Mendongeng? Yuk mari!

Waktu kecil dulu pernah didongengin nggak sama orangtua? Woogh, ada yang nggak pernah? Ah, pasti dulu masa kecilnya kurang bahagia ;)) *dilempar penggilesan*. Saya, sering, bahkan hampir setiap hari. Yang suka mendongeng dulu Papa saya. Tokohnya macam-macam, ada putri, pangeran, nenek sihir, cinderella, putih salju, sampai ke dongeng kancil. Diantara sekian banyak dongeng itu, dongeng favorit yang sering didongengkan oleh Papa saya yaitu Kancil Mencuri Ketimun. Bukan apa-apa, ceritanya sederhana, pendek, & cepat selesai ;)). Saya sering protes sama Papa karena dongengnya kok Kancil Mencuri Ketimun melulu, sampai saya khatam :((. Ya walaupun ada dongeng lainnya tapi dalam seminggu si kancil itu pasti tampil, sampai kadang Papa saya suka ngarang-ngarang sendiri dengan menampilkan pemeran pembantu yang berupa.. kancil juga ;)). Pokoknya tokoh kancil ini eksis bangetlah di jaman saya dulu.

Ketika saya sudah mulai lancar membaca, orangtua saya mulai membelikan saya buku dongeng sendiri. Koleksi saya waktu itu lumayan banyak. Kebanyakan cerita rakyat, tapi ada juga fabel & cerita karangan HC Andersen. Biar nggak bosen orangtua saya mulai membelikan saya kaset dongeng (Sanggar Cerita), ya salah satu alasannya biar tugas mendongeng nggak mutlak jadi tugas Papa saya kali ;)). Akhirnya gara-gara buku juga saya dulu iseng bikin komik/cerita sendiri, saya jilid sendiri, saya baca-baca sendiri :)). Multi talenta banget ya saya? *menyibakkan poni* :-“

Nah, kalau dulu kebiasaan dongeng adalah “hak eksklusif” bagi para orangtua, tapi kenapa sekarang sepertinya langka ya? Jangankan sempat mendongeng, ketika pulang sudah larut malam & dalam kondisi badan yang sudah lelah, anak-anak sudah pada tidur, besok pagi ketemu pas mereka mau berangkat sekolah. Kalau yang masih balita, malah mungkin lebih sering bersama baby sitter ketimbang orangtuanya sendiri. Jadi ya gimana orangtua mau mendongeng kalau badan sudah capek duluan. Yang tertidur nanti justru orangtuanya, bukan yang anaknya ;))

Meskipun saya belum menjadi orangtua kebetulan saya suka membacakan cerita buat anak-anak. Kalau lagi senggang biasanya saya baca cerita buat anak tetangga, cucu ibu kost, atau keponakan. Tapi ketika saya mulai kenal ada situs dongeng yang kebetulan dikelola oleh teman saya , dari situlah ketertarikan saya pada dunia dongeng mulai tumbuh, lalu mulai tertarik untuk menyumbangkan suara saya disana. Uhuk! :-“

Kata teman saya yang lain ketika saya cerita kalau saya jadi salah satu kontributor di sana :

“Kamu tuh ya, jadi orang kok nggak bisa diem.. ada aja kegiatannya.. Ikut inilah, ikut itulah, jadi inilah, jadi itulah. Sekarang malah jadi pendongeng. Eh btw, kok suaramu kaya Sanggar Cerita? “
;))

Ya gapapalah, itung-itung bantu temen.. *kedip-kedip sama simbah ;;) *

Awalnya situs ini dibuat karena beliau merasa prihatin karena kebiasaan mendongeng jaman sekarang sudah mulai langka. Maka dibuatlah situs tersebut dengan kontributor awal beliau sendiri yang kadang bergantian juga dengan beberapa teman blogger. Dongengnya pun beragam. Ada cerita rakyat, aesop fabel, karya-karya Grimm Brothers atau pun HC Andersen. Situs dongeng itu tidak hanya memuat tulisan saja tapi juga “bercerita” alias ada suaranya. Karena kontributor di situ memang sengaja merekam suaranya seperti ketika sedang mendongeng. Apakah syaratnya harus bersuara merdu? Ya nggaklah :-j . Suara abal-abal kaya saya aja buktinya bisa jadi kontributor ;;). Apalagi yang suaranya merdu & empuk. Pasti langsung diterima dengan senang hati sama beliau 🙂

Tahu nggak sih, sebenarnya efek dongeng pada perkembangan anak itu besar lho. Jika dongeng dibiasakan sejak kecil, ibarat sebuah gelombang radio, dengan bercerita pada anak berarti orang tua mengirim sinyal pada buah hatinya. Kalau dilakukan dengan ketulusan hati maka “transmisinya” jadi semakin kuat. Anak bisa merasakan meski belum memahami sepenuhnya. Jika dongeng diberikan pada bayi (anak) efeknya bisa mengaktifkan simpul saraf, merangsang fungsi indra, dan membuat anak akan jauh lebih peka.

Dongeng merupakan sarana yang paling mudah untuk bisa dicerna oleh anak-anak. Dongeng dapat membius anak untuk masuk ke dalam dunia khayal yang luar biasa, karena cerita yang menarik akan merangsang anak untuk membayangkan dan berandai-andai. Selain itu dongeng juga dapat dijadikan sebagai sarana untuk menyampaikan suatu pesan & sarana untuk menyisipkan nilai-nilai kebaikan. Ahay.. mudah & murah meriah bukan? 😉

Jadi, nggak ada salahnya kan kalau kita mulai membudayakan lagi tentang kebiasaan mendongeng. Oh ya, kalau mau berpartisipasi menjadi pendongeng (seperti saya) silahkan menghubungi simbah ya, biar yang mendongeng lebih bervariasi gitu, nggak saya-saya melulu atau beliau-beliau melulu :p . Ciih, ke-GR-an banget sih? *dilempar elpiji*

Selamat mendongeng! 😉

[devieriana]

Continue Reading

Anak Indigo & Sixth Sense-nya

chakrasystemGara-gara postingan simbok tentang Cerita Malam (kemampuan melihat dunia lain), jadi ingat 2 tahun lalu ketika saya masih jadi trainer & leader di Surabaya nih. Waktu itu kantornya masih di Jl. Basuki Rahmat. Gedungnya sih gak serem, tapi entah ya kenapa selalu saja ada yang melihat penampakan disitu. Kalau bapak-bapak security disitu sih sudah kebal mungkin ya sama hal-hal beginian. Melihat ada “orang” pakai baju putih duduk diatas genteng dengan kaki menjuntai diatas pos satpam jam 12 malam sudah biasa. Atau pas lagi ronda malam trus di lift ketemu sama “mbak-mbak” pakai baju putih dengan rambut seluruhnya menutup muka, sudah biasa. Tapi kalau kita yang bukan “penduduk” ya kederlah. Ya mungkin namanya juga gedung, pastilah ada penunggunya. Selama kita gak mengganggu ya insyaallah ga akan ada apa-apa (gak minta juga deh).

Yang ingin saya bahas ini tentang fenomena indigo atau anak yang berkemampuan supranatural. Hal ini sebenarnya sudah mengemuka puluhan tahun yang lalu. Istilah “indigo” berasal dari bahasa Spanyol yang berarti nila. Warna ini merupakan kombinasi biru dan ungu, diidentifikasi melalui cakra tubuh yang memiliki spektrum warna pelangi, dari merah sampai ungu. Menurut para ahli, warna-warna tersebut diidentifikasi melalui cakra di tubuh. Letak indigo ada di kening, persis diantara cakra leher yang berwarna biru dengan cakra puncak kepala yang berwarna ungu. Prinsipnya cakra memiliki spektrum warna merah sampai ungu, seperti warna pelangi.

Cakra leher (tenggorokan) yang berwarna biru adalah wilayah yang tertandai berdasarkan penggunaan penalaran dengan optimalisasi fungsi otak. Dan indigo sifatnya spiritual. Istilah “anak indigo” atau indigo children merupakan istilah baru yang ditemukan konselor terkemuka di AS, Nancy Ann Tappe.. Seperti halnya film Sixth Sense yang diperankan oleh Haley Joel Osment & psikolog anak yang diperankan oleh Bruce Willis, kebanyakan dari mereka ketika difoto aura, hasil foto aura mereka berbeda dengan kebanyakan dari kita, auranya berwarna nila & IQ-nya diatas 120.

Kemampuan supranaturalnyapun pun bermacam-macam, selain bisa melihat makhluk atau materi-materi halus yang tidak tertangkap oleh indra penglihatan biasa alias indra keenam, mereka juga bisa melakukan telepati, melihat masa lalu/masa depan, juga punya kemampuan berkomunikasi/berbahasa yang bagus. Fisik anak-anak indigo sama dengan anak-anak lainnya, tetapi kebanyakan dari mereka batinnya tua (old soul) sehingga tak jarang memperlihatkan sifat orang yang sudah dewasa atau tua jauh diatas usianya. Sering kali dia tak mau diperlakukan seperti anak kecil dan tak mau mengikuti tata cara maupun prosedur yang ada. Kecerdasannya pun di atas rata-rata.

Ada salah satu diantara agent callcentre yang kebetulan anak buah saya yang bisa melihat penampakan mulai yang dia kategorikan serem sampai yang biasa aja. Mau yang namanya serem, biasa aja, atau lucu sekalipun kalau hantu mah thanks ya.. but no, thanks.. *kabur jejeritan* . Selain melihat penampakan dia juga bisa komunikasi dengan ibunya yang beda kota dengan telepati (hebat gak tuh? jaman sekarang masih bisa telepati. Kalau saya sih telepon sama sms aja deh), dia juga meramal & membaca garis tangan. Makanya dia dijuluki Madam Diana atau Mama Loreng.. 😀

Pernah kalau sambil tandatangan form konseling suka sambil ngobrol sama saya :

“mam, sampeyan pernah liat hantu gak?”
“halaah, enggak, gak mau.. nonton film horror yang bikinan manusia aja aku keder, apalagi yang beneran..Kenapa? jangan bilang kamu mau kasih liat ya.. timpuk nih..”, ancam saya sok galak, tapi asli saya takut beneran padahal adegannya siang bolong lho..
“hehhehe, enggak.. Benernya mereka itu baik kok, gak bakal ganggu kalau kitanya juga ga ganggu..”
“tapi mana kita tahu kalau kita udah gangu mereka atau enggak? Kadang kitanya gak ganggu aja suka digangguin sama mereka, suka dikasih penampakan”
“iya sih.. tapi setauku mereka disini baik semua kok, cuman emang ada yang agak jutek, iseng & suka gangguin..tuh, kuntilanak yang ada di toilet cewek, suka ngagetin tiba-tiba muncul gitu..”

Hyaaa.. merinding gueeeeee.. Dia cerita seperti yang diceritakan itu manusia juga, padahal makhluk halus. Omaigat..

Diana ini adalah salah satu anak indigo yang pernah diwawancara oleh Pro2 FM Surabaya beberapa tahun yang lalu. Di keluarganya hanya & dia, ibunya & om-nya yang memiliki kemampuan seperti itu. Di usia SMP dia sudah bisa mencari uang sendiri dengan memberi kursus bahasa Inggris yang muridnya diatas usianya (SMA & mahasiswa). Yang membuat saya makin melongo adalah di awal masuk SMA dia sudah bisa membantu mengerjakan skripsi mahasiswa (you know-lah ada kalanya mahasiswa-mahasiswa itu malas, tidak mengerjakan skripsinya sendiri, alias orang lain yang mengerjakannya).

Pernah juga saya iseng tanya sama dia kenapa kalau hari Jumat dia masih menggunakan stelan kerja lengkap dengan jas? Padahal hari Jumat boleh pakai jeans (santai tapi sopan). Dia jawabnya begini :

“mbak, aku tuh ga bisa pakai jeans.. Ibuku tuh pasti tahu kalau aku pakai jeans ke kantor. Nanti pasti dia akan ngeroweng (baca : ngomel) seharian. Aku gak bisa konsentrasi..”
“lah, kan ibumu gak tau kamu kerja pakai baju apaan. Kan dia gak di Surabaya”
“iya mbak.. dia itu bisa ngeliat aku dari jauh. Sekalinya aku membangkang pasti suaranya bakal ada dimana-mana..”

See, dia memang tumbuh dengan pribadi yang unik, tapi dia menyenangkan. Jawabannya yang polos, lugu & beda bisa membuat saya geleng-geleng kepala sekaligus tertawa. Saya juga pernah dinasehati panjang lebar sama dia.
Padahal usianya terpaut 4 tahun dibawah saya. Begitulah kalau old soulnya lagi keluar.

Begitu juga dengan salah satu putri dari sahabat yang juga bisa melihat makhuk dari dimensi lain ketika diajak jalan-jalan ke Musium Fatahillah :

“ibu, kenapa orang itu melihat aku terus?”
“mana? ibu gak ngeliat ada orang disini”, jawab ibunya sambil celingukan ke arah seluruh ruangan
“itu bu, yang ada di pojokan..”, tunjuk si anak

Ibunya langsung merinding..

atau ketika istirahat di taman, munculah pertanyaan ini :

“Bu, kenapa orang itu dirantai & dipenjara? kasian sekali dia. Dia meringkuk di sel bawah tanah..”

Ibunya hanya bisa menelan ludah tak bisa komen apa-apa. Tapi dia sadar kalau buah hatinya itu bisa melihat dunia lain. Jadi ya mulai terbiasa. Tapi dia mengaku masih suka belum siap kalau seketika dibilang ada “seseorang” disebelahnya dengan penggambaran detailnya seperti apa.. Hyaiyalah, saya aja nulis ini sambil merinding disko.

Anak indigo paad umumnya bisa menjelajah ruang dan waktu. Artinya ketika tubuh anak indigo berada di suatu tempat, pada saat bersamaan dia tahu apa yang terjadi di lokasi lain. Mereka juga lebih banyak bertanya & lebih kritis. Jika orangtua tidak mengerti bahwa anaknya indigo, si anak akan cenderung memberontak, agresif, dan nakal. Selain itu ciri lain anak indigo adalah mereka lebih suka menyendiri. Begitu berada pada suatu situasi atau lingkungan baru, anak indigo akan mencermati keadaan sekelilingnya dengan sangat teliti. Kemampuan mereka mengenal suasana dan individu juga luar biasa.

Sama halnya dengan Diana. Dia memang pendiam, tapi sejak awal dia sudah tahu siapa & bagaimana karakter saya (padahal baru kenal), bagaimana situasi & kondisi tempat kerjanya, serta siapa saja yang ada disitu (yang visible & invisible), dll.

Mereka memang berbeda, tapi mereka bukan anak aneh. Mereka suka berbicara sendiri, dapat melihat masa lalu dan masa depan serta cenderung lebih matang dari usianya. Kecerdasan anak-anak Indigo juga di atas rata-rata dan mereka mampu melakukan hal-hal yang bahkan belum pernah mereka pelajari sebelumnya. Karena sering bicara sendiri, banyak orangtua anak Indigo menyangka anak mereka menyandang autisme atau hiperaktif,
padahal bukan. Tapi melalui penanganan & pendekatan yang tepat mereka akan berkembang normal seperti teman-teman lainnya. Selain itu juga salah satu jalan supaya para orangtua lebih legowo dalam menerima kelebihan sang anak adalah mengembalikan kemampuan sang anak sebagai wujud kebesaran Tuhan. Karena bagaimanapun semua tidak akan terjadi tanpa seijin-Nya bukan?

Sebenarnya masih banyak cerita menarik tantang fenomena indigo ini. Mungkin selanjutnya ada yang mau share tentang pengalamannya bersama mereka?

Monggo.. 🙂

[youtube=http://www.youtube.com/watch?v=Lz3LUEklLRU&hl=en&fs=1&]

Continue Reading

what is a name?

whats my nameNama, apa sih nama itu? apa gunanya, apa pengaruhnya? Kenapa nama bisa mempengaruhi tingkat pe-PD-an seseorang? Tulisan ini saya buat karena saya beberapa waktu ini sering mencermati hubungan antara nama & kepercayaan diri seseorang, plus hubungannya dengan bidang pekerjaan seseorang. Hah? ! Bidang pekerjaan? Apa hubungannya? Kalau misal namanya Ngatini apakah tidak boleh menjadi seorang manager? Atau jika namanya Catherine tidak layak jika harus menjadi office girl, misalnya?

 

No, no, bukan begitu. Begini awalnya, beberapa waktu yang lalu saya sempat ngobrol dengan teman-teman saya pas makan siang. Obrolan ringan seputar pasangan, anak, artis dan sejenisnya. Sampai kita akhirnya membicarakan seputar nama kita & artinya. Mostly mereka cukup pede dengan nama pemberian orangtua masing-masing. Hanya ada 1 yang kebetulan tidak bernafsu membicarakan namanya sendiri karena namanya dinilai terlalu singkat & biasa-biasa saja. Namanya Holilah (lah kan, nyebut merk kan..). Menurut saya sih ga ada masalah, nama yang cukup cantik kok. Alasan kenapa dia tidak begitu suka adalah karena namanya terlalu singkat, cuma itu saja, tanpa embel-embel nama tengah atau nama belakang. Walaupun buat saya sih sama saja, toh gak mungkin juga kita memanggil dengan nama lengkap saat kita ngobrol kan, misalnya : “Eh, Raden Ayu Holilah Setyaningtyas Manohara Suryosumarno Hadikusumo Djayadiningrat Tralalatrilili, kita ke toilet yuk”. Belum selesai sebut nama sudah nyampe toilet duluan kali ya.. hi5x

 

Kenapa saya bilang bahwa nama bisa berpengaruh pada tingkat kepedean seseorang karena banyak orang yang karena tidak percaya diri dengan namanya sendiri akhirnya mengganti namanya supaya terdengar lebih gaul, lebih modern, kalau dia artis supaya bisa lebih “menjual”. Tidak perlu  jauh-jauh deh, teman saya sendiri ada kok yang seperti itu. Namanya sebenarnya cukup bagus, nama muslim (saya sengaja tidak sebut aja yah..). Tapi dia lebih senang dipanggil dengan nama udara dibandingkan dengan namanya sendiri, kebetulan dia mantan penyiar di salah satu radio swasta di Surabaya. Atau ada yang karena lebih bagus nama baptisnya dia lebih suka dipanggil dengan nama baptisnya dibandingkan dengan nama asli pemberian orangtuanya sebelum dibaptis. Malah sekarang berhubung dia sudah menikah digabunglah nama baptis itu dengan nama fam keluarga suaminya. Jadilah makin jauh dengan nama realnya.Saya sendiri alhamdulillah cukup pede dengan nama pemberian orangtua saya, malah justru gak pede kalau diubah-ubah, seems not me anyway. Pernah menggunakan nama ayah dibelakang nama saya saat saya masih SD, dan itu hanya digunakan untuk kepentingan ijazah ujian tari saya saja, karena mengikuti “trend” mama saya yang kebetulan juga seorang penari Jawa yang dikenal di Sekolah Tari Wilwatikta karena menggunakan nama kakek saya dibelakang nama beliau. Mungkin karena itu ya.. mama pengen someday jika saya sudah dikenal sebagai penari saya akan menggunakan nama itu sebagai nama “artis” saya.. Jiaah, artis * disepak ke Timbuktu* .

 

Sekarang sih saya kemana-mana menggunakan nama saya sendiri, pun halnya ketika saya sekarang sudah menyandang status istri. Kebetulan suami juga tidak menuntut saya harus menggunakan nama dia dibelakang nama saya sebagai satu paket ikatan pernikahan. Lagipula saya malah merasa aneh kalau nama saya ada embel-embel nama suami, karena kebetulan kurang pas kalau maksa digabungkan. Sedikit kurang nyambung aja. Mungkin beda kalau nama suami saya agak panjang sedikit kali ya.. misalnya Yudhoyono.. eh itu mah nama presiden ya? maaf bu Ani.. *sungkem*. Lagipula dalam agama juga tidak di state ada kewajiban untuk mencantumkan nama suami dibelakang nama istri, yang ada tetap nama ayah yang boleh dicantumkan dibelakang nama kita. Itu kalau agama ya. Sekarang sih banyak kok wanita yang sudah menikah & menggunakan nama suami dibelakang namanya. Saya sih terserah ya, itu kan hak masing-masing, I have no problem with that, at all.

 

Kembali lagi ke nama. Kenapa para artis ada kecenderungan mengubah nama ketika mereka sudah menginjak dunia keartisan? Misal ya, wajah bule tapi nama Jawa, kenapa harus diubah supaya lebih hip & barat? Misal namanya Yuli Rachmawati harus diubah supaya lebih latin dengan Julia Perez (Perez kebetulan nama suaminya, Damian Perez. Yuli jadi Julia yah masih mirip-mirip, tak apalah), Siti Tuti Susilawati Sutisna jadi Sania? (jauh bener melesetnya?), Utami Suryaningsih jadi Uut Permatasari (permatasarinya dari mana coba?), dan banyak nama artis lainnya. Memang “nama artis” itu penting karena mereka harus “jualan”, entah jual akting, jual suara, jual tampang, dan sejenisnya. Tidak hanya di Indonesia kok, di luar negeripun juga melakukan hal yang sama & itu tidak aneh, bahkan mungkin sudah menjadi syarat yang tidak tertulis jika ingin jadi artis. Tapi kalau yang diluar dunia keartisan terus pengen ganti nama juga lantaran namanya kurang keren & modern? Wah gak tahu deh motivasinya apaan. Padahal nama itu kan doa, nama yang berasal dari orangtua sudah patut kita hargai. Mau sesingkat atau sepanjang apapun nama kita, whatever, itu adalah nama dari orangtua kita. Kita yakin bahwa dibalik nama itu ada doa & harapan orangtua untuk kita.

 

Sekalian tips buat para orangtua atau calon orangtua, nanti kalau kasih nama putra/i-nya berilah nama yang bagus & akan membuat mereka percaya diri dengan namanya. Terserah mau kasih nama apaan asal tidak sulit diucapkan & ditulis diatas akte..  😀

 

 

[devieriana]

gambar ngambil dari sini

 

Continue Reading

Child Labour

Enggak tahu kenapa saya selalu tertarik membahas tentang pekerja anak, arahnya mungkin lebih ke prihatin sebenernya ya. Selain saya adalah pencinta anak (eh bukan yang suka ama anak kecil kaya fedofilers ya ;))), juga mungkin naluri wanita, naluri seorang ibu ya.. Sedih dengan kehidupan anak-anak yang terpaksa harus menjadi pekerja dibawah umur. Anak – anak yang seharusnya masih harus menempuh pendidikan, masih menikmati masa anak-anaknya terpaksa harus menjadi tumpuan hidup bagi keluarganya. Di negara kita Indonesia tercinta ini tidaklah sulit menemukan pekerja anak.. & bahkan cenderung meningkat dari tahun ke tahun..

Salah satunya adalah anak-anak yang bekerja di atas jermal. Jermal adalah semacam tempat penjaringan ikan yang dibangun di atas tonggak-tonggak kayu di tengah lautan. Jermal tersebut terpencil dan sulit dijangkau. Saya pertama kali mengenal istilah jermal saat saya membaca buku Readers Digest beberapa tahun yang lalu & sampai sekarang masih membekas. Dari situlah saya mengetahui bahwa jermal-jermal ini mempekerjakan anak dibawah umur (dibawah usia 15 tahun). Jermal sering ditemui di perairan di Sumatera Utara, perairan selat Malaka. Mending sih kalau mereka dibayar dengan upah yang layak & jam kerja yang layak pula. Beberapa waktu yang lalu sempat melihat tayangan Kick Andy yang membahas tentang peekerja anak (anak jermal) , kok mendadak saya jadi trenyuh ya. Mereka (anak-anak yang bekerja di jermal) ini hanya dibayar Rp 200.000/bulan, dengan libur hanya 2x selama sebulan, jam kerja yang tidak pasti (subuhpun mereka masih bekerja. Kurang jelas antara masih bekerja atau sudah mulai bekerja) . Kasihan banget saya liatnya..  🙁

Padahal, seharusnya anak-anak seusia mereka yang masih usia sekolah mereka juga memiliki : hak hidup, hak tumbuh & berkembang, hak untuk mendapatkan perlindungan, dan hak untuk berpartisipasi (didengarkan pendapatnya). Namun memang tidak bisa dipungkiri bahwa akar semua ini adalah :  kemiskinan, rendahnya tingkat pendidikan, pola pikir yang keliru tentang menjadikan anak sebagai tumpuan nafkah keluarga, serta masih belum maksimalnya law enforcement (undang-undang yang benar-benar melindungi hak-hak anak).

Suka sedih melihat mereka harus berpeluh-peluh diantara sampah, hujan, & rawannya kriminalitas kota besar. Padahal seharusnya mereka menikmati masa kanak-kanaknya dengan indah ya.. Semoga sih kedepannya jumlah pekerja anak di Indonesia bisa makin turun ya.. Amin..
Bisa enggak sih? .. Wallahualam.. 🙁

Bersyukurlah kita & anak-anak kita yang bisa melalui masa kecil dengan indah & mengalami tumbuh kembang sesuai usianya..   🙂

 

Selamat Hari Anak Nasional.. We do love you..

 

[devieriana]

Continue Reading

And.. it happened again ..

Innalilahi wa inna illaihi rajiun .. Kayanya baru beberapa waktu lalu saya mendengar kabar duka tentang salah satu anak buah yang mengandung & kehilangan bayinya, eh tadi malam jam 21.00 mendadak saya terima sms yang mengejutkan lagi.. Salah satu mantan teman sekantor yang sekarang udah resign & menetap di Bogor yang lagi hamil 7 bulan juga kehilangan bayinya..

Shock lagi. Seperti mimpi.. Rasanya baru kemarin saya ikut sedih karena salah satu anak buah saya kehilangan bayinya, sekarang salah satu teman baik saya juga mengalami hal itu, sudah usia kandungan 7 bulan pula.. Jadi keinget lagi , saya juga kehilangan bayi saya saat usia 6 bulan dalam kandungan karena tali plasentanya terpilin-pilin sehingga si bayi tidak dapat asupan makanan & oksigen..

Sedih bangetlah, pasti. Tapi ya wis diikhlaskan aja, apapun itu, pasti Allah udah punya rencana yang indah buat kalian, buat kita.. Kita kan nggak pernah tahu apa rencana Allah selanjutnya. Insyaallah segala kebaikan akan tercurah setelah kita mendapat musibah ini..

Amien3x ya rabbal alamieen..

Tabah ya dear .. >:D<

* dedicated to Noeny & Faisal *

[devieriana]

Continue Reading