Saya & Celengan Ayam

Jujur, sebenarnya saya nggak niat-niat amat mau nabung di celengan ayam kaya begini. Tapi berhubung ada alasan kenapa mendadak saya jadi “tradisional” begini ya sudah saya jalanin aja.

Sejak kecil saya sudah diajarkan menabung. Kalau yang di bank, numpang sama belas kasihan papa saya. Kalau yang di celengan, atas belas kasihan mama saya. Ya maklum dong, namanya juga masih anak SD kan belum punya penghasilan sendiri. Jadi saya juga nggak tahu sudah berapa jumlah tabungan saya wong namanya juga “sak paring-paring” alias sedikasihnya. Dikasih ya syukur, nggak dikasih ya… yaaah kok nggak dikasih sih? *gelosotan*

Baru serius nabung ya pas jaman SMA s/d sekarang. At least ada tabungan di bank yang bisa bisa dijagakan kalau butuh apa-apa sewaktu-waktu walaupun nggak banyak-banyak amat, sekedar bisa jawab kalau ditanya, “punya rekening nggak lo?” 😆 . Sekarang ceritanya lagi getol-getolnya ngembaliin modal karena tabungan saya terkuras habis tahun lalu karena buat bayar biaya rumah sakit. Alhasil, sekarang balik lagi ke nol. Makanya saya ngoyo banget nabungnya, kalau perlu semua gaji saya ditabungin, hehehe. Itu maunya saya 😀

Nah, kenapa saya mendadak pengen nabung di celengan ayam itu juga ada ceritanya. Malem-malem pas lagi beli makan, mendadak ada penjual celengan ayam yang dari tanah liat itu lewat. Beberapa kali kejadian kaya begitu tapi saya cuekin. Pikir saya, emang hari gini ada yang beli celengan ayam-ayaman kaya begitu ya? Kok konvensional banget ya? Tapi lama-lama saking seringnya mereka lewat kok saya jadi kepengen beli ya (err…mungkin kualat). Nah seperti biasa, namanya barang kalau kita sengaja nyari pasti nggak ada. Tapi kalau nggak nyari kayanya seliweran di depan mata. Begitu juga dengan si celengan ayam ini.

Berhubung keinginan itu begitu menggebu-gebu sementara penjual celengan ayam-ayaman itu nggak ada yang lewat (dan saya males ke pasar), akhirnya saya putuskan : “yuk mari kita beli celengan yang biasa aja, nggak berbentuk ayam juga nggak apa-apa yang penting bisa nyelengin”. Dan taraaa.. celengan bergambar cinderella itu sekarang nangkring dengan manis di meja rias saya 😆 . Suami yang pertama kali liat saya beli celengan kaleng bergambar cinderella itu cuma bisa geleng-geleng, “masyaalloh bini gue.. saingan sama keponakan yang usianya 5 tahun yang lagi belajar nabung..”. Buat saya? Bodo amat yang penting bisa nabung. Bahkan dengan bangga saya pamerkan ke keluarga saya yang di Surabaya via mms 😆

Sebenarnya ada alasan kuat kenapa saya niat banget beli celengan manual kaya begitu. Saya kangen sensasi mecah celengannya. Walaupun mungkin celengan saya yang ini nggak bisa dipecah karena dari kaleng, tapi mungkin bisa digergaji 😀 . Ya intinya beda sensasi aja dengan rekening bank yang bisa kita pantau & print sewaktu-waktu. Kalau yang ini kan ada deg-degannya gitu, kira-kira nanti pas kita pecahin dapetnya berapa ya.. Begitulah kira-kira 😀

Sekarang celengan saya itu sudah berat lho. Nggak ada ceritanya duit 100 perak nyusruk ke dalam situ. Khusus pecahan 500 rupiahan only yang boleh masuk, selebihnya ya se-mood-nya saya mau masukin nominal berapa, itupun juga duitnya harus yang masih bagus. Biasanya sih kembalian-kembalian habis beli bensin atau habis beli apa gitu. Suami juga suka saya todong buat masukin duitnya ke celengan saya. Bukankah ada prinsip : “duitmu adalah duitku, duitku adalah duitku..” 😀

Rencananya sih kalau sudah banyak mau buat DP mobil , rumah, atau apartemen 3 kamar gitu..
*berencana beli lagi model celengan badak sama kudanil*

[devieriana]

Continue Reading

Mendadak Pikun

Kali ini mau posting yang (sumpah nggak penting banget) mau curhat aja.. Tumben kan? Tumben kaaaan? 😆

Nggak tahu apa yang sudah terjadi sama saya beberapa hari ini. Rasanya jadi pelupa berat, padahal usia belum menunjukkan saya harus menderita pikun (amit-amit). Tapi beneran deh, saya sampai “kagum” dengan stadium pelupanya saya akhir-akhir ini. Entah lantaran karena saya yang kurang aware terhadap sesuatu atau lingkungan saya atau lagi males mikir yang berat-berat. Tapi yang jelas saya jadi mendadak sering lupa.. 🙁 . Sampai nama artis yang biasanya saya hafal di luar kepala saja saya terpaksa harus menggunakan google untuk mencari siapa nama artis yang saya maksud. Mending kalau kata kuncinya bener, inipun kata kuncinyapun salah.. Gimana google mau menemukan artis yang saya maksud ya. Belum lagi pekerjaan yang mengharuskan saya harus memelihara memory saya berkaitan dengan kebijakan regional atau SOP. Duh rasanya parah sekali 🙁

Alhasil agenda & handphone cupu saya juga harus bekerja keras mengingatkan “majikannya” ini untuk nggak lupa lagi. Sebisa mungkin saya catat atau reminder seluruh rencana kerja & pribadi saya. Haduh, Tuhan.. tolong jangan pikunkan saya di usia yang masih belia ini..  🙁

*ciiihh… belia..  :))

 

[devieriana]

Continue Reading

Besarnya Arti Sebuah Penghargaan

Posting ini sebenarnya adalah repost dari notes di facebook saya. Nggak ada niatan mau repost disini karena orang yang saya bahas disini pasti baca.. hahahaha. Makanya biar dia nggak GR saya posting di situs sebelah aja, itu awal pertimbangannya. Nggak taunya dia akhirnya tahu juga gara-gara ada postingan tentang dia di situs sebelahnya lagi (ceritanya situs kita kan kaya komplek gitu, tetanggaan 😀 ) & berhubung dianya penasaran pengen tahu seperti apa notes saya itu, akhirnya ya sudahlah saya repost disini.. :D. Ya Saya kopas persis tanpa ada yang saya ubah. Utang saya lunas lho  😀

—–

Lama juga saya nggak bikin notes ya.. Bukan apa-apa, saya kalau udah nulis tuh cenderung panjang, dan toh isinyapun copy paste dengan blog saya. Jadi daripada double tulis sana-sini ya sudah saya tulis di blog dulu baru saya link disini :D. Intinya, agak males nulis dua kali. Itu aja sih..

Well, saya (tumben) gak mau nulis panjang-panjang.. Cuma terharu pas baca salah satu komen dari seorang follower blog say. Ketika saya bercerita bahwa sebenarnya blog saya itu isinya gak seberapa penting. Saya hanya menulis apa yang saya suka, saya mau, menarik perhatian saya, & sebatas apa yang saya tahu. Mungkin cenderung ringan, dangkal & nggak semuanya berguna buat orang lain.

Tapi ternyata dia memberi comment yang cukup mengharukan buat saya siang kemarin..

” just keep writing… akan selalu ada hal yg bisa diambil dari tulisanmu… tergantung yg membaca siapa…
Dulu waktu SD, ujian bahasa Indonesia yg salah satunya mengarang itu, pernah waktu itu temanya aku dan cita”ku… saking tak pandainya saya mengarang, saya bikin aja kalo saya bercita-cita jadi pahlawan pembela kebenaran… ditertawakan…
Dan untuk itulah saya menulis, untuk membuat (setidaknya) beberapa orang tertawa…
just keep writing, saya akan membacanya..”

Kalimat terakhirnya itulah yang membuat airmata langsung mengembung di pelupuk mata saya.. Again, betapa sebuah penghargaan sekecil apapun itu, ternyata sangat besar artinya buat orang lain..

Thanks, Bang.. 🙂

Jakarta, 26 Agustus 2009, pukul 05.15 wib

———-
 Kalau mau tahu siapa orang yang saya maksud ini, tar juga dia komen sendiri, :))… 😀

[devieriana]

Continue Reading

He’s Just Not That Into You

hes_just_not_that_into_you

Berbeda dengan film-film sebelumnya yang juga diangkat dari sebuah novel (chicklit) macam Confession of A Shopaholic & Devils Wears Prada film ini adalah hasil adaptasi dari buku self-help yang ditulis oleh Greg Bendhart dan Liz Tuccillo dengan judul yang sama yaitu He’s Just Not That Into You. Namun sebenarnya buku tips hubungan dengan judul yang sama ini mendapatkan namanya dari dialog di salah satu episode serial TV Sex and the City.

Sebuah film yang bagus untuk perempuan yang (katanya) suka mencari-cari alasan untuk tetap mempertahankan hubungan dengan pria, bahkan saat berada di posisi yang kurang menguntungkan & menderita. Padahal si prianya sendiri malas memberikan penjelasan kenapa melakukan tindakan yang sudah menyakiti hati kita. Mungkin film yang menelanjangi realita yang terjadi di sekitar kita ini bisa jadi semacam “wake up call” ketika kita menyadari bahwa hubungan kita sudah tidak berjalan harmonis & menyenangkan.

Melihat banyaknya bintang tenar yang bermain dalam film ini tidak mungkin hanya menjadikan mereka sebagai cameo semata kan? Pasti mereka akan bermain sesuai dengan bagian & porsi cerita masing-masing. Ada Jennifer Connelly, Ginnifer Goodwin, Justin Long, Bradley Cooper, Scarlett Johannson, Jennifer Aniston, Ben Affleck, Drew Barrymore, Kevin Connolly.  Film ini menceritakan tentang  9 orang yang memiliki cerita love-life berbeda, but somehow connected to each other. Namun secara garis besar cerita dalam film ini terbagi dalam tiga kisah cinta.

Pertama, Beth dan Neil adalah pasangan yang sudah tinggal bersama tanpa ikatan pernikahan selama tujuh tahun. Sebagai wanita pada umunya, Beth juga pasti menginginkan kejelasan status dalam hubungan mereka yang sudah
dikatakan lebih dari cukup untuk sebuah hubungan “pengenalan calon pasangan hidup”. Beth mulai khawatir kenapa Neil tak kunjung melamarnya. Namun sayangnya Neil tidak percaya pada konsep pernikahan dan merasa bahwa asalkan mereka bisa tinggal bersama, saling mengerti dan saling mencintai, itu sudah cukup. Lantas apakah itu juga cukup bagi Beth?

Berikutnya adalah Ada Janine & Ben, pasangan yang not-so-happily married. Ketika Ben mulai selingkuh dengan Anna, seorang penyanyi & instruktur yoga yang ditemuinya saat berbelanja, Ben menyadari bahwa ia sebenarnya tidak siap untuk menikah. Tanpa diketahui oleh Ben, Anna juga tengah menjalin hubungan tanpa status dengan seorang pria lain bernama Conor. Conor mencintai Anna – tetapi Anna hanya menganggapnya sebagai teman baik. Ketika kita menjadi Janine, kita tidak bisa menyalahkan Anna yang percaya dengan keyakinan bahwa cinta sejati atau jodoh bisa datang kapan saja termasuk ketika seseorang sudah menikah. Sementara ketika kita di posisi Anna, kita juga tidak bisa menyalahkan Janine karena dia adalah istri resmi dari Ben meskipun perkawinan mereka sebenarnya sudah “dingin”. Ben disini tidak dihitung karena dia laki laki. Dialah yang membuat buku ini tercipta.

Terakhir adalah Gigi dan Alex. Gigi adalah gadis yang tidak pernah jatuh cinta. Berulangkali ditolak & dipermalukan oleh para pria, tetapi setiap kali juga ia berhasil bangkit dan kembali berjuang mencari cinta yang baru. Alex, sahabat Conor yang juga seorang bartender,  merasa kasihan kepada Gigi dan berusaha memberinya tips-tips mengenai perasaan & bahasa tubuh pria saat berhubungan dengan wanita. Tanpa sadar, Gigi yang pertama menganggap Alex sebagai teman curhat kini mulai jatuh hati padanya. Tapi apakah Alex juga merasakan hal yang sama?

He’s Just Not That Into You tergolong film komedi romantis yang durasinya tergolong  panjang. Total waktu putarnya hampir 130 menit. Tapi bagus kok, karena sang sutradara (Ken Kwapis) tidak hanya melulu berkutat pada pergantian karakter tapi juga memberi semua skenario waktu yang cukup bagi masing-masing tokoh untuk berkembang secara proporsional sehingga penontonnya bisa bersimpati dengan konflik yang mereka alami.

[youtube=http://www.youtube.com/watch?v=NCn7WYYaCAc&hl=en_US&fs=1&rel=0]

Pesan beberapa moral yang saya tangkap disini adalah  :
1. Kebahagiaan bukan hanya tergantung pada status apakah kita “menikah” atau “single”. Tapi semua kembali ke hati & pikiran. Happiness is entirely a state of mind.

2. Pria dan wanita ditakdirkan untuk memiliki “alam” yang berbeda. Walaupun pria sudah mencari berbagai macam cara untuk bisa memahami wanita namun akhirnya tetap saja mereka tak pernah bisa benar-benar mengerti wanita dan begitu pula sebaliknya.

2. Jodoh adalah masalah waktu, someday you will meet a wonderful guy and get your very own happy ending. Every movie we see, every story we’re told implores us to wait for it. Saat seorang memang ditakdirkan untuk kita, dia akan datang dengan sendirinya tanpa diundang & kita rencanakan.

4. Maybe some women aren’t meant to be tamed. Maybe they need to run free until they find someone just as wild to run with them (Carrie Bradshaw)

Hmm, satu hal yang juga menarik disini.. Ada salah satu lagu favorit saya yang jadi soundtrack di film ini  : If I Never See Your Face Again – Maroon 5 😀

So, lets enjoy the movie guys..  🙂

[devieriana]

sumber gambar dari sini

Continue Reading

Bulan Yang Terluka ..

Malam itu bulan pucat kembali terluka. Tusukan-tusukan pedang  sang ilalang muda menginfeksi luka lama sang bulan pucat. Luka yang belum mengering itu kembali berdarah & bernanah. Perih itu, nyeri itu, ngilu itu, tiba-tiba menyerang & kembali meradang. Hujan badai menerpa liar padang rumput itu. Sang ilalang muda tertawa angkuh memegang pedang yang ujungnya berlumur darah.

Sang bulan pucat berteriak, mengaduh, menangis menahan ngilu. “Kau tak tahu maksudku, ilalang muda!”, teriaknya parau disela gemuruh hujan. Lukanya berdarah, makin terasa pedih luka yang menganga itu. Teriakan minta pertolongannya tak mampu mengalahkan gemuruh petir yang bersahut-sahutan. Kilat yang menyambar-nyambar & angin topan badai itu..

Sampai akhirnya badai menghempas sang bulan pucat luruh, teronggok kuyu menancap di karang yang terjal..

Sang ilalang melangkah menghampiri bulan yang terkoyak. Matanya hanya menatap hampa pura-pura kasihan.. “Itulah bayaran untuk kebebasan yang kuminta, Bulan.. “, serunya sambil menghamburkan pasir ke wajah sang bulan yang pucat, pias, tak bernafas..

Mati bersama tawa angkuh sang ilalang muda & auman serigala…

[devieriana]

Continue Reading