Kisah Dibalik Keisengan Itu

Sebelum saya cerita ini itu, mumpung masih bulan Syawal, izinkanlah saya mohon maaf lahir bathin buat semuanya, terutama karena saya sudah lama nggak posting tulisan apa-apa :(( *sungkem*. Bukan maksud hati tidak ingin posting tulisan apapun setelah sekian lama, namun karena kesibukan dan jaringan yang kurang bersahabat mengakibatkan sekian banyak cerita saya menjadi untold stories :(.

Nah, sekarang saya mau cerita tentang sebuah event besar yang diselenggarakan oleh  Citilink sejak bulan lalu sampai dengan bulan ini. Sebenarnya memang dari awal saya sudah mau ikut. Ya, kalau dibilang niat banget sih enggak juga, tapi saya mau ikut. Iseng-iseng berhadiahlah, pikir saya. Nah tapi, berhubung kesibukan dan beberapa acara yang hampir ada di setiap weekend, plus mood yang naik turun, akhirnya desain yang seharusnya segera dibuat dan segera di-submit kepada panitia pun terbengkalai. Kalau saja saya tidak memaksakan diri untuk membawa “peralatan perang” saya berupa krayon, pensil, penghapus, dan spidol ke kantor lalu menyelesaikannya disana, mungkin sampai akhir deadline desain itu tidak akan terwujud.

Menggambar di kantor itu tantangannya banyak. Ide belum pasti ada, dikerubuti teman-teman (berasa tontonan), kerjaan yang silih berganti datang menghampiri. Ya maklum, saya kan menggambarnya pas jam kerja :p. Setelah melalui perjuangan berat, desain baru selesai pukul 4 sore, tapi baru bisa saya submit ke wall Citilink sekitar pukul 9 malam. Biasalah, koneksi ajrut-ajrutan. Tapi syukurlah akhirnya bisa terkirim juga di wall fanpage Citilink di facebook.

Jujur saya sudah jarang buka facebook. Sesekali sih buka tapi parahnya saya sempat lupa kalau ikut lomba desain seragam itu. Makanya ketika masuk semifinal dan final kemarin saya justru tahunya dari teman, bukan hasil melihat sendiri. Tahu-tahu dikasih selamat aja.

Nah, sekarang saya mau cerita tantangan terbesarnya. Ketika saya diumumkan masuk final, waktu untuk mempersiapkan desain menjadi mock up (baju jadi) tinggal beberapa hari menjelang libur lebaran. Bisa dibayangkan dong betapa paniknya saya. Seperti sewajarnya lomba desain, peserta yang dinyatakan sebagai finalis ujung-ujungnya pasti akan diminta membuat mock up desain dan presentasi. Kebetulan saya kebagian tanggal 12 September 2011. Disitulah paniknya. Toko kain di  Tanah Abang sudah banyak yang tutup karena menjelang lebaran, dan warna kain yang ditentukan termasuk jarang ada di pasaran (saya mencari warna yang sesuai dengan permintaan Citilink yaitu Pantone 355C dan atau 360C). Demi mendapatkan warna yang sesuai, kemana-mana saya bawa 2 lembar Pantone warna itu untuk ditunjukkan ke setiap toko kain, supaya warna kain yang saya beli tidak terlalu lari dari yang sudah ditentukan. Benar-benar perjuangan yang melelahkan mencari warna yang sesuai untuk dua desain saya itu, selain juga harus mengejar waktu ke penjahit sebelum mereka mudik lebaran :((

Setelah tahapan yang menegangkan itu saya pikir saya sudah boleh bernafas lega. Iya dong, kan kain dan penjahit sudah dapat, tinggal menunggu hasil jadinya saja, kan? Oh jangan salah, ternyata “cobaan” tidak berhenti sampai disitu. Penjahit yang saya harapkan bisa menyelesaikan 2 desain saya maksimal tanggal 10 ternyata memberitahukan hal yang membuat saya kaget bukan kepalang. Tukang potong yang juga sekaligus tukang pola ternyata baru kembali dari Cilacap hari Sabtu tanggal 10 September. Itu artinya dia baru akan ada di Jakarta tanggal 11 September. Hanya selang sehari menjelang waktu presentasi saya. Belum lagi baca sms dia yang bilang begini : “bantu doa ya, Mbak. Semoga tukang cutting saya balik ke Jakarta tepat waktu”. Hwaa, makin paniklah saya..:((

Namun saya berusaha tenang, ketika hari Sabtu pagi, saya ditelepon Citilink.

Citilink : Halo, dengan Mbak Devi?

Saya : iya, saya sendiri. Dari mana?

Citilink : saya dari Citilink, Mbak. Mbak Devi sudah tahu kan kalau Mbak presentasi hari Senin tanggal 12 September 2011 pukul 09.00-10.00?

Saya : iya, Mbak.. Saya sudah terima emailnya kok..

Citilink : ok, Mbak.. Mbak Devi bisa hadir kan? Sudah siap dengan mock up desainnya kan?

Saya : insyaallah hadir, Mbak. Insyaallah siap..

Citilink : baik, sampai ketemu hari Senin jam 9 ya, Mbak..

Saya : iya, Mbak.. Makasih 🙂

Habis tutup telepon,barulah  rasa suntuk, bete, dan gelisah, campur aduk jadi satu. Kalau orang Jawa bilang “kemrungsung” alias galau. Hanya bisa pasrah dan berdoa semoga diberikan ketenangan, setidaknya hingga saya dipertemukan dengan penjahitnya besok. Jika memang ini adalah rezeki saya dan berkah, semoga dimudahkan dan dibukakan jalannya oleh Allah Swt. Sudah, itu saja doa saya. Terlalu berisiko memang. Suami sih pengennya saya ambil kain yang sudah ada di penjahit itu lalu kita keliling cari penjahit yang lain. Tapi entah kenapa, saya kurang setuju dengan ide itu, karena si Mbak penjahit menyanggupi dan bersedia lembur sampai jahitan selesai. Sampai salah satu sahabat yang saya curhati mengajak untuk shalat dhuha bareng, biar saya lebih tenang. Uniknya posisi saya di Mampang, dia di Cibubur :). Tapi terima kasih lho, saya jadi sedikit lebih tenang dibandingkan sebelumnya 🙂 >:D<

Hari Minggu, tanggal 11 September 2011, tepat pukul 9 saya akhirnya bertemu dengan bapak pembuat pola. Setelah berdiskusi dan menjelaskan maksud desain yang saya maksudkan akhirnya dia pun mulai mengerjakan desain saya yang ribet itu. Ya gimana nggak ribet, lha wong saya dengan tega menggabungkan dua model menjadi satu. Kulot sekaligus sackdress (rok terusan). Jadilah desain yang hybrid. Mumet, mumet deh yang bikin pola. Duh, maaf ya Pak, sudah merepotkan.. :-s. Penjahit saya pun menjanjikan kedua baju itu bisa selesai sekitar pukul 10 malam. Jadi yuk mari kita melekan..

Nah, sekitar pukul 9 malam terjadi sedikit kehebohan. Si Mbak penjahit mendadak sms dan bilang kalau kancing bungkus yang saya minta ternyata tidak ada, sudah dicari ke beberapa toko tidak ada yang ready stock. Makin paniklah saya, mau cari kemana saya malam-malam begitu, jam 9 lebih, plus hari Minggu pula :-s. Terus gimana caranya mengancingkan baju kalau kancingnya sendiri nggak ada? :((. Mau dikasih lem? Ditempel pakai double tape? Sepanjang jalan menuju tempat penjahit itu saya gelisah. Wajah si hubby sudah tidak terdeskripsikan, apalagi saya. Tak henti-henti berdoa semoga ada keajaiban yang terjadi pada saya. Sesampainya disana, alhamdulillah ternyata si Mbak penjahit menyimpan 1 gross kancing warna hijau sisa produksi, yang ketika saya pasangkan di baju saya itu warnanya pas sekali. Alhamdulillah.. *sujud syukur*

Sudah lega dong ya, kan sudah beres, tuh? Oh, siapa bilang? Ternyata setelah saya cek lagi ternyata kemeja hijau mudanya salah model. Oh, no.. :((. Itu artinya jahitan harus dibongkar, harus dibuat pola baru lagi, dan yang jelas itu sangat memakan tenaga dan waktu. Yang seharusnya pukul 22.00 seluruh jahitan sudah jadi, terpaksa molor hingga pukul 01.00 dini hari. Bayangkan, jam segitu saya masih berkutat dengan jahitan dan tukang jahit. Syukurlah, tepat pukul 01.00 seluruh jahitan selesai dalam keadaan sudah rapi terseterika dan dimasukkan dalam portable suit cover, dan saya tiba di rumah seperti habis pulang dugem dong, pukul 02.00 dini hari.. Pffiuh..

Singkat cerita, keesokan harinya, tepat pukul 09.00 saya presentasi di depan Con Korfiatis, beberapa flight attendant, dan beberapa orang dari management Citilink. Awalnya 2 baju itu hanya saya gantungkan sambil saya jelaskan desain saya. Tapi Si Con rupanya kurang puas, maka 2 flight attendant diminta untuk mencoba baju-baju saya. Sempat khawatir kurang pas di badan mereka. Tapi syukurlah, pas, ya walaupun tidak sengepas kalau pakai ukuran mereka sendiri ya. Alhamdulillah presentasi selama satu jam itu berjalan lancar, saya pun tak lagi nervous, karena mungkin saya bawa santai kaya orang lagi ngobrol atau ketika saya sedang ngemsi, kali ya. Kalau menang ya alhamdulillah, kalau kalah pun tak apa. Yang penting sudah berusaha, setidaknya saya sudah mencoba walaupun berangkat dari iseng. Oh ya, foto-foto peserta lainnya bisa dilihat di sini .

Nah, jika direnungkan, sepanjang perjalanan “keisengan” saya hingga menuju final ini (ternyata) saya sudah melakukan sebuah hal yang gambling sekali. Bayangkan, saya percaya bahwa desain saya itu akan beneran jadi, dan berani-beraninya saya menyatakan bahwa saya akan hadir dalam acara presentasi padahal yang di penjahit masih berupa lembaran kain 3 meteran. Lha kalau ternyata tukang cutting/jahitnya nggak jadi datang, jadi apa kain-kain saya itu? Taplak? Seprei? Gorden? :-s

Oh ya, masih ada satu acara lagi, sebagai acara puncaknya yaitu pengumuman yang dikemas dalam acara fashion show, seperti selazimnya launching seragam sebuah maskapai penerbangan. Kalau acaranya terbuka untuk umum, datang yuk! Kasih semangat buat saya gitu :). Untuk waktu dan tempatnya masih tentatif sih. Jujur, saya tidak berani berharap banyak dari hasil semua keisengan ini. Yang jelas, apapun hasilnya akan saya syukuri, kok 🙂

Do your best, and let God do the rest.. 😀

[devieriana]

dokumentasi pribadi

Continue Reading

#Bined02 : Bukan (Sekadar) Bincang Biasa

Rabu (27/7) lalu, saya berkesempatan hadir, tepatnya diundang, dalam acara Bincang Edukasi di @atamerica Pacific Place. Kreshna, salah satu inisiator Bincang Edukasi inilah yang mengundang saya untuk hadir malam itu. Kebetulan saya juga pernah menyumbangkan tulisan untuk #IndonesiaJujur  beberapa waktu lalu, yang lagi-lagi gerakan ini  juga dipelopori oleh Kreshna 😀

Jujur, awalnya saya masih belum “nyambung” dengan format acara ini. Akan seperti apakah bentuk acaranya? Apakah semacam talkshow, diskusi, sharing idea, forum tanya jawab, atau yang seperti apa? Tapi ketika acara mulai bergulir, akhirnya saya mulai paham dengan format acara ini, dan mulai menemukan keasyikan tersendiri menyimak acara yang mengulas tentang pendidikan dalam berbagai sisi namun disajikan secara ringan sesuai dengan keahlian si narasumber.

Saya sengaja mengambil posisi duduk yang nyaman dan strategis, yang sekiranya cukup nyaman untuk melaporkan dalam bentuk foto dan live tweet. Tidak ada yang meminta saya untuk membuat live tweet. Bahkan saya sengaja meminta izin terlebih dahulu kepada follower saya di twitter, barangkali malam itu saya dianggap “menyampah” di timeline (walaupun isinya sama sekali bukan sampah). Ya, rasanya sayang aja, kalau acara sekeren itu tidak ada reportase secara live-nya.

Kreshna membuka acara dengan mengemukakan secara singkat tentang latar belakang berdirinya Bincang Edukasi serta visi misi mereka. Ternyata ada 5 orang penyaji yang akan tampil malam itu.

Diawali oleh paparan Agus Sampurno, beliau adalah seorang Creative Teaching Evangelist, bisa ditemukan dalam akun twitter @gurukreatif, serta aktif mengelola blognya di http://gurukreatif.wordpress.com. Malam itu beliau menyampaikan sebuah bahasan yang sangat menarik tentang realita pendidikan di Indonesia. Betapa beliau merasakan kemonotonan dalam dunia pendidikan kita. Belajar, ibarat sebuah kegiatan yang harus dilakukan secara formal dan serius. Padahal hal-hal yang serius pun sebenarnya tetap bisa dilakukan secara fun, karena sebenarnya belajar itu menyenangkan.

Beliau lalu menunjukkan sebuah foto kegiatan training untuk para pendidik, yang masih diadakan dalam bentuk yang sangat konvensional. Layaknya sedang mengikuti penataran, para peserta duduk berjajar, mendengarkan, bertanya, dan mencatat. Padahal seorang pendidik yang menginginkan siswanya aktif seharusnya juga mendapatkan training yang bentuknya aktif pula, bukan duduk manis macam itu, kan? Tanpa sadar saya juga mengiyakan.

Guru sebagai sebuah sosok panutan bukan hanya memanggul sebuah tanggung jawab dalam hal pendidikan saja tapi juga dari sisi moral. “Menjadi seorang guru itu sangat berat. Selain dia harus selalu menjadi orang dewasa di dalam kelas, dia juga harus walk the talk. Bahkan, dalam kehidupan online pun kami masih dituntut harus menjadi dewasa”, ujarnya.

Pak Agus juga menunjukkan pada kami bagaimana cara bertepuk tangan ala “silent cheers”. Wah, tepuk tangan yang bagaimana itu? Cukup mengangkat kedua tangan menghadap ke depan, lalu goyangkan seperti lambaian tangan Miss Universe :D. Apa maksud gerakan ini? Ketika seorang siswa maju ke depan kelas, pasti dia sudah mencoba menampilkan semaksimal mungkin apa yang dia mampu. Namun kadang, jika kita mengapresiasi apa yang sudah dia lakukan di depan kelas dengan tepuk tangan, akan ada perbedaan perlakuan antara satu siswa dengan siswa yang lain ketika ternyata siswa yang satu penampilannya tidak sebagus siswa sebelumnya atau sebaliknya. Itulah mengapa Pak Agus menciptakan gerakan tepuk tangan tanpa suara ini. Siswa akan mendapatkan perlakuan yang sama, tidak mendapatkan tepukan tangan yang riuh, tapi dia tetap bisa merasakan apresiasi yang diberikan oleh teman-teman dan gurunya.

Pak Agus menutup paparannya dengan kalimat yang sangat bagus, “Seorang guru yang baik bukan hanya seseorang yang pintar di subjeknya, melainkan seseorang yang bisa menginspirasi bagi lainnya.”

—–

Pembicara kedua yang selanjutnya hadir adalah Nandha Julistya. Beliau adalah inisiator Reading Bugs  and KKS Melati. Judul slidenya sangat mengundang rasa penasaran : Tahu Membaca atau Mau Membaca.

Komunitas Reading Bugs ini terbentuk dari mimpi dan keinginan besar untuk melihat anak-anak dan bangsa Indonesia gemar membaca. “Tahu/bisa membaca” dan “mau/gemar membaca” jelas dua hal yang berbeda. Disinilah dibutuhkan usaha orangtua (orang dewasa ) agar kebiasaan membaca menjadi hal yang mengasyikkan bagi anak, sehingga menumbuhkan rasa gemar membaca hingga dewasa nanti.

Dia lalu mencontohkan Dr. Ben Carson. Doktor jenius ini dibesarkan oleh seorang ibu yang hanya lulusan kelas 3 SD dan bekerja sebagai pramuwisma. Namun ternyata dari tangan ibu yang “hanya” mengenyam pendidikan hingga kelas 3 SD ini tumbuh seorang psikolog sekaligus dokter ahli bedah ternama di USA. Si ibu memilih mendidik sendiri anaknya dengan sering memberikan buku-buku bacaan, dan tak jarang pula dia membacakannya sendiri. Pada usia 33, Carson menjadi Direktur Bedah Saraf Anak termuda di USA. Bukan hanya itu, pada tahun 1987, dia juga mengukir sejarah dengan keberhasilannya memisahkan kembar siam di bagian kepala yang pada operasi-operasi sebelumnya selalu mengalami kegagalan.

Pak Nandha lalu menunjukkan slide yang berisi data perbandingan beberapa negara dalam kaitannya dengan skor melek baca. Negara kita, skor melek bacanya tinggi. Namun sayang, tingkat kemauan bacanya rendah. Se-Asia, Indonesia menduduki peringkat 57 dari 65 negara. Duh! 🙁

Beliau juga menyampaikan fenomena membaca di Indonesia, antara lain:
1. anak Indonesia dipaksa sesegera mungkin untuk tahu membaca;
2. pelajaran membaca di Indonesia membuat anak stress;
3. sekolah dan ortu menjadi pembunuh minta baca anak;
4. terjadi manipulasi saat anak belajar membaca.

Di Indonesia ada sebuah fenomena unik, dimana para orangtua seakan berlomba-lomba untuk membuat anak-anaknya bisa membaca sejak dini. Bahkan di salah satu mall di Jakarta ada lho, kursus membaca untuk anak usia 7 bulan dengan biaya mulai dari 900 ribu per bulan hingga sekian juta. Sepertinya kita perlu mencontoh Finlandia. Finlandia adalah negara yang sangat konsisten dalam mendidik anak-anak di negaranya terutama untuk mulai mengenal aksara. Anak-anak Finlandia dikenal sebagai pembaca paling baik. Mereka rata-rata mulai diperkenalkan membaca di usia 7 tahun, tidak ada yang kurang dari usia 7 tahun.

Di akhir paparan Pak Nandha menyampaikan beberapa butir harapan untuk pelajaran membaca di Indonesia:
1. pelajaran membaca dibuat menyenangkan;
2. biarkan anak belajar membaca secara alami;
3. orangtua dan guru berperan aktif dengan membacakan buku (read aloud) secara rutin pada anak-anak, baik di rumah maupun di sekolah;
4. bermain sambil belajar benar-benar diterapkan sesuai dengan maknanya;
5. membaca, menulis, berhitung, tidak dijadikan syarat penerimaan siswa TK menjadi siswa SD.

Sungguh ulasan yang sangat menarik dan membuat saya jadi lebih paham bahwa untuk menjadikan anak gemar membaca caranya bukan hanya dengan memberikan mereka buku bacaan yang bermutu saja, namun dengan juga dengan mendampingi dan membacakan buku untuk mereka. Yang paling penting bukan target anak bisa membaca, tapi bagaimana membuat waktu membaca menjadi menyenangkan.

—–

Tiga penyaji berikutnya semuanya perempuan. Diawali oleh Karina Adistiana. Dia adalah inisiator Gerakan Peduli Musik Anak, bisa dijumpai di akun twitter @Anyi_Karina. Dalam acara ini Karina mengajak mendidik anak melalui lagu. Mengasyikkan sekali mengikuti paparan yang disajikan secara musikal oleh Karina dan teman-temannya ini. Bahkan di awal sajian, dia sudah mengajak ibunya menyanyi di panggung dengan diiringi petikan gitar. Dengan sedikit berseloroh dia mengatakan, “menjadi orangtua itu enak, kalau mau nyanyi nggak perlu suara bagus. Anak-anaknya pasti mau dengerin dan nggak akan protes” ;))

Dia bercerita, ketika menempuh S2 Psikologi, Karina membuat thesis yang berhubungan dengan anak tuna netra yg mengalami Specific Language Impairment (anak mengalami kesulitan berbahasa sedangkan kemampuan  non verbal atau kepandaian adalah normal). Dia juga membawakan sebuah lagu hasil ciptaan guru dan murid SLB G Rawinala yang berjudul Tanganku. Yayasan pendidikan Dwituna Rawinala ini merupakan lembaga yang melayani kebutuhan pendidikan penyandang cacat ganda netra. Lagu itu dibawakan dengan iringan bunyi-bunyian yang dihasilkan dari piring, gelas, dan peralatan makan lainnya yang dipukul-pukul dengan irama tertentu.

Dalam kesempatan yang sama Karina juga menyampaikan bahwa ada beberapa kenyataan tentang lagu anak di Indonesia :
1. anak menyanyi lagu yang belum tentu sesuai dengan tahap perkembangannya;
2. anak dilarang menonton film dewasa tapi boleh menyanyikan lagu (dengan topik) dewasa;
3. orangtua tidak menyadari manfaat musik anak;
4. di sekolah, guru TK mengeluhkan kurangnya lagu anak yang baru

Hmm, iya juga ya. Sekarang coba ingat deh, setelah eranya Tasya, Sherina, dan Joshua, adakah lagu anak-anak yang lain dan sepopuler mereka? Yang ada justru kontes penyanyi anak tapi membawakan dengan lagu-lagu dewasa.Nah, kebetulan nih, di akhir acara, Karina memberikan CD Musik Anak yang bertajuk “Yo Mari Berdendang”, for free lho \:D/

Jadi, bagi teman-teman yang berbakat menciptakan lagu, silakan menciptakan lagu anak, gih. Siapa tahu nantinya lagu kalian bisa lebih dikenal banyak orang dan utamanya mendidik anak 🙂

—–

Pembicara selanjutnya yang tampil malam itu adalah Wiwiet Mardiati. Beliau adalah seorang Homeschooling Evangelist, bisa ditemui dalam akun twitternya @wietski dan blognya http://atalaprasetyo.com. Paparannya malam itu bertemakan “Gerakan Pemberdayaan Keluarga: Adaptasi Spirit dari Homeschooling”

Seringkali homeschooling disikapi secara salah dan berbeda. Dalam anggapan masyarakat awam, anak homeschooling kualitasnya kurang bagus jika dibandingkan dengan yang menjalani pendidikan formal di sekolah. Ada kecenderungan pendapat pula yang mengatakan jika anak-anak yang homeschooling cenderung tidak bisa bersosialisasi, dan eksklusif. Seluruh pendapat ini ditepis oleh Mbak Wiwiet yang memang adalah seorang penggiat homeschooling.

Jadi ingat, beberapa waktu lalu saya juga sempat berdiskusi ringan dengan seorang teman, dan ketika itu saya juga berpendapat sama dengan orang kebanyakan tentang homeschooling. Namun ternyata saya keliru. Jika kita perhatikan, ternyata anak yang bersekolah di sekolah umum itu sebenarnya tidak “sebebas” anak-anak yang homeschooling. Mereka harus tinggal dalam sebuah kelas yang kesempatan mengekspos tempat-tempat terbuka dan atau jalan-jalan tidak sebanyak anak-anak yang homeschooling. Mereka sengaja “dikelompokkan” dalam sebuah grup anak-anak yang seusia, dan terpaksa mengikuti aturan “mainstream” yang dibuat oleh sekolah. Sehingga mereka kurang memiliki kebebasan untuk berkreasi dan mempelajari apa yang mereka sukai karena terbentur oleh jam sekolah dan kurikulum sekolah.

Dalam acara ini, Mbak Wiwiet mengatakan bahwa keluarga sebenarnya adalah penanggung jawab utama pendidikan anak. Artinya, orangtua adalah penanggung jawab pendidikan anak, pihak-pihak di luar orangtua bisa disebut sebagai “asisten” orangtua. Sebenarnya manfaat lain dari homeschooling adalah adanya koneksi yang kuat antara orangtua dan anak. Oh ya, kenyataan yang terjadi di Indonesia, pemilihan sekolah di Indonesia masih didasarkan pada pemilihan budget dan lokasi. Ada orangtua-orangtua yang sengaja memilih sekolah yang bayar SPP-nya saja jutaan hanya untuk menunjukkan gengsi dan “kualitas pendidikan”. Padahal sekolah mahal belum tentu kualitasnya (selalu) bagus, kan?

Saya yakin, Mbak Wiwiet malam itu berhasil membuka mata banyak orang tentang homeschooling. Di akhir paparannya yang lebih banyak share tentang pengalaman itu, beliau memberikan sebuah kalimat yang sangat menginspirasi:

“Do something so you can be together not be together to do something” 

Mbak Wiwiet, you did a great job! Thanks for sharing 🙂

—–

Pembicara terakhir acara Bincang Edukasi malam itu adalah Mbak Ainun Chomsum, atau yang lebih dikenal dengan Mbak Pasarsapi  @pasarsapi , atau kepala sekolahnya Akademi Berbagi . Tema sesi kali ini adalah “Berbagi Bikin Happy”. Tagline social movement yang digaungkan oleh Mbak Ainun ini memang sesuai sekali dengan kegiatan di Akademi Berbagi.

Bermula dari niatan Mbak Ainun untuk belajar copywriting dengan Pak Subiyakto, ternyata Pak Subiyakto menyetujui untuk mengajar dan bahkan meminta beberapa orang untuk sekalian ikut dalam kelasnya. It’s for free! Ketika ditawarkan lewat twitter langsung disambut dengan sangat positif oleh banyak orang.

Akademi Berbagi terbentuk salah satunya juga karena kegelisahan Mbak Ainun (mungkin juga sebagian besar kita) karena mahalnya biaya pendidikan. Nah, Akademi Berbagi merupakan salah satu sarana belajar seumur hidup, sebagai wadah untuk berbagi ilmu, supaya kita lebih menghargai proses untuk sukses, dan supaya kita lebih menghargai ilmu walaupun gratis.

Ketika ditanya, “gampang nggak sih bikin social movement?”  Beliau menjawab bahwa sebenarnya tantangan utamanya bukan di masalah pendanaan, tapi mental siswa yang kurang menghargai “gratisan”. Maksudnya bagaimana? Ya, biasanya orang akan berduyun-duyun menghadiri sebuah pelatihan tertentu yang berbayar, karena sudah yakin kalau narasumbernya pasti qualified. Padahal belum tentu. Di Akademi Berbagi semua ilmu yang katanya narasumbernya mahal bisa dengan gratis dihadirkan disini. Tentu saja dalam kelas yang jumlah muridnya terbatas. Karena kalau terlalu banyak jadinya kurang fokus.

Sharing menarik ini pun akhirnya ditutup dengan kata-kata yang sangat inspiratif,

“Tidak ada yang tidak bisa, tinggal kita mau/tidak. Semua orang boleh bermimpi, tapi jangan lupa beri kaki pada mimpimu. Karena mimpi pun harus menjejak bumi… “

 

—–

Sungguh sebuah acara yang sangat menarik. Tidak rugi saya harus bermacet-macet ria menuju ke Pacific Place. Karena ternyata ada banyak ilmu yang bisa saya dapat dari acara Bincang Edukasi malam itu. Ternyata disinilah saya bertemu dengan orang-orang yang punya semangat luar biasa dan sangat peduli dengan dunia pendidikan. Orang-orang yang memiliki mimpi dan cita-cita yang sama untuk memajukan dunia pendidikan di Indonesia.

Life ends when you stop dreaming. Hope ends when you stop believing… “

Thanks to Kresna who let me join to this event 🙂
Sampai jumpa di Bincang Edukasi sesi berikutnya ya 🙂

 

[devieriana]

 

 

dokumentasi pribadi

Continue Reading

#XLNetRally : Sinyal Asyik, Nyambung Terus! (2)

Hari Minggu (24/7) pagi, antara pukul 07.00-09.00, kami sudah harus bersiap untuk sarapan dan segera meninggalkan Hotel Gumaya, karena sesuai jadwal masih ada 2 lokasi lagi yang harus kami kunjungi, yaitu Lawang Sewu dan Sam Poo Kong, dua tempat eksotis yang merupakan ikonnya kota Semarang. Oh ya, pagi-pagi sekali saya sudah titip ke Mbak Eny dibelikan lumpia khas Semarang. Waktu saya terima, ternyata lumpia ini dibungkus dalam kemasan yang covernya “amboy nian” ;)). Kepikiran aja ya yang bikin gambarnya, sampai bikin cover bungkus lumpia seperti itu..

Lokasi pertama yang kami kunjungi hari itu adalah Lawang Sewu. Ternyata bentuk bangunannya tidak seseram yang saya bayangkan selama ini. Mungkin karena hari masih siang dan ternyata bangunannya sudah mengalami peremajaan di sana-sini, sehingga kesannya sudah tidak terlalu angker dan gothic lagi. Nggak tahu juga kalau malam hari.

Dulunya, gedung Lawang Sewu ini merupakan Kantor Pusat Perusahaan Kereta Api Swasta NIS. Nah, mengapa disebut Lawang Sewu? Apakah benar pintunya ada seribu? Ah ya, kalau pintunya cuma satu namanya jadi Lawang Siji, dong! 8-| Lawang Sewu dikenal sebagai bangunan dengan jumlah pintu yang sangat banyak. Konon, kalau ada yang menghitung pintunya secara bersama-sama, hasil akhirnya jumlah pintu yang dihitung bisa jadi berlainan antara satu orang dengan orang lainnya. Selisihnya bukan hanya satu-dua pintu saja, tapi puluhan. Nah, lho! Ya, namanya juga mitos. Saya sendiri sih tidak menghitung, sih. Ngapain? Kurang kerjaan, apa? :-”

Pengalaman seru lainnya di Lawang Sewu yaitu ikut Tour De Underground. Sebelumnya, para peserta tour harus mengganti alas kaki dengan sepatu boot yang telah disediakan. Oh ya, jangan membayangkan sepatu boot yang kami pakai ini adalah sepatu boot seperti yang kerap dipakai oleh artis Mahadewi kalau lagi manggung, ya. Ini cuma sebuah boot karet yang biasa dipakai kalau lagi banjir atau bertani. Kenapa harus pakai sepatu boot? Kenapa bukan high heels, misalnya? Simple saja sih, karena kita bukan mau ke kondangan :|. Kondisi dibawah sana adalah ruang bawah tanah yang gelap, dan sepanjang jalannya berisi genangan air. Selama di dalam basement, kami bukan hanya dijelaskan tentang fungsi masing-masing ruangan dan pipa-pipa saja, Mas Tour Guide yang mengantar kami juga menunjukkan tempat yang pernah dijadikan lokasi uji nyali dan menunjukkan dari mana datangnya arah penampakannya X_X. Mungkin tujuannya siapa tahu  suatu hari nanti ada salah satu diantara kami yang ingin mencoba uji nyali disini sendirian disini *kurang kerjaan*. Sebagai seorang yang (sedikit) penakut, sepanjang perjalanan saya menempatkan diri di tengah rombongan, biar aman, nggak ada yang nyolek :>. Sayangnya sepatu boot yang saya gunakan ternyata bocor, Sodara :|. Jadi, ya seperti tidak ada bedanya antara pakai sepatu atau tidak. Untung habis tour bisa langsung cuci kaki. Kalau nggak, kan bisa kena kutu air. #penting

Selesai dari Lawang Sewu kami melanjutkan perjalanan ke Kuil Sam Poo Kong yang terletak di daerah Simongan, Semarang. Tempat ini konon, dulunya adalah tempat persinggahan Laksamana Cheng Ho, seorang penjelajah asal Tiongkok yang beragama Islam. Oh ya, disana ada persewaan busana khas Tionghoa juga lho. Kalau waktunya cukup sih saya mau tuh pakai busana kaya begitu. Terserah deh mau matching sama wajah saya atau enggak, habisnya kok keliatannya seru ya, kalau pakai kostum-kostum begitu. Berasa kaya mau ikut karnaval, gitu. Sayangnya kami tidak terlalu lama singgah di tempat ini, karena usai mendengarkan penjelasan singkat guide dan mengabadikan beberapa spot yang menarik, kami segera beranjak untuk melanjutkan ke lokasi terakhir sebelum ke bandara, yaitu Soto Pak Man untuk menikmati makan siang karena waktu sudah menunjukkan hampir pukul 11.00.

Bagi sebagian besar warga Semarang, Kedai Soto Pak Man ini tentu sudah tidak asing lagi. Lokasi tepatnya ada di Jalan Purwosari. Sesuai dengan namanya, hidangan khas kedai ini adalah soto. Di depan kami sudah tersedia satu baskom alumunium sate, sepiring gorengan, dan sepiring perkedel yang bentuknya sangat mirip Poffertjes *dejavu*. Soto-soto yang telah dicampur dengan nasi itu disajikan dalam mangkuk-mangkuk kecil dengan porsi sedang. Cara penyajian seperti ini sekilas mengingatkan saya pada salah satu kedai soto di daerah Kalibata. Buat saya sih porsinya pas, tapi bagi sebagian pria, yang notabene kapasitas perutnya lebih besar daripada saya, tentu mengatakan porsinya tanggung, atau bahkan kurang. Kalau cuma makan satu porsi, masih lapar. Tapi kalau tambah satu porsi lagi, kebanyakan. Ah, memang porsi yang mengandung dilema… *galau makan soto*. Oh ya, saya juga memesan dawet durian yang rasanya superlezat itu. Yummy! :-bd

Panitia acara XL Network Rally ini memang sudah mengatur keseluruhan acara dengan sedemikian rupa. Penyelenggaraannya terbilang sangat rapi dan serba tepat waktu. Dalam waktu yang tidak terlalu lama kami sudah tiba di Bandar Udara Achmad Yani. Sesuai dengan waktu yang tertera di tiket, seharusnya kami terbang ke Jakarta pukul 12.55, tapi apa daya, begitu kami menginjakkan kaki di ruang tunggu bandara, kru maskapai “Singa Udara” itu sudah siap dengan beberapa kotak snack dan sekaligus menginformasikan kalau pesawat yang akan kami tumpangi mengalami keterlambatan. Untungnya kami termasuk makhluk-makhluk yang seru dan punya inisiatif menyibukkan diri dengan kegiatan update status dan foto-foto. Sehingga delay yang hampir memakan waktu 2 jam itu terlewati dengan sempurna. Sempurna bosennya! I-)

Secara keseluruhan, program tahunan menjelang mudik lebaran yang diselenggarakan oleh XL ini berjalan lancar. Kami sangat menikmati jalannya seluruh rangkaian acara Uji Jaringan ini. Senang bisa bertemu dengan teman-teman baru yang selama ini baru saya kenal di jejaring sosial, serta ikut merasakan serunya mudik asyik walaupun bukan berkampung halaman di Semarang.

Selamat menyambut datangnya bulan Ramadhan. Selamat menikmati mudik dan pulang kampung secara aman dan nyaman, Temans. Oh ya, ini ada update video commercial-nya XL itu 😀

 

Sampai jumpa di acara XL Net Rally tahun depan, ya! :-h

[devieriana]

 

Continue Reading

#XLNetRally : Sinyal Asyik, Nyambung Terus! (1)

Sejak berdomisili di Jakarta, saat-saat mudik ke Surabaya adalah saat yang paling saya tunggu-tunggu. Kesempatan setahun sekali itu benar-benar saya manfaatkan untuk bertemu dengan keluarga. Tapi bagaimana ceritanya ya, jika saya diundang ikut merasakan “mudik” ke Semarang dan semua biaya ditanggung oleh pihak penyelenggara? ;;)

—–

Sabtu (23/7) lalu saya bersama 11 orang blogger Jakarta dan Bandung lainnya sengaja diundang oleh salah satu perusahaan telekomunikasi di Indonesia, XL Axiata untuk berpartisipasi dalam kegiatan tahunan XL Network Rally. Salah satu tujuan kegiatan ini adalah untuk menguji sinyal dan kesiapan jaringan XL dalam menghadapi lonjakan traffic selama Ramadhan dan Lebaran nanti. Dalam benak saya sudah terbayang betapa serunya acara ini, bisa bertemu dengan teman-teman yang selama ini hanya berinteraksi via jejaring sosial, jalan-jalan, makan-makan, dan foto-foto \:D/. Selain itu pasti akan ada pengetahuan baru seputar dunia telekomunikasi yang akan saya dapatkan disana. Yang paling seru nih, gosipnya kami akan diajak menikmati perjalanan dengan menggunakan kereta api ber-wifi pertama di Indonesia, Argo Bromo New Image, yang baru akan beroperasi pada Agustus 2011 mendatang, yang jaringan wifi kereta ini disediakan oleh XL Axiata, lho!

Cuaca Jakarta pagi itu yang cukup cerah, ketika pukul 06.00 saya bersama Hubby meluncur menjemput Goenrock yang sudah standby di depan Seven Eleven Mampang, dan Mbak Wiwik yang kebetulan kost di seputaran Mampang  juga. Sebagai sesama warga Mampang Unite kami pun pergi ke Gambir secara berjamaah. Perjalanan dari Mampang menuju ke Gambir lumayan lancar. Kami tiba disana sekitar pukul 06.45 dan langsung menuju Ruang Tunggu VIP Stasiun Gambir, Hall Ground Floor. Disana sudah terlihat beberapa blogger peserta XL Net Rally (ada Pitra Satvika, Leonita Julian, Mbak Eny Firsa, Mas Iman Brotoseno, Pak Amril, Mas Priyadi, Pak Ikhlasul Amal , Nita Sellya, Shinta Setiawan), para panitia, dan event organizer yang akan mendampingi kami di sepanjang acara menuju Semarang.

Setelah mengisi formulir, ngobrol, dan menikmati snack, pukul 07.30 kami diminta menuju ke lantai 2 untuk bersiap naik kereta. Seperti biasa, yang namanya ritual jalan-jalan belum afdol kalau tidak ada sesi foto-foto. Kami pun berfoto bersama dengan latar belakang Monas. Foto khas ala para pendatang banget, ya? ;))

Hingga tibalah saat yang ditunggu-tunggu. Kami melihat kereta api ekslusif yang akan membawa kami ke Semarang itu mulai bergerak mendekat. Buat yang belum pernah naik kereta api sebagus ini —seperti saya misalnya— pasti awal-awalnya pengen lepas sandal deh. Biasa, takut karpetnya kotor ;)) *udik*

Kompartemen mewah itu dilengkapi dengan LCD TV 42″, pendingin ruangan, toilet, fasilitas karaoke, dan mini bar. Yang tak kalah kerennya, kereta ini dibalut dengan interior yang seluruhnya terbuat dari kayu jati. Kereta ini memiliki kapasitas tempat duduk ekslusif untuk 19 orang dan sebuah kamar tidur untuk 2 orang yang dilengkapi kaca rias, lampu tidur dan wastafel. Yang lebih istimewa lagi, ada bagian gerbong yang merupakan balkon VIP yang cukup mewah dengan pemandangan rel kereta dan alam di belakangnya. Pokoknya keren banget, deh! Kapan-kapan nyewa sendiri, ah.. *mecah celengan ayam*
Pukul 07.30 tepat, kereta api yang kami naiki mulai bergerak. Beginilah kalau yang diajak jalan-jalan adalah kaum blogger/netizen. Mulai masuk kereta, duduk, dan ketika kereta mulai berjalan, tangan-tangan kami tidak lepas dari gadget masing-masing. Semuanya sibuk “uji jaringan” alias update status di twitter dan facebook dengan tagar resmi #XLNetRally. Tak hanya itu, yang membawa kamera mulai sibuk mengabadikan tiap moment selama perjalanan. Pun halnya dengan yang membawa laptop, langsung menjalankan aktivitas kesosialmediaannya. Tak lupa dengan para pengguna i-Phone, sudah pasti mulai berburu foto-foto untuk diunggah ke instagram.

Direktur Jaringan & Layanan XL, Mbak Dian Siswarini, yang pagi itu membuka acara di dalam kereta, menginformasikan bahwa uji jaringan di jalur mudik Jakarta-Semarang ini merupakan bagian dari serangkaian program uji kesiapan jaringan yang sudah dilakukan XL di 15 kota, yaitu Jakarta, Medan, Banjarmasin, Denpasar, Makassar, Pekanbaru, Mataram, Palembang, Padang, Bandung, Lampung, Semarang, Yogyakarta, Solo dan Surabaya. Acara Uji Jaringan tahun ini berbeda dengan tahun sebelumnya. Kalau tahun sebelumnya kegiatan uji jaringan XL —yang juga melibatkan para blogger dan netizen ini— menggunakan jalan darat (mobil), sedangkan tahun ini, XL Axiata bekerja sama dengan PT Kereta Api Indonesia menguji coba wifi dan menjanjikan layanan yang ‘nyambung terus’ selama mudik. Uji jaringan dilakukan secara rutin oleh XL Axiata untuk mengantisipasi lonjakan traffic telekomunikasi selama Ramadhan dan Lebaran yang hampir selalu dipastikan naik sebesar 30%. Sambutan dari Mbak Dian Siswarini itu ditutup dengan pemasangan topi masinis berlogo XL secara simbolis kepada perwakilan blogger, Mas Iman Brotoseno dan Mbak Eny Firsa.

Selama perjalanan kami disuguhi hiburan dari grup —yang ngakunya— bernama Rias. Mereka terdiri dari 6 personil yang membawakan lagu-lagu yang sudah cukup familiar, secara jenaka. Celetukan-celetukan ringan dan timpal-menimpali lelucon rekannya menjadi bagian hiburan Grup Rias ini. Sambil menikmati hiburan, tak lupa kami juga disuguhi sarapan nasi goreng lengkap dengan telur mata sapi dan secangkir kopi susu hangat. Standar kereta api sih, tapi alhamdulillah habis. Laper, soalnya :p

Usai sarapan, kegiatan kami berikutnya yaitu games. Ada games pemanasan berupa “senam ayam” ala Warkop, dan games berhitung menggunakan bahasa daerah asal masing-masing peserta. Games berikutnya dilakukan secara berkelompok. Saya sekelompok dengan Goenrock, Mbak Wiwik, Shinta, dan Pak Amril. Nama kelompok kami adalah ‘Ngek-Ngek’. Sungguh nama yang sangat eksotis, ya? 8-|. Ada 3 permainan yang kami mainkan disini, memindahkan bola dari satu ember ke ember di seberangnya dengan menggunakan pipa paralon yang dibelah jadi 2, memecahkan kata-kata sandi yang jika dirangkaikan akan membentuk kalimat yang berhubungan dengan kegiatan uji jaringan XL, dan yang terakhir yaitu menyusun puzzle bergambar kereta api. Walaupun kelompok saya tidak menang tapi tetap seru, dan yang penting adalah rusuh! Karena setiap kali bola menggelinding dan jatuh, jeritan kami berubah jadi desahan :”> *muka mesum*

Selama kurang lebih 15 menit kami berhenti di stasiun Cirebon. Mbak Wiwik yang selama perjalanan duduk di samping saya mendadak ingin makan kerupuk Melarat. Kerupuk apa? Kerupuk Melarat! :-o. Kerupuk ini adalah sejenis kerupuk yang digoreng menggunakan pasir. Berhubung kami tidak diperkenankan turun, atas kebaikan hati panitia, Mbak Wiwik akhirnya dibelikan 10 bungkus! Nah lho. “Mbeliinnya kok ugal-ugalan gitu, Mas?” :)). Seperti orang ngidam, biasanya kalau ingin makanan tertentu, yang dimakan justru cuma sedikit, sisanya malah tidak termakan. Karena itulah kerupuk Melarat ini awet banget sampai kami tiba di Semarang. Gimana mau nggak awet, lha wong ngunyah satu aja tenggorokan sudah kering, kok. Apalagi 10 bungkus.

Perjalanan pun dilanjutkan. Acara berikutnya sedikit serius, nih. Paparan Tim XL Axiata tentang kesiapan jaringan mereka menghadapi lonjakan traffic komunikasi selama Ramadhan dan Lebaran, dan langkah-langkah antisipatif progresif apa saja yang sudah mereka dilakukan. Dengan menggunakan LCD TV dan beberapa perangkat yang sejak awal sudah disiapkan di meja depan TV, Pak Slamet Irianto (Manajer Kualitas Jaringan XL), didampingi Vice Presiden Network Operation XL, Pak Robert Dedy Purwanto menjelaskan kepada kami tentang hal-hal dan persiapan apa saja yang telah dilakukan oleh XL Axiata, utamanya menjelang moment Ramadhan dan Lebaran tahun ini. Mengingat hampir sudah bisa dipastikan akan terjadi lonjakan pemakaian jaringan sebesar 30%. Mereka juga menunjukkan pada kami piranti pengumpul sinyal yang dinamakan TEMS, yang menurut keterangan beliau harganya 35 ribu USD! Pfiuh! Kalau sampai hilang gimana, ya? Bakal nangis nggak tuh, kira-kira? 😕 Masih menurut beliau, perangkat ini wajib di-update antara 2-3 kali dalam setahun.

Pak Ari Tjahjanto, Service Assurance Manager XL, yang juga ikut mendampingi kami dalam kesempatan itu juga menyampaikan pesan agar kami, selaku pengguna jasa telekomunikasi, tidak perlu ragu-ragu untuk menyampaikan informasi dan keluhan (jika ada) secara obyektif tentang kualitas sinyal XL. Tentu saja harus dilengkapi dengan data-data yang akurat. Jadi kalau mau komplain jangan hanya menginformasikan, “sinyal di daerah X jelek nih..”. Tapi juga harus menyebutkan secara lengkap detail lokasi dan waktu kejadian, alamat lengkap, kondisi sinyal di HP pengguna, apakah pengguna XL yang lain di wilayah tersebut juga mengalami hal yang sama, langkah apa saja yang sudah dicoba oleh pengguna sebelum melaporkan kepada customer service XL. Memang sih sedikit ribet, tapi dengan adanya laporan yang
lengkap, diharapkan keluhan pelanggan akan lebih mengerucut sehingga akan lebih mudah dianalisa root cause-nya sehingga bisa memberikan solusi yang tepat, sesuai dengan keluhan pelanggan.

 Setelah mendapatkan sedikit pencerahan teknis tentang kesiapan jaringan XL menghadapi kenaikan traffic komunikasi selama Ramadhan dan Lebaran, kami pun dipersilakan menikmati makan siang dengan menu yang menggugah selera. Nah, kalau biasanya di kereta kita menikmati hidangan yang sudah tersaji dalam bentuk default, kali ini kami disuguhi hidangan dalam bentuk prasmanan. Asyik juga ya menikmati prasmanan di kereta. Jarang-jarang, kan? 😉

Setelah acara makan siang usai, dilanjutkan dengan acara bebas. Bebas berkaraoke maksudnya. Saya yang 2 hari sebelumnya sempat ‘ngidam’ karaokean, hari itu terpuaskan sudah. Lagu The Prayer-nya Andrea Bocelli dan Celine Dion menjadi lagu pertama yang saya bawakan. Gaya, ya? ;)). Tapi syukur alhamdulillah, berkat doa keluarga dirumah, dukungan para fans, dan para penikmat musik Indonesia, saya berhasil menyelesaikan lagu The Prayer dengan selamat, tanpa timpukan sandal, wajan, dan atau lemparan kompor [-o<. Selanjutnya silih berganti Pak Amril, Mbak Wiwik, Mbak Eny Firsa, dan Goenrock yang ikut menyumbangkan suara emas mereka. Nggak nyangka ya, ternyata banyak blogger yang multi level marketing multi talented!

Ada yang unik dalam perjalanan kami hari ini. Kami sengaja memberikan julukan spesial pada kereta yang kami tumpangi hari itu. Julukannya adalah Gerbong Galau. Bagaimana tidak, kalau sepanjang perjalanan dari Jakarta menuju Semarang ternyata bukan hanya saat pemilihan lagu karaoke saja yang menggalau, waktu paparan dari Tim XL Axiata tadi pun juga sempat-sempatnya curhat galau. Awalnya sih konsultasi masalah sinyal tapi makin ke belakang malah membahas tentang akibat krusial yang akan ditimbulkan kalau sinyal timbul tenggelam. BBM tidak terkirim, sms pending, panggilan disconnected melulu, dan gara-gara itu pulalah mereka-mereka yang menjalani Long Distance Relationship bisa mengalami miskomunikasi dan akhirnya putus. Kalau putus, kan jadi jomblo. Kalau jomblo, ya bisa-bisa isi timeline-nya galau semua. Hedeeuh, panjang ya hubungannya? #-o

Tanpa terasa akhirnya sampai sudah kita di Stasiun Tawang, Semarang. Penyambutannya pun cukup istimewa. Kami bukan hanya disambut oleh Mbak-Mbak cantik berkebaya hijau, tapi kami juga dikalungi celurit syal batik berbordir XL. Tak hanya itu, di tempat yang tak jauh dari lokasi pengalungan syal sudah bersiap seorang Mbak  yang juga berkebaya hijau sambil menggendong bakul dan membawa nampan berisi beberapa gelas beras kencur hangat. Mbak Febriati Nadira —Communication Head XL Axiata— yang cantik itu menyambut kami dengan hangat dan ramah. Tidak heran, karena Mbak Ira —demikian Mbak Febriati Nadira kerap dipanggil— memang akrab dengan para para blogger dan netizen. Sebelum naik bus, kami —seperti biasa— berfoto dulu di stasiun sebagai bukti bahwa kami telah tiba dengan selamat di Semarang \:D/.

Perjalanan menuju Hotel Gumaya —tempat kami menginap— tidaklah memakan waktu yang terlalu lama. Mbak Wiwiek yang (katanya) asli Semarang langsung berinisiatif menjelaskan beberapa tempat bersejarah yang kami lewati. Walaupun keterangannya terbalik-balik tapi masih okelah, Mbak! Toh kalau ada salah keterangan kami juga nggak protes kok, toh sama-sama nggak tahunya kalau ngawur :)) *sungkem*

Tak lama kemudian kami pun tiba di Hotel Gumaya. Setelah panitia mendata ulang dan membagikan kunci kamar, kami pun menuju kamar masing-masing. Kebetulan saya sekamar dengan Leonita Julian di kamar 833. Baru tahu, ternyata Leoni juga sama-sama dari Jawa Timurnya 😀

Oh ya, kami juga sempat dijamu secara informal di Toko Oen oleh Mbak Ira. Toko yang sudah dikenal sejak jaman Belanda itu hingga kini masih mempertahankan interior tempo doeloenya. Kalau diperhatikan, sedikit mirip dengan Toko Oen yang ada di Malang.

Kami memesan beberapa snack, makanan (agak) berat, dan minuman/es krim. Pesanan terbanyak adalah Poffertjes! Ada Poffertjes tawar, keju, coklat, dan coklat keju. Kenapa kami sebut banyak? Karena sepertinya tadi kami sudah berhenti memesan Poffertjes deh, tapi kok ya masih diantar lagi, lagi, dan lagi. Sehingga melihat muka Si Enthong pun terlihat seperti Poffertjes! 8-| *siwer*. Setelah menghabiskan pesanan, kami pun kembali ke hotel untuk beristirahat sejenak sekaligus mempersiapkan diri menuju ke acara selanjutnya yaitu Obsat, pukul 19.00, di Taman Raden Saleh, dengan menggunakan tshirt seragam yang telah dibagikan sebelumnya di dalam goodie bag \:D/

Pukul 19.00 kami berangkat dengan menggunakan bus ke lokasi Obsat, yang malam itu pelaksanaannya bekerja sama dengan National Traffic Management Center (NTMC) Kepolisian Negara Republik Indonesia. Di acara Obsat ini POLRI, hadir diwakili oleh Kombes Pol Drs. Gata Chaerudin (Kabid Tekinfokom Korlantas), Briptu Avvy Olivia dan Briptu Eka Frestya Yulianti, untuk melakukan dialog dan sosialisasi tentang kesiapan layanan POLRI dalam rangka mengamankan aktivitas pelanggan dan masyarakat saat Ramadhan dan mudik Lebaran. Bisa diduga sebelumnya, kehadiran dua Polwan cantik ini masih menjadi daya tarik bagi para undangan/blogger/netizen pria yang hadir disana. Saya bersama para blogger perempuan lainnya hanya mampu memandang trenyuh melihat aksi dan usaha para pria itu silih berganti mendekati dan foto bersama dua Polwan cantik itu. Baiklah, namanya juga usaha ya? ;))

Obsat malam itu dipandu secara interaktif oleh Ndoro Kakung dan Mbak Febriati Nadira. Sementara para blogger secara aktif melakukan live twit bertagar #Obsat #XLNetRally. Oh ya, saya sempat didatangi oleh kru O’ Channel untuk diajak menjadi filler iklan XL. Ternyata saya tidak sendiri, ada Mbak Eny Firsa, Mas Iman Brotoseno, dan Pak Amril yang juga diminta menjadi bintang iklan dadakan. Syutingnya dilakukan secara singkat di pendopo samping tempat acara Obsat berlangsung. Di depan sorotan lampu dan kamera kami berempat mengucapkan beberapa kalimat yang sudah disiapkan oleh pihak O’ Channel. Hmm, hasil jadinya nanti seperti apa, ya? Jadi penasaran 😕

Banyak kejadian lucu sepanjang acara yang berlangsung sejak pukul 19.00 s.d. 22.00 itu. Si Enthong yang keukeuh ingin menunjukkan foto berdua Briptu Eka ke orangtuanya, dan disambut dengan tatapan iba teman-teman lainnya, serta berbagai ekspresi “mupeng-mupeng-gimana-gitu” bertebaran di sepanjang acara. Puncak keriuhan pun terjadi ketika Ndoro Kakung menanyakan hal-hal seputar pribadi kepada Briptu Avvy dan Britu Eka. Sontak timeline menjadi galau, karena para pria harus rela menerima kenyataan kalau Briptu Eka sudah punya kekasih =))

Acara Obsat berakhir tepat pukul 22.00. Kami pun kembali ke hotel dengan mata yang tinggal seperempat terbuka I-). Tapi ternyata teman-teman blogger banyak yang masih ingin melanjutkan acara hang out, tapi ada beberapa peserta yang memilih untuk istirahat di hotel, atau memiliki acara lain di luar itu. Saya menutup hari itu dengan tidur lelap…

 

[devieriana]

 

Bersambung ke tulisan berikutnya

Foto koleksi pribadi dan sebagian pinjam Mas Priyadi Iman Nurcahyo

Continue Reading

The Living Legend : Pak Raden

Sebagai generasi jaman TVRI yang hiburan untuk anak setiap hari Minggu cuma si Unyil dan beberapa film kartun, memang mau tidak mau ya tontonannya itu. Dinikmati sebosannya karena adanya cuma itu, belum ada stasiun TV swasta seperti sekarang. Jauh berbeda dengan dunia hiburan anak jaman sekarang yang lebih variatif dan modern. Tapi jika diperhatikan, sampai sekarang belum ada lho film dan tokoh rekaan yang begitu dicintai dan hidup hingga berpuluh tahun seperti Unyil dan kawan-kawan. Boleh dikatakan film Si Unyil adalah film boneka yang paling legendaris.

Nah, kalau bicara tentang Si Unyil pasti tidak akan lepas dengan sosok bapak-bapak Jawa, galak, berkumis tebal, menggunakan beskap, kain panjang, dan tak lupa blangkon. Ya, dia adalah Drs. Suyadi atau yang lebih dikenal dengan Pak Raden (Raden Mas Suryomenggolo Jalmowono) :D. Walaupun kalau di film galak tapi aslinya dia pecinta anak-anak lho. Film Si Unyil tanpa Pak Raden itu seperti sayur tanpa garam. Anyep!

Nah, hari Sabtu tanggal 25 Juni 2011, pukul 11.00 wib, bertempat di fX Sudirman, berlangsung sebuah acara yang bertajuk #PeduliPakRaden : “Kirim Cinta dengan Dongeng Untuk Anak Indonesia”. Acara ini hasil kerja sama antara Sekolah Cikal dan Rumah Main Cikal, fX Plaza, Female Radio, dan Indonesia Bercerita. Inti acara ini adalah untuk menunjukkan kepedulian kita terhadap sosok Pak Raden yang direntang usianya yang sudah tidak muda lagi (lahir di Puger, Jember, 28 November 1932) dan kesehatannya sudah tidak seprima dulu, beliau memang sedang membutuhkan bantuan dana untuk pengobatan kesehatannya.

Aha! Akhirnya saya bisa bertemu langsung, bersalaman, ngobrol sebentar, memeluk, bahkan berfoto bersama tokoh galak ngangenin yang pintar melukis dan mendongeng itu! Saya melihat beliau sedang duduk di deretan kursi panitia dan undangan. Sosoknya masih tetap sama seperti dulu, perawakan agak gemuk, memakai beskap, dan tak pernah lupa kumis artificial dan blangkon khas yang menunjang karakternya.

Namun, ketika beliau diundang untuk maju ke depan dan mulai mendongeng di sesi terakhir, saya merasa sedikit trenyuh. Untuk berjalan menuju tempat duduk yang telah disediakan di depan panggung itu, yang jaraknya sekitar 2 meteran, beliau harus dituntun dan berjalan agak tertatih-tatih, rematik. Ternyata bukan hanya tokoh boneka Pak Radennya saja yang dulu berkeluhan encok/rematiknya kumat, beliau sendiri juga mengalaminya. Saya melirik ke sebuah sudut depan panggung. Ada sebuah kursi roda yang bertuliskan “Pak Raden”. Di usianya yang hampir menginjak 80 tahun dan kondisi kesehatan yang mulai naik turun beliau memang memerlukan kursi roda untuk membantu mobilitasnya yang tak lagi gesit.

Singkat cerita, saya bersama teman-teman dari Indonesia Bercerita (Jakarta) hadir bukan hanya untuk sekedar menyaksikan acara yang dipenuhi oleh anak-anak berbagai usia itu, tapi juga melihat secara langsung bagaimana konsep mendongeng yang “seru” dan bisa menarik minat anak-anak. Saya yang masih sangat amatir di bidang dongeng jelas merasa mendapat banyak ilmu langsung dari masternya pendongeng yaitu Pak Raden, dan menyaksikan live performance menakjubkan dari Mbak Poetri Soehendro yang mendongeng dengan sangat atraktif.


Oh ya, sebagai pendongeng, Pak Raden punya ciri khas mendongeng sambil menggambar. Bisa dikatakan beliaulah pendongeng pertama di Indonesia, atau bahkan di Asia, yang menuturkan kisah dongeng sambil menggambar. Ada hal menarik yang disampaikan oleh Pak Raden, ketika ditanya mengapa dia lebih suka mendongeng sambil menggambar?

“Ya, biar anak-anak mendapatkan gambaran langsung tentang dongeng apa yang sedang diceritakan..”

Hmm, benar juga ya. Kadang anak-anak butuh penggambaran yang lebih jelas tentang jalannya sebuah cerita, jadi bukan hanya sekedar membayangkan dan mereka-reka. Oh ya, tentu kita masih ingat kan, kalau Pak Raden ini selain pendongeng juga seorang ilustrator dan pelukis handal? Ya, di rumahnya di area Petamburan kita bisa menemukan berbagai lukisan yang merupakan hasil kreatifitas tangan senimannya.

“Semua orang bisa jadi pendongeng. Tapi yang lebih penting adalah, cintai dulu siapa yang akan kita dongengi. Nah, siapa saja mereka? Ya anak-anak ini..”, tuturnya menjawab pertanyaan tentang bagaimana menjadi seorang pendongeng yang baik, sambil menunjuk ke arah puluhan anak yang mengerumuninya sebelum acara mendongeng dimulai.

Ah, betul sekali. Mendongeng dari hati. Mendongeng bukan hanya sekedar aktivitas menyampaikan sebuah cerita. Bukan hanya membacakan dongeng hingga anak tertidur. Tapi lebih dari itu, ada sebuah komunikasi dan pesan yang coba dibangun melalui dongeng itu sendiri. Akan terasa berbeda rasanya ketika mendengarkan dongeng yang disampaikan ala kadarnya (hanya membaca) dan yang disampaikan secara tulus (menjiwai). Ada ya mendongeng dengan tulus? Ada, saya menemukan dan melihatnya langsung dalam sosok Pak Raden ketika siang itu beliau mendongeng di depan puluhan anak kecil.

Beliau membawa boneka Pak Raden, Melani, Orang Gila, dan beberapa karakter boneka lainnya untuk mendukung dongeng yang akan dibawakan. Anak-anak lucu itu langsung berkerumun di sekeliling Pak Raden. Bagi mereka yang bukan hidup di jaman Si Unyil masih populer dulu, tentu merupakan hal yang menakjubkan. Tapi buat Papa Mama-nya tentu ini merupakan sesi nostalgia masa kecil ya :D. Pak Raden bukan hanya bercerita melalui boneka-boneka tangan tapi juga menulis sendiri dongenganya serta menggambarnya langsung di atas white board.

Satu hal yang saya pelajari hari itu. Jika ingin serius menjadi seorang pendongeng yang berhasil menyedot perhatian dan antusiasme anak-anak adalah dengan cara membaur dengan mereka, menghapus jarak,”ngemong”, dan jangan jaim. Tanpa mengecilkan pendongeng-pendongeng lainnya yang sudah ada, untuk semua hal diatas kita harus mengakui bahwa Pak Raden masih tetap maestronya hingga saat ini!

Di akhir pertemuan saya dengan beliau, saya bisikkan di telinga pria berjulukan “kakek sejuta cucu” itu :

“Pak, saya senang bertemu dengan idola masa kecil saya dulu. Tetap sehat ya, Pak. Sehingga Pak Raden tetap bisa berkreasi terutama untuk dunia anak-anak..”

Beliau pun mengangguk, tersenyum, sembari menepuk lengan saya, matanya terlihat sedikit berkaca-kaca. Kami pun berpelukan sebentar. Tak terasa saya pun larut dalam suasana haru dan ikut menitikkan air mata 🙁

Sampai ketemu di lain kesempatan ya, Pak. Semoga Tuhan menjaga serta senantiasa memberikan kesehatan dan usia yang panjang untuk Pak Raden. Doa kami, anak-anak Indonesia, teriring untuk Pak Raden, our living legend 🙂

[devieriana]

 

dokumentasi pribadi

Continue Reading