“Tidak ada yang namanya kebetulan…”

turn left turn rightAkhir pekan kemarin saya sengaja nonton film secara marathon di rumah. Beberapa keping dvd lawas saya babat habis.  Salah satunya adalah film Asia berjudul Turn Left Turn Right yang dibintangi oleh aktor Jepang Takeshi Kaneshiro dan aktris Mandarin Gigi Leung. Kisah cinta yang dikemas secara ringan sekaligus menggemaskan. Saking ‘ringannya’ ada beberapa scene yang terasa kurang masuk akal. Tapi ya, namanya juga hiburan, ada kalanya skenario harus sedikit dipaksakan, dan logika penonton pun ikut dinonaktifkan untuk sementara waktu.

Di film itu Leung berperan sebagai seorang penerjemah, sedangkan Kaneshiro sebagai seorang pemain biola. Mereka hidup sejajar dan tampak sempurna bagi satu sama lain. Tapi entah bagaimana, nasib membuat  mereka terpisah. Dulu, Kaneshiro kecil pernah menyukai seorang gadis yang bahkan namanya saja tidak sempat diketahuinya. Namun takdir ternyata berbaik hati, mereka dipertemukan kembali dalam situasi yang berbeda, dalam sebuah ketidaksengajaan.

Singkat cerita mereka pun berkenalan dan saling bercerita ini-itu. Lambat laun mereka menyadari bahwa mereka pernah bertemu di masa kecil, dan pernah saling menyukai. Nah, scene menggemaskan pun dimulai. Mereka yang sudah saling bertukar nomor telepon dengan harapan hubungan mereka akan jauh lebih baik lagi ke depannya itu ternyata masih harus mengalami cobaan. Secarik kertas yang berisi nomor telepon masing-masing itu terkena hujan dan luntur. Halaaah… 😐

Dan cerita pun bergulir dengan kebetulan-kebetulan yang menggemaskan. Tapi jangan tanya bagaimana akhir cerita di film itu ya, karena sebenarnya saya bukan mau me-review filmnya, tapi justru gara-gara film itu jadi ada pertanyaan yang berlompatan keluar dari pikiran saya.

“Percayakah kamu pada sebuah kebetulan?”

Jujur, selama ini saya masih percaya dengan kata ‘kebetulan’. Bahkan masih sering menggunakan kata ‘kebetulan’ sebagai pengganti kata ‘ndilalah‘, untuk menggambarkan sesuatu yang terjadi bukan karena kesengajaan/direncanakan.

Tapi makin ke sini saya percaya bahwa segala sesuatu yang terjadi bukan karena sekadar ‘ndilalah’, bukan cuma kebetulan,  I do believe that there’s a reason behind everything.

Kadang kita tidak sengaja dipertemukan dengan orang-orang tertentu, dan makin ke sini ternyata ada tujuan tertentu mengapa kita sampai dipertemukan dengan mereka; seperti yang dulu pernah saya tulis di sini. Pun halnya ketika kita mengalami suatu kejadian; itu pun pasti ada pesan moralnya. Bisa saja melalui kejadian tersebut Tuhan sebenarnya ingin berkomunikasi dengan kita dengan cara-Nya tersendiri. Bukankah Dia juga sering menjawab doa-doa kita melalui jalan yang misterius?

Sometimes things happen for a reason, even if we don’t know what it is…

 

 

[devieriana]

 

ilustrasi dipinjam dari http://www.bloggang.com

Continue Reading

Happy Birthday!

” Happy birthday, Dear. Wish you all the best; your future career and mainly your life…”

Sederetan sms dan bbm ucapan selamat membanjiri smartphone saya tanggal 2 Juni 2013 yang lalu sejak pukul 00.00 hingga keesokan harinya. Alhamdulillah tahun ini saya masih diberikan usia, kesehatan, dan kesempatan sama Gusti Allah untuk kembali berulang tahun; merasakan pertambahan jumlah usia, sekaligus pengurangan jatah usia saya di dunia.  Alhamdulillah hari lahir saya masih diingat oleh keluarga, dan para sahabat. Sebuah usia istimewa, yang sudah bukan remaja lagi (walaupun masih banyak yang mengira saya berusia early twenty sehingga banyak bapak dan ibu di kantor yang ingin memungut saya jadi menantu… *plak!*).

Dari sekian banyak ucapan dan doa yang dikirimkan oleh teman-teman dan keluarga, ada sebuah ucapan yang menurut saya sederhana tapi ‘dalem’ (sumur kali, dalem), yang sekaligus membuat saya jadi terharu. Ucapan salah satu teman di Bincang Edukasi. Halo, Mas Guntar… doanya saya pajang di sini ya :-h

“Met ulang tahun, Devi. Semoga makin pinter mbikin tulisan yang mbikin terang atinya orang, semoga makin bijak agar setiap lesan yang terucap selalu mbikin adem atinya orang, semoga makin ngetop di kerjaan hingga membesar juga potensi dalam berbagi kebaikan. Aamiin…”

Duh, berat banget ini; ‘menginspirasi’ katanya :-s. Ah, saya belum mampu menginspirasi siapa-siapa kok, Mas. Tulisan saya pun masih jauh dari kata menginspirasi. Lha wong sejak awal niatnya bikin blog cuma mau menyalurkan kelebihan energi saya saja. Sama sekali tidak ada tujuan untuk menginspirasi orang lain segala. But, anyway… terima kasih doanya, ya 🙂

Buat keluarga, sahabat, teman-teman di socmed, komunitas, kantor, dan grup band saya (eh iya, sekarang saya punya band; iseng sih, mmh… nantilah saya bikin postingan sendiri; kalau sempat ;))) tidak banyak kata yang akan saya umbar di sini, cuma mau bilang terima kasih untuk telepon, sms, perhatian, doa, dan kado yang sudah diberikan. Semoga segala kebaikan dan berkah yang sama juga tercurah untuk kalian semua. Aamiin…

Love you all…
>:D<

 

[devieriana]

 

 

Continue Reading

Astral

ghost

Saya bukan orang yang suka membahas masalah dunia yang berhubungan dengan makhluk poltergeist. Bukan apa-apa, karena saya sendiri tipikal penakut. Ah, jangankan sama makhluk halus atau nonton film horor, sama kucing saja saya takut kok. Ngg, mungkin bukan takut, tapi geli 😐

Sebenarnya postingan ini ada hubungannya dengan adik ipar baru saya. Ya, sekarang saya punya tambahan satu anggota keluarga karena adik bungsu saya baru saja melangsungkan pernikahannya beberapa minggu yang lalu. Uniknya, ternyata ipar saya ini punya indera keenam, jadi dia bisa merasakan keberadaan makhluk astral di mana pun dia berada.

Tak jarang dia terpaksa harus ‘bertemu’ dengan penampakan makhluk dari dunia lain, baik itu yang bisa dilihat penampakannya maupun yang cuma suara. Jangan ditanya seberapa sering dia harus ‘bertemu’ dengan ‘mereka’. Yang jelas di kantor, di kost, bahkan terakhir katanya di rumah saya yang di Surabaya pun dia sudah mendapatkan ‘salam perkenalan’ dari para makhluk itu. Padahal selama kami tinggal di sana tidak ada penampakan apapun baik secara fisik maupun suara lho, tapi ketika ipar saya mulai tinggal di sana kenapa mereka tiba-tiba ‘show off’, ya? 😕

Awalnya ketika sekitar pukul 02.00 dini hari, dia mendadak sakit perut dan ingin ke toilet. Dengan mata yang terkantuk-kantuk dia membangunkan adik saya untuk menemaninya ke belakang, atau setidaknya menemani di ruang makanlah. Tapi berhubung adik saya juga mengantuk dia pun bilang, “kamu ke toilet aja, pintu kamar aku buka, kok. Berani, kan? Halah, wong nggak ada apa-apa kok…” Akhirnya si adik ipar pun ke toilet sendirian (iyalah, masa barengan). Dari balik pintu toilet itulah godaan-godaan itu berawal. Mendadak dia mendengar kegaduhan di ruang makan; ada suara kursi yang di seret-seret, suara-suara gaduh di rak piring, suara pintu yang dibuka-tutup, dan suara-suara lainnya. Awalnya dia mengira itu cuma suara tikus. Tapi masa iya tikus bisa menyeret-nyeret kursi? Atau, mungkin adik saya yang berubah pikiran menemaninya di ruang makan. Tapi ketika dia coba memanggil adik saya dan seketika tidak ada respon jawaban, diam-diam dia mulai merasa takut. Tapi untunglah rasa mulesnya justru bisa mengalahkan ketakutannya sendiri. Dengan santai dia bergumam, “halah, udah…, biasa aja, nggak usah caper!  Aku nggak butuh salam perkenalan dari kalian!”  Dan, voila! Uniknya suara-suara itu pun lenyap.

Sesampainya di kamar dia buru-buru membangunkan adik saya untuk konfirmasi.

Ipar: “eh, tadi kamu ke ruang makan?”
Adik: “enggak… kan aku tidur…”
Ipar: “lah, yang berisik di ruang makan tadi siapa? :-o”
Adik: “mana ada suara berisik, sih? wong aku nggak denger suara apa-apa, kok…”
Ipar: “ah, beneran kamu nggak ke ruang makan tadi? :|”
Adik: “hambok sumpah, enggak :|”
Ipar: “trus yang tadi itu… suara apa? :-?”

Untungnya adik ipar saya ini tipe pemberani. Tidak bisa membayangkan bagaimana kalau dia adalah saya; hadeeh… sudah lari tunggang langgang mungkin 😐

Pernah suatu hari saya membaca status bbm-nya: “Jiah, ternyata kantorku berhantu :))”. Lah, kenapa smiley-nya tertawa sih? Ketika saya tanya, dia pun bertutur santai, mungkin karena sudah sangat seringnya mengalami kejadian semacam itu, ya?

“Penunggu kantorku itu suka iseng, Mbak. Kadang dia suka ngunciin aku di kamar mandi, suka manggil-manggil namaku. Di kostanku kemarin juga aku dilihatin penampakan. Ya, biasalah… caper, Mbak…”

Bukan itu saja, siang hari ketika kebetulan saya dan Mama harus pergi dan terpaksa harus meninggalkan dia sendiri di rumah pun begitu. Sebenarnya bukan bermaksud tega meninggalkan dia di rumah sendirian, tapi berhubung dia mengeluh karena kurang enak badan, jadi ya terpaksa dia kami tinggal di rumah sendiri supaya beristirahat. Antara tega dan nggak tega sih sebenarnya. Saya dan Mama baru tiba di rumah menjelang maghrib. Persis seperti dugaan saya, dia seharian ‘ditemani’ para makhluk  poltergeist di rumah saya. Tidak ada yang menampakkan diri sih, semuanya berupa suara. Ada suara kaki yang berlarian di sekitar dia, suara rel gorden yang dibuka-tutup di ruang tamu, suara derit pintu, dan suara-suara gaduh tanpa penampakan lainnya. Tapi anehnya ketika dia cek ternyata semua dalam posisi diam seolah tidak ada apa-apa, dia pun melanjutkan acara memasak tanpa merasa terganggu. Ah, koreksi, mungkin dia sebenarnya juga merasa terganggu, tapi karena dia tidak punya pilihan lain selain tetap tinggal di rumah ya, apa boleh buat. Mungkin begitu pikirnya…

Konon ada aura-aura tubuh dengan warna tertentu yang sangat mudah menarik perhatian makhluk halus; sehingga orang tersebut akan dengan sangat mudah melihat penampakan, dan bahkan sampai diikuti. Bersyukur saya tidak memiliki kepekaan berlebihan terhadap kehadiran makhluk-makhluk astral seperti itu (lebih tepatnya tidak memilih dan tidak ingin). Hanya saja, kadang ketika saya sedang berada di sebuah lokasi tertentu, entah kenapa saya memilih menghindari spot lokasi tertentu; entah itu cuma feeling saya saja atau memang di sana ada makhluk astralnya.

Beberapa tahun yang lalu saya memang pernah merasakan kehadiran mereka di rumah Bu Dhe saya di Malang. Tapi uniknya saya baru ‘ngeh’ kalau di sana memang ada penunggunya setelah saya tidak tinggal di sana lagi. Dulu saya dan adik perempuan saya sempat diminta tinggal menemani Bu Dhe karena kebetulan beliau cuma tinggal berdua bersama seorang asisten rumah tangga. Saya dan adik diberi sebuah kamar dekat dengan garasi; sebuah kamar yang tidak terlalu besar, tapi cukup nyaman untuk beristirahat. Di sana sudah disediakan sepasang meja kursi, lemari pakaian, dan tempat tidur dua susun.

Awal-awal kami tinggal di sana suasana relatif aman terkendali, tidak ada kejadian yang aneh. Sampai suatu ketika di setiap tengah malam saya mendadak terbangun, kebetulan saya bukan orang yang terlalu lelap tidur. Di antara pukul 00.00-03.00 dini hari saya selalu mendengar ada orang yang berlari terengah-engah di jalanan depan rumah. Bukan itu saja, saya juga mendengar suara-suara aneh mirip lenguhan, atau suara-suara lain yang tidak bisa dideskripsikan oleh telinga saya, dan selalu disertai dengan gonggongan anjing di rumah tetangga. Waktu itu saya memilih berkhusnudzon saja, tidak ada makhluk halus yang akan mengganggu, toh rumah Bu Dhe sangat bersih, terawat, dan rapi (walaupun dari dalam rumah pencahayaannya lebih gelap karena kaca ruang tamu berwarna hitam, dan halaman rumahnya pun teduh karena banyaknya tanaman di depan rumah). Sama sekali tidak pernah berpikir apakah suara-suara yang saya dengar itu adalah suara makhluk-makhluk astral atau bukan, saya cuma berdoa semoga tidak ada pencuri/orang jahat yang sedang mengincar rumah Bu Dhe, karena kami berempat semuanya perempuan :s.

Saya baru berani cerita kejadian-kejadian aneh di rumah Bu Dhe ketika kami sudah tidak tinggal di sana lagi. Dan ternyata adik saya pun merasakan hal yang sama; sering mendengar suara-suara aneh seperti yang saya dengar; nafas terengah-engah seperti orang yang habis berlari jauh tapi terdengar begitu dekat di telinga, dan suara-suara aneh lainnya 😐

Papa saya dulu pernah bilang, “Di setiap rumah, setiap tempat, di mana pun itu, pasti ada yang menunggu. Ada yang baik tapi ada juga yang jahat/jahil/iseng. Pokoknya kalian jangan sampai lupa ibadah; shalat, ngaji, insyaallah mereka nggak akan ganggu kok…” 

Semoga sih begitu ya…

Eh, kalau bilang, “Pahit! Pahit! Pahit!” gitu, boleh nggak sih, Pa? *ditoyor*

😐

[devieriana]

 

ilustrasi dipinjam dari sini

Continue Reading

Balada Tukang Pijat

massage
Sebenarnya saya pernah menulis tentang tema ini sebelumnya, tapi karena sesuatu dan lain hal yang terjadi pada blog saya, akhirnya postingan itu lenyap sebelum sempat saya back up :((

Ngomong-ngomong tentang tukang pijat, dulu saya sempat trauma sama tukang pijat. Bukan apa-apa, gara-gara habis dipijat, siklus bulanan saya mendadak jadi kacau balau, walaupun akhirnya kembali stabil setelah 4 bulan. Ya, meskipun nggak kenapa-kenapa namanya perempuan tetap khawatirlah. Sampai akhirnya setelah menetap di Jakarta, dan menemukan tukang pijat yang cocok, barulah saya mau dipijat lagi. Itu pun terpaksa karena saya habis jatuh; biasalah, kalau kebanyakan pecicilan kan begini, Kak. Ibu itu kalau mijat nggak langsung pakai minyak, Kak. Tapi seluruh badan dilemaskan dulu dengan pijatan tanpa minyak, baru kalau seluruh urat dirasa sudah lemas dia pijat pakai minyak khusus pijat.

Nah, suatu hari, ketika saya sedang butuh dipijat karena merasa badan sedang kurang ‘presisi’, kok ya ndilalah ibu tukang pijatnya pulang kampung ke Lampung. Ada rekomendasi di sana, ternyata tukang pijatnya sedang ke luar kota. Di tempat lain, ternyata tukang pijatnya lagi out of order karena sakit. Dan yang parahnya, ternyata tukang pijat yang satu lagi dan saya gadang-gadangkan dia ada, ternyata sudah meninggal. Ah, yang ngasih info kurang up date, nih. Untung belum berangkat ke sana…:|

Alhasil setelah ‘berburu’ tukang pijat sana sini saya pun akhirnya terpaksa pergi ke salah satu tukang pijat yang rumahnya  agak jauh, dengan membawa harapan sepulang dari sana badan saya kembali ‘lurus’ dan jadi segar ceria seperti sedia kala.

Akhirnya, sampailah saya di sebuah rumah bercat hijau, dengan pepohonan rindang di depan halaman. Terlihat ada beberapa perempuan setengah baya sedang berkumpul, sepertinya mau pergi. Setelah bertanya ini itu, ternyata benar di sana ada tukang pijat, seorang nenek berperawakan kecil, dan kurus. Setelah menunggu beberapa saat, saya pun dipersilakan masuk ke ruang belakang rumah tersebut. Sebuah ruangan luas berlantai semen, dengan sekat-sekat mirip bilik kamar. Sementara di pojok ruangan itu bertumpuk ember-ember di atas dipan bambu. Saya sempat celingukan; di ruangan manakah kira-kira saya akan dipijat? Ternyata saya ke-GR-an, Sodara.

Nenek itu membentangkan tikar di lantai, menyiapkan sarung sebagai alas pijat, minyak kelapa di sebuah mangkuk kaca, meletakkan sebuah bantal, dan menyuruh saya untuk segera berbaring.

“Mari, Neng. Silakan berbaring di sini…”

Jujur saya agak ragu, bakal nyaman nggak ya tubuh saya nantinya beradu dengan lantai begitu? Lha wong kadang dipijat di atas kasur saja masih ada nggak nyamannya, apalagi langsung di lantai. Tapi ya sudahlah, saya buang jauh-jauh keragu-raguan saya. Saya pun menurut dan segera membaringkan diri sambil menunggu nenek itu ‘beraksi’.

Tanpa banyak bicara dia segera membalurkan minyak kelapa ke seluruh kaki saya, dan mulai memijatnya dengan kekuatan penuh. Beberapa kali tanpa sadar saya mengaduh sampai gaduh berlari ke hutan lalu ke pantai.

Proses pijat berdurasi kurang lebih 1 jam setengah itu pun diakhiri dengan diraupnya wajah saya dengan minyak kelapa, ditambah dengan kepala dan rambut yang diuyel-uyel tak beraturan. Sempat membatin dalam hati, “Ya Tuhan… ini muka saya diapain sih sebenernya? Ditotok bukan, dipijat juga kayanya dulu nggak gini-gini amat…” *mulai mewek*

“Yak, sudah selesai, Neng… Gimana? Badannya jadi enakan, kan? :)”

“Nnng, iya… enakan. Enakan, Nek. Terima kasih… “

Saya menjawab dengan ekspresi yang sulit untuk digambarkan dengan emoticon apapun. Jangan ditanya apa yang saya rasakan sepulang dari sana. Badan rasanya semakin nggak ‘presisi’, pegal linu bukan main, dan sampai rumah saya nangis dong. Ya habisnya, bukannya malah baik, malah sakit semua, Kak :((

Apakah selesai sampai di situ saja pengalaman saya dengan para tukang pijat? Oh, belum selesai, Kak. Masih ada lagi. Entah kenapa, di saat sedang butuh-butuhnya pijat, ibu tukang pijat langganan saya itu pas nggak ada. Jadilah saya kelimpungan mencari tukang pijat lain yang available. Salah satu yang belum saya coba jasanya adalah tukang pijat yang satu ini. Seorang ibu berpostur gemuk, berusia setengah baya, cara jalannya pun sudah sangat lambat karena dia pernah kena stroke. Tapi jangan salah, dia tukang pijatnya atlet, Kak. Saya sih kalau nggak terpaksa banget kayanya nggak bakal pakai jasa ibu itu, deh. Bukan apa-apa, belum-belum saya sudah parno duluan; treatment pijatnya bakal disamakan dengan treatment para atlet sepak bola, bulu tangkis, dan lain-lain nggak, ya? 😕

Akhirnya saat itu pun tiba. Sebelum saya berangkat ke Singapore kemarin, engsel badan saya beneran kaya mau lepas semua. Pegel linu nggak jelas. Berhubung tukang pijat yang available cuma dia, ya sudahlah ya, saya pasrah sajalah. Siapa tahu mijatnya enak. Toh katanya dia juga langganannya Meriam Bellina dan beberapa artis lainnya. Kalau mereka saja cocok, barangkali nanti saya juga bakal cocok; kan sesama artis  :-”

Pagi-pagi sekali, ibu itu sudah datang. Saya pikir dia sudah membawa ‘perlengkapan perang’ untuk pijat, ternyata enggak. Sesuai permintaan, saya pun menyediakan semangkuk minyak kelapa yang dicampur dengan minyak kayu putih. Selama dipijat, beberapa kali saya meringis menahan sakit. Untuk ukuran sebayanya, tenaga ibu itu luar biasa kuat. Betis saya diurut dengan durasi pijat yang lumayan lama, katanya urat betis saya kaku banget. Hmm, padahal saya sudah lama nggak narik becak lho, kok masih tetap kaku, ya? 😕

Ketika saya mulai jejeritan nggak jelas dia bilang kalau pijatannya itu belum seberapa.

“Wah, ini sih belum seberapa, Neng. Kemarin saya mijat di Pelatnas, tenaga yang saya keluarkan lebih kuat dari ini, dan mereka nggak protes tuh… “

“Ibu mijat atlet apa?”

Asli, feeling saya mulai nggak enak, nih…

“Bulu tangkis, sepak bola, ya macem-macem Neng…”

Tuh, benar, kan? Ya iyalah mereka nggak protes. Uratnya kan beda sama urat saya yang unyu-unyu ini [-(

Ternyata ‘penderitaan’ saya tak cukup sampai di situ saja, Kak. Tak lama setelah urat betis saya dirasa sudah cukup lemas, dia mengeluarkan sebuah kayu berwarna hitam sepanjang jengkal orang dewasa. Sungguh, perasaan saya makin nggak enak.

“Itu apaan, Bu? :-s”

“Kayu buat terapi pijat telapak kaki, Neng…”

Belum selesai saya melontarkan pertanyaan berikutnya, titik-titik tertentu di telapak kaki saya sudah ditusuk-tusuk dengan kayu itu. Sesi jejeritan pun dimulai lagi; berasa heboh sendiri, kaya habis diapain sama tukang pijatnya. Selesai pijat saya malah nggak bisa jalan enak, Kak. Ya gimana mau jalan enak kalau telapak kaki masih ngilu semua gitu.

Akhirnya, setelah beberapa kali menjalani sekaligus membandingkan hasil treatment pijat beberapa tukang pijat yang berbeda, sepertinya saya nggak akan pindah ke lain hati dengan ibu yang langganan saya semula. Ya, daripada hasilnya malah ngilu-ngilu nggak jelas, kan?

Berbeda lagi dengan pengalaman adik saya menggunakan jasa tukang pijat dari sebuah yayasan tukang pijat yang beroperasi 24 jam, dan kebetulan rekomendasi teman-teman di kantornya. Adik saya cerita kalau para pemijat di yayasan itu adalah tukang pijat profesional, kebanyakan berasal dari Jawa Tengah, dan mereka tukang pijat beneran (bukan tukang pijat ‘plus-plus’ ). Kalau ada order pijat tengah malam pun mereka siap meluncur ke lokasi dengan diantar-jemput oleh karyawan di yayasan itu juga.

Di tengah sesi pemijatan, adik saya sempat mengobrol dengan Si Mbak tukang pijat itu.

Adik: “berarti mbak-mbak harus posisi stand by terus, dong?”

Si Mbak: “iya, bahkan pernah ada order jam 2 pagi, ya saya tetap berangkat…”

Adik: “wuidih, Mbak ini luar biasa. Emang pelanggannya nggak ada yang iseng, Mbak? Misalnya minta service di luar pijat, gitu?”

Si Mbak: “ya,sering, Mbak. Tapi ya kita kan bukan tukang pijat kaya gitu. Niatnya kita kerja beneran, mijat. Pernah saya lari dari kamar seorang klien gara-gara dia mau maksa saya untuk melayani dia…”

Adik: “terus, kalau ada order malam gitu kan serem tuh, Mbak. Kan kita nggak tahu itu order beneran atau bohongan, maksudnya cuma iseng. Mbak diantar atau berangkat sendiri?”

Si Mbak: “ada yang mengantar kita ke lokasi, dan menunggu sampai kita selesai kerja, Mbak. Jadi ya insyaallah amanlah. Lagian feeling kita lama-lama terasah kok, bisa membedakan mana yang iseng, dan mana yang beneran butuh jasa kita”

Mereka benar-benar pemijat profesional, dan kata adik saya sih hasilnya pun tidak mengecewakan. Badan terasa kembali segar, dan tidak ada keluhan-keluhan lebay setelah dipijat kaya saya. Selesai memijat mereka pun dibayar sesuai tarif yang berlaku di yayasan tersebut, jadi kita tidak menentukan sendiri tarif pijatnya.

Hmm, ternyata profesi tukang pijat itu unik, ya?

Kalau kata mama saya nih, cari tukang pijat itu sama seperti mencari jodoh, cocok-cocokan… 😀

 

[devieriana]

 

 

ilustrasi dipinjam dari sini

Continue Reading

Tentang Oleh-Oleh

Disclaimer: postingan ini mengandung sensitivitas tingkat RT, RW, kelurahan, dan kecamatan, Kak…

—–

 

“Kamu habis cuti, ya? Oleh-olehnya mana?”

Pasti pernah dapat pertanyaan seperti itu, kan? Entah di kondisi setelah kita cuti, atau perjalanan dinas. Sering heran sendiri, padahal kita mengambil cuti tahunan kan tidak selalu untuk tujuan pulang kampung, berlibur, atau jalan-jalan, ya? Ada kalanya kita mengambil cuti untuk mengurus hal lain yang tidak bisa ditunda, dan kebetulan di hari kerja. 

Kalau waktunya panjang, tenaganya ada, uang saku cukup pasti akan disempatkan untuk jalan-jalan sekalian beli oleh-oleh. Tapi kalau agendanya padat, waktunya sempit, dan tenaganya keburu habis karena sudah beraktivitas seharian ya harap dimaklumi kalau tidak sempat bawa oleh-oleh. Sering kali di sela perjalanan dinas itu justru kita sendiri yang mencuri waktu untuk bisa jalan, sekadar untuk beli oleh-oleh keluarga dan teman kantor; dan umumnya dari anggaran pribadi. Ya iyalah, mana ada beli oleh-oleh dibiayai kantor? [-(

Cuma sebelnya kalau yang dikasih oleh-oleh ternyata masih komentar ini itu kalau kebetulan yang pergi ‘cuma’ memberi oleh-oleh gantungan kunci, “jiah, cuma gantungan kunci?”. Well, memang sih pernah ada yang bilang sih gantungan kunci itu oleh-oleh paling desperate, tapi bukan berarti nggak boleh kasih oleh-oleh gantungan kunci, kan? Atau seperti kejadian kemarin; ketika ada yang baru pulang dari negara lain dan memberi oleh-oleh sumpit lucu warna-warni dengan motif suatu negara, ada saja celetukan, “yah, kalau cuma sumpit mah di abang-abang yang jualan mie tek-tek juga ada, kali…”. Duh, jadi pengen ngelus dada… nya abang-abang penjual mie tek-tek nggak sih, Kak? 😐

Saya kebetulan bukan orang yang ‘oleh-oleh minded‘ ; yang setiap ada teman/keluarga yang bepergian ke dalam/luar negeri selalu minta oleh-oleh. Sama seperti ketika seorang teman yang akan dinas ke Bali untuk mempersiapkan event Pertemuan Panel Tingkat Tinggi Agenda  Pembangunan Pasca 2015 di Bali kemarin bertanya, saya pengen dibeliin oleh-oleh apa sepulang dia dari Bali. Saya cuma jawab, “terima kasih banyak, oleh-olehnya terserah kamu aja, sesempatnya dan senemunya kamu beli, pasti aku terima kok… :D”.

Sebenarnya bukan mau sok nggak mau dikasih oleh-oleh ya; namanya dikasih ya pasti maulah ya. Tapi saya paham namanya perjalanan dinas dan kebetulan mengurus event tingkat internasional seperti itu pasti ribet. Jangankan sempat untuk jalan-jalan, tidur pun cuma sempat beberapa jam saja, dan pagi-pagi buta sudah harus ke venue untuk mengurus acara.

Buat saya yang namanya oleh-oleh atau buah tangan itu terserah yang memberi, karena saya paham tidak semua orang menyediakan budget khusus untuk membeli oleh-oleh, tidak semua orang sempat membeli oleh-oleh, dan tidak semua berkenan dititipi ini itu sebagai bentuk oleh-oleh.

Saya sendiri sebenarnya tipikal orang yang suka nggak tegaan sama orang lain; kalau kebetulan saya pergi ke luar kota saya sempatkan untuk membeli oleh-oleh; walaupun tidak banyak tapi ada yang dibawa sebagai buah tangan; dengan catatan kalau waktu, tenaga, dan budgetnya ada, ya. Jadi membeli oleh-oleh memang tidak saya paksakan atau menjadi hal yang harus dan wajib. Beberapa kali saya terpaksa skip membeli oleh-oleh (terutama untuk teman kantor) karena situasi dan kondisi tertentu. Walau setelahnya saya harus siap menebalkan telinga mendengar pertanyaan, “oleh-olehnya mana? Masa habis mudik nggak bawa oleh-oleh?” Ya sudahlah, biar saja, toh mereka kalau habis cuti atau pergi ke mana-mana juga belum tentu bawa oleh-oleh, kok. Kenapa saya harus bawa oleh-oleh? [-(

Sama seperti kejadian ketika saya terpaksa cuti mendadak hari Jumat kemarin karena Mama saya datang ke Jakarta. Berhubung tidak ada keluarga yang bisa menjemput di bandara, akhirnya sayalah yang harus menjemput beliau ke sana. Kebetulan Mama datang ke Jakarta karena ingin membantu adik saya pindah rumah. Ya, namanya ibu, sering nggak tega kalau mendengar ada anaknya yang lagi repot ini itu, maunya membantu, maunya datang langsung, dsb.

Dan anyway, pagi ini, saya kembali mengantor seperti biasa. Sambil meneliti berkas yang akan maju ke pimpinan, tiba-tiba saya dihampiri oleh salah satu teman.

Teman: “hai, Kak… kok kamu baru keliatan? Jumat kemarin kamu ke mana?”

Saya: “oh, aku cuti, Mbak…”

Teman: “oh, pulang kampung, ya? kok diem-diem aja sih, oleh-olehnya mana nih?” *celingukan ke arah meja*

Saya: “aku bukan mudik, Mbak. Mama aku dateng ke sini, berhubung nggak ada yang bisa jemput makanya aku ambil cuti…”

Teman: “oh, gitu… Tapi Mama kamu bawa oleh-oleh, kan?”

Sampai di sini saya langsung speechless, Kak. Baiklah, anggap saja saya yang lagi sensi deh, ya. Tapi memangnya ada ya teori yang bilang kalau selesai cuti harus bawa oleh-oleh; atau, ketika ada orang  tua yang datang mengunjungi anaknya harus bawa oleh-oleh untuk teman-teman anaknya? Untuk  kami-kami saja beliau tidak sempat bawa apa-apa selain kompor gas dan gordyn untuk dipasang di rumah baru Si Adik. Itu pun sudah berat banget, apalagi beliau datang sendirian; boro-boro bawa oleh-oleh.

Masih di hari yang sama, kebetulan salah satu teman juga cuti di hari Jumat kemarin. Begitu datang langsung disambut dengan pertanyaan oleh teman yang lain, “Jiyee… yang baru cuti ke Bandung… oleh-olehnya mana, nih?” Langsung dijawab oleh si teman dengan jawaban yang saya yakin ‘makjleb’ buat teman yang bertanya. “Bu, aku ke Bandung itu buat melayat, ada kerabat aku yang meninggal; bukan liburan… :(“. Sontak ekspresi wajah teman yang nanya tadi berubah (sok) sedih. Tuh! Makanya jangan suka berasumsi orang yang lagi cuti itu pasti pergi berlibur… ~X(

Terkadang pertanyaan, “oleh-olehnya mana?” itu punya dua arti; serius, dan basa-basi. Tapi mau serius atau basa-basi tetap bikin keder. Ya syukur-syukur sih kalau ‘cuma basa-basi’, tapi kalau ternyata ditagih beneran? Kedernya lagi kalau ternyata sudah dioleh-olehin, tapi masih dikomentarin,

“Jiah pergi jauh-jauh oleh-olehnya cuma begini doang?”

Yaelah Kak, ‘cuma begini doang’ juga dibelinya pakai uang kali; bukan pakai menyan! #-o

Doh! #-o

 

[devieriana]

 

 

Continue Reading