Konselor Itu Bernama AI

Beberapa waktu lalu ini, ada sebuah utas Threads yang cukup menyita perhatian. Meski singkat, isinya sangat menohok: ‘Teman-teman, jangan curhat ke ChatGPT ya. Udah banyak kasus ChatGPT cuma “ngasih makan” delusi yang sudah ada dan memperburuk kondisi seseorang. Jangan ya.

Saya terdiam, kok seperti dejavu, ya. Membaca satu per satu argumen yang muncul, malah rasanya seperti sedang melihat potret hubungan manusia di zaman sekarang yang semakin rumit.

Tapi di balik peringatan itu, kolom komentar justru memotret realita yang lebih getir. Ternyata banyak yang mengaku kalau memilih curhat ke AI bukan karena mereka naif tentang risikonya, tapi karena dunia nyata memang sekejam itu. Bagi mereka yang selama ini harus berjuang sendirian dengan kesehatan mental, kehadiran AI terasa begitu menguatkan, meski mereka tahu semua itu sama sekali semu.

Ironisnya, di antara pembelaan yang menyedihkan itu, masih saja terselip satu komentar sinis yang khas,“Hah, curhat ke ChatGPT? Nggak punya temen, lo?!

Komentar seperti itulah yang justru menjadi alasan kenapa banyak orang akhirnya ‘kabur’ ke AI, karena ternyata, dunia nyata kita sedang setidaknyaman itu, ya. Akhirnya di saat manusia lain lebih cepat menghakimi daripada mendengar, sebuah algoritma yang tidak bernapas pun akhirnya dianggap lebih ‘manusiawi’ ketimbang manusia itu sendiri.

Di sisi lain, kenyamanan yang ditawarkan AI ini perlu disikapi dengan bijak. Ada sebuah tulisan di mana Prof. Ridi Ferdiana dari UGM memberikan sebuah analogi, “AI itu seperti obat. Kalau digunakan secukupnya bisa membantu, tapi kalau berlebihan, ia akan menimbulkan ‘keracunan’”

Bicara tentang kesehatan mental, AI ini beda jauh dengan konselor manusia. AI tidak punya kesadaran atau rasionalitas layaknya seorang konselor. Dia bekerja dengan algoritma yang sifatnya memprediksi kata-kata yang paling pas untuk menyenangkan atau memvalidasi penggunanya. Jadi, misalnya saat kita sedang dalam kondisi mental yang rapuh, jawaban AI yang terasa bijak itu sebenarnya adalah hasil pengolahan data untuk memberikan respons yang paling relevan dengan perasaan yang kita masukkan. Jadi tentu responnya pun belum tentu valid. Itulah sebabnya, kalau kita memasukkan narasi yang salah (garbage in), AI akan memberikan validasi yang salah pula (garbage out), yang ujung-ujungnya bisa membuat kita merasa benar, padahal mungkin sedang dalam fase delusi.

Ada juga yang bilang, “Lho, ChatGPT itu kan cuma alat, semua balik lagi ke cara kita kasih prompt-nya. Ibarat sebilah pisau, mau dipakai buat apa ya tergantung siapa yang pegang. Kalau kita kasih input yang jujur dan objektif, dia malah bisa ngasih ‘tamparan realita’ yang bikin kita move on. Jadi sebenernya bukan alatnya yang salah, tapi mungkin kitanya aja yang lagi cuma pengen cari pembenaran lewat dia.” Nah, masalahnya, saat mental sedang berada di titik terendah, siapa sih yang punya cukup logika untuk menjadi pengguna yang bijak? Di saat mental rapuh, kita cenderung kehilangan kendali atas ‘pisau’ itu sendiri. Dan itulah celah bahaya yang sering kali tidak kita sadari.

Kisah Kendra Hilty adalah pengingat yang paling nyata tentang betapa tipisnya batas itu. Semua bermula saat Kendra ‘merasa’ psikiaternya memberikan perhatian lebih, hingga ia terjebak dalam apa yang disebut sebagai Romantic Transference, sebuah kondisi saat seseorang memindahkan seluruh haus akan kasih sayang kepada subjek di depannya. Bingung dengan perasaannya, Kendra bertanya pada Henry (nama yang ia berikan untuk ChatGPT-nya) tentang hal tesebut. Berhubung Henry hanyalah AI, dia tidak mengingatkan batasan logis soal etika profesional antara pasien dan psikiater. Henry justru memberikan validasi atas keseluruhan delusi Kendra. Memberi isyarat bahwa memang benar sang psikiater punya perasaan lebih padanya. Hingga akhirnya Kendra menyatakan cinta secara langsung dalam sesi konseling offline, yang akhirnya menjadi langkah yang menghancurkan proses terapi dan kariernya sendiri sebagai life coach.

Di sinilah letak bahayanya. AI memang didesain jago memberikan saran yang masuk akal, tapi lagi-lagi AI hanya bicara secara logika mesin, bukan perasaan manusia. Mungkin benar, AI bisa jadi semacam P3K emosional saat dunia nyata sedang terlalu berisik, dan ‘rumah’ tak lagi punya telinga untuk mendengar. Tapi, curhat ke mesin tetap ada batasnya. Luka batin kita memerlukan pendampingan profesional untuk benar-benar pulih. Karena pada akhirnya, penyembuhan yang sesungguhnya itu tidak akan pernah lahir dari bahasa balasan dari mesin. Kita tetap membutuhkan kehadiran manusia seutuhnya, yang secara nyata bisa melihat kita menangis sesenggukan, memberikan afeksi, atau pelukan hangat yang bisa meredam segalanya.

AI mungkin punya jawaban untuk segalanya, tapi ia tidak punya jiwa untuk siapa pun.

– devi eriana –

ilustrasi dibuat oleh Gemini AI

Continue Reading

Piringan Hitam di Era Streaming

Beberapa hari lalu, seorang teman bertanya dengan nada heran yang sulit disembunyikan, “Lah, dia masih ngeblog. Emang masih ada yang baca?”

Pertanyaan itu seolah menahbiskan anggapan kalau blog hanyalah tren sesaat yang masa jayanya sudah habis. Dan memang pada kenyataannya banyak blog yang dulunya aktif kini mati suri seiring munculnya berbagai media sosial. Jujur saja, selama beberapa tahun saya pun sempat ada di fase malas meng-update blog karena selain alasan kesibukan domestik di rumah dan kantor, juga sempat terbuai juga oleh kepraktisan Twitter dalam berjejaring (yang sekarang sudah berganti nama jadi X). Waktu itu rasanya jauh lebih gampang menjangkau audiens lewat tulisan singkat 140 karakter yang receh, ketimbang harus menyusun paragraf-paragraf panjang. Belum lagi sekalinya kita viral, banyak yang retweet, penambahan jumlah followers akan otomatis mengikuti. Memanfaatkan jumlah followers, saya pun kerap membagikan tautan tulisan baru di sana, sambil berharap trafik blog bakal naik.

Lambat laun semangat ngeblog itu luntur juga. Tapi rasanya bukan cuma saya, orang-orang pun tampak mulai jenuh, dan satu persatu mulai meninggalkan rumah digital masing-masing. Begitu pula budaya blogwalking alias kegiatan saling sapa di kolom komentar jadi tak sehangat dulu. Saat semua orang berbondong-bondong ‘bedol desa’ ke aneka situs microblogging, saya pun tak punya pilihan lain selain FOMO, melakukan hal yang sama.

Imbasnya, blog saya lebih banyak sarang laba-labanya ketimbang tulisan-tulisan baru. Padahal dulu, produktivitas menulis saya ada di level dewa. Bayangkan, sehari bisa lahir dua sampai tiga tulisan yang sengaja saya endapkan untuk stok postingan beberapa hari ke depan. Benar-benar masa di mana ide dan mood menulis bisa lahir kapan saja, di mana saja. Sekarang? Jangankan bisa memproduksi satu tulisan seminggu, bisa selesai satu draf dalam sebulan saja sudah jadi keajaiban dunia, yang layak dirayakan dengan standing ovation!

Anehnya, justru di saat orang-orang mulai skeptis dengan blog, saya malah merasa ini adalah waktu yang tepat untuk kembali menulis. Mencoba kembali menghidupkan kapsul waktu yang mengurasi sisa-sisa golden era, masa-masa di mana blog masih memegang takhta sebagai primadona jagat maya. Di semesta digital yang trennya punya shelf life super singkat, bertahan selama hampir dua dekade menjadikan blog ini sebagai sebuah ruang yang sangat personal. Kalau iseng scrolling ke arsip lama, seperti melihat bagaimana saya bertransformasi. Tentang bagaimana cara saya menulis, memilih diksi, dan memandang dunia melalui perspektif yang terus berkembang.

Saya ingat betul masa-masa keemasan itu, saat blog masih menjadi simbol prestise di jagat maya. Ada beberapa tulisan saya yang sempat viral, atau setidaknya cukup ‘ramai’ dibagikan melalui rantai email yang jadi media sosial paling organik pada masanya. Di tahun 2009, saya juga sempat diwawancarai oleh Tempo menyoal fenomena ngerumpi.com, awal mula situs vertikal yang menjadi ajang berkumpulnya para peselancar dunia maya yang tertarik dengan isu perempuan, yang dalam perkembangannya menjadi salah satu gerbang awal budaya berbagi di ranah digital Indonesia bersama dengan situs-situs user generated content (UGC) yang lain yaitu politikana.com dan curipandang.com.

Wawancara tersebut benar-benar membuka jalan. Ada rasa surreal saat menyadari blog saya yang biasanya ada sepuluh pengunjung saja sudah terasa mewah, tiba-tiba saya dihadapkan pada lonjakan trafik ratusan orang per hari. Apa saya nggak keder? Banget! Tapi pada akhirnya, saya belajar bahwa blog bukan soal statistik pengunjung saja. Tapi lebih jauh, adalah tentang bagaimana melalui tulisan-tulisan sederhana akhirnya bisa mempertemukan saya dengan lingkaran pertemanan baru.

Tapi kenyataan sekarang sudah jauh berubah. Konten-konten video pendek jadi ‘bahasa’ baru yang dianggap lebih seksi ketimbang deretan kalimat panjang. Efeknya? Attention span kita makin tipis. Baru baca beberapa paragraf saja rasanya sudah gatal mau scrolling Tiktok atau Instagram lagi. Akhirnya kita jadi kehilangan daya tahan untuk menikmati sebuah cerita hingga akhir.

Meminjam istilah Rhenald Kasali, disrupsi sudah masuk ke semua lini, mulai dari cara kerja fleksibel di coworking space sampai gaya hidup cashless yang praktis. Ada pula narasi yang mengatakan kalau masa depan adalah milik mereka yang paling muda. Tapi bagi saya yang berdiri di borderline antara Gen X dan Milenial, pergeseran ini justru terasa challenging, di mana kuncinya ada di self upgrade yang tidak punya tanggal kedaluwarsa.

Ketertarikan saya pada dunia tulis-menulis ini pun sebenarnya punya akar yang lumayan dalam dan agak ajaib. Waktu masih SD dulu, kalau anak-anak lain menganggap sesi mengarang di ulangan Bahasa Indonesia itu beban, bagi saya itu justru momen showtime! Dan lucunya, saya punya metode ‘sesat’ dalam menulis. Saat guru mewajibkan kami menyertakan kerangka karangan, saya justru menulis dulu sampai tuntas baru kemudian kerangka karangannya saya buat di akhir. Jadi, kerangkanya bukan sebagai panduan menulis, tapi malah merangkum apa yang sudah saya tulis. Gaya menulis liar tanpa kerangka itu terbawa hingga sekarang. Saya lebih suka menulis secara organik. Saya biarkan ide-ide mengalir begitu saja, meski risikonya alur saya sering ‘main’ ke mana-mana. Metode tanpa kerangka inilah yang menemani saya di berbagai proyek buku kolaborasi sepanjang 2009 hingga 2015.

Sejak kecil pun imajinasi saya sudah punya cara sendiri untuk bermain-main. Saya sering membuat cerita-cerita legenda KW tentang asal-usul bentang alam suatu wilayah, kadang juga iseng membuat komik strip, sampai tiba-tiba random menulis skenario drama yang akhirnya saya tahu seperti itulah bentuk skenario yang sesungguhnya. Nah, demi memperkaya diksi dan membangun dunia yang berwarna itulah, saya betah menghabiskan waktu untuk membaca berbagai buku dongeng, mendengarkan Sanggar Cerita (iya, ketaker umurnya), kadang RPUL, RPAL, hingga kitab suci legendaris anak 90-an yaitu Buku Pintar. Anyway, hi there, Iwan Gayo!

Hobi ini pun berlanjut ke aksi ‘berburu’ diksi di koran langganan orang tua. Satu yang paling saya ingat adalah saat saya menemukan kata ‘oknum’. Entah kenapa saya menganggap kata itu punya vibe yang keren. Sempat bertanya juga ke ayah saya tentang arti kata ‘oknum’ ini, tapi sepertinya ayah saya terlalu general menerjemahkan sebagai ‘orang’. Berhubung saya anggap kata itu aman, maka saya selipkan ke dalam karangan bertema ajakan untuk melakukan penghijauan di sekolah waktu kelas 6 SD. Hasilnya? Diksi itu dianggap kurang tepat oleh guru saya. Menurut beliau, istilah ‘oknum’ dinilai terlalu berat dan berbau kriminal untuk tulisan persuasi anak SD yang isinya justru mengajak teman-teman menanam pohon dengan riang gembira. Tapi ya, itulah pelajaran pertama saya, diksi yang keren belum tentu tepat kalau diletakkan di konteks yang salah. Kalau dipikir-pikir, saya memang se-eksperimental itu sejak kecil. Well, the audacity of my younger self!

Menurut saya, menulis itu semacam otot yang wajib dilatih. Ibarat pelari maraton, jika jarang diajak berlari, otot itu akan kaku dan kehilangan kelincahannya. Pada akhirnya, di tengah hiruk-pikuk jagat maya yang bisingnya minta ampun ini, aktivitas menulis menjadi salah satu coping mechanism agar saya tetap utuh di tengah riuh. kalau boleh saya ibaratnya, menulis itu seprti melempar pesan dalam botol ke tengah samudera, kita tidak pernah tahu siapa yang akan menemukannya. Namun, ada kepuasan tersendiri membayangkan jika suatu saat ada yang mampir atau menemukan sesuatu di blog ini untuk ‘dibawa pulang’, entah itu sekadar bahan bacaan receh, renungan, atau bahkan ide untuk tulisan baru.

Ngeblog mungkin terdengar sangat jadul sekarang. But hey, piringan hitam juga jadul, kan? Tapi kita semua tahu, suaranya punya karakter yang lebih ‘bernyawa’, yang tidak bisa dikalahkan oleh musik streaming mana pun.

devieriana

Ilustrasi: Dihasilkan oleh AI Gemini

Continue Reading

Fantasi Haute Couture ala Emily Cooper

Saat pertama kali memutuskan untuk marathon Emily in Paris, saya benar-benar tidak memasang ekspektasi tinggi. Niat saya sederhana, sekadar mencari tontonan saat makan siang atau selingan waktu santai yang bisa dinikmati tanpa harus membedah plot, atau menebak siapa tokoh antagonisnya. Dan benar adanya, tak butuh waktu lama untuk jatuh hati pada komedi romantis ini. Sejak awal, visual Paris yang cerah dan fotogenik langsung menyihir mata. Kita diajak mengiringi langkah perempuan Amerika usia 20-an yang tengah menyesuaikan diri dengan budaya kerja baru di negara baru.

Namun, tentu saja keindahan yang kita konsumsi di layar Netflix ini adalah Paris versi ‘kartu pos’ yang sudah difilter sedemikian rupa, yang sudah mengeliminasi realitas sumpeknya stasiun Metro, aroma kota yang tak seharum parfum, hingga masalah tikus di taman-taman kota yang sengaja diluputkan dari bidikan kamera. Sebuah ‘Paris Syndrome’ terbalik sengaja diciptakan untuk menjaga fantasi audiens global agar tetap utuh, sembari meredam kekacauan metropolitan yang sesungguhnya.

Meski demikian, justru di situlah letak kekuatannya. Sebab, siapa yang bisa menolak pikat jalanan Paris yang penuh warna, hamparan bangunan Haussmann dengan balkon besi tempa yang ikonik, hingga deretan adibusana dari rumah mode ternama? Di balik segala ketidakrealistisannya, Emily in Paris menjadi comfort watch bagi banyak orang. Ia adalah pewaris takhta dari tradisi hiburan fashion-centric yang memang selalu kita cintai.

Pola serupa sangat terasa jika kita menengok kembali film-film ikonik seperti The Devil Wears Prada, Sex and the City, hingga Confessions of a Shopaholic. Dalam semesta sinematik ini, busana bukan semata atribut fisik, melainkan bahasa visual yang mempertegas ambisi dan kepribadian sang tokoh utama. Kemiripan ini kian nyata saat kita menyandingkannya dengan beberapa serial modern seperti Younger, Gossip Girl, atau The Bold Type. Semuanya berbagi DNA yang identik yaitu merayakan persahabatan perempuan, jatuh-bangun karier, dan keberanian mengekspresikan diri lewat mode.

Emily Cooper, yang dihidupkan dengan apik oleh Lily Collins, hadir sebagai personifikasi gadis Amerika yang percaya diri. Ia menjejakkan kaki di Paris sebagai seorang eksekutif pemasaran Savoir. Menariknya, Emily memiliki ketahanan mental yang luar biasa. Ia tidak mudah tersinggung meski atmosfer kantor cenderung dingin dan sinis. Di saat yang sama, karakter ini tampak memiliki plot armor yang terlalu tebal. Selain keberuntungannya nyaris tanpa batas, ide-idenya pun selalu diterima mulus oleh klien. Sepanjang serial saya sering bertanya-tanya sendiri, di era yang serba kompetitif ini kok orang yang memiliki garis nasib seutopis dan semulus Emily? Jujur saja, kalau ada lowongan pekerjaan yang menawarkan keberuntungan nasib seperti Emily, saya pasti berdiri di antrean paling depan!

Lalu, mari kita tengok urusan asmaranya yang fenomenal itu. Dalam semesta yang ia huni, Emily memegang privilese mutlak untuk menaklukkan atensi barisan pria tampan rupawan. Emily sendiri memang secara lahiriah sudah berparas jelita, modis, dan smart. Dan tentu saja ada konvensi visual di layar kaca, kalau protagonis yang menarik memang idealnya bersanding dengan pasangan yang selaras agar estetika bingkainya tidak timpang. Jadi memang antara Emily dan lawan-lawan mainnya itu sengaja dipasangkan untuk memenuhi definisi eye candy yang maksimal. Sebab kesempurnaan visual adalah sebuah keniscayaan.

Nah, ada satu hal lagi yang saya perhatikan di sepanjang serial. Di tengah pakaian warga lokal yang setia pada prinsip Parisian Chic yang cenderung low-key dan didominasi palet warna bumi yang tenang, Emily justru hadir dengan estetika tabrak warna yang sangat berani. Pilihan outfit-nya pun serba ekstra, diametral dengan pakem understated yang selama ini menjadi identitas mode di kota tersebut.

Tapi memang menikmati serial ini menuntut kita untuk melakukan suspend disbelief tingkat tinggi. Secara logika, agak sulit diterima bagaimana seorang staf junior pemasaran bisa mengoleksi busana harian dari rumah mode sekelas Versace, Balmain, hingga Fendi. Di dunia nyata gaji di levelnya seharusnya mustahil menunjang gaya hidup semewah itu, apalagi jika menilik huniannya yang bersahaja. Namun, uniknya lagi, di balik keterbatasan chambre de bonne-nya, lemari Emily seolah memiliki kemampuan untuk melakukan regenerasi otomatis, yang terus menerus mengeluarkan koleksi desainer terbaru. Sepertinya sebuah hal tabu jika Emily terlihat mengenakan busana yang sama dua kali.

Serial ini didukung oleh jajaran tokoh pendukung yang kuat. Ada Sylvie Grateau (Philippine Leroy-Beaulieu) direktur sekaligus pemilik agensi pemasaran mewah Savoir, lalu ada sahabat Emily yaitu Mindy Chen (Ashley Park) seorang penyanyi berbakat dengan latar belakang keluarga superkaya di Tiongkok, yang memilih menjauh dari kehidupan lamanya setelah konflik dengan keluarganya dan hidup mandiri di Paris. Di awal cerita, Mindy bekerja serabutan, termasuk sebagai pengasuh anak dan penjaga toilet di kelab malam, sebelum perlahan kembali ke dunia musik dan tampil sebagai penyanyi profesional. Sementara Julien (Samuel Arnold) dan Luc (Bruno Gouery) adalah dua rekan kerja Emily yang sering memberi warna satir di dunia kerja mereka yang glamor. Antoine Lambert (William Abadie) adalah seorang pengusaha kaya raya yang memiliki perusahaan parfum ternama bernama Maison Lavaux. Dia adalah klien emas bagi Savoir, karena kesuksesan dan pengaruhnya yang besar.

Seiring bergantinya musim, konflik yang hadir pun mulai berlapis. Urusan pekerjaan, dinamika pertemanan, hingga benang kusut percintaan datang silih berganti. Emily kini bukan lagi sekadar ‘anak baru’ di Paris. Ia telah bertransformasi menjadi sosok yang kerap terperangkap dalam dilema yang ia ciptakan sendiri. Ironisnya, urusan asmaranya pun seolah hanya berputar-putar di lingkaran orang yang itu-itu saja. Kisah asmara Emily dimulai dari cinta pandangan pertama dengan Gabriel (Lucas Bravo), chef Prancis berbakat dengan pesona yang sulit ditolak. Kemudian hadir Alfie (Lucien Laviscount), eksekutif keuangan asal Inggris yang membawa dinamika dunia investment banking ke dalam hidupnya, dikenal Emily di kelas kursus bahasa Perancis. Memasuki musim keempat, daftar ini semakin panjang dengan kehadiran Marcello Muratori (Eugenio Franceschini), pewaris takhta bisnis cashmere keluarga di desa Solitano, Italia, yang belakangan menjadi klien Agence Grateau.

Namun, meski kota berganti dan daftar pria tampan bertambah, pola ceritanya seolah jalan di tempat. Paris yang seharusnya luas terasa begitu sempit karena konflik antar-pemeran terus berulang dalam pairing yang itu-itu saja. Bahkan saat memasuki penghujung Season 4 (Part 2), tiba-tiba sinyal-sinyal kedekatan antara Mindy dan Alfie mulai terendus. Nah, loh. Teori mengenai hubungan rahasia mereka ini dipicu oleh rapuhnya hubungan Mindy dengan Nicolas de Léon (Paul Forman), putra pemilik konglomerat barang mewah JVMA (Joint Ventures Maurice de Léon), menjadi love pentagon yang absurd.

Satu hal lain yang tidak bisa diabaikan adalah kemampuan bahasa Emily yang jalan di tempat. Meski sudah menetap lama di Paris, ia tampak enggan keluar dari zona nyaman bahasa Inggrisnya. Seolah-olah justru seluruh dunialah yang harus berkompromi dan menyesuaikan diri dengannya. Egoisme ini akhirnya memuncak menjadi titik didih bagi karakter lain. Gabriel bahkan secara gamblang meluapkan rasa frustrasinya saat mereka bersitegang:

Gabriel: “J’ai l’impression de m’être fait avoir. Je me suis laissé rêver d’un futur heureux avec toi. Une étoile Michelin, un bébé. Mais en fait, j’ai passé tellement de temps à essayer de te convaincre que toi et moi, ça en valait la peine. Pendant que toi, tu n’as même pas essayé. Aujourd’hui je suis vide. Je ne crois plus en rien, je ne crois plus en personne, et je dois quand même passer à la télé pour essayer de convaincre les Français d’en avoir quelque chose à foutre de mes coquilles Saint-Jacques. Alors oui, on a des problèmes de communication. Je ne te dis pas le contraire, mais c’est certainement pas de ma faute.”

Emily: “Please, I don’t understand.”

Gabriel: “Exactly..”

Dalam bahasa Indonesia, luapan perasaan Gabriel yang menyakitkan itu kurang lebih berarti:
“Rasanya aku seperti dibodohi. Aku membiarkan diriku bermimpi tentang masa depan yang bahagia bersamamu, bintang Michelin, seorang bayi. Tapi kenyatannya, aku menghabiskan begitu banyak waktu hanya untuk meyakinkanmu bahwa ‘kita’ itu layak diperjuangkan, sementara kamu? Kamu bahkan tidak pernah mencoba untuk mencoba. Sekarang aku hampa. Aku tidak percaya pada apa pun lagi, tidak pada siapa pun. Dan di tengah kehancuran ini, aku masih harus bersandiwara di televisi, berusaha membuat orang Prancis peduli pada masakan kerangku. Ya, kita memang punya masalah komunikasi, aku tidak membantahnya. Tapi untuk yang satu ini, aku tahu pasti bahwa ini bukan kesalahanku.”

Secara teknis, Emily in Paris memang didesain sebagai produk global yang ramah di telinga audiens internasional dengan dominasi bahasa Inggris di hampir setiap interaksi. Namun, ada lapisan emosi yang hanya bisa tersampaikan ketika karakter-karakter asli Paris seperti Sylvie, Julien, Luc, atau Gabriel berdialog dalam bahasa ibu mereka. Penggunaan bahasa Prancis dalam serial ini bukanlah bumbu pelengkap agar dialog-dialognya terdengar seksi/estetik semata, lebih jauh menjadi instrumen untuk membedah emosi yang kadang tidak selalu tersampaikan ketika diucapkan dalam bahasa Inggris.

Sebagaimana ketika Gabriel meluapkan amarahnya dalam bahasa Prancis, kemarahan dan kerapuhannya itu terasa jauh lebih purba dan menyakitkan saat didialogkan dalam bahasa Prancis. Di titik inilah kita menyadari bahwa bahasa bukan semata alat komunikasi. Sikap Emily yang tetap memegang teguh bahasa Inggrisnya di tengah ledakan emosi Gabriel menunjukkan sesuatu yang lebih dalam dari perbedaan bahasa. Ketidakmampuannya berempati berakar dari ego yang terlalu kuat, di mana ia enggan membuka diri untuk benar-benar memahami apa yang sebenarnya dirasakan oleh lawan bicaranya.

Jika kita menempatkan Emily in Paris murni sebagai produk hiburan, serial ini jelas berdiri di podium paling atas. Ia adalah gabungan sempurna antara kemegahan visual, parade adibusana, dan drama ringan yang mudah dicerna. Tapi kalau boleh jujur, serial ini terlalu bermain di zona nyaman lewat alur yang terasa repetitif, banyak plot hole, dan kedalaman karakter yang dangkal. Paris yang begitu luas serta bersejarah seolah direduksi menjadi sekadar latar belakang estetik bagi konten Instagram Emily.

Tapi pada akhirnya, serial ini kembali pada ekspektasi masing-masing penonton. Kalau kamu butuh hiburan ringan untuk melepas penat lewat visual yang estetik, Emily in Paris adalah pilihan yang tepat. Tapi, kalau kamu mencari film dengan naskah yang berat dengan riset mendalam, karakter dan penokohan yang kuat, Emily In Paris bukan sebuah pilihan. Anggap saja serial ini sebagai guilty pleasure, ibarat makan macaron yang warnanya cantik, rasanya manis dan menyenangkan di lidah, tapi tidak benar-benar bikin kenyang. Selama kita sadar bahwa film ini hanyalah cerita fiksi, petualangan Emily di Paris tetap menjadi hiburan yang asyik untuk melepas penat dari rutinitas sehari-hari.

Jadi, setelah parade mode yang panjang ini, kamu tim Gabriel, Alfie, Marcello, atau malah sudah bosan?

Btw, kalau saya pribadi sih, tetap tim Gabriel, ya!

Devieriana

photo courtesy Netflix, US Magazine, Business Insider, Prime Timer, Prestige Online, Destination Dreamer Diaries

Continue Reading

Jejak Bahasa di Era Linimasa

Lahir dan pernah menetap di Jawa Timur membuat saya terbiasa dengan budaya tutur yang lugas namun tetap menjunjung tinggi kesantunan. Namun, entah mengapa belakangan ini saya mulai menyimpan gelisah. Ada rasa tidak nyaman yang muncul saat menyaksikan arah perkembangan bahasa kita, terutama tentang betapa laten dan lumrahnya kata umpatan menyelinap ke dalam komunikasi sehari-hari. Saya tidak tumbuh dalam lingkungan yang memaklumi makian. Kata-kata kasar adalah tabu yang sebisa mungkin dijauhkan dari pendengaran maupun ucapan. Meskipun biasanya dianggap sebagai cara spontan meluapkan emosi saat marah atau kaget, makian adalah bahasa yang sebisa mungkin tidak saya pilih untuk mengekspresikan apa pun, terlepas dari bagaimana intonasi maupun situasinya menyertai.

Zaman sekarang, fungsi makian sudah bergeser jauh. Ia bukan lagi alat ekspresi untuk meluapkan perasaan, tapi sudah menjadi gaya bicara sehari-hari. Bahkan ada anggapan unik bahwa obrolan akan terasa ‘kurang mantap’ kalau tidak ada makiannya. Namun, bagi saya pribadi, pergeseran budaya ini tetaplah sebuah anomali yang sulit diterima.

Dahulu, terdapat garis demarkasi yang begitu tegas antara apa yang pantas dan tidak pantas untuk diucapkan. Kata-kata kasar, baik yang meminjam nama satwa maupun merujuk pada organ genital, adalah sebuah tabu absolut. Kita mungkin masih ingat masa di mana kata-kata kasar diganjar dengan olesan cabai di mulut, sebuah metode purba yang pernah digunakan oleh orang tua kita untuk menekankan betapa pentingnya menjaga lisan. Nilai moralnya tetap relevan hingga kini, di mana kita diingatkan untuk lebih bijak memilah pikiran mana yang pantas disampaikan dan mana yang sebaiknya disimpan sendiri.

Sekarang situasinya justru terbalik; makian kian lazim terdengar dalam percakapan sehari-hari. Kekhawatiran terbesar muncul ketika kita dengan begitu ringannya menggunakan istilah pejoratif untuk menghina orang lain, dipicu oleh ketidaksesuaian antara realitas yang kita lihat dengan gaya hidup yang mereka pamerkan di dunia maya. Misalnya, celetukan seperti, ‘Duh, bajunya kampungan banget, sih,’ atau yang lebih ekstrem, ‘Dasar lonte, kerjaannya cuma pamer aurat di sosmed,’ hingga makian intelektual seperti, ‘Gitu aja nggak paham, dasar tolol!’, makian kasar yang dulu dianggap tabu, kini terucap tanpa secuil pun rasa bersalah.

Keadaan ini makin parah karena media sosial menuntut kita untuk berekspresi secara serba cepat dan terus-menerus. Karena tidak saling berhadapan secara langsung, tercipta jarak psikologis yang membuat rasa empati kita perlahan-lahan menghilang. Efeknya, kita jadi terlalu berani bicara apa saja tanpa peduli apakah kata-kata itu melukai hati orang lain. Media sosial yang dulu dipakai untuk berbagi cerita sekarang justru mengubah cara kita berbicara, di mana standarnya makin lama makin rendah.

Pertanyaan saya sederhana, sejak kapan ekspresi seseorang di media sosial menjadi absah untuk dibalas dengan makian yang melukai harga diri manusia? Saat sebuah kata digunakan untuk mengerdilkan orang lain, sejatinya ia telah memasuki wilayah perundungan, di mana tidak semestinya mendapat ruang dalam bentuk dan alasan apa pun. Perlu disadari bersama, bahwa perbedaan selera maupun pilihan hidup adalah sebuah keniscayaan, karena setiap kita tumbuh dari akar dan latar belakang yang tak pernah sama. Namun, di situlah letak keanehannya, seolah kita merasa berhak menghujat orang lain hanya karena mereka tidak tampil seperti apa yang kita harapkan. Sikap merasa paling benar ini tentu tidak muncul begitu saja. Tanpa kita sadari, hal ini banyak dipengaruhi oleh bagaimana dunia digital membentuk cara berpikir kita sehari-hari.

Algoritma di media sosial bekerja seperti asisten yang terlalu rajin menyediakan apa pun yang kita sukai berdasarkan riwayat pencarian kita. Hal ini akan menciptakan echo chamber, ruang di mana kita hanya akan bertemu dengan opini yang serupa dengan kita. Nah, dampaknya ketika lingkaran digital kita mulai menganggap umpatan sebagai sebuah candaan yang wajar, maka pola itu akan menular dengan sangat cepat. Makian yang dulunya adalah bentuk luapan emosi, kini jadi hilang daya sengatnya karena saraf sensitivitas kita sudah terbiasa (mati rasa).

Kenyataan ini akhirnya menggiring kita pada sebuah renungan: apakah penggunaan kata-kata kasar secara otomatis merepresentasikan jati diri kita yang sesungguhnya? Tentu saja, gaya bicara yang kasar tidak bisa serta-merta dijadikan tolok ukur tunggal untuk menilai baik atau buruknya kepribadian seseorang secara utuh. Namun, jika ia dibiarkan menjadi kebiasaan yang berulang, akan ada perubahan subtil dalam cara kita bersosialisasi. Lama-kelamaan, hal ini membuat kita jadi mati rasa dan menciptakan jarak yang makin lebar dalam interaksi kita dengan orang lain.

Sampai kapan pun bahasa adalah entitas yang dinamis. Ia akan terus berevolusi dan melahirkan tren tutur baru yang tak bisa kita cegah. Namun, kita perlu sejenak berkaca, nilai apa yang sebenarnya tengah kita anggap lazim hari ini? Jika setiap makian dibenarkan dengan alasan ‘sudah menjadi kebiasaan lama’, tidakkah itu menjadi indikator bahwa sensitivitas kita terhadap adab sedang merosot? Ataukah, mungkinkah ini hanya sekadar keresahan dari sudut pandang saya?

Bisa jadi telinga saya memang sudah vintage, ketinggalan zaman, lantaran terbiasa dengan era di mana bicara masih menggunakan saringan rasa sungkan. Namun perlu diingat, semaju apa pun dunia, kita tetap butuh kontrol diri. Sangat disayangkan jika demi mengikuti perkembangan zaman, kita malah kehilangan jati diri dan lupa bagaimana cara menghargai orang lain lewat kata-kata yang kita ucapkan.

Just my two cents.

-Devi Eriana-

ilustrasi diambil dari shutterstock.com

Continue Reading

An Unexpected Stay, A Life Reset


I never thought a regular Wednesday would end with me lying on a hospital bed, staring at white ceilings and counting the beeps of machines. It wasn’t part of the plan. I mean, who plans to swap weekend Netflix for an IV drip and a hospital gown that doesn’t quite cover your dignity? But sometimes, life doesn’t ask for your permission—it just throws you straight onto a gurney.

Rabu (26/2) itu saya masih melanjutkan aktivitas seperti biasa, menyelesaikan pekerjaan rutin, ikut tes konversasi Bahasa Inggris, lalu munggahan bersama teman-teman kantor menyambut Ramadan. Tidak ada pertanda apa pun. Saya pikir hari itu akan berakhir seperti biasanya: pulang, istirahat, dan bersiap untuk aktivitas esok hari. Tapi ternyata, Allah punya rencana lain.

Menjelang pulang kantor, perut saya mendadak terasa kembung, nyeri, melilit, dan perih yang makin lama makin menusuk. Saya pikir, ah ini cuma gangguan pencernaan biasa, bisa jadi akibat saya ada salah makan di munggahan. Tapi makin lama rasa sakitnya kok makin intens. Posisi apa pun terasa salah. Mau berdiri atau duduk, salah. Miring ke kiri sakit, ke kanan pun tak nyaman. Karena saya pulang kantor pun sudah sore menjelang malam, akhirnya mencoba konsultasi via aplikasi kesehatan, HaloDoc. Berdasarkan keterangan yang saya berikan, dokter menyebut ada kemungkinan maag. Keluhan yang belum pernah saya alami seumur hidup. Saya diberi resep, meminum obat yang diberikan sambil terus berbaik sangka bahwa ini ‘cuma’ maag, dan esok hari saya pulih seperti semula.

Namun ternyata, meski obat sudah saya minum, kondisi saya tak kunjung membaik. Saya makin tak bisa tidur sampai pagi. Belum lagi ditambah masalah baru, saya juga mengalami diare. Kondisi yang awur-awuran ini menyebabkan tubuh saya makin lemas, nafsu makan juga mulai terganggu.

Keesokan harinya, dengan sisa tenaga, saya mencoba pergi ke klinik dekat rumah dengan naik taksi. Ternyata di klinik ini pun hasil pemeriksaan tak jauh berbeda, dugaannya pun tak jauh dari asam lambung. Tapi apa memang asam lambung, maag, atau gerd deritanya sesakit ini, ya? Sama seperti hari kemarin, kali ini pun saya berharap akan segera pulih setelah menelan obat-obatan yang diresepkan. Siapa tahu beda dokter, beda resep, bisa sembuh.

Tapi ternyata saya salah. Kondisi saya makin memburuk. Demam yang naik turun, diare yang tak kunjung membaik, ditambah lagi nyeri yang mulai mendera di area ulu hati. Saya nyaris tidak bisa berdiri tegak, jalan membungkuk menahan sakit. Melihat kondisi saya yang tak kunjung membaik itu, akhirnya persis di 1 Maret 2025 adik saya mengantar ke RS MMC Kuningan. Di sana, saya langsung ditangani oleh dr. Fatih Anfasa, Sp.PD. Melihat kondisi saya yang lemah dan mengenaskan itu, beliau langsung menyarankan rawat inap. Dugaan awal saya mengalami tipes, atau mungkin TBC usus, atau bisa juga infeksi organ dalam lainnya. Semua belum pasti.

Dari observasi yang dilakukan selama saya rawat inap, hasil laboratorium menunjukkan memang iya saya positif tipes, plus defisiensi vitamin D, dan HB saya 7. Haduh, kok banyak sekali. Namun di luar itu, saya merasa ada yang tidak beres dengan perut saya. Meski suhu tubuh perlahan normal dan keluhan lain nyaris tak terasa, perut saya tetap terasa penuh, begah, dan kembung, padahal asupan makanan sangat sedikit.

Saat ini pikiran saya cukup terbagi karena harus menjalani perawatan di rumah sakit tepat di tengah pekan UTS Alea (10 tahun). Ini merupakan pengalaman pertama saya tidak bisa mendampinginya belajar di rumah secara langsung. Mengingat Alea belum terbiasa belajar mandiri dan selalu mengandalkan saya untuk membimbingnya, saya dan suami harus mencari cara lain. Solusinya, sepulang sekolah Alea akan datang ke rumah sakit membawa buku-buku pelajarannya agar kami bisa belajar bersama di samping ranjang. Situasinya memang sangat jauh dari kata ideal. Saya tidak bisa leluasa menjelaskan materi, karena keterbatasan gerakan dan juga tetap harus menghargai pasien di sebelah saya nyaman beristirahat. Namun, saya tetap upayakan untuk menemani Alea mempersiapkan ujian.

Puncaknya adalah ketika Rabu sore (6/3), saat saya sedang bersama Alea, tiba-tiba perut bagian bawah terasa nyeri hebat. Rasa sakitnya datang begitu tiba-tiba, disusul suhu tubuh yang naik hingga 38,3°C. Segera saya dibawa ke ruang radiologi untuk menjalani USG abdomen. Sayangnya, karena nyeri yang sangat mengganggu, proses pemeriksaan tidak bisa dilakukan dengan maksimal. Jangankan disentuh atau ditekan, terkena kain baju sendiri saja rasanya semriwing.

Keesokan harinya, saya dijadwalkan menjalani pemeriksaan CT scan abdomen dengan zat kontras (zat yang digunakan dalam pemeriksaan medis seperti CT scan untuk memperjelas gambar, sehingga membantu dokter melihat struktur tubuh dengan lebih detail). Sebelum CT scan, saya diminta untuk memimum cairan kontras, dan lalu berpuasa sejak pukul 07.00, untuk memastikan usus kosong sehingga hasil scan-nya hasilnya akurat dan untuk menghindari efek samping yang mungkin muncul akibat zat kontras, seperti mual atau muntah. Kalau ditanya rasa cairannya bagaimana, jelas jauh dari kata enaklah, di lidah saya, aftertaste-nya seperti minum cairan rasa logam.

Proses pemeriksaan CT scan abdomen ini umumnya berlangsung sekitar 30 menit hingga satu jam, bergantung pada jenis pemindaian dan kebutuhan medis. Usai pemeriksaan, saya kembali ke kamar untuk beristirahat sambil menanti hasil, dengan perasaan yang campur aduk. Akankah hasilnya ‘baik-baik saja’ atau justru parah?

Dan benar saja, siang itu kamar rawat saya mendadak ramai, bukan oleh keluarga atau teman yang datang menjenguk, melainkan lima dokter yang masuk bersamaan. Ada dokter spesialis bedah digestif, dokter obgyn, dokter bedah umum, dokter spesialis penyakit dalam, dan dokter anestesi. Mereka menanyakan apa saja keluhan yang saya rasakan, lalu menginfokan hasil CT scan abdomen pagi tadi. Dokter Arief Gazali menjelaskan bahwa kondisi di dalam perut saya cukup kompleks, ada kista, ada cairan, endometriosis, adenomiosis, dan perlekatan di usus. Jujur, mendengar  semua penjelasan itu, pikiran saya langsung penuh. Sampai akhirnya dokter Darmawan Lesmana memutuskan, “hari Jumat setelah Jumatan kita operasi, ya. Laparoskopi aja, lukanya kecil aja kok, jadi pemulihannya lebih cepat.”

Jumat, tanggal 7 Maret 2025, tepat pukul 12.00 siang, saya dibawa masuk ke ruang operasi. Tak ada lagi yang bisa saya upayakan, selain berserah diri sepenuhnya kepada Sang Kuasa. Saat ranjang saya mulai didorong menuju ruang operasi, sejujurnya ada rasa takut meski sudah berserah. Di dalam hati saya tak henti merapal doa agar lebih tenang. Hingga akhirnya anestesi disuntikkan, saya pun perlahan tertidur, dan setelah itu, semuanya gelap.

Saya baru benar-benar siuman sekitar pukul 20.45 malam. Hampir sembilan jam berlalu, dan saya sama sekali tak tahu apa saja yang telah terjadi selama saya tak sadarkan diri. Di ruang pemulihan/transisi ada suster yang berjaga menunggu hingga saya siuman. Keluhan pertama yang saya rasakan bukan rasa nyeri di area bekas operasi, tapi rasa pegal di bagian punggung. Wajar saja, tubuh saya berjam-jam terbaring di atas meja operasi yang keras dan datar.

Beberapa saat kemudian, saya mulai merasakan ketidaknyamanan di area hidung dan tenggorokan. Rupanya, ada dua jenis selang yang terpasang. Satu untuk oksigen, dan satu lagi selang sonde yang digunakan untuk mengalirkan nutrisi langsung ke lambung. Tak lama setelah saya sepenuhnya sadar, tubuh saya dipindahkan ke ICCU dan langsung dibalut dengan selimut penghangat untuk menjaga suhu tubuh tetap stabil setelah prosedur medis.

Tak lama, suami saya datang ke ICCU. Wajahnya tampak lelah dan cemas. Rupanya selama saya berada di meja operasi, ia sempat beberapa kali dipanggil oleh dokter, dan harus menandatangi formulir persetujuan tindakan kedokteran, karena prosedur yang awalnya hanya direncanakan sebagai laparoskopi harus diubah menjadi major surgery dan itu jelas membuatnya khawatir.

Dengan suara lirih, ia berkata, “maafin aku ya, Ma. Aku memberi persetujuan dokter melakukan sesuatu atas tubuhmu tanpa persetujuanmu. Tapi semua buat kebaikan dan kesehatanmu. Sekali lagi, maafin aku, ya. Alhamdulillah, aku bersyukur kamu sudah melalui masa kritis, alhamdulillah kamu masih hidup…”

Hah, masih hidup? Gimana maksudnya?

Suami saya belum sempat bercerita panjang lebar lantaran dia harus bolak-balik mengurus berbagai urusan administratif dan lainnya. Tak lama kemudian, adik saya datang bersama Alea yang terlihat mengantuk dan lelah karena menunggu seharian hingga saya siuman. Adik saya menjelaskan bahwa selama di ruang operasi, Dokter menemukan infeksi yang cukup serius di rahim saya, gabungan antara kista, adenomiosis, endometriosis, perlekatan di usus dan liver. Jadi, yang awalnya, dokter hanya merencanakan laparoskopi, namun selama prosedur berlangsung, kondisi yang ada memaksa perubahan rencana menjadi bedah mayor. Pembersihan usus dan liver tetap dilakukan. Sayatan vertikal dibuat dari atas pusar hingga ke bagian bawah perut. Prosedur yang semula hanya bertujuan untuk membersihkan saja, demi melihat kompleksitas masalah di dalam rahim, dokter memutuskan untuk melakukan histerektomi (pengangkatan rahim) untuk mencegah keluhan yang sama terjadi berulang di masa yang akan datang.

Saya tercenung. Ternyata 8 jam lalu, ada peristiwa besar yang baru saja mengubah perjalanan hidup saya. Namun entah kenapa, saya tenang sekali mendengar cerita itu. Hanya sedikit terkejut namun tidak menangis atau sedih. Semenerima itu. Meski akhirnya ada bagian tubuh yang pernah menjadi tempat bagi anak saya bertumbuh harus dilepaskan.

Dan, ketika semua orang sudah kembali ke rumah masing-masing, dan tinggal saya sendirian di ICCU, saya terjaga penuh. Dengan segenap penyerahan diri memohon kepada Yang Maha Kuasa, agar saya diberi kesempatan untuk pulih, menjalani hidup yang lebih sehat, lebih ringan, dan tetap bisa membersamai keluarga tercinta.

Singkatnya, tak lama setelah keluar dari ICCU, sekitar pukul 15.00 saya dipindahkan kembali ke ruang rawat inap. Seharusnya, inilah awal untuk mulai latihan ringan miring ke kanan dan kiri, lalu mencoba duduk, berdiri, hingga perlahan berjalan. Namun ternyata tubuh saya belum mampu. Bukan hanya karena rasa nyeri yang masih terasa, tapi juga secara mental saya belum siap. Berbeda dengan saat melahirkan Alea dulu, operasi sesar karena placenta previa sudah diinformasikan sejak awal, sehingga saya sudah mempersiapkan fisik dan mental lebih awal. Namun tidak untuk kali ini. Operasi datang begitu mendadak, tanpa memberi waktu mempersiapkan diri lahir batin.

Butuh waktu tiga hari pascaoperasi sampai akhirnya saya memberanikan diri untuk duduk, lalu berdiri dan mencoba melangkah pelan. Memang agak terlambat. Apalagi melihat perban yang rasanya begitu besar membalut area perut. Like, wow! Awalnya saya merasa belum sanggup menekuk bagian perut untuk duduk. Ternyata, setelah dicoba, saya mampu juga, meski masih terengah-engah. Mulanya saya hanya berjalan pelan di dalam kamar, hingga akhirnya berani melangkah keluar, menapaki koridor di lantai tempat saya dirawat.

Alhamdulillah, tanggal 15 Maret 2025 saya diizinkan pulang. Hasil laboratorium menunjukkan banyak perbaikan. Hati saya rasanya hangat, lega, dan sangat bersyukur. Akhirnya saya diperbolehkan pulang, setelah 15 hari menjalani perawatan di rumah sakit. Tentu, saya pulang dengan membawa berbagai macam obat yang harus saya minum secara rutin sampai tiba waktu kontrol berikutnya.

Namun ternyata, titik paling menantang justru datang setelah saya kembali ke rumah.

Kini, saya harus mulai mengandalkan diri sendiri tanpa bantuan sigap dari perawat maupun dukungan alat medis lainnya. Meskipun tubuh masih terasa lemah dan langkah kaki belum sepenuhnya stabil, saya tetap berusaha untuk bergerak perlahan. Kondisi ini sungguh menantang bagi saya. Selain sesak napas akibat batuk yang belum reda, rasa mual juga sering datang mendadak karena lambung yang masih dalam masa penyesuaian. Akibatnya, berat badan saya merosot drastis dari 54,5 kg menjadi 42,3 kg. Saya sempat bingung sendiri saat memilih pakaian, karena hampir semua baju koleksi saya berukuran S dan M. Namun sekarang, sepertinya ukuran tubuh saya jauh menyusut di bawah itu. Baju-baju yang biasanya pas, kini semuanya terasa sangat longgar saat dikenakan. Saya sampai terpikir, apa iya saya harus pakai baju ukuran kids?

Selama di rumah, setiap hari saya berusaha menantang diri melakukan aktivitas-aktivitas baru untuk melatih mobilitas dan memulihkan kekuatan otot, seperti mandi (selama di rumah sakit saya hanya mandi seka, itupun dibantu oleh perawat), keramas, memotong kuku kaki, menyapu lantai, mencuci baju atau piring kotor, atau sekadar menyelesaikan pekerjaan rumah lainnya. Dan yang paling mengharukan adalah, ketika di pulang kontrol dari rumah sakit, ternyata saya sudah bisa pulang sendiri naik Gojek! Rasanya ingin memberi pelukan ke diri sendiri, menyadari bahwa semua anggota tubuh saya seberusaha itu untuk pulih.

Kini, saya sudah kembali ke kantor dan menjalani aktivitas seperti biasa. Bahkan, pada tanggal 9 April lalu, saya sudah memandu acara Halal Bihalal di lingkungan Sekretariat Lembaga Kepresidenan. Saya juga berusaha menjalani hidup yang lebih sehat dengan rutin berolahraga, mengonsumsi makanan bergizi, dan menjalani aktivitas sehari-hari dengan semangat positif.

Melalui tulisan ini, dengan setulus hati, saya ingin berterima kasih kepada keluarga tercinta atas kasih sayang dan dukungan yang tak pernah surut, kepada sahabat-sahabat yang setia memberi perhatian dan bantuan tulus selama saya dirawat di rumah sakit, para perawat yang telah dengan sabar merawat saya selama di rumah sakit, serta kepada para dokter luar biasa yang telah menjadi bagian penting dalam perjalanan penyembuhan saya:

Berkat tangan dingin, keputusan cepat, dan ketulusan hati Bapak/Ibu Dokter, saya bisa menceritakan kembali kisah ini dengan penuh rasa syukur. Terima kasih telah menjadi bagian dari mukjizat kecil dalam hidup saya.

– Devi Eriana –

Continue Reading
1 2 3 110