The Man That Can't Be Moved

Salah satu lagu yang selalu menemani saya dikantor kalau pagi, sebelum menghadapi setumpuk pekerjaan yang mengantri untuk diselesaikan satu-satu, selain James Morrison, Incubus, Dishwalla, David Cook, Peter Cox dan teman-temannya, plus secangkir kopi tentunya 😉 . The Script – The Man That Can’t Be Moved. Lagu yang sudah nggak bisa dikatakan baru lagi, tapi masih enaklah kalau buat didengerin pagi-pagi (menurut saya lho.. 😉  ).

Kalau yang biasa saya dengerin tiap pagi bukan yang versi unpluggednya sih. Berhubung yang di youtube untuk non unplugged (apa sih istilahnya?) nggak bisa di-embed jadi ya sudahlah kalian saya share yang versi unplugged-nya aja, sama-sama enak kok.

Going Back to the corner where I first saw you
Gonna camp in my sleeping bag I’m not gonna move
Got some words on cardboard, got your picture in my hand
saying, “if you see this girl can you tell her where I am”

Some people try to hand me money, they don’t understand
I’m not broke I’m just a broken hearted man
I know it makes no sense but what else can I do
How can I move on when I’m still in love with you

Cuase If one day you wake up and find your missing me
and your heart starts to wonder where on this earth I could be
Thinkin maybe you’ll come back here to the place that we’d meet
And you’ll see me waiting for you on our corner of the street
So I’m not moving, I’m not moving

Policeman says, “son you can’t stay here”
I said, “there’s someone I’m waiting for If it’s a day, a month, a year”
Gotta stand my ground even if it rains or snows
If she changes her mind this is the first place she will go

Cause If one day you wake up and find your missing me
and your heart starts to wonder where on this earth I could be
Thinkin maybe you’ll come back here to the place that we’d meet
And you’ll see me waiting for you on our corner of the street
So I’m not moving, I’m not moving,
I’m not moving, I’m not moving

People talk about the guy that’s waiting on a girl
There are no holes in his shoes but a big hole in his world

Maybe i’ll get famous as the man who can’t be moved
Maybe you wont mean to but you’ll see me on the news
And you’ll come running to the corner
cuase you’ll know it’s just for you
Im the man who can’t be moved

Going Back to the corner where I first saw you
Gonna camp in my sleeping bag I’m not gonna move

[devieriana]

gambar dari sini

Continue Reading

Tamasya Yang Tanggung

Kali ini saya mau curhat nggak penting. Hari Minggu kemarin boleh dibilang “harlotnas”, hari nyolot nasional. Betapa tidak, saya yang sudah empot-empotan menahan emosi sejak seminggu menjelang “bulanan” harus berhadapan dengan segala hal menjengkelkan sejuta umat 👿 . Maklumlah ya, namanya perempuan pasti ada saat-saat dimana harus dilanda emosi yang tidak stabil selama beberapa hari. Menjengkelkan? Iya banget :lol:. Buat diri sendiri aja sudah terasa menjengkelkan, buat orang lain apalagi.. Untung suami sudah paham & bisa mengerti “tabiat” bulanan perempuan satu itu. Kalau enggak, mungkin sudah terjadi huru-hara & perang antar suku kali ya.. :mrgreen:

Rencana mau ke Cibubur lihat rumah. Lihat-lihat doang kok, belum beli. Kan isi celengannya belum sampai se-tong minyak tanah :D. Dan kenapa yang dipilih daerah Cibubur, Cileungsi dan sekitarnya? Kenapa nggak di Pondok Indah, kan lebih deket tuh. Alasannya cuma satu. Mahal, bos ! *nangis*. Rencana awal berangkat pagi biar nggak terlalu panas tapi berhubung suami harus menjalankan banyak ritual pagi (untunglah dia nggak sampai prosesi luluran, spa & siraman), jadilah kita sampai sana sudah dalam suasana tengah hari bolong nan panas membakar kulit. Tahu sendiri & bisa dibayangkan kan akses kearah Cibubur & seterusnya bukan main panasnya & kita bermotor ria ke arah sana. Well no problemlah untuk masalah bermotor ria itu, sudah biasa. Lha terus masalahnya?

Nah, setelah dari Cibubur, Jonggol dan endebrey endebrow itu, suami mengajak ke.. taraaaaaa.. Taman Buah Mekarsari !. WHAT?! Iya, ke Taman Buah Mekarsari. Ngapain coba?. “Ya kan kamu belum pernah kesini, sekali-kali kesini aja biar tahu. Aku juga belum pernah kok..”, jawabnya enteng. Percuma juga saya bilang nggak pengen kesitu tapi toh yang bawa motor kan dia, jadi ya terpaksa dengan wajah gondok & emosi berlebihan saya melangkahkan kaki dengan amat sangat ogah-ogahan. Lha, kenapa mau kalau nggak suka? Ya dalam hati sebenernya saya juga penasaran seperti apa sih Taman Buah Mekarsari yang katanya taman buah terbesar didunia itu, sambil menenangkan diri dari emosi yang naik turun nggak jelas itu.

Ternyata, kalau mood kurang menyatu dengan lokasi bisa jadi lokasi senyaman apapun bisa jadi biasa-biasa saja atau bahkan menjadi kurang menarik ya. Itu yang terjadi sama saya kemarin :mrgreen: . Datang sudah sangat siang, melihat venue-venue yang (menurut saya) kurang menarik & wahana yang “begitu-begitu” saja membuat mood saya makin turun & ingin segera enyah dari bumi Taman Buah Mekarsari. Apalagi sepanjang jalan hanya melihat jajaran pohon nggak jelas itu makin membuat saya bosan. Iya saya tahu, saya belum melihat semua lokasi kebun buahnya. Cuman, berhubung saya udah nggak mood, jadi ya semua terasa serba nggak asik. Apa sih? :lol:. Suami sih enjoy aja, sambil mengabadikan beberapa spot yang menurut dia menarik. Suami kebetulan lumayan pinter kalau mengambil angle-angle atau spot-spot untuk foto. Tapi tetep aja kalau menurut saya nggak ada yang menarik ngapain difoto. Nyebelin banget deh saya waktu itu. Ngerasa sendiri aja :mrgreen:

Karena Taman Buah Mekarsari termasuk arena wisata keluarga jadi yang datang juga keluarga-keluarga gitu, kebanyakan dalam rombongan besar, datang dengan menggunakan mobil keluarga atau bis (kebanyakan berplat daerah luar Jakarta). Ditambah lagi kemarin hari Minggu pula. Jadi makin kloplah keramaian & hiruk pikuknya, begitu pula dengan peringatan harlotnas yang saya rayakan itu :mrgreen:. Suami yang berusaha setengah mati membuat saya antusias dengan suasana disana, harus menyerah karena mood saya tak juga berubah sejak kedatangan kami di tempat itu.

” Mau naik kano nggak? Nanti kita foto-foto ditengah danau situ..”
” Ogah ah, panas.. Nanti item.. Tengah hari bolong kok panas-panas ditengah danau..”
” ya udah, mau foto disitu nggak, ditempat teduh situ?”
” Enggak ah, pemandangannya jelek. Nggak ada bunga-bunganya. Gersang..”

Masih sabar, tapi yakin deh pasti pengen njambak 😆

” Kamu udah laper? Mau makan nggak? ”
” Enggak. Belum laper.. “, dengan muka yang amat sangat nggak mood banget.
” sama sih aku juga belum laper. Mau naik bis yang itu, buat keliling-keliling nggak?”
” ogah ah, males. Liat tuh, selalu rebutan & penuh banget..”, jawab saya bikin alasan.
” ya kalau nggak mau yang penuh, harusnya tadi kamu bawa bis sendiri..”

Kali ini saya yang nahan ketawa. Membayangkan membawa sendiri bis warna-warni yang gandeng dua itu buat keliling taman Buah Mekarsari aja saya udah sakit perut. Belum lagi melihat wajah suami yang datar banget tanpa emosi, malah sesekali cengengesan. Haduh dia memang sabar banget ngeladenin saya yang pecicilan ini :lol:. Untunglah dia tabah. Kalau enggak mungkin saya udah disuruh pulang sendiri, kali. Jangan sampai deh, kan saya paling bodoh kalau menghafal jalan. Nanti saya tersesat gimana? :lol:.  Jadilah acara yang seharusnya fun, karena saya yang lagi nggak mood seenggak mood-moodnya umat, akhirnya tak lama kemudian harus pulang. Suami juga memilih untuk mengalah, daripada bonyok katanya, hehe.. Iyalah ngapain lama-lama di tempat yang saya nggak bisa menikmati keindahannya samasekali 😆 *ditabok bolak-balik*

Jadi? Ya, akhirnya kita pulang ke Mampang dengan sebuah cerita tamasya yang tanggung :mrgreen:. Sekianlah posting nggak penting dari saya.

Makasih :mrgreen:

 

Continue Reading

Renungan Sesuap Nasi

Tulisan ini saya tulis karena saking herannya saya sama orang-orang disekeliling saya tentang betapa pilih-pilihnya mereka sama makanan. Awalnya ok, mungkin saja masakan hari itu kurang menggugah selera sehingga kurang menerbitkan nafsu makan. Tapi ketika pemandangan itu semakin sering saya lihat, saya kok jadi bertanya-tanya sendiri ya, ada apa sih? Wong saya makan juga nggak kenapa-kenapa, enjoy aja. Kalau dibilang nggak enak banget, dimananya sih yang nggak enak? Kayanya normal-normal aja deh.  “Ya namanya orang seleranya kan beda-beda bu, belum tentu yang buat lidah kamu enak, buat lidah orang lain juga enak..”. Apa mungkin saya yang rakus ya, apa aja mau? 🙂

Nggak tahu apa yang membuat mereka berubah & seringkali nggak mau makan menu yang sudah disediakan. Padahal menunya selalu berganti-ganti tiap hari, dan menurut saya menunya juga pantas, layak & bersih. Sekarang “trend” yang berkembang di sekeliling saya adalah “nggak makan ah, menunya nggak enak” & berbondong-bondonglah mereka memesan makanan dari luar. Awalnya saya menganggap okelah ya, mungkin mereka bosan karena menurut mereka menunya begitu-begitu saja (walaupun aslinya ganti-ganti lho menunya.. 🙂  ). Ya namanya juga jatah makan dengan budget yang sudah ditentukan. Jadi ya wajarlah kalau menyesuaikan dengan harga. Nggak mungkin misal jatah makan siang Rp 20.000,- tapi menunya seharga Rp 50.000,- , ya rugi bandarnya. Istilahnya gitu..

Kalau saya kebetulan nerimo aja, selain saya juga males kalau mesti ribet delivery order. Kebetulan juga nggak pernah rewel soal makanan. Enak enggak enak & apa yang tersedia ya itu yang akan saya makan, nggak komplain, nggak menuntut mesti gini gitu. Lha wong saya juga nggak bisa masak, plus nggak ada waktu juga buat masak 😀 . Tapi memang hal itu juga yang jadi salah satu wejangan kedua orangtua saya. Enak/nggak enak, apapun yang dihidangkan, nikmatilah, sambil disyukuri bahwa kita masih bisa makan. Salah satu bentuk penghargaan buat oraang yang sudah bersusah payah menyediakan makanan buat kita & ingatlah diluar sana ada banyak orang yang kekurangan, yang nggak bisa makan karena nggak mampu beli makanan atau nggak ada yang bisa dimakan.

Saya bukan bermaksud sok bener, sok menggurui, atau sok perhatian sama orang yang berkekurangan ya. Cuman seringnya suka introspeksi dalam diri sendiri aja, kalau misal saya sekarang jadi yang terlalu pilih-pilih makanan, apa iya dulunya mama saya tiap hari selalu masak makanan yang enak & mewah buat kami? Dengan gaji papa yang nggak besar itu mama harus berusaha mengatur keuangan bagaimana caranya biar cukup buat hidup sebulan dengan 3 anak yang biaya kuliah & sekolahnya juga besar. Makan enak sekali-kali bolehlah, ibaratnya “rekreasi”, masa iya mau makan tahu &  tempe terus, sekali-kali makan lauk ayam boleh dong. Ya maklumlah, kami hanya keluarga sederhana. Itulah yang membuat saya selalu merasa bersyukur Alhamdulillah Tuhan masih ngasih rezeki cukup sehingga kami sekeluarga masih bisa makan dengan layak sampai dengan hari ini.

Sekedar ingin membuka mata, coba deh lihat sekeliling kita, ada banyak kaum yang hanya untuk sesuap nasi saja mereka harus bekerja banting tulang, susah payah, kadang tak peduli cuaca, musim, & waktu. Jangankan untuk makan sehari 3x, ada makanan yang bisa dimakan aja sudah alhamdulillah banget. Seperti kisah yang saya tuturkan disini & disini, kalau kita yang jadi bapak dan ibu itu mungkin akan bisa merasakan sendiri bagaimana susahnya cari makan ya. Jangankan untuk memilih makanan yang enak, mikir hari ini bisa makan apa enggak aja sudah bikin stress kali ya. Iya kalau ada yang bisa dimakan, lha kalau enggak?

Jadi, coba mulailah syukuri apa yang sudah Tuhan kasih sama kita. Apapun itu bentuknya. Karena ada banyak orang diluar sana yang nasibnya tidak seberuntung kita yang masih bisa ketemu makanan (enak) setiap hari…

Maaf, hanya sebentuk renungan.. 🙂

 

[devieriana]

Continue Reading

Email Untuk Seorang News Anchor

 

Sejak beberapa bulan yang lalu saya punya hobi baru yang unik, yaitu “ngasih masukan”. Eh biasa aja ya? Sebenernya bukan hobby ya, kesannya kalau hobby kok sesuatu yang dikerjakan dengan suka cita & kontinyu. Ini kegiatan yang ngasal & seseneng-senengnya saya aja. Kalau lagi mood ngasih masukan ya ngasih kalau enggak ya bakal saya biarin sampai busuk.. halah, apa sih? 😆

Saya ngerti sih kalau saya juga belum tentu bener, masih sering bikin salah, malah seringnya ngawur tapi kenapa berani-beraninya ngritik orang? Kapan hari dengan 3 orang penulis novel. Syukurlah semua tanggapannya positif. Bahkan ada yang sampai bela-belain nyamperin ke kantor saya buat nganterin edisi revisi novelnya. Nggak tahu ya kalau soal yang ini saya suka spontan aja & nggak tanggung-tanggung. Karena menurut saya itu salah satu bentuk perhatian saya sama seseorang.

Nah kalau sebelum-sebelumnya saya pernah ngasih masukan atau kritik sama beberapa penulis yang bukunya saya baca, sekarang sama news anchor alias pembaca berita. Belagu ya? 😀 . Kalau yang kemarin-kemarin lebih ke kenapa begini, kenapa begitu. Kenapa nggak sebaiknya begini atau begitu. Nah kalau sama mas yang satu ini saya masih maju mundur. Takut kalau dia nggak menerima masukan saya, atau bahkan nantinya malah saya yang dicap sok tahu.

Sebelum ngantor salah satu kebiasaan pagi saya pasti liat berita di salah satu stasiun televisi.. soalnya nggak mungkin di stasiun kereta api *dilempar ember isi pel-pelan*. Nah sejak pergantian news anchor favorit saya menjadi ke yang “belum” jadi favorit saya pasti membuat zona nyaman saya sedikit terganggu. Wong biasanya ngeliat mas X kok sekarang ganti mas Y. Nggak asik ah gaya siarannya (Ini liat beritanya apa orangnya sih?). Iya saya tahu nggak fair sih memang, kesannya jadi membandingkan, lagian namanya orang kan punya style masing-masing. Nggak bisa disamain. Ya sudahlah saya terima. Tapi nggak tahu kenapa kok hati ini rasanya gemes banget sama mas Y ini ya, kalau siaran kok ngomongnya balapan melulu sama partner siarannya. Kaya mendominasi gitu & itu nggak cuma sekali dua kali dia kaya begitu, hampir tiap hari. ” Duuh, nih orang udah ada yang ngebilangin belum sih kalau gaya siarannya itu bikin gemes karena memotong percakapan melulu? Emangnya dia itu baca beritanya sendirian apa?”, pikir saya geregetan.

Akhirnya begitu sampai kantor, bukan langsung buka aplikasi kerja tapi buka.. facebook :D. Saya cari namanya.. ketemu, saya add, tentu saja dengan membubuhkan kata-kata mesra yang bikin dia langsung accept invitation saya :D. Halah, maksudnya kata-kata yang begini lho.. ” Halo mas Y, saya add yah..Makasiiih 🙂 “. Ealah, standar ya? Tapi jangan salah nggak berapa lama saya langsung diapprove lhoo.. Ciih, gitu aja bangga :D. Tindakan selanjutnya, kasih dia message. Bilang makasih udah di approve dululah, baru selanjutnya melancarkan serangan saya.. eh mulai lebayatun.

Intinya saya minta maaf kalau nanti isi message saya bikin hati kurang berkenan, karena berisi kritikan. Nyadar dong, wong nggak ada orang didunia ini yang dengan sukarela mau menerima kritikan, apalagi yang bikin kuping merah. Dengan segenap kehati-hatian saya ungkapkan preambule uneg-uneg saya. Dia bilang nggak apa-apa selama itu buat kemajuan dia & acara yang dibawakannya.

Merasa dapet lampu ijo, langsung saya sampaikan apa yang saya lihat plus kegemesan saya tiap kali ngeliat dia siaran. Tapi tentu dengan tidak membandingkan dia dengan anchor sebelumnya, nggak etislah. Sambil deg-degan saya tunggu responnya. Duh, bakal marah apa makasih nih balasan emailnya ya? Sejam kemudian email saya baru ada respon. Hasilnya adalah.. Pffiuh sangat welcome. Dia bilang makasih udah nyampein semua itu ke dia. Selama ini ternyata belum ada orang yang bilang semua itu sama dia. Kalau selama ini dia terkesan mendominasi atau sering memotong percakapan partner itu secara nggak sadar (pingsan dong mas?). Berkali-kali dia menyampaikan terimakasih buat masukan saya & akan segera memperbaikinya. Saya sih seneng-seneng aja, dengan harapan nantinya nggak sekedar masukan tapi diperhatikan beneran.

Sehari, dua hari saya kok malah nggak ketemu sama mas itu di siaran paginya dia ya? Walah kemana ini? Pikir saya. Jangan-jangan dia “mutung” gara-gara habis saya kritik kemarin. Ah tapi enggak ah.. wong dianya welcome kok. Siapa tahu memang ini bukan jadwal siarannya dia. Coba besok pagi aja deh.. Hibur saya dalam hati..

Besoknya.. Taraaa.. dia siaran bersama si mbak partner  tetapnya itu. Deg-degan menantikan setiap kali pemotongan  kata atau kalimat spontan bersama sang partner.. Hasilnya? Wow, saya nggak nyangka kalau saran saya bener-bener diperhatikan. Dia sekarang jadi lebih tertata bicaranya. Kalaupun dia nggak sengaja memotong percakapan langsung mengalah & memberikan waktu buat partnernya untuk bicara duluan. Nggak ada istilah balapan ngomong lagi. Sangat tertib & tektok sama partnernya. Duh, terharu saya. Nggak nyangka kalau ternyata saran saya itu beneran dipraktekkan, didenger & dimasukin ke hati, nggak cuman “inggih-inggih mboten kepanggih” alias ngiyain doang nggak dilakukan.

Terlepas dari apakah reply email saya kemarin cuma buat nyenengin saya aja atau memang dari dalam hati Anda, buat mas anchor news yang udah terima email saya beberapa waktu yang lalu, makasih udah mau berubah jadi jauh lebih OK ..
Good job, Bro ! 😉

 

 

gambar dipinjam dari sini

 

 

Continue Reading

Diatas Langit Masih Ada Langit ..

Yang namanya manusia pasti nggak luput dari yang namanya sombong. Sudah manusiawi itu. Ketika sedikit saja merasa dirinya lebih baik dari yang lain pasti bibit-bibit kesombongan mulai muncul di hati masing-masing. Eh, saya lagi nggak ngomongin siapa-siapa kok, lagi ngomongin diri sendiri 😀 . Lagi pengen kontemplasi aja seperti biasa. Perenungan yang saya dapat dari hal-hal yang seringkali luput dari mata kita.

Jadi, ceritanya ada seorang ibu yang ketemu sama saya di lobby waktu ngurus kelengkapan & pemberkasan cpns. Dengan begitu bangganya dia menceritakan seluruh prestasi & kehebatan si anak. Yah, saya pikir wajarlah. Karena ketika seorang anak berprestasi pasti nama baik orangtua akan ikut terangkat. Karena itu juga akan menunjukkan bagaimana perjuangan orangtua mendidik & menjadikan anaknya sukses. Walaupun itu juga sebagian besar karena kerja keras anaknya sendiri, karena ketika berjuang, orangtua hanya mendukung, mendoakan, mensupport dari belakang sementara sang anak berjuang sepenuh tenaga mencapai apa yang dicita-citakan.

Saya sendiri ketika mencita-citakan sesuatu selalu berusaha melihat kemampuan saya sendiri. Karena hanya saya yang mampu mengukur kapasitas & kemampuan saya sampai mana. Nggak kan ngoyo kalau saya merasa nggak mampu. Orangtua pun sifatnya hanya mendukung untuk apapun yang saya cita-citakan, apapun yang saya lakukan selama itu baik & bermanfaat buat saya kedepannya. Tutwuri handayani, gitulah 😀 .

Kemarin, ibu yang saya temui di lobby itu bercerita dengan semangat ’45 tentang anaknya yang asisten dosen, yang lulus dengan IPK cumlaude, yang pas cpns selalu melampaui test interview. Intinya aanaknya itu pinteer & dia sangat bangga sama anaknya. Iyalah, wajar. Sayapun kalau jadi dia mungkin juga sama rasa bangganya sama anak saya. Tapi mendadak ilfil ketika dia mulai meremehkan, mengecilkan orang lain seolah hanya anaknyalah yang paling hebat diantara semuanya. Saya yang waktu itu ditanya IPK-nya berapa & lulusan mana harus menelan hampir seluruh kesabaran saya ketika  jawaban-jawaban saya berujung pada nada yang seolah bilang.. ” it’s ok. But sorry, you loose, darling”. Tahu gitu saya nggak usah jawab kali ya 🙂 .

Seperti misal tentang IPK, responnya bikin males banget, ” Oh, anak saya IPK-nya lebih tinggi dari mbak, 3.8. Kalau mbak berarti nggak nyampe 3.8 dong ya..”. Bu, kalau IPK saya nggak nyampe 3.8 ya berarti lebih rendah dari anak ibu. Paham kok, nggak perlu dipertegas lagi..

Atau pas nanya lulusan mana, ” Oh, lulusan Unibraw.. anak saya Unpad lho..”. Hmm, masalahnya dimana ya? Toh sama-sama negeri kan?

Atau pas nanya saya sekarang kerja dimana, ” Oh di Telkomsel.. Kalau anak saya udah asisten dosen.. sebenernya dia udah ditawarin kerja ikatan dinas di Unpad tapi dianya nggak mau..dengan alasan.. bla..bla..bla..”. Nih ya bu, saya mah yang penting alhamdulillah udah kerja, dapet gaji, and I love my boss.. eh my job.. Rejeki orang kan beda-beda. Emang kalau jadi asisten dosen itu gengsinya lebih tinggi gitu ya?

Baru agak kesekaknya disini  : ” anak saya itu udah nyoba cpns kemana-mana & alhamdulillah semuanya melampaui tahap interview, mulai departemen ini, departemen itu, depdagri, deplu, dll.. kalau tes tulis sih selalu lulus semua deh.. Sampai bingung mau konsen ke yang mana. Ini aja pas lolos disini ya udah saya suruh konsen kesini aja. Kalau mbaknya udah nyoba berapa kali & berapa yang lolos?”. Kali ini suami saya yang jawab, ” alhamdulillah cuma sekali doang & langsung lolos bu..”. Aduh, sebenernya saya pengen ngikik-ngikik denger jawaban suami. Maafkan suami saya ya bu.. harusnya saya jawab ” saya udah nyoba berkali-kali nyoba test cpns & hanya ini yang lolos.. ” 😆

Saya sih paham betul, mungkin beliau overexcited dengan kepandaian & keberhasilan anaknya. Ya iyalah wajar, anak perempuan, masih muda, pinter, sekarang diterima di instansi yang sama kaya saya. Wajib bangga. Tapi kebanggaan itu akhirnya membawa dia jadi sedikit pongah, mengecilkan arti & keberadaan orang lain. Makanya tadi saya sms mama buat sekedar ngingetin kalau emang mama/papa ditanya sama orang tentang kami (saya & adik-adik saya), berceritalah sewajarnya. Jangan over excited, jangan sampai mengecilkan orang lain, ikutlah berbangga ketika orang lain juga bercerita tentang kelebihan anak-anaknya. Intinya jangan berlebihan. Kita nggak pernah tahu apakah orang lain yang dengar cerita kita juga sama excited responnya seperti saat kita saat menceritakannya. Kita nggak pernah tahu apakah orang lain juga sama tertariknya mendengar cerita kita. Karena tak jarang maksud mereka hanya sekedar ingin berbasa-basi 🙂

Jadi keywordnya adalah.., jangan lebay, diatas langit masih ada langit. Itulah perenungan bagus saya dapat hari ini.  😀

 

 

Continue Reading