Tentang basa-basi

basa-basi

“PING!!!”

Blackberry saya bergetar sesaat setelah sebuah ping mendarat di bbm. Sekilas tampak di layar Blackberry saya terbaca nama seorang teman kantor yang lama. Tumben nih sampai nge-PING!!! segala, pikir saya. Jujur sebenarnya saya kurang suka di-PING!; atau ada percakapan yang didahului dengan sebuah ‘PING!!!’ . Sama seperti fungsi ‘BUZZ!’ di Yahoo! Messenger, sebenarnya fungsi ‘PING!!!’ itu seperti menarik perhatian bbm contact atau menyolek. Kalau saya sih mengumpamakannya lebih ekstrim lagi, di-PING!!! itu seperti diteriaki. Memang tidak ada aturan pasti yang mengatur tentang penggunaan ‘PING!’ di bbm; tapi mungkin lebih ke etika, ya?

Ok, kembali lagi ke bbm si teman. Dengan setengah hati bbm berisi ‘PING!!!’ itu saya baca tanpa antusiasme untuk membalas, sampai akhirnya dia menyapa setelah tahu ‘PING!!!’ yang dikirimnya saya baca.

“Hei, Devi… apa kabar? Long time no see, ya? :)”
“Alhamdulillah baik… Apa kabar, Kak? :)”
“Aku baik juga… Tambah ok aja nih… Eh, sekarang kamu kerja di mana sih, Dev?”
“Masih di tempat yang kemarin kok, Kak. Belum pindah…”
“Oh, masih di seputaran Istana? :D”
“Masih… Hmm, ada perlu apa Kak, kok tumben bbm aku siang-siang gini?”
“Hehehe… emang kalo bbm siang-siang itu pasti ketahuan ada perlunya, ya?”
“Ya, mungkin… Kan tumben-tumbenan nih Kakak bbm aku :)”
“Hehe, iya sih… sebenernya gini lho Dev… aku kan lagi buka usaha… bla-bla-bla…”

Dan, lalu mengalirlah cerita tentang usaha barunya berniaga makanan ringan dan kuliner siap saji, sampai ke cerita bisnis online baju anak/dewasa. Saya menyimak dengan seksama sambil mengira-ngira ke manakah obrolan ini akan bermuara; walaupun sebenarnya sangat mudah untuk ditebak sih.

“Nah, trus gini Dev… Aku tuh mau nanya, kira-kira nih, kalau aku mau mengajukan penawaran kerja sama ke kantor kamu gimana, ya?”

See? Benar kan dugaan saya? Duluuu sekali,ย  saya belum berani menjadikan ini sebagai sebuah teori. Tapi lama-lama, ketika banyak orang yang melakukan hal yang sama, kok saya jadi ingin berteori:

“ketika ada seorang teman lama yang sudah sangat lama sekali tidak saling kontak/berhubungan (tapi sebenarnya dulunya pun kita tidak terlalu akrab) tiba-tiba menghubungi, pasti ada sesuatu di balik basa-basinya.”

Ok, mungkin teori saya ini belum sepenuhnya valid, tapi mengingat sering kejadian begitu, jadi biarkan sementara teori ini berlaku untuk saya sendiri ;))

Bukan cuma sekali dua kali teman-teman lama tiba-tiba meng-invite bbm dan menghubungi lagi, tapi ujung-ujungnya ada maksud dan tujuan tertentu. Frankly, sebenarnya saya nggak keberatan kok; selama bisa saya bantu pasti saya bantu, selama saya tertarik dengan kegiatan yang mereka ajukan saya juga pasti akan antusias. Tapi kalau ternyata nggak bisa, ya mohon maaf lahir batin ajalah ya ๐Ÿ˜€

Uniknya lagi, pola mereka ini kok ndilalah sama. Ketika ada butuhnya mereka dengan intensif menghubungi dan dengan ramah mengajak ngobrol untuk mencari informasi. Tapi setelah informasi yang mereka butuhkan itu didapat serta merta mereka menghilang bak ditelan bumi; sama sekali tidak menghubungi kembali ๐Ÿ˜•

Bahkan dulu ada seorang teman yang secara terang-terangan saya omeli gara-gara masalah ini. Gara-garanya sih sama, setelah menanyakan kabar, puja-puji dan basa-basi ini itu, dia pun meminta info yang dia butuhkan dan setelah itu… daaagh… :-h

Saya: “Oh, jadi tadi nanya kabarku itu sebenernya cuma mau tanya gimana prosedur mahasiswa kalau mau Praktik Kerja Lapangan di kantorku prosedurnya gimana, gitu? [-(“

Teman: “Yah, Devi… bukan gitu :(. Jangan marah, ya. Maaf, ini aku sambil nyetir. Nanti deh, kita ngobrol lagi, ya :)”

Dan menyetirnya pun sepertinya membutuhkan berbulan-bulan lamanya, entah menyetir ke mana. Maksudnya setelah percakapan itu beliaunya nggak ada kabar lagi gitu. Ah, mungkin dia sedang dalam perjalanan ke Timbuktu :-”

Kalau saya pas lagi butuh info ke teman sih biasanya malah nggak pakai basa-basi tanya kabar dan memuji sana-sini, langsung to the point tanya informasi yang saya butuhkan. Lho, sebenarnya ini malah lebih kurang ajar lagi, ya? ;)). Tapi setelah itu komunikasi ya jalan terus, bukan kalau pas lagi saya ada butuhnya saja saya ngobrol sama mereka gitu ๐Ÿ˜€

Anyway, pernah punya pengalaman yang sama, atau cuma saya sendiri yang sering mengalami kejadian seperti ini? ๐Ÿ˜€

 

[devieriana]

 

ilustrasi dipinjam dari sini

Continue Reading

“Tidak ada yang namanya kebetulan…”

turn left turn rightAkhir pekan kemarin saya sengaja nonton film secara marathon di rumah. Beberapa keping dvd lawas saya babat habis.ย  Salah satunya adalah film Asia berjudul Turn Left Turn Right yang dibintangi oleh aktor Jepangย Takeshi Kaneshiro dan aktris Mandarin Gigi Leung. Kisah cinta yang dikemas secara ringan sekaligus menggemaskan. Saking ‘ringannya’ ada beberapa scene yang terasa kurang masuk akal. Tapi ya, namanya juga hiburan, ada kalanya skenario harus sedikit dipaksakan, dan logika penonton pun ikut dinonaktifkan untuk sementara waktu.

Di film itu Leung berperan sebagai seorang penerjemah, sedangkan Kaneshiro sebagai seorang pemain biola. Mereka hidup sejajar dan tampak sempurna bagi satu sama lain. Tapi entah bagaimana, nasib membuatย  mereka terpisah. Dulu, Kaneshiro kecil pernah menyukai seorang gadis yang bahkan namanya saja tidak sempat diketahuinya. Namun takdir ternyata berbaik hati, mereka dipertemukan kembali dalam situasi yang berbeda, dalam sebuah ketidaksengajaan.

Singkat cerita mereka pun berkenalan dan saling bercerita ini-itu. Lambat laun mereka menyadari bahwa mereka pernah bertemu di masa kecil, dan pernah saling menyukai. Nah, scene menggemaskan pun dimulai. Mereka yang sudah saling bertukar nomor telepon dengan harapan hubungan mereka akan jauh lebih baik lagi ke depannya itu ternyata masih harus mengalami cobaan. Secarik kertas yang berisi nomor telepon masing-masing itu terkena hujan dan luntur. Halaaah… ๐Ÿ˜

Dan cerita pun bergulir dengan kebetulan-kebetulan yang menggemaskan. Tapi jangan tanya bagaimana akhir cerita di film itu ya, karena sebenarnya saya bukan mau me-review filmnya, tapi justru gara-gara film itu jadi ada pertanyaan yang berlompatan keluar dari pikiran saya.

“Percayakah kamu pada sebuah kebetulan?”

Jujur, selama ini saya masih percaya dengan kata ‘kebetulan’. Bahkan masih sering menggunakan kata ‘kebetulan’ sebagai pengganti kata ‘ndilalah‘, untuk menggambarkan sesuatu yang terjadi bukan karena kesengajaan/direncanakan.

Tapi makin ke sini saya percaya bahwa segala sesuatu yang terjadi bukan karena sekadar ‘ndilalah’, bukan cuma kebetulan,ย  I do believe that there’s a reason behind everything.

Kadang kita tidak sengaja dipertemukan dengan orang-orang tertentu, dan makin ke sini ternyata ada tujuan tertentu mengapa kita sampai dipertemukan dengan mereka; seperti yang dulu pernah saya tulis di sini. Pun halnya ketika kita mengalami suatu kejadian; itu pun pasti ada pesan moralnya. Bisa saja melalui kejadian tersebut Tuhan sebenarnya ingin berkomunikasi dengan kita dengan cara-Nya tersendiri. Bukankah Dia juga sering menjawab doa-doa kita melalui jalan yang misterius?

Sometimes things happen for a reason, even if we don’t know what it is…

 

 

[devieriana]

 

ilustrasi dipinjam dari http://www.bloggang.com

Continue Reading

Happy Birthday!

” Happy birthday, Dear. Wish you all the best; your future career and mainly your life…”

Sederetan sms dan bbm ucapan selamat membanjiri smartphone saya tanggal 2 Juni 2013 yang lalu sejak pukul 00.00 hingga keesokan harinya. Alhamdulillah tahun ini saya masih diberikan usia, kesehatan, dan kesempatan sama Gusti Allah untuk kembali berulang tahun; merasakan pertambahan jumlah usia, sekaligus pengurangan jatah usia saya di dunia.ย  Alhamdulillah hari lahir saya masih diingat oleh keluarga, dan para sahabat. Sebuah usia istimewa, yang sudah bukan remaja lagi (walaupun masih banyak yang mengira saya berusia early twenty sehingga banyak bapak dan ibu di kantor yang ingin memungut saya jadi menantu… *plak!*).

Dari sekian banyak ucapan dan doa yang dikirimkan oleh teman-teman dan keluarga, ada sebuah ucapan yang menurut saya sederhana tapi ‘dalem’ (sumur kali, dalem), yang sekaligus membuat saya jadi terharu. Ucapan salah satu teman di Bincang Edukasi. Halo, Mas Guntar… doanya saya pajang di sini ya :-h

“Met ulang tahun, Devi. Semoga makin pinter mbikin tulisan yang mbikin terang atinya orang, semoga makin bijak agar setiap lesan yang terucap selalu mbikin adem atinya orang, semoga makin ngetop di kerjaan hingga membesar juga potensi dalam berbagi kebaikan. Aamiin…”

Duh, berat banget ini; ‘menginspirasi’ katanya :-s. Ah, saya belum mampu menginspirasi siapa-siapa kok, Mas. Tulisan saya pun masih jauh dari kata menginspirasi. Lha wong sejak awal niatnya bikin blog cuma mau menyalurkan kelebihan energi saya saja. Sama sekali tidak ada tujuan untuk menginspirasi orang lain segala. But, anyway… terima kasih doanya, ya ๐Ÿ™‚

Buat keluarga, sahabat, teman-teman di socmed, komunitas, kantor, dan grup band saya (eh iya, sekarang saya punya band; iseng sih, mmh… nantilah saya bikin postingan sendiri; kalau sempat ;))) tidak banyak kata yang akan saya umbar di sini, cuma mau bilang terima kasih untuk telepon, sms, perhatian, doa, dan kado yang sudah diberikan. Semoga segala kebaikan dan berkah yang sama juga tercurah untuk kalian semua. Aamiin…

Love you all…
>:D<

 

[devieriana]

 

 

Continue Reading

Astral

ghost

Saya bukan orang yang suka membahas masalah dunia yang berhubungan dengan makhluk poltergeist. Bukan apa-apa, karena saya sendiri tipikal penakut. Ah, jangankan sama makhluk halus atau nonton film horor, sama kucing saja saya takut kok. Ngg, mungkin bukan takut, tapi geli ๐Ÿ˜

Sebenarnya postingan ini ada hubungannya dengan adik ipar baru saya. Ya, sekarang saya punya tambahan satu anggota keluarga karena adik bungsu saya baru saja melangsungkan pernikahannya beberapa minggu yang lalu. Uniknya, ternyata ipar saya ini punya indera keenam, jadi dia bisa merasakan keberadaan makhluk astral di mana pun dia berada.

Tak jarang dia terpaksa harus ‘bertemu’ dengan penampakan makhluk dari dunia lain, baik itu yang bisa dilihat penampakannya maupun yang cuma suara. Jangan ditanya seberapa sering dia harus ‘bertemu’ dengan ‘mereka’. Yang jelas di kantor, di kost, bahkan terakhir katanya di rumah saya yang di Surabaya pun dia sudah mendapatkan ‘salam perkenalan’ dari para makhluk itu. Padahal selama kami tinggal di sana tidak ada penampakan apapun baik secara fisik maupun suara lho, tapi ketika ipar saya mulai tinggal di sana kenapa mereka tiba-tiba ‘show off’, ya? ๐Ÿ˜•

Awalnya ketika sekitar pukul 02.00 dini hari, dia mendadak sakit perut dan ingin ke toilet. Dengan mata yang terkantuk-kantuk dia membangunkan adik saya untuk menemaninya ke belakang, atau setidaknya menemani di ruang makanlah. Tapi berhubung adik saya juga mengantuk dia pun bilang, “kamu ke toilet aja, pintu kamar aku buka, kok. Berani, kan? Halah, wong nggak ada apa-apa kok…” Akhirnya si adik ipar pun ke toilet sendirian (iyalah, masa barengan). Dari balik pintu toilet itulah godaan-godaan itu berawal. Mendadak dia mendengar kegaduhan di ruang makan; ada suara kursi yang di seret-seret, suara-suara gaduh di rak piring, suara pintu yang dibuka-tutup, dan suara-suara lainnya. Awalnya dia mengira itu cuma suara tikus. Tapi masa iya tikus bisa menyeret-nyeret kursi? Atau, mungkin adik saya yang berubah pikiran menemaninya di ruang makan. Tapi ketika dia coba memanggil adik saya dan seketika tidak ada respon jawaban, diam-diam dia mulai merasa takut. Tapi untunglah rasa mulesnya justru bisa mengalahkan ketakutannya sendiri. Dengan santai dia bergumam, “halah, udah…, biasa aja, nggak usah caper!ย  Aku nggak butuh salam perkenalan dari kalian!”ย  Dan, voila! Uniknya suara-suara itu pun lenyap.

Sesampainya di kamar dia buru-buru membangunkan adik saya untuk konfirmasi.

Ipar: “eh, tadi kamu ke ruang makan?”
Adik: “enggak… kan aku tidur…”
Ipar: “lah, yang berisik di ruang makan tadi siapa? :-o”
Adik: “mana ada suara berisik, sih? wong aku nggak denger suara apa-apa, kok…”
Ipar: “ah, beneran kamu nggak ke ruang makan tadi? :|”
Adik: “hambok sumpah, enggak :|”
Ipar: “trus yang tadi itu… suara apa? :-?”

Untungnya adik ipar saya ini tipe pemberani. Tidak bisa membayangkan bagaimana kalau dia adalah saya; hadeeh… sudah lari tunggang langgang mungkin ๐Ÿ˜

Pernah suatu hari saya membaca status bbm-nya: “Jiah, ternyata kantorku berhantu :))”. Lah, kenapa smiley-nya tertawa sih? Ketika saya tanya, dia pun bertutur santai, mungkin karena sudah sangat seringnya mengalami kejadian semacam itu, ya?

“Penunggu kantorku itu suka iseng, Mbak. Kadang dia suka ngunciin aku di kamar mandi, suka manggil-manggil namaku. Di kostanku kemarin juga aku dilihatin penampakan. Ya, biasalah… caper, Mbak…”

Bukan itu saja, siang hari ketika kebetulan saya dan Mama harus pergi dan terpaksa harus meninggalkan dia sendiri di rumah pun begitu. Sebenarnya bukan bermaksud tega meninggalkan dia di rumah sendirian, tapi berhubung dia mengeluh karena kurang enak badan, jadi ya terpaksa dia kami tinggal di rumah sendiri supaya beristirahat. Antara tega dan nggak tega sih sebenarnya. Saya dan Mama baru tiba di rumah menjelang maghrib. Persis seperti dugaan saya, dia seharian ‘ditemani’ para makhlukย  poltergeist di rumah saya. Tidak ada yang menampakkan diri sih, semuanya berupa suara. Ada suara kaki yang berlarian di sekitar dia, suara rel gorden yang dibuka-tutup di ruang tamu, suara derit pintu, dan suara-suara gaduh tanpa penampakan lainnya. Tapi anehnya ketika dia cek ternyata semua dalam posisi diam seolah tidak ada apa-apa, dia pun melanjutkan acara memasak tanpa merasa terganggu. Ah, koreksi, mungkin dia sebenarnya juga merasa terganggu, tapi karena dia tidak punya pilihan lain selain tetap tinggal di rumah ya, apa boleh buat. Mungkin begitu pikirnya…

Konon ada aura-aura tubuh dengan warna tertentu yang sangat mudah menarik perhatian makhluk halus; sehingga orang tersebut akan dengan sangat mudah melihat penampakan, dan bahkan sampai diikuti. Bersyukur saya tidak memiliki kepekaan berlebihan terhadap kehadiran makhluk-makhluk astral seperti itu (lebih tepatnya tidak memilih dan tidak ingin). Hanya saja, kadang ketika saya sedang berada di sebuah lokasi tertentu, entah kenapa saya memilih menghindari spot lokasi tertentu; entah itu cuma feeling saya saja atau memang di sana ada makhluk astralnya.

Beberapa tahun yang lalu saya memang pernah merasakan kehadiran mereka di rumah Bu Dhe saya di Malang. Tapi uniknya saya baru ‘ngeh’ kalau di sana memang ada penunggunya setelah saya tidak tinggal di sana lagi. Dulu saya dan adik perempuan saya sempat diminta tinggal menemani Bu Dhe karena kebetulan beliau cuma tinggal berdua bersama seorang asisten rumah tangga. Saya dan adik diberi sebuah kamar dekat dengan garasi; sebuah kamar yang tidak terlalu besar, tapi cukup nyaman untuk beristirahat. Di sana sudah disediakan sepasang meja kursi, lemari pakaian, dan tempat tidur dua susun.

Awal-awal kami tinggal di sana suasana relatif aman terkendali, tidak ada kejadian yang aneh. Sampai suatu ketika di setiap tengah malam saya mendadak terbangun, kebetulan saya bukan orang yang terlalu lelap tidur. Di antara pukul 00.00-03.00 dini hari saya selalu mendengar ada orang yang berlari terengah-engah di jalanan depan rumah. Bukan itu saja, saya juga mendengar suara-suara aneh mirip lenguhan, atau suara-suara lain yang tidak bisa dideskripsikan oleh telinga saya, dan selalu disertai dengan gonggongan anjing di rumah tetangga. Waktu itu saya memilih berkhusnudzon saja, tidak ada makhluk halus yang akan mengganggu, toh rumah Bu Dhe sangat bersih, terawat, dan rapi (walaupun dari dalam rumah pencahayaannya lebih gelap karena kaca ruang tamu berwarna hitam, dan halaman rumahnya pun teduh karena banyaknya tanaman di depan rumah). Sama sekali tidak pernah berpikir apakah suara-suara yang saya dengar itu adalah suara makhluk-makhluk astral atau bukan, saya cuma berdoa semoga tidak ada pencuri/orang jahat yang sedang mengincar rumah Bu Dhe, karena kami berempat semuanya perempuan :s.

Saya baru berani cerita kejadian-kejadian aneh di rumah Bu Dhe ketika kami sudah tidak tinggal di sana lagi. Dan ternyata adik saya pun merasakan hal yang sama; sering mendengar suara-suara aneh seperti yang saya dengar; nafas terengah-engah seperti orang yang habis berlari jauh tapi terdengar begitu dekat di telinga, dan suara-suara aneh lainnya ๐Ÿ˜

Papa saya dulu pernah bilang, “Di setiap rumah, setiap tempat, di mana pun itu, pasti ada yang menunggu. Ada yang baik tapi ada juga yang jahat/jahil/iseng. Pokoknya kalian jangan sampai lupa ibadah; shalat, ngaji, insyaallah mereka nggak akan ganggu kok…”ย 

Semoga sih begitu ya…

Eh, kalau bilang, “Pahit! Pahit! Pahit!” gitu, boleh nggak sih, Pa? *ditoyor*

๐Ÿ˜

[devieriana]

 

ilustrasi dipinjam dari sini

Continue Reading

Avatar

mask

Di sebuah sore yang basah setelah diguyur hujan sejak siang, di salah satu sudut sebuah kedai coffee giant, saya memenuhi janji temu dengan dengan salah satu sahabat yang kebetulan sedang transit di Jakarta seusai dia menghadiri undangan sebagai narasumber di negara tetangga. Seperti biasa, obrolan hangat langsung tercipta karena memang sudah lama sekali kami tidak pernah bertemu karena alasan jarak, waktu, dan kesibukan masing-masing.

Obrolan bergulir begitu saja, mulai dari saling bertukar kabar tentang kondisi masing-masing, berlanjut ke berbagai topik obrolan lain yang sifatnya random. Begitulah memang kebiasaan kami; apapun bisa jadi bahan obrolan sekalipun topiknya absurd.

“Eh, akun facebook kamu kenapa dihapus?”, tanya saya.

“Hmm, nggak apa-apa, lagi jenuh sama social media. Padahal aktivitas social mediaku belum seheboh kamu, ya? ;))” jawabnya sambil menyesap secangkir coffee latte kegemarannya.

“Ah, kamu synical banget, deh. Aku udah nggak seaktif dulu kok. Facebook cuma login kalau lagi pengen, kalau enggak ya nggak login. Kalau ngetwit sih masih, tapi itu juga udah nggak aktif-aktif banget. Aku juga pernah ngerasa jenuh kaya kamu, tapi ya udah, nonaktif sementara aja dari socmed; sambil melakukan hal lain yang jauh lebih real. You know what I mean-lah”, saya tertawa sendiri mendengar kata-kata saya barusan.

Dia tertawa renyah sambil mengunyah sepotong waffle pesanannya. Hingga saat ini dialah partner in crime saya yang paling nyambung untuk berdiskusi tentang apapun. Tema obrolan yang random seringkali mengisi obrolan-obrolan kami. Tapi di balik kerandoman itu selalu ada ending menarik yang bisa saya ambil dan pelajari. Di balik kata-katanya yang sederhana terkadang justru mengandung arti dan pemikiran-pemikiran yang mendalam.

Terakhir dia bertanya seputar kabar aktivitas saya di socmed, dan saya jawab dengan cengengesan. Ya, karena saya tahu, dia adalah orang yang paling kritis dan bawel ketika saya masih eksis di mana-mana. Setiap kali saya bercerita tentang kegiatan saya di akhir pekan, dia selalu geleng-geleng kepala. Menurutnya, saya orang yang nggak sayang sama badan, karena setelah seminggu ngantor, kadang masih harus meeting dengan klien di sore harinya, di akhir pekan masih harus berkegiatan bersama komunitas. Dan selalu, setelah beraktivitas nyaris tanpa istirahat itu kerap kali saya mengeluh kecapekan dan kurang fit, tapi kalau dinasihati saya suka ngeyel. Beberapa diskusi panjang dan sedikit eyel-eyelan kami lalui, sampai akhirnya saya ‘insyaf’ dan mengiyakan nasihat-nasihatnya. Lagi-lagi secara tidak langsung, saya belajar tentang bagaimana cara berkomunikasi. Terkadang untuk meminta orang lain untuk berubah tidak bisa dilakukan dengan jalan intimidasi dan emosi. Dari obrolan yang santai, sederhana, dan tidak menggurui, ajakan/nasihat itu bisa diterima tanpa ada adu argumentasi yang berlebihan kok. Ah ya, lagi-lagi cuma masalah teknik, cara.

Di tengah percakapan tentang blog saya yang sempat ter-suspend, dia cuma tertawa.

“Blog kamu ter-suspend? LAGI?

“Iya, maklumlah, waktu itu hostingannya masih cari yang gratisan, jadi ya gitu deh. Sempat galau nggak bisa nulis selama beberapa bulan. Mana banyak postingan lama yang hilang pula, udah di-back up sih, tapi belum sempat di-download. Terus sekarang pas blognya udah ON lagi, jadi agak males nulis gitu. Kenapa, ya? :-w”

“Mmmh… mungkin karena ada konsep dan tema tulisan tertentu yang kamu paksakan untuk ditulis di blog…ย  :-“”

“Ah, aku nulis apa yang pengen aku tulis aja kok, nggak ada tema/konsep tertentu. Atau…, emang berasanya gitu, ya? :-?”

“Hmm, iya, kadang-kadang ๐Ÿ™‚ . Anyway, aku jadi ingat seorang teman. Dia mulai dikenal orang berawal dari eksistensinya di socmed. Semakin dia dikenal orang, semakin dia dianggap baik, pintar, bijaksana, dan menyenangkan, semakin dia ‘terjebak’ dalam pencitraan yang melelahkan. Tulisan dan status-statusnya berisi kalimat-kalimat inspiratif dan memotivasi banyak orang. Uhhm.. bagus sih, tapi entah kenapa aku melihat dia seperti sebuah avatar; sebuah citra; dia tidak sadar sedang mencitra dirinya. Sebagai manusia, kita pasti punya sisi baik dan buruk, kan? Dia juga manusia biasa yang bisa capek, bisa sebel, bisa galau, bisa misuh-misuh juga kalau lagi marah. Hingga akhirnya dia mengeluh jenuh dengan semua pencitraan yang tidak sengaja telah dibangunnya sendiri. Diam-diam dia rindu jadi dirinya sendiri seperti saat belum banyak dikenal banyak orang. Nah, singkat saja aku bilang, “So, why busy become an avatar kalau kamu capek? “

Spontan saya mengernyitkan dahi. Di saat yang sama saya juga sedang galau tingkat internasional, dan kata-kata dia sore itu membuat saya merenung sendiri. Avatar.

“Di luar sana, ada banyak orang yang berusaha menginspirasi dan memberi semangat ke orang lain, sementara di saat yang sama sebenarnya dia juga sedang butuh pencerahan, inspirasi, dan suntikan semangat. Aku, belum bisa jadi avatar. Aku masih membatasi diriku cukup menjadi guru untuk mahasiswaku saja; nggak lebih. I’m scared if someone really following me. Not yet I am far from wise person. Nggak pengen being toxicate by fame…”

Dengan kapasitas otak yang terbatas, saya manggut-manggut sambil berusaha mencerna kata demi kata yang keluar dari bibirnya dengan cermat.

“Virtual thing is like a knife with two edges. Katakanlah aku yang yang mungkin over protective dengan diriku sendiri, ya. Aku cuma nggak pengen jadi orang yang terlalu menikmati sanjungan, pujian, dan akhirnya jadi overjoyed. Karena kalau manusia sudah berada di titik itu dia akan sulit melihat kesalahannya sendiri, cenderung defensif sama kritik. Kamu pasti masih ingat, kan, gimana narrow minded-nya aku beberapa tahun yang lalu?”

Sekali lagi saya mengangguk pelan,ย  menyesap secangkir Earl Grey yang hampir dingin;ย  sambil terus menebak ke mana arah pembicaraan ini akan bermuara.

“Beberapa temanku masih ada yang menganggap socmed dan pernak-perniknya itu dunia yang sesungguhnya. Lucu, ya? Padahal still there’s a bold line between real and virtual. Hmm… by the way, aku seneng lihat kamu kembali ‘normal’ kaya beberapa tahun lalu ;)”

“Oh, jadi selama ini kamu pikir aku nggak normal, gitu? [-(“

Dia lagi-lagi tertawa,

“Ah, nggak normalnya baru sedikit, kok. Tapi serius, glad to have you back on the track… “

Seusai pertemuan itu, di sepanjang jalan menuju rumah, saya berusaha mencerna kembali inti obrolan kami sore tadi. Semakin banyak orang mengenal seseorang, akan semakin banyak pula hal yang harus dia jaga, dia lindungi, atau dia tutupi; setidaknya agar semua tetap terlihat normal dan baik; kecuali apa yang dicitrakan di luar itu sama dengan dia yang sebenarnya. Namun jika ternyata dia adalah orang dengan pribadi sebaliknya, pencitraan hanya akan menempatkan dirinya ke dalam posisi yang sulit dan serbasalah; terutama ketika dia ingin (kembali) menjadi diri sendiri.

Sesungguhnya ‘fame’ dan ‘pure’ itu cuma beda tipis.

Just my two cents…

 

 

Sebuah sentilan halus di sore menjelang malam yang gerimis.

[devieriana]

 

ilustrasi dipinjam dari sini

Continue Reading