Fantasi Haute Couture ala Emily Cooper

Saat pertama kali memutuskan untuk marathon Emily in Paris, saya benar-benar tidak memasang ekspektasi tinggi. Niat saya sederhana, sekadar mencari tontonan saat makan siang atau selingan waktu santai yang bisa dinikmati tanpa harus mengernyitkan dahi lantaran harus membedah plot, apalagi menebak siapa tokoh antagonis di balik layarnya. Dan benar adanya, tak butuh waktu lama untuk jatuh hati pada komedi romantis ini. Sejak awal, visual Paris yang cerah dan fotogenik langsung menyihir mata, kita diajak menjajari langkah seorang perempuan usia 20-an dalam upaya menyesuaikan diri dengan budaya baru, sembari bertarung dengan pola kerja yang jauh berbeda dari asalnya, Amerika.

Namun, tentu saja keindahan yang kita konsumsi di layar ini menyimpan sebuah paradoks. Paris lewat mata Emily adalah versi ‘kartu pos’ yang sudah difilter sedemikian rupa, mengeliminasi realitas stasiun Metro yang sumpek, aroma kota yang tak selalu seharum parfum, hingga masalah tikus di taman-taman kota yang sengaja diluputkan dari bidikan kamera. Netflix menyajikan sebuah utopia yang dipoles habis-habisan. Sebuah ‘Paris Syndrome’ terbalik sengaja diciptakan untuk menjaga fantasi audiens global agar tetap utuh, sembari meredam kebisingan dan kekacauan metropolitan yang sesungguhnya.

Meski demikian, justru di situlah letak kekuatannya. Sebab, siapa yang bisa menolak pikat jalanan Paris yang penuh warna, hamparan bangunan Haussmann dengan balkon besi tempa yang ikonik, hingga deretan adibusana dari rumah mode ternama? Di balik segala ketidakrealistisannya, Emily in Paris menjadi comfort watch bagi banyak orang. Ia adalah pewaris takhta dari tradisi hiburan fashion-centric yang memang selalu kita cintai.

Pola serupa sangat terasa jika kita menengok kembali film-film ikonik seperti The Devil Wears Prada, Sex and the City, hingga Confessions of a Shopaholic. Dalam semesta sinematik ini, busana bukan semata atribut fisik, melainkan bahasa visual yang mempertegas ambisi dan kepribadian sang tokoh utama di tengah gemerlap metropolitan. Kemiripan ini kian nyata saat kita menyandingkannya dengan beberapa serial modern seperti Younger, Gossip Girl, atau The Bold Type. Semuanya berbagi DNA yang identik yaitu merayakan persahabatan perempuan, jatuh-bangun karier, dan keberanian mengekspresikan diri lewat mode.

Emily Cooper, yang dihidupkan dengan apik oleh Lily Collins, hadir sebagai personifikasi optimisme Amerika yang percaya diri, dan meyakini bahwa tak ada kebuntuan yang tak bisa diurai. Ia menjejakkan kaki di Paris sebagai eksekutif pemasaran Savoir dengan membawa pragmatisme Amerika yang kerap berbenturan dengan etos kerja lokal yang lebih santai. Menariknya, Emily memiliki ketahanan mental yang luar biasa. Ia tak mudah tersinggung meski atmosfer kantor cenderung dingin dan sinis. Namun, di saat yang sama, karakter ini tampak memiliki plot armor yang terlalu tebal. Keberuntungannya nyaris tanpa batas, ide-ide instannya selalu diterima klien secara aklamasi tanpa perlawanan berarti. Menyaksikan sepak terjangnya di sepanjang serial, saya sering kali bertanya-tanya; di tengah realitas dunia kerja yang kompetitif ini, memang ada ya profesional yang memiliki garis nasib seutopis dan semulus Emily? Jujur saja, kalau ada lowongan pekerjaan dengan keberuntungan setingkat Emily, saya pasti sudah berdiri di antrean paling depan!

Lalu, mari kita tengok urusan asmaranya yang fenomenal itu. Dalam semesta yang ia huni, Emily memegang privilese mutlak untuk menaklukkan atensi barisan pria rupawan. Sebuah fenomena yang rasanya sungguh sulit diterima akal sehat. Emily adalah perpaduan antara paras jelita, modis, dan smart. Dan sda semacam konvensi visual di layar kaca, protagonis yang menawan memang idealnya bersanding dengan pasangan yang sepadan agar estetika bingkainya tidak timpang. Kita semua tentu memuja keselarasan visual semacam itu, bukan? Jadi memang antara Emily dan lawan-lawan mainnya itu sengaja dipasangkan untuk memenuhi definisi eye candy yang maksimal. Sebab, dalam bingkai layar kaca, kesempurnaan visual adalah sebuah keniscayaan.

Ketimpangan ini kian mencolok saat kita membedah gaya berpakaiannya. Di tengah kerumunan warga lokal yang setia pada prinsip Parisian Chic yang cenderung praktis, low-key, dan didominasi palet warna bumi yang tenang, Emily justru hadir dengan estetika tabrak warna yang sangat berani. Pilihan outfit-nya yang serba ekstra itu diametral dengan pakem understated yang selama ini menjadi identitas mode di kota tersebut.

Ketidakmasukakalan ini pun merambat ke gaya hidup sang protagonis. Menikmati serial ini memang menuntut kita untuk melakukan suspend disbelief tingkat tinggi. Terutama saat membedah anomali pada lemari pakaiannya. Secara logika, sulit diterima bagaimana seorang staf junior pemasaran bisa mengoleksi busana harian dari rumah mode kelas atas sekelas Versace, Balmain, hingga Fendi. Secara logis, gaji di levelnya tentu mustahil menunjang gaya hidup semewah itu, apalagi jika menilik huniannya yang bersahaja. Namun, di balik keterbatasan chambre de bonne-nya, lemari Emily justru menyimpan sebuah anomali spasial yang mencengangkan. Gantungan baju mungilnya seolah memiliki kemampuan regenerasi otomatis untuk terus mengeluarkan koleksi desainer terbaru. Sebuah dogma mode yang menabukan Emily terlihat mengenakan busana yang sama dua kali.

Serial ini didukung oleh jajaran tokoh pendukung yang kuat. Ada Sylvie Grateau (Philippine Leroy-Beaulieu) direktur sekaligus pemilik agensi pemasaran mewah Savoir, setelah memisahkan diri dari Gilbert Group, lalu ada sahabat Emily yaitu Mindy Chen (Ashley Park) seorang penyanyi berbakat dengan latar belakang keluarga superkaya di Tiongkok, yang memilih menjauh dari kehidupan lamanya setelah konflik dengan keluarganya dan hidup mandiri di Paris. Di awal cerita, Mindy bekerja serabutan, termasuk sebagai pengasuh anak dan penjaga toilet di kelab malam, sebelum perlahan kembali ke dunia musik dan tampil sebagai penyanyi profesional. Sementara Julien (Samuel Arnold) dan Luc (Bruno Gouery) adalah dua rekan kerja Emily yang memberi warna satir di dunia kerja mereka yang glamor. Antoine Lambert (William Abadie) adalah seorang pengusaha kaya raya yang memiliki perusahaan parfum ternama bernama Maison Lavaux. Dia adalah klien emas bagi Savoir, karena kesuksesan dan pengaruhnya yang besar, dia memiliki posisi tawar yang kuat di dunia bisnis Prancis.

Seiring bergantinya musim, konflik yang hadir pun mulai berlapis. Urusan pekerjaan, dinamika pertemanan, hingga benang kusut percintaan datang silih berganti. Emily kini bukan lagi sekadar ‘anak baru’ di Paris. Ia telah bertransformasi menjadi sosok yang kerap terperangkap dalam dilema yang ia ciptakan sendiri. Ironisnya, urusan asmaranya pun seolah hanya berputar-putar di lingkaran orang yang itu-itu saja. Kisah asmara Emily dimulai dari cinta pandangan pertama dengan Gabriel (Lucas Bravo), chef Prancis berbakat dengan pesona yang sulit ditolak. Kemudian hadir Alfie (Lucien Laviscount), eksekutif keuangan asal Inggris yang membawa dinamika dunia investment banking ke dalam hidupnya. Memasuki musim keempat, daftar ini semakin panjang dengan kehadiran Marcello Muratori (Eugenio Franceschini), pewaris takhta bisnis cashmere keluarga di desa Solitano, Italia, yang belakangan menjadi klien Agence Grateau.

Namun, meski kota berganti dan daftar pria tampan bertambah, pola ceritanya seolah jalan di tempat. Paris yang seharusnya luas terasa begitu sempit karena konflik antar-pemeran terus berulang dalam pairing yang itu-itu saja. Bahkan saat memasuki penghujung Season 4 (Part 2), tiba-tiba sinyal-sinyal kedekatan antara Mindy dan Alfie mulai terendus. Teori mengenai hubungan rahasia mereka yang dipicu oleh rapuhnya hubungan Mindy dengan Nicolas de Léon (Paul Forman), putra pemilik konglomerat barang mewah JVMA (Joint Ventures Maurice de Léon) yang cenderung posesif, mengancam plot musim mendatang, menjadi love pentagon yang absurd. Sulit untuk tidak menganggap ini sebagai lazy writing. Semua karakter utama seolah-olah ditakdirkan untuk terus berotasi dalam lingkaran asmara yang sama tanpa solusi yang masuk akal.

Satu hal lain yang tidak bisa diabaikan adalah kemampuan bahasa Emily yang jalan di tempat. Meski sudah menetap lama di jantung Prancis, ia tampak enggan keluar dari zona nyaman bahasa Inggrisnya, seolah-olah seluruh dunialah yang harus berkompromi dan menyesuaikan diri dengannya. Egoisme kultural ini akhirnya memuncak menjadi titik didih bagi karakter lain. Gabriel bahkan secara gamblang meluapkan rasa frustrasinya saat mereka bersitegang:

Gabriel: “J’ai l’impression de m’être fait avoir. Je me suis laissé rêver d’un futur heureux avec toi. Une étoile Michelin, un bébé. Mais en fait, j’ai passé tellement de temps à essayer de te convaincre que toi et moi, ça en valait la peine. Pendant que toi, tu n’as même pas essayé. Aujourd’hui je suis vide. Je ne crois plus en rien, je ne crois plus en personne, et je dois quand même passer à la télé pour essayer de convaincre les Français d’en avoir quelque chose à foutre de mes coquilles Saint-Jacques. Alors oui, on a des problèmes de communication. Je ne te dis pas le contraire, mais c’est certainement pas de ma faute.”

Emily: “Please, I don’t understand.”

Gabriel: “Exactly..”

Dalam bahasa Indonesia, luapan perasaan Gabriel yang menyakitkan itu kurang lebih berarti:
“Rasanya aku seperti dibodohi. Aku membiarkan diriku bermimpi tentang masa depan yang bahagia bersamamu, bintang Michelin, seorang bayi. Tapi kenyatannya, aku menghabiskan begitu banyak waktu hanya untuk meyakinkanmu bahwa ‘kita’ itu layak diperjuangkan, sementara kamu? Kamu bahkan tidak pernah mencoba untuk mencoba. Sekarang aku hampa. Aku tidak percaya pada apa pun lagi, tidak pada siapa pun. Dan di tengah kehancuran ini, aku masih harus bersandiwara di televisi, berusaha membuat orang Prancis peduli pada masakan kerangku. Ya, kita memang punya masalah komunikasi, aku tidak membantahnya. Tapi untuk yang satu ini, aku tahu pasti bahwa ini bukan kesalahanku.”

Secara teknis, Emily in Paris memang didesain sebagai produk global yang ramah di telinga audiens internasional dengan dominasi bahasa Inggris di hampir setiap interaksi. Namun, ada lapisan emosi yang hanya bisa tersampaikan ketika karakter-karakter asli Paris seperti Sylvie, Julien, Luc, atau Gabriel berdialog dalam bahasa ibu mereka. Penggunaan bahasa Prancis dalam serial ini bukanlah bumbu pelengkap agar terdengar estetik semata, lebih jauh menjadi instrumen untuk membedah emosi yang tidak selalu berhasil ketika diucapkan dalam bahasa Inggris.

Sebagaimana puncaknya terasa pada Musim 4 Episode 7 di atas; ketika Gabriel meluapkan amarahnya dalam bahasa Prancis, kemarahan dan kerapuhannya terasa jauh lebih purba dan menyakitkan. Di titik inilah kita menyadari bahwa bahasa bukan semata alat komunikasi. Sikap Emily yang tetap memegang teguh bahasa Inggrisnya di tengah ledakan emosi Gabriel menunjukkan sesuatu yang lebih dalam dari perbedaan bahasa. Ketidakmampuannya berempati berakar dari ego yang terlalu kuat, di mana ia enggan membuka diri untuk benar-benar memahami apa yang sebenarnya dirasakan oleh lawan bicaranya.

Jika kita menempatkan Emily in Paris murni sebagai produk hiburan, serial ini jelas berdiri di podium teratas. Ia adalah sebuah eskapisme yang sempurna, yang menyajikan kemegahan visual, parade adibusana yang memanjakan mata, dan drama ringan yang mudah dicerna. Namun, kita juga perlu jujur bahwa serial ini bermain dalam zona nyaman lewat alur yang terasa repetitif dan kedalaman karakter yang dangkal. Paris yang begitu luas serta bersejarah seolah direduksi menjadi sekadar latar belakang estetik bagi kurasi konten Instagram Emily.

Pada akhirnya, serial ini kembali pada ekspektasi masing-masing penonton. Jika kamu butuh hiburan ringan untuk melepas penat lewat visual yang estetik, Emily in Paris adalah pilihan yang tepat. Namun, jika kamu mencari film dengan naskah dengan riset mendalam, penokohan yang kuat, Emily In Paris hanyalah secuplik ilusi yang terlalu artifisial untuk dianggap serius. Anggap saja serial ini sebagai guilty pleasure, ibarat makan macaron yang warnanya cantik, rasanya manis dan menyenangkan di lidah, tapi tidak benar-benar bikin kenyang. Selama kita mafhum bahwa film ini sebatas cerita rekaan, petualangan Emily di Paris tetap menjadi interlud yang menyenangkan di tengah padatnya rutinitas.

Jadi, setelah parade mode yang panjang ini, kamu tim Gabriel, Alfie, Marcello, atau malah sudah bosan?

Btw, kalau saya pribadi sih, tetap tim Gabriel, ya!

Devieriana

photo courtesy Netflix, US Magazine, Business Insider, Prime Timer, Prestige Online, Destination Dreamer Diaries

Continue Reading

Jejak Bahasa di Era Linimasa

Language is a powerful tool, a reflection of who we are and where we come from. It shapes the way we connect with others, express ourselves, and even how we perceive the world around us.

Menghabiskan masa kecil di Jawa Timur membentuk diri saya untuk akrab dengan gaya tutur yang lugas, gesit, dan tegas. Meski terkadang terdengar keras, di baliknya selalu tersimpan kehangatan yang jujur. Namun, belakangan ini, saya mulai menyimpan gelisah. Ada rasa tidak nyaman yang muncul saat menyaksikan arah perkembangan bahasa kita, terutama tentang betapa laten dan lumrahnya kata umpatan menyelinap ke dalam komunikasi sehari-hari. Saya tidak tumbuh dalam lingkungan yang memaklumi makian. Kata-kata kasar adalah tabu yang sebisa mungkin dijauhkan dari pendengaran maupun ucapan. Meski sering dianggap sebagai katarsis spontan atas amarah maupun kejutan, makian tetaplah bukan bahasa yang saya pilih untuk mengekspresikan apa pun, terlepas dari bagaimana intonasi maupun situasinya menyertai.

Namun kini, makian seolah kehilangan marwah asalnya. Ia tidak lagi muncul sebagai letupan emosi semata, melainkan telah berubah menjadi pola tutur harian yang lumrah. Muncul sebuah tren di mana kalimat seolah dianggap hambar dan kehilangan daya pikat jika tidak disisipi umpatan. Meminjam istilah populer saat ini, sebuah interaksi terasa ‘kurang manteb’ jika tidak dibumbui makian. Sebuah pergeseran yang, bagi saya, tetap terasa anomali.

Dahulu, terdapat garis demarkasi yang begitu tegas antara apa yang pantas dan tidak pantas untuk diucapkan. Kata-kata kasar, baik yang meminjam nama satwa maupun merujuk pada organ genital, adalah sebuah tabu absolut. Tidak sedikit dari kita yang tumbuh dengan memori tentang olesan cabai di mulut sebagai konsekuensi atas keluarnya kata-kata yang dianggap kurang ajar. Hukuman itu mungkin terasa arkais, bahkan mungkin terlalu purba bagi generasi sekarang, namun ia adalah simbol betapa tingginya standar adab yang diletakkan pada tiap suku kata yang kita produksi. Sebuah pengingat diri bahwa tidak semua hal yang terlintas di kepala, pantas untuk dilepas begitu saja ke udara.

Kini, situasinya berbalik arah. Dalam obrolan santai hingga pembahasan remeh-temeh, umpatan tidak lagi sekadar menghuni jagat maya, melainkan kian lazim berkelindan di dunia nyata. Kosakata seperti ‘anjir’ atau ‘anjing’ barangkali telah mengalami pergeseran makna menjadi tanda seru dalam percakapan. Namun, yang jauh lebih mengkhawatirkan adalah ketika lisan kita dengan ringannya menyematkan atribut pejoratif yang merendahkan martabat (seperti kata ‘lonte’) kepada sesama, hanya karena adanya celah perbedaan antara realita keseharian dengan citra yang terpampang di media sosial.

Kondisi ini diperparah oleh karakter media sosial yang berlaku layaknya ruang ekspresi serba instan yang nirjeda. Ketiadaan interaksi tatap muka di sana menciptakan jarak psikologis yang membuat empati kita perlahan terkikis. Akibatnya, kita menjadi lebih leluasa melontarkan apa pun tanpa sempat menimbang dampaknya pada hati orang lain. Kanal yang semula berfungsi untuk berbagi cerita kini bermetamorfosis menjadi tolok ukur yang menentukan standar kita dalam bertutur, di mana kian hari kian rendah.

Pertanyaan saya sederhana, sebenarnya, sejak kapan ekspresi seseorang di media sosial menjadi absah untuk dibalas dengan makian yang mendegradasi kemanusiaan? Saat sebuah kata digunakan untuk mengerdilkan orang lain, sejatinya ia telah memasuki wilayah perundungan, suatu tindakan yang tidak semestinya mendapat ruang dalam bentuk dan alasan apa pun. Perlu disadari bersama, bahwa perbedaan selera maupun pilihan hidup adalah sebuah keniscayaan, karena setiap kita tumbuh dari akar dan latar belakang yang tak pernah sama. Namun, di situlah letak keanehannya, seolah kita merasa berhak menghujat orang lain hanya karena mereka tidak tampil seperti apa yang kita harapkan. Sikap merasa paling benar ini tentu tidak muncul begitu saja. Tanpa kita sadari, hal ini banyak dipengaruhi oleh bagaimana dunia digital membentuk cara berpikir kita sehari-hari.

Algoritma di balik layar bekerja layaknya kurator pribadi yang terlalu tekun. Ia secara presisi menyodorkan konten yang selaras dengan preferensi kita, merekam setiap jejak pencarian, hingga menciptakan semesta yang hanya berisi hal-hal yang ingin kita lihat. Hingga tanpa sadar kita terkurung dalam sebuah gelembung digital, di mana kita hanya akan mendengar pantulan suara yang serupa, sebuah echo chamber yang terus mengulang dan membenarkan gaya tutur tertentu tanpa pernah memberi ruang bagi pembanding. Dampaknya, ketika lingkaran digital kita mulai menganggap umpatan sebagai bumbu candaan yang wajar, pola itu akan menular dengan sangat cepat. Makian yang dulunya adalah bentuk ekspresi dari ledakan emosi, kini jadi tumpul rasa. Ia tidak lagi memiliki ‘daya sengat’. Ia hanya menjadi bising yang kosong, pengisi jeda yang diucapkan tanpa pernah benar-benar paham arti sesungguhnya.

Hal ini akhirnya membawa kita pada pertanyaan: apakah kata-kata tersebut mencerminkan siapa kita? Memang, pilihan tutur yang kasar tidak lantas menjadi cermin utuh dari hitam-putihnya kepribadian seseorang. Namun, jika ia dibiarkan menjadi kebiasaan yang berulang, akan ada perubahan subtil dalam cara kita bersosialisasi. Perlahan namun pasti, ia melunurkan kepekaan hati dan membentangkan jarak sosial yang kian nyata di antara sesama.

Di titik inilah, kita perlu melihat bahasa dengan cara yang lebih luas. Saya menyadari sepenuhnya bahwa bahasa adalah organisme yang dinamis; ia akan terus bertumbuh dan melahirkan gaya-gaya baru yang tak mungkin kita bendung. Namun, ada kalanya kita perlu merenung sejenak, apa sih yang sebenarnya sedang kita normalisasi hari ini? Saat setiap umpatan berlindung di balik pembelaan, ‘Ah, itu hal lumrah, sejak dulu pun begitu,’ bukankah itu sebenarnya adalah sinyal bahwa ambang batas kepekaan kita sedang mengalami penurunan? Atau mungkin, ini hanya soal sudut pandang saya?

Barangkali benar, telinga saya memang sudah vintage, sebuah peninggalan dari era di mana kata masih memiliki bobot, kehormatan, dan rasa sungkan. Sebab pada akhirnya, kemajuan zaman tetap membutuhkan kendali diri. Kita bisa saja mengikuti setiap tren yang lahir, namun bukankah sangat disayangkan jika dalam prosesnya, kita justru kehilangan jati diri sebagai manusia yang tahu cara menghargai sesama melalui kata-kata?

Just my two cents.

-Devi Eriana-

ilustrasi diambil dari shutterstock.com

Continue Reading

An Unexpected Stay, A Life Reset

“Sometimes we need to pause for a moment to realize how much we’ve been through. Only in silence, the body and soul find their way to heal”


I never thought a regular Wednesday would end with me lying on a hospital bed, staring at white ceilings and counting the beeps of machines. It wasn’t part of the plan. I mean, who plans to swap weekend Netflix for an IV drip and a hospital gown that doesn’t quite cover your dignity? But sometimes, life doesn’t ask for your permission—it just throws you straight onto a gurney.

Rabu (26/2) itu saya masih melanjutkan aktivitas seperti biasa—menyelesaikan pekerjaan rutin, ikut tes percakapan Bahasa Inggris, lalu munggahan bersama teman-teman kantor menyambut Ramadan. Tidak ada pertanda apa pun. Saya pikir hari itu akan berakhir seperti biasanya: pulang, istirahat, dan bersiap untuk hari esok. Tapi ternyata, semesta punya rencana lain.

Menjelang pulang kantor, perut saya mendadak terasa kembung, nyeri, melilit, dan perih yang makin lama makin menusuk. Saya pikir, ah ini cuma gangguan pencernaan biasa, bisa jadi akibat saya ada salah makan di munggahan—yang biasanya akan berangsur hilang dengan olesan minyak kayu putih dan tidur. Tapi makin lama rasa sakitnya makin intens. Posisi apa pun terasa salah. Mau berdiri atau duduk, salah. Miring ke kiri sakit, ke kanan pun tak nyaman. Karena saya pulang kantor pun sudah sore menjelang malam, akhirnya mencoba konsultasi via aplikasi kesehatan, HaloDoc. Berdasarkan keterangan yang saya berikan, dokter menyebut ada kemungkinan maag—keluhan yang belum pernah saya alami seumur hidup. Saya diberi resep, meminum obat yang diberikan sambil terus ber-husnuzan beneran cuma maag, dan esok hari saya pulih seperti semula.

Namun ternyata meski obat sudah saya minum, antara mata dan kondisi tubuh yang kesakitan, memberikan respon yang tidak sinkron. Saya justru tidak bisa tidur sampai pagi. Belum lagi ditambah adanya masalah baru, saya juga mengalami diare. Dengan kondisi tubuh yang awur-awuran ini menyebabkan tubuh saya makin lemas, nafsu makan juga mulai terganggu.

Keesokan harinya, dengan sisa tenaga, saya mencoba pergi ke klinik dekat rumah dengan naik taksi. Ternyata di klinik ini pun hasil pemeriksaan tak jauh berbeda—diduga gangguan asam lambung. Apakah memang asam lambung, maag, atau gerd deritanya sesakit ini, ya? Sama seperti harapan saya pada dokter sebelumnya, kali ini pun saya berharap bahwa saya akan segera pulih setelah menelan obat-obatan yang diresepkan. Siapa tahu beda dokter, beda resep, bisa sembuh.

Tapi ternyata saya salah. Kondisi saya malah makin memburuk. Demam yang naik turun, diare yang tak kunjung membaik, ditambah lagi nyeri yang mulai mendera di area ulu hati. Saya nyaris tidak bisa berdiri tegak, jalan membungkuk menahan sakit. Melihat kondisi saya yang tak kunjung membaik itu, akhirnya persis di 1 Maret 2025 adik saya mengantar ke RS MMC Kuningan. Di sana, saya langsung ditangani oleh dr. Fatih Anfasa, Sp.PD. Melihat kondisi saya yang lemah dan mengenaskan itu, beliau langsung menyarankan rawat inap. Dugaan awal: tipes, TBC usus, atau mungkin infeksi organ dalam lainnya.

Dari observasi yang dilakukan selama saya rawat inap, hasil laboratorium menunjukkan saya positif tipes, defisiensi vitamin D, dan HB saya 7. Haduh, kok banyak sekali. Namun di luar itu, saya merasa ada yang tidak beres dengan perut saya. Meski suhu tubuh perlahan normal dan keluhan lain nyaris tak terasa, perut saya tetap terasa penuh dan kembung, padahal asupan makanan sangat sedikit.

Sementara itu, di tengah kondisi saya yang sedang dirawat di rumah sakit, fokus pikiran saya terbelah ke mana-mana. Meski fisik saya di ruang rawat inap, namun pikiran saya selalu terjaga di rumah, terlebih lagi saat itu bertepatan dengan pekan UTS. Ini adalah kali pertama saya tidak bisa mendampingi Alea belajar mempersiapkan diri menghadapi ujian. Selama ini, meski ada papanya di rumah pun, Alea selalu lebih memilih belajar bersama saya—meskipun saya galak. Dia belum terbiasa belajar sendiri, sehingga tetap butuh pendampingan. Dalam kondisi seperti ini, solusinya adalah sepulang sekolah Alea datang ke rumah sakit sambil membawa buku-buku pelajarannya, lalu belajar di sisi ranjang saya. Meskipun jauh dari kondisi ideal, saya tetap berusaha semampu mungkin untuk hadir mendampingi.

Puncaknya adalah ketika Rabu sore (6/3), saat saya sedang menemani belajar, tiba-tiba perut bagian bawah terasa nyeri sekali. Rasa sakitnya datang begitu tiba-tiba, disusul suhu tubuh yang naik hingga 38,3°C. Segera saya dibawa ke ruang radiologi untuk menjalani USG abdomen. Sayangnya, karena nyeri yang sangat mengganggu, proses pemeriksaan tidak bisa dilakukan dengan maksimal. Jangankan disentuh atau ditekan, terkena kain baju sendiri saja rasanya sensitif.

Keesokan harinya, saya dijadwalkan menjalani pemeriksaan CT scan abdomen dengan zat kontras (zat yang digunakan dalam pemeriksaan medis seperti CT scan untuk memperjelas gambar, sehingga membantu dokter melihat struktur tubuh dengan lebih detail). Jadi, CT scan abdomen dengan zat kontras membantu dokter mendeteksi tumor, kista, infeksi, peradangan, penyumbatan usus atau saluran empedu, serta gangguan pembuluh darah di perut. Sebelum pemeriksaaan, saya diminta untuk memimum cairan kontras, dan lalu berpuasa sejak pukul 07.00, untuk memastikan usus kosong sehingga hasil scan-nya hasilnya akurat, selain itu juga untuk menghindari efek samping yang mungkin muncul akibat zat kontras, seperti mual atau muntah. Kalau ditanya rasa cairannya bagaimana, jelas jauh dari kata enak—di lidah saya, aftertaste-nya seperti minum cairan berasa logam.

Proses pemeriksaan ini umumnya berlangsung sekitar 30 menit hingga satu jam, bergantung pada jenis pemindaian dan kebutuhan medis. Usai pemeriksaan, saya kembali ke kamar untuk beristirahat sambil menanti hasil, dengan perasaan yang campur aduk. Akankah hasilnya ‘baik-baik saja’ atau justu parah?

Dan benar saja, siang itu kamar rawat saya mendadak ramai—bukan oleh keluarga atau teman yang datang menjenguk, melainkan lima dokter yang masuk bersamaan: dokter spesialis bedah digestif, dokter obgyn, dokter bedah umum, dokter spesialis penyakit dalam, dan dokter anestesi. Mereka menanyakan apa saja keluhan yang saya rasakan, lalu menginfokan hasil CT scan abdomen pagi tadi. Dokter Arief Gazali menjelaskan bahwa kondisi di dalam perut saya cukup kompleks—ada kista, ada cairan, endometriosis, adenomiosis, dan perlekatan di usus. Jujur, mendengar  semua penjelasan itu, pikiran saya langsung penuh. Saya ini kenapa, ya Allah? Sampai akhirnya dokter Darmawan Lesmana memutuskan, “hari Jumat setelah Jumatan kita operasi, ya. Laparoskopi aja, lukanya kecil aja kok, jadi pemulihannya lebih cepat.”

Jumat, tanggal 7 Maret 2025, tepat pukul 12 siang, saya dibawa masuk ke ruang operasi. Tak ada lagi yang bisa saya upayakan, selain berserah diri sepenuhnya kepada Sang Kuasa. Saya pasrahkan pula semua tindakan kepada tim medis yang menangani saat itu. Saat ranjang saya mulai didorong menuju ruang operasi, sejatinya ada rasa takut meski sudah berserah. Di dalam hati saya tak henti merapal doa agar lebih tenang. Hingga akhirnya anestesi disuntikkan, saya pun perlahan tertidur—dan setelah itu, semuanya gelap.

Saya baru benar-benar siuman sekitar pukul 20.45 malam. Hampir sembilan jam berlalu, dan saya sama sekali tak tahu apa saja yang telah terjadi selama saya tak sadarkan diri. Di ruang pemulihan/transisi ada suster yang berjaga menunggu hingga saya siuman. Keluhan pertama yang saya rasakan justru bukan rasa nyeri di area bekas operasi, tapi rasa pegal di bagian punggung. Wajar saja, tubuh saya berjam-jam terbaring di atas meja operasi yang keras dan datar. Beberapa saat kemudian, saya mulai merasakan ketidaknyamanan di area hidung dan tenggorokan. Rupanya, ada dua jenis selang yang terpasang—satu untuk oksigen, dan satu lagi selang sonde yang digunakan untuk mengalirkan nutrisi langsung ke lambung. Tak lama setelah saya sepenuhnya sadar, tubuh saya dipindahkan ke ICCU dan langsung dibalut dengan selimut penghangat untuk menjaga suhu tubuh tetap stabil setelah prosedur medis.

Tak lama, suami saya datang ke ICCU. Wajahnya tampak lelah dan cemas. Rupanya selama saya berada di meja operasi, ia sempat beberapa kali dipanggil oleh dokter, dan harus menandatangi formulir persetujuan tindakan kedokteran—karena prosedur yang awalnya hanya direncanakan sebagai laparoskopi harus diubah menjadi major surgery dan itu jelas membuatnya khawatir.

Dengan suara lirih, ia berkata, “maafin aku ya, Mih. Aku sudah menyetujui dokter melakukan sesuatu atas tubuhmu tanpa persetujuanmu. Tapi semua buat kebaikan dan kesehatanmu. Sekali lagi, maafin aku, ya. Alhamdulillah, aku bersyukur kamu sudah melalui masa kritis, alhamdulillah kamu masih hidup…”

Hah, masih hidup? Apa maksudnya?

Suami saya belum sempat bercerita panjang lebar lantaran dia harus bolak-balik mengurus berbagai urusan administratif dan lainnya. Tak lama kemudian, adik saya datang bersama Alea yang terlihat lelah karena sudah menunggu sejak pulang sekolah hingga saya siuman. Adik saya menjelaskan apa yang terjadi saat operasi berlangsung. Dokter menemukan infeksi yang cukup serius di rahim saya, gabungan antara kista, adenomiosis, endometriosis, perlekatan di usus dan liver. Jadi, yang awalnya, dokter hanya merencanakan laparoskopi, namun selama prosedur berlangsung, kondisi yang ada memaksa perubahan rencana menjadi bedah mayor. Pembersihan usus dan liver tetap dilakukan. Sayatan vertikal dibuat dari atas pusar hingga ke bagian bawah perut. Prosedur yang semula hanya bertujuan untuk membersihkan saja, namun demi melihat kompleksitas masalah di dalam rahim, dokter memutuskan untuk melakukan histerektomi (pengangkatan rahim) guna mengatasi berbagai kondisi medis yang menyerang sistem reproduksi, dan mencegah keluhan yang sama terjadi berulang di masa yang akan datang.

Saya tercenung. Ternyata 8 jam lalu, ada peristiwa besar yang baru saja mengubah perjalanan hidup saya. Namun entah kenapa, saya tenang sekali mendengar cerita itu, hanya sedikit terkejut namun tidak menangis atau sedih. Semenerima itu. Risiko yang harus saya tanggung karena kesehatan saya jauh di atas segalanya. Meski akhirnya ada bagian tubuh—yang pernah menjadi tempat bagi anak saya bertumbuh—harus dilepaskan.

Dan, ketika semua orang sudah kembali ke rumah masing-masing, dan saya sendirian di ICCU, saya terjaga penuh—dengan segenap penyerahan diri memohon kepada Yang Maha Kuasa, agar saya diberi kesempatan untuk pulih, menjalani hidup yang lebih sehat, lebih ringan, dan tetap bisa membersamai keluarga tercinta.

Singkatnya, tak lama setelah keluar dari ICCU, sekitar pukul 15.00 saya dipindahkan kembali ke ruang rawat inap. Seharusnya, inilah momen awal untuk mulai latihan ringan: miring ke kanan dan kiri, lalu mencoba duduk, berdiri, hingga perlahan berjalan. Namun ternyata tubuh saya belum mampu. Bukan hanya karena rasa nyeri yang masih terasa, tapi juga secara mental saya belum sesiap itu. Berbeda dengan saat melahirkan Alea dulu—operasi sesar karena placenta previa sudah diinformasikan sejak awal, sehingga memberi saya waktu menyiapkan fisik dan mental. Namun tidak untuk kali ini. Operasi datang begitu mendadak, tanpa memberi waktu saya mempersiapkan diri lahir batin.

Butuh waktu tiga hari setelah operasi sampai akhirnya saya memberanikan diri untuk duduk, lalu perlahan berdiri dan mencoba melangkah pelan. Memang agak terlambat. Apalagi melihat perban yang rasanya begitu besar membalut area perut. Like, wow! Awalnya saya merasa belum sanggup menekuk bagian perut untuk duduk. Ternyata, setelah dicoba, saya mampu juga—meski masih terengah-engah. Mulanya saya hanya berjalan pelan di dalam kamar, hingga akhirnya berani melangkah keluar, menapaki koridor di lantai tempat saya dirawat.

Alhamdulillah, tanggal 15 Maret 2025 saya diizinkan pulang. Hasil laboratorium menunjukkan banyak perbaikan. Hati saya rasanya hangat—lega, bahagia, dan sangat bersyukur. Akhirnya saya diperbolehkan pulang, setelah 15 hari menjalani perawatan di rumah sakit. Tentu, saya pulang dengan membawa berbagai macam obat yang harus saya minum secara rutin sampai tiba waktu kontrol berikutnya.

Namun ternyata, titik paling menantang justru datang setelah saya kembali ke rumah.

Tanpa lagi ada perawat yang sigap membantu mengurangi nyeri, tanpa oksigen tambahan, atau alat bantu lain saat tubuh mulai lemah. Mau tak mau saya harus mengandalkan diri sendiri. Kemampuan kaki belum sepenuhnya kembali, baru bisa melangkah pelan. Napas terasa sesak karena batuk, sementara mual dan muntah datang mendadak akibat perut yang kosong, seiring dengan hilangnya selera makan. Tak mengherankan jika berat badan saya merosot drastis—dari 54,5 kg menjadi 42,3 kg. Saya sampai bingung saat mencoba pakaian, karena hampir semua baju saya berukuran S-M, tapi sekarang sepertinya ukurannya lebih kecil dari itu. Yang dulu terasa pas, sekarang semuanya longgar. Apa iya saya harus pakai baju ukuran kids?

Selama di rumah, setiap hari saya berusaha menantang diri melakukan aktivitas-aktivitas baru untuk melatih mobilitas dan memulihkan kekuatan otot—yang dulu sudah biasa dan bisa dilakukan, seperti mandi (selama di rumah sakit saya hanya mandi seka, itupun dibantu oleh perawat), keramas, memotong kuku kaki, menyapu lantai, mencuci baju atau piring kotor, atau sekadar menyelesaikan pekerjaan rumah lainnya, karena pascaoperasi besar melakukan hal-hal kecil seperti ini seperti sebuah pencapaian baru. Dan yang paling mengharukan adalah, ketika di pulang kontrol dari rumah sakit, ternyata saya sudah bisa pulang sendiri naik Gojek! Ah, rasanya ingin memberi pelukan ke diri sendiri, menyadari bahwa semua anggota tubuh saya seberusaha itu untuk pulih.

Kini, saya sudah kembali ke kantor dan menjalani aktivitas seperti biasa. Bahkan, pada tanggal 9 April lalu, saya sudah memandu acara Halal Bihalal di lingkungan Sekretariat Lembaga Kepresidenan. Saya juga berusaha menjalani hidup yang lebih sehat dengan rutin berolahraga, mengonsumsi makanan bergizi, dan menjalani aktivitas sehari-hari dengan semangat positif.

Melalui tulisan ini, dengan setulus hati, saya ingin berterima kasih kepada keluarga tercinta atas kasih sayang dan dukungan yang tak pernah surut, kepada sahabat-sahabat yang setia memberi perhatian dan bantuan tulus selama saya dirawat di rumah sakit, para perawat yang telah dengan sabar merawat saya selama di rumah sakit, serta kepada para dokter luar biasa yang telah menjadi bagian penting dalam perjalanan penyembuhan saya:

Berkat tangan dingin, keputusan cepat, dan ketulusan hati Bapak/Ibu Dokter, saya bisa menceritakan kembali kisah ini dengan penuh rasa syukur. Terima kasih telah menjadi bagian dari mukjizat kecil dalam hidup saya.

– Devi Eriana –

Continue Reading

Kebaikan Akan Selalu Kembali

Pernahkah kita merenung dalam hati, apakah kebaikan yang kita berikan kepada orang lain benar-benar akan kembali kepada kita atau akan hilang begitu saja? Pertanyaan ini mungkin pernah muncul dalam pikiran kita, terutama ketika kita merasa sudah menolong/memberi banyak hal, tapi kok sepertinya tidak ada sesuau yang terlihat seperti ‘balasan’ atas kebaikan yang pernah kita lakukan, ya. Kok sepertinya terdengar pamrih, ya. Bukankah kalau berbuat kebaikan, ya sudah berbuat saja? Tapi pastilah, ada di antara kita pernah (meski secara iseng) berpikir demikian. Tapi ini bukan tentang pamrih.

Bertahun-tahun lalu, ada sebuah kejadian, di mana adik saya mengambil langkah yang bagi saya, luar biasa. Dengan segala keterbatasan yang ada, ia tiba-tiba mewujudkan impian kedua orang tua kami untuk bisa pergi umrah. Tabungan dia tidaklah banyak, namun dari sanalah orang tua kami berangkat ke tanah suci. Saya tahu, itu bukan suatu keputusan yang mudah, namun ada kebahagiaan yang melebihi apa yang sudah dia keluarkan untuk kedua orang tua kami. Pun halnya adik saya yang berkata, “Uang bisa dicari, Mbak. Tapi Papa Mama kan udah nggak muda lagi. Usia manusia nggak ada yang tahu. Ya, mungkin Allah mengizinkan Mama Papa bisa pergi ke tanah suci melalui jalur aku.” Dia meyakini bahwa sekecil apapun kebaikan yang telah dilakukan, akan selalu menemukan jalannya.

Dan ternyata, ia benar.

Enam tahun berselang, tepat di penghujung tahun ini—tanpa pernah ia duga sebelumnya—datanglah undangan untuk berangkat umrah, dan semua serba gratis. Adik saya tentu senang bukan kepalang. Bayangkan, dulu dengan segala keterbatasan, dia memberangkatkan Mama dan Papa, kini dia bisa berangkat ke tanah suci bahkan tanpa mengeluarkan biaya sepeserpun. Bukan itu saja, akomodasi dan fasilitas terbaik juga dia dapatkan. Allah rupanya sedang memuliakan adik saya melalui tangan orang-orang baik.

Kebaikan itu punya cara kerja yang unik. Ia tidak selalu kembali pada kita dalam bentuk yang persis sama, tetapi ia selalu menemukan jalannya. Bisa jadi kebaikan itu hadir dalam tawa orang-orang yang kita cintai, dalam kesuksesan anak-anak kita, atau dalam rasa lega di tengah masalah yang semula terasa begitu berat, seolah ada tangan tak terlihat yang membantu kita.

Pun halnya saya. Saya tidak pernah mengklaim diri saya baik atau pemurah, tapi ada satu peristiwa yang bagi saya terasa sangat ajaib, yang membuat saya yakin bahwa Allah hadir membantu saat saya mengalami kesulitan. Beberapa tahun lalu, saat saya masih tinggal bersama mertua, kebetulan rumah mereka berdekatan dengan masjid. Sejak saya tinggal di sana, setiap hari selalu saya sempatkan untuk memasukkan infaq ke dalam kotak amal, dengan jumlah yang random.

Saat saya sedang mengandung Alea, ketika hendak mengambil wudhu untuk salat tahajud, saya mendapati sesuatu yang tidak saya harapkan—saya mengalami pendarahan hebat, dan ketuban saya pecah sebelum waktu kelahiran tiba. Saya dan suami tahu bahwa saya harus kembali melahirkan melalui operasi sesar karena placenta previa. Di tengah malam, dengan kondisi semendadak itu, tentu bukan hal bagi kami untuk menjadwalkan operasi, apalagi mencari kamar di rumah sakit pemerintah.

Selang 8 jam kemudian, saya ditangani oleh tim dokter Rumah Sakit Pasar Rebo, dan operasi sesar pun berjalan dengan lancar. Saya dipindahkan menuju ke ruang pemuliha, di mana di sana saya berkumpul dengan para ibu pascamelahirkan, sebelum menuju ke kamar perawatan masing-masing. Suami saya masih sibuk mencari kamar yang memungkinkan saya bisa rooming-in dengan bayi kami, dan semua kamar terisi penuh. Entah dari mana pertolongan itu datang, yang sebelumnya semua kamar dinyatakan penuh tiba-tiba ada kamar Kelas 1 yang tersedia, dan saya bisa langsung menempatinya tanpa proses berbelit. Ah, rasanya Allah sedang menunjukkan kekuasaan dengan memudahkan segalanya di saat saya sangat membutuhkan-Nya. Bahkan, saya diiizinkan pulih jauh lebih cepat dibandingkan operasi caesar pertama saya pada 2008, yang membutuhkan dua minggu pemulihan—saat itu saya belum siap secara mental karena bayi pertama saya meninggal dalam kandungan.

Memberi bukan tentang berapa banyak yang kita lepaskan, melainkan tentang percaya bahwa ada sesuatu yang baik sedang menanti kita, ada pintu-pintu rezeki dan kebahagiaan yang terbuka yang sebelumnya tidak kita sadari ada. Tak peduli seberapa kecil bentuknya—waktu yang kita luangkan untuk mendengarkan, tenaga yang kita curahkan untuk membantu, atau harta yang kita sisihkan untuk berbagi—jangan pernah ragu untuk berbuat baik. Kebaikan tidak pernah pergi. Ia mungkin menempuh perjalanan panjang berliku-liku, melintasi banyak hati, dan menghidupkan banyak senyum sebelum akhirnya kembali kepada kita atau kepada mereka yang kita cintai. Tapi satu yang pasti, saat ia tiba, kebaikan selalu membawa kehangatan—entah berupa kebahagiaan, kemudahan, atau jawaban dari doa-doa yang pernah kita bisikkan dalam sunyi. Sebagaimana lingkaran yang sempurna, kebaikan akan selalu menemukan jalannya untuk kembali.

“Kebaikan itu tidak pernah salah alamat. Meski tak selalu langsung kembali, ia selalu menemukan jalan terbaik untuk menjelma menjadi kebaikan-kebaikan lain untuk pemberinya.”

Continue Reading

Painful Journey

Saat masih kecil, seringkali rasa sakit biasanya datang dalam bentuk yang sederhana—misalnya lutut yang terluka akibat kita jatuh dari sepeda, kepala yang tak sengaja terbentur meja, atau perut yang mules setelah jajan sembarangan. Tapi, biasanya rasa sakit itu cepat hilang karena kita tahu akan ada orang dewasa yang memberi kita pertolongan/obat. Secara mental kita tahu bahwa seiring waktu keadaan kita akan pulih, kita pulih seperti semula. Come back stronger, kalau kata anak sekarang, ya.

Namun, saat mulai memasuki usia dewasa, kita sadar bahwa rasa sakit yang muncul bukan lagi luka secara fisik, karena pencarian jati dirilah yang jauh lebih rumit. Sebagai orang dewasa, kita kini memegang kendali penuh atas hidup kita dan bertanggung jawab atas segala masa depan yang kita pilih. Semakin kita memahami kompleksitas hidup, semakin banyak pula berbagai keputusan besar yang harus diambil yang bisa saja mengubah arah hidup kita. Walaupun kesadaran ini seolah memberi kebebasan, jangan salah, ia juga datang dengan beban dan tanggung jawab yang berat.

Salah satunya adalah saat saya memutuskan untuk melanjutkan pendidikan di usia saya sekarang—dengan status sebagai seorang ibu, istri, dan pekerja—saya tahu ini bukan keputusan yang mudah. Perjalanan untuk menyeimbangkan antara pendidikan, pekerjaan, dan peran sebagai ibu dan istri, memang penuh dengan tantangan yang tak terduga. Setiap langkah yang saya ambil mengharuskan saya untuk terus mengatur waktu dan energi dengan bijaksana. Salah satu momen yang paling terasa adalah ketika saya harus membagi waktu antara belajar untuk studi saya dan membantu anak mengerjakan PR atau menyiapkan diri untuk ulangan. Di sisi lain, ada malam-malam panjang ketika saya duduk sendiri di depan laptop, berjuang melawan kantuk, menyelesaikan tugas yang tenggatnya semakin dekat. Di momen-momen seperti itu, rasa “painful” hadir begitu nyata.

Tantangan yang saya hadapi sehari-hari—mulai dari membagi waktu antara kuliah, pekerjaan, dan keluarga—sering kali terasa berat. Namun, saya tahu ini adalah bagian dari proses belajar dan berkembang. Yang lebih menantang lagi adalah menjalani hubungan jarak jauh dengan suami saya yang kini bertugas di luar kota. Meskipun terpisah jarak, kami terus berusaha saling mendukung, meski komunikasi sering kali terbatas karena kesibukan masing-masing. Ada rindu yang harus dipendam, ada lelah yang kadang tak bisa diungkapkan, namun kami tetap yakin bahwa semua pengorbanan ini adalah demi kebaikan bersama.

Di balik semua tantangan ini, ada keyakinan yang selalu saya pegang teguh. Saya percaya bahwa setiap keputusan yang saya ambil bukan hanya untuk diri saya sendiri, tetapi juga untuk keluarga saya. Ada harapan yang besar saat anak saya melihat ketekunan saya dalam belajar, dan memahami pentingnya kerja keras. Saya juga berharap keluarga saya menyadari bahwa mengejar mimpi tak mengenal usia atau status. Tentu saja, saya sadar bahwa rasa sakit, lelah, dan frustrasi yang kadang muncul adalah bagian dari proses. Justru proses yang penuh tantangan inilah yang mengajari saya untuk lebih sabar, lebih bijak dalam mengelola waktu dan energi, dan untuk terus percaya bahwa di ujung jalan, ada kebaikan yang menunggu.

Dalam hening saya sering merenung, berkontemplasi, dan berpikir tentang betapa banyak orang yang menghadapi tantangan jauh lebih besar dari yang saya hadapi namun tak pernah terceritakan, dan tetap menjalani hidup seperti biasa saja. Di saat-saat seperti itulah yang membuat saya sadar bahwa kita tak bisa membandingkan hidup kita dengan orang lain, karena setiap orang memiliki jalan dan perjuangannya masing-masing. Anadaikata pun saya bisa memutar waktu, saya tak akan mengubah apapun. Karena setiap momen, baik suka maupun duka, telah membentuk diri saya menjadi seperti sekarang.

Untuk kamu yang sedang menjalani perjalanan hidup yang berat, ingatlah, kamu tidak sendirian. Setiap langkah kecil yang kamu ambil membawa kamu lebih dekat ke versi terbaik dari dirimu. Tak masalah jika langkahmu terasa lebih lambat dibandingkan orang lain, karena setiap orang punya ritme hidupnya sendiri. Suatu hari nanti, kamu akan melihat kembali dan menyadari bahwa semua rasa sakit dan lelah itu benar-benar layak untuk dilewati. Jangan lupa untuk berterima kasih pada dirimu sendiri, karena meski tantangan terus datang, kamu tetap berdiri teguh. Teruslah berusaha menjadi versi terbaik dari dirimu, karena itu adalah hal yang paling penting.

“Every painful journey carries its own lessons; it’s in the struggle that we find our strength and in the scars that we discover our resilience.”

ilustrasi dipinjam dari sini

Continue Reading
1 2 3 109