It’s A Wrap!

Dalam hitungan jam kita akan segera meninggalkan tahun 2011 dan memasuki tahun 2012. Tentu sepanjang tahun 2011 ini sudah banyak catatan langkah yang sudah kita torehkan, ya. Nggak semuanya bagus sih, tapi nggak semuanya buruk, dong 😉

Seperti tahun sebelumnya di setiap akhir tahun selalu ada rangkuman kisah perjalanan selama satu tahun, tapi kali ini saya ingin bikin sedikit berbeda. Saya akan memilih postingan mana saja yang berkesan bagi saya selama 2011 ini. Here we go!

1. Dari hati
Ada 3 postingan yang benar-benar saya tulis dengan sepenuh hati. Tulisan yang menurut saya cukup emosional, ditulis dengan mengerahkan segenap rasa yang saya punya, sedikit menyentuh, saya nulisnya sambil berurai airmata, dan ternyata yang membaca pun ikut terbawa dalam level keharuan yang nyaris sama dengan saya.
1. Tulisan  untuk Papa saya http://www.devieriana.com/2011/12/unconditional-love/
2. Tulisan untuk Mama sayahttp://www.devieriana.com/2011/07/unspoken-love/
3. Kisah saya bersama anak-anak kurang mampu yang masih punya semangat belajar dan sekolah http://www.devieriana.com/2011/07/pencari-amal/

2. Current issue
Tulisan yang berhubungan dengan isu yang sedang hangat di timeline atau sedang hangat dibahas.
1. Kisah insiden dibalik syuting Kick Andy http://www.devieriana.com/2011/01/tulisanku-pikiranku-emosiku/
2. Ketika gelang yang berkhasiat itu ternyata tidak ada khasiatnya sama sekali 😀 http://www.devieriana.com/2011/01/power-balance-the-placebo-effect/
3. Ketika nilai-nilai kejujuran pelan-pelan menjadi artefak http://www.devieriana.com/2011/06/indonesiajujur-tip-of-an-iceberg/

3. Top post
Tulisan dengan hits paling banyak sepanjang tahun 2011, apalagi bertepatan dengan insiden becandaannya Olga dan ketika saya republish ternyata disebarluaskan oleh teman-teman di berbagai jejaring sosial.
http://www.devieriana.com/2011/05/rape-is-not-a-joke/

4. Favorit saya
Salah satu tulisan favorit saya tentang “mantan”, tentang masa lalu, tentang mengapa kita harus “move on” :p http://www.devieriana.com/2011/01/a-reason-a-season-or-a-lifetime/

5. Lomba:
Artikel tentang lomba yang saya ikuti di tahun 2011 dan hasilnya… Alhamdulillah… 🙂
1. Lomba mendongeng yang baru pertama kali saya ikuti itu http://www.devieriana.com/2011/05/kontes-podcast-itu/
2. Serangkaian kegiatan Lomba Desain Seragam Pramugari Citilink yang ditulis secara berseri mulai awal pembuatan desain, pengiriman desain, babak penyisihan, semi final, hingga grand final tanggal 7 November 2011 kemarin. Oh ya, sampai sekarang tiketnya belum saya pakai nih… ;))
http://www.devieriana.com/2011/09/kisah-dibalik-keisengan-itu/
http://www.devieriana.com/2011/11/one-step-closer/
http://www.devieriana.com/2011/11/the-final-result/

6. Lucu
Postingan-postingan yang bikin saya ketawa sendiri waktu nulis dan menjadi postingan terlucu sepanjang tahun 2011 (menurut saya).
1. Kisah ujian akhir semester anak kelas 1 SD http://www.devieriana.com/2011/12/ujian-akhir-semester/
2. Sebagian kecil cerita-cerita lucu di callcentre http://www.devieriana.com/2011/02/balada-callcentre-officer/

Nah, kayanya itu sih postingan-postingan yang berkesan sepanjang 2011. Semoga akan ada lebih banyak cerita berkesan yang bisa saya tuliskan di sepanjang tahun 2012 nanti.

Selamat tahun baru 2012! <:-P

 

 

[devieriana]

gambar pinjam dari festivalsadvices.com

Continue Reading

Selamat Natal, Kawan!

Perayaan Natal selalu membuat saya flashback kepada kenangan masa kecil dulu, ketika masih tinggal di Lawang, sebuah kota kecil di Kabupaten Malang. Tentang hubungan harmonis yang terjalin antara keluarga kami dengan murid-murid kolintangnya Papa. Entah, kok rasanya di jaman saya masih kecil dulu kehidupan beragama sepertinya jauh lebih tenang, harmonis, dan penuh toleransi, ya? Tidak seperti sekarang yang kayanya mau ibadah aja dibikin ribet. Belum lagi keamanan ketika menjalankan peribadatan yang belum jelas terjamin. Uniknya lagi hampir setiap tahun selalu ada ‘debat tahunan’ tentang halal/haramnya pemberian ucapan selamat Natal kepada pemeluk agama Nasrani. Trenyuh :|. Inikah negara yang katanya menjunjung tinggi azas kebebasan beragama itu? 🙁

Dulu, selain menjadi PNS, Papa mengisi waktu luangnya sebagai pengajar kolintang (alat musik tradisional asal Manado). Dulu memang Papa aktif di kegiatan bermusik, dan kebetulan bisa bermain kolintang, sehingga  Papa sering diminta mengajar di sana-sini. Murid Papa bermacam-macam,  ada ibu-ibu Dharma Wanita, dan jemaat di beberapa gereja.

Sangat menarik jika saya mencermati hubungan baik yang terjalin antara keluarga kami dengan para murid Papa, terutama dengan para jemaat gereja. Ketika kami merayakan lebaran, secara otomatis murid-murid Papa datang ke rumah untuk sekadar bersilaturahmi. Begitu juga ketika Natal tiba, biasanya selain acara utama di gereja mereka berkumpul di rumah salah satu anggota jemaat untuk sekadar kumpul bersama, dan Papa Mama pun biasanya diundang kesana (acara ini murni acara kumpul-kumpul, makan bersama, semacam acara silaturahmi). Sebagai bentuk penghormatan dan toleransi umat beragama Papa Mama pun hadir memenuhi undangan mereka.

Sebagai konsekuensi mengajar kolintang di gereja tentu saja Papa harus paham beberapa lagu gereja yang ingin mereka pelajari/mainkan. Papa juga tidak segan untuk tampil membantu mereka di atas panggung. Kalau sore, kadang saya suka ikut Papa ketika mengajar kolintang, ya walaupun akhirnya saya sibuk bermain sendiri dengan salah satu anak pengurus gereja. Namanya juga anak-anak 😀

Yang paling berkesan hingga saat ini adalah kebaikan sepasang suami isteri jemaat gereja bernama Pak Peter & Bu Peter, yang ternyata punya perhatian dan kepedulian yang tinggi dengan keluarga kami. Pernah suatu malam yang gerimis, seusai mereka berkonsultasi tentang perkolintangan menyambut Natal, tanpa sengaja Bu Peter mendengar adik bungsu saya —yang waktu itu masih kecil— batuk-batuk. Kebetulan adik saya memang sedang sakit flu batuk pilek. Sebenarnya sudah diberi obat pereda flu oleh Mama, tapi entah mengapa belum sembuh juga, kebetulan memang belum sempat ke dokter.

Tak lama setelah mereka berpamitan (kurang lebih setengah jam kemudian) ternyata mereka berdua kembali ke rumah kami dengan membawa obat flu untuk anak yang dikenal manjur di keluarga mereka. Terharu. Alhamdulillah, beberapa hari setelah mengonsumsi obat itu adik saya sembuh. Terharu, segitu perhatiannya, mereka bela-belain kembali ke rumah kami padahal sudah malam dan hujan, cuma untuk membelikan adik saya obat flu ala keluarga mereka. Saya yang waktu itu masih kecil pun sudah bisa merasakan betapa tulusnya hati mereka berdua.

Entah bagaimana kabar mereka berdua sekarang, karena memang sudah lama tidak pernah ada kontak lagi selepas Papa pensiun dan memilih untuk menetap di Sidoarjo.

Persembahan saya untuk teman-teman yang merayakan Natal, dari grup acapella asal Italia favorit saya Neri Per Caso , semoga berkenan 🙂

Semoga kelak kebebasan beragama bukan hanya sebagai slogan kosong dan retorika semata, namun nyata adanya…

“Selamat Natal, Kawan. Semoga kasih dan damai Natal senantiasa dilimpahkan di tengah keluarga kalian. Damai di bumi, damai di hati…”

[devieriana]

sumber gambar dari sini

Continue Reading

Ujian Akhir Semester

Pernah ketawa sendiri sampai diliatin orang-orang se-busway? Belum? Lha, kenapa belum? Saya sudah dong! *bangga*. Bukan. Bukan karena saya telat minum obat trus tiba-tiba kambuh di bus, tapi ini akibat iseng baca bbm group yang sedang membahas hasil UAS anaknya temen (namanya Kaka), dan itu bikin saya nggak mampu menahan tawa. Asli absurd! =)) . Ya kalau di tempat yang nggak banyak orang sih saya bisa aja ngakak dengan gagah berani. Lha kalo di bus? Diantara orang-orang yang sedang bergelantungan dan duduk pura-pura tidur, trus tiba-tiba saya ketawa sendiri aja, gitu? Lha apa nggak akan menimbulkan berjuta tanda tanya, “Mbak, mentalnya sehat, Mbak?”

Cerita si Kaka ini mengingatkan saya ke zaman masih awal-awal sekolah di SD. Ah ya, kita pasti nggak langsung pinter, dong. Waktu kecil pasti pernah menjawab soal ujian dengan jawaban yang absurd. Ya namanya juga masih belajaran, menyerap beberapa ilmu sekaligus dengan kapasitas otak yang baru tumbuh pasti menghasilkan dispute disana-sinilah. Contohnya nggak usah jauh-jauh, saya dan Si Kaka ini.

Coba yah, apa reaksi kalian kalau baca screen capture ini?

Kalau saya, selain bertanya-tanya juga ngakak tertahan sampai perut kaku. What the… KIPLI? Siapakah gerangan Si Kipli ini kok sampai (berani-beraninya) jadi nabi dan rosul yang terakhir? Nama lengkapnya Julkipli? 😕

Usut punya usut, Si Ayah akhirnya cerita:

“iya, ternyata anakku diajari lagu nama-nama nabi sama guru ngajinya. Ada Adam, Idris,….. dst sampai Zulkifli. Jadi ajarannya baru nyampe Zulkifli, belum sampai Muhammad. Dan kok ya pas yang didenger cuma Kipli-nya aja..”

Saya langsung ngakak nggak berhenti-berhenti. MWAHAHAHAHA! =))

Tenang, itu baru soal pertama. Di soal berikutnya, jawaban Si Kaka juga nggak kalah lucunya. Kali ini soal PKn. “Upacara pembakaran mayat di Bali disebut …..” Kaka pun menjawab pertanyaan itu dengan polos: “obong-obong”. Ayahnya pun komentar sambil tergelak, “woogh, cah gemblung!” . Saya lagi-lagi tak bisa menahan tawa. Lha, emangnya sampah kok diobong?  Tapi bener sih, obong itu kan bakar, ya? Obong-obong berarti bakar-bakar. Masuk logika ;))

Jawaban soal berikutnya pun tak kalah menakjubkan. Kali ini pertanyaannya adalah “Pembangunan harus dilakukan oleh …..” Dijawab oleh Kaka dengan mantap: “Bapak’e Suli. Suli teman kampung Kaka. Bapak’e kerja buruh bangunan…”. Kali ini Ayahnya mengelus dada, “owalah, anakku, anakku…”

Mantab, Nak! Pakai penjelasan pula! Seharusnya soalnya lebih dilengkapi lagi, “Pembangunan Balai RW di sebelah rumah dilakukan oleh…” Nah itu baru bener, oleh Bapaknya Suli yang tukang bangunan tadi. Ketika dikonfirmasi oleh ayahnya, Si Kaka masih bersikeras kalau jawabannya benar, dan menjawab pertanyaan Ayahnya itu dengan lugas dalam bahasa Jawa:

“Lho, bener Yah… Bapak’e Suli iku suka mbangun rumah, tiap hari melakukan pembangunan… Bu Sulem iku ancene (emang) nggak ngerti…”

Ya Tuhaaaan, saya ngakak sesorean di dalam bis nggak berhenti-berhenti. Tiga jawaban Kaka itu sukses membuat perut saya kaku lantaran menahan tawa. Tapi tenang Ka, kamu nggak sendiri. Tante dulu waktu SD juga gitu, kok \m/

Waktu SD dulu ada soal ulangan Bahasa Indonesia, semacam soal cerita, gitu. Ceritanya tentang liburan di rumah Paman dan Bibi yang tinggal di desa. Paman dan Bibi punya peternakan kuda. Nah, ketika tiba pada pertanyaan berikut ini saya mendadak bingung. “Paman adalah suami …”. Saya jawab aja kuda. Asli saya nggak tahu silsilah suami isteri itu apa. Suami itu artinya apa, isteri itu artinya apa. Lagian ada ilustrasi gambar kuda yang sedang mengangkat kedua kaki depannya. Saya mikirnya suami isteri itu semacam istilah untuk binatang peliharaan, gitu. Gemblung, ya? X_X

Papa yang melihat hasil ulangan Bahasa Indonesia itu nggak mampu menahan tawa. Makanya kalau lihat ada kuda malah justru ngeledekin saya, “tuh, isterinya Paman lewat tuuuh…”  😐

Pun ketika menjawab pertanyaan apa nama baju tradisional Ujungpandang (sekarang Makassar), saya jawab baju goblok. Kan bodo(h) itu sama aja goblok. Haduuuh, nista sekali sih daya nalar saya waktu SD :((. Bodo dan bodoh itu beda jauh… *puk-puk diri sendiri*

Kalau diingat-ingat lagi, waktu kecil aja saya sudah absurd begitu, makanya pas sudah gede absurd-nya sudah level advance, tinggal nyari sertifikasi aja, nih ;))

Buat Kaka, kamu cerdas, Nak. Daya nalarmu jalan. Terus belajar ya, Sayang. Biar makin pinter :-*

Kalau kalian punya cerita apa tentang masa kecil kalian? Absurd jugakah? Monggo lho kalau mau di-share 😉

 

 

[devieriana]

sumber gambar asli dari Ayahnya Kaka 😀

Continue Reading

Unconditional Love

“A mother’s love is instinctual, unconditional, and forever…”
– Unknown –

Beberapa hari yang lalu sebenarnya saya di-mention untuk ikut #Edustory di twitter. Kebetulan temanya adalah kisah yang paling berkesan tentang Ibu. Tapi berhubung saya kelupaan dan baru bergabung ketika waktu untuk #Edustory tinggal 15 menit, maka saya hanya sempat share sedikit sekali tentang cerita masa kecil dengan Mama. Nah, baru hari ini, tepat tanggal 22 Desember (terlepas dari peringatan Hari Ibu yang salah kaprah), seperti janji saya di twitter kemarin, saya akan berbagi cerita tentang Mama, sebagai penyeimbang tulisan tentang Papa beberapa waktu yang lalu. Mama adalah sosok yang paling menginspirasi dalam kehidupan saya.

Boleh dibilang yang paling dominan dalam mendidik dan mengasuh kami bertiga adalah Mama. Bukan bermaksud mengesampingkan peran Papa di dalam kehidupan kami, tapi Papa sebagai kepala rumah tangga sudah menjalankan tupoksi (tugas pokok dan fungsi) tersendiri yang juga menyeimbangkan kehidupan keluarga kami.

Mama sendiri adalah sebuah pribadi dengan kombinasi yang unik. Sosok ibu yang cerewet, tegas, disiplin, keras kepala, kadang absurd, namun pengasih, konsisten, dan luwes bergaul dengan siapa saja (bahkan selalu ingat siapa saja nama teman-teman kami). Beliau bisa berperan ganda dalam keluarga, sebagai ibu, isteri, sekaligus sahabat untuk anak-anaknya. Kami bisa cerita tentang apapun dengan beliau. Mama adalah pendengar yang luar biasa untuk setiap cerita yang kami ceritakan. Ketika sedih Mama akan ikut sedih bersama kami. Ketika kami bahagia Mama juga akan ikut bahagia bersama kami. Bahkan ketika kami bercerita tentang hal yang konyol sekali pun Mama tak segan untuk ikut absurd bersama kami. Mama kami memang sosok yang istimewa. Seistimewa setiap masakan yang takaran dan rasanya selalu pas! 😉

Waktu kecil, saya dan adik perempuan saya, selalu dijadikan ‘kelinci percobaan’ untuk dandanan anak-anak, mulai rambut, baju, sampai sepatu (mungkin karena anak perempuan, jadi lebih mudah memodifikasi dandanannya ;))). Waktu SD kami berdua juga diwajibkan ikut ekstra kurikuler tari Jawa klasik. Kebetulan dulu Mama adalah seorang penari Jawa klasik yang bergabung dalam Sanggar Tari Wilwatikta, jadi harapan Mama salah satu dari kami berdua ada yang menuruni bakat beliau. Terlepas dari itu menurut Mama menari akan mengasah kepekaan diri, keluwesan, dan membentuk gesture tubuh yang baik (tidak membungkuk).

Dulu sempat berpikir juga, ngapain sih Mama ‘memaksa’ ikut ekskul tari? Tapi lama-lama akhirnya pertanyaan itu terjawab seiring waktu. Ekskul tarilah yang membuat saya sering mendapat tawaran menari dan menjadi wakil sekolah dalam beberapa pagelaran lomba tari tunggal, berpasangan, maupun sendratari. Dari tarilah saya mengenal hobby yang saya jalani dengan hati. Ke mana pun saya pentas, Mama hampir tak pernah absen mendampingi saya. Thanks to Mama >:D<

Kalau untuk “pemaksaan” ekskul ke adik bungsu saya yang laki-laki sepertinya tidak terjadi. Karena toh akhirnya dia bisa menemukan bakat dan minatnya sendiri di bidang fotografi. Mama bukan hanya sebatas peduli dengan pendidikan kami, tapi juga sangat mengikuti perkembangan hasil studi kami mulai dari SD hingga kuliah. Sering memotivasi dengan hadiah-hadiah kecil sebagai hadiah atas pencapaian kami. Walaupun lama-kelamaan kamilah yang akhirnya secara sadar memperjuangkan nilai-nilai kami sendiri karena ingin membuat Papa-Mama bangga.

Kami juga sempat mengalami masa-masa menyedihkan ketika Mama sering pingsan dan pusing berkepanjangan selama sebulan lebih (sebenarnya memang sakit yang sudah lama diderita oleh Mama karena ada syaraf di kepala yang terganggu, biasanya akan kambuh kalau terlalu capek, berpikir berat/sedih). Sementara kami & Papa amat sangat tergantung sama Mama :(. Ketika masa pemulihan ternyata Mama mengalami vertigo, Mama jadi sering hilang keseimbangan. Seringkali ketika kami pulang sekolah menjumpai Mama tertidur dengan lutut dan kaki yang lecet-lecet atau memar kebiruan karena terjatuh akibat memaksakan diri membersihkan rumah atau pergi ke pasar padahal kondisinya masih belum pulih. Kalau kami tegur jawabannya begini,

“ya kalau Mama nggak ke pasar, trus nggak masak, nanti kalian makan apa?”
 Ya Tuhan , bahkan di saat sakit pun Mama masih memikirkan kami 🙁

Puncaknya adalah ketika Mama harus rela melepas adik perempuan saya menikah dan tinggal bersama suaminya di Jakarta, Mama bukan hanya sedih, tapi sampai nangis sesenggukan. Waktu perpisahan dengan saya dulu Mama juga sedih, tapi nggak sampai sesedih ini. Mungkin sekarang baru terasa kalau anak-anaknya ternyata sudah pada dewasa, sudah mulai punya kehidupan masing-masing, dan pasti si bungsu juga akan segera menyusul kalau sudah ketemu jodohnya.

Seringkali pagi-pagi beliau mengirim sebuah pesan singkat berisi, “Mama sayang kamu…” atau “Selamat bekerja ya, Sayang. Mama kangen sama kamu…” dan itu sudah cukup membuat airmata saya menggenang :((

Iya, aku juga kangen, aku juga sayang sama Mama…. :-s

“Ya Allah, semoga Engkau masih memberikan kesempatan kepada kami untuk memberikan yang terbaik dan membahagiakan kedua orangtua kami… Aamiin…”
 

[devieriana]

 

Ilustrasi gambar dipinjam dari sini

Continue Reading

Surprise!

Siapa sih yang nggak suka kalau dikasih surprise apalagi di saat spesial dan dilakukan oleh orang-orang yang spesial pula. Ah, saya juga mau, apalagi kalau pas ulang tahun.

Tapi apa jadinya ketika kita berulang tahun justru dapat kejutan yang bikin  jantungan, paranoid, atau hal-hal yang sama sekali tidak kita sukai? Menikmati surprise-nya? I don’t think so deh kayanya. Nah, pasti semua sudah tahu kemana arah pembicaraan saya kan? ;)) Iya, ke arah Tragedi Suster Ngesot yang sedang marak dibicarakan di berbagai media itu 😉

Mungkin buat sebagian orang, hari-hari spesial orang-orang terdekat itu harus dirayakan dengan cara yang “spesial” pula. Ok, saya setuju. Toh, nggak setiap hari ini, kan? Tapi apa iya harus dilakukan dengan cara yang menakutkan dan membahayakan orang lain atau diri sendiri? Kalau menurut saya pribadi sih kok nggak bijak, ya? 😕 Sama halnya dengan memaksa orang lain untuk melakukan kegiatan yang tidak mereka sukai/menakutkan (seperti yang sering dilakukan oleh salah satu stasiun televisi kalau sedang mem-bully host di salah satu acara). Sebenernya sih suka nggak tega aja ngeliatnya. Padahal kalau kondisinya dibalik, belum tentu yang ikut mengerjai itu juga mau menjalani hal yang sama, lho 😐

Bersyukur selama ini —ketika ultah— kejutan yang diberikan oleh teman-teman dan keluarga masih berupa kejutan yang wajar dan manis. Kalau soal dijutekin, dicuekin, atau dibikin nangis saat ultah, itu sih sudah biasa, tanpa itu pun saya sudah pasti mewek kok tiap ulang tahun :-s

Dua tahun ini saya mengalami ulang tahun yang sangat berkesan. Jauh dari kesan seram, malah lucu dan terharu. Ulang tahun yang paling berkesan ya waktu bersamaan dengan prajabatan. Begitu masuk kelas, widyaiswara langsung mengajak kami menyanyikan lagu Happy Birthday, dan itu bikin saya sukses berkaca-kaca. Jadi teringat juga bagaimana saya mengendus kesibukan teman-teman yang diam-diam mempersiapkan ulang tahun saya, mengamati bagaimana cara mereka menghilang satu persatu dari ruang makan dan kamar, sengaja meninggalkan saya sendiri, dan ketika tiba-tiba mereka sudah berkumpul di depan kamar sambil membawa beberapa kardus isi pizza, memahkotai saya dengan balon. Unyu! ;;) Itu asli lucu dan spontan bikin saya nangis dong, Sodara! Belum lagi ditambah ketika saya harus berantem dan dibikin nangis sama hubby hanya perkara kemana harus pesan kue tart! Asli, nggak penting! #-o . Oh ya, saya wajib waspada kalau lagi ulang tahun, karena pasti akan ada settingan-settingan aneh gitulah.

Tapi justru kejadian-kejadian lucu seperti itu yang akan terus teringat. Surprise yang menyeramkan juga akan tetap teringat sih, tapi bikin paranoid. Ya gimana nggak bakal sontak jejeritan kalau pas mau naik/turun lift, pintu terbuka dan tiba-tiba ada penampakan makhluk menyeramkan di depan kita? Iya kalau kita dalam kondisi sehat jasmani dan rohani, lha kalau nggak? Apa nggak tambah panjang urusannya? :-q

Nah, jadi pengen cerita deh. Waktu saya ulang tahun dan bersamaan dengan prajabatan, itu kebetulan di tempat yang ambience-nya memang horor, di Pusdiklat BPS, daerah Lenteng Agung. Namanya pusdiklat dengan banyak ruang kelas dan kamar begitu pastinya kan nggak setiap hari ada orang diklat, istilahnya nggak “bau manusia”. Kalau malam auranya spooky banget, banyak lampu yang sengaja dimatikan, dan hanya dinyalakan di tempat-tempat tertentu dimana kami sering lalu lalang, itu juga nggak semua lampu neon. Bahkan ada teman saya yang indigo sempat melihat penampakan dan tidak lama kemudian kerasukan. Kejadian itu sumpah, horor banget! Gimana nggak horor kalau jatuhnya si teman dan adegan melotot-melotot sambil nunjuk-nunjuk itu pas di depan pintu kamar saya, coba! ^X_X.  Kalau misal teman-teman saya tega sih bisa aja mereka memanfaatkan situasi kondisi pusdiklat yang sudah seram itu, tinggal menyamar menjadi sesuatu yang menyeramkan buat kejutan di ulang tahun saya. Tapi untung semua teman saya baik… ^:)^ *sujud syukur*

Mungkin tragedi suster ngesot di Bandung kemarin setidaknya bisa jadi pelajaran bagi semua pihak untuk nggak semena-mena memberikan kejutan pada teman, apalagi yang menyeramkan. Sebelum memberikan kejutan yang sedikit “heboh” dan “tidak wajar”, ada baiknya dipikir dulu masak-masak, jangan asal kasih surprise tanpa memikirkan aspek keamanan, supaya tidak ada lagi insiden tendang-tendang “hantu settingan” seperti kemarin.

Nah, ngomong-ngomong tentang surprise ulang tahun, kalian pernah dikasih surprise apa waktu ulang tahun? <:-P

[devieriana]

gambar pinjam dari google

Continue Reading