Makanya, Jadi Orang Yang Sabar!

Sore ini seperti biasa saya dan sahabat saya pulang kantor menyusuri jalanan Thamrin, Sudirman dan sekitarnya menuju Gatot Subroto. Seperti biasa pula yang namanya macet nggak mungkin bisa dihindari, apalagi menjelang long weekend seperti sekarang ini. Semua orang pasti pikirannya sama, ingin lebih cepat sampai dirumah. Ya iyalah kapan lagi bisa kumpul lebih lama dengan keluarga apalagi besok libur. Ya kan? 🙂

Nah, seperti biasanya pula kami selalu ada “ritual” pilih jalur ketika akan memasuki daerah Sudirman. Ya kan pilih jalur yang nggak terlalu macet, biar lebih cepat sampainya. Dan herannya, ko ya selalu salah ;)) . Feeling kalau jalur sebelah kiri bakal lebih sepi & lebih cepat ternyata kena macet-macetnya bis yang segede-gede gaban itu. Pas ngira kalau jalur kanan jauh lebih sepi, eh malah kena sistem buka-tutup jalur sama polisi, yang bukanya lamaa banget. Alhasil kita stuck di jalan juga kan? Jadi ya begitulah, sama aja kayanya

Sore inipun kami menjalani “ritual pilih jalur” dan kali ini kami memilih jalur kanan. Apakah pilihan kami sore ini benar? Oh tentu, Maria! Tentu tidak! Karena pas kita lihat dijalur kiri jalanan begitu lengang, kendaraan dengan kecepatan sedang melaju dengan santai. Dengan hiperbola kami membayangkan mereka melambaikan tangan sambil daddah-dadah pada kami berdua. Coba bandingkan dengan kami yang jejeritan nggak jelas karena lagi-lagi salah pilih jalur & terpaksa harus berhenti ditempat. Sampai akhirnya ketika jalan merambat menimbulkan ide untuk pindah ke jalur kiri yang lebih lengang, menuju ke arah Plaza Semanggi. Berhubung memang tampak lengang sekali, maka pindahlah kita kesana. Tapi kita tidak tahu kalau sebenarnya disisi jalanan itu, diujung sana tepatnya, sedang macet-macetnya! Dan yak, bagus.. kita gantian terkurung dalam kemacetan di sisi lainnya.. :((

Kesel? Jelas. Gondok? Pasti. Lha wong niatnya pindah jalur biar nggak kena macet, ini malah nggak bisa gerak. Seolah-olah mencari kemacetan yang lain gitu.Ya bagus deh ~X( . Tapi justru disitu kita jadi menertawakan diri sendiri. Andai kita tadi sabar buat menunggu jalanan terbuka, pasti kita nggak akan malah stuck ditengah jalan kaya begini, dihimpit, bis dan mobil-mobil (iyalah, masa dihimpit sama ongol-ongol?). Tapi ya itulah, kan tadi kita yang milih sendiri, jadi ya tanggung resikonyalah ya ;)) .

Yang biasanya waktu tempuh sekitar 30 menit sampai ke Gatot Subroto, kali ini hampir satu jam. Tapi ada yang lucu pas kita sudah hampir berhasil melewati kemacetan dan mulai masuk kawasan Gatot Subroto (depan Plaza Semanggi), mendadak mobil hitam yang kami naiki dihentikan oleh seorang petugas polisi. Aduh, iya.. masih jamnya three in one yah? Padahal kita biasanya lempeng aja lho jam segitu, nggak pakai acara cegat-cegatan begitu. Ah, ya sudahlah, kita minggir dulu yah..


Polisi  :
“Selamat sore, ..”
Teman  : “Selamat sore pak. Ada apa ya?” *(sok) polos*
Polisi  : “mohon maaf ada berapa orang dalam mobil?”
*sambil melongok ke dalam mobil* .

Eh, sumpah ya, kita pengen boneka ayam-ayaman di jok belakang itu mendadak hidup dan duduk manis terus senyum sambil benerin kacamata sama polisi itu. Biar kita nggak ditilang karena jumlahnya kan udah 3 orang.
Polisi  : “cuma berdua ya bu? Boleh saya lihat kelengkapan surat-suratnya?”
Teman  : “oh, boleh pak.. Emang jam berapa sih three in one-nya pak? Bukannya mulai setengah lima?”
Polisi  : “iya bu, memang benar ini kan sudah jam lima kurang seperempat..”
Teman  : “lho, bukannya mulainya setengah lima?”, tanya temen saya ngotot sambil buka dompet.

Nggak nyadar apa sama pertanyaannya barusan. Ini udah jam lima kurang seperempat Neng, three in one itu mulainya setengah lima. Ya jelas kita kenalah.. ;))


Polisi  : “iya bu, ini sudah jam setengah lima lebih, jadi ya sudah mulai yah.. Bisa minta tolong mobilnya dipinggirkan?”
Teman  : “oh iya ya? Udah setengah lima ya? “, dia terkekeh sendiri.

Tuh kan, lola jangan dipelihara dong ah.. *plaak!*

Sementara teman saya turun, saya lihat dari dalam mobil sambil terus memperhatikan mereka berdua. Eh, tapi kok saya, dia, dan bapak polisi itu jadi cengengesan ya? Kalau saya sih geli aja melihat ekspresi teman saya sama polisinya. Tapi kalau temen saya sama polisinya ngapain coba? Saya lamat-lamat mendengar percakapan mereka dari balik kaca yang sudah saya buka.

Polisi  : “iya ini tilangnya 500 ribu ya bu..”
Teman : “oh gitu ya pak? Wah, saya bener-bener nggak tahu pak. Biasanya saya bertiga, kali ini aja saya cuma berdua.. Aduh, maaf ya pak..”
Polisi  : ” Baik,  ibu rumahnya dimana?”
Teman  : “saya di Halim, Pak..”
Polisi  : “Lho, ibu istrinya anggota?”
Teman  : “iya..”
Polisi  : “Polri atau TNI?”
Teman  : “TNI, pak..”
Polisi  : “yah, kenapa ibu nggak bilang dari tadi Kalau saya tahu ibu istrinya anggota, mana mungkin saya tilanglah bu..”
Teman : “lah ya masa saya mau pamer-pamer kalau saya istrinya anggota. Ya kalau memang saya salah ya tegur aja pak, nggak apa-apa. Nggak usah sungkan apakah saya istri anggota apa bukan.. ”
Polisi  : “ya tapi saya yang nggak enaklah bu, masa istrinya anggota saya tilang juga..Ya sudah, silahkan dibawa kembali surat-suratnya. Salam buat bapak ya bu.. Hati-hati dijalan..”
Teman  : “baik pak terimakasih sudah diingatkan..”

Ah, untung polisinya baik hati. Salam buat komandannya ya Pak.. ;))

Begitu kita jalan, kita berdua ngakak-ngakak. Menyadari kebloonan kita, keteledoran kita, ketidaksabaran kita. Tentu saja menertawakan dengan lega kejadian yang baru saja kita alami. Nggak jadi ditilang gitu lho #:-s. Kayanya si pak polisi itu juga sempat melirik foto di dompet teman saya, plus “ngeh” dengan kata-kata “Halim” yang identik dengan pangkalan Angkatan Udara.

Ah, ya.. sore yang unik. Tapi justru dari situ ada sebuah pesan moral yang bisa kita ambil. Jadi orang itu mbok ya yang sabar. Karena kalau saja tadinya kita sabar, bertahan di jalur kanan, pasti nggak akan kena macet berkali-kali gara-gara tergiur pindah jalur yang lebih sepi yang akhirnya macet-macet juga bahkan lebih parah :)) . Sering-sering lihat jam, apalagi kalau niat masuk jalur three in one dengan penumpang kurang dari 3 orang.. ;))

[devieriana]

gambar dari situ

Continue Reading

Aku kenal kamu bukan tadi siang kan?

Saya dulu pernah menulis tentang chemistry. Kali inipun saya masih berminat menulis tentang hal itu. Bukan apa-apa, masih suka merasa ajaib aja dengan fenomena ini sebenarnya. Karena bukan suatu hal yang mudah untuk bisa membaur, merasakan dan tune in dalam satu “garis frekuensi” dengan seseorang. Belum tentu orang yang dekat dengan kita itu memiliki gelombang yang sama dengan kita.

Ngomongin apa sih kok dari tadi tentang frekuensi, gelombang, tune in. Bukan tentang radio kan ya? Bukan.. Wong saya mau membahas tentang perasaan kok 😉 . Saya sebenarnya termasuk orang yang nggak selalu mendapatkan chemistry dengan seseorang. Kalau pas sama gilanya bisa jadi celetukan-celetukan yang muncul bisa nyambung banget, tektoklah istilahnya. Tapi ada juga yang walaupun dia dekat dengan saya tapi belum tentu saya bisa merasakan apa yang dia rasakan saat itu juga, begitu juga sebaliknya. Ya maklum namanya juga bukan cenayang ya, makanya feelingnya masih suka salah-salah ;)) . Tapi saya punya 2 orang teman yang  bisa merasakan apa yang dia rasakan, begitu juga sebaliknya. Satu laki, satu perempuan. Keduanya bisa tune in satu gelombang dengan saya.

Salah satunya saya kenal sekitar 3 tahun yang lalu. Frekuensi percakapan kami selama ini sebatas window chat, itupun juga tidak setiap hari. Kalau kebetulan dia lagi nggak sibuk, atau sebaliknya kita suka klik ketemu di dunia maya, nggak janjian lho. Kami terpisah jarak & benua, saya di Asia sedangkan dia di Eropa. Awalnya saya juga tidak pernah menyangka bahwa kita akan menjadi sahabat. Wong komunikasi aja waktu itu juga jarang-jarang. Tapi entah kenapa saya “nyambung” sekali dengan dia, begitu juga (mungkin) sebaliknya. Tanpa diminta dia ada ketika saya butuh teman ngobrol aatu sekedar curhat. Cling, tiba-tiba dia ada di YM, atau g-talk. Tanpa saya ceritapun dia seolah tahu kalau saya lagi sedih, not in the mood, BT atau lagi bahagia sekalipun. Ah, dia memang sakti.. Jangan-jangan dulu dia pernah jadi anak buahnya paranormal siapa gitu yang melakukan ritual di Gunung Kawi.. ;))

Sampai tadi siang ketika saya lagi BT banget (biasalah ya masalah hormonal, menjelang PMS kayanya), dia tiba-tiba bilang :

Teman : ” udah, jangan manyun gitu.. ” :p
Saya :  ” siapa yang manyun, aku biasa aja kok” ~X(
Teman :  “aku bisa lihat lhoo..” ;))

Mau tak mau saya jadi senyumlah ya, masalahnya kan aneh aja kalau dia sampai bisa liat saya monyong-monyong BT gitu, kan? 😕

Teman  :  “kamu lagi sedih ya? ”
Saya :  “enggak, wong lagi becanda-becanda kok..” :^o
Teman  :  “ah, enggak, kamu lagi nggak lagi becanda. Kamu kenapa?” :-w
Saya  :  ” kok kamu bisa tahu aku lagi sedih atau mood jelek? ”
Teman  :  “aku ngerasa aja.. Aku kenal kamu bukan tadi siang kan?”
Saya  :  “iya.. ”
Teman  :  “makanya aku bisa ngerasa kalau kamu ada apa-apa..”

Wah, saya harus seneng apa takut ya kalau punya temen yang bisa tahu apa yang saya rasakan? :D. Gak denk becanda. Saya justru senenglah punya temen yang bisa mengerti saya. Tahu sifat-sifat saya dari yang baiknya sampai yang buruknya. Yang ada di pikiran saya nggak selalu dia tahu sih >:) , tapi kalau ngerasa sih iya.

Kalau yang pernah saya baca sih bilangnya begini  :

” Chemistry is a connection, a bond or common feeling between two people. It starts very early in a friendship/relationship. Positive or negative chemistry is often one of the first feelings two people have about each other. It can be verbal or nonverbal, conscious or unconscious—yes, just like you were hit over the head with it! “

To my dear friends, thanks for the chemistry we build. Love that!  >:D<

[devieriana]

Continue Reading

Uniknya Sebuah Fanatisme

Afghan, siapa sih yang tidak mengenal icon penyanyi bersuara berat tapi merdu ini (istilahnya apa sih?). Sejak penampilannya tahun lalu Afghan sudah merebut banyak hati, terutama kaum wanita. Bukan hanya tampilan fisik si pria berkacamata ini saja yang memikat para penggemar perempuannya, tapi utamanya adalah dari segi suara yang mantap dan penampilannya yang selalu rapi.

Pertama kali dengar suara Afghan pas iseng search di youtube. Waktu itu dia menyanyikan lagunya John Legend – Ordinary People, saya malah sempat bilang suara dia lebih bagus dari suara penyanyi aslinya ;)) *lirik-lirik John Legend*. Sampai sayapun mempengaruhi teman-teman kantor saya buat beli kaset si penyanyi baru ini (justru saya yang enggak). Soalnya ya itu tadi, biasa-biasa aja. Suka, tapi nggak terlalu. Jujur saya juga bukan penggemarnya Afghan sih. Jadi kalau soal fanatisme sama dia terbilang jauhlah ya. Bukan pria type saya juga soalnya. Apa siih *plaak!* :)) .

Sepertinya saya memang bukan fans yang baik ya, yang setiap kali artisnya tampil kitanya selalu larut dalam fanatisme dan histeria. Bandingkan dengan saya yang adem ayem. Kalau saya suka sama artis ya sudah, suka mah suka aja. Tapi nggak sampai yang kemana-mana mesti mengikuti dia konser, ngoleksi foto-foto dia, tanda tangannya. Ya bukan apa-apa sih, males aja, ribet, capek :)). Ups, maaf ya buat para fans berat.. *melipir ke kolong meja*

Ada nih temen saya yang saking ngefansnya sama Afghan dia mengikuti kemanapun Afghan show (mulai di Citos, MoI, Ponds Teen Concert, Pasific Place, semua diikuti), ikut milist penggemarnya, update berita terbarunya, koleksi fotonya, dll *dadah-dadah sama Kika :-h * . Bahkan suami dan anaknyapun dilibatkan untuk menjadi Afghanisme (sebutan bagi penggemar Afghan) :D. Usianya sih sepantaran sama saya, tapi semangat buat ngikutin Afghan tampil nggak kalah sama abege-abege lho. Eh, emang ada aturannya umur berapa harus ngefans sama penyanyi tertentu? err.. enggak kan ya? ;)) . Ya maksudnya kan Afghan itu umurnya masih terbilang “piyik” gitu, walaupun suaranya sudah “mateng” banget (atau saya berarti yang sudah “ketuaan” ya? 😕 )

Atau ada juga yang ngefans banget sama Dude Herlino, yang buat teman saya ini type lelaki sempurna. Sabar, shaleh, romantis. Ah, semoga dia nggak termakan karakter protagonisnya Dude di sinetron-sinetron ya 🙂 . Sampai saking ngefansnya tiap kali Dude muncul di tivi dia selalu histeris, suka cita, riang gembira, sambil senyum-senyum sendiri kaya orang yang ketemu pacarnya. Belum lagi tiap kali ada majalah yang memuat profil Dude, pasti langsung beli. Entah mau dibahas cuma berapa paragraf juga kalau membahas profilnya Dude mah bakal dibeli sama dia 😀 .

Entah ya kalau soal ngefans-ngefans’an sama artis saya itu termasuk yang golongan rata-rata. Nggak ada fanatismenya samasekali. Mulai ABG sudah terpola seperti itu. Ketika semua pada ngefans sama musiknya NKOTB saya justru ngefans sama.. musik padang pasir.. eh enggak ding ;)) . Saya biasa-biasa aja. Kalaupun toh sekarang misal saya suka sama Neri Per Caso sekalipun, saya nggak semuanya hafal lagu-lagunya, cuma lagu-lagu tertentu yang menurut saya ear catchy aja. Di tiap konsernyapun saya nggak pernah datang bukan apa-apa, jauh & sayanya nggak punya duit :-j . Itu alasan utamanya :-” . Ya kalau saya ngakunya ngefans tapi setengah-setengah, mungkin saya yang aneh dan belum bisa digolongkan sebagai fans ya. Whateverlah ya.. =;

Pernah nih ya -ah saya jadi membuka aib sendiri nih- pas saya hamil, pergilah saya ke Senayan City bersama suami. Iya, ke mall yang banyak baby trolley dimana-mana itu, saking leganya. Tak disangka, tak dinyana di lantai 1 ternyata ada acaranya salah satu bank yang menyeponsori penampilan Yovie and Nuno. Saya yang sebenarnya nggak terlalu ngefans sama mereka (biasa aja, suka sama lagu-lagunya, tapi ya.. biasa aja gitu), lha kok ya mendadak pengen banget lihat tampilan mereka kaya orang yang ngefans berat. Sampai suami saya suruh ambil kamera dan saya sendiri asyik merangsek ke depan panggung menerobos kerumunan penonton yang rata-rata abege dan ibu-ibu muda itu. Giliran suami saya yang jentungnya ajrut-ajrutan melihat saya nekad ketengah kerumunan. Ibu hamil yang nekat :)) .

Berhasilkah saya merangsek ke depan? Bisa, tentunya dengan melindungi perut saya yang sudah mulai besar itu dari sikutan fans mereka dari kiri-kanan. Itulah pertama kali saya merasakan “histeria” menjadi fans dadakan pada grup band yang saya nggak ngefans. Bingung nggak sih bahasanya? 🙁 . Sampai di back stage saya bela-belain malu-malu pengen minta difoto sama Yovie. Berhasilkah saya? Tentu! Tentu tidak ~X . Gimana saya mau foto wong suami saya nggak mau motoin saya berdua sama dia. Reaksi saya? Ngambeg & pulang kerumah naik taksi =)) :-q . Masyaallah, ajaib banget tingkah saya waktu itu. Sampai dirumahpun juga jadi heran sendiri. Ini saya memang ngefans atau bawaan bayi sih? Kayanya sih bawaan bayi ya. Sampai pas saya cerita sama teman saya dia ngetawain abis-abisan *dadah-dadah sama Andrew :-h *. Tapi habis itu dia ngirimin saya fotonya Yovie lengkap dengan tandatangannya, mungkin dia kasian denger cerita saya ya. Awalnya sih percaya kalau itu dari Yovie, tapi beberapa menit kemudian saya curiga tandatangan dan pesan spesial buat saya itu adalah hasil olah photoshop. And, yes it was.. :)) . Katanya biar anak saya nggak ngileran kalau sampai ada keinginan yang nggak kesampaian ;;) .

Tapi uniknya, sejak itu saya jadi ikut merasakan bagaimana rasanya menjadi seorang fans berat. Bagaimana histerianya (walaupun saya nggak sampai teriak-teriak ya), euforianya (sampai ada yang pingsan dan nangis-nangis) yang buat waktu itu selalu berpikir, “ya ampun, lebay banget sih? biasa aja napa?”, dan cintanya sama idola mereka. Masih bersyukur saya nggak sampai yang seperti itu :p, kalau sampai kaya begitu bukan apa-apa yang repot suami saya kalo saya pingsan berkali-kali setelah histeris melihat idola saya ;)) .

Nggak, nggak ada yang salah dengan fanatisme. Siapapun bisa menjadi fanatik dan kecanduan terhadap sesuatu atau seseorang. Seperti halnya kecanduan dan ngefans membeli barang-barang branded, misalnya. Kalau nggak pakai tas Louis Vuitton tangannya bakal gatel-gatel. Atau kalau nggak pakai Manolo Blahnik kakinya jadi pecah-pecah. Atau nggak pakai Michael Korrs badannya jadi panuan.Itu contoh superlebaynya. Saya yakin nggak gitu-gitu amat kok. Kalaupun iya bener begitu, ah itu cuma kebetulan saja ;;) *ngeles*

Tapi diluar itu semua yang paling penting adalah kontrol diri. Jangan sampai saking ngefansnya kita sama mereka seolah-olah kita jadi menuhankan mereka (beuh, lebay banget ya bahasa saya? hehehe..). Ngefans boleh. Nggak ada yang ngelarang. Ngikutin kemanapun idolanya konser, monggo (wong itu duit-duit Anda sendiri kan?). Mau capek-capek ngejar idolanya kesana-kemari ya boleh, wong ya badan-badan Anda sendiri. Memang ada sebuah kepuasan yang akan kita rasakan ketika kita berhasil menonton mereka tampil, melihat mereka dari dekat, merasakan kehadirannya, mendengar suaranya, atau berfoto bersama mereka, dan itu semua sah-sah saja kok.. :-bd

Jadi.. Anda termasuk salah satu fans berat artis nggak sih? 😉

[devieriana]

Continue Reading

Urip Iku Sawang Sinawang (II)

Tadi pagi saya chat dengan salah satu mantan teman sekantor pas jaman di Telkomsel dulu. Dia sekarang sedang menempuh pendidikan S2-nya di UGM Yogyakarta. Perbincangan ringan ala ibu-ibu (tsaahh…) dan teman lama yang sekian lama nggak ketemu 😀 . Share tentang keadaan terbaru masing-masing, cerita tentang keluarga, pendidikan, pekerjaan, dll.

Obrolan ringan sih, tapi justru dari situlah saya jadi ingat sama tulisan saya sendiri tahun lalu, yang juga sempat di-publish di buku Berbagi Cerita Berbagi Cinta , yang judul artikelnya Urip Iku Sawang Sinawang. Ya memang begitu ternyata. Duh saya sampai senyum-senyum sendiri. Bukan apa-apa, berasa kena sama tulisan sendiri aja ;)) . Dulu saya memposisikan diri sebagai orang lain yang curhatnya saya tulis disitu. Sekarang saya harus menelan mentah-mentah tulisan saya karena sekarang.. sayalah objeknya :)) .

Ada perbincangan yang kena banget ke saya, begini  :

Teman  : “aku tuh baru tahu lho mbak, sebenarnya kalau obsesi terbesar suamiku adalah menjadi PNS”
Saya  : “hah, seriuss? kok.. bisa? :O “
Teman  : “iya, pas aku cerita kalo mbak ketrima jadi PNS, dia tuh pengen banget. Dulu sih dia pernah nyoba, sekali doang, tapi gagal. Ya sudah daripada hancur harga martabak, akhirnya milih kerja di luar negeri aja sekalian, hehehe.. “
Saya  :  “eh, mosok sih kerjaanku ini diobsesiin sama suamimu? Padahal aku dulu ngira kalian sudah enak kehidupannya. Suami kerja di luar negeri, minyak pula. Kamu dengan kehidupan S2-mu. Mikir, what a perfect life you both gitu..”
Teman  : “apanya yang perfect sih mbak? Hidup terpisah dengan suami, akunya dimana, dianya dimana. Tapi jujur suamiku kalau disuruh milih,  pengen berkarir jadi PNS kaya mbak yang kerjanya nggak sengoyo sekarang, punya banyak lebih banyak waktu buat keluarga. Ah, mbak tuh yang ekarang udah settle, tinggal melangkah-melangkah doang.. Suami istri kerja, salah satunya PNS.. Ah, sempurnalah..”
Saya  : *masih bengong :O*  “ya sudah coba aja tar tahun ini pasti kan ada penerimaan CPNS lagi. Nah kamu ikut aja jeng..”
Teman  : “ya sih kayanya gitu. Tapi bingung mau kerja atau ikut suamiku ke Dubai ya?”
Saya  : “ya, apapun untuk saat ini yang menurut kalian bagus sih nggak masalah. asal nanti pas balik ke Indonesia usia kalian salah satu masih cukup daftar CPNS ya monggo..”

Ah, jujur saya terpana lho dengan percakapan simple itu. Bukan apa-apa, saya dulu sempat menganggap mereka memang nggak pernah sekalipun bermimpi jadi PNS seperti saya. Wong salah satunya sudah kerja di oil company,  yang notabene semua orang juga tahu prospeknya seperti apa tho? Ya saya shock dong ketika dikasih tahu kalau obsesi terbesar suaminya adalah justru menjadi PNS seperti saya.

Sekarang saya yang bingung nih. Saya mesti bangga, kagum, heran atau gimana ya? ;)) . Saya yang sudah terlanjur “silau” sama kehidupan mereka, lha kok malah mereka “ngiri” sama kehidupan saya yang alakadarnya begini? 😀

Manusia itu memang susah ditebak ya. Ada saja ketidakpuasannya. Yang rambutnya lurus pengen punya rambut ikal/keriting, begitu juga sebaliknya. Yang kulitnya putih pengen kecoklatan, begitu juga sebaliknya, yang kerja di oil company pengen jadi PNS, yang PNS pengen kerja di oil company. Yang jelek pengen cakep, yang sudah cakep pengen lebih cakep lagi (nggak mungkin pengen jadi jelek kan? ;)) ).

Ah, kalau menuruti nafsu, dunia ini isinya cuma orang-orang yang hidup dalam tolok ukur kesempurnaan orang lain. Jadi, daripada kitanya yang capek  kenapa kita nggak mulai mensyukuri apapun yang sudah diberikan Allah sama kita ya? Karena hanya Dialah yang mengetahui pantas tidaknya kita memiliki apa yang juga dimiliki/tidak dimiliki oleh orang lain.
Only God knows.. 🙂

[devieriana]

Continue Reading

Service Excellent

Beberapa waktu lalu saya menyempatkan diri untuk mengurus klaim asuransi tenaga kerja saya yang belum sempat saya urus-urusin sejak tahun lalu. Untungnya sih nggak yang terlalu ribet gimana gitu, malah sebenarnya cenderung simple. Tinggal isi form, lengkapi seluruh berkas yang dibutuhkan, selesai. Tapi berhubung kemarin ada sedikit masalah di account saya jadi belum bisa langsung diproses hari itu juga, tunggu selama satu minggu untuk klarifikasi data. Ya baiklah, tak masalah itu, yang penting urusan saya selesailah ya..

Ada hal yang menggelitik ketika “bertandang” ke BUMN yang mengurus tentang jaminan sosial tenaga kerja itu. Semuanya tentang pelayanan. Pelayanannya belum bisa disebut istimewa, biasa-biasa saja. Sudah ok kalau klaim bisa dicairkan dimana saja karena sistemnya sudah online. Itu salah satu poin plusnya. Yang saya perhatikan adalah customer service-nya, alias frontlinernya yang dari 3 cabang yang saya datangi kok mukanya begitu semua ya? Apakah itu wajah default seorang customer service? Seharusnya nggak begitu kan ya? 😕

Awalnya tidak memperhatikan secara detail, tapi kok ternyata kebetulan begitu semua ya? Dari sekian banyak frontliner yang saya jumpai disana tidak ada satupun yang senyum. Semuanya berwajah serius. Begitu datang, ambil nomor antrian, sampai saya dipanggil ke meja pelayananpun wajah mereka datar-datar saja. Padahal saya selalu datang ke meja mereka dengan senyum & menyapa mereka dengan “selamat pagi, Mbak/Mas.. 🙂 “, sebelum saya sampaikan keluhan saya lho. Tapi begitu melihat tampang mereka yang datar, nyaris tanpa senyum. Ah, senyum saya langsung menguncup 🙁 . Belum lagi dengan kamera/webcam diatas/samping komputer si customer service yang sengaja diarahkan kepada customer makin menambah rasa kurang nyaman.

Kalau memang ingin meng-capture pelanggan apakah tidak lebih baik jika menggunakan perangkat yang tidak terlalu mencolok, sehingga tidak mengurangi kenyamanan pelanggan ketika akan mengajukan klaim? Sekedar saran juga, untuk para customer service-nya mbok ya senyum tho. Kalau mbak/mas senyum pasti akan jauh lebih menarik deh. Karena yang namanya customer service kan garda depan & first impression-nya perusahaan. Memang Anda cekatan, helpful, tapi “keikhlasan” Anda dalam melayani bisa terlihat dari raut muka Anda lho 😀 . Saya nggak nuduh Anda melayani dengan nggak ikhlas karena tampang Anda “begitu-begitu saja” ketika melayani pelanggan lho. Apalagi kalau setting defaultnya memang begitu (wah, itu yang saya nggak bisa ngomong lagi ;)) ) .

Sekedar saran boleh kan ya? Ketika kita bekerja di dunia pelayanan, bukan hanya pelayanan yang cepat, akurat, cekatan dan akuntabel saja yang dibutuhkan pelanggan. Pelayanan yang bagus akan terlihat lebih sempurna ketika disertai dengan wajah yang ramah & terkesan antusias/helpful ketika melayani. Wong callcentre saja selalu kita sarankan untuk memiliki “smiling voice” ketika melayani kok (karena tidak bertatap muka dengan pelanggan), apalagi yang bertatap muka langsung dengan pelanggan.
:-bd

[devieriana]

Continue Reading