ngobrol dan bermain dengan teman khayalannya dibandingkan dengan teman nyatanya, mungkin ada baiknya orang tua mulai berkonsultasi dengan ahli perkembangan anak.

Kalau kalian, dulu pernah punya teman khayalan nggak?

 

[devieriana]

sumber ilustrasi: Disney dan TemanTakita

 

Continue Reading

Different Angle

different angle

Sudah sifat alamiah manusia selalu merasa kurang, entah kurang bahagia, kurang beruntung, kurang kaya, dan berbagai kurang lainnya. Melihat ke arah yang ‘sepertinya’ lebih bagus, padahal kenyataannya belum tentu. Kalau kata orang Jawa, “urip iku mung sawang sinawang”, secara harafiah berarti saling memandang terhadap (hidup) orang lain. Ketika kita memandang kehidupan orang lain yang sepertinya jauh lebih baik, ternyata pada kenyataannya mereka justru melakukan hal yang sama, melihat kehidupan mereka tidak seberuntung kehidupan kita. Vice versa.

Seperti sebuah obrolan dengan seorang sahabat, di sebuah sore di akhir pekan, sambil menunggu jam pulang kantor. Dia baru diterima kerja di tempat yang baru, dan baru dijalani selama beberapa bulan. Tapi dia sudah mengeluh bosan dengan pekerjaannya yang sekarang dengan alasan klise: kurang tantangan, kurang greget, beda dengan tempat kerja sebelumnya.

Dia bercerita, dulu dia adalah staf andalan, sekarang staf ‘biasa’, tidak ‘seistimewa’ di tempat kerjanya yang dulu. Pekerjaannya dulu menuntut ketelitian dan hal-hal yang detail, sekarang kadang sibuk, kadang tidak ada yang harus dikerjakan sama sekali. Sampai suatu ketika dia memutuskan untuk pindah ke tempat kerja yang sekarang dengan berbagai alasan. For your information, tempat kerja yang sekarang jauh berbeda jenis, bentuk, dan core business-nya dengan perusahaan yang lama.

“Jadi sekarang ceritanya kamu nyesel?”, tanya saya.
“Hmmm, gimana ya, Mbak. Abisnya kok kayanya kerjaan yang sekarang itu ternyata cuma gini-gini aja…”

“Maksudnya, kurang ‘susah’, gitu? Kurang ada gregetnya? Kurang cetar? Kurang hype? Hehehe…”
“Ummm, a little bit, jadi kesannya agak ngebosenin gitu, Mbak. Pernah aku curhat sama kakakku kalau kerja di sini itu lama-lama bisa bikin otakku beku, hahaha…”

Saya jadi cengengesan. Dejavu dengan ketika pertama kali bekerja dan menginjakkan kaki di tempat kerja yang sekarang. Sempat mengalami culture shock, karena apa yang saya kerjakan dulu sangat berbeda dengan yang sekarang. Sering tiba-tiba blank, lost focus karena tidak tahu apa yang harus dikerjakan, dan suka mendadak loading lama. Akibatnya jadi salah melulu kalau kerja. Parahnya lagi, itu terjadi hampir setengah semester. Lama banget, kan?

Sempat merasa khawatir dengan diri sendiri, sampai akhirnya curhat kepada seorang teman untuk meminta pencerahan supaya tidak jadi bego berkepanjangan. Jangan sampai saya salah memilih karier yang salah, padahal itu pilihan saya sendiri.

Sampai akhirnya dia bilang sesuatu yang ‘makjleb’, dan membuat saya berpikir.

“Ok, sebenarnya sederhana saja. Coba deh, mulai sekarang kamu berhenti membandingkan, karena bagaimana pun jenis pekerjaanmu yang dulu dan sekarang jauh berbeda. Yang kedua, mulai sekarang coba turunkan sedikit saja egomu. Jangan pernah meremehkan pekerjaan sekecil dan seremeh apapun itu, karena sedikit saja kamu remehkan, dia akan jadi sesuatu yang tidak seremeh yang kamu kira. Dan, lihat pekerjaanmu dari sudut pandang yang berbeda…”

Benar juga, ya. Sejak saat itu saya mulai introspeksi diri. Mungkin saja waktu itu saya sudah merasa sok bisa, dan sok pintar, sehingga tanpa sadar saya tidak mau belajar, dan meremehkan pekerjaan saya, membanding-bandingkan jenis pekerjaan yang dulu dengan yang sekarang, melihat karier orang lain yang sepertinya jauh lebih mengasyikkan ketimbang pekerjaan saya sendiri. Akhirnya yang ada bukan pekerjaan yang selesai dengan sempurna, tapi malah berantakan karena saya tidak fokus dalam bekerja.

Bersyukur, karena akhirnya pelan-pelan sindrom gegar budaya kerja tadi menghilang seiring dengan waktu dan mulai enjoy-nya saya dengan suasana, lingkungan, dan pekerjaan yang saya jalani. Kalau saya ditanya apakah selama bekerja di sini pernah merasakan jenuh. Jujur, pasti pernah. Tapi ternyata yang dibutuhkan adalah ‘trik’ untuk menyiasatinya.

Ketika kita masuk ke dunia kerja, tanpa sadar ada hal dan etika yang kita lupakan. Kita ‘lupa’, bahwa ada aturan main dan pakem-pakem yang telah ditetapkan oleh perusahaan yang harus kita taati dan sepakati sebagai code of conduct. Terkait dengan job description, perusahaan bebas melakukan modifikasi dalam menerapkan sebuah ilmu yang tujuannya justru untuk mempermudah pekerjaan kita.

Hidup dan bekerja itu kalau tidak pintar-pintar menyiasati ya pasti ada saja trigger jenuhnya. Kalau memilih pekerjaan sekadar melihat besaran gaji atau faktor lain yang bisa membuat sebuah pekerjaan itu lebih ‘keren’ secara title atau gaji, mungkin saya akan memilih pekerjaan lainnya. Tapi, lebih dari itu ada banyak faktor yang menjadi pertimbangan saya dalam memilih karier, dan itu membuat saya bersyukur bekerja di kantor yang sekarang.

Perasaan jenuh itu manusiawi dan bisa datang dari mana saja. Bisa dari dalam diri sendiri maupun dari lingkungan sekitar. Ketika jenuh tiba-tiba datang, coba bangun sugesti positif terhadap pekerjaan dan apapun yang kita kerjakan. Bersyukur atas segala hal yang kita terima, termasuk pekerjaan, karena di luar sana ada banyak orang yang masih sibuk mencari pekerjaan tapi belum mendapatkannya.

Kalau saya sedang jenuh, saya ‘rekreasi’ saja dengan mengerjakan hal lain yang sementara bisa mengalihkan rasa jenuh, misalnya mendengarkan lagu favorit, membereskan file yang berantakan di meja kerja, atau menulis di blog yang saya yakini bisa jadi terapi untuk jiwa. Psst, sebagian besar tulisan di blog ini hasil produksi di meja kerja lho, kadang saya lakukan di jam kerja, kadang di jam pulang kerja sambil menunggu jemputan. Tapi bukan berarti kalau saya sering posting itu indikator saya sering mengalami kejenuhan lho ya, hahaha… Itu sih karena mumpung sedang ada ide saja, sebelum mood-nya hilang mending idenya diselamatkan dulu dalam bentuk postingan di blog.

Meja kerja adalah dunia kecil kita selama di kantor. Jadi buat senyaman dan se-homy mungkin karena sejak pagi hingga sore hari akan kita habiskan di kantor. Jadi, kalau meja kerja kita saja sudah ‘nggak asik’, bagaimana mau asik dalam bekerja?

Masih jenuh juga? Coba curhat dengan teman, siapa tahu bisa sedikit lega atau malah punya inspirasi, motivasi, dan semangat baru dalam bekerja. Masih jenuh juga? Kenapa tidak ambil cuti atau berlibur ke mana gitu yang bisa membuat kembali fresh dan semangat dalam bekerja.

Sudah melakukan segala cara tapi masih jenuh juga? Mungkin ini adalah saat yang tepat untuk kembali mengevaluasi diri. Apakah masih memungkinkan untuk bertahan di tempat kerja yang sekarang atau mulai mencari pekerjaan lain yang sesuai dengan jiwa dan passion kita?

Hidup itu kita sendiri yang menentukan akan menjadi bagaimana, pun halnya pekerjaan. Kalau hidup kita mulai terasa kurang asyik, mengapa tidak mencoba me-refresh-nya dengan melihat segala sesuatunya dari sudut yang berbeda demi mendapatkan rasa syukur. Hidup itu cuma sekali, jalani dengan penuh syukur dan bahagia.

Seperti kata Tadashi Hamada di film Big Hero 6,

“Listen up! Use those big brains of yours to think your way around the problem! Look for a new angle!”

Have a good day!

 

 

[devieriana]

ilustrasi dari pxleyes.com

Continue Reading

Tentang Hijab Itu

Hai, apa kabar? Lama lagi ketemunya sama postingan baru ya. Alasannya agak klise sih ya, selain load pekerjaan yang sedang tinggi ditambah dengan mood menulis yang tak kunjung muncul, padahal ide tentang postingan ini sudah ada sejak sebulan lalu.

Ada sebuah perubahan besar yang terjadi pada saya selama hampir sebulan ini; pada tampilan keseluruhan saya setelah lebaran tahun ini. Setelah sekian lama ‘cuma berjanji’ akhirnya janji itu saya penuhi. Per 27 Juli 2015 kemarin saya memutuskan untuk berhijab. Sebuah keputusan yang buat saya termasuk besar, karena saya ingin hijab ini akan menyertai keseharian saya, dan bukan cuma sekadar ikutan trend atau ikut-ikutan teman.

Setiap perempuan muslim yang belum berhijab kalau ditanya, “kamu pengen nggak pakai hijab?”, jawabannya pasti beragam. Tapi pasti ada yang menjawab, “iya, pengen”. Nah, kalau sudah ditanya, “kapan?”, dulu saya pasti menjawab, “nanti, kalau saya sudah siap lahir batin”. Dan jawaban itu semacam jawaban template karena sampai lebaran kemarin pun saya belum ada niatan serius pakai hijab.

Janji pakai hijab itu sempat terlontar secara emosional ketika saya kehilangan putri pertama saya, “kalau anakku bisa diselamatkan, aku berjanji akan pakai hijab!”, dan nyatanya memang bayi saya tidak dapat diselamatkan, ya… saya berarti belum wajib pakai hijab. Saya paham, seharusnya niat pakai hijab bukan seperti itu, sampai akhirnya niat memakai hijab itu pun menguap begitu saja. Bahkan ketika melihat ada teman yang baru berhijab, belum ada sama sekali keinginan saya untuk berbuat hal yang sama. Bahkan saya sempat BT ketika ada teman yang meminta saya untuk berhijab. Buat saya, biarlah keinginan berhijab itu muncul dengan sendirinya. Kelak ketika saya sudah ikhlas, tanpa diminta pun saya akan menggunakan hijab kok. Begitu pikir saya waktu itu.

Hingga akhirnya ketika saya kembali dipercaya untuk mengandung lagi setelah 6 tahun berselang. Di moment kehamilan saya kali ini ada sebuah kedekatan antara saya dan Sang Pemilik Hidup. Begitu banyak limpahan pertolongan, perlindungan, berkah, rezeki, dan kemudahan-kemudahan yang saya terima selama hamil hingga melahirkan putri kedua saya pada medio 17 Juli 2014 silam. Saya jadi lebih rajin beribadah dibandingkan sebelumnya. Hingga entah bagaimana awalnya, di akhir tahun yang sama muncul keinginan untuk mulai berhijab murni dari dalam diri saya. Tapi karena sesuatu dan lain hal keinginan itu baru sebatas keinginan walaupun saya mulai mempersiapkan beberapa perlengkapan untuk berhijab.

Hingga menjelang lebaran pun saya masih belum menggunakan hijab. Saya masih sempat menggunting rambut saya dengan model yang sedang hits tahun ini, dan mewarnainya dengan warna kecokelatan.

Keinginan berhijab itu baru muncul ketika saya dalam perjalanan pulang menuju Jakarta setelah cuti lebaran di Surabaya. Tapi jangan ditanya, bagaimana perang batin yang terjadi pada saya sebelum akhirnya saya memutuskan untuk berhijab. Ada pertanyaan-pertanyaan yang saling berlompatan dalam pikiran saya, ada perang dalam batin saya:

“ah, emang yakin kamu bisa seterusnya berhijab? emangnya kamu pikir berhijab itu gampang? banyak lho di luar sana yang akhirnya lepas hijab dan kembali ke tampilan dia sebelumnya…”

“kamu berhijab bukan karena pengen ngikutin trend fashion para hijabers itu, kan?

“yakin kamu mau berhijab? nggak sayang sama rambut kamu? rambut kamu lagi bagus-bagusnya lho, lagi in lho potongan rambut kaya kamu itu. trus, badan kamu juga lagi bagus, udah balik normal, yakin kamu mau pakai baju yang longgar-longgar?”

“ngapain kamu susah-susah potong rambut, rambut pakai diwarnain segala kalau kamu akhirnya berhijab? udahlah, nggak usah hijab-hijabanlah… tar ajaa…”

Begitu banyak pertanyaan yang meragukan diri saya sendir. Tapi entah kenapa justru itu makin menguatkan saya untuk mulai menyortir busana-busana saya yang pas badan dan pendek-pendek, dan mulai memilah mana baju yang masih bisa saya kenakan dan mana yang harus saya karduskan. Dan mulai memadupadankan jilbab mana yang pas dengan baju yang mana. Semacam menemukan keasyikan sendiri sembari membereskan baju-baju saya.

Pagi harinya, 27 Juli 2015, dengan mengucap bismillah, saya mulai berangkat ke kantor dengan menggunakan hijab untuk pertama kali dengan perasaan yang masih campur aduk. Kalau sekadar berhijab dalam rangka memandu acara keagamaan di kantor sih sudah sering, tapi yang untuk nantinya jadi kostum sehari-hari ya hari itulah awalnya. Suami dan mama saya yang sebenarnya sudah memberikan restu sempat kaget karena tidak mengira permintaan izin berhijab yang saya lontarkan beberapa hari sebelumnya akan saya realisasikan hari itu.

----

Sesampainya di kantor, suasana ruangan masih tampak sepi, karena masih ada teman yang cuti atau sarapan di kantin dan belum kembali ke ruangan. Saya dengan sedikit mengendap-endap memasuki kubikel saya dan jadi kaget sendiri karena saya ‘dipergoki’ oleh salah seorang teman yang ternyata tidak saya sangka dia juga berhijab. Dia kaget melihat saya berhijab, pun saya ketika melihat dia juga berhijab, mengingat celetukan dia beberapa waktu lalu kalau berhijab itu nggak bisa fashionable, dia malah terlihat seperti nenek-nenek. Rasanya ‘ajaib’ melihat dia hari itu sudah berhijab, dan tampak jauh dari sosok yang dia gambarkan, dia terlihat lebih cantik dan anggun dengan hijabnya. Kami berdua berpelukan dan mewek berjamaah, terharu; karena sama-sama tidak menyangka bahwa kami yang beberapa minggu yang lalu masih ‘mainan’ jilbab sekadar untuk foto-foto selfie, sekarang kami berdua berhijab beneran.

Alhamdulillah respon yang saya terima semuanya positif walaupun seperti yang saya duga sebelumnya pasti lebih banyak yang terkaget-kaget melihat perubahan saya yang drastis. Bahkan ada yang (saya tahu dia pasti bercanda), “ah, ini pasti pencitraan…”. Tapi ya nggak apa-apa, namanya manusia pasti berproses.

Banyak secara pribadi menanyakan di watsap/bbm/DM twitter apakah (tampilan saya) ini untuk selamanya, apakah saya serius dengan penampilan saya yang sekarang, dan berbagai pertanyaan sejenis. Tapi ya ada juga yang mengira saya berhijab dalam rangka edisi (bulan) Syawal, atau ya kalau ada yang melihat penampakan DP BBM/watsap saya yang berhijab pasti mengira ya itu sekadar pasang DP berhijab saja, bukan untuk selamanya.

Dengan segala kerendahan hati, sederhana saja, saya cuma mohon didoakan, semoga saya istiqamah dengan hijab yang saya kenakan…

Matur nuwun….

 

 

[devieriana]

Continue Reading

“You cant make everyone happy…”

happiness

Di suatu sore, di salah satu sudut sebuah coffee shop.

“Akhir-akhir ini kok gue ngerasa kayanya hidup gue nggak ada benernya di mata orang lain. Ada aja yang salah. Mulai pilihan pekerjaan gue yang bukan kantoran kaya orang kebanyakan, selera fashion gue yang sering dibilang aneh sama orang lain, pilihan parfum gue yang katanya baunya santer banget, koleksi tas dan sepatu gue yang katanya modelnya itu-itu melulu, atau komentar tentang cowok gue. Banyak, deh. Ntar lama-lama muka gue juga salah di mata mereka”, gerutu seorang teman.

Saya tertawa sendiri mendengar gerutuannya. Jangan-jangan dia hidup saja sudah salah… *silet-silet nadi di bawah pancuran*

By the way, kita memang hidup di lingkungan masyarakat yang selalu ‘peduli’ dengan apa yang kita lakukan. Judgmental folks. Orang akan selalu memberikan ‘penilaian’ terhadap apa yang kita lakukan. Kalau penilaiannya positif berarti kita ‘aman’. Tapi kalau ternyata negatif, berarti… you’re dead! Kita merasa khawatir kalau orang lain tidak sependapat dengan kita. Khawatir kalau keputusan yang kita ambil itu ternyata mengecewakan orang lain. Orang akan melihat kita sebagai makhluk galaksi lain kalau kita ‘berbeda’ atau ‘unik’ di mata mereka. Alhasil, apapun akan kita lakukan asalkan orang lain senang.

Dulu, saya adalah orang yang paling takut membuat orang lain kecewa, padahal saya pun tak jarang dikecewakan oleh orang lain. Pokoknya dulu, kalau sampai membuat seseorang kecewa atau tidak senang itu akan membuat saya jadi orang yang paling merasa bersalah. Saya akan dibanjiri dengan pikiran-pikiran yang obsesif tentang bagaimana caranya memperbaiki situasi supaya orang lain tidak kecewa lagi, happy lagi dengan apa yang saya lakukan.

Apalagi waktu masih jadi anak baru di salah satu kantor. Ketika senior saya komentar begini-begitu tentang baju yang saya pakai, esoknya saya mengubah cara berpakaian saya. Atau ketika ada teman yang tidak setuju dengan opini saya, saya lantas berusaha menyesuaikan dengan apa yang mereka bilang. Kalau ada teman yang minta tolong, saya tidak bisa menolak. Kalau menolak, saya khawatir teman saya akan kecewa. Pokoknya saya sangat peduli dengan apa kata orang. Jangan sampai saya jadi terlihat ‘beda’ dengan orang lain. Jangan sampai saya mengecewakan mereka. Jangan sampai teman/lingkungan saya tidak suka sama saya. Akhirnya kok saya merasa bukan jadi diri sendiri ya. Apa-apa takut salah, khawatir di-bully, takut dicemooh. Itu dulu.

Sampai akhirnya saya sadar bahwa, we cant make everyone happy all of the time. And we shouldn’t. People will always have an opinion not only on what we do, but on almost everything.

society
Kita jelas tidak bisa selalu membuat orang lain selalu senang. Oleh karenanya, kita juga tidak perlu berharap agar orang lain menyenangkan kita. Dont even try to think about it, because it’s pointless. Akan selalu ada orang-orang di luar diri kita yang tidak suka dengan apa yang kita lakukan, atau tidak setuju dengan keputusan yang kita ambil. Akan selalu ada orang-orang yang akan membuat kita merasa bersalah atau tidak nyaman dengan diri kita sendiri. Wajar.

Masa iya, demi memuaskan orang lain, kalau ada orang lain bilang muka kita jelek, terus kita buru-buru operasi plastik ke Korea biar semua orang tidak merasa ‘terganggu’ dengan wajah kita? Atau, kalau misalnya ada satu orang yang sedang bad mood, adalah kewajiban semua orang jadi untuk menjaga mood-nya sepanjang hari supaya terus stabil? Hei, kita ini bukan malaikat penjaga mood yang berkewajiban membuat orang lain selalu senang. Our mood and feelings are still our own responsibility and decision.

Jadi ingat, dulu pernah ada seorang teman yang meminta saya untuk mengganti avatar saya di Whatsap, karena dia kurang suka dengan baju yang saya pakai. Baju saya dianggap ‘kurang pantas’ menurut dia. Sempat berpikir, di mana letak tidak sopannya, ya? Saya pakai baju lengan panjang dengan kerah model V-neck, posenya pun biasa saja, bukan pose-pose yang ‘menantang’ umat manusia layaknya pose cover majalah dewasa. Tapi ya sudahlah, berhubung saya malas ribut dengan teman, akhirnya saya langsung mengganti sesuai ‘request’. Selesai. Tapi dongkol. Hahahaha…

Nah, penting juga tuh untuk tidak melakukan sesuatu karena keterpaksaan, karena apapun hasilnya tidak akan maksimal dan memuaskan hati. Menjadi orang yang baik itu penting, tapi (disarankan) jangan sampai orang lain mengambil keuntungan dari kemurahan hati kita. Katakan ‘iya’ kalau memang benar-benar sanggup, tapi jangan segan untuk menolak jika memang tidak mampu. Bukan berarti kita tidak boleh menolong orang lain lho. Menolong orang lain jelas boleh. Tapi menolong yang bagaimana dulu, itu yang perlu kita pilah. Kuncinya satu: ikhlas; jangan ngedumel di belakang.

Makin ke sini, kalau ada komentar apapun tentang saya, saya sikapi saja dengan lebih santai. Selama masukan itu bersifat positif dan membangun, pasti akan saya terima dengan hati terbuka. Tapi kalau komentarnya agak ‘kurang penting’ ya sudah, terima kasih saja buat atensinya. Saya tidak bisa memaksa orang lain untuk menyukai saya dan apapun yang saya lakukan, pun sebaliknya. If people like it, great. But if some dont, it is OK! Intinya, nggak masalah.

Ada saatnya kita memberi kesempatan dan ruang bagi diri sendiri untuk bahagia, bukan melulu menyenangkan orang lain. Sesekali bolehlah, tapi tidak selalu. Belajar berkata tidak, kalau memang tidak bisa, tidak sanggup, atau tidak mau. Jadi diri sendiri akan jauh lebih melegakan ketimbang menjadi orang yang selalu menyenangkan/memuaskan orang lain, padahal ada keterpaksaan di balik itu semua.

Instead of trying to make others happy, make yourself happy and share that happiness with others.

Just my two cents…

[devieriana]

 

ilustrasi diambil secara semena-mena dari Pinterest ini dan Pinterest itu

Continue Reading
1 3 4 5 6 7 30