Raga yang Tak Lagi Sama

Dulu, saya pernah mengira bahwa kehilangan sebuah bagian dari tubuh berarti kehilangan esensi diri sebagai perempuan. Namun, seiring berjalannya waktu, saya justru belajar bahwa keutuhan tidak selalu tentang apa yang ada di dalam fisik kita, melainkan tentang bagaimana kita menerima setiap babak baru kehidupan dengan syukur yang lebih dalam.

Membaca kembali catatan saya setahun lalu, An Unexpected Stay, A Life Reset, rasanya seperti menengok kembali momen ketika hidup berubah dalam sekejap. Tak pernah terbayang sebelumnya, saya harus berdamai dengan kenyataan yang tidak pernah saya duga, harus menjalani operasi pengangkatan rahim.

Kehilangan salah satu organ itu hanyalah awal dari serangkaian perubahan yang harus saya terima. Masa-masa awal pascaoperasi memang tidak mudah. Saya menjadi lebih cepat lelah. Metabolisme tubuh yang melambat juga menyebabkan berat badan saya terasa lebih cepat naik dibandingkan sebelumnya. Belum lagi saya sering diserang hot flash secara tiba-tiba, sampai-sampai kipas angin portabel jadi barang yang wajib ada di tas saya.

Perjalanan setahun kemarin menyadarkan saya bahwa kesehatan organ reproduksi sama pentingnya dengan menjaga kesehatan anggota tubuh lainnya. Posisinya yang tersembunyi sering membuat kita luput memberikan perhatian, padahal di sanalah letak salah satu sumber kekuatan utama bagi seorang perempuan. Semakin dini kita peduli pada sinyal tubuh, semakin besar peluang kita untuk memberikan penanganan terbaik bagi diri sendiri. Namun, jika pada akhirnya hasil medis mengharuskan kita mengambil keputusan besar, janganlah berkecil hati. Jika satu-satunya jalan untuk menjadikan kita lebih sehat dan berumur panjang adalah dengan merelakan sebuah organ, maka itulah bentuk kasih sayang tertinggi kita terhadap diri sendiri dan keluarga di rumah.

Setahun telah berlalu, dan kini saya melihat kembali perjalanan ini dengan cara pandang yang baru. Mungkin sekarang ‘rumah’ di dalam tubuh sudah tiada, namun ada ruang untuk rasa syukur yang lebih besar. Seperti Ramadan tahun ini yang bisa saya lalui sebulan penuh tanpa jeda, saya maknai sebagai kesempatan dari Allah untuk hidup lebih sehat dan berkualitas bagi diri sendiri dan orang-orang tersayang. Hal ini menjadi pengingat sekaligus penguat bahwa di balik setiap kehilangan, selalu ada hal yang layak untuk disyukuri dan peluang untuk memulai babak kehidupan yang lebih baik.

Untukmu, para perempuan luar biasa di luar sana yang juga sedang atau pernah mengalami hal yang sama:
Kehilangan rahim bukan berarti kehilangan esensi kita sebagai perempuan. Kita tetaplah perempuan dan ibu yang utuh bagi anak-anak kita dan keluarga kita, tetap menjadi pribadi yang berdaya di tempat kerja, dan tetaplah jiwa yang sempurna di mata Sang Pencipta, dengan atau tanpa rahim di dalam tubuh kita.

Kita tidak kurang. Kita hanya sedang bertumbuh dalam bentuk yang berbeda.

Sebagai penutup, saya ingin berhenti sejenak, dan memberikan pelukan paling hangat untuk diri saya sendiri.
“Terima kasih ya, badanku. Terima kasih sudah bersabar melalui masa-masa sulit itu. Terima kasih sudah berjuang dengan sangat hebat untuk pulih paripurna dalam waktu yang singkat. Kamu telah membuktikan bahwa kamu jauh lebih kuat dari apa yang pernah aku bayangkan.”

Saya bersyukur telah melampaui masa-masa kritis pada tahun lalu. Kini, dengan raga yang telah kembali pulih dan sehat, saya siap melangkah untuk menyambut hidup yang lebih berkualitas dengan cerita-cerita baru yang jauh lebih indah.

Everything is going to be okay, and indeed, it is already okay.

Devi Eriana

Continue Reading

Happines Unframed

“I thought you’re happier when I’m not around..”

Kalimat itu meluncur begitu saja dari bibir Alea saat kami melihat-lihat arsip foto lama di Instagram saya. Ada rasa sesak yang tiba-tiba menghimpit dada. Bagaimana mungkin seorang anak kecil bisa menarik simpulan seberat itu hanya setelah melihat kotak-kotak gambar kecil di layar ponsel?

Kebetulan Alea belum memiliki akun media sosial. Komentar tadi bermula saat kami ngobrol berdua tentang aneka bentuk potongan rambut. Saya ingin menunjukkan rambut Pixie saya pada tahun 2013. Namun, siapa sangka, selagi saya menggulir layar, matanya yang jeli sibuk mengamati. Ia menemukan bahwa galeri Instagram saya di masa lalu begitu berwarna, jauh sebelum dia hadir dan memenuhi beranda.

Lewat nalarnya yang polos, ia sedang mempertanyakan apakah kehadirannya benar-benar membuat hidup saya lebih berwarna, atau justru sebaliknya? Sebab di mata Alea, foto-foto saya pada rentang 2010 hingga 2014 tampil dengan warna-warna cerah dan kontras yang tajam. Berbeda dengan masa setelah ia lahir, di mana pilihan warna saya berubah menjadi deep & muted colors. Bagi Alea, warna cerah adalah simbol mutlak dari kebahagiaan. Maka saat warna di beranda saya tampak lebih redup, ia menyangka kegembiraan saya pun ikut berkurang.

Mungkin Alea benar. Instagram saya tak lagi seberwarna dulu. Entah mungkin karena kini saya jauh lebih pemilih ketika akan mengunggah konten. Ada idealisme bahwa setiap konten yang saya unggah harus punya cerita yang layak untuk dibagikan. Lagipula, stok foto diri saya sudah tak sebanyak dulu. Sekarang saya lebih sering berada di balik kamera ketimbang di depan lensa, sengaja ingin memberikan ruang bagi cerita-cerita yang lebih baik dibagikan ketimbang disimpan sendiri, terlepas dari apakah ada manfaatnya bagi orang lain atau tidak.

Sambil mencoba meredam haru yang mendadak menyeruak, saya flashback ke era 2010-an, ketika Instagram masih menjadi media sosial yang bersaudara dekat dengan Posterous dan Tumblr. Masa ketika sebagian dari kita mungkin rela menjinjing DSLR ke mana-mana, sengaja berburu objek foto, mengedit dengan saturasi terbaik, dan memastikan setiap inci gambar terlihat sempurna saat diunggah di berbagai platform media sosial.

Dulu, meski hanya bermodal kamera ponsel, saya selalu punya waktu untuk mencari sudut pandang yang pas agar hal-hal sederhana yang saya tangkap bisa terlihat unik. Objeknya pun bisa apa saja, bahkan hal-hal paling acak sekalipun, misalnya setangkai bunga di pinggir jalan, jamur yang tumbuh di sela kursi kayu, arsitektur gedung, mandatory photo memotret bentang alam dari jendela kabin pesawat, hingga cahaya yang membiaskan dasar botol mineral.

Saat itu, saya merasa sebuah gambar baru benar-benar ‘hidup’ jika hadir dengan shadow yang pekat serta warna yang tajam. Keindahan tampilan foto harus kontras agar warnanya bisa langsung dikenali mata.

Namun, ada satu hal yang luput dari ingatan saya adalah Alea tidak pernah melihat proses di balik layar itu. Ia tidak tahu bahwa dulu saya harus ‘memoles’ hasil foto sedemikian rupa agar tampak estetik.

Sementara bagi Alea, setiap gambar yang ia lihat adalah kejujuran yang ia serap utuh. Ia tidak akan mencari saya di balik titik-titik stories Instagram. Ia akan mencari saya di beranda utama dan memastikan bahwa dunia ibunya ini benar-benar masih berwarna ataukah kebahagiaan itu justru memudar sejak ia ada?

Namun, pada kenyataannya, kehadiran Alea memang mengubah cara mata saya menerjemahkan warna. Karena dunia saya menjadi ‘penuh’ sejak kehadirannya. Saya tidak lagi merasa perlu membuktikan kebahagiaan itu lewat polesan warna yang menyala di layar ponsel.

Saya menatap matanya, mencoba mencari kata yang paling sederhana untuk bisa ia simpan dalam ingatannya.

“Alea, rasa sayang orang tua itu tidak bisa diukur dari seberapa berwarnanya postingan mereka di Instagram. Kebahagiaan juga tidak ditentukan oleh seberapa sering kita mengunggah foto keluarga untuk dilihat orang lain.”

Saya mengusap rambutnya, memastikan ia merasa tenang.

“Dulu, kenapa Mama sering posting hal-hal random berwarna terang, Ya, memang begitulah cara dunia bercerita saat itu. Dulu Mama punya banyak waktu untuk memotret objek-objek random dan menulis apa pun di blog, karena itu adalah cara untuk mengisi waktu, jauh sebelum ada Alea. Tapi begitu Alea lahir, kebahagiaan Mama jadi jauh lebih terlihat. Mungkin foto-foto di Instagram Mama tidak lagi seberwarna dulu, tapi itu bukan berarti Mama tidak bahagia. Justru, Mama ingin menampilkan apa adanya keseharian Mama sama Alea. Because you’re the colour itself, Alea.

Air matanya mulai menggenang. Saya melanjutkan pelan.

“Mama sebenarnya lebih suka menulis cerita tentang Alea di Instastory. Di sanalah, Mama mencatat cara berpikir Alea yang unik atau obrolan-obrolan kita yang random. Mama menyimpan semuanya di sana supaya orang-orang tahu betapa istimewanya Alea. Dan kalau kelak kamu cari nama kamu di internet, kamu akan menemukan nama itu tertulis pertama kali di blog Mama di bulan Juli 2014. Selang beberapa hari setelah kamu lahir. Karena sejak hari itu, kamu adalah inti dari semua cerita yang Mama tulis.”

Dalam sekejap, binar matanya redup. Air mata yang ia tahan pun luruh. Ia dekap tubuh saya erat-erat, menyandarkan isak tangisnya dalam pelukan saya. Ada rasa haru yang menjalar saat menyadari bahwa ternyata selama ini, dalam diamnya, ia begitu teliti mengamati setiap keping kebahagiaan saya.

Ketelitian itu sebenarnya selalu ada dalam rutinitas sepulang saya dari kantor. Dengan tulus ia pasti akan bertanya, “How was your day, Mama? Was everything good?” Ia pun punya cara yang sangat manis untuk mengungkapkan isi hati tanpa perlu menunggu alasan. Kapan pun dia mau, dia bisa saja berucap, “I love you…” yang kini saya sadari, itulah caranya menjaga agar ‘warna’ dunia saya baik-baik saja.

Sedikit saja perubahan pada raut wajah saya, ia akan cemas bertanya, “Mama, what’s wrong? Are you okay?” Padahal, mungkin memang begitulah ‘setelan wajah’ saya setelah seharian bergelut dengan lelah, sehingga tidak selalu bisa tampil cerah ceria setiap saat. Namun bagi Alea, sedikit saja mendung bergayut di wajah saya, itu sudah cukup menjadi penanda bahwa dunia saya sedang tidak baik-baik saja. Karena bagi Alea mata adalah indera utama yang ia gunakan untuk menyerap dunia. Di balik tatapan matanya ada pikiran yang sedang bekerja keras mengartikan cinta dengan cara yang sangat luar biasa.

Kesadaran itulah yang membuat saya terdiam dalam sebuah kontemplasi panjang semalam. Apakah selama ini saya terlalu sibuk berdiri di balik lensa, mengabadikan setiap jengkal tumbuh kembangnya hingga lupa untuk masuk ke dalam bingkai yang sama?

Memang ada kebahagiaan tersendiri setiap kali Google Photos memunculkan kembali foto-foto lama. Melihat fisiknya yang berubah, tawanya yang terekam kamera, dan binar matanya yang tak pernah gagal membuat hati saya terasa penuh. Namun, dokumentasi kebersamaan kami bertiga memang kerap kali tidak lengkap, kadang hanya berdua, atau lebih sering hanya dia seorang diri. Saya baru menyadari bahwa Alea tidak hanya butuh direkam. Ia butuh kami ada di dalam frame yang sama dengannya. Ia butuh bukti visual bahwa kami melangkah beriringan.

Jarangnya potret bertiga di beranda ini tak lepas dari kondisi kami yang menjalani pernikahan jarak jauh. Kondisi yang akhirnya menempatkan saya sebagai sosok satu-satunya yang hadir secara fisik dalam kesehariannya. Nun jauh di sana, papanya menjadi pilar yang memastikan kebutuhan kami terpenuhi, agar saya bisa sepenuhnya mendampingi tumbuh kembang Alea dengan optimal.

Di saat-saat inilah saya diajarkan bahwa kebahagiaan kadang tidak tumbuh dalam hiruk-pikuk. Sejujurnya belakangan ini, saya merasa jauh lebih nyaman menumpahkan isi kepala ke dalam bentuk tulisan ketimbang harus berpose di depan kamera. Mungkin kedewasaan perlahan menggeser keinginan untuk menjadi pusat perhatian. Ada potongan waktu yang terasa terlalu sakral jika harus diganggu oleh bunyi shutter kamera; ada tawa yang cukup disimpan rapat dalam ingatan, tanpa perlu divalidasi oleh jumlah likes di media sosial.

Namun, teguran Alea itu menyadarkan saya untuk mulai mencoba lagi. Saya ingin punya banyak kesempatan untuk mendokumentasikan kebersamaan kami lebih banyak dengan warna-warna cerah. Tentu saja kali ini bukan demi estetika, melainkan agar kelak ia punya jejak visual yang mengingatkannya akan betapa menggembirakannya masa kecil yang dia lalui bersama kami.

Ternyata, kepolosan cara berpikir seorang anak punya caranya sendiri untuk menyentuh hati. Dari Alea, saya belajar tentang arti kehadiran yang utuh, bahwa tugas orang tua bukan sebatas mencukupi raga anak-anaknya saja, melainkan juga merawat persepsi dan saling bertukar isi hati. Menjadi ibu ternyata adalah perjalanan pulang. Dari saya yang dulu sibuk ‘mencari cahaya’ dan spotlight, kini bertumbuh menjadi rumah bagi cahaya itu sendiri.

Kini saya tidak lagi membutuhkan saturasi warna yang tajam untuk merasa benar-benar hidup. Sebab spektrum warna yang paling jujur itu telah saya temukan pada binar mata Alea, pada renyah tawanya yang pecah saat kami berkelakar, pada emosi yang silih berganti mewarnai perjalanan tumbuh kembang kami bertiga, pada rentetan cerita absurd yang mewarnai hari, dan pada hangat yang menyusup di antara pelukan kami setiap waktunya.

Tugas saya sekarang adalah meyakinkan Alea bahwa dialah alasan dunia ini terasa jauh lebih berwarna, meski warna itu tak lagi mampu ditangkap oleh sensor kamera mana pun.

Untuk Alea:
Maafkan Mama ya, jika beranda digital Mama yang sempat kamu lihat tampak lebih redup. Itu karena Mama sedang terlalu sibuk memandangi cahayamu yang begitu benderang di dunia nyata.

-Devieriana-

Gambar ilustrasi: Gemini AI & tangkapan layar Instagram @devieriana

Continue Reading

Konselor Itu Bernama AI

Beberapa waktu lalu ini, ada sebuah utas Threads yang cukup menyita perhatian. Meski singkat, isinya sangat menohok: ‘Teman-teman, jangan curhat ke ChatGPT ya. Udah banyak kasus ChatGPT cuma “ngasih makan” delusi yang sudah ada dan memperburuk kondisi seseorang. Jangan ya.

Saya terdiam, kok seperti dejavu, ya. Membaca satu per satu argumen yang muncul, malah rasanya seperti sedang melihat potret hubungan manusia di zaman sekarang yang semakin rumit.

Tapi di balik peringatan itu, kolom komentar justru memotret realita yang lebih getir. Ternyata banyak yang mengaku kalau memilih curhat ke AI bukan karena mereka naif tentang risikonya, tapi karena dunia nyata memang sekejam itu. Bagi mereka yang selama ini harus berjuang sendirian dengan kesehatan mental, kehadiran AI terasa begitu menguatkan, meski mereka tahu semua itu sama sekali semu.

Ironisnya, di antara pembelaan yang menyedihkan itu, masih saja terselip satu komentar sinis yang khas,“Hah, curhat ke ChatGPT? Nggak punya temen, lo?!

Komentar seperti itulah yang justru menjadi alasan kenapa banyak orang akhirnya ‘kabur’ ke AI, karena ternyata, dunia nyata kita sedang setidaknyaman itu, ya. Akhirnya di saat manusia lain lebih cepat menghakimi daripada mendengar, sebuah algoritma yang tidak bernapas pun akhirnya dianggap lebih ‘manusiawi’ ketimbang manusia itu sendiri.

Di sisi lain, kenyamanan yang ditawarkan AI ini perlu disikapi dengan bijak. Ada sebuah tulisan di mana Prof. Ridi Ferdiana dari UGM memberikan sebuah analogi, “AI itu seperti obat. Kalau digunakan secukupnya bisa membantu, tapi kalau berlebihan, ia akan menimbulkan ‘keracunan’”

Bicara tentang kesehatan mental, AI ini beda jauh dengan konselor manusia. AI tidak punya kesadaran atau rasionalitas layaknya seorang konselor. Dia bekerja dengan algoritma yang sifatnya memprediksi kata-kata yang paling pas untuk menyenangkan atau memvalidasi penggunanya. Jadi, misalnya saat kita sedang dalam kondisi mental yang rapuh, jawaban AI yang terasa bijak itu sebenarnya adalah hasil pengolahan data untuk memberikan respons yang paling relevan dengan perasaan yang kita masukkan. Jadi tentu responnya pun belum tentu valid. Itulah sebabnya, kalau kita memasukkan narasi yang salah (garbage in), AI akan memberikan validasi yang salah pula (garbage out), yang ujung-ujungnya bisa membuat kita merasa benar, padahal mungkin sedang dalam fase delusi.

Ada juga yang bilang, “Lho, ChatGPT itu kan cuma alat, semua balik lagi ke cara kita kasih prompt-nya. Ibarat sebilah pisau, mau dipakai buat apa ya tergantung siapa yang pegang. Kalau kita kasih input yang jujur dan objektif, dia malah bisa ngasih ‘tamparan realita’ yang bikin kita move on. Jadi sebenernya bukan alatnya yang salah, tapi mungkin kitanya aja yang lagi cuma pengen cari pembenaran lewat dia.” Nah, masalahnya, saat mental sedang berada di titik terendah, siapa sih yang punya cukup logika untuk menjadi pengguna yang bijak? Di saat mental rapuh, kita cenderung kehilangan kendali atas ‘pisau’ itu sendiri. Dan itulah celah bahaya yang sering kali tidak kita sadari.

Kisah Kendra Hilty adalah pengingat yang paling nyata tentang betapa tipisnya batas itu. Semua bermula saat Kendra ‘merasa’ psikiaternya memberikan perhatian lebih, hingga ia terjebak dalam apa yang disebut sebagai Romantic Transference, sebuah kondisi saat seseorang memindahkan seluruh haus akan kasih sayang kepada subjek di depannya. Bingung dengan perasaannya, Kendra bertanya pada Henry (nama yang ia berikan untuk ChatGPT-nya) tentang hal tesebut. Berhubung Henry hanyalah AI, dia tidak mengingatkan batasan logis soal etika profesional antara pasien dan psikiater. Henry justru memberikan validasi atas keseluruhan delusi Kendra. Memberi isyarat bahwa memang benar sang psikiater punya perasaan lebih padanya. Hingga akhirnya Kendra menyatakan cinta secara langsung dalam sesi konseling offline, yang akhirnya menjadi langkah yang menghancurkan proses terapi dan kariernya sendiri sebagai life coach.

Di sinilah letak bahayanya. AI memang didesain jago memberikan saran yang masuk akal, tapi lagi-lagi AI hanya bicara secara logika mesin, bukan perasaan manusia. Mungkin benar, AI bisa jadi semacam P3K emosional saat dunia nyata sedang terlalu berisik, dan ‘rumah’ tak lagi punya telinga untuk mendengar. Tapi, curhat ke mesin tetap ada batasnya. Luka batin kita memerlukan pendampingan profesional untuk benar-benar pulih. Karena pada akhirnya, penyembuhan yang sesungguhnya itu tidak akan pernah lahir dari bahasa balasan dari mesin. Kita tetap membutuhkan kehadiran manusia seutuhnya, yang secara nyata bisa melihat kita menangis sesenggukan, memberikan afeksi, atau pelukan hangat yang bisa meredam segalanya.

AI mungkin punya jawaban untuk segalanya, tapi ia tidak punya jiwa untuk siapa pun.

– devi eriana –

ilustrasi dibuat oleh Gemini AI

Continue Reading

Piringan Hitam di Era Streaming

Beberapa hari lalu, seorang teman bertanya dengan nada heran yang sulit disembunyikan, “Lah, dia masih ngeblog. Emang masih ada yang baca?”

Pertanyaan itu seolah menahbiskan anggapan kalau blog hanyalah tren sesaat yang masa jayanya sudah habis. Dan memang pada kenyataannya banyak blog yang dulunya aktif kini mati suri seiring munculnya berbagai media sosial. Jujur saja, selama beberapa tahun saya pun sempat ada di fase malas meng-update blog karena selain alasan kesibukan domestik di rumah dan kantor, juga sempat terbuai juga oleh kepraktisan Twitter dalam berjejaring (yang sekarang sudah berganti nama jadi X). Waktu itu rasanya jauh lebih gampang menjangkau audiens lewat tulisan singkat 140 karakter yang receh, ketimbang harus menyusun paragraf-paragraf panjang. Belum lagi sekalinya kita viral, banyak yang retweet, penambahan jumlah followers akan otomatis mengikuti. Memanfaatkan jumlah followers, saya pun kerap membagikan tautan tulisan baru di sana, sambil berharap trafik blog bakal naik.

Lambat laun semangat ngeblog itu luntur juga. Tapi rasanya bukan cuma saya, orang-orang pun tampak mulai jenuh, dan satu persatu mulai meninggalkan rumah digital masing-masing. Begitu pula budaya blogwalking alias kegiatan saling sapa di kolom komentar jadi tak sehangat dulu. Saat semua orang berbondong-bondong ‘bedol desa’ ke aneka situs microblogging, saya pun tak punya pilihan lain selain FOMO, melakukan hal yang sama.

Imbasnya, blog saya lebih banyak sarang laba-labanya ketimbang tulisan-tulisan baru. Padahal dulu, produktivitas menulis saya ada di level dewa. Bayangkan, sehari bisa lahir dua sampai tiga tulisan yang sengaja saya endapkan untuk stok postingan beberapa hari ke depan. Benar-benar masa di mana ide dan mood menulis bisa lahir kapan saja, di mana saja. Sekarang? Jangankan bisa memproduksi satu tulisan seminggu, bisa selesai satu draf dalam sebulan saja sudah jadi keajaiban dunia, yang layak dirayakan dengan standing ovation!

Anehnya, justru di saat orang-orang mulai skeptis dengan blog, saya malah merasa ini adalah waktu yang tepat untuk kembali menulis. Mencoba kembali menghidupkan kapsul waktu yang mengurasi sisa-sisa golden era, masa-masa di mana blog masih memegang takhta sebagai primadona jagat maya. Di semesta digital yang trennya punya shelf life super singkat, bertahan selama hampir dua dekade menjadikan blog ini sebagai sebuah ruang yang sangat personal. Kalau iseng scrolling ke arsip lama, seperti melihat bagaimana saya bertransformasi. Tentang bagaimana cara saya menulis, memilih diksi, dan memandang dunia melalui perspektif yang terus berkembang.

Saya ingat betul masa-masa keemasan itu, saat blog masih menjadi simbol prestise di jagat maya. Ada beberapa tulisan saya yang sempat viral, atau setidaknya cukup ‘ramai’ dibagikan melalui rantai email yang jadi media sosial paling organik pada masanya. Di tahun 2009, saya juga sempat diwawancarai oleh Tempo menyoal fenomena ngerumpi.com, awal mula situs vertikal yang menjadi ajang berkumpulnya para peselancar dunia maya yang tertarik dengan isu perempuan, yang dalam perkembangannya menjadi salah satu gerbang awal budaya berbagi di ranah digital Indonesia bersama dengan situs-situs user generated content (UGC) yang lain yaitu politikana.com dan curipandang.com.

Wawancara tersebut benar-benar membuka jalan. Ada rasa surreal saat menyadari blog saya yang biasanya ada sepuluh pengunjung saja sudah terasa mewah, tiba-tiba saya dihadapkan pada lonjakan trafik ratusan orang per hari. Apa saya nggak keder? Banget! Tapi pada akhirnya, saya belajar bahwa blog bukan soal statistik pengunjung saja. Tapi lebih jauh, adalah tentang bagaimana melalui tulisan-tulisan sederhana akhirnya bisa mempertemukan saya dengan lingkaran pertemanan baru.

Tapi kenyataan sekarang sudah jauh berubah. Konten-konten video pendek jadi ‘bahasa’ baru yang dianggap lebih seksi ketimbang deretan kalimat panjang. Efeknya? Attention span kita makin tipis. Baru baca beberapa paragraf saja rasanya sudah gatal mau scrolling Tiktok atau Instagram lagi. Akhirnya kita jadi kehilangan daya tahan untuk menikmati sebuah cerita hingga akhir.

Meminjam istilah Rhenald Kasali, disrupsi sudah masuk ke semua lini, mulai dari cara kerja fleksibel di coworking space sampai gaya hidup cashless yang praktis. Ada pula narasi yang mengatakan kalau masa depan adalah milik mereka yang paling muda. Tapi bagi saya yang berdiri di borderline antara Gen X dan Milenial, pergeseran ini justru terasa challenging, di mana kuncinya ada di self upgrade yang tidak punya tanggal kedaluwarsa.

Ketertarikan saya pada dunia tulis-menulis ini pun sebenarnya punya akar yang lumayan dalam dan agak ajaib. Waktu masih SD dulu, kalau anak-anak lain menganggap sesi mengarang di ulangan Bahasa Indonesia itu beban, bagi saya itu justru momen showtime! Dan lucunya, saya punya metode ‘sesat’ dalam menulis. Saat guru mewajibkan kami menyertakan kerangka karangan, saya justru menulis dulu sampai tuntas baru kemudian kerangka karangannya saya buat di akhir. Jadi, kerangkanya bukan sebagai panduan menulis, tapi malah merangkum apa yang sudah saya tulis. Gaya menulis liar tanpa kerangka itu terbawa hingga sekarang. Saya lebih suka menulis secara organik. Saya biarkan ide-ide mengalir begitu saja, meski risikonya alur saya sering ‘main’ ke mana-mana. Metode tanpa kerangka inilah yang menemani saya di berbagai proyek buku kolaborasi sepanjang 2009 hingga 2015.

Sejak kecil pun imajinasi saya sudah punya cara sendiri untuk bermain-main. Saya sering membuat cerita-cerita legenda KW tentang asal-usul bentang alam suatu wilayah, kadang juga iseng membuat komik strip, sampai tiba-tiba random menulis skenario drama yang akhirnya saya tahu seperti itulah bentuk skenario yang sesungguhnya. Nah, demi memperkaya diksi dan membangun dunia yang berwarna itulah, saya betah menghabiskan waktu untuk membaca berbagai buku dongeng, mendengarkan Sanggar Cerita (iya, ketaker umurnya), kadang RPUL, RPAL, hingga kitab suci legendaris anak 90-an yaitu Buku Pintar. Anyway, hi there, Iwan Gayo!

Hobi ini pun berlanjut ke aksi ‘berburu’ diksi di koran langganan orang tua. Satu yang paling saya ingat adalah saat saya menemukan kata ‘oknum’. Entah kenapa saya menganggap kata itu punya vibe yang keren. Sempat bertanya juga ke ayah saya tentang arti kata ‘oknum’ ini, tapi sepertinya ayah saya terlalu general menerjemahkan sebagai ‘orang’. Berhubung saya anggap kata itu aman, maka saya selipkan ke dalam karangan bertema ajakan untuk melakukan penghijauan di sekolah waktu kelas 6 SD. Hasilnya? Diksi itu dianggap kurang tepat oleh guru saya. Menurut beliau, istilah ‘oknum’ dinilai terlalu berat dan berbau kriminal untuk tulisan persuasi anak SD yang isinya justru mengajak teman-teman menanam pohon dengan riang gembira. Tapi ya, itulah pelajaran pertama saya, diksi yang keren belum tentu tepat kalau diletakkan di konteks yang salah. Kalau dipikir-pikir, saya memang se-eksperimental itu sejak kecil. Well, the audacity of my younger self!

Menurut saya, menulis itu semacam otot yang wajib dilatih. Ibarat pelari maraton, jika jarang diajak berlari, otot itu akan kaku dan kehilangan kelincahannya. Pada akhirnya, di tengah hiruk-pikuk jagat maya yang bisingnya minta ampun ini, aktivitas menulis menjadi salah satu coping mechanism agar saya tetap utuh di tengah riuh. kalau boleh saya ibaratnya, menulis itu seprti melempar pesan dalam botol ke tengah samudera, kita tidak pernah tahu siapa yang akan menemukannya. Namun, ada kepuasan tersendiri membayangkan jika suatu saat ada yang mampir atau menemukan sesuatu di blog ini untuk ‘dibawa pulang’, entah itu sekadar bahan bacaan receh, renungan, atau bahkan ide untuk tulisan baru.

Ngeblog mungkin terdengar sangat jadul sekarang. But hey, piringan hitam juga jadul, kan? Tapi kita semua tahu, suaranya punya karakter yang lebih ‘bernyawa’, yang tidak bisa dikalahkan oleh musik streaming mana pun.

devieriana

Ilustrasi: Dihasilkan oleh AI Gemini

Continue Reading

Jejak Bahasa di Era Linimasa

Lahir dan pernah menetap di Jawa Timur membuat saya terbiasa dengan budaya tutur yang lugas namun tetap menjunjung tinggi kesantunan. Namun, entah mengapa belakangan ini saya mulai menyimpan gelisah. Ada rasa tidak nyaman yang muncul saat menyaksikan arah perkembangan bahasa kita, terutama tentang betapa laten dan lumrahnya kata umpatan menyelinap ke dalam komunikasi sehari-hari. Saya tidak tumbuh dalam lingkungan yang memaklumi makian. Kata-kata kasar adalah tabu yang sebisa mungkin dijauhkan dari pendengaran maupun ucapan. Meskipun biasanya dianggap sebagai cara spontan meluapkan emosi saat marah atau kaget, makian adalah bahasa yang sebisa mungkin tidak saya pilih untuk mengekspresikan apa pun, terlepas dari bagaimana intonasi maupun situasinya menyertai.

Zaman sekarang, fungsi makian sudah bergeser jauh. Ia bukan lagi alat ekspresi untuk meluapkan perasaan, tapi sudah menjadi gaya bicara sehari-hari. Bahkan ada anggapan unik bahwa obrolan akan terasa ‘kurang mantap’ kalau tidak ada makiannya. Namun, bagi saya pribadi, pergeseran budaya ini tetaplah sebuah anomali yang sulit diterima.

Dahulu, terdapat garis demarkasi yang begitu tegas antara apa yang pantas dan tidak pantas untuk diucapkan. Kata-kata kasar, baik yang meminjam nama satwa maupun merujuk pada organ genital, adalah sebuah tabu absolut. Kita mungkin masih ingat masa di mana kata-kata kasar diganjar dengan olesan cabai di mulut, sebuah metode purba yang pernah digunakan oleh orang tua kita untuk menekankan betapa pentingnya menjaga lisan. Nilai moralnya tetap relevan hingga kini, di mana kita diingatkan untuk lebih bijak memilah pikiran mana yang pantas disampaikan dan mana yang sebaiknya disimpan sendiri.

Sekarang situasinya justru terbalik; makian kian lazim terdengar dalam percakapan sehari-hari. Kekhawatiran terbesar muncul ketika kita dengan begitu ringannya menggunakan istilah pejoratif untuk menghina orang lain, dipicu oleh ketidaksesuaian antara realitas yang kita lihat dengan gaya hidup yang mereka pamerkan di dunia maya. Misalnya, celetukan seperti, ‘Duh, bajunya kampungan banget, sih,’ atau yang lebih ekstrem, ‘Dasar lonte, kerjaannya cuma pamer aurat di sosmed,’ hingga makian intelektual seperti, ‘Gitu aja nggak paham, dasar tolol!’, makian kasar yang dulu dianggap tabu, kini terucap tanpa secuil pun rasa bersalah.

Keadaan ini makin parah karena media sosial menuntut kita untuk berekspresi secara serba cepat dan terus-menerus. Karena tidak saling berhadapan secara langsung, tercipta jarak psikologis yang membuat rasa empati kita perlahan-lahan menghilang. Efeknya, kita jadi terlalu berani bicara apa saja tanpa peduli apakah kata-kata itu melukai hati orang lain. Media sosial yang dulu dipakai untuk berbagi cerita sekarang justru mengubah cara kita berbicara, di mana standarnya makin lama makin rendah.

Pertanyaan saya sederhana, sejak kapan ekspresi seseorang di media sosial menjadi absah untuk dibalas dengan makian yang melukai harga diri manusia? Saat sebuah kata digunakan untuk mengerdilkan orang lain, sejatinya ia telah memasuki wilayah perundungan, di mana tidak semestinya mendapat ruang dalam bentuk dan alasan apa pun. Perlu disadari bersama, bahwa perbedaan selera maupun pilihan hidup adalah sebuah keniscayaan, karena setiap kita tumbuh dari akar dan latar belakang yang tak pernah sama. Namun, di situlah letak keanehannya, seolah kita merasa berhak menghujat orang lain hanya karena mereka tidak tampil seperti apa yang kita harapkan. Sikap merasa paling benar ini tentu tidak muncul begitu saja. Tanpa kita sadari, hal ini banyak dipengaruhi oleh bagaimana dunia digital membentuk cara berpikir kita sehari-hari.

Algoritma di media sosial bekerja seperti asisten yang terlalu rajin menyediakan apa pun yang kita sukai berdasarkan riwayat pencarian kita. Hal ini akan menciptakan echo chamber, ruang di mana kita hanya akan bertemu dengan opini yang serupa dengan kita. Nah, dampaknya ketika lingkaran digital kita mulai menganggap umpatan sebagai sebuah candaan yang wajar, maka pola itu akan menular dengan sangat cepat. Makian yang dulunya adalah bentuk luapan emosi, kini jadi hilang daya sengatnya karena saraf sensitivitas kita sudah terbiasa (mati rasa).

Kenyataan ini akhirnya menggiring kita pada sebuah renungan: apakah penggunaan kata-kata kasar secara otomatis merepresentasikan jati diri kita yang sesungguhnya? Tentu saja, gaya bicara yang kasar tidak bisa serta-merta dijadikan tolok ukur tunggal untuk menilai baik atau buruknya kepribadian seseorang secara utuh. Namun, jika ia dibiarkan menjadi kebiasaan yang berulang, akan ada perubahan subtil dalam cara kita bersosialisasi. Lama-kelamaan, hal ini membuat kita jadi mati rasa dan menciptakan jarak yang makin lebar dalam interaksi kita dengan orang lain.

Sampai kapan pun bahasa adalah entitas yang dinamis. Ia akan terus berevolusi dan melahirkan tren tutur baru yang tak bisa kita cegah. Namun, kita perlu sejenak berkaca, nilai apa yang sebenarnya tengah kita anggap lazim hari ini? Jika setiap makian dibenarkan dengan alasan ‘sudah menjadi kebiasaan lama’, tidakkah itu menjadi indikator bahwa sensitivitas kita terhadap adab sedang merosot? Ataukah, mungkinkah ini hanya sekadar keresahan dari sudut pandang saya?

Bisa jadi telinga saya memang sudah vintage, ketinggalan zaman, lantaran terbiasa dengan era di mana bicara masih menggunakan saringan rasa sungkan. Namun perlu diingat, semaju apa pun dunia, kita tetap butuh kontrol diri. Sangat disayangkan jika demi mengikuti perkembangan zaman, kita malah kehilangan jati diri dan lupa bagaimana cara menghargai orang lain lewat kata-kata yang kita ucapkan.

Just my two cents.

-Devi Eriana-

ilustrasi diambil dari shutterstock.com

Continue Reading
1 2 3 26