About The Kapan Things

pertanyaan tanpa akhir

Tak terasa, sebentar lagi puasa, dan lalu lebaran. Sebuah moment yang pasti sudah ditunggu-tunggu bagi semua muslim yang merayakannya, bukan? Tapi bagi sebagian orang mungkin acara kumpul-kumpul dengan keluarga tidak selalu menjadi saat yang menyenangkan. Kenapa? Berkumpulnya keluarga besar justru akan memberi kesempatan terlontarnya pertanyaan-pertanyaan klise seputar the ‘kapan’ things. Iya, pertanyaan: “kapan lulus?”, “kapan nikah?”, “kapan punya anak?” dan sejenisnya itu.

Ketika kita berada di tengah banyak anggota keluarga seperti itu rasanya tidak mungkin kalau kita tiba-tiba menghilang, atau menghindar pergi tanpa basa-basi. Apalagi di moment yang memungkinkan kita mengobrol dengan banyak teman atau keluarga yang tidak setiap hari bertemu. Jadi jangan heran kalau pertanyaan ‘the kapan things’ akan menjadi pertanyaan yang tidak mungkin untuk dihindari.

Setiap kali kita melewati satu tahap, maka akan ada pertanyaan mengenai tahap berikutnya. Ketika sampai pada tahap berikutnya, akan muncul pertanyaan baru untuk tahap yang lebih tinggi, begitu seterusnya. Mungkin bagi yang sudah melewati berbagai fase kehidupan yang hampir lengkap (lulus kuliah, sudah bekerja, sudah menikah, sudah punya anak, dan sudah mau punya mantu), tidak sepenuhnya pertanyaan itu bermaksud untuk menyakiti atau menyinggung orang yang diajak bicara. Tapi terkadang justru ‘ice breaker’ semacam itulah yang tanpa sadar bisa menimbulkan rasa sedih, tersinggung, atau tersakiti bagi orang yang ditanya, sekalipun mereka berusaha menjawab dengan wajah yang (di)ceria(-ceriakan), karena bagi sebagian orang pertanyaan-pertanyaan semacam itu termasuk pertanyaan pribadi, dan tidak selalu membuat yang ditanya merasa nyaman.

Sadarkah bagi yang bertanya kalau orang yang belum lulus itu benar-benar tidak ingin menyelesaikan kuliahnya? Atau bagi yang belum punya pasangan itu bukan berarti dia sengaja tidak berusaha mencari calon tambatan hati? Atau bagi yang sudah lama pacaran tapi belum menikah, itu berarti mereka tidak punya rencana ke arah sana sehingga harus ditanya berulang kali dan diburu-buru? Atau bagi yang sudah menikah tapi belum dikaruniai keturunan itu sudah pasti mereka tidak ingin punya anak dan tidak berusaha, sehingga harus ‘dinasihati’ kalau punya anak itu jangan ditunda-tunda? Belum tentu seperti itu, kan? Sadarkah bagi yang bertanya kalau jodoh, rezeki, anak, hidup, dan mati itu masih menjadi otoritas Sang Mahakuasa? Saya percaya, ketika ada doa dan harapan kita yang belum diijabah oleh Allah, sebenarnya Dia ingin menjadikan kita seorang yang terbaik dari diri kita lebih dulu; become an ultimate us.

I have been dealing with those questions for last 7 years since 2007. Respon saya? Mulai ekspresi saya yang masih bisa cengar-cengir, lalu berubah jadi cuek, berubah mulai BT, lalu jadi BT beneran, dan jadi BT banget, sampai malas ketemuan, dan akhirnya berubah jadi netral dan santai lagi. Jujur, bukan hal mudah untuk mengendalikan perasaan saya, butuh proses yang panjang untuk bisa berdamai dengan hati saya sendiri.

Hingga akhirnya, ketika saat itu tiba; ketika Allah memberikan saya kembali kesempatan untuk mengandung, reaksi saya jelas bersyukur, tapi tidak lantas euforia. Saya bahkan cenderung lebih pendiam, tidak terlalu banyak ‘omong’ di dunia nyata maupun di social media. Bahkan di kantor pun pada awalnya juga tidak ada yang ngeh kalau saya sedang mengandung hingga kehamilan saya menginjak usia 5 bulan dan perut saya terlihat mulai membuncit. Saya juga tidak lantas menulis secara heboh apapun yang saya rasakan selama menjalani masa kehamilan, baik itu di blog pun di status bbm/socmed.

Saya juga tidak lantas ganti melontarkan pertanyaan yang dulu sering ditanyakan ketika saya belum hamil ke teman/saudara yang belum hamil, karena saya tahu bagaimana rasanya berada di posisi yang sama dengan mereka. Bahkan untuk mengunggah foto kehamilan saya ke socmed atau menjadikannya sebagai profil picture gadget pun sengaja tidak saya lakukan. Bukan bermaksud tidak ingin berbagi kebahagiaan, selain memang kebetulan selama hamil saya jadi tidak suka difoto (dilarang narsis sama yang di perut kayanya sih), buat saya lebih penting adalah menghargai perasaan orang-orang terdekat yang belum diberikan kesempatan itu oleh Yang Di Atas.

Teman saya pernah bilang begini,

“Kalau kamu ditanya soal jodoh, itu masih jauh lebih ringan ketimbang kamu ditanya soal “kapan punya anak?” Karena menurutku, itu sama aja seperti kita sedang di-judge sama mereka tentang kemampuan kita untuk hamil”.

Andai saja jodoh dan anak bisa dibeli di supermarket, mungkin kita bisa memilih kapan dan dengan siapa kita akan menikah. Kapan saatnya kita ‘membeli’ anak untuk pertama kali dan kapan akan menambahnya sesuai dengan yang kita mau.Tapi toh kenyataannya tidak seperti itu, bukan? Buat saya dua-duanya itu murni rezeki dari Allah. Sebagai manusia kita cuma bisa menjalani sambil berdoa dan berusaha. Rezeki Allah itu bisa hadir dalam bentuk apa saja dan dari mana saja. Kedatangannya pun bisa dipercepat atau diperlambat tergantung dari kesiapan kita menerima rezeki itu. Mungkin menurut kita, kita sudah siap, tapi kalau menurut Allah belum, ya berarti memang belum saatnya. Begitu juga sebaliknya. I do believe, if God brought you to it, He will bring you through it.

Pertanyaan basa-basi seperti “kapan menikah”, “kapan punya anak”, dan berbagai pertanyaan ‘kapan’ lainnya tidak akan seketika berhenti setelah kita menikah atau punya anak. Pertanyaan “kapan nambah anak”, hingga “kapan mantu” pun harus siap kita hadapi saat kita sudah menikah. Jadi, mau tidak mau, suka tidak suka, sebagai makhluk sosial kita tidak mungkin menghindari obrolan-obrolan ice breaker semacam itu. Tinggal siapkan saja hati dan mental kita sembari menebalkan telinga. Tapi tidak perlulah sampai kita masukkan ke dalam hati, dibawa rileks saja. Keep enjoy the whole process, dan tetap percaya bahwa Allah selalu memberi sesuatu tepat pada waktunya.*group hugs*

Try to speak for peace and (always) think before you speak

🙂

 

 

[devieriana]

 

sumber ilustrasi dipinjam dari @komik_jakarta

Continue Reading

Astral

ghost

Saya bukan orang yang suka membahas masalah dunia yang berhubungan dengan makhluk poltergeist. Bukan apa-apa, karena saya sendiri tipikal penakut. Ah, jangankan sama makhluk halus atau nonton film horor, sama kucing saja saya takut kok. Ngg, mungkin bukan takut, tapi geli 😐

Sebenarnya postingan ini ada hubungannya dengan adik ipar baru saya. Ya, sekarang saya punya tambahan satu anggota keluarga karena adik bungsu saya baru saja melangsungkan pernikahannya beberapa minggu yang lalu. Uniknya, ternyata ipar saya ini punya indera keenam, jadi dia bisa merasakan keberadaan makhluk astral di mana pun dia berada.

Tak jarang dia terpaksa harus ‘bertemu’ dengan penampakan makhluk dari dunia lain, baik itu yang bisa dilihat penampakannya maupun yang cuma suara. Jangan ditanya seberapa sering dia harus ‘bertemu’ dengan ‘mereka’. Yang jelas di kantor, di kost, bahkan terakhir katanya di rumah saya yang di Surabaya pun dia sudah mendapatkan ‘salam perkenalan’ dari para makhluk itu. Padahal selama kami tinggal di sana tidak ada penampakan apapun baik secara fisik maupun suara lho, tapi ketika ipar saya mulai tinggal di sana kenapa mereka tiba-tiba ‘show off’, ya? 😕

Awalnya ketika sekitar pukul 02.00 dini hari, dia mendadak sakit perut dan ingin ke toilet. Dengan mata yang terkantuk-kantuk dia membangunkan adik saya untuk menemaninya ke belakang, atau setidaknya menemani di ruang makanlah. Tapi berhubung adik saya juga mengantuk dia pun bilang, “kamu ke toilet aja, pintu kamar aku buka, kok. Berani, kan? Halah, wong nggak ada apa-apa kok…” Akhirnya si adik ipar pun ke toilet sendirian (iyalah, masa barengan). Dari balik pintu toilet itulah godaan-godaan itu berawal. Mendadak dia mendengar kegaduhan di ruang makan; ada suara kursi yang di seret-seret, suara-suara gaduh di rak piring, suara pintu yang dibuka-tutup, dan suara-suara lainnya. Awalnya dia mengira itu cuma suara tikus. Tapi masa iya tikus bisa menyeret-nyeret kursi? Atau, mungkin adik saya yang berubah pikiran menemaninya di ruang makan. Tapi ketika dia coba memanggil adik saya dan seketika tidak ada respon jawaban, diam-diam dia mulai merasa takut. Tapi untunglah rasa mulesnya justru bisa mengalahkan ketakutannya sendiri. Dengan santai dia bergumam, “halah, udah…, biasa aja, nggak usah caper!  Aku nggak butuh salam perkenalan dari kalian!”  Dan, voila! Uniknya suara-suara itu pun lenyap.

Sesampainya di kamar dia buru-buru membangunkan adik saya untuk konfirmasi.

Ipar: “eh, tadi kamu ke ruang makan?”
Adik: “enggak… kan aku tidur…”
Ipar: “lah, yang berisik di ruang makan tadi siapa? :-o”
Adik: “mana ada suara berisik, sih? wong aku nggak denger suara apa-apa, kok…”
Ipar: “ah, beneran kamu nggak ke ruang makan tadi? :|”
Adik: “hambok sumpah, enggak :|”
Ipar: “trus yang tadi itu… suara apa? :-?”

Untungnya adik ipar saya ini tipe pemberani. Tidak bisa membayangkan bagaimana kalau dia adalah saya; hadeeh… sudah lari tunggang langgang mungkin 😐

Pernah suatu hari saya membaca status bbm-nya: “Jiah, ternyata kantorku berhantu :))”. Lah, kenapa smiley-nya tertawa sih? Ketika saya tanya, dia pun bertutur santai, mungkin karena sudah sangat seringnya mengalami kejadian semacam itu, ya?

“Penunggu kantorku itu suka iseng, Mbak. Kadang dia suka ngunciin aku di kamar mandi, suka manggil-manggil namaku. Di kostanku kemarin juga aku dilihatin penampakan. Ya, biasalah… caper, Mbak…”

Bukan itu saja, siang hari ketika kebetulan saya dan Mama harus pergi dan terpaksa harus meninggalkan dia sendiri di rumah pun begitu. Sebenarnya bukan bermaksud tega meninggalkan dia di rumah sendirian, tapi berhubung dia mengeluh karena kurang enak badan, jadi ya terpaksa dia kami tinggal di rumah sendiri supaya beristirahat. Antara tega dan nggak tega sih sebenarnya. Saya dan Mama baru tiba di rumah menjelang maghrib. Persis seperti dugaan saya, dia seharian ‘ditemani’ para makhluk  poltergeist di rumah saya. Tidak ada yang menampakkan diri sih, semuanya berupa suara. Ada suara kaki yang berlarian di sekitar dia, suara rel gorden yang dibuka-tutup di ruang tamu, suara derit pintu, dan suara-suara gaduh tanpa penampakan lainnya. Tapi anehnya ketika dia cek ternyata semua dalam posisi diam seolah tidak ada apa-apa, dia pun melanjutkan acara memasak tanpa merasa terganggu. Ah, koreksi, mungkin dia sebenarnya juga merasa terganggu, tapi karena dia tidak punya pilihan lain selain tetap tinggal di rumah ya, apa boleh buat. Mungkin begitu pikirnya…

Konon ada aura-aura tubuh dengan warna tertentu yang sangat mudah menarik perhatian makhluk halus; sehingga orang tersebut akan dengan sangat mudah melihat penampakan, dan bahkan sampai diikuti. Bersyukur saya tidak memiliki kepekaan berlebihan terhadap kehadiran makhluk-makhluk astral seperti itu (lebih tepatnya tidak memilih dan tidak ingin). Hanya saja, kadang ketika saya sedang berada di sebuah lokasi tertentu, entah kenapa saya memilih menghindari spot lokasi tertentu; entah itu cuma feeling saya saja atau memang di sana ada makhluk astralnya.

Beberapa tahun yang lalu saya memang pernah merasakan kehadiran mereka di rumah Bu Dhe saya di Malang. Tapi uniknya saya baru ‘ngeh’ kalau di sana memang ada penunggunya setelah saya tidak tinggal di sana lagi. Dulu saya dan adik perempuan saya sempat diminta tinggal menemani Bu Dhe karena kebetulan beliau cuma tinggal berdua bersama seorang asisten rumah tangga. Saya dan adik diberi sebuah kamar dekat dengan garasi; sebuah kamar yang tidak terlalu besar, tapi cukup nyaman untuk beristirahat. Di sana sudah disediakan sepasang meja kursi, lemari pakaian, dan tempat tidur dua susun.

Awal-awal kami tinggal di sana suasana relatif aman terkendali, tidak ada kejadian yang aneh. Sampai suatu ketika di setiap tengah malam saya mendadak terbangun, kebetulan saya bukan orang yang terlalu lelap tidur. Di antara pukul 00.00-03.00 dini hari saya selalu mendengar ada orang yang berlari terengah-engah di jalanan depan rumah. Bukan itu saja, saya juga mendengar suara-suara aneh mirip lenguhan, atau suara-suara lain yang tidak bisa dideskripsikan oleh telinga saya, dan selalu disertai dengan gonggongan anjing di rumah tetangga. Waktu itu saya memilih berkhusnudzon saja, tidak ada makhluk halus yang akan mengganggu, toh rumah Bu Dhe sangat bersih, terawat, dan rapi (walaupun dari dalam rumah pencahayaannya lebih gelap karena kaca ruang tamu berwarna hitam, dan halaman rumahnya pun teduh karena banyaknya tanaman di depan rumah). Sama sekali tidak pernah berpikir apakah suara-suara yang saya dengar itu adalah suara makhluk-makhluk astral atau bukan, saya cuma berdoa semoga tidak ada pencuri/orang jahat yang sedang mengincar rumah Bu Dhe, karena kami berempat semuanya perempuan :s.

Saya baru berani cerita kejadian-kejadian aneh di rumah Bu Dhe ketika kami sudah tidak tinggal di sana lagi. Dan ternyata adik saya pun merasakan hal yang sama; sering mendengar suara-suara aneh seperti yang saya dengar; nafas terengah-engah seperti orang yang habis berlari jauh tapi terdengar begitu dekat di telinga, dan suara-suara aneh lainnya 😐

Papa saya dulu pernah bilang, “Di setiap rumah, setiap tempat, di mana pun itu, pasti ada yang menunggu. Ada yang baik tapi ada juga yang jahat/jahil/iseng. Pokoknya kalian jangan sampai lupa ibadah; shalat, ngaji, insyaallah mereka nggak akan ganggu kok…” 

Semoga sih begitu ya…

Eh, kalau bilang, “Pahit! Pahit! Pahit!” gitu, boleh nggak sih, Pa? *ditoyor*

😐

[devieriana]

 

ilustrasi dipinjam dari sini

Continue Reading

Selamat Natal, Kawan!

Perayaan Natal selalu membuat saya flashback kepada kenangan masa kecil dulu, ketika masih tinggal di Lawang, sebuah kota kecil di Kabupaten Malang. Tentang hubungan harmonis yang terjalin antara keluarga kami dengan murid-murid kolintangnya Papa. Entah, kok rasanya di jaman saya masih kecil dulu kehidupan beragama sepertinya jauh lebih tenang, harmonis, dan penuh toleransi, ya? Tidak seperti sekarang yang kayanya mau ibadah aja dibikin ribet. Belum lagi keamanan ketika menjalankan peribadatan yang belum jelas terjamin. Uniknya lagi hampir setiap tahun selalu ada ‘debat tahunan’ tentang halal/haramnya pemberian ucapan selamat Natal kepada pemeluk agama Nasrani. Trenyuh :|. Inikah negara yang katanya menjunjung tinggi azas kebebasan beragama itu? 🙁

Dulu, selain menjadi PNS, Papa mengisi waktu luangnya sebagai pengajar kolintang (alat musik tradisional asal Manado). Dulu memang Papa aktif di kegiatan bermusik, dan kebetulan bisa bermain kolintang, sehingga  Papa sering diminta mengajar di sana-sini. Murid Papa bermacam-macam,  ada ibu-ibu Dharma Wanita, dan jemaat di beberapa gereja.

Sangat menarik jika saya mencermati hubungan baik yang terjalin antara keluarga kami dengan para murid Papa, terutama dengan para jemaat gereja. Ketika kami merayakan lebaran, secara otomatis murid-murid Papa datang ke rumah untuk sekadar bersilaturahmi. Begitu juga ketika Natal tiba, biasanya selain acara utama di gereja mereka berkumpul di rumah salah satu anggota jemaat untuk sekadar kumpul bersama, dan Papa Mama pun biasanya diundang kesana (acara ini murni acara kumpul-kumpul, makan bersama, semacam acara silaturahmi). Sebagai bentuk penghormatan dan toleransi umat beragama Papa Mama pun hadir memenuhi undangan mereka.

Sebagai konsekuensi mengajar kolintang di gereja tentu saja Papa harus paham beberapa lagu gereja yang ingin mereka pelajari/mainkan. Papa juga tidak segan untuk tampil membantu mereka di atas panggung. Kalau sore, kadang saya suka ikut Papa ketika mengajar kolintang, ya walaupun akhirnya saya sibuk bermain sendiri dengan salah satu anak pengurus gereja. Namanya juga anak-anak 😀

Yang paling berkesan hingga saat ini adalah kebaikan sepasang suami isteri jemaat gereja bernama Pak Peter & Bu Peter, yang ternyata punya perhatian dan kepedulian yang tinggi dengan keluarga kami. Pernah suatu malam yang gerimis, seusai mereka berkonsultasi tentang perkolintangan menyambut Natal, tanpa sengaja Bu Peter mendengar adik bungsu saya —yang waktu itu masih kecil— batuk-batuk. Kebetulan adik saya memang sedang sakit flu batuk pilek. Sebenarnya sudah diberi obat pereda flu oleh Mama, tapi entah mengapa belum sembuh juga, kebetulan memang belum sempat ke dokter.

Tak lama setelah mereka berpamitan (kurang lebih setengah jam kemudian) ternyata mereka berdua kembali ke rumah kami dengan membawa obat flu untuk anak yang dikenal manjur di keluarga mereka. Terharu. Alhamdulillah, beberapa hari setelah mengonsumsi obat itu adik saya sembuh. Terharu, segitu perhatiannya, mereka bela-belain kembali ke rumah kami padahal sudah malam dan hujan, cuma untuk membelikan adik saya obat flu ala keluarga mereka. Saya yang waktu itu masih kecil pun sudah bisa merasakan betapa tulusnya hati mereka berdua.

Entah bagaimana kabar mereka berdua sekarang, karena memang sudah lama tidak pernah ada kontak lagi selepas Papa pensiun dan memilih untuk menetap di Sidoarjo.

Persembahan saya untuk teman-teman yang merayakan Natal, dari grup acapella asal Italia favorit saya Neri Per Caso , semoga berkenan 🙂

Semoga kelak kebebasan beragama bukan hanya sebagai slogan kosong dan retorika semata, namun nyata adanya…

“Selamat Natal, Kawan. Semoga kasih dan damai Natal senantiasa dilimpahkan di tengah keluarga kalian. Damai di bumi, damai di hati…”

[devieriana]

sumber gambar dari sini

Continue Reading

Ujian Akhir Semester

Pernah ketawa sendiri sampai diliatin orang-orang se-busway? Belum? Lha, kenapa belum? Saya sudah dong! *bangga*. Bukan. Bukan karena saya telat minum obat trus tiba-tiba kambuh di bus, tapi ini akibat iseng baca bbm group yang sedang membahas hasil UAS anaknya temen (namanya Kaka), dan itu bikin saya nggak mampu menahan tawa. Asli absurd! =)) . Ya kalau di tempat yang nggak banyak orang sih saya bisa aja ngakak dengan gagah berani. Lha kalo di bus? Diantara orang-orang yang sedang bergelantungan dan duduk pura-pura tidur, trus tiba-tiba saya ketawa sendiri aja, gitu? Lha apa nggak akan menimbulkan berjuta tanda tanya, “Mbak, mentalnya sehat, Mbak?”

Cerita si Kaka ini mengingatkan saya ke zaman masih awal-awal sekolah di SD. Ah ya, kita pasti nggak langsung pinter, dong. Waktu kecil pasti pernah menjawab soal ujian dengan jawaban yang absurd. Ya namanya juga masih belajaran, menyerap beberapa ilmu sekaligus dengan kapasitas otak yang baru tumbuh pasti menghasilkan dispute disana-sinilah. Contohnya nggak usah jauh-jauh, saya dan Si Kaka ini.

Coba yah, apa reaksi kalian kalau baca screen capture ini?

Kalau saya, selain bertanya-tanya juga ngakak tertahan sampai perut kaku. What the… KIPLI? Siapakah gerangan Si Kipli ini kok sampai (berani-beraninya) jadi nabi dan rosul yang terakhir? Nama lengkapnya Julkipli? 😕

Usut punya usut, Si Ayah akhirnya cerita:

“iya, ternyata anakku diajari lagu nama-nama nabi sama guru ngajinya. Ada Adam, Idris,….. dst sampai Zulkifli. Jadi ajarannya baru nyampe Zulkifli, belum sampai Muhammad. Dan kok ya pas yang didenger cuma Kipli-nya aja..”

Saya langsung ngakak nggak berhenti-berhenti. MWAHAHAHAHA! =))

Tenang, itu baru soal pertama. Di soal berikutnya, jawaban Si Kaka juga nggak kalah lucunya. Kali ini soal PKn. “Upacara pembakaran mayat di Bali disebut …..” Kaka pun menjawab pertanyaan itu dengan polos: “obong-obong”. Ayahnya pun komentar sambil tergelak, “woogh, cah gemblung!” . Saya lagi-lagi tak bisa menahan tawa. Lha, emangnya sampah kok diobong?  Tapi bener sih, obong itu kan bakar, ya? Obong-obong berarti bakar-bakar. Masuk logika ;))

Jawaban soal berikutnya pun tak kalah menakjubkan. Kali ini pertanyaannya adalah “Pembangunan harus dilakukan oleh …..” Dijawab oleh Kaka dengan mantap: “Bapak’e Suli. Suli teman kampung Kaka. Bapak’e kerja buruh bangunan…”. Kali ini Ayahnya mengelus dada, “owalah, anakku, anakku…”

Mantab, Nak! Pakai penjelasan pula! Seharusnya soalnya lebih dilengkapi lagi, “Pembangunan Balai RW di sebelah rumah dilakukan oleh…” Nah itu baru bener, oleh Bapaknya Suli yang tukang bangunan tadi. Ketika dikonfirmasi oleh ayahnya, Si Kaka masih bersikeras kalau jawabannya benar, dan menjawab pertanyaan Ayahnya itu dengan lugas dalam bahasa Jawa:

“Lho, bener Yah… Bapak’e Suli iku suka mbangun rumah, tiap hari melakukan pembangunan… Bu Sulem iku ancene (emang) nggak ngerti…”

Ya Tuhaaaan, saya ngakak sesorean di dalam bis nggak berhenti-berhenti. Tiga jawaban Kaka itu sukses membuat perut saya kaku lantaran menahan tawa. Tapi tenang Ka, kamu nggak sendiri. Tante dulu waktu SD juga gitu, kok \m/

Waktu SD dulu ada soal ulangan Bahasa Indonesia, semacam soal cerita, gitu. Ceritanya tentang liburan di rumah Paman dan Bibi yang tinggal di desa. Paman dan Bibi punya peternakan kuda. Nah, ketika tiba pada pertanyaan berikut ini saya mendadak bingung. “Paman adalah suami …”. Saya jawab aja kuda. Asli saya nggak tahu silsilah suami isteri itu apa. Suami itu artinya apa, isteri itu artinya apa. Lagian ada ilustrasi gambar kuda yang sedang mengangkat kedua kaki depannya. Saya mikirnya suami isteri itu semacam istilah untuk binatang peliharaan, gitu. Gemblung, ya? X_X

Papa yang melihat hasil ulangan Bahasa Indonesia itu nggak mampu menahan tawa. Makanya kalau lihat ada kuda malah justru ngeledekin saya, “tuh, isterinya Paman lewat tuuuh…”  😐

Pun ketika menjawab pertanyaan apa nama baju tradisional Ujungpandang (sekarang Makassar), saya jawab baju goblok. Kan bodo(h) itu sama aja goblok. Haduuuh, nista sekali sih daya nalar saya waktu SD :((. Bodo dan bodoh itu beda jauh… *puk-puk diri sendiri*

Kalau diingat-ingat lagi, waktu kecil aja saya sudah absurd begitu, makanya pas sudah gede absurd-nya sudah level advance, tinggal nyari sertifikasi aja, nih ;))

Buat Kaka, kamu cerdas, Nak. Daya nalarmu jalan. Terus belajar ya, Sayang. Biar makin pinter :-*

Kalau kalian punya cerita apa tentang masa kecil kalian? Absurd jugakah? Monggo lho kalau mau di-share 😉

 

 

[devieriana]

sumber gambar asli dari Ayahnya Kaka 😀

Continue Reading

Unconditional Love

“A mother’s love is instinctual, unconditional, and forever…”
– Unknown –

Beberapa hari yang lalu sebenarnya saya di-mention untuk ikut #Edustory di twitter. Kebetulan temanya adalah kisah yang paling berkesan tentang Ibu. Tapi berhubung saya kelupaan dan baru bergabung ketika waktu untuk #Edustory tinggal 15 menit, maka saya hanya sempat share sedikit sekali tentang cerita masa kecil dengan Mama. Nah, baru hari ini, tepat tanggal 22 Desember (terlepas dari peringatan Hari Ibu yang salah kaprah), seperti janji saya di twitter kemarin, saya akan berbagi cerita tentang Mama, sebagai penyeimbang tulisan tentang Papa beberapa waktu yang lalu. Mama adalah sosok yang paling menginspirasi dalam kehidupan saya.

Boleh dibilang yang paling dominan dalam mendidik dan mengasuh kami bertiga adalah Mama. Bukan bermaksud mengesampingkan peran Papa di dalam kehidupan kami, tapi Papa sebagai kepala rumah tangga sudah menjalankan tupoksi (tugas pokok dan fungsi) tersendiri yang juga menyeimbangkan kehidupan keluarga kami.

Mama sendiri adalah sebuah pribadi dengan kombinasi yang unik. Sosok ibu yang cerewet, tegas, disiplin, keras kepala, kadang absurd, namun pengasih, konsisten, dan luwes bergaul dengan siapa saja (bahkan selalu ingat siapa saja nama teman-teman kami). Beliau bisa berperan ganda dalam keluarga, sebagai ibu, isteri, sekaligus sahabat untuk anak-anaknya. Kami bisa cerita tentang apapun dengan beliau. Mama adalah pendengar yang luar biasa untuk setiap cerita yang kami ceritakan. Ketika sedih Mama akan ikut sedih bersama kami. Ketika kami bahagia Mama juga akan ikut bahagia bersama kami. Bahkan ketika kami bercerita tentang hal yang konyol sekali pun Mama tak segan untuk ikut absurd bersama kami. Mama kami memang sosok yang istimewa. Seistimewa setiap masakan yang takaran dan rasanya selalu pas! 😉

Waktu kecil, saya dan adik perempuan saya, selalu dijadikan ‘kelinci percobaan’ untuk dandanan anak-anak, mulai rambut, baju, sampai sepatu (mungkin karena anak perempuan, jadi lebih mudah memodifikasi dandanannya ;))). Waktu SD kami berdua juga diwajibkan ikut ekstra kurikuler tari Jawa klasik. Kebetulan dulu Mama adalah seorang penari Jawa klasik yang bergabung dalam Sanggar Tari Wilwatikta, jadi harapan Mama salah satu dari kami berdua ada yang menuruni bakat beliau. Terlepas dari itu menurut Mama menari akan mengasah kepekaan diri, keluwesan, dan membentuk gesture tubuh yang baik (tidak membungkuk).

Dulu sempat berpikir juga, ngapain sih Mama ‘memaksa’ ikut ekskul tari? Tapi lama-lama akhirnya pertanyaan itu terjawab seiring waktu. Ekskul tarilah yang membuat saya sering mendapat tawaran menari dan menjadi wakil sekolah dalam beberapa pagelaran lomba tari tunggal, berpasangan, maupun sendratari. Dari tarilah saya mengenal hobby yang saya jalani dengan hati. Ke mana pun saya pentas, Mama hampir tak pernah absen mendampingi saya. Thanks to Mama >:D<

Kalau untuk “pemaksaan” ekskul ke adik bungsu saya yang laki-laki sepertinya tidak terjadi. Karena toh akhirnya dia bisa menemukan bakat dan minatnya sendiri di bidang fotografi. Mama bukan hanya sebatas peduli dengan pendidikan kami, tapi juga sangat mengikuti perkembangan hasil studi kami mulai dari SD hingga kuliah. Sering memotivasi dengan hadiah-hadiah kecil sebagai hadiah atas pencapaian kami. Walaupun lama-kelamaan kamilah yang akhirnya secara sadar memperjuangkan nilai-nilai kami sendiri karena ingin membuat Papa-Mama bangga.

Kami juga sempat mengalami masa-masa menyedihkan ketika Mama sering pingsan dan pusing berkepanjangan selama sebulan lebih (sebenarnya memang sakit yang sudah lama diderita oleh Mama karena ada syaraf di kepala yang terganggu, biasanya akan kambuh kalau terlalu capek, berpikir berat/sedih). Sementara kami & Papa amat sangat tergantung sama Mama :(. Ketika masa pemulihan ternyata Mama mengalami vertigo, Mama jadi sering hilang keseimbangan. Seringkali ketika kami pulang sekolah menjumpai Mama tertidur dengan lutut dan kaki yang lecet-lecet atau memar kebiruan karena terjatuh akibat memaksakan diri membersihkan rumah atau pergi ke pasar padahal kondisinya masih belum pulih. Kalau kami tegur jawabannya begini,

“ya kalau Mama nggak ke pasar, trus nggak masak, nanti kalian makan apa?”
 Ya Tuhan , bahkan di saat sakit pun Mama masih memikirkan kami 🙁

Puncaknya adalah ketika Mama harus rela melepas adik perempuan saya menikah dan tinggal bersama suaminya di Jakarta, Mama bukan hanya sedih, tapi sampai nangis sesenggukan. Waktu perpisahan dengan saya dulu Mama juga sedih, tapi nggak sampai sesedih ini. Mungkin sekarang baru terasa kalau anak-anaknya ternyata sudah pada dewasa, sudah mulai punya kehidupan masing-masing, dan pasti si bungsu juga akan segera menyusul kalau sudah ketemu jodohnya.

Seringkali pagi-pagi beliau mengirim sebuah pesan singkat berisi, “Mama sayang kamu…” atau “Selamat bekerja ya, Sayang. Mama kangen sama kamu…” dan itu sudah cukup membuat airmata saya menggenang :((

Iya, aku juga kangen, aku juga sayang sama Mama…. :-s

“Ya Allah, semoga Engkau masih memberikan kesempatan kepada kami untuk memberikan yang terbaik dan membahagiakan kedua orangtua kami… Aamiin…”
 

[devieriana]

 

Ilustrasi gambar dipinjam dari sini

Continue Reading