Saatnya kita tebar pesona !!

 

 

Tragedi Situ Gintung 27 Maret 2009 selain menorehkan luka mendalam bagi para korbannya, sekaligus membuka celah sebagai ajang kampanye para politikus & calon anggota legislatif. Betapa tidak, membaca sebuah tulisan yang dilansir harian Kompas, Sabtu 28 Maret 2009 lali, seolah bantuan yang didirikan diosana penuh dengan muatan politiknya ketimbang kemanusiaannya.

 

Berikut petikan sebuah doalog caleg dengan kader partainya saat berbicara di ponselnya : “bagaimana, apa sudaah ada wartawan disana? Kalau sudah, sembakonya kita bagikan saja”.

 

WEEEKKKSS?! Mulia sekali ya caleg kita 1 ini? Ditengah kesulitan seperti ini masih saja berpikir untuk kepentingan pribadi dengan mengatasnamakan bantuan kemanusiaan untuk para korban Situ Gintung.. Genius!! Mereka datang bak pahlawan, bersama-sama merasakan kesedihan & kesulitan para korban & mendirikan posko-posko, tapi teteup ya.. bertuliskan : nama partai, lengkap dengan nama & nomor urut caleg..

 

Sebenarnya gejala ini sudah diperkirakan banyak pihak. Bukan hanya caaleg, tapi juga semua pihak yangs ekarang lagi hiruk-pikuk berkampanye, terjun langsung membagikan sembako, ambulance, posko-posko bantuan, alat-alat kesehatan, dll. Di 1 sisi bagus, karena sesama manusia harus saling membantu. Tapi jika niat mulia itu ditunggangi dengan kepentingan politik & pribadi.. Masih bisakah itu disebut perbuatan mulia?

 

.. Wallahualam ..

Continue Reading

Saya tidak punya harga diri ..

 

critic

 

 

Sekali lagi kita akan bicara tentang KRITIK. Semakin mendekati pemilu tgl 9 April 2009 rasanya suhu politik di negara kita makin memanas dari hari ke hari. Tak heran jika ada “perang” komentar tentang pengakuan kehebatan masing-masing calon presiden kian santer terdengar. Seperti halnya beberapa waktu yang lalu saat melihat tayangan di televisi plus membaca ulasan di forum detik tentang kritikan Megawati Soekarnoputri terhadap kepemimpinan SBY, utamanya tentang Bantuan Langsung Tunai (BLT). Hmm, kok saya rasakan beliau terlalu berlebihan ya. Disini saya tidak bermaksud membela atau menyudutkan siapapun, kebetulan saya juga bukan simpatisan 2 partai yang sedang saya bicarakan ini  🙂 .

 

Berikut cuplikan orasi beliau :

“Apa artinya 220 ribu kalau hanya untuk dempet-dempetan? Hei ibu-ibu, apa artinya 200 ribu yang ibu-ibu tunjukkan pada anak-anaknya bahwa ibunya tidak punya harga diri dan kepribadian.”

 

Kok miris ya saya dengernya. Perlu ya sampai beliau berkata seperti itu di depan rakyat yang notabene calon pemilihnya? Lagi-lagi yang disinggung adalah masalah BLT. Sekali lagi topik yang selalu mengandung pro-kontra.

 

Sebagian mengatakan program BLT sangat tidak efektif karena masih banyak rakyat yang tidak kebagian, proses pemberian BLT yang masih kisruh, masih adanya pungli oleh oknum RT/RW setempat, BLT adalah program yang kurang mendidik karena menjadikan warganya malas, kurang mau berusaha, bergantung kepada orang lain.

 

Versi yang lain, dengan melihat segala keterbatasan yang dimiliki masyarakat kita yang notabene tidak 100% orang mampu, wajar kiranya pemerintah memberikan bantuan tunai kepada rakyat miskin dengan contoh seorang nenek tua yang hidup bersama 2 cucunya, yang sangat tidak memungkinkan untuk bekerja dengan program padat karya. Ibu seperti inilah yang dikatakan butuh diberi ikan, bukan kail. Tapi bagi yang sudah memiliki kail, ya tinggal kembangkan saja usahanya dengan program usaha kecil mandiri. Bagi orang kaya & tidak pernah merasakan kemiskinan, uang 200 ribu memang kecil, tapi coba bandingkan dengan mereka yang hidup dibawah garis kemiskinan akan sangat berarti.

 

Ukuran harga diri juga bukan hanya dilihat apakah dia menerima BLT atau tidak. Ada banyak aspek yang bisa dijadikan ukuran. Dari apa yang pernah saya baca, sebenarnya yang ingin di highlight pemerintahan SBY dengan adanya BLT ini adalah membangun kembali kepekaan nurani sebagai sesama manusia yang sudah (bisa dikatakan) hilang dari budaya masyarakat Indonesia. Pemberian BLT hanya merupakan salah satu langkah awal dari serangkaian program yang sudah direncanakan dan tentunya memiliki kohesi alias keterkaitan dengan aspek lainnya. 

 

Sebelum kita melebar kemana-mana, yuk kita kembali lag ke masalah kritik tadi. Inti yang ingin saya angkat disini adalah, sebelum mengkritisi pihak lain, akan lebih bijaksana jika pihak Megawati juga mulai berbenah diri, memperbaiki kekurangan di sana-sini, daripada mengumbar kekurangan & aib pihak lain. Karena jika dirunut ke belakang, pada masa kepemimpinan beliau, track record beliau pun sebenarnya juga masih jauh untuk dikatakan excellent, masih banyak raport merah yang perlu diperbaiki. Berkaca akan kemampuan diri sendiri, itu yang saya rasa jauh lebih penting dilakukan Megawati daripada umbar kritik sana-sini. Jika saya boleh beranalogi, rakyat itu ibarat pasir, dan presiden adalah orang yang memindahkan pasir ke suatu tempat ke tempat lain dengan menggunakan tangan. Wajar jika masih ada yang tercecer disana-sini.

 

Terlepas dari siapakah yang akan menjadi presidennya nanti berpositif thinking saya rasa akan lebih memberikan aura positif bagi perkembangan dinamika politik di negara kita. Jadi ingat perbincangan dengan sahabat saya kemarin pagi.  Di Jepang system is working perfectly, karena system dan aturan main yang dikejar bukan figur. Mereka tidak pernah meributkan siapa yang akan menjadi pemimpinnya. Karena apa? sudah ada tatanan sistem kenegaraan yang pakem yang sudah dijalankan dari pemimpin ke pemimpin berikutnya. Jadi siapapun yang akan memimpin nantinya tinggal menjalankan sistem yang sudah ada. nah kalau kita? Ribuuut melulu, kritik-kritikan. Kapan jadinya si system itu tadi..  🙁

 

Seperti yang pernah saya katakan di tulisan saya sebelumnya,  “Kita memang selalu melihat lebih jelas kearah kesalahan orang lain, dibandingkan kesalahan kita sendiri. Lampu sorot untuk orang lain, sedangkan lilin redup untuk diri sendiri. Untuk orang lain, sedapat mungkin kita gunakan kata : “lah, harusnya kan dia…” . Sedangkan untuk diri sendiri : “ya gimana lagi aku kan…”.
Menjelek-jelekan pendahulu itu tidak menjadikan diri orang yang menjelekkan itu lebih baik.

 

Semoga bisa menjadikan koreksi untuk semua pihak. Memberikan kritikan, atau masukan buat orang lain itu perlu. Tapi lebih baik mengkoreksi diri sendiri sebelum melontarkan kritikan. Jangan sampai kita menjadi tuhan kecil yang menghakimi orang lain seenak perut.

 

Menjadi tua itu pasti, menjadi bijaksana itu pilihan..

 

 

 

 

 

 

Continue Reading

Mood.. I'm not in the mood ..

angry

Pagi-pagi sudah ada kejadian yang sebenarnya sepele, tapi kok jadi sedikit mengganggu ya. Berawal dari teguran saya kepada salah satu anak buah mengenai kerjanya karena kok beberapa kali dia melewatkan saya sebagai cc dalam emailnya ke spv untuk edit  penilaian performansi agent callcentre. Memang awalnya sengaja saya diamkan karena mungkin saja dia lupa, ya sudahlah nggak apa-apa..

Tapi kemarin kok saya nggak di cc-in lagi ya? Masa lupa lagi? saya tegur pelan-pelan sambil ngasih tahu, kalau bisa semua email ke spv tetep harus di cc-in saya..

Reaksinya kok di luar dugaan saya ya. Dianya nyolot & sambil mengucapkan : “Lho, bukannya udah, Mbak? kan aku selalu cc-in ke Mbak kalo kirim ke Mbak Ketut? jangan-jangan kamu nyari-nyari kesalahanku ya?”

Sumpah, bikin males saya dengernya. Memang dengan wajah yang -sepertinya- agak becanda. Tapi saya ngerasanya dia sedang nggak becanda. Padahal saya jelas-jelas lagi membuka email dia yang tanpa ada cc ke saya sama sekali..:( . Mbok ya bilang maaf kek, atau makasih udah diingetin atau apa gitu yang juga mengakui kalau dia salah…

Langsung hilang mood saya hari ini.. Apa iya dia harus mengeluarkan kata-kata seperti itu? Kalau dia anak kemarin sore, yang masih kecil, mungkin saya tidak terlalu ambil pusing. Tapi ini sudah hampir seusia saya, kok ya pemikirannya belum dewasa dalam menerima kritik. Toh kata-kata saya saat menegur halus, tidak dalam intonasi kasar, ga ada yang berusaha mencara-cari kesalahan orang.. Buat apa? Ya kalau bisa mah justru anak buah saya jangan sampai bikin salah.

Ni anak bener-bener bikin saya males berdebat. Kali ini dia berhasil. Berhasil menghilangkan mood saya!

[devieriana]

Continue Reading

Blurry ..

 

untitled

 

 

Siapa yang bener, siapa yang salah sama -sama ga jelas. Yang jelas, kemarin saya bengong karena harus mendengarkan perdebatan 2 pihak yang samasekali beda divisi dengan saya yang mengaku sama benarnya. Inti topiknya adalah masalah katering alias makanan. Yang 1 ngakunya sudah menyediakan sesuai dengan jumlah total karyawan yang makan di pantry, yang 1 lagi ngaku kalau tidak pernah kebagian makanan karena makanan selalu habis ketika mereka ber-13 mau makan.. Hmm.. (??! really?)

 

Sempet bingung juga karena setahu saya (karena saya baru saja mendarat dari pantry) makanan masih full & tidak ada indikasi makanan sudah habis karena petugas katering masih standby. Hyaaeeyyyalah, secara masih jam 12 an gitu, masih jam makan siang. Akhirnya setelah beradu argumentasi yang cukup emosional mendapat hasil akhir : mulai besok tgl 24 Maret 2009 tolong sediakan makan nasi dus aja untuk 13 porsi..  —> dengan nada esmosi tentunya..  🙁

 

Ya ampun, masalah makanan aja kok ya sampai jadi rame sih.. Entah dimana letak misunderstanding-nya. Semua pihak merasa merekalah yang paling benar, sama-sama menunjukkan arogansi. Saya sempat speechless ketika satu-persatu menceritakan kronologis dengan versi masing-masing. Entah siapa yang benar, siapa yang salah.. Yang jelas buat saya semuanya tidak ada yang benar, tidak ada yang salah..

 

Belum ada titik temu. Yang ada adalah perang dingin yang entah samapai kapan bisa mencair.

 

Beda persepsi, beda anggapan, beda pendapat, beda argumentasi, beda penerimaan. Itu yang saya lihat dari 2 pihak yang sedang berselisih ini. Tidak ada 1 pun yang mau mengalah. Kalaupun ada yang mengalah menuruti menyediakan makanan dalam kotak (bukan prasmanan) ya lebih ke emosi juga.

 

Saya sendiri bukan salah satu pihak yang berselisih. Kebetulan saya kenal dengan mereka, mereka tahu saya, & saya leader disini sehingga mereka merasa bahwa saya adalah pihak yang bisa dicurhati.. Hikss.. Kenapa saya jadi terbawa-bawa sih? 🙁

 

Ya sudah, kesimpulannya : makan dalam dus, bukan prasmanan dengan batas waktu yang belum bisa ditentukan.

 

Ayolah temans.. ini cuma kesalahpahaman.. Jika kalian mau bertemu, jika kalian mau berunding, saya mau kok jadi mediatornya. Jangan perang dingin seperti ini ah.. Selain ga enak diliat, juga ga enak didenger sama pihak lain.. Masa gara-gara makanan aja ribut..  🙁

 

P E A C E

 

 

 

 

 

 

Continue Reading

Ibu & Facebook ..

 

facebook

 

 

Facebook.. siapa sih yang ga kenal sama situs yang lagi anget-angetnya ini (walaupun saya udah terjangkit hama bosen ama facebook). Situs yang bisa memporakporandakan kejayaan friendster setelah sekian lama berjaya di dunia maya.. Hayaaah.. bahasaku.. :p

 

Hampir semua orang punya account di situs Facebook ini. Berbagai profesi turut meramaikan dunia pencak fesbuk..heheheh.. Mulai politisi sampe ibu rumah tanggapun punya account disitu. Hmm..

 

Tercenung membaca sebuah postingan yang membahas tentang Serafina Ophelia yang dalam acara Pertunjukan Pantomisasi Puisi pada Sabtu 14 Maret 2009 di Taman Menteng, Jakarta Pusat itu ia membawakan satu buah puisi yang judulnya Ibu dan Facebook.

 

Puisi yang agak menyentil kaum ibu yang terlalu sibuk ber-fesbuk ria sampe sang anak ternyata memperhatikannya. 

 

Yuk kita lihat isi puisinya :

Ibu dan Facebook

Ibu..
Facebook..
Hubungannya erat sekali
Setiap hari,  sehabis mandi,  selesai makan,  sehabis apapun..
dalam hatiku, aku berpikir, mau kemana gerangankah ia ?

 

Notebook..
Tapi, apa yang selalu ia lihat di notebook ?

Facebook..

setiap hari, tawanya menggema
Sampai kapankah hubungan erat antara Ibu dan Facebook ?
Mungkin sampai akhir hayatnya

 

Notebooknya akan dibawanya ke surga…

 

 

Nah tuh.. kesindir ga tuh? hehehe.. Ya kalo aku sih enggak.. :p . Facebook cuma buat sekedar punya aja, alhamdulillah ga sampe addict.. 😀 . lagian gak fesbukanpun ga akan ngaruh ke gaji..xixixixix.. :p

 

 

Continue Reading