Asli atau Bayar?

Beberapa waktu yang lalu saya sempat ngobrol dengan seorang teman lama di YM. Teman waktu saya masih tinggal di Surabaya. Lumayan lama kami tidak tahu kabar masing-masing sejak masing-masing dari kami menikah. Setelah akhirnya dia menjawab ucapan selamat ulang tahun yang saya kirimkan di YM akhirnya kami lanjutkan dengan saling bertukar kabar.

Saya kabarkan kalau saya sekarang berkarir sebagai PNS. Dia kelihatan tidak terlalu terkejut. Justru meminta saya bercerita apa motivasi saya, dll. Ya sudah saya ceritakan apa adanya. Saya bilang sama dia, kalau mau diceritakan prosesnya dari awal ya terlalu panjang. Akhirnya saya kasih link runtutan ceritanya di sini. Itulah salah satu keuntungan punya blog, punya arsip tentang cerita hidup ;))

Berhubung dia juga waktu itu lagi sibuk jadi sepertinya link yang saya kasih itu belum di baca. Ya iyalah, untuk baca “cerita berseri” yang panjang begitu kan butuh waktu :). Eh, mendadak dia menanyakan sesuatu sama saya dan itu pertanyaan yang cukup “makjleb”. Halah,lebay banget deh ;))

Teman : “aku mau nanya tapi jangan tersinggung ya..”

Saya : “Apa? :-?”

Teman : “kamu kok bisa masuk PNS di situ, bayar apa ikut tes?”

Makjleb! #-o Duh, sumpah nih ya, pertanyaan itu kok ya ditanyakan pas saya PMS ya. Kalau aslinya ya jujur saya pengen jitak-jitakin dia deh, “tuk-tuk-tuk!” ~X( . Tapi untung waktu itu saya lagi dikelilingi malaikat yang baik hati semua, jadi pas di tanya seperti itu hati saya adem ayem kaya ada angin semilir sepoi-sepoi gitu. Dia lagi beruntung aja mood saya pas lagi bagus :p . Jadi ya saya jawabnya juga santai aja gitu, kaya di pantai.. :-” *kipas-kipas*

Saya : “ya ikut teslah, sama kaya yang lain.. Asli!”

Teman : “Asli bayar apa asli ikut test”

Wah, mulai nyari gara-gara nih >:)

Saya : “Ya asli ikut test-lah. Maksudnya gimana sih? Kalau nggak percaya baca aja di situ

Teman : “Ya kali aja ada yang off the record, yang nggak kamu ceritakan”

Saya : “yaelah, kalau mau bayar, aku mau jual sawahnya siapa? Aku kan bukan orang berada :(( “

Teman : “ya kan kamu orang berada..”

Saya : “berada apa? berada di Jakarta? ;)) “

Teman : :))

Dia lalu membandingkan (bercerita) kalau masuk PNS ditempat dia bekerja itu ada yang melalui “jalan belakang”. Biayanya pun sampai ratusan juta. Saya cuma bisa melongo. Memang bukan rahasia lagi sih kalau sistem KKN itu mau gimana-gimana juga masih tetap ada. Tapi saya nih ya, kalau iya syarat menjadi PNS harus mengeluarkan biaya sedemikian banyak sampai ratusan juta rupiah, ya mending saya bekerja jadi pegawai swasta tho, lha wong nggak pakai bayar, malah saya yang dibayar. Ya kan?

Tapi alhamdulillah, Allah memberi saya kesempatan untuk menjadi PNS melalui jalan yang murni dari hasil seleksi. Kalau temen-temen baca cerita saya dari awal, malah yang ada isinya deg-degan melulu. Nggak berani posting blog sebelum ada hasilnya. Malu kalau sudah terlanjur cerita sana-sini nggak tahunya gagal :(( . Teman-teman kantor aja cuma sedikit yang tahu kalau saya ikut seleksi CPNS, padahal awalnya saya yang emoh-emoh ;)). Tapi ya mungkin sudah rejeki ya, jadinya jalannya alhamdulillah mulus.

Sekedar cerita nih, dulu banget waktu saya baru saja tinggal di Jakarta & diajak jalan-jalan sama suami, pertama kali saya lihat gedung dengan halaman luas yang masih satu komplek sama Istana Negara ini cuma bisa kagum sambil dalam hati bilang, “Ya ampun keren banget ya kantor ini. Kapan aku bisa bekerja di sana ya..”. Eh, lha kok ndilalah Allah mengabulkan bisikan hati saya itu 2 tahun kemudian 🙂

Banyak jalan untuk mencari rezeki. Mau berkarir sebagai pegawai swasta atau pegawai negeri semuanya sah-sah saja, tergantung Allah ngasih rejekinya kemana. Ada yang lebih senang berkarir sebagai pegawai swasta karena secara penghasilan jauh lebih besar, syaratnya pun lebih mudah ;). Ada juga yang lebih memilih berkarir menjadi PNS seperti saya yang harus memulai lagi dari awal & menyesuaikan diri lagi, mencuci otak saya yang masih terlalu swasta itu untuk menjadi PNS ;))

Sebenarnya waktu ikut ujian saya nggak terlalu ngoyo. Saya cuma ikut ujian satu saja di satu kementrian saja & alhamdulillah lolos, walaupun ujiannya berlapis-lapis (seleksi dokumen, test tulis, psikotest & interview). Mungkin salah satu kuncinya karena kemarin saya tidak terlalu ngoyo ya, jadi ketika ikut test tidak ada beban sama sekali.:)

Jadi buat teman-teman yang akan berjuang di seleksi CPNS tahun ini, selamat mempersiapkan diri ya dan nggak usah terlalu ngoyo, santai saja. Kalau sudah rejeki nggak akan kemana-mana kok. Berkarir juga tidak harus menjadi PNS kan? Yang sukses di jalur swasta atau bahkan membuka usaha sendiri juga banyak yang sukses kok. Ok, darling? 🙂

Good luck! :-bd

[devieriana]

Continue Reading

Fungsi atau Gaya?

Dari dulu saya nggak pernah tergoda banget sama yang namanya meng-update gadget. Kalaupun iya di-update itu butuh waktu tahunan, karena selain dulu harga HP masih terbilang mahal, selain itu juga saya lebih memilih fungsi ketimbang meng-update setiap kali ada yang baru. Gila, emang kita konter HP? ;))

Kalau dulu sekitar tahun 2004 Blackberry (BB) masih sangat eksklusif & hanya kita layani penjualannya untuk pembeli kelas premium & corporate, nggak ada tuh dari kita yang tertarik untuk beli. Ya wajar, karena emang masih mahal ;))  Jadi update-nya masih sebatas Nokia, Ericsson dan teman-temannya.

Pernah dulu waktu booming-boomingnya Nokia 36503660, orang sekantor seragam pakai itu semua. Yang berbeda cuma casing-nya saja, selebihnya sama. Sampai-sampai ringtone dengan nada “dari Telkomsel” yang selalu ada di tiap ending iklan Telkomsel juga jadi ringtone khas kami. Jadi kalau salah satu ada yang bunyi yang pasang ringtone itu pada barengan spontan ambil HP, pada ke-GR-an kali aja HP mereka yang bunyi :)). Nggak kreatif ya? Ya kan waktu itu keren banget pakai ringtone itu, handphone belum banyak yang pakai pula. Ceritanya ngeksis :)). Ya kalau sekarang mah udah basbang (basi banget) kali 🙂

Beda jaman, tentu beda trend. Kalau dulu BB masih jadi benda eksklusif dan mahal, sekarang sudah jadi handphone sejuta umat. Bagaimana  tidak, kalau sekarang hampir semua kalangan, mulai pelajar sampai orang kantoran bisa dilihat di mana-mana menenteng BB. Semuanya sama, yang beda tentu saja “sarung”-nya. Mulai yang terbuat dari silikon (ini yang paling banyak),  sampai yang alumunium.

Sampai ada temen yang bilang gini sama saya  :

Temen : ” Kadang bosen ya, dimana-mana liat orang yang nenteng HP dengan sarung warna-warni itu”
Saya : “Maksudnya BB?”
Temen : “Hyaiyalah, apalagi..”
Saya : “Ya udah, jangan diliatlah.. ;)) “
Teman : “bukan gitu, Dev. Kadang gue suka heran liat masyarakat kita itu sebenernya latah atau gimana ya? Kalau ada trend tertentu kenapa semua langsung heboh pada ikutan? Padahal kadang belum tentu trend itu sesuai sama mereka atau gaya hidup mereka..”
Saya : “bisa jadi selain sebagai trend, BB atau smartphone dianggap mewakili gaya hidup tertentu & bagian dari kebutuhan hidup”
Teman : “jadi, sebenernya BB & smartphone itu bagian gaya hidup atau kebutuhan?”
Saya : “butuh karena menjadi bagian dari gaya hidup” :p

Tak bisa dipungkiri bahwa trend handphone ber-keypad QWERTY telah menjadi idola dan perburuan hampir semua kaum dalam kurun waktu 2 tahun ini. Smartphone kini bukan lagi handphone canggih semata, namun lebih dari itu, sudah menjadi bagian dari kebutuhan hidup utamanya masyarakat perkotaan. Kalau dulu kita melihat smartphone hanya digunakan oleh orang-orang kantoran yang levelnya middle management sampai top management, sekarang semua kalangan bisa pakai. Seiring dengan semakin terjangkaunya harga barang & meningkatnya permintaan pasar.

Kalaupun sekarang saya menggunakan BB bukan karena latah, tapi karena kebetulan dibelikan sama suami sebagai kado :p . Kecuali kalau dulu saya dikasih pilihan handphone lain yang lebih canggih ketimbang BB mungkin saya akan pilih Android atau apalah yang mahalan sekalian. Iya dong, kalau ada yang nawarin ya jangan tanggung-tanggung, yang mahal sekalian >:) . Becanda. Bisa dihajar suami nih kalau sampai beneran iya saya kaya begitu :)). Tar habis beli HP canggih nan mahal, besok-besoknya kita puasa :-s . Ya saya sih lebih bersyukur aja bisa ganti HP setelah Nokia 7610 saya menemani selama hampir 6 tahun nggak ganti-ganti sampai bulukan ;))

Tapi ada salah satu temen yang selain menggunakan BB & juga menggunakan smartphone lain dan sekarang ganti ke Android itu mengaku menggunakan smartphone karena memang butuh. Jadi lebih ke fungsi. Wajar karena memang dia selain orangnya mobile juga tergolong makhluk sibuk. Dalam seminggu jadwal seminar bisa penuh banget. Dia kebetulan pengguna BB sejak jaman BB belum se-booming sekarang. Dulu saya pernah di kasih lihat BB-Bb-nya yang sudah tidak lagi dipakai tapi masih disimpan buat koleksi. Kalau soal itu mungkin sudah beda lagi, bukan lagi soal fungsi tapi juga menjadi bagian dari life style. Sama seperti pena Mont Blanc Meisterstück 149 Fountain Pen dengan mata pena terbuat dari emas 18 karat kapan hari ya? 😉

Di luar itu semua, kalau masalah HP saya lebih memilih fungsi ketimbang ikutan trend. Terbukti HP saya yang sudah almarhum itu bisa awet menemani saya selama beberapa tahun. Selain bandel & tahan banting (karena sudah jatuh beberapa kali) dia juga saya anggap masih bisa mengakomodir kebutuhan saya. Selama masih bisa sms & telepon plus gprs/mms, ya sudah cukup. Toh kesibukan saya juga nggak padat-padat banget, pikir saya waktu itu.

Tapi kalau sekarang sih kebetulan fungsi yang ada di BB itu semuanya menyesuaikan dengan kegiatan saya, misalnya twitteran, buat merekam suara saya & mendongeng untuk kemudian saya posting di sini (padahal baru satu doang), belum buat fb-an dan foto-foto =)). Nggak, nggak, bo’ong deng :^o . Sejak pakai BB justru tagihan saya lebih sedikit ketimbang ketika pakai HP biasa. Kalau dulu tagihan bisa sampai 300 ribuan lebih, sekarang dooong.. 299 ribu! Kyaaa, beda cuma seribu doang =)). Becanda. Lumayan bisa setengahnyalah. Karena kan kalau BB sistem pemakaiannya berlangganan & kita mendapatkan unlimited internet access. Trus kebetulan keluarga di Surabaya juga pakainya BB, jadi untuk komunikasi kita pakai BBM (Blackberry Messenger) yang notabene gratisan. Jadi itu salah satunya, faktor ngirit ;;)

Semakin maraknya penggunaan BB kini bukan hanya sebuah trend tapi sudah menjelma menjadi pelengkap gengsi atau status sosial seseorang. Gengsi kalau dia tidak menggunakan Blackberry meskipun sebenarnya dia gak terlalu butuh dengan fitur-fitur yang ada di Blackberry ini. Belum tentu mengerti cara penggunaannya, bagaimana mengoperasikannya, cara cek email, cara kirim email, chatting di BB dan berbagai fitur lainnya yang ada. Dulu saya pernah bilang, “handphone boleh Blackberry tapi kalau nelpon masih juga pakai CDMA dengan alasan biar murah.. “. Mungkin akan dijawab, “Biar gaya harus tetap cermat dalam hal biaya dong!”.

Agree! :p
Tadi siang ada status temen yang unik, “selamat tinggal trackball, selamat datang touch screen!”. Saya yang kebetulan sudah paham sama tingkah lakunya sahabat yang satu itu ya cuma mesem-mesem aja, sampai akhirnya dia mendadak menyapa saya :

Teman : “yuk kapan kita ketemuan? sekalian mau pamer handphone-ku yang baru nih” —> kyaaa, niat banget ya, ketemuan buat pamer ;)). Tapi dia cuma becanda kok 😉
Saya : “iya deh yang sekarang pakai Android. Yuk, mau kapan ketemuannya? Eh, trus BB-nya kamu kemanain mas? BBM kamu aku hapus nih?
Teman : “Jangan dihapus dulu, nanti aku kabari kalau sudah resmi” —> jaah, pakai diresmikan. Jangan-jangan pakai tumpengan sama gunting pita segala nih ;))
Saya : “oke deh. Trus kenapa kok ganti Android? Apa karena BB sudah jadi handphone sejuta umat ya? 🙂 “
Teman : “iya, BB sekarang sudah nggak ekslusif lagi. Aku nggak mau tiap kemana ditanyain nomer PIN. Akhirnya contact list BBM-ku makin banyak”

Oh, ada lagi nih ternyata. Ganti HP karena nggak mau terlalu banyak dikembarin sama orang. Kurang eksklusif katanya 😉 . Okelah, masing-masing pasti punya alasan tersendiri ya.

Nah, kalau pertimbangan Anda sendiri sebelum memutuskan untuk membeli merk & type HP tertentu biasanya karena apanya sih?

[devieriana]

gambar saya pinjam dari sini dan sini

Continue Reading

Dimanakah Kalian?

Jadi artis sepertinya masih salah satu favorit untuk mendulang rupiah. Termasuk menjadi seorang penyanyi. Kalau saya perhatikan kok kayanya jadi penyanyi itu sekarang gampang bener ya.. Asalkan punya tampang lumayan, suara pas-pasan pun bisa jadi penyanyi. Apalagi kalau sudah lebih dulu dikenal sebagai artis, jalan bakal lebih lempeng untuk menjadi penyanyi. Tinggal poles sana sini, taraa.. jadi penyanyi deh (alakadarnya).

Tapi yang ingin saya bicarakan disini bukan masalah jadi penyanyi itu gampang (sebelum saya ditabokin sama penyanyi-penyanyi baru yang bersuara ala kadarnya itu). Saya cuma pengen tanya, apa kabar sih artis-artis jebolan, AFI, KDI, Mamamia, Indonesian Idol, dan banyak lagi perlombaan sejenis yang sempat beberapa waktu sempat booming banget. Kemana ya mereka semua sekarang ini? Kok sepertinya tidak lagi terdengar gaungnya 😕

Jaman-jaman AFI (Akademi Fantasi Indosiar) marak diberitakan, teman-teman sayapun dengan heboh & fasih menceritakan kelebihan & kekurangan masing-masing peserta, mulai babak audisi sampai final. Tentu saja juga lengkap dengan kisah hidup di balik masing-masing pesertanya. Saya memang tidak seberapa tertarik mengikuti acara-acara pencarian bakat macam itu hanya kadang memang nonton tapi nggak rutin. Wong saya memang nggak pernah hafal jadwalnya ;))

AFI sukses dengan rating & dulangan rupiah dari iklan, diikuti dengan berbagai talent show sejenis di stasiun televisi lainnya. Sebut saja Indonesian Idol, KDI, Mamamia. Semua punya segmen penonton sendiri-sendiri. Punya jagoan favorit masing-masing. Kemasan & stasiun yang menayangkan boleh berbeda, tapi dari berbagai versi talent search itu ada satu kesamaaan format, pemenangnya bukan berdasarkan pilihan juri tapi berdasarkan polling sms. Siapa yang jadi favorit penonton & paling banyak perolehan smsnya, dialah yang akan jadi pemenangnya.

Dari awal saya sebenarnya kurang setuju kalau pemenangnya berdasarkan dari banyaknya sms yang masuk, karena kok sepertinya kurang fair ya. Bisa jadi si pilihan penonton itu menang bukan karena dia unggul secara kemampuan teknis tapi ada faktor lain yang mendorong penonton memilih dia, misal karena secara fisik memang menarik walaupun secara kualitas suara pas-pasan, latar belakang ekonomi, kisah pribadi yang mengharukan. Belum lagi keluarga & teman si peserta lomba yang sampai rela mengeluarkan uang jutaan rupiah hanya untuk membiayai pengiriman sms sebanyak-banyaknya supaya jagoan mereka menang. Saya bisa bicara seperti ini karena lebetulan salah satu keluarga teman saya ada yang masuk ke Indonesian Idol beberapa tahun lalu & melakukan hal yang sama ;))

Contoh gampangnya nih, jaman pertama kali AFI berjaya, maaf nih ya, menurut saya pemenangnya dari segi kualitas vokal sih biasa banget. Nggak terlalu istimewa (sama kaya saya deh) :p . Tapi berhubung kemenangannya berdasarkan pooling sms & berhasil memunculkan simpati penonton pada kisah hidupnya yang mengharu biru, jadilah dia menang walaupun dari segi kualitas vokal mepet banget. Baru yang season kedua itu agak mendingan karena si penyanyi memang sudah penyanyi & sering manggung. Lalu bagaimana dengan berikut-berikutnya? Ah, biasa banget, lebih ke jualan reality show. Setelah menang mereka tampil hanya di acara-acara on air Indosiar tapi hanya waktu di awal-awal kemenangan mereka saja (waktu AFI masih booming & masih banyak yang suka). Setelah itu? Hello, where are you guys?

Indonesian Idol , di awal-awal tayang saya sempat simpati karena kok kayanya kualitas vokal & kemampuan pesertanya lebih bagus daripada acara sejenis di stasiun televisi lain ya? Ditambah lagi ketika para finalisnya (angkatan pertama) memang layak untuk masuk babak final walaupun berdasarkan polling sms, saya mulai mengakui kalau opini saya tentang kemenangan by pooling sms itu kurang fair. Walaupun akhirnya Joy Tobing memilih untuk menyerahkan mahkota kemenangan pada Delon yang juga mendapat simpati tak kalah banyaknya karena selain dia ganteng (uhuk!), kisah hidupnya juga cukup menumbuhkan simpati penonton. Maka relatif tidak jadi masalah ketika pemenang satu diserahkan kepada runner up. Toh masih sebelas-dua belas ini kualitasnya.  Season kedua masih lumayanlah. Tapi makin kesini-kesini, eh kok biasa aja ya? Malah cenderung menurun kalau menurut saya. Pemenangnyapun kayanya setelah menang harus berjuang sendiri mencari order manggung. Hanya Delon, Lucky, Mike, Judika yang masih lumayan sering terihat di acara-acara on air televisi. Yang lain, nggak ada kabarnya. Mike juga masih sering tampil di istana atau di KBRI untuk acara kenegaraan walaupun sejauh ini sih saya belum pernah lihat langsung ya, soalnya belum pernah diundang ke istana walaupun kantornya sebelahan 😀

Satu lagi Mamamia, itu acara sebenernya bagus, tapi kayanya kelamaan acara hahahihi-nya jadi berasa nonton acara lawak daripada acara pencarian bakat menyanyi :-?. Itu juga bernasib sama, apa kabar itu pemenangnya ya? Si mamanya kemana, anaknya juga sekarang ngapain. Sama sekali enggak jelas. Kesan yang saya tangkap kok malah sekedar mencoba mencari peruntungan menjadi artis ya? Emang dipikir nanti setelah jadi artis gampang apa? Cih, kaya pernah jadi artis aja ya (monggo kalau mau ngeplak saya lho) ;))

Itu baru sebagian contoh dari sekian banyak acara sejenis. Walaupun konsepnya sama dengan di luar negeri, tapi tetap berbeda banget dengan talent show sejenis di Amerika. Misal saja, American Idol gaung pemenangnya itu sampai sekarang masih berasa banget. Para alumnus American Idol, sebut saja Kelly Clarkson, David Cook, Jordan Sparks, dan Katherine McPhee karir mereka nggak cuma berhenti sampai jadi pemenang Idol saja, tapi ada lanjutan karir setelah proses menjadi Idol itu. Meskipun kemenangan mereka awalnya juga berdasarkan polling sms. Tapi secara kualitas mereka juga “megang banget”.

Buat saya power & kelebihan yang dimiliki oleh sang pemenang jika tidak didukung oleh manajemen & promosi yang bagus akan sia-sia. Karena, walaupun dia memiliki potensi yang dahsyat sebagai seorang bintang namun jika orang-orang yang ada dibalik layar manajemen tidak bergerak secara maksimal, mau setahun atau beberapa tahun ke depan progress sang artis akan terlihat statis dan jalan di tempat.

Ah, anggap saja ini cuma pendapat saya yang sirik sumirik karena nggak bisa ikut acara talent show kaya gini ya ;)). Pertanyaan saya selanjutnya adalah  : bagi mereka yang sudah menjadi pemenang sebuah acara pencarian bakat lokal bagusnya bagaimana sih? Apakah mereka harus mengatur sendiri karir mereka misalnya dengan membuat manajemen sendiri, atau lebih baik bergabung dengan manajemen artis yang sudah punya nama?

Bagaimana menurut kalian? 🙂

[devieriana]

Continue Reading

[Suara] Dengarkanlah Aku..

Nggak, postingan ini nggak ada hubungannya dengan grup band Hijau Daun yang tenar dengan lagu berjudul Suara, itu kok. Cuma mau pinjem syairnya doang :p

Pernah menjadi bagian dari callcentre (baca : customer service) merupakan hal yang menyenangkan sekaligus menguntungkan. Bete-betenya sih pasti ada, tapi lebih dari itu saya jadi tahu bagaimana cara berkomunikasi dengan orang lain, setidaknya untuk pekerjaan saya yang sekarang. Emang ada hubungannya? Ada  😉

Ah, jadi pengen cerita sedikit tentang hal lucu-lucunya kerja di callcentre nih. Kebanyakan dari kita ketika pertama kali online, pasti di minggu-minggu pertama akan terserang sindrom “online terbawa mimpi” atau jadi mendadak aneh waktu terima telpon di handdphone/rumah. Kalau sampai nggak mengalami kayanya kurang seru ya. Jadi, kalau di callcentre biasanya begitu callmaster berdering langsung kita angkat (maksimal di dering ketiga), nah itu bisa terbawa sampai ketika menjawab telepon di handphone atau rumah.

Seperti misal kasus ini  :

Kriing..
“Selamat pagi. Mohon maaf dengan siapa saya bicara? Ya, baik. Ada yang bisa dibantu? Begitu ya, baik nanti akan saya sampaikan. Ada lagi yang bisa dibantu? Baik, terimakasih telah menghubungi Telkomsel, selamat pagi..”

Aslinya : terima telpon dari bengkel, yang menginformasikan kalau perbaikannya sudah selesai.

Atau  :

“Selamat pagi. Dengan siapa saya bicara? Oh Ibu RT, ada yang bisa dibantu? mama sedang ke pasar. Mungkin ada pesan? Oh begitu ya, baik.. Ada lagi yang bisa dibantu? Terimakasih, selamat pagi..”

Aslinya : terima  telepon dari bu RT lagi nyari si Mama, mau tanya jadwal arisan ;))

Atau ada yang sampai ngelindur, “online” dengan mata terpejam, langsung menekan tombol kipas angin & langsung greeting pembuka :

“Telkomsel selamat pagi dengan Nia bisa dibantu? Halo.. Halo? Mohon maaf suara Anda tidak terdengar, terimakasih telah menghubungi Telkomsel, selamat pagi..”

Bicara dengan posisi tangan menekan tombol kipas angin lagi & kembali tertidur tanpa dosa. Giliran teman sekamar yang bengong & setelahnya tertawa cekakakan =))

Nah, itu sebagian kecil cerita lucu di callcentre. Kalau mau bicara tentang hal lucu dan menakjubkan lainnya sih banyak. Tapi lebih dari itu sejak kerja di callcentre kebanyakan dari kita jadi tahu cara mengatur suara & berkomunikasi utamanya via telepon. Jadi tahu cara memilih padanan kata, tata bahasanya jauh lebih terarah & terstruktur (halaaah..) dibandingkan dengan sebelum jadi callcentre officer. Eh itu terutama buat saya yah, hihihi.. ;))

Sekarang saya memang bukan lagi menjadi bagian dari callcentre, tapi sisa-sisa pendidikan & ilmu selama saya bekerja disana masih terpakai sampai sekarang. Apalagi sekarang menjawab telepon menjadi salah satu tugas saya. Kalau kemarin-kemarin menerima telepon hanya sebatas untuk kepentingan koordinasi internal dengan rekan sekantor, kalau sekarang ya dari mana-mana & sepanjang hari suara saya harus tetap terdengar cerah, merdu, segar & smiley.. Halah, lebayatun.. *ditimpuk elpiji* ;))

Sebenarnya tidak ada aturan tertulis yang mengharuskan saya begitu. Mmh, improvisasi aja, saya yang mengatur suara saya sendiri. Sadar kalau pekerjaan saya sekarang banyak berhubungan dengan orang lain, jadi salah satu modalnya ya suara :p *nyisir poni*. Bukankah suara juga jadi “first impression” (baca : image) seseorang/perusahaan kan? Contohnya penyiar deh. Kalau “body” suaranya gagah atau renyah, terdengar utuh, gaya komunikasi yang dibangun mengalir lancar & nggak gagap (iyalah mana ada penyiar gagap?), pasti yang denger juga seneng kan? Nggak heran kalau banyak yang terkiwir-kiwir dengan penyiar, walau kadang ketika kopdar, tidak seindah yang diimajinasikan ;)) *diulek sama mikropon*

Begitu pula ketika dulu saya memberikan materi training buat temen-temen calon agent callcentre. Selalu saya tekankan untuk menjaga intonasi & suara (smiling voice). Caranya : salah satunya dengan merekam sendiri suara kita di handphone trus kita dengerin sendiri. Dari situ kan kita akhirnya bisa mengukur, kira-kira sudah ok belum ya suara kita? Sudah cukup ramah belum terdengarnya? Kalau suara saya aslinya (kalau sedang tidak on duty) persis kaya ember ditepuk-tepuk kok.. ;)) *nyuci*

Ya sebenarnya lebih ke menempatkan diri jadi orang lain sih, yang pasti juga akan sebel ketika kita menghubungi  sebuah instansi/perusahaan tapi nada suara penerima teleponnya galak atau kurang helpful. Yang awalnya kita menelepon dengan suara ramah, jadi ikutan sebel. Selain bikin takut juga bikin males kan? :p

Jadi, seberapa tersenyumkah suara Anda? 😉

[devieriana]

Continue Reading

You Are What You Wear..

Sebenernya ide postingan ini muncul ketika kemarin siang saya makan siang di kantin bersama 3 orang teman kantor. Awalnya sih cuma berdua, tapi yang 2 lagi nyusul setelah kami selesai makan. Awalnyapun nggak berniat membahas soal outfit, tapi begitu celetukan demi celetukan muncul mengomentari pakaian masing-masing kok saya jadi ngikik sendiri ya. Masalahnya yang kita komentari itu orangnya.. ah sudahlah ;))

Ada salah satu temen kantor, cowok, yang bajunya selalu rapi jali. Celana selalu tersetrika dengan 1 garis lurus (nggak dobel-dobel), kemeja lengan panjang yang selalu dimasukkan, sepatu yang selalu tersemir dengan mengkilat, rambut yang kelimis dan.. ah pokoknya rapilah. Saya aja yang perempuan suka minder kalau deket dia, rapian dia soalnya, padahal sudah berusaha terlihat tertib & rapi tapi kalau sama dia saya masih kalah ~X( .

Mama saya sering bilang, “ajining diri gumantung ing lathi (kita akan dihargai orang karena kepribadian kita, ucapan kita), ajining raga saka busana (kita dihargai karena penampilan, kalau penampilan kita rapi, sopan, orang juga akan segan)”.
Almarhumah nenek saya juga begitu, berusaha selalu rapi. Jangankan dirumah, kadang mau main ke tetangga aja atau ke warung sebelah pasti benerin baju dulu, merapikan sanggul (nenek saya biar kata masih pakai kain (jarid) tetep keliatan keren lho.. \m/ ), setidaknya nggak terlihat kedodoran. Akhirnya kebiasaan rapi itu menurun ke mama & tante-tante saya, sekarang nurun ke saya dan adik-adik saya. Enggak, enggak, saya nggak pakai jarid kok ;))

Kalau soal merk, saya kebetulan bukan orang yang brand minded. Kalau nemu (kaya mungut dijalanan aja ya kesannya) baju yang modelnya lucu, pas badan, enak dipakainya, ya sudah saya beli. Nggak harus yang merknya ini, modelnya begitu. Tapi jujur kalau soal harga ya masih mikir-mikir jugalah ;)). Ya intinya kalau memang bajunya layak dengan harga segitu, selama masih affordable ya saya beli. Tapi kalau enggak ya nggak maksa. Baju bisa kebeli habis itu saya puasa :-?? . Paling-paling solusinya beli kain, nanti modelnya saya contek, bawa ke penjahit. Udah deh. Eh,tapi jarang sih yang kaya begitu. Ke penjahit khusus buat jahit kebaya aja. Selebihnya kalau buat baju pesta atau kerja lebih seneng beli. Lebih memilih ke praktisnya aja sih.

Nah kebetulan kita kemarin membahas tentang merk & kenyamanan pakai serta tingkat keawetannya. Pilih mana, mahal tapi awet atau murah tapi gampang soak? Kalau saya sih, murah tapi awet :p . Eh nggak ada dalam option ya? *dilempar sapu*. Salah satu temen yang nggak disangka-sangka harga bajunya tiba-tiba minta ditebak berapa harga sepatu yang dia pakai. Kita asal aja dong nebaknya, “seratus ribu!”. Dia menggeleng sambil mencibirkan bibir (iyalah, masa mencibirkan lutut?).

Temen 1 : “salah.. Ayo tebak lagi!”
Temen 2 : “limapuluh ribu!”
Temen 1 : “lah, kok malah turun sih?”
Temen 2 : “lho, lha wong pantesnya segitu..”

Setan bener dah nebaknya :))

Temen 1 : “yang bener, tujuh ratus ribu..”
Kami : “HAAAAAA?! ” &*@)*^%!?& (diucapkan dengan ekspresi ketidakpercayaan yang sangat tinggi)
Temen 1 : “lho, kenapa? emang harganya segitu kok.. Coba tebak, baju batikku yang merah itu harganya berapa?”
Saya : “limapuluh ribu!”
Temen 2 : “seratus 3!” –> eh buset, parahan dia malah =))
Temen 3 : “tigapuluhlima ribu!” –> nyahahahaha ;))

*pelecehan & penginjakan harga diri habis-habisan*

Temen 1 : “salah semuaa.. yang bener enamratus ribu!”
Kami : “HAAAAAAAA??!” &*@)*^%?&! (diucapkan dengan ekspresi ketidakpercayaan lapis tujuh)
Saya : “emang beli dimana sih? Ambassador?” –> mulai rese’
Temen 2 : “terbuat dari apa sih bahannya? Sutera ya?”
Temen 3 : “mungkin lilin batiknya bukan dari lilin biasa, tapi lilin yang dipake buat di kuil-kuil ya..”

*ngakak =))*

Temen 1 : “salah semua ah kalian, emang harganya segitu. Aku belinya di Ce*tro..”

Nggak tahu kenapa kami bertiga cekikikan setengah nggak percaya kalau baju batik warna merah yang suka dipakai sama dia itu harganya segitu amat. Padahal keliatannya ya emang “nggak gitu-gitu amat”. Beneran ;)) .

Temen 3 : “kesan si baju itu tergantung dari siapa yang pakai. Kalau kita yang pakai, mbok ya mau harga ratusan ribu bakalan keliatannya biasa-biasa aja, nggak bakal keliatan kalau harganya ratusan ribu. Tapi coba kalau yang pakai itu kelasnya deputi, mbok ya mau beli baju yang harganya limapuluhribuan kita akan tetep nyangkanya harganya pasti lebih dari itu..”
Saya : “oh, limapuluhribu limaratus ya..”


Beda cuma limaratus perak doang! ;))

Tapi iya juga sih. Kalau kita pintar memilih bahan, memadu padan dengan warna & bahan yang sesuai atau memilih model yang sesuai dengan bentuk tubuh & “kesannya” mahal, baju yang kita pakai kesannya juga akan keliatan mahal. Sering saya kaya begitu. Dikira bajunya beli dimana, nggak taunya.. dimana coba? :p (ealah, malah main tebak-tebakan). Saya lebih setuju dengan pendapat ini sih. Ketimbang memilih outfit yang bener-bener branded & berharga selangit tapi modelnya biasa aja. Udah mahal tapi nggak ada yang tahu. Eh, bukan berarti kalau habis beli baju mahal trus bandrol harganya nggak usah kita lepas lho.. :D. Sesekali beli barang branded selama masih masuk selera, affordable (terjangkau) dan layak untuk dibeli sih boleh kok. Terlepas dari itu semua faktor kenyamanan & keawetan barang yang kita beli itu yang masih jadi pilihan utama, terlebih buat saya.. ;;)

[devieriana]

gambar pinjam dari sini

Continue Reading