Sang Rakun ..

rakun

 

 

 

 

Anda tahu binatang rakun ga? Atau yang bahasa latinnya Procyon Lotor. Binatang yang kalau di film-film Disney digambarkan dengan lucu & culun. Tapi buat saya selucu-lucunya hewan rakun tetap saja menakutkan. Jangankan sama rakun, sama kucing & hewan berbulu lainnya saya juga geli 🙁 . Ok, rakun itu culun, tapi apakah dia “seculun” penampilan luarnya?

Tuhan itu Maha Adil ya, disetiap kelebihan makhluknya pasti ada kekurangan, begitu juga sebaliknya, di setiap kelemahan pasti ada kekuatan. Dari apa yang pernah saya baca, ternyata sang rakun ini termasuk binatang yang tingkat kemampuan survival-nya hebat lho. Nah apa saja kelebihan & kekurangan si Rakun?

Pertama, penglihatan seekor rakun termasuk kurang baik, malah cenderung buta warna. Tapi jika sedang berburu ternyata dia bisa menangkap mangsanya dari jarak yang cukup jauh. Dia tidak menggunakan matanya, tapi pendengarannya.

Kedua, termasuk golongan binatang yang malas berenang, tapi kalau dalam kondisi terdesak dia bisa menjadi perenang tangguh yang bisa mengalahkan derasnya arus sungai. Kalah deh saya, saya nggak bisa renang 😐

Ketiga, dia sanggup mencari makan yang jauhnya bermil-mil dari sarangnya jika bahan makanan yang dekat dengan sarangnya sudah menipis.

Keempat, rakun bisa tinggal di mana saja tanpa perlu tergantung dengan habitat awalnya yaitu mixed forest. Dia bisa tinggal dimana saja. Di pegunungan, ladang, pantai, bahkan perumahan penduduk. Nah lho, coba di cek, kali aja rumah kita ada rakunnya ;))

Kelima, pembuat sarang yang cekatan & luar biasa, selain itu dia yang termasuk binatang pemakan serangga bisa menjadi pemakan segala demi mempertahankan hidupnya.

Itu baru seekor rakun, bagaimana kita manusia ya? Kita yang diciptakan sebagai makhluk ciptaan Tuhan paling sempurna di muka bumi ini, masa bisa kalah sama seekor rakun? Kadang kalau kita sudah terbiasa enak suka males usaha lebih giat. Semoga nggak semuanya ya ;). Bagus sih kalau Anda termasuk dalam golongan yang “tidak” tadi. Tapi kalau termasuk golongan yang “iya”, berarti sama kaya saya.. xixiixix..  😀

Nggak, bukan itu sih yang mau saya bahas. Begini, tidak semua manusia diberikan keberuntungan dalam hidup. Kaya, cantik/ganteng, pinter, sukses, punya segalanya, nggak pernah gagal dalam hidupnya, lingkungan keluarga & sosial yang aman tenteram, gemah ripah loh jinawi, nggak pernah tertimpa musibah apapun. Kayanya cuma ada dalam cerita dongeng deh. Dongeng aja masih ada sengsara-sengsaranya juga kan? Normalnya, yang namanya kesandung, kepepet, mengalami cobaan, & mengalami ketidaksempurnaan hidup itulah yang nyata-nyata ada di kehidupan manusia. Nah kebanyakan dari kita akan jadi jauh lebih berusaha kalau sudah “kepepet” oleh tuntutan hidup.

Dalam kehidupan kita, seperti halnya rakun, kemampuan luar biasa itu bisa muncul kepermukaan jika di-trigger oleh permasalahan hidup. Saya punya cerita nyata seorang OB di perusahaan yang kembang kempis kena krisis global, dengan “karir” terancam PHK sewaktu-waktu. Apa yang akan kita lakukan jika kita ada di posisi sang OB tersebut. Dia sudah berkeluarga. Sebagai seorang kepala keluarga yang hidupnya tergantung pada gaji seorang OB, apalah yang bisa dilakukan kalau hanya menggantungkan diri pada gajinya sebagai OB? Nah, ternyata disinilah jiwa si rakun itu muncul. Berawal dengan modal Rp 500.000,- dia memberanikan diri membuka warung makanan ayam penyet. Dari usaha kecil-kecilan ini ternyata menjadi usaha yang cukup menghasilkan. Bahkan sekarang dia tidak lagi membuka kedai, tapi depot & juga toko tanaman hias. Sekarang dia sudah sukses dengan usahanya & berhenti menjadi OB. What amazing story isn’t it? Mungkin jika tidak ada krisis global & perusahaan tempatnya bekerja saat ini baik-baik saja nasibnya masih tetap sama menjadi seorang OB .

Manusia sudah didesain dengan sempurna oleh Tuhan. Lengkap dengan survival instinct-nya. Kalau seekor rakun saja bisa setrampil & segesit itu kenapa kita tidak bisa? Tuhan tidak akan mengubah nasib suatu kaum, kecuali kaum itu sendiri yang mengubahnya. Jadi, mau jadi pinter/bodoh, kaya/miskin, sehat/sakit, bahagia/sengsara, berhasil/gagal semua berawal dari diri kita sendiri ..  🙂

 

[devieriana]

 

Continue Reading

Be careful of your thought ..

 

thought

 

 

“Be careful of your thoughts, for your thoughts inspire your words. Be careful of your words, for your words precede your actions. Be careful of your actions, for your actions become your habits. Be careful of your habits, for your habits build your character. Be careful of your character, for your character decides your destiny.”

– Chinese proverb –

 

Dulu, kedua orangtua saya pernah berkata, “you are what you eat”, kamu adalah apa yang kamu makan, ketika melihat semakin banyak tetangga/kerabat kami yang sakit karena tidak mengatur pola makannya & makanan apa saja yang masuk ke perutnya. Awalnya saya cuma melihat hal itu sebagai “sebatas nasehat  semata”, walau dalam hati sih mengiyakan.

 

Ketika sudah menginjak dewasa (alaah..), ada lagi kata-kata yang menyebutkan “we are what we think”. Lama nih mikirnya (maklum kadang kan suka asal loading aja, gak connect-connect). Arti kata-kata ini apa yah? Baru setelah waktu berjalan saya mulai “ngeh” sama kata-kata ini. Kesimpulan saya   :

 

If you believe yourself to be successful, you are.
If you think you have nothing to live for, you won’t.

 

 

So, be careful..  😉

 

 

 

picture source   :    here

Continue Reading

Chapter of My Life ..

Beberapa waktu yang lalu saya “ketemu” dengan seorang teman SD di facebook. Hwaaa.., SD bo’. Heran kok dia masih ngenalin muka saya ya, padahal kan udah di operasi plastik (sama ember). Teman jaman perjuangan & jaman susah dulu, hehehe.. Ga juga denk :-p . Yang jelas kalau ngomongin IQ dia lebih pinter dari saya, jauhlah. Tapi kalau lomba cerdas cermat antar SD pasti 1 grup sama saya.. xixixix.. Padahal kepinterannya ga selevel ya, tapi kalo masalah kirim-kiriman murid buat lomba pasti kita selalu diikutkan. Bukan karena kita ini tergolong pinter (baca : saya) masalahnya kandidatnya ya itu ke itu melulu, murid yang tertib ya itu-itu juga.. :-D. Jadi pengiriman kami ke ajang-ajang lomba karena pertimbangan daripada didiskualifikasi gara-gara ga mengirim wakil, hehehehe.. Gak denk, ga seburuk itulah 😀

Masa kecil saya terbilang konyol, ga tau deh nurun siapa. Konyol tomboy bin ajaiblah. Plester silang, selang-seling mampir di kaki saya, apalagi kalo bukan karena bolak-balik jatuh. Sampe mama papa saya  ngira apa saya ini gaya gravitasinya berlebihan ya sampe jatuh-jatuh mulu. Suka terlalu kreatif untuk anak seumuran saya. Papa kan dulu suka koleksi stationery lengkap banget tuh, nah namanya anak-anak ga bisa ngeliat ini barang fungsinya buat apaan. Akhirnya malem-malem saya iseng mainan stapler. Yang fungsinya buat njepretin kertas saya pakai buat njepretin.. jari telunjuk. Sumpah deh akhirnya itu jari berdarah-darah & saya tentu saja menyalahkan.. staplernya. Waktu liburan seperti biasa saya berlibur ke rumah nenek di Surabaya. Ga tau kenapa, kayanya bukan keinginan saya juga deh buat liburan disana, tapi kaya sudah jadi ritual tiap liburan pasti dititipkan disana secara semena-mena.  Gara-gara kebanyakan main sama anak-anak tetangga di Surabaya saya jadi gokil banget. Abis main, panas-panas, pengennya yang seger-seger kan? Nah saya pengennya niru anak tetangga yang minum langsung dari botol di kulkas. Tapi berhubung sama mama ga boleh minum dengan gaya begitu (alasannya sama aja nyisain orang, ga boleh) akhirnya saya cari sasaran lain, yaitu.. termos. Tau dong termos itu kan isinya air panas. Tapi saya mana peduli, saya kan maunya keliatan keren, minum langsung dari.. termos. Bisa ditebak kan hasilnya? bukan malah seger, tapi..bibir seketika berubaah jadi bibir Angelina Jolie. Sekali lagi siapa yang disalahkan? yak Anda benar, tentu saja termosnyalah..

Saya termasuk anak yang kreatif & penuh improvisasi. Jaman SD sudah bikin komik-komikan & mengarang cerita legenda (see, mengarang legenda, bo’. Legenda kok dikarang). Habis bikin buku saya bikin perpus-perpusan, yang nyewa ya temen-temen saya, tapi ga pake bayar, bisa dihabeg-habeg nyokap dikirain uang saku saya ga cukup, padahal iya sih ga cukup, hihihihi… Alasannya bukan karena nyokap pelit, tapi “kamu kan udah mama kasih bekal, ya udah uang sakunya ditabung aja”  😀  . Improvisasi bukan hanya berhenti disitu saja, pun halnya dalam ujian bahasa Indonesia. Jaman kecil dulu mana tau istilah suami-istri, paman-bibi. Yang saya tau cuma papa-mama, om-tante, jiaah.. (gaya banget gue ya). Tapi iya beneran, saya ga tau. Makanya pas ada soal cerita :
“Paman dan bibi tinggal di desa. Paman memiliki beberapa ekor kuda & sapi..dst” (di soal itu ada ilustrasi gambar kuda jingkrak). Berlanjut ke pertanyaan : siapakah istri paman? Berhubung disana tidak dijelaskan status perkawinan antara paman & bibi dengan PD saya jawab : KUDA. Beneran, itu jawaban saya di test. Emang salah saya apa? Harusnya kan ada gambar akte nikahnya paman & bibi biar jelas status perkawinannya, bukan gambar kuda..   😀  .

Dari SD – kuliah saya ga mau hanya sebagai siswa rata-rata, harus ada sesuatu 100_8628yang bikin saya terkenal, hahaha.. ga gitu-gitu juga kali. Akhirnya saya berjuang di jalur ekstrakurikuler karena di jalur yang ilmiah pastinya ancur banget (nyadar mode : on). Remaja ga ada cinta monyet kayanya ga seru, akhirnya saya mencintamonyetkan diri sendiri. Lumayan manis anaknya kaya saya gitu deh manisnya *sambil nyisir poni*. Lumayan banyak juga yang naksir. Ga penting banget lama-lama cerita gua.. SKIP aja, langsung ke kelas 3 SMP. Waduh, meskipun sama-sama suka tapi ga pernah jadian. Cuman salam-salaman thok.. Beuuh, gregetan ga sih. Nembak duluan juga ogah karena sayaa kebetulan paling ga bisa ngomong suka duluan sama cowok. Malah yang nembak kok teman sebangku saya yang suka kita titipin salam.. lhaaaa.. gimana sih, kita kan pren. Masa pren makan pren?   🙁

Masa SMA saya juga biasa-biasa aja. Kalau orang lain bilang masa SMA adalah masa paling indah, buat saya ah biasa aja. Soalnya pas SMA saya malah jelek banget & ga pede, tapi kalau caur mah iya  😀  . Kalau SMA pada sibuk nyari gebetan saya malah sibuk ngejar mata pelajaran yang full speed banget, hmm.. I was so stupid at that time, sekarang sih masih..  🙁  . Alhamdulillah bisa lulus dengan nem kepala 5 walau ngepres pokoknya alhamdulillah tiada tara deh..  😀

Kuliah adalah masa paling seriusnya saya. Niat bangetlah pokoknya. Intinya sih pengen nunjukin ke orangtua kalau grafik pendidikan saya bisa naik terus. Alhamdulillah perjuangan saya ga sia-sia. sebagian cita-cita saya mendudukkan kedua orangtua di kursi VIP khusus untuk para orangtua wisudawan/wati yang lulus cumlaude pada saat wisuda tercapai.  Sampai sekarang sih ada beberapa cita-cita nyenengin papa-mama yang masih belum keturutan.

Kerja alhamdulillah so far lancar. Kebetulan saya bukan “the kutuloncater” yang hobby pindah-pindah tempat kerja dalam waktu relatif dekat. Kalau mau dirunut ke belakang sejarah perjalanan karir saya rata-rata ga ada yang dibawah 2 tahun, kecuali yang di Infomedia terpaksa resign karena mengikuti suami ke Jakarta. Di tempat kerja yang sekarang alhamdulillah sudah masuk tahun yang ke-2.

Kalau dipikir-pikir sih perjalanan hidup saya tuh fluktuatif banget. Ga pernah ngebayangin kan kalau saya yang dulunya tengil, pecicilan yang kalau ditanya cita-citanya selalu jawab pengen jadi peragawati (yang setelah dewasa baru nyadar kalau itu hil yang mustahal menjadi peragawati dengan tinggi 157 cm). Kalau pas bahagia bisa bahagia banget, kalau pas lagi down bisa down banget. Ya memang sih ukuran down-nya bisa subjektif banget ya. Karena pas saya kira saya udah yang paling kasian sedunia ternyata masih ada yang lebih kasian dari saya. Tapi setelah sadar bahwa ya begitulah lika-liku hidup saya akhirnya stop complaining, keep saying alhamdulillah for everything God gives to me..  🙂

[devieriana]

Continue Reading

Fear : Out Of The Comfort Zone ..

Pernah ga sih kita berada dalam kondisi “takut” terhadap sesuatu yang baru? Entah itu lingkungan baru, pekerjaan baru, teman baru, lokasi baru, habit baru, perspektif baru, hidup baru? Ketakutan yang setelah dijalani ternyata berbuntut “oalah”?  “Oalah, ternyata aku bisa tho.. Oalah, ternyata cuma begini aja.. Oalah, ternyata sama aja kaya kemarin.. Oalah, ternyata begini..begitu.. Oalah, ternyata enak juga ya”. Dan masih banyak sejuta “oalah” lainnya. Pasti pernah kan? Ga mungkin kalau sampai ga pernah 😀

Khawatir dan takut adalah dua hal yang berbeda, sekalipun nyaris mirip. Rasa takut punya objek yang jelas, contoh : saya takut sama tikus, saya takut sama bos saya yang galak, saya takut sama hantu. Tetapi khawatir  tidak, lebih abstrak. Ada perasaan tak menentu terhadap sesuatu yang tak jelas. Ketakutan, paranoid terhadap sesuatu yang asing, sesuatu yang baru, sesuatu yang belum pernah dijalani sebelumnya itu pasti pernah dirasakan semua orang. Punya rasa seperti itu wajar-wajar saja. Tapi jika berlebihan dan sudah mengganggu, itu namanya sudah tak wajar. Kekhawatiran sifatnya hanya sementara, karena ketika kita sudah involve di dalamnya kekhawatiran itu ternyata tidak terbukti & menjadi sesuatu yang biasa, yang menyenangkan, yang belum pernah kita bayangkan sebelumnya. Kekhawatiran yang diciptakan oleh pikiran. “Aduh, besok mau kerja di tempat yang baru nih, Duh, bisa ga ya gue? Kira-kira nanti temennya asik-asik kaya di tempat kerjaku yang lama ga ya? Lingkungan kerjanya nanti kondusif ga ya? Kerjaan gue tar sulit ga ya?” dan sejuta pertanyaan paranoid yang lain, padahal ya belum tentu, wong belum dijalani 🙂

It is about worry,  about “what if  I couldn’t?”. Terus, gimana dong biar kita ga kuatir lebay lagi?  🙁  . Ini sebagian tips yang pernah saya praktekkan ya, siapa tahu bisa berguna juga. Lumayan working juga kok   🙂    :

1. Beranilah keluar dari zona nyaman.

Pada saat kita sudah merasa nyaman dengan posisi/keadaan kita sekarang membuat kita sulit menerima hal-hal baru. Jangankan kita yang pindah tempat, menerima orang baru saja pasti juga bukan hal yang mudah kan? Belum-belum sudah paranoid duluan tentang kepribadian seseorang, “aduh, ni orang asik ga ya? bisa ga sih nanti dia jadi bawahan/atasan gue? enak diajak temenan gak ya?”. Atau ketika ada peraturan baru yang jauh lebih mengikat pasti protes duluan kan? Karena apa, ya itu tadi sudah terlanjur merasa nyaman dengan kondisi sebelumnya. Semua pasti butuh penyesuaian. Terus siapa yang harus menyesuaikan, kita atau lingkungan? Jelasnya sih kita ya. Ga mungkin lingkungan yang menyesuaikan kita. Seperti beberapa waktu yang lalu saya sempat ngobrol dengan salah seorang teman yang lumayan zaakelijk (baca : saklek, tanpa kompromi) , memandang dirinya tidak perlu berubah, maunya begini ya harus begini, lingkungan yang harus bisa menerima dia yang seperti itu. Ya ga bisa begitu juga kan. Suatu saat kita butuh untuk zaakelijk, tapi di saat yang lain kita juga dibutuhkan untuk bersikap luwes, bisa menyesuaikan dengan situasi yang ada.

2. Jangan biarkan kekhawatiran menguasai pikiran kita.

Coba tulislah apa yang kita khawatirkan di atas secarik kertas. Tulis dengan jelas. Tulisan setidaknya bisa kita jadikan alasan berbagi, ketika kita tidak bisa menceritakan apa yang kita khawatirkan pada orang lain. Orang yang tahu kekhawatiran kita akan memberikan solusi. Dengan demikian, kita akan tahu dan mampu membedakan mana yang pantas dikhawatirkan dan mana yang tidak.

3. Buatlah daftar tindakan yang seharusnya kita lakukan secara spesifik.

Setelah itu, lakukan tindakan itu. Lakukan mulai dari hal yang kita anggap paling kecil, sederhana, remeh temeh. Lakukan step by step sampai semua daftar “keharusan” kita itu selesai. Cara ini lumayan dapat membantu kita untuk fokus pada hal yang lebih besar, yang lebih banyak membutuhkan perhatian kita.

4. Take a deep breathe.

 Tenangkan hati & pikiran agar bisa menjernihkan pikiran & logika.

5. Think Positive

Memberikan sugesti pada diri sendiri bahwa kita akan mampu kok menjalani apa yang akan kita jalani. Kita mampu menyelesaikan permasalahan dan akan mencapai tujuan yang kita inginkan. Ini bukan masalah percaya/tidak ya, tapi persoalan keyakinan dan proses struggling. Isi pikiran kita dengan hal-hal positif setiap hari.

6. Tidak ada kesuksesan tanpa kerja keras

Tidak ada sesuatu yang akan terjadi jika kita hanya memikirkannya & do no action . Mereka yang gagal terus menerus keebanyakan pikirannya diliputi oleh kekhawatirannya yang semakin bertambah dari waktu ke waktu & ketika mereka memikirkannya tanpa melakukan tindakan apa pun. Sebaliknya, orang-orang yang berhasil adalah orang-orang yang memperlajari hal-hal yang baru, kemudian langsung menerapkannya. Sehingga apabila mereka salah, mereka akan langsung dapat menelusuri letak kesalahannya dan memperbaikinya sampai berhasil.

So, siapkah kita memasuki dunia, kondisi & lingkungan yang baru? Buka hati, buka mata & buka pikiran, bahwa dunia yang sudah kita pilih ini adalah dunia yang menyenangkan. Always positive thinking, itu yang akan membuat kita lebih relieve, lebih mudah menerima kondisi yang berbeda dengan sebelumnya & berkarya lebih maksimal. Ketakutan itu hanya bersifat sementara, kalau bahasa telekomunikasinya nih : temporary network problem 🙂 . Kita yang menciptakan, kita pula yang bisa menghilangkannya 🙂

Have a good day  🙂

* dedicated for a friend who will walk the new path, mmh.. in a better place I guess, good luck for you 🙂 *

 [devieriana]

Continue Reading

Urip Iku Sawang Sinawang ..

grass

Itu kata-kata yang sering saya dengar sejak saya masih imut (itu bahasa narsisnya :  masih kecil :-p  ) .  Kata-kata itu berasal dari bahasa Jawa yang kurang lebih artinya begini : “selalu melihat orang lain lebih baik, lebih beruntung, lebih enak daripada kita”. Padahal kenyataannya ya belum tentu kaya gitu. Cuma berdasarkan penglihatan kita aja, belum tentu bener 100% karena kita cuma melihat kulit luarnya doang.

Kaya misal nih, buat yang masih single pasti ngeliat yang sudah merit itu 100% lebih enak daripada yang masih single, bahagia, hidupnya lebih teratur, pokoknya enak bangetlah. Yang sudah merit malah nyangkanya enakan yang belum merit. Lho kok? Iyalah, buat yang masih single tuh enak banget bisa lebih bebas, mau hangout kemana-mana bareng temen, lebih punya waktu buat diri sendiri, menyenangkan diri sendiri, belum diribetin masalah anak/suami/istri, pokoknya masih punya banyak waktu buat diri sendirilah.

Begitu juga masalah kerjaan.  Yang 1 ngeliat, “wah, kerjaan si Anu enak banget deh. Keluar mulu tiap hari, bisa cuci mata, sekalian madol juga tuh. Dateng-dateng tar jam 16.30an, tinggal setengah jam udah deh pulang. Ga kaya gue, 8 jam mesti mantengin komputer, berkutat sama angka-angka, telpon, emailing & segambreng laporan yang amit-amit bujubuneng banyak banget”. Si Anu  ternyata berpersepsi beda, “kerjaan elu tuh yang enak banget. Lu dateng, kerja di depan komputer, ruangan ber-AC masih bisa ngemil sambil ngupi-ngupi. Lah gue, di kantor paling cuma 1 – 2 jam cuma buat nyiapin bahan buat presentasi ke klien, selebihnya gue ada di lapangan, belum kena macetnya padahal udah janjian sama klien jam sekian. Balik ke kantor udah harus ada progress report kerjaan gue apa aja yang udah target, udah jalan berapa persen. Kadang jam segitu otak gue udah ga connect mantengin laporan. Mana bos gue galaknya naudzubillah.. Pusing gue..”  . Nah lho, ga seenak yang kita kira kan? 😉

Atau, “enak ya jadi elu, suami udah jadi pegawai tetap di perusahaan segede & se-establish ini, lu juga udah mantep posisi kerjaannya. Gue ngeliatnya what a perfect life of you both”. Reply dari objek yang diiriin ternyata beda jauh banget, di luar perkiraan. Nih ya : ” Hah, apanya yang enak sih mbak. Kita nikah kemarin juga masih duit utangan kok, belum lunas. Belum lagi cicilan mobil & biaya operasionalnya bayarnya kerasa banget mbak. Rumah juga masih ngontrak, biaya kontrak rumah di Jakarta udah berapa duit tuh mbak. Suamiku yang keliatannya sehat-sehat aja sebenernya dia itu sering sakit. Kemarin aja dia abis ke dokter habis Rp 500.000,- cuma buat nebus obat yang cuma 6 biji, belum ongkos dokternya, therapynya per minggu. Ukkh, siapa bilang enak sih mbak? Enakan juga kamu, ga kebebanan apa-apa”.  Dan segudang masalah lain yang sering kita pikir orang lain hidupnya tuh jauh lebih enak, lebih asik,  lebih segalanya dari kita.  Bener ga? Pasti pernah dong mikir kaya gitu, mmh bukan pernah tapi sering.. Iya apa iya? 😀

Itulah yang namanya rumput tetangga lebih hijau daripada rumput di halaman sendiri. Padahal kalau kita main ke tempat tetangga malah dia yang ngira rumput kita yang jauh lebih hijau dari rumput di halamannya sendiri. Itulah karena kita melihat orang lain hanya dari perspektif kita yang serba terbatas, ga pernah kita rasakan gimana orang lain menjalani hidupnya karena kita tidak involve langsung dalam kehidupannya sehari-hari. Kita hanya bisa judging, menebak, mengira-ngira, menciptakan persepsi sendiri yang kadang ya belum tentu bener. Memang ga ada yang aneh, ga ada yang mengherankan, ga ada yang salah kok dengan persepsi itu. Ya memang itulah setting defaultnya manusia. Seperti yang sudah saya bilang tadi, “urip iku sawang sinawang”. Belum tentu kehidupan orang lain itu seindah yang kita kira kok. Jadi lebih bagus mensyukuri aja apa yang udah Tuhan kasih buat kita. Untuk apapun itu, kesehatan, usia, keselamatan, pekerjaan, jodoh, keluarga yang hangat, keberkahan atas rezeki & segala kesempatan baik yang udah Tuhan kasih ke kita.

Thank you Lord, thank you, thank you for every blessing You give.. I Love You ..  🙂

 [devieriana]

ilustrasi: http://cartoonstock.com

Continue Reading