Kenapa harus horor?

Dari jaman saya kecil sampai sekarang, saya itu termasuk orang yang takut sama hal-hal serem. Dulu, jangankan nonton film horor yang jelas-jelas mengandung hantu, lihat serial Unyil pas adegan hutan lindung aja saya sudah deg-degan, takut tiba-tiba keluar nenek sihir atau makhluk hutan yang menakutkan lainnya. Itulah kenapa saya sangat antipati sama film horor, yang sebagian besar syutingnya hampir selalu dilakukan di malam hari, gambar dengan aura suram, gelap, ditambah sound effect yang bikin merinding. Iya karena saya memang penakut X_X. Kalaupun misalnya ada acara nonton gratis tapi kalau filmnya film horor saya pasti akan dengan sukacita menolaknya. Jangankan nonton yang berbayar, di TV aja jaman-jaman ada acara uji nyali atau acara setan on tv show aja saya sudah pasti ganti chanel.. walaupun seringnya penasaran pengen tahu peserta uji nyalinya berhasil sampai finish nggak, atau ada penampakan sesuatu nggak disana.. ;))

Beda sama adik saya yang nomor 2, kalau soal nonton film horor dia jagonya, walaupun itu malam hari dan harus nonton sendirian. Kalau saya sih, makasih deh. Pernah saya terbangun karena pengen pipis, eh lihat dia lagi anteng nonton film Shutter , ngakunya sih sempat kaget pas lihat saya tahu-tahu seliweran lewat, karena mungkin dia lagi tegang-tegangnya ya ;)). Duh, emang muka saya mirip sama setan ya? :|. Dulu sempat tanya ke adik saya itu, kenapa dia berani nonton film horor, dengan ringan dia menjawab :


“halah, kan disitu ada sutradaranya, Mbak. Itu semua bikinan manusia..”

Iya tahu kalau disitu ada sutradaranya, saya juga tahu kalau yang syuting itu artis semua, saya juga tahu kalau mereka didandani sedemikian rupa oleh make up artist-nya sehingga mirip makhluk-makhluk menyeramkan sesuai lakon di skenario itu. Tapi kan pas adegan itu diambil, kru yang ada dibelakang layar nggak ikut disorot. Nggak mungkin dong pas lagi adegan suster ngesot pas lagi ngesot serem-seremnya eh sutradaranya lewat sambil bawa gorengan atau make up artist-nya mendadak benerin bedak lantaran muka si suster terlihat masih kurang pucat.

Sering bertanya-tanya sendiri, bukankah seharusnya menonton itu jadi kegiatan yang menghibur & bersifat rekreasi ya. Tapi kenapa “hiburannya” harus berupa hal yang menakutkan? Bukankah malah jadi stress? Kalau dalam keadaan ketakutan begitu lalu dimana letak menghiburnya ya? 😕 . Sempat berpikir, kenapa ya orang-orang suka menonton film horor? Rela larut dalam suasana yang menakutkan, tegang, deg-degan, dan teror. Untuk pertama kalinya saya sengaja menonton yang jenisnya thriller (atau horor supernatural?) Final Destination 4 (buat saya film jenis thriller ini termasuk kategori “horor”, film teror). Pulang jam 11 malam sambil paranoid sendiri (walaupun nontonnya sama hubby). Selama menuju parkiran lihat tukang yang lagi ngelas benerin atap mall, saya paranoid. Lihat tangga besi yang lagi disandarkan di tembok, saya juga paranoid. Parno kalau tiba-tiba alat las atau tangganya jatuh menimpa dan mencederai orang yang lewat. Berlebihan ya? Emang! 😐

Kalau kejadian mengalami langsung sih nggak pernah minta, amit-amit jangan sampai yaa.. :-s. Walaupun kayanya sih pernah pas di rumah Budhe saya yang di Malang itu, kan rumahnya memang agak spooky (spooky itu bukan merk motor matic lho ya). Pernah merasa ada yang sedang lari dengan nafas ngos-ngosan di kamar saya ketika saya sedang tidur, dan itu dekat sekali dengan telinga saya. Kayanya lho ya. Padahal kamar saya di rumah Budhe itu bukan fitness centre, seharusnya nggak ada yang olahraga malem-malem kan ya? *ngusap tengkuk*. Halah, ini kok malah cerita horor beneran. Filmnya, filmnyaaa!

Iseng saya tanya sama beberapa teman yang suka nonton film horor, beberapa alasannya :
1. menonton film horor itu mengandung adrenalin rush, ada ketegangan yang ingin ditaklukkan
2. penasaran, kali ini setannya berbentuk apa ;))
3. penasaran nanti endingnya bagaimana, setannya yang mati atau lakonnya yang mati
4. ceritanya seseram gambar di posternya nggak, atau barangkali ada “bumbu-bumbu” erotismenya (u kate acara memasak pake bumbu?). Kalau yang ini pasti sukanya sama film horor Indonesia deh 😐

Kalau kata seorang psikolog, kenapa manusia suka film horor : “sebenarnya manusia menyukai perasaan ketakutan, bahkan mencari perasaan tersebut, karena mereka sadar tidak sedang berada dalam bahaya yang sesungguhnya”. Iya juga sih, kita sengaja memberanikan diri nonton film horor tapi kan di bioskop, coba kalau sengaja mencari penampakan sendirian, tengah malam, trus ketemu beneran sama hantunya. Belum tentu berani juga kali ya :-s.

Kalau kalian suka film horor nggak?

[devieriana]

Continue Reading

Balada Callcentre Officer

Seperti beberapa tulisan saya di blog ini yang bertemakan tentang callcentre, jujur sebenarnya tidak pernah menyangka kalau sebagian karir saya akan terdampar di sana. Dengan mengandalkan suara yang seadanya itu saya nekad melamar ke sebuah pekerjaan yang sangat mengandalkan suara. Tapi yang namanya rejeki memang tak akan ke mana ya, karena toh takdir menyatakan bahwa kami berjodoh… >:D<

Dulu, saya pikir bekerja di call centre itu mudah; tinggal duduk, angkat panggilan yang masuk, jawab pertanyaan pelanggan. Selesai. Ternyata lebih dari itu, stress juga ketika harus menyesuaikan diri dengan talk time (panjang waktu melayani), dan jumlah call minimal yang harus ditangani oleh seorang customer service. Belum lagi kalau jumlah panggilan yang masuk sampai bejibun, bisa ngos-ngosan kitanya.

Tapi bekerja di call centre itu seru, lho. Selain kita juga jadi lebih banyak mengenal tipikal pelanggan; mengetahui cara melayani dan berkomunikasi; kita juga bisa mendapatkan ‘hiburan’ gratis dari mereka ;)). Apalagi ketika saya menjadi quality assurance, ada banyak percakapan lucu yang saya dengarkan antara antara pelanggan dan officer. Bisa mendadak tertawa sendiri di kubikal ketika melakukan penilaian sambil mendengarkan rekaman percakapan mereka.

Menjadi orang di balik layar itu seolah punya dua muka. Di satu sisi officer harus tetap ramah walaupun pelanggan sedang ngamuk-ngamuk, emosi harus tetap stabil walaupun sedang mengalami mood swing atau PMS (yang bawaannya pengen ngasah golok melulu). Namun di sisi lainnya mereka tetaplah manusia. Punya sisi manusiawi, emosi dan keunikan tersendiri. Seperti percakapan yang sampai sekarang masih saya ingat berikut ini :

* PELANGGAN vs AGENT NGEYEL

Officer : …. selamat pagi, dengan Ibu siapa saya bicara?

Customer : pagi Mas…nng.. saya dengan Wati..

Officer : baik, dengan Ibu Wati ya..

Customer : jangan panggil Ibu dong, Mbak aja.. *tertawa centil*

Officer : maaf Ibu, untuk lebih sopannya kami diwajibkan memanggil dengan sapaan ibu atau bapak..

Customer : aah, panggil aja Mbak Wati, saya kan belum nikah Mas…  ;;)*merajuk*

Officer : mohon maaf ibu, kami hanya bisa memanggil dengan sapaan Ibu atau Bapak saja. Jika Ibu tidak berkenan dipanggil dengan sebutan “Ibu”, bagaimana jika saya memanggil dengan sebutan “Bapak”?

Customer : ya sudah, ya sudah.. saya dipanggil Ibu saja.. 😐 *dongkol*

Seharusnya memang tidak sekaku ini, kalau ada pelanggan yang keberatan dipanggil Bapak/Ibu kita diperbolehkan untuk menyapa sesuai dengan kenyamanan pelanggan kok. Tapi kasus ini kebetulan memang customernya pas apes, ketemu sama officer yang sama-sama ngeyelnya :))

———-

* AGENT YANG KELEWAT RAMAH & PENUH PERHATIAN

Customer : Mas, saya mau tanya tentang program RedSPOT itu gimana sih maksudnya?

Officer : baik, Program Red spot bisa untuk pengguna kartuHALO, simPATI & kartu As, bisa ketik… bla..bla..bla..bla.. Begitu, Bapak 🙂 *terdengar sangat ramah*

Customer : oh jadi itu kerja sama Telkomsel dengan merchant-merchant tertentu dengan diskon tertentu juga ya, Mas?

Officer : betul sekali, Bapak.. 🙂 *tingkat keramahan stadium 4*

Customer : kalau misalnya saya mau makan di Texas, dengan program RedSPOT ini saya dapat diskon berapa, Mas?

Officer : 20% Bapak..

Customer : wah, lumayan juga ya?

Officer : iya, Bapak… jadi kalau misalnya Bapak ke Texas Chicken nanti Bapak tinggal tunjukkan saja sms yang tadi Bapak terima ke kasir. Nanti Bapak akan langsung mendapatkan potongan harga sebesar 20%. Oh ya, satu lagi Pak, jangan lupa…

Customer : ya, Mas?

Officer : jangan lupa dibungkus untuk keluarganya.. 🙂

Customer : mmh… maksudnya? 😮

Officer : iya, jangan lupa bungkus bawa pulang untuk keluarganya, Pak.. 🙂

Customer : ooh…eh iya.. 😀

Ini adalah salah satu contoh agent yang sayang keluarga. Sebenarnya sih, mau bungkus buat keluarga, mau dimakan sendiri, atau mau ditebar-tebar dikasih ke ayam ya terserah pelanggannya juga sih. Lha wong yang beli dia sendiri. Tapi ya nggak apa-apa juga sih, hitung-hitung si officer sudah memberikan edukasi sayang keluarga.

———-

* S = SETAN?

Pelanggan bertanya cara setting GPRS/MMS :

Officer : silakan nanti Bapak ketik S<spasi> Nokia<spasi> type HP lalu dikirim ke 5432

Customer : F ya Mas?

Officer : “S”, Pak..

Customer : ooh.. F ya.. Ya, ya.. trus?

Officer : S pak, dari kata SI-E-RA

Customer : iya, FI-E-RA, kan?

Officer : S Pak..S. Bukan F. S ya Pak, dari kata  SSEETTAAAN…!

 

Eh lhadalah… SETAN? 😮

———-

*MAU RBT APA?

Customer : selamat pagi Mas. Saya mau minta kode nada sambung pribadi, dong..

Officer : baik Bu, untuk judul lagu apa?

Customer : yang judulnya “Kekerasan dalam rumah tangga”. Ada, Mas?

Officer : mohon maaf belum tersedia. Ada kode NSP lain yang ingin diminta?

Customer : kalau “Ceraikan Aku”, atau “Minta Cerai”, ada?

Officer : untuk kode NSP yang tersedia saat ini : “Jangan Bercerai”, “Minta Diceraikan”, “Jangan Ceraikan Aku”, dan yang terakhir  “Ceraikanlah Saja”. Ibu mau pilih NSP yang mana?

Customer : yak yang terakhir sajalah, Mas.. “CERAIKANLAH SAJA!!”

Kesimpulan dari permintaan NSP ini ditengarai pelanggan ingin minta cerai karena mengalami KDRT.

———-

* BALADA BLUETOOTH

Customer: Mas, gimana sih cara setting bluetooth? Dari tadi saya udah setting, utak-atik sendiri kok nggak bisa nyambung-nyambung sama temen saya, ya?

Officer: Bapak menggunakan HP apa?

Customer: *menyebutkan salah satu merk ponsel*

Officer: *memandu cara setting bluetooth secara step by step dengan sabar*

Customer: sudah, Mas… itu sudah saya lakukan tetap nggak bisa nyambung sama temen saya. Ini yang bermasalah HP atau gimana, sih?! *mulai jengkel*

Officer: Mohon maaf Pak, bluetooth itu fasilitas handphone, Pak. Jadi misalnya setelah diaktifkan bluetooth-nya tidak bisa berfungsi, bisa jadi fasilitas bluetooth-nya mengalami kerusakan, jadi nanti Bapak bisa langsung ke dealer HP…

Customer: Mas, handphone saya ini baru! Masa baru beli kok sudah rusak! Lagian saya butuhnya sekarang kok malah disuruh ke dealer HP. Mas ini bisa melayani nggak, sih? *mulai panas*

Adegan eyel-eyelan pun dimulai, Sodara. Officer yang merasa sudah menjelaskan langkah demi langkah sesuai dengan panduan standar dan bahkan sampai memegang sendiri HP yang setipe dengan yang digunakan oleh penelepon (maksudnya praktik langsung), lama-lama merasa tersudutkan, karena dianggap kurang bisa memberikan penjelasan dengan maksimal, padahal bluetooth HP yang diaktifkannya bisa berfungsi normal.

Akhirnya, percakapan yang durasinya hampir setengah jam itu pun berjalan mulai ‘panas’, Kak.

Officer: baik, posisi Bapak sekarang ada di mana?

Customer: saya ini di Bandung, Mas… *mulai sebal*

Officer: lalu saat teman Bapak ada di mana? di sebelah Bapak? *mulai kesel juga*

Customer: enggak… dianya lagi ada di Semarang. Gini lho, Mas… kita itu mau pakai bluetooth untuk transfer data, maksudnya biar nggak pakai pulsa gitu lho, Mas. Duh, masa gitu aja Masnya nggak bisa paham, sih?! 😐

Officer: Hmmpppttt …. *diam-diam menangis darah sambil garuk lantai* :((

 

Well…, I feel you, Kak… 😐 *puk-puk officer-nya*

—————–


* HIDUP LAGI?

Officer : Selamat Pagi. Dengan Ibu siapa saya bicara?

Customer : dengan Ibu Alda Risma..

Officer : ada yang bisa dibantu, Bu Alda?

Customer : Mbak, mau minta Nada Sambung Pribadi..

Officer : silakan, mau NSP dengan judul apa?

Customer : dari album saya sendiri, Aku Tak Biasa

Officer : mohon ditunggu sebentar *mengecek*. Mohon maaf tidak ada, Bu..

Customer : kalau Jangan Kau Sesali?

Officer : mohon maaf juga masih belum tersedia..

Customer menyebutkan beberapa lagu Alda Risma yang lain, tapi sayang memang kode NSP-nya waktu itu tidak ada satu pun yang tersedia. Sampai akhirnya dia saking jengkelnya bilang :

Customer : bener-bener keterlaluan ya kalian.. Masa mulai saya hidup sampai saya mati lagu saya nggak ada satupun yang kalian jadikan NSP? Terlalu!  😐

Percakapan ini terjadi selang seminggu setelah artis Alda Risma meninggal dunia. Jelas yang menelepon bukan Alm. Alda-lah, karena nomor yang digunakan dari area Makassar. Kata officer-nya pada saya : “untung ya Mbak dia nelponnya siang-siang. Coba kalau malam, callmaster pasti udah aku tinggal kali nih, Mbak…”

Jadi begitulah, namanya layanan bebas pulsa, yang menelpon pun karakter dan motivasinya pun beragam. Berhubung call centre Surabaya melayani Indonesia bagian Timur maka panggilan yang masuk dari area Jawa Timur, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, Sulawesi, dan Papua. Kalau diingat-ingat kadang ya ngenes tapi sekaligus lucu. Berhubung ketika saya masuk dulu teknologi telepon seluler belum se-booming sekarang jadi kalau masih banyak pelanggan gaptek ya wajar. Namanya saja teknologi baru, pasti banyak yang belum familiar. Seperti kisah seorang teman yang sedang melayani pelanggan berikut ini :

Customer : Mbak, gimana sih caranya menghapus kontak di henpon saya. Saya ndak tau caranya? *dengan logat Madura yang kental*

Teman : Bapak menggunakan handphone apa?

Customer : Nokia, Mbak..

Teman : nanti Bapak silakan masuk ke menu kontak, disana Bapak tekan tombol sebelah kiri, ada pilihan delete atau hapus, Bapak tekan delete di nomor yang ingin dihapus ya, Pak..

Customer : HEH! Mbak ini kalau ngomong yang sopan ya! Saya itu cuma mau nanya cara menghapus kontak. Kenapa situ kok ngomong nggak sopan sama saya, pake ngomong SIL*T-SIL*T. Kalau nggak mau melayani, bilang Mbak, nggak usah ngatain saya yang kaya gitu!!  X(

Teman : *bengong dengan khusyuk*  Lho? :-o.  Eh, halo, Pak.. saya ulang proses melakukan penghapusan kontaknya ya.. *menjelaskan ulang*. Nah, nanti kalau ada tulisan DE-LE-TE, Bapak tekan itu ya.. ~X(

Customer : nah, gituu.. kan enak ngomongnya… 😐

Eh, silakan lho kalau mau nyakar-nyakar tembok… ;))

Jadi, siapa yang berminat jadi callcentre officer? 😉

 

 

[devieriana]

 

Continue Reading

Tulisanku, pikiranku, emosiku..

Kemarin siang saya ngobrol dengan seorang mantan seorang pekerja televisi yang sekarang jadi PNS seperti saya ;)). Kami ngobrol tentang banyak hal, termasuk hal yang kemarin sempat jadi “hot issue”, insiden dibalik taping Kick Andy tanggal 19 Januari 2011.

Sepintas kalau membaca cerita insiden dibalik taping acara Kick Andy itu reaksi saya sebagai orang awam pasti ikut terpancing emosi, dan turut berempati dengan apa yang sudah terjadi dengan ibu itu. Sempat sedikit terpengaruh juga untuk menyebarluaskan link itu di twitter atau akun jejaring sosial lainnya yang saya punya, biasalah emosi ;)). Tapi entah kenapa saya mendadak urungkan niat karena saya ingat bahwa tulisan ini baru mewakili salah satu pihak saja, belum ada klarifikasi balik dari pihak Kick Andy selaku pihak yang diprotes.

Akhirnya ya sudahlah, saya endapkan masalah itu sampai akhirnya saya baca klarifikasi dari Andy F. Noya dan akhirnya nggak sengaja mengobrol dengan si teman yang tadi. Mumpung ketemu sama mantan orang yang pernah kerja di balik layar nih (walaupun bukan dari stasiun televisi yang sama dengan Kick Andy) saya tanya-tanya tentang apa yang membuat saya penasaran, dan alhamdulillah dia dengan senang hati mau menjelaskannya. Itung-itung nambah ilmu, ya kan? 😉 \:D/

Saya : eh, kamu kan pernah lama kerja di dunia penyiaran nih, sekarang kamu juga kerja di bidang yang masih ada hubungannya dengan pers dan media, gimana kamu menyikapi “insiden” itu?

Teman : masalah ini sebenernya agak complicated sih, Mbak. Banyak poin yang bisa dibahas disini.. :-B

Saya : hehe, iya mereka sepertinya berbicara dari 2 persepsi dan perspektif yang berbeda.. 😀 . Kalau menurutmu gimana?

Teman : gini, sebelumnya kita harus tahu kenapa sebuah program itu dibuat LIVE atau TAPING. Biasanya kalo TAPING ada beberapa alasan, misalnya : biar hemat, biar bisa diulang, biar bisa diedit, dsb

Saya : Oh, ok, terus?

Teman : nah yang aku baca dari klarifikasinya Andy F. Noya kenapa Kick Andy pakai sistem taping salah satunya adalah bertujuan untuk “menutupi” statement-statement yang tidak perlu diuraikan ke ranah publik. Biasanya sebelum acara taping, penonton yang ikut acara itu perlu di-briefing terlebih dahulu. Kalau sudah di briefing tapi sewaktu acara berlangsung ternyata ada pihak yang komplain begini-begitu bisa jadi ada poin yang missed entah itu di pihak penontonnya atau di pihak Kick Andy-nya. Nah, penjelasan Andy F. Noya di poin 6, 10, dan 14 sebenarnya itu adalah fungsi editing. Jadi ketika acara itu sifatnya adalah taping, jangan pernah berpikir kalau apa yang kita saksikan di studio semuanya akan ditayangkan.

Saya : ok, jadi pasti ada pemangkasan disana-sini ya. Trus, yang dikatakan disitu Andy F. Noya mengeluarkan jokes yang sangat tidak pantas, itu gimana?

Teman : mmh, nggak semua orang yang diwawancara akan dengan mudahnya merasa nyaman dengan situasi yang asing, Mbak. Bayangkan ya, kamu sebagai orang yang awam harus memberikan statement tentang sesuatu, di dalam studio, didepan kamera dan sorotan lampu, ditonton penonton sekian ratus orang, apalagi bicaranya di depan praktisi. Pastilah ada “jipernya” . Menurut aku, jokes yang dilontarkan Andy F. Noya itu bermaksud untuk membuat si narasumber merasa nyaman. Karena gini Mbak, nggak mudah membuat orang nyaman menceritakan pengalamannya, kecuali pengalaman yang menyenangkan. Jadi ada kalanya untuk mendapatkan jawaban yang dinginkan seorang host harus muter-muter dulu.. 😉

Saya : jadi menurut kamu semua itu sudah sesuai prosedur? Masih dalam koridor, gitu?

Teman : iya, jangankan untuk acara talkshow seserius Kick Andy ya, aku aja yang dulu menangani program musik, misalnya aku pengen jawaban A dari si artis, host-ku bisa muter-muter dulu Jakarta-Bandung-Surabaya-Klaten untuk mendapatkan jawaban yang aku mau..

Saya : hahahaha, serius? 😮 :))

Teman : iya, jadi sebenernya sih jawaban itu kita sudah tahu, karena sebelum acara pasti kan kita sudah melakukan survey, ada wawancara juga..

Saya : tapi kalian ingin statement itu meluncur langsung dari mulut si narsum ya?

Teman : betul, karena gini, Mbak.. nggak mungkin seorang narasumber itu kita naikkan tanpa kita tahu siapa dia. Jadi pastinya kita sudah melakukan wawancara dan riset sebelumnya. Nah, apa yang sudah kita dapatkan sewaktu riset itu yang harus kita keluarkan saat on air. Caranya gimana? Ya pastinya nggak mungkin kita langsung dapet statement seperti yang kita mau khan? Jadi ya pasti muter-muter dulu.

Saya : oh gitu, terus menurut kamu Kick Andy-nya salah atau nggak sih dalam hal ini?

Teman : aku ngomong ini bukan karena aku membela salah satu pihak ya, Mbak. Tapi menurutku core-nya Kick Andy sudah benar, menjaga rahasia narasumber ya salah satunya dengan TAPING. Ingat, jangan menelan bulat-bulat apa yang direkam pada saat taping. Apa yang “hot” atau kontroversial waktu itu bisa jadi justru yang diturunkan (tidak disiarkan) on air. Gitu, Mbak.. Nah, Bu Tatty sepertinya belum memahami konsep ini, inti acaranya seperti apa, proses dan alurnya  bagaimana, jadinya akan seperti apa, dll. Beliau berpikir bahwa Bu Elly Risman akan tampil full-program, padahal enggak, beliau hanya sebagai narasumber yang akan mengomentari aja. Kita sih sudah hafal kok sama tipikal yang begitu-begitu. Kru TV sih biasanya nelen ludah doang bisanya ;))

Saya : halah, kasian banget sih ;))

Teman : apalagi kalo misalnya di poin 13 disebutkan bahwa Bu Elly dan tim Kick Andy sudah ketemuan, berarti Bu Elly bukan hanya datang pada saat acara, dan bisa jadi Bu Elly juga ikut bikin rundown, jadi penasehat, dll. Waktu aku jadi creative dulu, kalo ada profesional yang ikut dari awal pasti kita ajak untuk membahas tiap-tiap  segmennya, isinya bakal gimana, dll. Gitu , Mbaaak.. 🙂

Saya : ya ya ya..

Teman : ada satu yang patut disayangkan di tulisan Bu Tatty. Beliau menyebutkan bahwa “si remaja  pernah “dipakai” oleh anggota DPR dan BIN”. Hati-hati dengan statement seperti itu, karena yang mengeluarkan isu itu kan beliau duluan, programnya sendiri bahkan belum tayang. Disini aku melihat, beliau belum memahami fungsi editing. Seperti yang aku bilang tadi, tidak semua apa yang terjadi selama siaran taping layak dan pasti akan ditayangkan juga secara on air.. 😉

Saya : mungkin ibu itu terlanjur emosi kali ya? 😕

Teman : ngerti sih, kalau aku sih gini Mbak, pada saat aku marah memang aku akan tuliskan itu ya, kayanya puas banget tuh ya kalau sudah berhasil nulis uneg-uneg ya, tapi aku memilih untuk menuliskannya di draft, bukan lalu aku tulis di blog aku klik publish. Karena ya namanya nulis di media yang bisa dengan mudah diakses umum kita juga harus hati-hati sih Mbak.. Takutnya apa yang kita tulis secara emosional itu justru kitanya yang salah paham 😀

Saya : iya sih, takutnya udah salah paham, nyebar kemana-mana pula.. Mmmh, sama sih aku juga gitu, kalau pas emosi nulisnya cukup di notepad. Kalau pas lagi normal dan aku baca lagi pasti nyengir aja ;))

Teman : pendekatan ke remaja sekarang sama jaman dulu itu beda. Jaman sekarang nggak bisa kita langsung teriak “SAY NO TO FREE SEX!”. Mana ada remaja yang mau denger, yang ada pada kabur kali. Makanya acara penyuluhan-penyuluhan kaya gitu kita selipkan lewat acara musik, lomba, dll. Pendekatan ke anak sekarang nggak bisa pakai tombak dan tembak. Gitu sih menurut aku, Mbak 🙂

Jadi begitulah, obrolan saya dengan si teman itu. Diluar apa yang terjadi antara Bu Tatty Elmir dengan Andy F. Noya saya merasa ada ilmu yang sudah saya peroleh dari obrolan santai siang itu. Bukan hanya dari teman saya, tapi juga dari beliau berdua.

Tidak mudah memang mengolah emosi. Ada banyak cara untuk menyalurkannya, termasuk salah satunya dengan jalan menulis sebagai terapi untuk penyaluran emosi. Soal media yang akan digunakan untuk curhat pun bisa macam-macam. Mau curhat secara tertutup di diary, atau curhat terbuka di media online, semuanya boleh dan sah-sah saja. Bedanya dengan curhat di diary, curhat di media online efeknya akan bisa dirasakan secara langsung oleh yang membuat curhat, karena yang bersangkutan akan langsung mendapat respon dan reaksi yang beragam dari yang mengakses catatannya. Apalagi ketika curhatan itu berhubungan dengan nama yang sudah dikenal banyak orang. Tapi yang jelas pasti ada sisi positif dan negatif dengan kita menuliskan “curhat” atau keluhan di media online.

Catatan ini dibuat untuk introspeksi pribadi dan berbagi sedikit pengetahuan yang mungkin bagi sebagian besar kita belum banyak yang tahu.

Note to self :
1. Jangan reaktif ketika membaca sebuah berita atau statement yang mengandung sifat kontroversial.
2. Jangan mudah terpancing emosi ketika mendengar berita yang baru didengar dari satu sisi saja, usahakan mendengar dari dua sisi agar jika sewaktu-waktu pendapat kita dibutuhkan, kita bisa memberikan opini yang objektif.
3. Jangan mengikuti/mendengarkan suatu berita secara sepotong-sepotong, karena akan menimbulkan persepsi yang berbeda. Dengarkanlah secara utuh.

Begitulah.. 😀

[devieriana]

ilustrasi pinjam dari sini

Continue Reading

A Reason, A Season or A Lifetime

Salah satu project menulis di awal tahun 2011 yang menurut saya cukup unik dan spektakuler adalah menulis surat untuk mantan yang nantinya akan dibukukan via @nulisbuku yang deadline-nya adalah kemarin tanggal 8 Januari 2011. Project unik ini berawal dari idenya Naluri yang berniat untuk membukukan kumpulan surat untuk mantan. Dia mengundang para penulis yang berminat untuk berbagi cerita menjadi sebuah buku. Bagi penulis perempuan bisa menulis dengan tema Surat Terakhir Untuk Penghuni Mars (STUPM), sedangkan para lelaki bisa menulis dengan tema Surat Terakhir Untuk Penghuni Venus (STUPV).

Jujur awalnya saya antusias untuk ikut project ini. Mengingat ada penggalan cerita mirip sinetron yang pernah terjadi dalam hidup saya  dan sepertinya saya akan dengan mudah menuangkannya lagi dalam bentuk prosa. Tapi entah kenapa, seiring dengan waktu, ide menulis dengan tema tersebut maju mundur, seolah berkompromi dengan mood yang naik turun. Bingung, antara ingin membagikannya dalam bentuk tulisan yang bisa dibaca secara bebas oleh orang lain, atau biar saya simpan saja sendiri. Setelah melalui pergulatan batin yang panjang (halaah..) akhirnya saya putuskan untuk membatalkan keikutsertaan saya dalam project itu karena sepertinya memang tidak ada lagi yang perlu saya sampaikan pada si beliau 😐

Di twitter sempat saya baca ada beberapa tweet dari peserta project STUPM dan STUPV yang di RT oleh @nulisbuku ; rata-rata mereka sampai nangis-nangis nulisnya. Mungkin juga karena efek emosional. Mereka “terpaksa” harus mengulik kisah lama yang (bisa saja) menyakitkan, yang sebenarnya tidak untuk diingat-ingat lagi, tapi demi project buku ini mereka mau untuk menuliskannya ulang dengan risiko ‘menangis darah’.

Tak ada yang salah dengan project unik ini, animo pesertanya juga terlihat sangat tinggi. Sepertinya seluruh kontributor sukses menulis dengan hati. Iyalah, wong pengalaman pribadi. Tapi buat saya ya sudahlah, yang sudah ya sudah. Saya merasa sudah tidak ada ‘hutang’ yang belum terselesaikan dengan siapapun. Apa yang sudah terjadi di masa lalu biarlah tersimpan rapi dalam kotak tersendiri.Itu kalau saya lho, ya… 😉

Beberapa hubungan di masa lalu tidak saya lewati secara mulus. Ada saat di mana kami sudah terantuk di depan jalan buntu, sehingga kami harus membuat keputusan apakah harus bertahan atau kami cukupkan sampai di situ saja. Buat yang sudah pernah mengalami patah hati sih pasti beratlah. Tapi syukurlah akhirnya kami bisa mengakhirinya secara baik, dan bahkan hubungan kami saat ini jauh lebih baik jika dibandingkan ketika masih jadi pacar ;)). Saya tidak ingin berusaha memaksakan sebuah hubungan yang kualitasnya sudah tidak lagi sehat. Jika memang komunikasi sudah terbentur dari berbagai sisi; semua cara untuk bertahan sudah dicoba; dan ketika masing-masing ternyata sudah tidak lagi nyaman melanjutkan hubungan, ya lantas untuk apa saling ngotot untuk mempertahankannya? Capek hati, capek pikiran, capek tenaga. Kalau toh memang akhirnya harus berpisah ya kenapa tidak? Karena siapa tahu justru setelah berpisah kita akan bertemu dengan sosok yang lebih baik, kan?

Walaupun sering kali keputusan yang sudah melalui pemikiran yang sangat matang sekalipun tidak selalu bisa memuaskan semua pihak; belum lagi harus berhadapan dengan rasa sakit dan kecewa lantaran kita harus berhadapan dengan akhir yang tidak sesuai dengan harapan di awal mula hubungan. Tapi ya itulah yang namanya hidup. Kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi semenit dua menit ke depan; apa yang akan terjadi esok hari; pun menebak dengan siapa kita berjodoh, karena nyatanya sering kali kenyataan berlari terlalu jauh dari harapan.

Beberapa waktu yang lalu saya mendapatkan email yang isinya cukup bagus, dan membuat saya merenung sendiri. Kurang lebih isinya begini :

When someone is in your life for a REASON, it is usually to meet a need you have expressed. They have come to assist you through a difficulty, to provide you with guidance and support, to aid you physically, emotionally or spiritually. They may seem like a godsend and they are. They are there for the reason you need them to be.

Some people come into your life for a SEASON, because your turn has come to share, grow or learn. They bring you an experience of peace or make you laugh. They may teach you something you have never done. They usually give you an unbelievable amount of joy. Believe it, it is real. But only for a season.

LIFETIME relationships teach you lifetime lessons, things you must build upon in order to have a solid emotional foundation. Your job is to accept the lesson, love the person and put what you have learned to use in all other relationships and areas of your life.

Ah, jadi ingat sama salah satu nasihat Papa saya. Ada kata-kata yang nancep banget sampai sekarang, saya menyebutnya dengan analogi kaca mobil. Nasihat itu diberikan ketika saya masih jadi ababil (ABG labil); lagi sedih menye-menye habis putus sama pacar :p :

“Pernah merhatiin nggak kenapa kaca depan mobil dibuat lebih besar daripada kaca spion? Itu karena ada banyak hal yang jauh lebih besar yang harus kamu lihat, dan harus kamu hadapi di depan sana. Lalu kenapa kaca spion ukurannya dibuat jauh lebih kecil dari pada kaca depan? Karena kadang kita perlu sesekali melihat ke masa lalu, tapi ingat, hanya sebatas untuk introspeksi dan belajar dari kesalahan yang telah diperbuat agar tidak terulang lagi di masa yang akan datang… Chin up! ;)”

So, …

Thank you for being a part of my life, whether you were here for a reason, a season or a lifetime..

[devieriana]

gambar pinjam dari Corbis Images

Continue Reading

Power Balance : The Placebo Effect!

Kemarin ketika teman-teman di twitter ramai membicarakan “khasiat” gelang Power Balance yang tak lagi “berkhasiat” itu, mendadak saya jadi ingat dengan salah satu sahabat saya yang juga menggunakan gelang “ajaib”  itu. Paginya saya segera mem-BBM untuk menanyakan apakah dia sudah mengetahui berita terbaru tentang Power Balance itu. Balasannya, dia memang sudah melepas gelang itu sejak kemarin dan tak lagi menggunakannya. Saya tersenyum :).

Teman saya yang lain juga menggunakan gelang yang sama dengan sahabat saya yang tadi. Beberapa kali dia menceritakan keistimewaan gelang keseimbangan itu beserta khasiat-khasiat yang bikin dia jadi lebih produktif, segar, jarang sakit, berhenti jadi makhluk nocturnal, dll. Tak lupa disebutkan pula tempat belinya disebuah international shopping mall di bilangan Sudirman Central Business District, dan harganya yang membuat saya ternganga :-o. Sempat mikir, apa iya gelang karet itu sedemikian super powernya hingga layak diberikan harga segitu? Toh hanya sebentuk gelang karet yang melingkar di pergelangan dengan stiker hologram ditengahnya saja kan? Kalau iya harganya segitu amat, mending saya beliin gelang emas beneran deh, ya nambah-nambah duit sekian ribu deh. Masa iya sih seistimewanya itu? 😕

Yang lucu, tetangga sebelah rumah juga bilang kalau sejak pakai power balance dia jadi lebih semangat di sekolah, and the bla-bla-bla :-@. Nggak diceritain juga sih apakah sejak pakai gelang itu kalau ulangan sudah nggak nyontek lagi atau masih tetep.. ;)). Buat saya jelas kurang masuk akal, karena iya kalau gelang itu dibeli dengan harga seperti yang teman saya beli itu, sekitar Rp 350.000,-. Lha ini cuma 10%-nya sodara-sodara, harganya Rp 35.000,-. Lha ya mending dipakai buat beli vitamin C dibandingkan beli gelang karet yang katanya bisa bikin seimbang itu. Seimbang dimananya sih? Kalau untuk menyeimbangkan kondisi keuangan iya deh saya mau beli ;))

Ternyata, kecurigaan saya tentang gelang Power Balance itu terjawab sudah. Melalui situs resmi Power Balance mereka mengatakan :

In our advertising we stated that Power Balance wristbands improved your strength, balance and flexibility.

We admit that there is no credible scientific evidence that supports our claims and therefore we engaged in misleading conduct in breach of s52 of the Trade Practices Act 1974.

If you feel you have been misled by our promotions, we wish to unreservedly apologise and offer a full refund.

To obtain a refund please visit our website www.powerbalance.com.au or contact us toll-free on 1800 733 436

This offer will be available until 30th June 2011. To be eligible for a refund, together with return postage, you will need to return a genuine Power Balance product along with proof of purchase (including credit card records, store barcodes and receipts) from an authorised reseller in Australia.

This Corrective Notice has been paid for by Power Balance Australia Pty Ltd. and placed pursuant to an undertaking to the Australian Competition and Consumer Commission given under section 87B of the Trade Practices Act, 1974.

Gelang Power Balance itu ibarat benda yang memiliki placebo effect. Cara “bekerjanya” adalah melalui sugesti. Padahal mungkin barang aslinya tidak mengandung khasiat apapun. Kalau pun toh akhirnya (diklaim) telah terjadi perubahan pada penggunanya itu semua tak lebih karena sugesti diri sendiri.

Sugesti memiliki kekuatan yang luar biasa dan nyaris tak terbayangkan. Kekuatan sugesti bisa menggerakkan seseorang bahkan lebih untuk melakukan suatu hal yang kadang sulit di nalar. Tentu kita masih ingat kasus Ponari si Dukun Cilik itu kan? Dilihat secara medis pun pengobatan ala Ponari ini sudah sangat tidak masuk di akal. Bagaimana mungkin hanya dengan mencelupkan sebuah batu ke dalam segelas air bisa mempunyai kekuatan menyembuhkan segala macam penyakit bahkan untuk penyakit yang sudah tak tersembuhkan oleh dokter manapun? 😕

Saya pernah baca kalau sugesti itu ada hubungannya dengan hipnosis/hipnoterapi yang analoginya seperti menginstal program pikiran tertentu ke dalam hard disk pikiran seseorang. Kalau kita menyerap dan meyakini suatu hal itu akan terjadi, maka hal itu akan terjadi persis seperti apa yang kita pikirkan. Kurang lebih seperti itulah.

Belajar dari kasus Power Balance ini, lain kali kalau ada produk tertentu yang menjual khasiat ini itu jangan buru-buru percaya juga kali ya. Namanya juga jualan, pasti ada profit oriented didalamnya. Sebagai konsumen kitalah yang harus jeli, jangan sampai tertipu hanya karena harga barangnya mahal atau karena mengikuti trend banyak yang pakai. Karena barang mahal juga belum tentu punya khasiat yang semahal harganya.

Nah bagi yang sudah terlanjur beli gelang Power Balance, dipakai lagi gelangnya. Gapapa, buat fashion aja, sayang kan udah beli mahal-mahal..  :p

Kalau ditanya : “kamu masih pakai gelang Power Balance?”. Jawab aja : “Siapa bilang? Ini gelang Power Ranger kok..” :-”

[devieriana]

gambar dipinjam dari sini

Continue Reading