Setengah Windu

Sebenarnya postingan istimewa ini terlambat satu hari. Ya, seharusnya postingan ini saya buat kemarin, tepat di hari ulang tahun pernikahan saya yang ke-4 :D. Tapi apa daya, kemarin adalah hari yang sibuk untuk saya. Mulai jam 08.00 – 11.00 harus sudah stand by untuk mempersiapkan sekaligus bertugas sebagai MC pada acara pelantikan pejabat eselon II dan IV di lingkungan Sekretariat Wakil Presiden (berdiri kelamaan itu pegel :-s). Sesampainya di kantor berkas sudah menggunung untuk menunggu penanganan. Sore/malamnya pun jadwal lain sudah menunggu. Meeting bersama @IDceritaJKT di Anomali Coffee sekaligus penyerahan hadiah yang kemarin \:D/. Pffiuh.. Sedikit capek sih, tapi menyenangkan.. 🙂

Seperti tahun-tahun sebelumnya, sms ucapan pertama datang dari Mama mewakili Papa dan adik-adik. Ucapannya walaupun nyaris sama dengan tahun-tahun sebelumnya tapi selalu bisa bikin saya mewek terharu. Biasalah, saya kan emang orangnya gampang terharu :D.

Di usia pernikahan saya yang telah memasuki setengah windu ini saya melihat ada banyak perubahan nyata dalam diri saya maupun Hubby. Semoga sih mengarah ke yang lebih baik ya. Tapi kami masih terus saling belajar memahami diri masing-masing.

Memang benar apa yang orang sering katakan. Tuhan bekerja dengan cara dan bahasa yang misterius. Kadang apa yang kita inginkan belum tentu itu yang akan diberikan. Tapi Dia selalu tepat ketika memberikan apa yang sesungguhnya kita butuhkan. Nah, apakah itu juga terjadi pada saya? Sepertinya iya..

Kalau diperhatikan, saya dan Hubby sekarang lebih saling melengkapi. Tuhan memberikan keseimbangan buat kami, diantaranya :

1. Si Hubby aslinya pendiam dan serius. Nah (seharusnya) dia merasa beruntung mendapatkan saya yang suka becanda, konyol dan yang senang menularkan hal-hal absurd, ya :p. Terbukti dia sekarang sudah tidak sependiam dan seserius dulu lagi. Sekarang dia tumbuh menjadi hubby yang lucu dan tertular absurd \m/. Dulu nih ya, kalau dia lagi berdiri/duduk dekat tembok, tembok aja sampai minder karena kalah diem sama dia. Nah sekarang tembok sudah boleh berlega hati karena saingannya sudah berkurang satu ;)). Ah ya, semoga Hubby nggak baca postingan ini.. *ngaduk semen*

2. Buat saya yang buta jalan peta dan tukang nyasar merasa beruntung mendapatkan dia yang mirip peta. Bukan, bukan mukanya! Tapi pengetahuan dan ingatannya tentang jalanan. Kalau mukanya yang kaya peta, berasa saya menikahi buku atlas dong. Nah, gara-gara saya bego banget soal jalanan dia nggak pernah bosen buat menginstalkan google maps di setiap handphone saya. Hasilnya? Saya sudah jarang nyasar dong.. \:D/. “Jarang” itu dalam artian sesekali masih nyasar ya.. ;))

3. Hubby orangnya sangat well organized, ketika akan membuat keputusan atau sedang merencanakan sesuatu benar-benar disusun secara hati-hati dan penuh perhitungan. Sementara saya orangnya agak-agak slonong boy, on the spot aja gitu. Jadi untuk hal ini saya merasa beruntung karena bisa belajar keteraturan dari dia. Contohnya saja rencana mudik lebaran ke Surabaya. Saya cenderung mikir cari tiket nantilah sebulan atau dua bulan sebelum hari raya. Kalau dia, sudah direncanakan sejak awal tahun. Dia juga sudah tahu kapan dia akan mulai mengambil cuti, berapa biaya yang kira-kira akan kita butuhkan, dll. Saya? Eerrr.. Boro-boro 😐 *milin-milin karpet*

4. Hubby termasuk orang yang telaten. Sementara saya adalah kebalikannya. Dia cenderung menikmati alur sebuah proses. Sementara saya orangnya suka gradak-gruduk. Maunya serba instant, serba cepat, nggak pakai lama. Tapi makin kesini saya melihat ternyata ketelatenan dia justru yang ada hasil konkretnya. Sepertinya saya harus banyak belajar sabar dan telaten sama dia 😀 Hubby termasuk juga yang sabar menunggu saya ketika saya sedang ada kegiatan di luar, misal meeting dengan komunitas saya. Dia juga mau mengantar dan menjemput bahkan pernah dia pulang kantor dan langsung menjemput saya trus menunggu di mobil sampai ketiduran, hihihi.. >:D<.

Sebenarnya sih ada beberapa hal lainnya yang ternyata saling menyeimbangkan diantara kami. Memang pernikahan kami baru seumur jagung. Masih banyak hal yang perlu kami benahi. Ada banyak rencana dan mimpi yang sedang berusaha kami wujudkan satu persatu. Semoga ada jalan terbuka yang mengarah kesana. Aamiin..

 

Dear Hubito, thanks for all experiences we did (happy and sad). Thanks for your acceptance and support on my undertakings. Thanks for the shoulder to cry on defeats. Thanks for filling my shortcomings. Thanks for the cheer on triumph and success. Last but not least, thanks for growing and learning each day with me.

 

 

I love you.. :-*

 

[devieriana]

 

ilustrasi : disini dan koleksi pribadi

Continue Reading

#indonesiajujur : Tip of An Iceberg

A lie may take care of the present, but it has no future ~ Unknown

—–

“Dek, kamu nggak belajar? Kan besok ujian..”
“Tenang aja, Pa… Aku udah tahu jawabannya, kok..”
“Maksudnya kamu sudah dikasih kisi-kisi soal sama gurumu?
“Bukan kisi-kisi, Pa.. Tapi jawaban. Kita semua udah dikasih tahu jawabannya apa aja, jadi besok tinggal jawab aja…”

Kawan saya bercerita dengan ekspresif tentang jawaban anaknya yang akan menjalani ujian. Mungkin zaman memang sudah berubah, dan perkembangan aktivitas contek menyontek yang klasik itu dalam prosesnya sudah sudah mengalami metamorfosa. Demi sebuah nilai bagus, peringkat/ranking, kredibilitas, dan adanya pengakuan tentang kemampuan diri, akhirnya anak didik dan sekolah pun menghalalkan segala cara untuk meraihnya.

Membahas tentang kasus Ny. Siami yang sedang heboh itu, alih-alih ingin mengungkap praktik kecurangan selama berlangsungnya Ujian Nasional di SDN Gadel II Surabaya nyatanya malah berbuntut panjang. Ny. Siami sekeluarga justru diusir dari lingkungan tempat tinggalnya oleh warga setempat, dituduh tidak punya hati nurani, dan dianggap terlalu membesar-besarkan masalah. Ujung-ujungnya dia yang harus meminta maaf kepada pihak sekolah dan warga karena dianggap telah mencemarkan nama baik sekolah. Ironis, pihak yang seharusnya mendapat dukungan dan pembelaan malah diperlakukan dengan semena-mena dan diintimidasi.

Kemarin, saya mendapatkan kisah yang nyaris sama dari salah satu teman saya yang ternyata juga mengalami kejadian yang hampir sama dengan si Al, bedanya dia tidak sampai mengalami pengusiran seperti Ny. Siami dan keluarga.

“Jaman waktu masih sekolah dulu aku juga pernah ngalamin kejadian kaya gitu, Dev. Aku diminta guruku untuk berbagi jawaban sama temen-temen yang lain. Jujur, aku ngasih contekannya antara ikhlas nggak ikhlas. Tapi mau gimana lagi, lha wong disuruh.. :|”

Sebaliknya ada juga yang dengan sukarela memberikan contekan untuk teman-temannya dengan alasan setia kawan, teman seperjuangan, dan solidaritas. Ada yang terang-terangan, “nih, contek nih..”. Tapi ada juga yang memberikan inti jawabannya saja, kalimat selebihnya silakan dikembangkan sendiri sesuai dengan ‘imajinasi’. Tapi itu hanya bisa dilakukan kalau jawabannya berupa soal dengan essay, lha kalau pelajaran matematika apa yang bisa diimajinasikan? Atau multiple choice misalnya, masa iya jawaban berdasarkan hitungan kancing baju? Jujur, dulu saya juga pernah mencontek kok; menconteknya pas dalam keadaan kepepet. Tapi deg-degannya juga ampun-ampunan. Takut ketahuan guru, takut kalau nilainya bakal dikurangi kalau ketahuan mencontek, dan jauh dalam hati kecil ada rasa bersalah karena sudah berlaku tidak jujur. Akan beda tingkat kepuasannya ketika kita mendapat hasil bagus hasil kerja sendiri dibandingkan dengan hasil mencontek. Mempersiapkan diri dengan belajar sendiri itu jauh lebih menenangkan saya daripada harus bergantung pada  jawaban pada orang lain. Untuk menghindari menyontek, kadang saya lebih memilih menjawab dengan menggunakan feeling, pilih saja jawaban yang masuk akal atau yang lebih mendekati. Atau kalau misalnya jawaban A, B, dan C sudah banyak mungkin ini adalah saat yang tepat untuk melingkari/menghitamkan jawaban D atau E! \m/. Jangan lupa sambil berdoa semoga yang mengoreksi sedang mengantuk atau alat scanner-nya error sehingga meloloskan jawaban yang seharusnya salah menjadi benar! Ngawur kok bangga! ;))

Kasus Ny. Siami yang berusaha membuka kecurangan pihak pengajar di SDN Gadel II Surabaya ini sebenarnya just a small evident part of something that largely hidden. Apa yang sengaja diungkapkan oleh Ny. Siami ini hanyalah sebagian kecil pengungkapan fakta di lapangan yang jauh lebih besar. Semacam tip of an iceberg.

Kemarin saya juga sempat berdiskusi ringan dengan teman saya Wong Iseng. Beliau mengatakan begini :

“Kasus contek-menyontek yang ‘dihalalkan’ ini lebih dari sekadar masalah kejujuran, Dev. Ada semacam ‘kesepakatan’ tidak tertulis yang menyatakan bahwa siswa yang berhasil melewati (baca: mengakali) ujian suatu mata pelajaran sama dengan berhasilnya siswa itu menguasai mata pelajaran tersebut. Makanya ada yang namanya SKS (Sistem Kebut Semalam), contek menyontek, dan pendidikan  yang tanpa hasil karena intinya hanya bagaimana mengakali ujian tanpa mengerti apa yang diajarkan…”

Ada semacam paradigma yang berkembang di Indonesia, lulus/tidaknya siswa dalam ujian nasional itu sama seperti seorang yang akan menghadapi vonis kematian. Tampak begitu menyeramkan bukan hanya bagi siswa tapi juga bagi sekolah. Karena jika pada kenyataannya ada banyak siswa yang tidak lulus ujian nasional, maka akan menyebabkan jatuhnya peringkat dan kredibilitas sekolah di mata masyarakat. Semakin tinggi nilai yang diraih siswa dan besarnya prosentase kelulusan siswa, akan menjadi salah satu parameter keberhasilan guru dalam mendidik siswanya. Nah, adanya tuntutan untuk mengusahakan agar siswa bisa lulus semua inilah yang menyebabkan siswa dan sekolah ‘menghalalkan’ segala macam cara untuk menghadapi Ujian Nasional.

Seperti halnya make up yang berfungsi untuk memperindah dan mengoreksi wajah, sekolah yang sebenarnya tidak sanggup mendidik anak untuk  mampu menjawab UAN ikut memakai make up. Anak didik bisa lulus dengan nilai bagus tapi dari hasil menyontek, sehingga hasil pendidikan yang bisa dibawa anak setelah lulus tetap  tidak terpecahkan, karena orientasinya masih berkutat pada kisaran angka (baca: nilai yang bagus). Jadi, selama root cause-nya tetap sama,  selamanya akan tetap ada usaha untuk mengakali ujian demi nilai bagus dan terbentuknya citra pendidikan yang berhasil. Walaupun mungkin pada kenyataannya tidak demikian.  

Memang tidak semua yang ikut ujian nasional itu lulus karena mencontek. Masih banyak siswa yang lulus dengan nilai memuaskan dari hasil usaha sendiri. Tapi belajar dari kasus Ny. Siami kemarin akhirnya membuka mata kita lebar-lebar, pun menyadarkan kita bahwa kejujuran di Indonesia ternyata baru sebatas wacana. Kita masih harus belajar banyak untuk menghargai arti kejujuran yang terlanjur disikapi secara salah kaprah.

Kembali lagi ke hati nurani sih kalau menurut saya. Bagaimana menurut Anda?
🙂

 

[devieriana]

 

ilustrasi dari sini

Continue Reading

Service Excellent (2)

Disclaimer : tulisan ini dibuat bukan bermaksud untuk membandingkan brand taksi yang satu dengan lainnya. Hanya sekedar berbagi pengalaman yang berkesan dengan seorang sopir taksi yang attitude-nya lain daripada yang lain.

—–

Dulu, sejak saya masih di Surabaya dan masih sering mondar-mandir ke Jakarta, saya sering menggunakan jasa layanan taksi berlambang burung biru terutama guna mengantarkan saya ke bandara pagi-pagi buta untuk mengejar first flight. Di beberapa kota besar selain Jakarta sepertinya citra perusahaan transportasi tersebut masih terbilang positif dan bahkan menjadi favorit semua orang. Tak terkecuali saya pada waktu itu.

Namun sejak berdomisili di Jakarta, ternyata citra tentang perusahaan transportasi favorit saya itu justru sebaliknya. Di Jakarta, taksi-taksi dengan brand non burung birulah yang jadi favorit penumpang. Alasannya kebanyakan karena sopir taksi burung biru kurang paham dengan jalanan ibu kota. Sebenarnya sih cukup bisa dipahami. Tingkat kesulitan untuk menghafal hampir semua rute jalanan ibu kota lebih besar ketimbang menghafal jalanan di daerah yang relatif lebih kecil. Untuk ukuran kota sebesar Jakarta dengan segenap gang, ceruk, dan lekukan, serta banyaknya nama daerah/jalan yang harus dihafal kurang memungkinkan untuk driver-driver yang kebanyakan masih muda dan mungkin belum pernah berpengalaman menjadi sopir taksi untuk langsung berjibaku di jalan raya. Walaupun semua itu tidak bisa dianggap sebagai pemakluman ya. Karena resiko terjun “berkarir” sebagai seorang sopir taksi ya harus tahu jalan. Kan nggak lucu kalau driver dan penumpangnya sama-sama nggak tahu jalan dan akhirnya nyasar berjamaah.

Nah, beberapa waktu yang lalu kebetulan saya pulang kantor naik taksi. Berhubung sudah lama berdiri di pinggir jalan dan taksi yang saya tunggu selalu penuh, akhirnya ya sudahlah saya putuskan untuk naik taksi burung biru yang lewat di depan saya. Awalnya sih sama saja, seperti biasa, tidak ada yang istimewa dengan pelayanan driver-nya. Hingga beberapa meter lepas dari kantor driver itu menunjukkan pelayanan yang “lain daripada yang lain”.

Kalau soal menyapa penumpang dan menanyakan arah tujuan sih sudah biasalah ya. Tapi kalau sampai menanyakan apakah AC-nya sudah cukup/kurang dingin buat saya, apakah tempat duduknya sudah cukup nyaman, atau ada beberapa greeting yang tidak biasa saya dengar, sepertinya dia memang berbeda . Kalau naik taksi kan biasanya kalau kita sudah naik ya sudah naik saja, tinggal menyebutkan tujuan kita kemana, ingin lewat mana, sampai di tujuan kita tinggal bayar sesuai dengan argo. Selesai. Tapi ketika kita bukan hanya sekedar diantar tapi juga ditanyakan apakah kita sudah cukup nyaman berada di dalam  taksinya. Itu yang tidak biasa.

Diam-diam di sela kesibukan saya memelototi timeline twitter, saya memperhatikan lagi si Bapak yang saya perkirakan berusia sekitar 40-an itu. Kalau pelayanannya seperti ini jangan-jangan memang perusahaan sedang ingin memperbaiki citra yang kurang bagus di mata konsumen nih. Bagus juga ide perubahannya. Pikir saya. Ah, saya benar-benar seperti seorang mistery shopper deh kalau begini. Itu lho, pihak independen yang bertugas menilai kinerja badan usaha (pihak) tertentu yang salah satunya bertujuan untuk mengukur/mengetahui tingkat kepuasan konsumen. Oh ya, ketika masih aktif di dunia pelayanan dulu saya juga sering bertindak sebagai seorang mistery shopper/caller untuk mengukur seberapa jauh pengetahuan mereka tentang produk, bagaimana cara mereka melayani pelanggan dengan berbagai macam karakter, bagaimana cara penyelesaian mereka ketika menangani kasus tertentu, dll..  *pasang topeng* ;))

Beberapa saat kemudian, menjelang Bundaran Hotel Indonesia, tiba-tiba handphone Si Bapak itu berbunyi nyaring. Lagi-lagi saya dibuat terkesima dengan attitude beliau. Sebelum menerima telepon ternyata dia meminta izin apakah saya berkenan jika dia menerima telepon saat itu. Kalau driver lain mah boro-boro minta izin, kadang nyetir juga ada yang disambi sms-an kok :|.

Driver : mohon maaf Ibu, saya mohon izin menerima telepon, boleh?
Saya : oh, silakan Pak.. *bengong*
Driver : terima kasih..

Tak lama, terdengarlah konversasi antara Bapak itu dengan seseorang di ujung sana :

Driver : selamat sore, Pak.. Iya, bisa dibantu? Saya sekarang sedang mengantar tamu, Pak. Benar sekali. Mohon maaf, bisa kita sambung lagi nanti, Pak? Atau nanti saya yang akan menghubungi Bapak kembali.. Baik, Pak. Terima kasih. Selamat sore..

Wow. Saya seperti mendengar seorang mantan petugas call centre atau customer service officer deh. Saya paham betul diksi dan gaya bahasa yang teratur rapi seperti itu. Kira-kira Si Bapak ini baru ikut training, sengaja berimprovisasi, atau memang pembawaannya seperti itu ya? Satu hal lagi yang membuat saya saya salut adalah beliau membahasakan saya dengan sebutan “tamu”, bukan “penumpang”. Itu yang selama ini jarang saya dengar.

Tidak hanya berhenti disitu saja ternyata. Di akhir perjalanan, mendekati tempat yang saya tuju Bapak itu menyampaikan sebuah greeting penutup :

“Sebentar lagi Ibu akan sampai di tempat, silakan diperiksa kembali barang bawaan Ibu, jangan sampai ada yang tertinggal. Jika selama perjalanan ada tingkah laku kami yang kurang berkenan, kami mohon maaf. Terima kasih telah menggunakan layanan kami, selamat sore. “

Speechless sayanya. Berasa naik pesawat yah ;)). Sebagai orang yang pernah lama menjalani pekerjaan di bidang pelayanan konsumen menjadikan saya jauh lebih peka. Beginilah seharusnya pelayanan sebuah perusahaan transportasi besar, tidak hanya sekedar mempekerjakan driver yang memiliki skill menyetir dan mengantarkan tamu/penumpang dengan selamat sampai tujuan, tapi juga juga membekali mereka dengan soft skills, pengetahuan tentang etika, dan standar pelayanan. Hal yang remeh sih ya, cuma sapaan doang. Tapi itu membuat saya harus memberi acungan jempol untuk pelayanan Bapak itu. Beliau tahu bagaimana cara memberikan service excellent. Pelayanan prima, pelayanan yang melebihi ekspektasi konsumen. Terlepas dari apakah itu hasil training (pendidikan) sebelum mereka diterjunkan ke jalan raya, ataukah memang improvisasi beliau sendiri.

Setelah kejadian itu, saya jadi penasaran untuk naik lagi brand taksi yang sama dengan yang saya naiki waktu itu. Tujuannya hanya satu yaitu untuk membuktikan apakah saya akan mendapatkan perlakuan yang sama dengan waktu saya naik taksi yang kapan hari. Iseng banget yah? :p

Hasilnya? Tidak ada satu pun yang memberikan hal yang sama dengan Bapak itu. Setelah menanyakan tujuan saya kemana, mereka kebanyakan ya lanjut saja. Tidak ada obrolan atau sapaan sekedar menanyakan AC, menanyakan kenyamanan saya, meminta izin ketika akan menerima telepon, atau menyampaikan salam ketika saya akan tiba di tempat tujuan.

Kalau iya itu adalah salah satu cara membentuk/memperbaiki citra perusahaan ya seharusnya semua attitude sopir taksinya sama dong? Lha wong dari satu label perusahaan, kenapa yang satu bisa bagus banget, sedangkan yang lainnya biasa banget? Tapi buktinya tidak begitu. Hanya satu saja yang seperti tadi.

Atau, ini misalnya ya, semua salam itu adalah bagian dari salah satu “aturan khusus” bagi driver senior dengan level tertentu tapi buktinya waktu saya di Bandung dan kebetulan menumpang brand taksi yang sama tapi pelayanannya kok nggak gitu ya? Saya sempat melihat identitas Si Bapak Driver (yang memang santun ini) levelnya sudah Ketua Group, tapi saya tidak melihat ada hal istimewa ketika membawa kami hingga ke tujuan tuh :-?. Saya dan Si Hubby bahkan sempat saling berpandangan ketika Si Bapak ini tetap menerima telepon ketika  Blackberry-nya berdering (tanpa izin-izinan pada kami) , menginformasikan tentang adanya interview calon driver kepada penelepon di ujung sana. Nah lho.. jadi sebenarnya tidak ada bedanya dong apakah dia seorang driver junior atau senior, apakah dia anggota group atau ketua group, kan?

Ah ya, sayang sekali saya tidak mencatat identitas Si Bapak Driver yang sudah memberikan pelayanan sempurna kapan hari. Kalau ada, sepertinya saya harus merekomendasikan Bapak itu agar bisa menjadi panutan bagi rekan kerja lainnya.

Anyway, you did a good job, Sir! :-bd


[devieriana]

 

Continue Reading

Tentang Sebuah Kejutan..

Sebuah percakapan absurd antara saya dan si Hubby, sehari sebelum ulang tahun saya :

Saya : aku mau ulang tahun, Bibo mau ngado aku apa? ;;)
Hubby : ada, tapi nanti kejutan buat kamu adanya pas aku ulang tahun.. :->
Saya : lah, lama amat Desember? Kan ulang tahunku Juni. Trus emang kejutannya apa?
Hubby : kamu beliin aku mobil.. \:D/. Gimana, cukup kejutan nggak? Kejutan dong? ;))
Saya : 😐

Sebenarnya setiap kali ulang tahun saya tidak pernah mempermasalahkan masalah kado. Jangankan di kasih kado, tanggal ulang tahun saya sampai diingat dan diberi ucapan selamat saja rasanya sudah seneng banget kok. Dikasih kado ya alhamdulillah, nggak juga nggak apa-apa, kan yang penting doanya 😉

Tidak selalu ada cerita unik di setiap ulang tahun saya. Tahun lalu saya melewatkan moment ulang tahun di Pusdiklat BPS , bertepatan dengan prosesi prajabatan. Cukup berkesan, karena ulang tahun saya dirayakan oleh teman-teman dari berbagai kementerian yang sudah dengan sok tega nyuekin saya hingga mau tidur :D.

Tahun ini ternyata ceritanya beda lagi. Kebiasaan saya kalau mau tidur selalu meletakkan handphone di sebelah bantal. Bukan apa-apa, biar kedengeran aja alarmnya (walaupun pada prakteknya akan dimatikan dan di setting ulang sebanyak beberapa kali, sesuai dengan kebutuhan ;))). Malam itu Si Hubby baru sampai rumah sekitar pukul 22.00 wib. Saya sempat membantu membawakan beberapa kantong buah kegemaran saya dan camilan ke kamar atas. Setelah membuatkan teh dan menemani ngobrol sebentar, saya dengan mata yang sudah setengah watt itu pun pamit tidur, dengan handphone di sebelah saya seperti biasa tentu saja. Tidak ada hal yang mencurigakan malam itu. Saya juga tidak melihat dia membawa barang lain selain kantong-kantong plastik berisi makanan yang tadi. Kecuali ketika tengah malam saya dengan setengah sadar menyadari kalau handphone saya kok sepertinya tidak ada di samping saya. Tapi berhubung mata mengantuk sekali ya akhirnya tertidur lagi sampai pagi.

Sekitar pukul 05.00 pagi, tiba-tiba handphone saya berbunyi. Dengan mata setengah terpejam saya meraba-raba, mencari handphone yang bunyinya terdengar agak jauh itu. Saya tahu yang menelepon pasti keluarga di Surabaya karena ringtone yang terdengar I’m Waiting For You-nya Dave Koz. Nah, tapi kemana gerangan Gemini saya, kok tidak ada? 😮

Saya pun mencari ke tempat biasa handphone kami di-charge. Namun saya tidak menemukan apa yang saya cari kecuali sebuah Blackberry Torch 9800 baru, berbalut casing warna merah maroon, warna kegemaran saya. Beberapa lama saya hanya bisa bengong, melihat ke arah handphone yang berpendar tulisan “Papa calling” silih berganti ke arah Si Hubby yang masih terlelap. Kemana Gemini saya? Trus, ini handphone siapa? :-s . Akhirnya panggilan Papa saya itu pun terputus tanpa sempat saya angkat lantaran masih takjub.


Sepertinya Si Hubby sengaja ingin bermain drama pagi itu. Karena dia terlihat sedikit “menikmati” kepanikan saya pagi itu. Melihat saya yang kebingungan karena tidak menemukan apa yang saya cari, dengan mata terpejam (pura-pura tidur mungkin) dia berkata ringan :

“Kamu ini, pagi-pagi udah berisik banget sih. Udah, nggak usah nyari Gemini kamu. Kan yang Gemini itu keypad-nya udah sering hang. Huruf “k” dan “l”-nya kan udah nggak bisa. Sini, itu memang handphone kamu yang baru, hadiah dari aku.. Ambil gih. Tadi siapa yang nelpon? Mama ya?”

Oh, jadi itu handphone baru saya? Dengan lebay saya malah nangis karena bingung harus merespon apa, antara terharu, kaget, dan masih belum sepenuhnya “nyambung” karena baru bangun tidur. Saya bawa handphone baru saya itu ke Si Hubby sambil tetap menanyakan,  “Trus, Geminiku manaaa, Bibo? :((

Ternyata, surprise tak berakhir disitu saja. Ketika saya menelepon kembali Si Papa, membalas sms Mama, bahkan ketika bbm-an dengan adik bungsu saya , untuk mengucapkan terimakasih atas ucapan selamat dan doanya sekaligus mengabarkan kalau saya dikasih kado BB baru dari si hubby mereka dengan seragam menjawab, “Iya, udah tau.. Torch kan?”. Lho, kok mereka sudah tahu? :-o. Bahkan adik ipar saya pun juga menjawab hal yang sama. Aneh, kan? Secara, lokasi mereka kan tidak sama. Saya sih curiga, sepertinya ada konspirasi antara Si Hubby dan keluarga saya di Surabaya 😕

Tapi ya sudahlah ya, mau dengan cara apa dan bagaimana mereka memberikan kado itu untuk saya, saya yakin mereka memberinya dari hati. Terutama Si Hubby, yang ternyata diam-diam memperhatikan saya ketika sedang stress mengutak-atik Si Gemini yang mengalami “gegar otak” itu. Karena dia tahu saya orangnya nggak pernah minta duluan kecuali dikasih, itulah kenapa akhirnya dia memilih untuk mengamati saya secara diam-diam dan memberikan kado sesuai dengan apa yang saya butuhkan. Saya juga nggak menyangka akan dikado handphone lho, karena saya pikir toh nanti juga akan dapat handphone dari hasil menang lomba mendongeng kemarin :D. Tapi nggak apa-apa sih, sekarang handphone saya jadi dua! \:D/

Oh ya, sore harinya saya berkesempatan kopdar dadakan dengan Mas Stein yang sedang berlibur di Jakarta bersama keluarganya, dan juga Oom Cah Ndableg yang jago nggambar, yang ternyata obrolannya nyambung sekali dengan suami saya karena sama-sama orang arsitektur, dan sempat saya temui di acara Kopdar Akbar di Taman Langsat kapan hari. Pas mereka ngobrol, saya dan Mas Stein hanya bisa cengengesan berdua karena nggak ngerti dengan bahasan mereka. Oh ya, saya sempat dikarikaturkan secara live lho sama Oom Cah Ndableg ini. Hasilnya adalah seperti ini, Sodara-Sodara :

Ihihihi, lucu yah? Empat puluh tahun lagi mungkin wajah saya akan kaya begitu ya ;))

Anyway, terima kasih untuk semua ucapan di facebook dan twitter kapan hari ya, Temans. Teruntuk suami dan keluarga saya, terima kasih juga untuk kadonya ya.. :*

Saya sayang kalian.. >:D<

 

[devieriana]

 

gambar karikatur diambil dari twitternya Cah Ndableg dan koleksi pribadi

Continue Reading

Obrolan Absurd (4)

Entah siapa “pencetus” keluarnya dialog-dialog absurd untuk yang pertama kali di keluarga saya. Tapi sepertinya Papa saya adalah “tersangka utama”-nya, karena biasanya kalau pas kumpul-kumpul di komunitas beliau, si Papa seringkali mengeluarkan jokes yang membuat anak didik maupun rekan sejawatnya ikut terpingkal-pingkal (walaupun Mama saya nggak pernah ikut tertawa dengan alasan : “bosen ah, jokes itu udah pernah denger!” :p).

Nah sepertinya virus ke-absurd-an itu menurun pada kami bertiga, kini tak terkecuali si hubby yang diam-diam juga ikutan tertulari.

1. BALADA MUG

Saya : kamu mau mug nggak, Ndung? Mug dari kantor aku. Terbuat dari dari stainless steel, ukuran imut, ada grafir tulisan tempatku bekerja. Bisa dipakai buat minum kopi atau teh gitu..

Adik : asiiik, mau mauuu.. kirim yah \:D/

Saya : tapi jangan sampai ilang ya. Ini mug limited edition, barang langka itu, nggak dijual di toko! :p

Adik : woogh, berat ya.. 😮

Saya : jaga dengan nyawamu yah..

Adik : siyap, akan kujaga mugmu dengan nyawamu, Mbak! \m/

Lah, gimana ceritanya bisa diganti jadi nyawa saya sih? :-?? 😐

—–

2. BALADA JAKET KULIT

Saya : kamu jadinya mau nitip beli apa?

Adik : mmh.., aku pengen jaket kulit dong, Mbak..

Saya : ya, ntar aku tanyain dulu harganya berapa ya, soalnya kan kulit asli., jadi kayanya sih agak mehel gitu..

Adik : yaah, kalau mahal ya nggak usah deh, Mbak. Tapi kalau kamu mau beliin sih gapapa ;;). Kan kalo kemahalan bisa bayar dengan nyawamu, Mbak.. ;))

Saya :😐

Mahal banget ya harga jaket kulitnya :((

—–

3. KADONYA MANA?

Percakapan menjelang ulang tahun saya :

Saya : Bibo, kamu nggak ada rencana buat ngado aku? Kan besok aku mau ulang tahun ;;)

Hubby : ada.. tapi nanti pas ulang tahun aku yaa.. ;;)

Saya : bah, lama amat, berarti nunggu Desember dong.. 😐

Hubby : ya emang gitu.. seru kan? 😉

Saya : emang nanti kadonya apa?

Hubby : kamu beliin mobil buat akuuu.. \:D/

Lah, ini siapa yang ulang tahun dan siapa yang ngado sih? 😕

—–

4. PEMADAM KEBAKARAN

Di sebuah perhentian lampu merah di sekitaran Mampang ketika akan berangkat ke kantor, saya melihat ada 2 orang pria sedang berboncengan dengan mengenakan seragam seperti seorang petugas pemadam kebakaran. Hanya saja ini berwarna biru dengan garis silver di lengannya.

Saya : Bibo, itu bapak-bapak yang dua orang itu petugas pemadam kebakaran ya?

Hubby : *menoleh ke arah yang saya maksud* Oh, itu.. Bukan.. Kalo pemadam kebakaran kan warna uniform-nya merah, itu kan biru..

Saya : ya kali aja ada dua seragam buat gantian gitu, Bibo. Kan biar lemarinya isinya nggak baju merah doang gitu..

Hubby : bisa juga sih, atau mungkin pemakaian seragamnya tergantung kasus kebakaran yang akan ditangani..

Saya : maksudnya gimana?

Hubby : ya kalo seragam merah itu dipakai untuk penanganan kebakaran besar..

Saya : kalo yang biru?

Hubby : buat kebakaran-kebakaran kecil. Misalnya kebakaran jenggot gitu..

Saya : 😮

—–

5. PARFUM

Hubby : kamu katanya mau mbeliin aku parfum.. Parfumku udah tinggal dikit nih.. *sambil semprit-semprot parfum yang tinggal seiprit*

Saya : iya, ntar.. nunggu..

Hubby : nunggu apa lagi?

Saya : nunggu kamu gajian.. :p

Hubby : lah kan aku bilang tadi “kamu beliin aku parfum”, semacam kado gitu.. Kadooo.. :((

Saya : ya kan sama aja, gaji kamu kalo udah ke aku kan jadi uang aku juga.. Nanti deh, kalo kamu udah gajian kamu boleh pilih parfum mana yang kamu suka yah.. :-” *ngikir kuku*

Hubby : 😐

—–

6. MINUMNYA..

Saya : ih tumben yah aku mau minum susu putih begini *sambil meneguk susu gambar beruang*

Hubby : emang biasanya nggak mau?

Saya : enggak.. eneg aja gitu. Mungkin karena sejak kecil dicekokin susu putih terus kemana-mana, jadi sekarang ngeliatnya aja males. Dulu yah, ke sekolah dibekalin susu putih, pas pergi-pergi bekal minumnya juga susu putih. Padahal kan bisa yang seger-seger aja yah.. sirup, soft drink.. atau apalah selain susu..

Hubby : misalnya rawon, soto gitu, yah..

Saya : Hladalaaah.. MINUMNYAA.. MINUMNYA!! Mosok aku disuruh minum kuah rawon sama soto, sih? 😐 *memandang prihatin*

Hubby : ooh.. :p *ngunyah kue*

—–

 

Demikian ..

 

[devieriana]

 

ilustrasi pinjam dari sini

Continue Reading