Dunia Halo-Halo…

Satu minggu lalu adalah minggu yang sibuk dan melelahkan. Bukan hanya karena pekerjaan, tapi juga karena jadwal pelantikan yang dilakukan secara marathon selama satu minggu penuh. Diawali dari Unit Kerja Presiden Bidang Pengawasan dan Pengendalian Pembangunan (UKPPPP) di hari Senin, keesokan harinya di Sekretariat Militer Presiden, esok Rabunya lanjut di Sekretariat Wakil Presiden, hari Kamisnya di Sekretariat Kementerian Sekretariat Negara, dan ditutup dengan hari Jumat di Sekretariat Dewan Pertimbangan Presiden (pukul 09.00), dan Sekretariat Presiden (pukul 15.30).

Sebelumnya tidak pernah terbayang dalam pikiran saya bahwa saya akan dilibatkan  dalam bidang keprotokolan seperti ini. Setelah menjalani kegiatan bersama tim keprotokolan selama beberapa kali, barulah saya mengikuti Diklat Keprotokolan selama 2 minggu. Dulu ketika masih berstatus CPNS, saya bersama satu teman seangkatan, dites oleh para protokol senior di ruangan saya untuk membaca SK Mensesneg dan susunan acara. Semacam casting kecil-kecilan, gitu. Saya pikir kami cuma disuruh baca saja, ternyata sore harinya kami dipanggil untuk siap bertugas besok pagi di acara pelantikan dan pengambilan sumpah PNS.

Demam panggung selama menunggu acara berlangsung itu pasti. Ya, namanya juga baru pertama kali tugas seperti ini, ada semacam keraguan dan takut salah. Tapi setelah dijalani alhamdulillah semua berjalan lancar, keraguan itu juga hilang dengan sendirinya. Yang perlu diperhatikan adalah tempo bicara, fokus dengan apa yang dibaca, intonasi, aksentuasi, dan artikulasi yang jelas.

Sejak aktif di “dunia halo-halo” itulah, saya mulai lebih concern dengan tenggorokan saya, karena efek bekerja di callcentre beberapa tahun lalu, entah kenapa tenggorokan saya menjadi jauh lebih sensitif :(. Tidak bisa lagi minum minuman dingin dan atau terlalu manis sembarangan, karena pasti nanti akan radang tenggorokan dan batuk. Saya tuh kalau sudah batuk sembuhnya bisa seminggu lebih, jadi ya lebih baik menjaga diri supaya jangan sampai sakit aja. Eh, tapi saya sebenarnya suka kalau suara saya lagi recover, agak serak-serak gede gimana gitu, justru terdengar lebih “bulat” kalau di mikropon, hihihihi. Meminjam istilah Mas Adoy suara yang keluar mirip dengan voice over 😉

pengarahan sebelum gladi bersih

Pengalaman pelantikan yang paling mengesankan adalah ketika menjalani pelantikan Unit Percepatan Pembangunan Provinsi Papua dan Papua Barat. Alasannya selain lokasi pelantikannya paling jauh, juga kultur yang berlaku disana jauh berbeda dengan di Jakarta. Kalau di Jakarta, kami harus sudah siap minimal J-1 (satu jam sebelum acara, kalau teorinya sih J-2), tamu dan undangan sudah siap minimal 15-20 menit sebelum acara, karena biasanya kami pasti akan melakukan gladi bersih terlebih dahulu, terutama untuk pejabat yang akan dilantik. Nah, kalau di Papua kemarin kami tiba di lokasi dalam keadaan pintu aula yang masih terkunci rapat, belum ada orang sama sekali, padahal sudah kurang satu jam menjelang acara. Hingga 30 menit acara akan dimulai pun belum ada tanda-tanda kedatangan undangan maupun pejabat yang akan dilantik. Tapi saya bisa memaklumi kok, memang kultur dan kebiasaan yang berlaku di Jakarta dan Papua itu berbeda.

Persiapan menjelang pelantikan memang sedikit ribet, apalagi kalau yang dilantik cukup banyak. Bukan hanya koordinasi dengan pihak yang akan dilantik, menyiapkan susunan acara, konfirmasi dengan rohaniwan, menyiapkan pakta integritas dan berita acara pelantikan saja. Tapi dipastikan semua susunan harus benar, baik titelatur, nomenklatur, maupun ejaan nama pejabat yang akan dilantik, terutama di SK-nya.

Bersyukur diberikan kesempatan, ilmu, dan pengalaman keprotokolan seperti ini. Walau sedikit ribet, tapi sejauh ini cukup menyenangkan kok 😀

 

 

[devieriana]

Foto dokumentasi pribadi

Continue Reading

Know Your Passion!

“We cannot be sure of having something to live for, unless we are willing to die for it…”
– Che Guevara –

—–

Di suatu siang, di salah satu kedai coffee giant di bilangan Pondok Indah, saya merencanakan janji temu dengan salah satu desainer kenamaan Indonesia, Era Soekamto. Tujuannya cuma satu, mentoring dalam rangka penjurian Lomba Desain Seragam Pramugari Citilink. Deg-degan itu pasti, selain karena ini kali pertama saya bertemu dengan Mbak Era, saya belum mengenal karakter beliau secara dekat. Waktu itu, yang namanya mentoring bentuknya seperti apa, saya juga masih belum tahu.

Ngobrol punya ngobrol ternyata Mbak Era ini adalah sosok desainer yang ramah, smart, dan sangat total dengan dunia kerjanya. Pelan-pelan kami ngobrol dari satu topik ke topik lainnya, hingga sampailah kami pada topik inti, know your passion. Ada pertanyaan yang cukup menggelitik.

“Kamu jadi PNS itu beneran pilihan kamu, keinginan orang tua, atau alasan tertentu lainnya?”

Jujur ini bukan pertanyaan pertama yang pernah dilontarkan orang lain pada saya. Semacam pertanyaan umum, gitu. Menjadi PNS memang murni keinginan saya, kok. Memang ada banyak hal yang jadi pertimbangan ketika memutuskan untuk menjadi PNS setelah hampir 10 tahun bekerja sebagai pegawai swasta. Selain ada faktor ketidaksengajaan juga ada unsur iseng-iseng berhadiah ;)). Kalau pun saya masih bisa melakukan kegiatan lain di luar status saya sebagai PNS ya itu bisa-bisanya saya mengatur waktu saja. Karena kebanyakan kegiatan itu saya lakukan di luar hari/jam kerja. Jadi, dari hari Senin sampai dengan Jumat saya bekerja, hari Sabtu dan Minggu saya berkomunitas atau mengerjakan hobby lainnya. Lalu, apakahapa passion saya yang sebenarnya?

Lalu beliau bercerita, di luar sana ada banyak orang yang belum tahu passion-nya sama seperti saya. Mereka “terjebak” dalam sebuah rutinitas atau kegiatan yang menyebabkan orang itu tidak bisa memaksimalkan diri dan potensi yang dimilikinya. Demi alasan ekonomi mereka mencoba bertahan hidup dan menjalani rutinitas yang sebenarnya membuat mereka tertekan. Tapi bagi yang sudah menemukan dimana letak passion-nya, mereka akan mampu memaksimalkan potensi dan kemampuan yang dimiliki, bahkan ada yang tidak segan-segan untuk meninggalkan pekerjaan mereka yang sekarang dan memilih fokus di bidang yang mereka sukai.

Ada juga yang ketika dia sudah menemukan apa passion-nya sampai rela keluar dari pekerjaannya yang sudah mapan di sebuah oil company, dan menjadi seorang full time blogger!Ha? Blogger? Iya, dibelain keluar kerja ‘cuma’ untuk jadi seorang blogger, dan sekarang dia hidup dengan pilihannya itu. Bisa? Buktinya bisa, tuh. Malah dianya sudah ke mana-mana dengan status bloggernya itu. Hal yang mungkin tidak akan bisa dilakukan ketika masih berstatus sebagai karyawan sebuah oil company. Kalau bicara tentang passion, kadang ada hal-hal yang tidak bisa diterima dengan akal sehat. Sampai sekarang pun saya masih belum habis pikir betapa ‘gilanya’ orang -orang yang berani membuat keputusan besar untuk hidupnya. Kalau saya mungkin masih mikir seribu kali untuk membuat keputusan seekstrim itu. Itulah mungkin sampai sekarang saya masih belum tahu passion saya dimana 😐

Ternyata, obrolan tentang passion ini berlanjut dari Mbak Era dengan saya, menjadi saya dengan salah satu sahabat saya yang kebetulan seorang dosen. Dari awal obrolan santai berubah menjadi serius.

Teman: hebat ya orang-orang yang sudah menemukan passion-nya apa dan dimana, really live their life!

Saya: iya, salut sama orang-orang yang sudah berani mengorbankan sesuatu yang buat orang lain pasti mikir 1000x, gila aja kalau mengorbankan/meninggalkan sesuatu yang pokok banget untuk mengerjakan sesuatu yang dia suka dan yang belum tentu mengandung materi (uang), kecuali memang hal yang dikerjakan sebelumnya itu sama sekali tidak mendatangkan kepuasan pribadi…

Teman: but having a chance to educate people with the net is also a good thing to do. Mmmh, btw, kamu tuh kalau aku lihat-lihat anak muda banget ya? ;))

Saya: hmm, kok bisa? 😕

Teman: you’re really do adore alternative, though you are working in a very formal and protocol office…

Tahukah kalian kalau percakapan ini berakhir dengan saling gondok karena tidak menemukan kata sepakat tentang passion? Saya melihat dari sudut pandang apa, dia dari sudut pandang apa. Kami seolah sedang memperbincangkan sebuah objek dengan dua sudut pandang yang berbeda. Ibarat bicara tentang seekor gajah, saya pegang telinga, dia pegang belalai, dan kami saling ngotot mendeskripsikan seperti apa gajah itu. What a silly thing! ;))

Teman: for me passion kinda very luxurious thing. Common people like me cannot reach that concept. I’m just a common people, dari daerah pula, dari keluarga biasa, dan sekolah di sekolah biasa. Pasti ya ujung-ujungnya kerja. Nyenengin orang tua, menikah, cari duit buat anak sekolah… Udah. Apa lagi yang aku kejar?

Saya: mmmh, tapi.. bukan gitu maksud akuu… :-s *mulai ngerasa beda sudut pandang dengan si teman*

Teman: hehehe, kenapa? dari tadi aku keliatan synical, ya? Hehehe. For me, just several lucky people can live his dream, most of people just adjusting, tolerating, and maybe they can get happines finally…

Awalnya saya memang merasa si teman ini kok ngeyel banget ya waktu berdiskusi tentang passion, dia seolah-olah berdiri sebagai orang yang berseberangan dengan apa yang saya bicarakan. Tapi lama-lama saya mengerti apa yang dia maksudkan; kecenderungan berpikir tentang yang pasti-pasti saja, yang normal-normal saja. Tidak seberapa tertarik dengan apa itu passion. Apalagi sampai meninggalkan pekerjaan utamanya untuk hal-hal yang belum tentu juntrungnya. Padahal bisa saja kan, apa yang dilakukan dia sekarang itulah passion dia. Andai dia tahu, dia bisa memaksimalkan apa yang sudah dilakukan itu, tanpa harus meninggalkan pekerjaan utamanya, kan? Kalaupun ada contoh orang yang sampai meninggalkan pekerjaan demi mengejar passion ya itu kan cuma contoh segelintir orang saja. Nggak semua, dan nggak harus seperti itu.

“Fullfilling dream and things that you called passion is something in life. But not everything. Still so many values which you can always proud about or treasure. But, if you got a chance, then why not? Aku cuman ngerasa udah telat banget buat mengejar apa passion-ku. Or… maybe what am doing now is my passion, mengajar 🙂

Aha! Akhirnya dia menangkap apa maksud saya! \:D/ Tapi sejurus kemudian dia bilang begini:

“Well I’m a father, with three kids. All need care and education. The hell with passion! Sorry, I don’t have any luxurious thing called passion. Maybe I’m nerds, or … I don’t know…”

Lah, kok malah galau?

Ya, saya tahu. Saya mengerti, kok. Setiap orang pasti punya pendapat sendiri tentang passion, tentang bagaimana cara menemukannya, dan lalu menjalaninya secara konsisten sebagai pilihan hidup. Kalau pun toh ada yang memilih untuk menjalani hidup apa adanya ya nggak masalah 😀

Saya sendiri sebenarnya sampai sekarang masih mencoba menemukan apa dan dimana passion saya bersembunyi. Masih coba-coba mencerna hal-hal yang disebutkan di situs http://ineedmotivation.com. Tapi kalau sampai meninggalkan karier saya yang sekarang kok kayanya belum sampai sejauh itu ya saya mikirnya, karena walau bagaimana pun saya cinta pekerjaan saya yang sekarang.

Kalau kalian, sudahkah kalian menemukan apa passion kalian?

 

 

[devieriana]

ilustrasi: pinjam dari passivemoneytalk

Continue Reading

Reuni Di Dalam Pesawat

Masih ingat dengan hadiah Citilink free unlimited ticket yang saya punyai itu, kan? Nah, kebetulan kemarin saya pakai untuk yang ke-2 kalinya PP Jakarta-Surabaya-Jakarta.

Seperti prosedur sebelumnya, saya mengambil tiket di Jalan Gunung Sahari, kantor Garuda Indonesia. Memang dulu staf mereka sempat salah paham tentang pengertian “unlimited ticket”, yang sempat diterjemahkan sebagai free one way ticket. Tapi syukurlah sekarang mereka sudah paham dan tidak terjadi kesalahpahaman lagi ketika saya mengambil tiket gratis.

Kali ini saya mengambil penerbangan kedua, yaitu pukul 07.20. Para penumpang dipersilakan masuk ke dalam pesawat 30 menit sebelum boarding. Di dalam pesawat –seperti biasa– kami disambut oleh pramugari-pramugari Citilink yang masih menggunakan seragam mereka yang lama mereka, yaitu polo shirt warna maroon, dipadu dengan  celana cargo warna khaky. Tampilan rambut mereka yang panjang rata-rata diikat ala pony tail.

Sampai ketika saya sudah duduk di seat saya, 24F, tiba-tiba saya dihampiri oleh salah satu pramugari berambut cepak. Aha! Dia adalah pramugari yang dulu sempat memeragakan desain saya sejak awal ketika masih berupa mock up design (presentasi awal) hingga final design saat Grand Final. Senangnya…, ternyata dia masih ingat saya. Mungkin kami memang “berjodoh” ya, karena kok ya kebetulan ketemu terus sejak awal, bahkan sampai di pesawat ini.

Pramugari: “hei, Mbak… :)”

Saya: “eh, haaai, kamu.. apa kabar?” *cupika-cupiki*

Pramugari: “baik, Mbak gimana?”

Saya: “aku alhamdulillah baik. Eh, kok kalian belum pakai seragam yang baru?”

Pramugari: “iya, belum… Nanti tunggu semua siap, kalo nggak Maret ya April tahun ini kok, Mbak. Kemarin sih sudah nemu sepatu sama tasnya juga…”

Saya: “oh, syukurlah… Pengen cepet lihat kalian pakai uniform baru :)”

Pramugari: “di advertisement Citilink sudah pakai seragam baru kok”

Saya: “iya, udah lihat juga sih. Bagus! :)”

Pramugari: “iya.. Eh, Mbak cuti atau libur nih?”

Saya: “ya cutilah… mana ada PNS libur hari Jumat begini.. :D”

Pramugari: “iya, aku tadi dari jauh udah lihat Mbak.. Kayanya Mbak ini pakai tiket yang gratisan itu… ”

Saya: “hahaha, iya… kan batasnya sampai dengan akhir bulan ini, jadinya kumaksimalkan… ;))”

Pramugari: “oh gitu… eh, Mbak, maaf, aku ijin ke belakang dulu ya, mau prepare sebelum boarding…”

Saya: “oh iya, monggo silakan.. :)”

Saya yang duduk di seat dekat jendela sesaat setelah pesawat lepas landas langsung terlelap karena tadi bangun jam 3 pagi dan langsung bersiap-siap menuju Bandara Soekarno Hatta.

sebelum penjurian

fashion show

Saya baru bangun ketika ada announcement dari pilot bahwa beberapa saat lagi pesawat akan segera mendarat di Bandara Internasional Juanda. Belum genap nyawa terkumpul, tiba-tiba mata saya tertumbuk pada segelas teh lengkap dengan sendok dan 3 sachet gula pasir yang tersaji di atas meja sebelah (kebetulan dua seat sebelah saya kosong). Hmm, ini punya siapa, ya? Buat saya? Kan saya nggak pesan teh…

Saya coba intip seat di depan saya. Mejanya tegak, tidak ada sajian dalam bentuk apapun disana. Saya lalu mengarahkan pandangan ke 3 seat seberang kiri, dan bangku belakang saya. Semuanya sama. Tidak ada satu pun yang memesan teh, atau diberi sajian teh. Hmmm, jadi serius ini buat saya? Tapi kenapa cuma saya? 😕

Sempat beberapa menit saya tidak berani menyentuh teh itu, karena memang merasa tidak pernah pesan sih, ya. Tapi, tunggu deh… Apa mungkin mbak pramugari yang tadi ya, yang sengaja meletakkan ini di meja dekat seat saya? Dengan setengah ragu, teh itu saya minum. Itu pun menjelang landing. Semoga memang ini adalah complimentary drink buat saya, ya. Kalau pun toh nanti bayar ya sudahlah, wong cuma teh ini ;))

Menjelang landing, tiba-tiba mbak pramugari itu melintas. “Eh, Mbak, aku tadi naruh teh di meja sini, udah diminum? Itu buat Mbak lho… :)”

See, benar kan dugaan saya. Terima kasih untuk tehnya ya, Mbak Tasya (?). Semoga saya nggak salah mengingat namamu ya, Mbak. Nice to see you again >:D<

Semoga kita bisa ketemu lagi di penerbangan-penerbangan berikutnya, ya :-h

 

[devieriana]

 

foto: dokumentasi pribadi

Continue Reading

Dongeng Kebun Nutrisi

Hari Sabtu, 28 Januari 2012, pukul 15.00-16.00 kemarin Tim Indonesia Bercerita Jakarta kembali tampil menghibur anak-anak. Kali ini @IDceritaJKT  bersama Sari Husada tampil mendongeng dalam Dongeng Kampung Gizi: Dongeng Kebun Nutrisi – Kidfest & Edufair 2012 di panggung utama Istora Senayan. Yaaay! \m/ \:D/

Seperti biasa, beberapa minggu sebelum tampil kami sudah berdiskusi dengan anggota lainnya via milis. Kami memang lebih banyak berkoordinasi secara online ketimbang offline demi efektifitas waktu dan tenaga, karena hampir semua anggota @IDceritaJKT adalah pekerja yang tidak bisa sering-sering ketemu kalau tidak sedang ada event, karena lokasi kerja kami terpencar jauh-jauh. Setelah berdiskusi sana-sini akhirnya saya, Dauz, Dana, dan Rika memutuskan untuk ketemu dulu dengan teman-teman dari Lotus PR yang merupakan EO dari Sari Husada yaitu Mbak Zadana dan Mas Bagus di Plaza Semanggi sepulang kami dari kantor.

Setelah acara meeting malam itu menghasilkan materi berupa PR untuk kami. Pihak klien menginginkan kami  meng-create sebuah pertunjukan dongeng yang ceritanya merupakan penggabungan ide antara nutrisi, gizi dan juga berkebun. Hmm, sepertinya harus menulis dongeng baru nih, karena stok dongeng yang sudah ada kebetulan belum ada yang memenuhi tema itu 😕

Setelah berjibaku, gedebugan sana-sini, akhirnya lahirlah sebuah dongeng yang berjudul Nubi dan Rakuza yang naskah aslinya ditulis oleh Kak Rudi Cahyo, dan dikembangkan oleh Tim @IDceritaJKT .  Setelah itu gimana? Sudah selesai? Satu setengah minggu menjelang pertunjukan dan kami belum siap dengan pemain… Baguus! Bukan karena nggak ada yang mau, tapi memang personil inti (yang sudah biasa manggung bersama) memang kurang karena banyak yang tidak bisa tampil di hari yang sama, ditawarkan ke beberapa alumni workshop Mendidik Melalui Cerita kapan hari pun kebetulan kok ya banyak yang nggak bisa :-s

Akhirnya, saya, Rika, Dana, Dauz pun memutuskan untuk meeting lagi di Plaza Semanggi. Alhamdulillah malam itu ada tambahan satu anggota baru yang siap bergabung, yaitu Deni. Halo, selamat bergabung bersama @IDceritaJKT , Kak Deni :D. Di meeting malam itu kami juga membuka penawaran di twitter. Siapa saja yang bersedia bergabung dan siap tampil bersama kami untuk acara tanggal 28 Januari 2012 dengan senang hati akan kami terima tanpa syarat. Soalnya memang kami lagi butuh banget 😀

Banyak mention yang saya terima malam itu, ya karena memang saya yang awalnya iseng membuka tawaran untuk tampil bergabung tampil di acara Kidfest & Edufair 2012 itu sih. Sampai akhirnya peran-peran tersebut satu persatu terisi dan tinggal beberapa peran saja yang belum terpenuhi karena setelah saya konfirmasi ulang ternyata di hari H nanti Si A masih ada yang di Bandung, Si B ada ujian, Si C ternyata harus tampil di acara lain, dll. Tapi syukurlah, menjelang hari H justru banyak yang menawarkan diri untuk bergabung. Ah, akhirnyaa…. >:D<

latihan di TIM

Singkat cerita, setelah bagi tugas ini itu, kami pun memutuskan untuk melakukan reading, pembagian peran, sekaligus langsung latihan di Taman Ismail Marzuki. Sebenarnya ada kejadian kurang mengenakkan siang itu karena mobil saya ditabrak dari belakang di daerah Grand Indonesia ketika akan beli konsumsi untuk latihan hingga penyok, hiks :(.  Tapi ya sudahlah, itu sekarang masih dalam penyelesaian dengan pihak penabrak deh.

Hari Jumat malam, kami berkumpul di Istora untuk rehearsal. Seperti biasa, kami tuh kalau rehearsal memang selalu begitu banyak cekikikannya, terkesan kurang serius, kurang meyakinkanlah pokoknya. Tapi alhamdulillah kalau sudah menjelang tampil tanggung jawab masing-masing langsung muncul. Pernah kok kami berbagi peran dan latihan hanya beberapa jam sebelum manggung 😉

briefing sebelum tampil

Akhirnya hari yang ditunggu-tunggu itu tiba. Pukul 12.00 kami sudah berkumpul dengan manis di belakang panggung. Enam set kostum dengan karakter buah, sayur, dan raksasa sudah disiapkan oleh Kak Deny. Hai, Kak Deny, terima kasih ya sudah mau susah payah mengangkut kostum-kostum itu ke Istora, hmmm… ternyata lumayan berat ya :p *nyeret plastik kostum dari pintu depan ke belakang panggung utama*. Di belakang panggung kami mulai berganti kostum dan… mulai cekakakan ketika melihat Rakuza yang tinggi besar itu harus memakai wig. Terlontar celetukan si pemeran raksasa  yang membuat perut kami kaku, “baru kali ini lho ada raksasa pake hair extension!” :)) .

Langsung tergambar setting raksasa dengan rok dan rambut yang berkibar-kibar terkena blower diiringi  backsound lagu Anang – Syahrini:

“…jangan memilih aku, bila kau tak mampu setia. Kau tak mengerti aku, diriku yang pernah terlukaaa…”

Rakuza ber-hair extension

pengisi acara (masyaalloh Rakuzaaaa! :-o)

MC

Taraaaa.. pukul 15.00 adalah jatah slot kami untuk tampil. Saya membuka acara sore itu bersama Dana. Penonton yang awalnya berjubel setelah menyaksikan penampilan Kak Bimo yang suara dan cara mendongengnya keren itu terlihat meninggalkan tempat satu-persatu. Sempat agak khawatir kalau show dongeng kami yang bertajuk Nubi dan Rakuza itu nanti bakal sepi. Tapi ternyata kekhawatiran saya tidak terbukti. Satu persatu penonton kembali memadati arena depan panggung. Anak-anak kecil terlihat antusias berebut duduk di tangga panggung, ingin menyaksikan kami lebih dekat. Ah, senangnya 🙂

kerumunan pada Bunda

menyimak dongeng bersama Bunda masing-masing

anak-anak yang khusyuk menyimak dongeng Nubi dan Rakuza

Sepanjang dongeng Nubi dan Rakuza saya bacakan, anak-anak terlihat menyimak dengan seksama. Bukan hanya anak-anaknya saja, ternyata para ayah dan bunda yang ada disitu pun betah menyimak hingga akhir cerita. Ada satu sesi dimana sempat saya hampir tidak bisa menahan tawa, yaitu ketika scene wig Rakuza mendadak lepas di panggung dan… taraaa… Rakuza mendadak mengalami problem kerontokan rambut  :))

Rakuza mengalami problem kerontokan rambut

Si Kecil ini tiba-tiba menghampiri saya sambil bilang, “namaku Lana…”

Ada berbagai kelucuan yang terjadi sepanjang acara. Apalagi di sesi berbagi goodie bag dari Indonesia Bercerita dan Sari Husada. Anak-anak berebut mengacungkan tangan padahal pertanyaannya saja belum kami ajukan, ih lucu banget sih kalian :-*. Ada pula yang belum pakai celana sudah naik ke atas panggung. Saking antusiasnya ada juga yang tiba-tiba mendekati saya sambil berbisik menyebutkan namanya (padahal ditanya juga enggak) :))

Kak Ahim rupanya sukses memerankan peran Rakuza, karena anak-anak ketakutan beneran sama dia. Sampai saya dengan konyol membujuk, “jangan takut, Sayang… anggap aja ini Syahrini, ya…”  Tapi lama-lama mikir juga, Syahrini kok segede bagong gini, berwarna hijau pula. Mungkin inilah yang disebut totalitas. Kak Ahim telah berhasil mewujudkan karakter raksasa yang sebenar-benarnya ;)). Yang lucu lagi ada yang waktu pertanyaan belum selesai dilontarkan tapi dia sudah mengacungkan tangan lebih dulu, giliran menjawab malah nanya ke temen yang ada di bawah panggung sambil mengode pakai kaki, berbisik, “eh, jawabannya apaan? heh.. heh… psst, apaan?” ;))

goodie bag IDceritaJKT

“salam bahagia, salam Indonesia Bercerita”

Bukan hanya itu, kami juga menantang 3 bunda yang berani tampil menyanyikan lagu yang kami nyanyikan sepanjang cerita Nubi dan Rakuza. Ternyata ada yang berani tampil menyanyi ke depan lho. Terima kasih buat spontanitas dan antusiasmenya ya, Bun >:D<

para Bunda yang menyanyikan OST Nubi dan Rakuza

di backstage bersama kru MetroTV

Yang paling seru adalah di backstage ternyata kami sudah ditunggu oleh crew dari Wide Shot MetroTV untuk diliput dan di-interview. Bukan hanya itu, ternyata ada Kak Pitra yang memotret kegiatan kami, dan Kak Goenrock yang mengabadikan penampilan kami dalam bentuk video. Nah, pas sesi interview sama Kak Goen ini yang lucu. Ketika saya sudah selesai direkam untuk video profile, dan hasilnya sedang dilihat ulang (review), kok ya pas di sudut sana ada penampakan Rakuza sedang ganti baju dan pakai singlet tho ya… Jyaaan, Kak Ahim ini memang merusak pemandangan  kok… ;))

Terima kasih Sari Husada yang sudah mengajak @IDceritaJKT untuk tampil di acara Kidfest & Edufair 2012. Acara yang seru! \m/. Semoga lain waktu akan ada tawaran kerja sama lain yang juga tak kalah menariknya ya 😉
*ngarep*

 

[devieriana]

Foto: dokumentasi pribadi, Kak @Pitra dan Kak @denald

Continue Reading

Akhirnya, Papua!

Waktu di Jakarta menunjukkan tepat pukul 21.00 wib ketika HP saya berbunyi. Tertera di layar HP nama salah satu teman di kantor, hmmm… ada apa ya dia kok sampai telepon saya malam-malam? Sambil membetulkan syal, menenteng travelling bag dan celingukan mencari Si Hubby yang mungkin saja sudah terselip menunggu diantara penjemput yang berjejal di depan pintu kedatangan, saya pun mengangkat panggilan itu.

Saya: yak, ada apa Yud?

Teman: kamu dimana, Dev?

Saya: baru aja landing di Jakarta, ini masih di bandara 😀

Teman: lah, emang kamu dari mana?

Saya: dari Surabaya dan Malang, hehehe… Gimana, gimana? Tumben kamu nelepon aku jam segini?

Teman: eh, besok kita jadi tugas ke Papua ya…

Saya: Hah? Ehm.. ya baiklah, oke. Jam berapa kita berangkat? (takut kalau ternyata harus berangkat besok pagi-pagi, kan saya belum packing)

Teman: flight kita malam kok, jam 9-an

Saya: Oh, oke.. berarti aku masih sempet pindah tas-lah ya… *pffiuh*

Teman: iya, hehehe. Sori ya ngasih taunya dadakan, aku juga baru aja terima info. Ya wis, gitu aja Dev, sampai ketemu besok di kantor dan malemnya di Terminal 2F ya

Saya: Ok, makasih infonya… 🙂

Aha! Akhirnya saya ke Papua juga, padahal kemarin-kemarin sempat hanya sebatas wacana lho. Karena awalnya memang pelantikan 13 orang pejabat Unit Percepatan Pembangunan Provinsi Papua dan Provinsi Papua Barat (UP4B) ini akan dilakukan di Jakarta, dan akan dilantik oleh Mensesneg, tapi ternyata dalam perkembangannya pelantikan harus dilakukan di Papua. Jadi ya, baiklah, kami pun “diekspor” ke Papua. Ya, sekali-kali tempat pelantikannya yang jauh sekalian ya. Yang pasti rasa penasaran saya tentang Papua akan segera tertuntaskan.

Malam itu, sesampai di rumah, dengan mata yang setengah terpejam saya bongkar tas dan pindah koper untuk menyiapkan perjalanan berikutnya. Namun hanya kuat menyiapkan setengahnya saja lantaran badan sudah terlalu capek.

Kebetulan ini adalah perjalanan dinas saya untuk yang pertama kalinya ke Papua. Saya berangkat bersama 4 orang lainnya (3 orang atasan saya dan seorang teman sesama staf), yang tergabung dalam tim pelantikan di kementerian tempat saya bernaung.

Perjalanan kami tempuh selama kurang lebih 7 jam. Kami berangkat dari Jakarta sekitar pukul 21.00 wib, dan tiba di Bandara Sentani, Papua, sekitar pukul 07.00 wit (transit sebanyak 2x, yaitu di Makassar dan di Biak). Sepanjang perjalanan dari Jakarta menuju Papua sering terjadi guncangan, karena ketika kami berangkat sebenarnya cuaca sedang kurang bersahabat, hujan turun dengan deras disertai angin kencang. Malam itu kami terbang dalam harap-harap cemas. Tapi alhamdulillah  akhirnya tiba dengan selamat di Papua, pulau terluar Indonesia 🙂

Bandara Sentani

Hanya satu keinginan saya pagi itu, meluruskan punggung sejenak di tempat tidur dan mandi air hangat untuk merelaksasi otot.  Tapi sayang kami tidak bisa berlama-lama istirahat karena pukul 09.00 wit kami sudah ditunggu di ruang meeting untuk rapat koordinasi pelantikan esok hari. Alhasil kami (terutama saya) meeting dengan terkantuk-kantuk (saya sampai keluar ruangan untuk menyegarkan badan dan mata), sambil lihat pemandangan ini dari lantai 8 tempat kami meeting.

pemandangan dari lt. 8 tepat di depan jendela tempat saya meeting

Setelah makan siang, kami sempat tidur beberapa jam sebelum akhirnya sekitar pukul 16.00 wit kami harus meluncur ke Kantor Gubernur Papua untuk melihat lokasi pelantikan esok hari. Ternyata disana sedang ramai masyarakat setempat yang tengah berlatih paduan suara untuk peringatan Natal, jadi kami hanya sekadar meninjau lokasi saja.

Cuaca di Papua sedang cerah-cerahnya, sehingga Lautan Pasifik yang terhampar persis di depan Kantor Gubernur, dipagari dengan beberapa bukit-bukit yang tampak dari jauh kehijauan, serta merta langsung menyita perhatian kami berlima. Itu baru satu spot saja, belum spot-spot pemandangan lainnya. Ada pemandangan bukit kapur, bukit-bukit hijau, dan deretan rumah dengan genteng warna-warni, sekilas mengingatkan saya pada rumah-rumah di Amerika Latin, belum lagi kalau kita pergi ke daerah Angkasa, spot tertinggi tempat kita bisa melihat Papua lengkap dengan segala keindahannya. Sungguh sebuah kombinasi alam dan warna yang memukau. Tapi kami sepakat, hari itu kami ingin istirahat di hotel saja, menyiapkan energi untuk besok pagi. Kalaupun jalan-jalan ya di seputaran hotel, tidak ke lokasi yang jauh-jauh dulu. Butuh meluruskan punggung dan kaki dulu, deh.

depan kantor Gubernur Papua

Pagi-pagi sekali kami berlima sudah rapi dalam balutan setelan PSL (Pakaian Sipil Lengkap) warna hitam dengan tumpukan map pelantikan warna biru tua dengan lambang garuda warna keemasan. Seperti lazimnya di Jakarta petugas protokol harus siap minimal J-2 (2 jam sebelum acara). Acara rencananya berlangsung pukul 09.00 wit, jadi pukul 07.00 kami sudah siap berangkat ke tempat acara dan memastikan semua peralatan pendukung sudah siap dan berfungsi dengan sempurna.

foto-foto dulu sebelum acara dimulai

venue pelantikan

sibuk masing-masing

Ketika kami sampai disana ternyata kantor gubernur masih sepi, hall tempat acara saja masih terkunci rapat. Haiyaa, bijimana ini… ;)). Tapi akhirnya kami menyadari bahwa kultur dan kebiasaan di daerah memang berbeda dengan Jakarta. Kalau di Jakarta, misalkan acara dimulai pukul 09.00 wib, maksimal 15-30 menit sebelum acara dimulai para undangan sudah di tempat acara, siap menunggu pejabat yang akan melantik (apakah Menteri atau Sesmen). Lha ini, 15 menit sebelum acara saja belum ada satu pejabat pun yang muncul. Kami berlima sampai mati gaya. Keliling ruangan sudah, melihat-lihat sekeliling sudah, foto-foto juga sudah banyak, mempelajari naskah dan mengoreksi sekali lagi kalau ada yang salah ketik sudah sejak semalam, menyetel volume suara dan menata meja sampai menyiapkan map pelantikan pun sudah semua. Hmm, terus ngapain lagi coba? Sampai akhirnya pukul 09.00 wit baru deh satu persatu pejabat, undangan, rohaniwan, fotografer acara, dan wartawan mulai berdatangan. Pffiuh, akhirnya ya…

Alhamdulillah, acara berjalan khidmat dan lancar, sehingga kami bisa segera berencana kabur kembali ke hotel. Tapi baru saja kami akan melangkah keluar membuka pintu aula,mak byak… samping kiri kanan pintu hingga depan teras kantor gubernur isinya polisi semua. Hadeeh… Ya wajar sih kalau pengamanannya seketat ini karena memang sempat ada isu kalau pelantikan ini akan dibatalkan, akan ada kerusuhan, dll. Isu itu bertiup semakin kencang beberapa hari menjelang acara, dan akhirnya diantisipasi dengan kehadiran 1 SSK polisi yang siap mengamankan jalannya acara, stand by di depan pintu dan lobby gubernuran.

Akhirnya saat yang ditunggu-tunggu untuk menyusuri Papua pun tiba. Untung masih siang, jadi kita punya waktu yang panjang untuk jalan-jalan. Kami hanya punya waktu sehari itu saja karena esok paginya kami sudah harus segera bertolak ke Jakarta. Dengan diantar salah satu staf UP4B kami menyusuri sudut-sudut jalanan di Papua. Berbelanja beberapa suvenir untuk orang-orang tercinta dan teman, tak lupa kami juga membeli beberapa batik Papua yang warna dan coraknya terkenal eksotis itu. Oh ya, yang kemarin sempet nanyain koteka dan nitip koteka, nih saya fotoin aja ya. Mau saya beliin tapi takut nggak pas, kan saya nggak tahu ukuran kalian apa :))

corak Batik Papua

koteka

Dari hasil jalan-jalan singkat itu secara keseluruhan saya cuma mau bilang Papua itu alamnya cantik banget! Nggak kalah sama wisata alam di daerah lain. Apalagi kalau siang, kalian akan melihat laut Pasifik terhampar begitu saja di depan mata kalian, begitu luas, tenang, dan biru. Sepanjang jalan cuma bisa bilang Allahu Akbar melulu deh. Karena waktu yang terbatas itu sayang banget belum bisa ke Raja Ampat dan bahkan ke perbatasan RI dengan Papua New Guinea, padahal dari Jayapura ke perbatasan cuma 30 menit.

Teluk Youtefa

Sepertinya masih akan ada perjalanan ke Papua bagian 2 deh, mengingat UP4B kan unit baru, dan yang kemarin dilantik baru sebagian pejabatnya saja, jadi pelantikan pejabat pelengkap berikutnya akan segera menyusul.

Mungkin… ;))

[devieriana]

 

Foto dokumentasi pribadi

Continue Reading