Berani Berinovasi?

“A dream with courage is innovation. A dream without courage is a delusion”
Anonymous

—–

Pernah nggak sih kita membayangkan dan coba flashback ke masa-masa sebelum ada teknologi? Ke jaman teknologi belum secanggih sekarang, ketika kita harus menjalankan segalanya secara manual dan serba memakan waktu. Wih, nggak bisa membayangkan bagaimana ribetnya, ya? Kalau mau kirim kabar mesti pakai kurir atau burung merpati. Kalau kemana-mana mesti jalan kaki, naik kuda, atau naik naga-naga (haiyah, berasa sinetron yang itu dong? ;)))

Nah, pernah membayangkan juga nggak sih kalau kita menjadi seorang penemu atau bahasa kerennya inovator, gitu? Enggak? Nggak mungkin? Hei, istilah penemu itu nggak selalu harus yang berbau dengan teknologi canggih lho. Nggak perlulah kita jauh-jauh membayangkan bikin robot, menemukan listrik, atau pesawat terbang seperti halnya Thomas Alva Edison atau Wright Bersaudara. Inovasi itu bisa saja idenya lahir dari hal-hal yang sederhana. Intinya, kalau kita peka, mau peduli, dan mau menciptakan sesuatu yang baru, belum pernah ada sebelumnya, dan ternyata setelah diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari manfaatnya bisa dirasakan secara nyata oleh lingkungan sekitar kita ya kita sudah bisa disebut inovator. Iya semudah itu 🙂

Sebut saja R. Kamir Brata, Dosen Ilmu Tanah, Air, dan Konservasi lahan Fakultas Pertanian IPB sebagai inovator teknologi pembuatan lubang resapan biopori. Pernah denger biopori, kan? Nah, apakah beliau menciptakan sebuah inovasi secara heboh dengan teknologi tinggi? No, cara kerja biopori yang beliau temukan itu sangat sederhana dan  bisa dibuat di mana saja. Tanah cuma dilubangi dengan diameter 10 sentimeter sedalam satu meter, air dituang hingga tanah jadi lembek dan mudah dilubangi. Kemudian, sampah organik dijejalkan ke dalamnya. Semacam sumur resapan, gitu. Saat ini teknologi biopori telah mengurangi kekhawatiran akan ancaman banjir di daerah-daerah yang curah hujannya tinggi dan rawan banjir.

Atau, sebut saja inovator asal Indonesia yang lainnya yaitu Tirto Utomo. Beliau adalah founder air minum dalam kemasan bermerk AQUA. Memprakarsai sebuah ide inovatif dari pemikiran yang sederhana. Coba kalau nggak ada Pak Tirto Utomo,  kebayang nggak sih betapa ribetnya kita kalau kemana-mana harus bawa termo, botol kaca, atau jerigen? Woogh, sekalian buat nimba dong…

Nah, ngomong-ngomong masalah inovasi, bisa nggak sih kita-kita jadi seorang inovator? Hei, nggak ada yang nggak mungkin lho. Hmm, caranya?

1. Kalau kita punya hobby tertentu dan apalagi sudah bisa menemukan passion kita, tekuni hobby dan passion kita itu secara serius dan mendalam.
2. Asah kepekaan. Coba deh cari tahu masalah apa sih yang paling sering dipermasalahkan orang-orang di lingkungan kalian tapi sampai saat ini belum ada solusinya.
3. Pikirkan dan cari tahu, ide kreatif apa yang bisa digunakan untuk mengatasi masalah tersebut.
4. Nah, kalau sudah nemu idenya apa, langsung action. Segera wujudkan ide tersebut menjadi sebuah inovasi baru.

Dari tadi ngomongin inovasi, inovasi, ada apa sih? Gini lho, saya itu mau kasih tau, kalau sekarang ada  sebuah program yang bisa membantu kita untuk menjadi seorang penemu, istilah kerennya inovator. Namanya Lenovo DoNetworkID Program. Siapa tahu nanti salah satu dari kita bisa jadi seorang inovator, seorang yang bisa menubah peradaban dunia menjadi lebih baik daripada sebelumnya.

Kalau kalian tertarik, coba deh bentuk tim dari sekarang. Karena program ini memang mengharuskan seperti itu. Lalu kalian rundingkan kira-kira ide gila dan proyek inovatif apa yang akan diikutsertakan dalam program ini. Setelah itu, silakan langsung bergabung dengan Lenovo DoNetworkID Program. Trus kita disuruh ngapain? Ada 3 tantangan yang bisa kalian pilih untuk dijadikan fokus dalam grup kalian yang bisa dilihat di sini . Nah, gimana? Sudah mulai ada pancingan ide kreatif?

Menariknya para peserta akan langsung dipandu oleh 3 mentor handal di Indonesia, yaitu:
1. Budi Putra (konsultan teknologi);
2. Nurdiansyah (peneliti dan pemerhati pendidikan);
3. Onno W Purbo (independent IT writer).

Mereka bukan hanya akan sekadar mengedukasi, tapi juga mendampingi para peserta untuk mewujudkan ide-ide dan inovasi kreatif mereka.

Nah, buat kalian yang berminat ikut program ini, coba simak beberapa info berikut ini ya. Penting!
* Pendaftaran sudah bisa tanggal 8 Desember 2011 s.d 25 Januari 2012  (mumpung masih lama tuh, buruan daftar sekarang deh);
* Pemilihan peserta favorit dilangsungkan pada tanggal  5 s.d 25 Januari 2012;
* Pengumuman finalis pada tanggal 26 Januari  s.d. 29 Februari 2012.
Udah, itu aja? Belum dong… Puncak acara dan pengumuman pemenang akan dilangsungkan pada tanggal 1 Maret 2012.

Tim yang terpilih mewakili Indonesia akan berkompetisi denganTim dari Rusia dan India lho. Wow! Yang lebih menariknya lagi nih, ada hadiah senilai USD 25.000 sudah menunggu kalian, lho! \m/  Kalau kalian tertarik dan mau tahu info lebih lanjut mengenai program ini bisa langsung baca-baca di Lenovo Do Network  deh, dan jangan lupa untuk dukung program Do Network ini dengan menggunakan twibbon di http://t.co/Yae7e1Dt  ini ya 😉

Mumpung masih ada waktu sampai dengan 25 Januari 2012 tuh, buruan  deh submit ide keren kalian untuk diikutkan dalam program ini. Siapa tahu inovator handal Indonesia bahkan dunia, berasal dari kontestan Indonesia, dan itu adalah… kamu! \:D/

Selamat menjadi calon-calon inovator baru bersama Lenovo DoNetworkID Program ya.
Good luck!

[devieriana]

 

sumber gambar: panitia Lenovo Do Network

Continue Reading

It’s A Wrap!

Dalam hitungan jam kita akan segera meninggalkan tahun 2011 dan memasuki tahun 2012. Tentu sepanjang tahun 2011 ini sudah banyak catatan langkah yang sudah kita torehkan, ya. Nggak semuanya bagus sih, tapi nggak semuanya buruk, dong 😉

Seperti tahun sebelumnya di setiap akhir tahun selalu ada rangkuman kisah perjalanan selama satu tahun, tapi kali ini saya ingin bikin sedikit berbeda. Saya akan memilih postingan mana saja yang berkesan bagi saya selama 2011 ini. Here we go!

1. Dari hati
Ada 3 postingan yang benar-benar saya tulis dengan sepenuh hati. Tulisan yang menurut saya cukup emosional, ditulis dengan mengerahkan segenap rasa yang saya punya, sedikit menyentuh, saya nulisnya sambil berurai airmata, dan ternyata yang membaca pun ikut terbawa dalam level keharuan yang nyaris sama dengan saya.
1. Tulisan  untuk Papa saya http://www.devieriana.com/2011/12/unconditional-love/
2. Tulisan untuk Mama sayahttp://www.devieriana.com/2011/07/unspoken-love/
3. Kisah saya bersama anak-anak kurang mampu yang masih punya semangat belajar dan sekolah http://www.devieriana.com/2011/07/pencari-amal/

2. Current issue
Tulisan yang berhubungan dengan isu yang sedang hangat di timeline atau sedang hangat dibahas.
1. Kisah insiden dibalik syuting Kick Andy http://www.devieriana.com/2011/01/tulisanku-pikiranku-emosiku/
2. Ketika gelang yang berkhasiat itu ternyata tidak ada khasiatnya sama sekali 😀 http://www.devieriana.com/2011/01/power-balance-the-placebo-effect/
3. Ketika nilai-nilai kejujuran pelan-pelan menjadi artefak http://www.devieriana.com/2011/06/indonesiajujur-tip-of-an-iceberg/

3. Top post
Tulisan dengan hits paling banyak sepanjang tahun 2011, apalagi bertepatan dengan insiden becandaannya Olga dan ketika saya republish ternyata disebarluaskan oleh teman-teman di berbagai jejaring sosial.
http://www.devieriana.com/2011/05/rape-is-not-a-joke/

4. Favorit saya
Salah satu tulisan favorit saya tentang “mantan”, tentang masa lalu, tentang mengapa kita harus “move on” :p http://www.devieriana.com/2011/01/a-reason-a-season-or-a-lifetime/

5. Lomba:
Artikel tentang lomba yang saya ikuti di tahun 2011 dan hasilnya… Alhamdulillah… 🙂
1. Lomba mendongeng yang baru pertama kali saya ikuti itu http://www.devieriana.com/2011/05/kontes-podcast-itu/
2. Serangkaian kegiatan Lomba Desain Seragam Pramugari Citilink yang ditulis secara berseri mulai awal pembuatan desain, pengiriman desain, babak penyisihan, semi final, hingga grand final tanggal 7 November 2011 kemarin. Oh ya, sampai sekarang tiketnya belum saya pakai nih… ;))
http://www.devieriana.com/2011/09/kisah-dibalik-keisengan-itu/
http://www.devieriana.com/2011/11/one-step-closer/
http://www.devieriana.com/2011/11/the-final-result/

6. Lucu
Postingan-postingan yang bikin saya ketawa sendiri waktu nulis dan menjadi postingan terlucu sepanjang tahun 2011 (menurut saya).
1. Kisah ujian akhir semester anak kelas 1 SD http://www.devieriana.com/2011/12/ujian-akhir-semester/
2. Sebagian kecil cerita-cerita lucu di callcentre http://www.devieriana.com/2011/02/balada-callcentre-officer/

Nah, kayanya itu sih postingan-postingan yang berkesan sepanjang 2011. Semoga akan ada lebih banyak cerita berkesan yang bisa saya tuliskan di sepanjang tahun 2012 nanti.

Selamat tahun baru 2012! <:-P

 

 

[devieriana]

gambar pinjam dari festivalsadvices.com

Continue Reading

Selamat Natal, Kawan!

Perayaan Natal selalu membuat saya flashback kepada kenangan masa kecil dulu, ketika masih tinggal di Lawang, sebuah kota kecil di Kabupaten Malang. Tentang hubungan harmonis yang terjalin antara keluarga kami dengan murid-murid kolintangnya Papa. Entah, kok rasanya di jaman saya masih kecil dulu kehidupan beragama sepertinya jauh lebih tenang, harmonis, dan penuh toleransi, ya? Tidak seperti sekarang yang kayanya mau ibadah aja dibikin ribet. Belum lagi keamanan ketika menjalankan peribadatan yang belum jelas terjamin. Uniknya lagi hampir setiap tahun selalu ada ‘debat tahunan’ tentang halal/haramnya pemberian ucapan selamat Natal kepada pemeluk agama Nasrani. Trenyuh :|. Inikah negara yang katanya menjunjung tinggi azas kebebasan beragama itu? 🙁

Dulu, selain menjadi PNS, Papa mengisi waktu luangnya sebagai pengajar kolintang (alat musik tradisional asal Manado). Dulu memang Papa aktif di kegiatan bermusik, dan kebetulan bisa bermain kolintang, sehingga  Papa sering diminta mengajar di sana-sini. Murid Papa bermacam-macam,  ada ibu-ibu Dharma Wanita, dan jemaat di beberapa gereja.

Sangat menarik jika saya mencermati hubungan baik yang terjalin antara keluarga kami dengan para murid Papa, terutama dengan para jemaat gereja. Ketika kami merayakan lebaran, secara otomatis murid-murid Papa datang ke rumah untuk sekadar bersilaturahmi. Begitu juga ketika Natal tiba, biasanya selain acara utama di gereja mereka berkumpul di rumah salah satu anggota jemaat untuk sekadar kumpul bersama, dan Papa Mama pun biasanya diundang kesana (acara ini murni acara kumpul-kumpul, makan bersama, semacam acara silaturahmi). Sebagai bentuk penghormatan dan toleransi umat beragama Papa Mama pun hadir memenuhi undangan mereka.

Sebagai konsekuensi mengajar kolintang di gereja tentu saja Papa harus paham beberapa lagu gereja yang ingin mereka pelajari/mainkan. Papa juga tidak segan untuk tampil membantu mereka di atas panggung. Kalau sore, kadang saya suka ikut Papa ketika mengajar kolintang, ya walaupun akhirnya saya sibuk bermain sendiri dengan salah satu anak pengurus gereja. Namanya juga anak-anak 😀

Yang paling berkesan hingga saat ini adalah kebaikan sepasang suami isteri jemaat gereja bernama Pak Peter & Bu Peter, yang ternyata punya perhatian dan kepedulian yang tinggi dengan keluarga kami. Pernah suatu malam yang gerimis, seusai mereka berkonsultasi tentang perkolintangan menyambut Natal, tanpa sengaja Bu Peter mendengar adik bungsu saya —yang waktu itu masih kecil— batuk-batuk. Kebetulan adik saya memang sedang sakit flu batuk pilek. Sebenarnya sudah diberi obat pereda flu oleh Mama, tapi entah mengapa belum sembuh juga, kebetulan memang belum sempat ke dokter.

Tak lama setelah mereka berpamitan (kurang lebih setengah jam kemudian) ternyata mereka berdua kembali ke rumah kami dengan membawa obat flu untuk anak yang dikenal manjur di keluarga mereka. Terharu. Alhamdulillah, beberapa hari setelah mengonsumsi obat itu adik saya sembuh. Terharu, segitu perhatiannya, mereka bela-belain kembali ke rumah kami padahal sudah malam dan hujan, cuma untuk membelikan adik saya obat flu ala keluarga mereka. Saya yang waktu itu masih kecil pun sudah bisa merasakan betapa tulusnya hati mereka berdua.

Entah bagaimana kabar mereka berdua sekarang, karena memang sudah lama tidak pernah ada kontak lagi selepas Papa pensiun dan memilih untuk menetap di Sidoarjo.

Persembahan saya untuk teman-teman yang merayakan Natal, dari grup acapella asal Italia favorit saya Neri Per Caso , semoga berkenan 🙂

Semoga kelak kebebasan beragama bukan hanya sebagai slogan kosong dan retorika semata, namun nyata adanya…

“Selamat Natal, Kawan. Semoga kasih dan damai Natal senantiasa dilimpahkan di tengah keluarga kalian. Damai di bumi, damai di hati…”

[devieriana]

sumber gambar dari sini

Continue Reading

Ujian Akhir Semester

Pernah ketawa sendiri sampai diliatin orang-orang se-busway? Belum? Lha, kenapa belum? Saya sudah dong! *bangga*. Bukan. Bukan karena saya telat minum obat trus tiba-tiba kambuh di bus, tapi ini akibat iseng baca bbm group yang sedang membahas hasil UAS anaknya temen (namanya Kaka), dan itu bikin saya nggak mampu menahan tawa. Asli absurd! =)) . Ya kalau di tempat yang nggak banyak orang sih saya bisa aja ngakak dengan gagah berani. Lha kalo di bus? Diantara orang-orang yang sedang bergelantungan dan duduk pura-pura tidur, trus tiba-tiba saya ketawa sendiri aja, gitu? Lha apa nggak akan menimbulkan berjuta tanda tanya, “Mbak, mentalnya sehat, Mbak?”

Cerita si Kaka ini mengingatkan saya ke zaman masih awal-awal sekolah di SD. Ah ya, kita pasti nggak langsung pinter, dong. Waktu kecil pasti pernah menjawab soal ujian dengan jawaban yang absurd. Ya namanya juga masih belajaran, menyerap beberapa ilmu sekaligus dengan kapasitas otak yang baru tumbuh pasti menghasilkan dispute disana-sinilah. Contohnya nggak usah jauh-jauh, saya dan Si Kaka ini.

Coba yah, apa reaksi kalian kalau baca screen capture ini?

Kalau saya, selain bertanya-tanya juga ngakak tertahan sampai perut kaku. What the… KIPLI? Siapakah gerangan Si Kipli ini kok sampai (berani-beraninya) jadi nabi dan rosul yang terakhir? Nama lengkapnya Julkipli? 😕

Usut punya usut, Si Ayah akhirnya cerita:

“iya, ternyata anakku diajari lagu nama-nama nabi sama guru ngajinya. Ada Adam, Idris,….. dst sampai Zulkifli. Jadi ajarannya baru nyampe Zulkifli, belum sampai Muhammad. Dan kok ya pas yang didenger cuma Kipli-nya aja..”

Saya langsung ngakak nggak berhenti-berhenti. MWAHAHAHAHA! =))

Tenang, itu baru soal pertama. Di soal berikutnya, jawaban Si Kaka juga nggak kalah lucunya. Kali ini soal PKn. “Upacara pembakaran mayat di Bali disebut …..” Kaka pun menjawab pertanyaan itu dengan polos: “obong-obong”. Ayahnya pun komentar sambil tergelak, “woogh, cah gemblung!” . Saya lagi-lagi tak bisa menahan tawa. Lha, emangnya sampah kok diobong?  Tapi bener sih, obong itu kan bakar, ya? Obong-obong berarti bakar-bakar. Masuk logika ;))

Jawaban soal berikutnya pun tak kalah menakjubkan. Kali ini pertanyaannya adalah “Pembangunan harus dilakukan oleh …..” Dijawab oleh Kaka dengan mantap: “Bapak’e Suli. Suli teman kampung Kaka. Bapak’e kerja buruh bangunan…”. Kali ini Ayahnya mengelus dada, “owalah, anakku, anakku…”

Mantab, Nak! Pakai penjelasan pula! Seharusnya soalnya lebih dilengkapi lagi, “Pembangunan Balai RW di sebelah rumah dilakukan oleh…” Nah itu baru bener, oleh Bapaknya Suli yang tukang bangunan tadi. Ketika dikonfirmasi oleh ayahnya, Si Kaka masih bersikeras kalau jawabannya benar, dan menjawab pertanyaan Ayahnya itu dengan lugas dalam bahasa Jawa:

“Lho, bener Yah… Bapak’e Suli iku suka mbangun rumah, tiap hari melakukan pembangunan… Bu Sulem iku ancene (emang) nggak ngerti…”

Ya Tuhaaaan, saya ngakak sesorean di dalam bis nggak berhenti-berhenti. Tiga jawaban Kaka itu sukses membuat perut saya kaku lantaran menahan tawa. Tapi tenang Ka, kamu nggak sendiri. Tante dulu waktu SD juga gitu, kok \m/

Waktu SD dulu ada soal ulangan Bahasa Indonesia, semacam soal cerita, gitu. Ceritanya tentang liburan di rumah Paman dan Bibi yang tinggal di desa. Paman dan Bibi punya peternakan kuda. Nah, ketika tiba pada pertanyaan berikut ini saya mendadak bingung. “Paman adalah suami …”. Saya jawab aja kuda. Asli saya nggak tahu silsilah suami isteri itu apa. Suami itu artinya apa, isteri itu artinya apa. Lagian ada ilustrasi gambar kuda yang sedang mengangkat kedua kaki depannya. Saya mikirnya suami isteri itu semacam istilah untuk binatang peliharaan, gitu. Gemblung, ya? X_X

Papa yang melihat hasil ulangan Bahasa Indonesia itu nggak mampu menahan tawa. Makanya kalau lihat ada kuda malah justru ngeledekin saya, “tuh, isterinya Paman lewat tuuuh…”  😐

Pun ketika menjawab pertanyaan apa nama baju tradisional Ujungpandang (sekarang Makassar), saya jawab baju goblok. Kan bodo(h) itu sama aja goblok. Haduuuh, nista sekali sih daya nalar saya waktu SD :((. Bodo dan bodoh itu beda jauh… *puk-puk diri sendiri*

Kalau diingat-ingat lagi, waktu kecil aja saya sudah absurd begitu, makanya pas sudah gede absurd-nya sudah level advance, tinggal nyari sertifikasi aja, nih ;))

Buat Kaka, kamu cerdas, Nak. Daya nalarmu jalan. Terus belajar ya, Sayang. Biar makin pinter :-*

Kalau kalian punya cerita apa tentang masa kecil kalian? Absurd jugakah? Monggo lho kalau mau di-share 😉

 

 

[devieriana]

sumber gambar asli dari Ayahnya Kaka 😀

Continue Reading

Unconditional Love

“A mother’s love is instinctual, unconditional, and forever…”
– Unknown –

Beberapa hari yang lalu sebenarnya saya di-mention untuk ikut #Edustory di twitter. Kebetulan temanya adalah kisah yang paling berkesan tentang Ibu. Tapi berhubung saya kelupaan dan baru bergabung ketika waktu untuk #Edustory tinggal 15 menit, maka saya hanya sempat share sedikit sekali tentang cerita masa kecil dengan Mama. Nah, baru hari ini, tepat tanggal 22 Desember (terlepas dari peringatan Hari Ibu yang salah kaprah), seperti janji saya di twitter kemarin, saya akan berbagi cerita tentang Mama, sebagai penyeimbang tulisan tentang Papa beberapa waktu yang lalu. Mama adalah sosok yang paling menginspirasi dalam kehidupan saya.

Boleh dibilang yang paling dominan dalam mendidik dan mengasuh kami bertiga adalah Mama. Bukan bermaksud mengesampingkan peran Papa di dalam kehidupan kami, tapi Papa sebagai kepala rumah tangga sudah menjalankan tupoksi (tugas pokok dan fungsi) tersendiri yang juga menyeimbangkan kehidupan keluarga kami.

Mama sendiri adalah sebuah pribadi dengan kombinasi yang unik. Sosok ibu yang cerewet, tegas, disiplin, keras kepala, kadang absurd, namun pengasih, konsisten, dan luwes bergaul dengan siapa saja (bahkan selalu ingat siapa saja nama teman-teman kami). Beliau bisa berperan ganda dalam keluarga, sebagai ibu, isteri, sekaligus sahabat untuk anak-anaknya. Kami bisa cerita tentang apapun dengan beliau. Mama adalah pendengar yang luar biasa untuk setiap cerita yang kami ceritakan. Ketika sedih Mama akan ikut sedih bersama kami. Ketika kami bahagia Mama juga akan ikut bahagia bersama kami. Bahkan ketika kami bercerita tentang hal yang konyol sekali pun Mama tak segan untuk ikut absurd bersama kami. Mama kami memang sosok yang istimewa. Seistimewa setiap masakan yang takaran dan rasanya selalu pas! 😉

Waktu kecil, saya dan adik perempuan saya, selalu dijadikan ‘kelinci percobaan’ untuk dandanan anak-anak, mulai rambut, baju, sampai sepatu (mungkin karena anak perempuan, jadi lebih mudah memodifikasi dandanannya ;))). Waktu SD kami berdua juga diwajibkan ikut ekstra kurikuler tari Jawa klasik. Kebetulan dulu Mama adalah seorang penari Jawa klasik yang bergabung dalam Sanggar Tari Wilwatikta, jadi harapan Mama salah satu dari kami berdua ada yang menuruni bakat beliau. Terlepas dari itu menurut Mama menari akan mengasah kepekaan diri, keluwesan, dan membentuk gesture tubuh yang baik (tidak membungkuk).

Dulu sempat berpikir juga, ngapain sih Mama ‘memaksa’ ikut ekskul tari? Tapi lama-lama akhirnya pertanyaan itu terjawab seiring waktu. Ekskul tarilah yang membuat saya sering mendapat tawaran menari dan menjadi wakil sekolah dalam beberapa pagelaran lomba tari tunggal, berpasangan, maupun sendratari. Dari tarilah saya mengenal hobby yang saya jalani dengan hati. Ke mana pun saya pentas, Mama hampir tak pernah absen mendampingi saya. Thanks to Mama >:D<

Kalau untuk “pemaksaan” ekskul ke adik bungsu saya yang laki-laki sepertinya tidak terjadi. Karena toh akhirnya dia bisa menemukan bakat dan minatnya sendiri di bidang fotografi. Mama bukan hanya sebatas peduli dengan pendidikan kami, tapi juga sangat mengikuti perkembangan hasil studi kami mulai dari SD hingga kuliah. Sering memotivasi dengan hadiah-hadiah kecil sebagai hadiah atas pencapaian kami. Walaupun lama-kelamaan kamilah yang akhirnya secara sadar memperjuangkan nilai-nilai kami sendiri karena ingin membuat Papa-Mama bangga.

Kami juga sempat mengalami masa-masa menyedihkan ketika Mama sering pingsan dan pusing berkepanjangan selama sebulan lebih (sebenarnya memang sakit yang sudah lama diderita oleh Mama karena ada syaraf di kepala yang terganggu, biasanya akan kambuh kalau terlalu capek, berpikir berat/sedih). Sementara kami & Papa amat sangat tergantung sama Mama :(. Ketika masa pemulihan ternyata Mama mengalami vertigo, Mama jadi sering hilang keseimbangan. Seringkali ketika kami pulang sekolah menjumpai Mama tertidur dengan lutut dan kaki yang lecet-lecet atau memar kebiruan karena terjatuh akibat memaksakan diri membersihkan rumah atau pergi ke pasar padahal kondisinya masih belum pulih. Kalau kami tegur jawabannya begini,

“ya kalau Mama nggak ke pasar, trus nggak masak, nanti kalian makan apa?”
 Ya Tuhan , bahkan di saat sakit pun Mama masih memikirkan kami 🙁

Puncaknya adalah ketika Mama harus rela melepas adik perempuan saya menikah dan tinggal bersama suaminya di Jakarta, Mama bukan hanya sedih, tapi sampai nangis sesenggukan. Waktu perpisahan dengan saya dulu Mama juga sedih, tapi nggak sampai sesedih ini. Mungkin sekarang baru terasa kalau anak-anaknya ternyata sudah pada dewasa, sudah mulai punya kehidupan masing-masing, dan pasti si bungsu juga akan segera menyusul kalau sudah ketemu jodohnya.

Seringkali pagi-pagi beliau mengirim sebuah pesan singkat berisi, “Mama sayang kamu…” atau “Selamat bekerja ya, Sayang. Mama kangen sama kamu…” dan itu sudah cukup membuat airmata saya menggenang :((

Iya, aku juga kangen, aku juga sayang sama Mama…. :-s

“Ya Allah, semoga Engkau masih memberikan kesempatan kepada kami untuk memberikan yang terbaik dan membahagiakan kedua orangtua kami… Aamiin…”
 

[devieriana]

 

Ilustrasi gambar dipinjam dari sini

Continue Reading