Momentum Sakral : Menghafal Jalan

Baru saja saya ngobrol dengan salah satu teman sambil nunggu jemputan. Ngobrol tentang kebodohan menghafal jalan. Kalau soal menghafal jalan jangan tanya saya deh, pasti bakal nyasar berjamaah. Beda dengan suami yang hanya dengan melihat peta sekali lihat aja udah pasti nyampai ke tujuan.. Lah kalau saya? Bisa nyasar tujuh puteran, tujuh belokan, tujuh pengkolan, tujuh turunan..

Kalau ngobrol soal alamat rumah, saya bisa jawab. Lha kalau sampai rute? Bisa tanya-jawab seperti ini deh :

“rumah kamu dimana sih Dev?”
“Mampang..”
“Mampang itu sebelah mana sih? kalo dari arah mana kemana?”
“kayanya kamu tanya sama orang yang salah deh.. Aku tuh paling bodoh menghafal jalan tau’. Aku hanya hafal jalan menuju kantor & pulang ke rumah..”, jawab saya inosen. Pasrah deh mau dikatain apa..

“HAA??”

Nah kan bener kan dugaan saya kan? Dia pasti mau ngetawain saya deh..

Continue Reading

:: Kosong ::

Mendadak saya kurang fokus hari ini. Perasaan & pikiran saya melayang kemana-mana. Seperti ada yang sedang bergulat tak tentu arah. Terlalu banyak yang harus dikerjakan tapi waktu rasanya terlalu singkat. Tanpa terasa waktu sudah bergulir melewati tengah hari. Haduh sebenarnya saya sedang tidak ingin curhat. Cuma bingung yang gak jelas..

Semuanya serba nggak jelas. Seperti ada beban yang berat yang sudah menunggu. Antara kebutuhan cuti panjang bersama keluarga yang sudah saya tinggalkan hampir 2 tahun, meninggalkan anak buah saya dengan pekerjaannya, pekerjaan saya yang menumpuk, dan rencana-rencana yang berkeliaran mendadak fashion show di kepala saya.. Sumpah lagi mellow & sensitif berat..  🙁

Tiba-tiba kok saya blank ya :(( ..

[devieriana]

Continue Reading

Masuk majalah TEMPO bersama Ngerumpi

Situs Lokal Berlomba Membangun Situs Curhat

Senin, 10 Agustus 2009 | 09:34 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta – Sebulan belakangan ini Devi Eriana Safira makin bergairah mengelola blognya di wordpress.com. Tulisan-tulisan yang ia publikasikan lewat media daring (online) itu saban hari dibaca dan dikomentari puluhan narablog (blogger). Padahal, hingga pertengahan bulan lalu, ia sudah sangat bersyukur jika ada sepuluh orang saja yang merespons artikelnya. “Sekarang dalam sehari bisa mencapai seratus orang yang membaca tulisan saya,” kata perempuan 31 tahun ini. Bukan hanya blognya yang ramai dikunjungi. Ia juga mendapat ratusan teman baru lewat media bincang-bincang, seperti Yahoo! Messenger, dan jejaring sosial Facebook.

Popularitas Devi dan blognya meroket sejak ia bergabung dengan Ngerumpi (http://ngerumpi.com), situs vertikal yang menjadi ajang berkumpulnya para peselancar dunia maya yang tertarik dengan isu seputar perempuan. Situs vertikal adalah situs web yang membahas satu topik khusus saja (niche), seperti olahraga, otomotif, gaya hidup, teknologi, atau kuliner.

Di situs itu, hampir setiap hari Devi memuat tulisannya, dan selalu mendapat respons dari anggota situs. “Teman-teman di situs inilah yang kemudian juga membaca blog saya. Rasanya asyik melihat tulisan saya dikomentari,” kata Team Leader Quality Assurance Telkomsel itu. Buat Devi, situs itu seolah menjadi ajang menunjukkan eksistensi diri sebagai penulis.

Ngerumpi diluncurkan pada 26 Juni lalu. Saat ini anggotanya sudah 500 orang. Situs ini didesain dengan konsep web 2.0. Anggotanya–disebut “user”–bisa berdiskusi dan berbagi tentang hal yang berkaitan dengan perempuan, seperti dunia kerja, gaya hidup, keluarga, kesehatan, lajang, dan soal seksual. Tak cuma kaum Hawa, laki-laki pun bisa menjadi anggota situs ini. “Para pembaca laki-laki boleh berpartisipasi dan menyumbangkan suara, saran, dan opini, bahkan bantahan,” kata Silly, salah satu pengelola Ngerumpi.

Situs yang menjadi ajang tukar pendapat para anggotanya ini merupakan salah satu situs vertikal yang dibuat di Tanah Air. Beberapa bulan sebelum Ngerumpi, situs vertikal yang membahas hal-ihwal politik telah hadir, yaitu Politikana (http://politikana.com). Situs hasil kerja sama dengan Tempo ini muncul menjelang pemilihan umum legislatif, awal April lalu. “Pemilihan umum memang momentum tepat untuk peluncuran situs kami,” kata Enda Nasution, pengelola Politikana. Meski yang dibahas di situs ini tak melulu soal politik dan kekuasaan, hingga seratus hari usianya, anggota Politikana sudah sekitar 4.000 orang.

Situs vertikal teranyar adalah Curi Pandang (http://curipandang.com), yang baru diluncurkan pekan lalu. “Curi Pandang adalah situs yang membahas dunia entertainment,” kata Anindhita Maharrani, pengelola Curi Pandang. Tapi isinya diharapkan menjadi lawan dari berita hiburan di media tradisional. Maksudnya, sementara kebanyakan media gosip melihat artis dari sisi negatif, Curi Pandang justru dari sisi positifnya. Kalaupun ada tulisan berupa kritik, itu demi perbaikan artis yang bersangkutan.

Seperti halnya dua situs pendahulunya, Curi Pandang merupakan ajang bertukar pikiran dan kabar yang isinya disumbang oleh para anggota. Tiga situs tersebut memang sama jenisnya karena dikelola oleh tim yang sama, PT Inmark Digital Marketing.

Berbeda dari situs web lainnya, situs vertikal yang berbasis web 2.0 itu tergolong sebagai situs user generated content (UGC). Artinya, isi dan aplikasi web dibuat oleh anggota. Di situs ini pengguna dapat menerbitkan tulisan dan analisis secara langsung, dan gratis. Situs UGC mengizinkan pengguna bertindak sebagai moderator (user moderated content). Setiap tulisan dapat diberi rating oleh semua pengguna. “Rating tersebut secara otomatis menentukan posisi artikel di kolom utama di halaman home (artikel utama) sehingga tidak ada otoritas editor,” kata Enda Nasution, yang juga seorang narablog terkemuka.

Tentu saja itu bukan berarti semua tulisan bisa masuk bebas. Tetap saja tulisan yang, misalnya, berbau pornografi atau mencela suku dan agama tertentu bakal ditendang dari situs ini. Menurut Enda, para moderator bertugas memastikan tulisan yang dimuat tidak mengandung hal-hal yang dikhawatirkan tersebut. Kalaupun ada yang lolos, bisa dipastikan artikel itu bakal mendapat rating buruk dari pengguna lain sehingga hilang dari peredaran. Moderator juga harus mempertimbangkan keberatan user atas suatu artikel yang dianggap tidak layak muat karena isinya fitnah belaka.

Hal yang mudah muncul dalam situs vertikal, seperti Politikana, adalah ketidakberimbangan karena moderator tidak memiliki otoritas menghapus naskah yang berisi dukungan kepada satu pihak. Untuk mengimbangi suara populer yang muncul di kolom utama, moderator menghadirkan penulis tamu dari kalangan praktisi, akademisi, dan figur publik lain yang ahli. Mereka ini bertindak sebagai narasumber. “Kami juga menampilkan artikel-artikel pilihan yang tidak populer tapi penting untuk menyeimbangkan pandangan di Politikana lewat fitur pilihan moderator,” kata Enda.

Situs vertikal memang menarik bagi pengguna karena keleluasaan untuk mengisi content, dan walhasil menempatkan pengelola web hanya sebagai penyedia media. Sebelum tiga situs vertikal versi lokal itu, sejumlah web UGC sudah lebih dulu mengorbit, seperti Flickr, yang penggunanya memproduksi content berupa foto; YouTube, untuk pengguna yang memproduksi content berupa video; serta aplikasi jejaring sosial seperti Friendster dan Facebook. Yang belakangan itu merupakan bukti betapa web kategori UGC sangat diminati. Hingga awal Agustus ini, pengguna Facebook di Indonesia lebih dari 7,8 juta.

Rama Mamuaya, narablog yang rajin mencatat perkembangan dunia Internet di Indonesia, menilai kemunculan situs-situs vertikal merupakan efek dari kian banyaknya pengguna Internet di Indonesia. Jumlahnya sekitar 31 juta. “Mereka selalu ingin mencoba sesuatu yang baru, termasuk kalau ada situs jenis baru,” kata Rama, yang juga pemilik situs Daily Social (http://dailysocial.net). Kelak, menurut dia, bukan tak mungkin dari situs vertikal ini akan muncul komunitas-komunitas kecil dan khusus, misalnya pencinta sepeda, animasi, dan komik.

Sebagian orang menganggap situs vertikal lebih menarik dibanding forum-forum diskusi yang berbentuk mailing list. “Karena enak dilihat dan ada sistem rating untuk melihat daftar penulis terbaik,” kata Venus, pengelola Ngerumpi. Fitur seperti rating dan penempatan artikel utama yang berdasarkan pilihan pengguna membuat orang tertarik bergabung dan terpacu menulis. Venus yang di ranah daring dipanggil sebagai Simbok itu mengatakan jumlah 500 anggota Ngerumpi jauh di atas harapannya. “Pada minggu-minggu awal, hanya saya dan Silly yang mengisi situs ini bergantian dan saling mengomentari, ha-ha-ha…,” katanya.

Sekarang, begitu Ngerumpi mulai dikenal dan anggotanya bertambah, Silly dan Venus justru kerepotan karena harus memelototi tiap naskah yang tayang. Dalam satu hari rata-rata ada 25 tulisan yang dikirimkan anggota.

Di Politikana lebih banyak lagi. Menurut Enda Nasution, saban hari ada 40 artikel yang tayang. Jumlah ini tentu bakal jauh lebih banyak lagi karena para penulis terus terpacu untuk membuat tulisan. Apalagi bagi penulis yang memanfaatkan situs ini sebagai ajang berbagi pengalaman dan ingin terus belajar menulis seperti Devi Eriana Safira. “Saya menulis begitu ada ide, dan langsung mem-posting,” katanya.

Adek Media

sumber : dari sini

Continue Reading

Awas, saya galak !!

Beberapa kali saya dengar komentar  tentang saya :

“Mbak Devi itu sangar, galak orangnya”.

Lain waktu saya dengar komentar lain lagi tapi nadanya sama  :

“dia itu emang keras, tapi menurutku dia teges.. “.

Eh, keras & tegas itu konotasinya sama atau beda sih? *dijambak sampai mbrodol* . Reaksi saya? ngakak.. hahahaha :D. Saya tidak menyangkal tapi juga tidak membela diri. Biar sajalah orang mau bilang apa tentang saya, mau saya sangar, galak, keras, judes, jutek.. whatever, saya tidak akan komplain. Mungkin itu salah satu sisi pribadi saya yang lain. No problem with that.. 😀

Saya tidak merasa bangga dibilang begitu, tapi juga tidak merasa sedih/kecewa. Namanya pendapat orang ya sah-sah saja. Toh yang bisa melihat saya baik/buruk kan orang lain. Selama itu tidak merugikan saya secara material & spiritual ya saya tidak terlalu ambil pusing. Jujur, dulu saya justru orang yang tidak berani bersuara. Kalaupun iya bersuara ya paling beraninya dibelakang. Tapi semua itu berubah sejak lingkungan & pekerjaan saya juga berubah. Saya juga ngerasa kok kalau sekarang saya jauh berbeda. Mungkin kalau dulu saya pribadi yang kurang bisa speak up, gampang mewek, sekarang jadi kebalikannya.

Ada kalanya saya galak, ada kalanya pula saya tenang. “Galak” bukan berarti saya pengen menunjukkan  “ini lho saya..” dengan tampang jumawa & menepuk dada ya. Lagian juga apa yang mau saya jumawa-jumawakan sih? Wong saya ya biasa-biasa saja. Kalau masalah kerjaan biasanya karena berusaha memperjuangkan hak ketika kewajiban sudah saya/teman-teman penuhi. Kalau suatu saat saya bilang “nggak mau” bukan berarti saya susah diajak kerjasama, no compromise atau membangkang, tapi karena ada alasan-alasan logis yang bisa saya jelaskan kenapa saya sampai bilang “nggak mau atau nggak bisa”.

Pun halnya masalah etika kerja. Saya paling nggak bisa ketika ada oknum yang diluar prosedur yang selama ini berlaku, misalnya sekonyong-konyong menyodorkan anak baru untuk training/tandem dengan salah satu anak buah saya tanpa permisi, tanpa ada omongan, “dev, saya nitip 1 anak baru ya.. tolong dibantu tandem, diajarin”. Bukan masalah sok penting ya, ini juga masalah etika.

Apa yang ada di pikiran kalian ketika tiba-tiba ada 1 anak baru yang bukan under supervisi kalian terus tiba-tiba nongol nyari-nyari sendiri rekan mana yang mau ditandemin, dia keluyuran di ruangan kalian tanpa kalian tahu tujuan & maksud dia apa,  bermaksud mau tandem tapi tanpa ada omongan apa-apa dari atasannya? Bingung? Langsung nerima, atau biasa-biasa aja? Kalau saya kok males ya. Sekali lagi ini bukan masalah saya yang sok penting, sok pinter, atau sok-sokan lainnya. Namanya orang minta tolong ya ngomong, at least atasannya yang menitipkan baik secara lisan maupun tulisan ke saya, bukan ketika saya tanya malah no responses atau justru membentak. Kok rasanya kurang profesional ya. Sudah tidak sesuai prosedur, ditegur malah marah.. Hmm, pengen noyor-noyor deh.. Makanya pas kemarin saya pasang status di YM “kerja juga ada etikanya, Bung!!”, langsung banyak banget yang komen, ha5x :D.

No, no, saya bukan mau sok cari sensasi. Saya tahu orang yang saya maksud itu juga sedang invisible, dan saya yakin pesan di status saya juga dibaca sama dia 😉 . And, here he goes.. tak lama kemudian dia datang ke ruangan saya untuk minta maaf & baru minta tolong anaknya supaya ditandemin.

Saya bukan malaikat yang tidak pernah bikin salah atau nggak pernah marah. Saya juga bukan mau sok benar dengan sikap saya selama ini. Kalau saya memang salah ya saya akan akui salah kok, tapi kalau saya benar ya tolong jangan diputarbalikkan jadi salah. Itu saja. Saya juga tahu tidak semua masalah bisa dihadapi dengan hati panas. Kalau memang sudah terselesaikan ya selesai juga emosi saya. Dibalik semua itu saya orangnya pemaaf kok. Gak mungkinlah kalau sudah ada yang minta maaf  terus tetap saya sembelih (wuidih, jagal banget ya gue?) 😀 . Nggak kaya gitu jugalah.

Soal kerjaan misalnya, semua sudah punya tanggung jawab masing-masing. Kelola tanggung jawab itu dengan maksimal. Karena itu adalah salah satu bentuk kepercayaan orang lain kepada kita. Jadi ya jaga kepercayaan itu sebaik-baiknya .. 😉

Continue Reading

Metamorfosis & Buku Usang Masa Lalu

Pagi  ini buka facebook ada 1 email (lagi) dari teman lama jaman SMP. Beneran teman lama yang enggak pernah samasekali kontak sejak lepas SMA. SMA-pun kami beda sekolah walaupun masih sama-sama SMA tugu di daerah Malang. Dia SMA 1, saya SMA 3 Malang. Ketemu lagi di facebook dengan kondisi masing-masing sudah jauh berbeda (pastinya).

Teman saya ini menurut kacamata saya yang minus ini samasekali gak ganteng, tapi heran dulu kenapa banyak banget yang ngefans ya. Di tiap kelas ada. Saya dulu sampai mikir, “ah, apa menariknya sih? ganteng juga enggak.. Biasa aja deh perasaan. Kalau sok cool sih.. err.. iya. Jangan-janagn dia pakai susuk, lagi..” *dijeburin sumur*. Tapi anehnya dia ibarat magnet yang siap menarik perhatian wanita manapun. Jiaah, lebay sangatlah.. 😀 . Nah ketemulah kita di dunia pencak facebook ini. Komen pertama pasti “caci maki” diri masing-masing. Maksudnya, saling meledek perubahan masing-masing & membandingkan dengan moment terakhir ketemu. Hyaiyalah beda jauh, udah hampir 13 tahun yang lalu gitu, pastinya sudah ada metamorfosisnya. Masa iya seumur hidup mau terlihat keling, tengil & culun terus? Ulat aja berubah dari kepompong terus jadi kupu-kupu, masa iya kita berubah dari ulat bulu jadi ulat daun, kan ya gak mungkin.. 😀

Iseng dong kita kangen-kangenan.. eh, in positif way ya, kagak ada itu yang namanya tepe-tepe. Ngobrol punya ngobrol akhirnya saya punya ide bikin reuni SMP. Pasti bakalan seru tuh. Lha kok jawabannya gak disangka-sangka :

“ah, aku tahu kenapa kamu pengen reuni SMP.. Pasti kamu penasaran sama gebetanmu waktu itu kan?”, tebakan menyelidik ..
“hah, gebetan yang mana?”, ngeles
“jangan sok gak ngaku deh.. :p “

Saya tertawa :)). Jujur, saya malah gak kepikiran kearah sana lho. Justru saya membayangkan yang seru-serunya reunian setelah sekian lama nggak ketemu. Let me tell you, iya memang ada seseorang yang pernah susah banget dilupakan. Butuh waktu hampir 6 tahun untuk bisa bener-bener lupa sama sosoknya. Bayangkan, itu mulai jaman SMP lho, xixixi.. Centil banget deh saya ya  *sambil bedakan*

Boleh dibilang dia adalah sosok pertama yang bikin saya “ngimpi” bakal hidup happily ever after sama dia *toyor-toyor kepala sendiri*. Sosok yang sederhana, hitam manis, kurus, tinggi. Jaman dulu nih, namanya masih cinta munyuk (baca : monyet) pasti masih melihat lawan jenis dalam batasan fisik, ganteng atau cantik. Tapi seiring dengan bertambahnya usia pasti dong ada yang namanya pergeseran sosok ideal dari segi fisik ke segi-segi lainnya, misalnya kepribadian, background edukasi, intinya yang berhubungan dengan masa depanlah. Eh, tapi bukan berarti kalau saya akhirnya ngga jadi sama “si mas” ini lantaran dia tidak punya masa depan lho ya. Tapi saya lebih memandang karena memang dia bukan jodoh saya, itu aja. Toh sejak SMP-SMA kami hampir tidak pernah ketemu lagi, sampai sekarang..

Sampai disindir-sindir nih sama teman yang tadi di YM :

“emang kamu gak penasaran? gak pengen tahu kabarnya kaya gimana?”
“apaan sih? 😀 ”
“dia udah sukses lho sekarang.. Mau nomer HPnya ga? xixixi..kali aja bisa CLBK-an”
“hush..kamu belum pernah diiris tipis-tipis trus diperesin jeruk nipis ya?!”
“hahahahaha.. iya deh kagaaakk..”

Ya saya yakin dia juga sudah lupa sama saya, sudah berubah, sudah berkeluarga juga pastinya. Ya sutrah.. whatever & wherever you’re now.. err.. apakabar? long time no see. Semoga baik-baik aja, salam buat keluarga ya.. 🙂
*standar* :))

[devieriana]

Continue Reading