Tentang Resolusi

new year resolution

Tahun 2014 sudah di depan mata dan tinggal hitungan hari. Biasanya orang-orang akan mulai disibukkan dengan membuat catatan rencana atau resolusi untuk setahun ke depan baik itu di blog, diary (kalau masih ada), di kertas warna-warni yang akan ditempelkan di tembok, atau di media manapun yang sekiranya memungkinkan.

Resolusi sendiri lebih kurang merujuk kepada sebuah komitmen yang dibuat oleh masing-masing individu untuk tujuan pribadi atau umum, biasanya sih lebih ke pribadi ya. Contoh resolusi yang paling umum biasanya tentang keinginan untuk mengubah kebiasaan dan gaya hidup yang buruk menjadi lebih baik, atau keinginan membeli atau meraih sesuatu yang belum tercapai di tahun sebelumnya.

Jujur, saya adalah orang yang paling jarang membuat resolusi di tahun baru, dan lebih cenderung ke let it flow. Tapi bukan berarti saya tidak punya daftar rencana sama sekali. Rencana pasti ada, tapi memang jarang saya publish di blog/social media, lebih ke catatan pribadi saja.

Buat saya resolusi itu tidak harus dibuat menjelang pergantian tahun. Resolusi itu bisa dibuat kapan saja, bahkan setiap hari. Jadi kalau bisa dilakukan setiap hari mengapa harus menunggu tahun depan? Mungkin ini terkait dengan kebiasaan. Orang lebih memilih momentum peluncuran resolusi yang bersama-sama karena di saat itu banyak orang yang sama-sama mengeluarkan daftar harapan/keinginan terhadap sesuatu yang baru/lebih baik di tahun yang akan datang.

Beberapa hari yang lalu saya bertemu dengan seorang sahabat di salah satu mall di bilangan Jakarta Selatan. Ndilalah, topik obrolan kami tak jauh-jauh dari soal resolusi. Sebenarnya tanpa sadar, setiap orang pasti pernah membuat/punya resolusi, tapi cara pencapaiannya yang berbeda-beda. Seringkali orang ‘terlena’ membuat daftar panjang resolusi, tapi nyatanya niatnya cuma menyala-nyala di saat membuat/menulis resolusi saja atau paling banter di awal tahun, selanjutnya menguncup begitu saja. Nanti tahun depan bikin resolusi lagi yang daftarnya tidak jauh berbeda dengan yang sudah pernah ada di tahun sebelumnya.

Nah, sebenarnya bikin resolusi yang baik itu seperti apa, sih? Resolusi itu bisa dibagi menjadi tiga, yaitu resolusi jangka pendek, jangka menengah, dan jangka panjang. Soal waktu pencapaiannya bisa kita sendiri yang menentukan. Sebelum membuat daftar resolusi tahun ini, coba buka dulu daftar resolusi tahun sebelumnya, buat daftar apa saja yang sudah terwujud, dan apa saja yang belum terwujud.

Kalau kata sahabat saya, membuat resolusi itu bisa diibaratkan seperti akan maju perang. Kita harus punya strategi untuk mencapainya. Memang ilmu tidak ada batasnya, tapi terkadang kita bisa mengambil pelajaran/ilmu dari apa yang sudah pernah kita lalui di tahun sebelumnya untuk mencapai apa yang kita inginkan di tahun ini untuk evaluasi. Ya, siapa tahu apa yang di tahun lalu berhasil kita capai, tapi ketika cara yang sama itu diterapkan di tahun ini belum tentu berhasil dilakukan, atau malah justru sebaliknya.

Yang terjadi selama ini ketika kita mengalami kegagalan, spontan kita langsung bilang, “Yah, gagal deh…:-(” . Padahal itu sudah menjadi sebuah kalimat negatif yang punya kans untuk menguncupkan semangat kita. Tuhan itu adalah prasangka hambanya. Jadi kuncinya ada di mindset. Mindset kita yang harus diubah, kalau sekarang belum berhasil, besok pasti berhasil! Prasangka dan kata-kata kita harus dipositifkan terlebih dulu.

Sahabat saya lalu mmberi sebuah pertanyaan begini, “Kalau udah bikin resolusi pnjang-panjang nih, trus nggak ada yang berhasil, gimana caranya menenangkan hati?” . Nah, itu juga pertanyaan yang juga berjumpalitan di kepala saya saat itu :-p.

Salah satu caranya dengan bikin rencana jangka pendek, menengah, dan panjang. Tulis atau gambar rencana-rencana itu dalam berbagai bentuk yang mudah diingat. Misalnya rencana jangka pendek ditulis dalam sebuah bangun segitiga, beri warna tertentu, lalu beri tagline, misalnya: “I have a dream” dengan font yang catchy. Tuliskan di bawahnya apa saja rencana jangka pendek yang ingin kita capai, tidak harus banyak, yang penting realistis. Lalu, bikin lagi rencana jangka menengah dengan bentuk yang lain, misalnya bulat, beri warna kuning, beri tagline yang berbeda dengan yang sebelumnya, misalnya: “Target Terwujud”, lakukan cara yang sama. Yang terakhir, bikin bentuk lain untuk menuliskan rencana jangka panjang, misalnya bentuk hati, beri warna, tagline, dan rencana-rencana yang diharapkan tercapai.

Nah, bagaimana kalau ternyata yang tercapai terlebih dulu bukan target jangka pendeknya, tapi justru justru target jangka panjangnya? Tuhan itu bekerja dengan sangat random. Dia paling tahu kapan saat yang paling tepat untuk memberikan apa yang kita butuhkan, bukan yang kita inginkan. Tapi bukan berarti karena kita tahu Tuhan bekerja dengan random lantas kita, “ya udah sih, serahkan aja sama yang Di Atas, toh Dia yang paling tahu apa yang paling pas buat kita…” Ya udah, kalau caranya seperti itu mau lulus kuliah tahun berapa juga nggak akan pernah tahu :mrgreen:

Sahabat saya lagi-lagi memberikan sebuah contoh yang paling simple untuk bisa saya pahami. Proses pencapaian resolusi itu kurang lebih seperti apa yang pernah dia lakukan dalam sebuah seminar. Dia bertanya pada audience-nya,

“Siapa yang mau duit Rp 500.000,00 hari ini juga?”

Serentak seluruh isi kelas mengangkat tangan, tanda mereka semua ingin mendapatkannya. Sahabat saya lalu meminta mereka mengetik sebuah sms berisi resolusi mereka di HP masing-masing. Secepat kilat mereka mulai sibuk mengetik di HP masing-masing. tak lama kemudian sahabat saya itu menyebutkan nomor HP tujuan dan meminta mereka semua mengirimkan ke nomor HP yang dia sebutkan tadi, karena siapa yang smsnya dia terima lebih dulu dialah yang berhak memperoleh uang senilai Rp500.000,00. Spontan kelas menjadi gaduh. Di sanalah terlihat proses sebuah resolusi itu ‘dikabulkan’. Ada yang mendengarkan nomor yang disebutkan tadi dengan sungguh-sungguh dan saat itu langsung mengirimkan sms, ada yang kurang mendengarkan dengan baik penyebutan nomornya, ada yang ketika akan mengirimkan sms ternyata tidak ada pulsa, ada yang punya pulsa dan mendengarkan dengan sungguh-sungguh ternyata ketika mengirim pesan terkena bad connection, dll.

Ini juga merupakan catatan untuk saya pribadi, intinya adalah, menuliskan resolusi itu tetap perlu, yang penting niatnya harus ada. Selain berusaha jangan lupa terus berdoa dan jangan pernah putus asa, karena Tuhan paling tahu kapan saat yang paling tepat untuk kita mencapai apa yang kita inginkan, dan memberikan apa yang kita butuhkan ;).

“Happiness keeps you sweet. Trials make you strong. Sorrows make you humble. Success makes you glowing, and God keeps you going. May you have a greatest New Year of 2014!”

[devieriana]

 

ilustrasi dipinjam dari http://bestjacksonpersonaltrainer.com

Continue Reading

Know Your Limit

Semalam, salah satu teman kantor me-whatsap saya. Dia melampirkan sebuah capture kalimat yang berbunyi:

path

Ketika membaca kalimat itu entah mengapa saya jadi sedih, meski saya tidak mengenal orang yang dimaksud dalam capture tersebut (Mita Diran a.k.a @mitdoq), tapi tiba-tiba teringat beberapa sahabat saya yang bekerja tak kenal waktu. Karena tuntutan pekerjaan tak jarang mereka hanya sempat istirahat selama beberapa jam dan harus segera siap/stand by untuk kembali bertugas atau menyelesaikan deadline.

Dulu, sewaktu saya masih belum berkeluarga, masih euforia-euforianya dengan pekerjaan, hampir sebagian besar waktu saya berikan untuk pekerjaan. Bahkan di waktu-waktu yang seharusnya saya luangkan bersama keluarga pun harus rela saya lepas demi menyelesaikan deadline. Kadang saya berpikir, kok saya seperti nggak punya kehidupan selain pekerjaan dan kantor, ya? Tapi seolah tidak punya pilihan lain, saya kembali tenggelam dengan kesibukan saya di kantor. Sempat juga saya mengeles, “ya nanti kalau sudah berkeluarga kan konsentrasinya bakal beda, nggak ke pekerjaan lagi. Sekarang mumpung masih single, gapapa kali…”

Nah, apakah setelah menikah saya terlepas begitu saja dengan tugas dan deadline? Tidak juga. Bahkan ketika saya cuti pun, cuma fisik saya saja yang (sepertinya) cuti; secara fisik saya di Surabaya, tapi pikiran saya ada di Jakarta. Bagaimana mau merasakan cuti kalau saya masih terima telpon, masih kirim dan terima email, masih mengecek pekerjaan anak buah (walau telpon/sms hanya untuk sekadar mengecek kondisi di lapangan, ada kesulitan/nggak). Bisa saja sih saya matikan HP dan email selama cuti. Tapi nyatanya tidak bisa semudah itu karena ada tuntutan tanggung jawab disana. Di saat itulah saya mulai merasa seperti diperbudak oleh pekerjaan dan deadline.

Bahkan ketika saya sudah beralih status menjadi PNS pun kesibukan itu masih ada. Bedanya, kesibukan saya waktu itu lebih ke kegiatan komunitas. Hampir setiap akhir pekan ada saja jadwal kegiatan di sana-sini. Bahkan di sela-sela jam kerja atau pulang kerja pun saya ada jadwal meeting. Akibatnya, tubuh saya jadi mudah drop. Apalagi saya bukan orang yang sering berolah raga untuk menjaga kebugaran tubuh. Badan saya pun menjadi rentan sakit, sering kena flu, radang, demam, dan sebangsanya.

Sama seperti kasus Mita Diran, salah satu rekan kerja suami di tempat kerjanya yang dulu juga bernasib sama. Kerja di sebuah perusahaan kontraktor membuatnya tidak lagi kenal waktu. Demi terselesaikannya target pekerjan sesuai dengan jadwal dia relakan fisiknya bekerja ekstra keras. Rasa capek luar biasa yang mendera tubuhnya tidak lagi dirasakannya, kurangnya waktu istirahat, jadwal makan yang tidak teratur, konsumsi kopi, rokok, dan suplemen penambah stamina yang berlebihan demi ‘menjaga’ agar fisiknya tetap fit dan terjaga, membuatnya harus dirawat di RS sebelum menghembuskan nafas yang terakhir di sana.

Kita itu manusia, bukan robot atau mesin. Bahkan robot/mesin saja punya waktu/jadwal untuk maintenance, kenapa tubuh enggak? Tubuh juga punya alarm yang akan memperingatkan kita ketika dia butuh istirahat. Tapi yang ada seringkali justru manusianya yang bandel, mengabaikan peringatan itu dengan alasan, “kalau nggak diselesaikan sekarang keburu kerjaan yang lain datang dan numpuk-numpuk”, atau iya, bentar lagi, nanggung nih…. Capek yang seharusnya dibawa istirahat justru menjadi pemicu untuk menggunakan obat/suplemen penambah stamina. Baru sadar kalau ternyata tubuh punya batas ketika sudah ambruk, terbaring di rumah sakit :(.

Kalau kata Nick Deligiannis :

“Remember, a professional is a person who never allowed himself to dissolve in the job and no longer have time for personal life”

Buat yang masih suka bekerja tak kenal waktu, know your limit. Love and listen to your body.

 

[devieriana]

Continue Reading

Pickpocket

pickpocketSejak akhir bulan kemarin saya harus belajar melupakan dan mengikhlaskan kepergian smartphone saya gara-gara kecopetan di bus sepulang dari diklat beberapa waktu yang lalu. Iya, smartphone yang sudah menemani saya selama kurang lebih 4 tahun ini mendadak raib dari dalam tas. Pffft, padahal sepertinya tingkat kewaspadaan saya sudah lumayan tinggi, tapi mungkin tingkat kelihaian para pencopet untuk menjarah isi tas saya jauh lebih tinggi.

Sore itu bertepatan dengan hari terakhir saya menjalani kegiatan di Pusdiklat Setneg. Dengan langkah cepat dan tergopoh-gopoh menghindari guyuran hujan yang semakin deras, saya bersama seorang teman protokol dari Setwapres langsung menaiki salah satu metromini yang biasa kami naiki dan kebetulan sedang mengetem di pojok perempatan Fatmawati. Sebagian besar bangkunya masih kosong, tapi kami terpaksa duduk di tempat yang terpisah karena kebanyakan sudah diduduki oleh penumpang yang menunggu sebelumnya.

Tak lama bus pun sudah dijejali penumpang. Saya mendekap tas ransel saya, waktu itu saya masih sempat mengirim pesan ke teman di seberang kursi, bilang kalau nanti bayarnya sendiri-sendiri saja, karena biasanya kami suka bergantian membayarkan. Setelah itu saya langsung memasukkan kembali HP ke dalam tas. Selama perjalanan saya juga dalam kesadaran penuh, tidak tertidur. Tapi mungkin keberadaan saya (dan beberapa penumpang lainnya) waktu itu sudah diincar, alhasil ketika turun saya sudah mendapati tas ransel saya resletingnya sudah terbuka di bagian atas dan samping. Beruntung dompet saya tidak ikut terjarah meskipun posisinya sudah mengkhawatirkan karena berada di salah satu kompartemen tas yang resletingnya terbuka tadi :cry:.

Yang saya rasakan saat itu perpaduan antara rasa cemas, sedih, panik, dan menyesal parah. Wajar, karena baru saja kehilangan barang yang sudah setia menemani selama 4 tahun terakhir ini, apalagi itu adalah kado ulang tahun dan saya tahu bagaimana kisah di balik itu, plus harus kehilangan semua kontak yang sudah terkumpul selama 4 tahun ini, sekaligus data-data lain yang belum sempat saya backup dan pindah ke hardisk. Tapi untuk mengharapkan smartphone saya kembali lagi kok rasanya hopeless juga, karena pastinya metromini dan pencopetnya itu entah sudah sampai di mana. Dan entah kenapa kecurigaan saya jatuh pada pria yang tadi duduk persis di belakang saya. Bukan menuduh, feeling saya bilang begitu karena sebelum saya turun dia ‘heboh’ pindah-pindah tempat duduk tanpa alasan yang jelas :|. Tapi, ya sudahlah, mungkin memang sudah waktunya harus ganti gadget yang baru *modus*.

Kemarin waktu meeting dengan teman-teman Indonesia Bercerita, mereka malah share tentang cerita-cerita lucu yang berhubungan dengan kecopetan dan kemalingan. Mungkin kalau menyaksikan atau mengalami sendiri di waktu itu belum tentu bisa sambil cekikikan menertawakan ‘tragedi’ yang dialami, ya. Tapi ketika kita sudah ikhlas dan cerita itu di-recapture ternyata bisa jadi hal yang lucu.

Seperti kisah seorang teman pria yang nyaris kehilangan HP di KRL. Iya, nyaris, karena setelah berdoa, dan dicari sedemikian rupa, HP yang sejak awal cuma disimpan di dalam saku celana sejak sebelum masuk KRL itu tiba-tiba ‘ditemukan’ terselip di sela kaki para penumpang KRL yang berseberangan arah dengan tempatnya berdiri, dan justru diinfokan oleh orang yang sebelumnya dia duga pencopet karena dari awal gerak-geriknya lumayan mencurigakan. Hmmm, agak suudzon sih, tapi kadang memang perlu demi meningkatkan kewaspadaan.

“Mas, HP-nya jatuh tuh, di sana, di bawah kursi…”

Lha iya, kok bisa-bisanya Mas itu tahu kalau itu HP milik si teman, dan kenapa jatuhnya jauh dari lokasi awal tempat si teman berdiri. HP ditemukan dalam kondisi ‘compang-camping’, baret sana-sini karena terinjak-injak penumpang lainnya. Tapi tak urung teman saya itu pun berterima kasih kepada Si Mas Misterius yang ‘menemukan’ HP-nya kembali. Doa orang teraniaya itu memang manjur.

Ada lagi kisah unik teman lainnya yang berhasil merebut kembali dompet dari tangan pencopet tanpa ada perlawanan samasekali dari Si Pencopetnya. Lucunya Si Pencopet malah terbengong-bengong, seolah baru sadar kalau barang jarahannya sudah diambil kembali oleh korbannya :lol:.

Tapi ada juga cerita lainnya. Ada seorang teman yang sadar kalau dia habis kecopetan langsung menangis tersedu-sedu. Bukan karena dompetnya yang hilang, tapi gara-gara tasnya yang berharga sekian juta itu menjadi korban usaha penyiletan para pencopet. Aduh, lagian kenapa harus pakai tas mahal-mahal sih kalau ‘cuma’ naik angkutan umum? 🙁 *simpan tasnya Angel Lelga ke lemari besi*

Namanya musibah/pencurian itu ada saja jalannya, ya? Kita yang sudah berhati-hati masih bisa lengah dan kecolongan. Kejadian kemarin benar-benar menjadi pelajaran berharga buat saya untuk lebih meningkatkan kewaspadaan selama di angkutan/tempat umum, melakukan backup data di HP secara berkala, dan menyimpan barang-barang yang dianggap penting/berharga di bagian tas yang lebih aman dan terlindungi. Semoga kejadian ini tidak terjadi lagi di kemudian hari.

Setelah melakukan blokir sana-sini dan pergantian berbagai macam passwor dan simcard, sekarang saya pakai handphone zaman Patih Gajahmada masih berkuasa. Ya sudahlah, yang penting bisa dipakai untuk sms/telepon. Walaupun diledek teman-teman, apalagi kalau sedang terima telepon,

“Lho, handphone-nya bisa bunyi tho?”

atau

“Ih, itu kan handphone zaman purbakala banget, sebangsa menhir, dolmen, pepunden berundak, sama artefak gitu, Kak”

HIH! Lebay memang. Padahal ya masih merk yang sama dengan smartphone saya sebelumnya walaupun tipenya agak down grade. Tetap bersyukur karena masih ada yang mau meminjamkan gadget ini biar saya tetap bisa dihubungi via sms/telepon.
*elus dada dengan tabah*
*dadanya mas-mas ganteng*

Ngomong-ngomong, nggak ada yang berencana urunan buat beliin saya gadget baru, apa?
:mrgreen:

 

[devieriana]

 

ilustrasi dipinjam dari sini

Continue Reading

Balada Panitia CPNS (2)

job interview 1

Seperti tahun-tahun sebelumnya, tahun ini, instansi tempat saya bekerja juga membuka kesempatan bagi siapa saja yang ingin menjadi PNS. Sama seperti tahun-tahun sebelumnya, seleksi penerimaannya dilakukan secara online, jadi semua calon pelamar memasukkan berkas lamarannya melalui web.

Dari sekian ribu berkas lamaran yang masuk tentu saja tidak semua lolos seleksi. Ada banyak berkas lamaran yang kurang memenuhi syarat. Seperti misalnya pelamar yang sengaja memasukkan berkas lamaran padahal IPK yang dimiliki kurang memenuhi syarat. Atau, ada yang sengaja memanipulasi usia supaya memenuhi syarat; padahal usia yang diperbolehkan untuk melamar adalah 26-30 tahun, atau minimal sudah lulus D-3 sampai S-2. Di sinilah ketelitian panitia diuji. Bukan sekadar percaya dengan apa yang diinput pelamar tapi juga harus meneliti kesesuaian usia yang diinput dengan berkas lainnya. Hal lain yang menyebabkan tidak lolosnya pelamar di seleksi administrasi adalah akreditasi universitas yang tidak sesuai dengan yang dipersyaratkan yaitu A/B. Ada lho yang status akreditasi universitasnya kedaluwarsa selang beberapa hari sebelum mahasiswa itu wisuda. Duh, sayang banget… :(. Andai saja dia lulus sebelum status akreditasinya kedaluwarsa, itu masih bisa kami pertimbangkan untuk lolos seleksi. Nah, ini juga bisa jadi catatan khusus bagi universitas-universitas yang status akreditasinya belum diperpanjang padahal kedaluwarsanya sudah lama. Nggak kasihan sama mahasiswanya? Hal lainnya yang membuat tidak lolosnya calon pelamar di seleksi administrasi adalah jurusan yang dilamar tidak sesuai dengan latar belakang pendidikan, misalnya: yang dilamar posisi Sekretaris, tapi latar belakang pendidikannya adalah seorang lulusan Tata Boga 🙁

Kalau di tahun sebelumnya Tes Kemampuan Dasar dilakukan secara tertulis dan serentak di seluruh Indonesia, tahun ini Kementerian PAN dan RB memberikan dua opsi tes: manual dan Computer Asissted Test. Instansi tempat saya bekerja memilih untuk menggunakan opsi kedua. Penyelenggaraan tesnya dilakukan pada tanggal 16 – 18 Oktober 2013 di Gedung CAT lantai I, Badan Kepegawaian Negara. Sistem ini menurut saya lebih transparan, karena seluruh peserta langsung bisa mengetahui berapa skor yang diperoleh secara real time di mana seluruh pergerakan nilainya ditampilkan melalui layar besar yang diletakkan di depan pintu masuk gedung tempat tes berlangsung.

Selama kurang lebih setengah bulan menunggu, akhirnya para peserta yang diumumkan lolos TKD berhak mengikuti tahap selanjutnya yaitu Tes Kompetensi Bidang dan wawancara substansi. Khusus untuk sesi wawancara substansi, selama 2 tahun berturut-turut saya selalu kebagian mendampingi para peserta wawancara di Gedung Utama. Tapi tahun ini cukup mengesankan buat saya. Karena selain wawancaranya berlangsung sehari penuh, bahkan di hari pertama interview berlangsung hingga pukul 8 malam, selain itu durasi wawancara untuk masing-masing peserta lumayan lama; minimal 35 menit, maksimal 1 jam. Pffiuh! *usap peluh*

Kalau pewawancara di ruangan lainnya semakin sore staminanya (mungkin) semakin menurun dan tingkat kekritisan pertanyaan substansinya juga sudah tidak setajam di jam-jam awal, kalau di Gedung Utama justru sebaliknya; semakin sore/malam para pewawancara (yang salah satunya adalah Pak Sekretaris Kementerian) malah semakin on fire, durasi wawancaranya semakin lama, terbukti ada yang diwawancara hingga 1 jam lamanya. Kalau saja saya tidak sempat ngobrol dengan mereka di ruang tunggu, saya tidak akan tahu kalau peserta terakhir sesi wawancara hari pertama itu harus pulang ke Yogyakarta malam itu juga. Demi menyelamatkan tiket kereta yang sudah dibeli itu, saya mengirim pesan ke atasan saya untuk mengingatkan para pewawancara itu supaya tidak mewawancara mereka terlalu lama, karena peserta terakhir adalah seorang perempuan yang harus pulang ke Yogyakarta naik kereta api pukul 21.00 wib. Alhamdulillah berhasil! 😀 Psst, sebenarnya sih ini bukan cuma buat mereka saja, buat saya juga kali, karena malam itu panitia CPNS yang tersisa di kantor tinggal saya dan dua orang teman saja… 😥

Keunikan lainnya ada di hari kedua sesi wawancara di Gedung Utama. Kalau di hari sebelumnya wawancara berlangsung hingga malam hari, hari kedua alhamdulillah selesai hingga pukul 15.30 wib saja. Itu juga ‘terselamatkan’ oleh jadwal rapat; kalau tidak ada jadwal rapat mungkin bisa lebih dari itu. Bedanya lagi, kalau di hari sebelumnya jumlah pewawancaranya ‘cuma’ 5 orang, di hari kedua jumlah pewawancaranya menjadi 7-8 orang. Kalah ya sidang skripsi/thesis? :D. Kesamaannya, tingkat semangatnya sama dengan hari sebelumnya, durasinya juga masih sama, dan pertanyaan yang bersifat jebakan juga banyak :D.

Nah, ada yang lucu nih. Untuk mencairkan ketegangan para peserta yang masih menunggu giliran di ruang tamu Sesmen, saya masuk ruangan menemani mereka untuk sekadar mengobrol ringan. Tak disangka, di sela obrolan itu tiba-tiba ada yang bilang begini:

“Mbak, aku tuh silent reader blognya Mbak :D”

Mendadak speechless. Bukan GR atau apa, baru kali ini saya bertemu dengan orang di luar komunitas blogger yang pernah saya temui, yang ternyata mengikuti dan membaca blog saya.

“Hah? Kok kamu sampai tahu blog aku segala? :-o”

“Iya, aku sering blog walking, trus kesasar ke blognya Mbak. Mbak namanya Mbak Devi Eriana, kan? Blog Mbak alamatnya devieriana.com, kan?

 

Hahahahaha, saya jadi terharu :lol:. Ih, bisa gitu, ya? Ternyata mereka memang suka blog walking, dan ndilalah ternyata salah satunya adalah blog saya. Apalagi sejak mereka memutuskan untuk mengikuti tes CPNS di tempat saya bekerja. Mungkin mereka berharap menemukan sedikit clue seperti apa sih lingkungan tempat saya bekerja itu, siapa tahu di blog ini mereka menemukan tips dan trik ikut seleksi CPNS. Padahal… nggak ada… :mrgreen:

Kalau soal blog sih saya ambil sisi positifnya sajalah ya, kalau memang isi blog ini ada yang berguna buat orang lain ya alhamdulillah, tapi kalau nggak ya nggak apa-apa. Lha wong memang tujuan utama menulis di sini juga cuma untuk menulis tentang hal-hal keseharian dan sebagai sarana rekreasi buat saya saja kok 😀

Buat adik-adik yang kemarin ikut proses seleksi CPNS di instansi tempat saya bekerja, kalau ternyata pekerjaan yang kalian lamar ini ternyata berjodoh dengan kalian, semoga semua dilancarkan ya. Tapi kalau memang belum berjodoh tahun ini kalian bisa coba lagi tahun depan selama usia kalian masih memenuhi syarat. Atau siapa tahu sebenarnya ada pekerjaan lain yang jauh lebih baik buat kalian di luar sana. Who knows, kan? 😉

Have a good luck! 😉

 

[devieriana]

 

ilustrasi dipinjam dari sini

Continue Reading

Menulis saja…

shakespeare-blog-cartoon

Jujur, saya sering iri melihat teman-teman yang punya banyak kegiatan, punya banyak pengalaman yang berhubungan dengan banyak orang, punya pengalaman mengelola sebuah kegiatan, teman yang sering bepergian ke dalam negeri atau ke luar negeri entah itu untuk berlibur atau dalam rangka dinas. Hmm, sudah se-desperate itukah hidup saya sampai saya harus iri dengan kehidupan orang lain? Hehehe, bukan begitu.

Saya punya beberapa teman pramugari yang sering berbagi foto dan ceritanya di group whatsap/bbm. Foto-foto ketika dia singgah di sebuah kota/negara, ketika dia berkesempatan mampir di sebuah tempat tertentu, foto ketika dia menikmati suasana/makanan khas daerah yang disinggahi itu, menceritakan segala excitement sekaligus kekesalan yang dia rasakan pada kami. Intinya cerita tentang apapun. Nah, irinya saya bukan karena kenapa saya tidak jadi pramugari, tapi iri karena dia sebenarnya punya banyak cerita yang bisa ditulis di blog baik itu dalam bentuk foto atau tulisan, daripada cuma di-share di whatsap/bbm dengan kami. Pengalamannya pergi ke banyak negara dan berbagai kota/benua, bertemu dengan banyak orang, merasakan perubahan suasana dari satu tempat ke tempat yang lain, menikmati berbagai suguhan khas di sebuah kota/negara, merupakan sebuah pengalaman yang tidak semua orang berkesempatan mengalami.

Saya juga punya teman-teman yang sering terlibat dalam penyiapan sebuah acara/forum kegiatan internasional yang melibatkan para pemimpin negara. Buat saya itu juga menarik untuk diabadikan dalam sebuah tulisan, karena tidak semua orang bisa punya kesempatan mengelola sebuah kegiatan tingkat internasional, tidak semua bisa merasakan adrenaline rush ketika detik-detik penyelenggaraan acara sudah semakin dekat, tidak semua bisa merasakan bagaimana pusingnya mereka ketika ada masalah di lapangan dan bagaimana mereka harus segera mengambil keputusan supaya acara kembali berjalan normal.

Sebenarnya ada banyak topik yang bisa menjadi bahan tulisan di blog. Tidak harus berawal dengan kejadian-kejadian besar yang epic. Banyak hal sederhana dari keseharian kita pun bisa dijadikan tulisan di blog. Cuma kadang saya yang sering kurang peka menangkap sebuah ide untuk dijadikan topik tulisan, dan lebih sering beralasan, nantilah, belum ada ide nulis, nih. Sayangnya teman-teman saya yang punya banyak kejadian menarik tadi juga belum tertarik untuk mengabadikan semua kegiatannya itu ke dalam bentuk tulisan dengan alasan tidak ada waktu, sibuk, ribet, dan alasan aku nggak tahu harus mulai menulis dari mana.

Seperti halnya usia manusia yang punya batas, usia profesi pun ada batasnya. Kita tidak selamanya akan berada di posisi yang sama dan mengerjakan pekerjaan yang sama, ada saatnya kita mungkin berpindah tempat kerja, menjalani pekerjaan yang berbeda dengan sebelumnya, dan mengalami hal-hal baru lainnya. IMHO, sebuah blog/photoblog bisa jadi sarana untuk mendokumentasikan semua kegiatan kelak ketika kita sudah tidak lagi aktif terlibat dalam pekerjaan/kegiatan itu.

Sama seperti seorang teman yang mendokumentasikan semua proses hidupnya sejak dia masih single, menikah, hamil. detik-detik melahirkan, hingga akhirnya sekarang Si Kecil sudah bisa berlarian ke sana ke mari. Semua sengaja direkam rapi olehnya dalam bentuk tulisan. Alasannya:

Aku kan bukan public figur yang otobiografinya bisa dibaca oleh siapa saja, Devi. Salah satu tujuanku nulis di blog ya biar aku punya dokumentasi hidup. Biar nanti kalau anak-anakku sudah gede, sudah bisa baca, mereka bisa lebih tahu/kenal ibunya lewat blog. Mereka bisa baca gimana kehidupan ibunya sebelum mereka ada. Gimana kehidupan setelah kedua orang tua mereka menikah. Gimana kehidupan setelah mereka ada, dan apa saja perubahannya. Sederhana saja, aku pengen punya biografi online yang bisa dibaca sama anak-anakku kelak. Syukur-syukur kalau ternyata ada topik yang berguna buat pembaca yang lain. Itu juga kalau ada, hehehe…

Sama seperti dia, awal mula saya menulis di blog selain ingin menyalurkan kelebihan energi dan ide yang sering berlompatan di kepala, alasan lainnya karena ingin punya dokumentasi tentang apa yang terjadi di hidup saya, kegiatan apa saja yang pernah saya lakukan, dan apa saja yang pernah saya pikirkan di suatu waktu. Walaupun tidak semua hal sempat saya ingat dan bisa langsung saya tuangkan dalam bentuk tulisan, tapi inti mengapa saya menulis di blog adalah karena waktu tidak bisa ditarik ke belakang, dan otak punya kapasitas memori yang terbatas untuk menyimpan dan mengingat semua hal.

Ada juga yang menarik dari hasil ngobrol dengan seorang teman dalam perjalanan pulang beberapa hari yang lalu,

Mbak, aku tuh sering baca blog kamu, dan tahu nggak, itu bikin aku menyesal. Menyesal kenapa aku nggak nulis sejak dulu. Ada banyak kejadian luar biasa dalam hidupku beberapa waktu ini baik dari segi pekerjaan atau pribadi. Tapi aku lebih sering melewatkan itu karena bingung sendiri, aku harus menulis topik yang mana dulu? Gimana cara mengawalinya? Lagi pula kejadiannya sudah terlanjur terlewat jauh.

Tidak ada kata terlambat asalkan kita mau. Kalau mau memulai menulis ya sudah menulis saja. Topik yang mana dulu? Ya mana saja yang paling diingat. Tidak ada aturan yang mengharuskan seseorang menulis di blog itu harus begini/begitu. Tidak ada peraturan yang mewajibkan sebuah postingan di blog itu reverse atau chronological. Mau menulis saat itu juga dan langsung di-publish, silakan. Atau mau di-back date biar tulisannya terkesan aktual sesuai dengan waktu kejadian? Monggo. Atau kalau sedang banyak ide dan ingin disimpan dulu untuk di-publish nanti (scheduled post)? Tidak ada yang melarang kok. Bebas!

And by the way, everything in life is writable about if you have the outgoing guts to do it, and the imagination to improvise. The worst enemy to creativity is self-doubt.

Sylvia Plath

 

 

[devieriana]

 

Ilustrasi dipinjam dari sini

Continue Reading