Tentang Belanja di Pasar Murah

shopping-cartoon

Ting tung! *buka pesan di whatsapp*
“Eh, ada bazar Dharma Wanita di Gedung 3? Ke sana yuk!”
– read –

Ting tung! *buka pesan di grup ibu-ibu biro*
“Besok ultah kantin Kayumanis, ada bazar sembako, yang mau pesen bawang merah, bawang putih, gula, beras, dll, buruan pesen ya, kuatir kehabisan…”
– read –

Ting tung! *buka pesan di whatsapp emak-emak*
“Up date harga Indongapret dan Lapamidi. Diskon minyak goreng, pampers, susu anak, beras…”
– read, delete –

“Eh, ada pasar ikan segar tuh di depan toko souvenir, Kak Devi nggak ke sana?”

Hampir semua ajakan belanja ini itu berakhir dengan gelengan kepala, atau penolakan halus. Entah kenapa, sejak zaman dulu, setiap kali ada broadcast whatsapp tentang program belanja ini itu, diajak pergi ke bazar, atau pasar murah, selalu tidak pernah tertarik atau antusias. Kalau pun iya pernah beli di bazar kantor itu tahun 2011, beli mukena berbahan parasit warna cokelat tua seharga 120 ribu dan itu juga hasil komporan teman.

Beda dengan hampir semua teman kantor saya yang perempuan terutama, kalau ada bazar hampir dipastikan kembali ke ruangan dalam keadaan dua tangan yang penuh dengan jinjingan belanjaan. Entah itu sembako, jilbab, mukena, sepatu/baju anak, atau makanan siap saji. Beberapa kali saya ‘paksakan’ pergi ke bazar yang diadakan kantor, tapi ndilalah selalu kembali ke ruangan dengan tangan kosong.

Entahlah, apa mungkin belum pernah ‘nemu’ barang yang pas dengan apa yang saya butuhkan, atau belum nemu yang kebetulan lucu, dan atau harus dibeli. Tapi kalau soal sembako, saya orangnya praktis saja sih. Kalau habis ya beli, tapi kalau masih ada ya dihabiskan dulu. Ya tipe orang seperti saya mungkin ada negatifnya, kalau mendadak butuh dan persediaan sedang habis, ya bakal kelimpungan. Ya tapi daripada numpuk dan makan tempat, gimana dong? Apalagi rumah saya tipe-tipe imut minimalis yang bisanya buat menyimpan stok barang secukupnya. Tapi biasanya sih saya selalu cek apa saja yang sudah hampir habis, baru saya belikan stoknya. Atau kalau memang sudah waktunya belanja bulanan ya dicatat apa saja yang habis dan perlu dibeli, supaya nggak kalap belanjanya. Ah, dicatat saja masih suka kalap, apalagi nggak dicatat *self keplak*.

Kadang saya mikir juga, kok saya nggak kaya ibu-ibu lainnya yang selalu riang gembira memborong sembako murah, atau kalap beli pernak-pernik buat bocah ya? Sudah pernah saya paksakan untuk ke bazar pun hati ternyata tidak tertarik sama sekali. Jangan-jangan event organizer-nya yang kurang kreatif nih sehingga barang-barang yang dijual kurang menarik perhatian saya ya… *ngomong sama tembok*

Bukannya nggak butuh sembako juga sih, pasti butuh dong. Emang kita anak debus, yang makannya beling sama gabah, hahaha. Ya bayangkan, di rumah kami cuma bertiga; saya, suami, dan Alea (usia 22 bulan). Kebetulan saya dan suami bukan tipe orang yang makannya banyak. Suami juga bukan orang yang makan apa saja cocok, cenderung picky. Picky-nya cocok-cocokan sama lidah dia, misal untuk masakan, dia kurang suka sama yang olahan ikan, apapun bentuknya. Trus, masakan yang mengandung kecap, atau yang terlalu pedas. Sementara saya adalah pemakan apa saja. Jadi kadang saya yang menyesuaikan dengan lidah suami. Begitu juga dengan Alea yang makannya belum seberapa. Jadi kalau harus menimbun sembako kok rasanya agak ribet gimana gitu. Menurut saya sih…

Kalau soal belanja pernak-pernik anak, biasanya saya cenderung beli kalau memang sreg pengen beli atau beneran nemu yang lucu. Anak seusia Alea kan cepat numbuhnya ya, jadi saya biasanya beli seperlunya saja, kalau kebetulan Alea belum punya, atau ada barang yang lucu, atau memang sudah waktunya beli. Bukan apa-apa, khawatir mubadzir, sudah beli banyak baju, belum sempat dipakai eh tahu-tahu sudah nggak muat karena anaknya tambah besar.

Jadi, kalau saya jarang beli di bazar atau pasar murah, bukan berarti saya sok-sokan anti bazar atau pasar murah lho ya, mungkin belum nemu pas butuhnya saja.

Makanya ayo dong, ajak saya ke mana gitu, yang barangnya lucu-lucu dan harganya miring, dan biar saya bisa kalap belanjanya… *lho*

[devieriana]

ilustrasi dipinjam dari sini

Continue Reading

Jadi Ibu ‘Beneran’

Alea dan Mama :D

Lama juga ya saya tidak up date blog, padahal ada banyak cerita yang bisa ditulis di sini. Tapi ya semua terkait masalah waktu, kesempatan, dan niat menulis yang kadang menguap begitu saja *self toyor*

Jadi ceritanya sudah hampir sebulan ini Alea saya bawa ke kantor, bukan ikut saya kerja seharian di ruangan, tapi saya titipkan di daycare Taman Balita Sejahtera yang kebetulan dikelola oleh Dharma Wanita Persatuan kantor saya. Lah, kenapa kok tiba-tiba Alea harus dititipkan di daycare? Tentu keputusan ini sudah melalui pemikiran yang masak walaupun pada awalnya terasa berat. Bukan hanya berat buat saya, tapi juga buat eyangnya, dan tentu saja buat Alea yang tiba-tiba harus merasakan ‘berpisah’ sejenak dengan keluarga yang dikenalnya, dan seharian harus berada di tempat ‘asing’/baru, dengan teman-teman baru dan para bunda yang pengasuh. Tapi gapapalah, sekalian latihan buat Alea bersosialisasi dan mendapatkan pendidikan pra sekolah, walaupun usia Alea belum genap 2 tahun.

Rasanya waktu hampir 2 tahun ini sudah ‘cukup’ bagi mama saya untuk mengasuh/menjaga Alea. Sejak Alea lahir sampai dengan Alea hampir berusia 2 tahun mamalah yang setiap hari merawat dan menjaga Alea. Jadi memang saya lumayan terbantu dengan adanya mama di rumah. Tapi dengan berbagai pertimbangan, mama memang harus kembali pulang untuk menemani papa di Surabaya. Sementara untuk memutuskan mencari baby sitter/pengasuh saya masih banyak mikirlah. Makanya, sebulan pertama adalah masa percobaan bagi saya, Alea, dan mama untuk menjalani rutinitas baru sebelum akhirnya nanti mama benar-benar pulang.

Hari pertama Alea di daycare lumayan terlihat menyenangkan, dia terlihat antusias dengan komentar pertamanya ketika melihat banyak anak kecil seusianya, “wooow!. Tak disangka-sangka, dia pun langsung bisa mingle dengan teman-teman barunya, ikut senam, main perosotan, dlll. Melihat tingkah polahnya yang lucu itu antara sedih dan haru karena saya harus meninggalkan batita saya sendirian. Jujur, jauh dalam hati sih saya baper abis; tidak tega meninggalkan Alea di tempat baru dengan orang-orang yang baru dikenalnya. Tapi bismillah sajalah, semoga dia baik-baik saja. Tapi ya namanya bocah, lama-lama dia sadar juga kalau mama, papa, dan eyangnya tidak ada bersamanya, kalau mulai rewel ya sangat dimaklumi. Tapi ada yang lumayan melegakan, menurut bunda pengasuhnya, nafsu makan Alea bagus, minum susunya juga bagus, dan kemampuannya menyesuaikan diri di tempat baru sangat cepat, termasuk berbeda dengan anak lain seusianya.

Hari pertama dilalui dengan alhamdulillah lumayan tanpa drama. Hari kedua, lihat pagarnya daycare saja dia sudah tidak mau, apalagi hari ketiga, dan keempat (yang kebetulan bertepatan dengan hari Jumat dan ndilalahnya dia pas flu berat), dramananya lumayanlah. Mungkin karena badannya lagi kurang nyaman, jadi maunya ya sama mamanya aja. Jadi kata bunda-bundanya di daycare Alea memang agak rewel.

Trus, apa kabar setelah hari keempat? Alea nggak masuk selama 2 minggu karena flu batuk pilek disertai demam tinggi. Ya menurut dokter sih common cold saja sih, kalau demam tingginya itu karena radang tenggorokan. Tapi ya tetap saja saya baper karena pikiran sudah ke mana-mana. Untungnya waktu itu mama belum pulang ke Surabaya, jadi masih ada yang merawat Alea selama dia sakit.

Sebagai ibu kadang memang harus ‘tegaan’ ya. Maksudnya, jangan terlalu baperan, harus kuat gitu. Kebetulan dokternya Alea menyarankan Alea harus dinebulizer supaya pernafasannya agak enakan, saya sih nurut saja, selama ini kebetulan flu batuk pileknya memang tidak separah yang ini, jadi kalau memang harus diuap mendingan diuap deh, biar flunya beres sekalian. Nah, melihat Alea harus dinebulizer dan menangis meraung-raung itu pun sebenarnya antara tega nggak tega tapi ya kalau nggak tega nanti dia nggak sembuh-sembuh dong. Dinebulizer itu kan sebenarnya nggak sakit, tapi berhubung bocahnya tegang lihat suster, liat alat-alat yang buat dia, “eh, aku mau diapain nih…” itu ya jadi bikin dia nangis, hehehe. Tapi lucunya, setelah proses penguapan itu selesai, Alea diajak ngobrol oleh suster yang menangani penguapan, “Nah, udah selesai nih. Nggak sakit, kan? Enak, kan?”. Dengan muka lucu Alea menjawab, “enyak..”, sambil mengangguk. Kalau enak kok nangis? *uyel-uyel*

Nah, baru terasa beneran jadi ibu itu ya pas mama beneran pulang ke Surabaya. Jungkir balik iya, karena Alea maunya apa-apa sama saya. Kalaupun mau sama papanya ya kalau lagi main, atau nonton film. Nah, selama mereka sedang nonton film atau tidur saya membereskan rumah. Sempat keteteran sih, sampai akhirnya menemukan format yang pas, terutama buat saya. Pokoknya nyuci, beberes rumah, nyiapin perlengkapan yang harus dibawa Alea, dan setrika baju yang dipakai besok pagi itu harus malam hari, karena kalau baru dipegang pagi, nggak bakal beres semua. Jadi, di awal-awal kemarin sih baru tidur pukul 1 malam, dan bangun pukul 4 pagi. Tapi makin ke sini setelah mengutak-atik ‘formula’ beberes ini itu, lumayan bisa tidur pukul 11 malam, dan bangun pukul 5 pagi.

Pukul 06.30 saya dan Alea sudah harus siap berangkat. Berhubung kantor papanya Alea di Sudirman, jadi kalau harus nganter dulu ke kantor saya di Veteran, bakal ribet di jalur balik menuju kantornya, karena biasanya macet parah di sekitaran Kanisius. Tapi kalau berangkatnya pagi banget Aleanya belum bangun, dianya nanti malah uring-uringan. Jadi dibikin enjoy sajalah, win-win solution biar sama-sama nggak terlambat, salah satu harus naik Go-Jek.

Kalau biasanya ke kantor cuma bawa 1 tas kerja saja, sekarang tambah 1 tas baby plus gendongannya Alea. Kadang kalau dilihat-lihat kaya bukan orang mau ngantor, tapi udah kaya orang mau mudik, hahahaha. Ternyata jadi ibu ‘beneran’ itu tidak mudah, ya. Iya, ibu beneran, ketika masih ada mama kemarin saya belum merasa jadi ibu yang sesungguhnya, karena saya belum merasakan sendiri mengasuh anak, merasakan bangun paling pagi dan tidur paling malam demi mengerjakan segala sesuatu agar selesai tepat waktu dan tidak keteteran. Untuk semua perjuangan yang telah dilakukan oleh seorang ibu demi keluarganya, itulah kenapa Betty White pernah bilang, “It’s not easy being a mother. If it were easy, fathers would do it.”

“Sometimes being a mom is just the most overwhelming job on the planet. But when you pause to filter you response trough love, your children will learn how to handle life well instead of letting life handle them. “
– Stephanie Shott –

Selamat pagi, selamat menjelang akhir pekan 🙂

 

 

[devieriana]

Continue Reading

Spotlight: Break The Story, Break The Silence

spotlight

“If it takes a village to raise a child, it takes a village to abuse one.”
– Mitchell Garabedian –

Pffiuh, setelah seminggu berkutat dengan mata pelajaran ujian kedinasan, akhirnya malam ini sempat juga nonton film keren yang bertajuk Spotlight. Film yang sudah beberapa waktu lalu saya download tapi belum sempat ditonton.

Spotlight adalah film Amerika bergenre drama biografi (diangkat dari kisah nyata), yang disutradarai oleh Tom McCarthy, dan skenarionya ditulis oleh Tom McCarthy, bekerja sama dengan Josh Singer. Dirilis pertama kali pada tanggal 6 November 2015 oleh Open Road Films. Spotlight memenangi Academy Award untuk Best Picture dan Best Original Screenplay, dari enam nominasi total yang diperolehnya. Cerita ini dibuat berdasarkan pada serangkaian cerita oleh Tim Spotlight aktual yang sempat memperoleh anugerah Pulitzer Prize for Public Service tahun 2003. Jadi, kalau di-review, Spotlight ini semacam one to the beat-nya tahun 2015. Film sekeren itu kok ya saya baru nonton, coba!

Film ini menceritakan tentang kiprah unit jurnalis investigasi surat kabar The Boston Globe, Spotlight, yang mengkhususkan diri menangani kasus-kasus besar dan prosesnya mampu memakan waktu panjang. Tim Spotlight terdiri dari Walter Robinson (Michael Keaton), sebagai Editor, yang akrab dipanggil Robby. Disusul kemudian tiga reporter, Michael Rezendez (Mark Ruffalo); Sacha Pfeiffer (Rachel McAdams); Matt Carroll (Brian dArcy James); dan Ben Bradlee Jr. (John Slattery) sebagai Deputy Editor.

Kebanyakan staf The Boston Globe, adalah orang yang lahir dan tumbuh di Boston, serta dibesarkan dalam lingkungan keluarga Katolik yang taat. Boston adalah sebuah kota di mana hampir setengah populasi adalah Katolik. Pun halnya dengan pembaca The Boston Globe. Sedikit berkebalikan dengan editor in chief mereka yang baru, Marty Baron (Liev Schreiber), dia berasal dari Miami dan seorang Yahudi. Ini penting, sebab kasus yang ditangani itu akan memberikan dampak yang besar pada beberapa karakter di dalamnya.

Kisah diawali tahun 2001, ketika Marty Baron (Liev Schreiber) mengambil alih kendali editorial The Boston Globe. Dia mempertanyakan mengapa Spotlight tidak menginvestigasi skandal pelecehan seksual yang melibatkan instansi tertua dan terpercaya di dunia, yaitu gereja, dan mengapa pengadilan menyegel dokumen-dokumen yang berkaitan dengan kasus itu? Dari sinilah jalancerita bermula.

Investigasi besar itu pun dimulai. Para jurnalis menghadapi hambatan besar, baik hambatan yang berangkat dari asumsi-asumsi mereka sendiri, maupun hambatan yang berasal dari orang-orang kuat yang mencoba untuk menghentikan mereka. Namun hambatan itu toh harus dihancurkan oleh tim demi mengungkap kebenaran, meskipun kali ini mereka harus bersinggungan dengan gereja; sebuah institusi dengan kekuatan yang luar biasa, baik secara politik maupun budaya. Sebuah institusi di mana Tuhan diyakini keberadaannya, di mana jemaat lebih memilih diam menutup mata, daripada harus melawan gereja, karena melawan gereja sama saja seperti melawan utusan Tuhan, atau justru melawan Tuhan itu sendiri. Keadaan seolah makin klop, karena gereja pun memilih menutup rapat kasus ini.

Film ini menunjukkan bagaimana laporan pelecehan anak oleh pendeta Katolik perlahan diperluas dan dibentangkan. Empat jurnalis ini bekerja spartan (pantang menyerah, disiplin, percaya diri) membongkar skandal yang bahan-bahan investigasinya pernah diterima oleh Robby 20 tahun yaang lalu,saat dia masih di desk Metro The Boston Globe.

Seorang pendeta bernama John Geoghan diduga telah melakukan pelecehan seksual kepada sekitar 80 anak laki-laki. Yang menjadi permasalahan adalah, sebenarnya Kardinal Law dari Uskup Besar Boston diduga mengetahui hal tersebut namun dia hanya mendiamkannya. Berawal dari nama satu pendeta ini, tim berhasil menguak fakta-fakta baru. Di tahap awal, ada 13 nama pendeta yang diduga melakukan pelecehan seksual sebelum akhirnya berkembang menjadi 90 nama pendeta. Kebanyakan keluarga para korban pelecehan itu diberi uang tutup mulut agar mereka diam, dan tidak ada yang (berani) mengungkap kasus itu secara nyata. Hingga akhirnya tim ini menemukan fakta yang mengejutkan bahwa kejahatan seksual terhadap anak kecil ini telah terjadi secara masif dan melibatkan jaringan gereja Katolik global. It is a city-wide problem.

Fenomena gunung es, itulah istilah yang tepat untuk menggambarkan kasus ini. Sebagaimana telah tersebut di atas, jumlah pelaku pelecehan seksual ini bukan hanya satu, tapi puluhan orang. Bayangkan, jika dari satu pelaku saja sudah memunculkan banyak korban, bagaimana jika pelakunya ada puluhan? Kasus yang sedang coba mereka ungkap ini barulah sebatas kasus yang mencuat ke permukaan saja, Tom McCarthy secara eksplisit memaparkan data-data skandal yang belum terbongkar di lebih dari lima puluh tempat di dunia. Horor!

Semua anggota tim bekerja semaksimal mungkin untuk mengungkap kasus ini. Lihat saja usaha Mike Rezendes ketika mengejar seorang pengacara nyentrik bernama Mitchell Garabedian (Stanley Tucci) demi mendapatkan informasi yang diperlukan. Walaupun sempat mendapatkan penolakan keras di awal usahanya, Mike Rezendes tak patah semangat. Terbukti, kegigihannya itu mulai membuahkan hasil. Satu persatu informasi yang dibutuhkan pun mulai terkumpul, bahkan dia bisa bertemu dengan sumber informasi Si Pengacara, Patrick McSorley (Jimmy LeBlanc). Saya terkesan dengan cara Mike menggali informasi, dan memperlakukan sumber informasinya. Dia bukan hanya mendengarkan mereka dengan telinga, tapi juga dengan hati, penuh empati.

Perjuangan Sacha demi melakukan wawancara dengan para narasumber pun tak selalu berjalan lancar. Berbagai penolakan dihadapinya. Seperti ketika Sacha mencoba menghubungi salah satu pendeta yang masuk dalam daftar tersangka, Ronald Paquin (Richard O’Rourke), seorang pensiunan imam, yang sempat menjawab pertanyaan-pertanyaan Sacha dengan jujur dan ramah. Namun tetap saja dia membela diri, alasannya melakukan tindakan itu karena dulu dia pun adalah korban pelecehan seksual. Sayangnya wawancara itu terpaksa terhenti karena seorang perempuan bernama Jane Paquin (Nancy E. Carroll) tiba-tiba muncul dari balik pintu, dan meminta Sacha untuk tidak melanjutkan wawancara.

Adegan yang menyedihkan juga terjadi ketika Joe Crowley (Michael Cyril Creighton), yang sejak kecil menyadari dirinya gay itu ternyata dimanfaatkan oleh seorang pastor bernama Shanley. Bukan hal mudah untuk menceritakan kembali hal pahit yang menimpanya di masa kecil, tapi bagaimana pun demi mengungkap kasus yang telah memakan banyak korban ini, dia harus menekan rasa traumanya itu.

Ada satu adegan yang menarik di film ini. Ada sebuah grup di mana para korban pelecehan seksual itu berkumpul. Phil Saviano adalah ketua perkumpulan tersebut. Dia juga menceritakan hal apa saja yang telah dilakukan oleh para pastor tersebut ketika dia masih kecil kepada tim Spotlight. Saviano kecil menganggap pastor adalah orang baik, semacam perwakilan Tuhan di dunia. Pelaku, yang notabene jauh lebih tua secara usia, dan dianggap lebih paham dalam hal pengetahuan agama, memposisikan dirinya sebagai orang suci yang jauh dari dosa, dan ‘dekat’ dengan Tuhan. Melalui akses inilah otak cabul para pemuka agama itu bekerja memperdaya para calon korban yang usianya jauh di bawah mereka, dan pengetahuan agamanya masih jauh dari cukup.

“I was eleven. And I was preyed upon by father David Holly in Wester. And I don’t mean ‘prayed for’, I mean ‘preyed upon’.”

Awalnya, saya menduga cerita dalam film ini akan disajikan secara rumit, dan dengan alur cerita yang membosankan. Tapi ternyata dugaan saya salah, kerumitan yang muncul di film ini ternyata tidak se-complicated yang saya perkirakan. Kerumitan yang masih relatif mudah dipahami. Sekalipun film ini mengusung tema yang sensitif tapi alur ceritanya tetap nyaman untuk diikuti.

Spotlight menunjukkan bagaimana kerja yang sesungguhnya di dunia jurnalistik itu. Tom McCarthy memotret kinerja institusi media dengan sangat cermat. Usaha jurnalisme dalam menggali dan membawa ketidakadilan ke pusat perhatian publik terasa sangat tajam di film ini. Semua tersaji dalam takaran yang tepat, rapi, sistematis, dan proporsional, tanpa kesan eksploitatif yang berlebihan atau kurang sopan. Spotlight menggarisbawahi salah satu fungsi media sebagai alat kontrol sosial. Jika ada kejahatan dan terjadi secara sistemik, IMHO, sudah selayaknya medialah yang harus menjadi pencerahnya, bukan malah ikut bermufakat dengan golongan pelaku kejahatan.

Mengubah budaya tertentu memang bukan hal yang mudah, tapi jika memang diperlukan, ya harus dilakukan.

 

 

[devieriana]

 

sumber ilustrasi dari IMDB

Continue Reading

Tentang Demo Angkutan Umum Itu

Selasa (22/03/2016) lalu, di Jakarta terjadi demo para pengemudi angkutan umum secara besar-besaran. Isu demo ini saya dengar juga dari pengemudi taksi Express yang saya tumpangi menuju arah pulang kantor sehari sebelumnya.

Sebagai pengguna harian berbagai sarana transportasi massal (kecuali kereta api), saya lumayan agak mikir juga, kira-kira pas ngantor besok saya naik apa, ya? Setiap harinya, kalau kebetulan suami nggak bawa motor ya saya berangkat naik taksi atau pesan ojek online untuk mengantar saya ke kantor. Pun demikian halnya ketika pulang. Sejak adanya ojek online saya lebih sering memesan ojek via aplikasi ketimbang naik armada lainnya. Dulu, sebelum ada ojek online saya memilih naik Transjakarta, atau kalau sedang malas jalan ke halte Harmoni/Monas, pulang agak telat, atau sedang hujan deras, saya pilih praktisnya saja, naik taksi.

Penggunaan berbagai alat transportasi berbasis aplikasi online sejauh ini sebenarnya sangat memudahkan konsumen. Ngomong-ngomong, dulu sebelum ada Gojek, Uber, Grab, dll, saya adalah pengguna setia aplikasi online-nya Bluebird. Mengingat saya dulu tinggal di rumah mertua yang ‘nun jauh di sana’; maksudnya jauh dari jalan raya gitu. Jadi kalau mau mau pesan taksi saya prefer menggunakan aplikasi, ketimbang telepon ke callcentre, atau jalan ke depan gang. Selain itu pesan via aplikasi bisa dipantau sudah sampai mana taksinya, nyasar/enggak, dan bisa ditelepon kalau memang drivernya kebingungan cari alamat kita. Jadi intinya sih penggunaan teknologi yang bisa dimanfaatkan secara online oleh konsumen itu sudah ada dari sebelum ada Gojek, Uber, Grab, dll. Cuma mungkin belum maksimal, belum banyak yang familiar, dan belum banyak yang install. Mungkin, ya.

Sempat ngobrol juga dengan pengemudi taksi yang saya tumpangi kemarin sambil menunggu kemacetan di bilangan Semanggi terurai,

+ “Emang kalau pada demo semua, perusahaan nggak rugi, Pak?”
– “Ya kan perusahaan yang nyuruh, Mbak. Ya mungkin mereka sudah paham konsekuensinya apa…”
+ “Emang yang demo pada dapat apaan?”
– “Ya paling makan siang sama minum doang, Mbak”
+ “Boleh nggak kalau nggak ikut, atau semua harus ikut demo?”
– “Harus, Mbak. Kalau ada yang narik ya penumpangnya harus diturunin…”
+ “Wah, tega dong, ya? Kalau ternyata isinya ibu-ibu bawa bayi/anak kecil gimana, Pak? Nekat diturunin juga?”
– “Ya kan sudah ada kesepakatan sebelumnya kalau memang besok nggak boleh ada yang naikin penumpang. Besok juga rencananya mau ada sweeping mobil Xenia dan Avanza, Mbak. Kan kebanyakan taksi online pada pakai armada itu.”
+ “Emang demo yang sebelumnya belum ada solusinya apaan gitu?”
– “Belum, Mbak. Makanya masih pada mau demo. Solusi dari menterinya juga ya gitulah, ngambang nggak jelas gitu. Besok itu rencananya demo besar-besaran tapi ya udah itu demo terakhir, nggak akan ada demo-demoan supir taksi lagi…”
+ “Ooo… “

Saya pun manggut-manggut sambil tetap mikir, besok saya ke kantor naik apa ya? Bisa sih naik motor bareng suami, tapi dianya kasihan, bakal muter-muter. Kantor saya di sekitaran Monas, lha suami di Sudirman, arah baliknya ke Sudirman yang lewat Kanisius itu yang suka bikin BT macetnya. Tapi ya sudahlah, urgent ini. Sekali-kali ribet nggak apa-apalah…

Ndilalah Senin malam saya harus mengantar Alea ke RS Medistra lantaran demam tinggi hampir 40 derajat celcius. Walaupun keesokan harinya suhu badan Alea sudah turun tetap saja saya harus stand by, kalau-kalau suhu badannya naik lagi. Padahal hari itu saya sudah diagendakan oleh Biro Keuangan untuk memandu acara sosialisasi tentang SPT Tahunan Pajak Penghasilan, dan pagi itu pun saya sudah siap mau setrika baju kerja, tapi ya sudahlah, demi anak, saya pun batalkan jadwal ngemsi saya, bagaimana pun kondisi kesehatan anak jauh lebih penting. Beruntung ada cadangan MC yang bersedia menggantikan saya hari itu.

Kembali lagi ke demo supir taksi, dalam hati saya merasa bersyukur tidak jadi ngantor hari itu. Ribuan sopir taksi Indonesia telah membawa kemacetan luar biasa di jalanan protokol ibu kota dalam aksi protes terhadap Uber dan aplikasi angkutan umum online. Bukan itu saja, suasana demo juga terpantau chaos, dan anarkis. Inti demo hari Selasa kemarin adalah permintaan penutupan layanan transportasi berbasis aplikasi untuk beroperasi di Indonesia karena dianggap ikut berkontribusi dalam menyebabkan penurunan pendapatan bagi perusahaan angkutan umum konvensional.

Entahlah, saya juga tidak bisa berkomentar jauh tentang aksi protes ini. Yang terbayang dalam pikiran saya, dari demo kemarin, IMHO, kalau memang dianggap berbenturan dengan peraturan, ya seharusnya bisa dong dibikin peraturan untuk layanan transportasi berbasis aplikasi online ini, bikin rule-nya. Jadi solusinya bukan asal langsung cabut atau larang. Dengan adanya poliferasi (pertambahan secara cepat) jasa transportasi berbasis online ini emang sudah waktunya pemerintah membuat batasan regulasi, aturan main yang jelas agar mereka tetap terlindungi secara hukum dan tidak melanggar undang-undang.

Just my two cents.

Selamat ber-long weekend, teman!

[devieriana]

Continue Reading

Mommy Wars: Berhenti Membandingkan

parenting

Ada kalanya saya lelah menyimak perdebatan tak kunjung akhir di antara para ibu. Perdebatan tentang apa yang (dianggap) paling baik untuk anak-anak/keluarga mereka. Seperti misalnya pilihan antara menjadi ibu bekerja atau ibu rumah tangga, pemberian ASI atau susu formula, bubur instant atau bubur homemade, melahirkan secara normal atau sectio, popok sekali pakai atau cloth diapers, memilih tidak berkata ‘jangan’ atau tetap menggunakan kata ‘jangan’, dan lain-lain.

Ketika Alea masuk usia MPASI, saya paham bahwa saya akan memasuki masa ‘tantangan’ menjadi seorang ibu. Bukan hanya akan menghadapi masa-masa bayi melakukan Gerakan Tutup Mulut atau melepeh makanannya, tapi lebih dari itu; saya akan menghadapi ‘mommy wars’, masa ‘persaingan’ antara para ibu di mana ada anggapan bahwa keberhasilan MPASI adalah salah satu bentuk achievement dan milestone sebuah motherhood.

Dari semua madzab MPASI, saya memilih aliran yang fleksibel saja. Saya tidak anti terhadap makanan instant, tapi tetap salut kepada para ibu yang bisa memberikan MPASI homemadehomecooking yang semua bahannya organik. Tapi meski begitu, bukan berarti kalau saya memilih bubur bayi instant atau biskuit bayi sebagai makanan MPASI bayi saya, saya adalah orang yang pilih gampangnya. Bukan juga berarti saya tidak melek gizi untuk bayi saya. Saya tetap belajar, banyak baca referensi, diskusi, plus konsultasi dengan DSA anak saya sebelum melakukan apapun untuk bayi saya. Selama masih aman, masih diperbolehkan oleh DSA, ya saya lanjut. So, buat saya pribadi, tidak ada masalah apakah seorang ibu memberikan MPASI instant atau organik untuk bayinya. Begitu juga dengan pemberian ASI atau susu formula.

Pada suatu hari ketika saya mengikuti diklat, dan harus pumping di jam istirahat siang, saya bersama beberapa ibu menyusui lainnya pumping di salah satu ruang di Pusdiklat sambil ngobrol. Di situ kebetulan ada satu teman yang sebenarnya bayinya masih usia ASI, tapi dia tidak pumping seperti kami. Awalnya saya pun heran, kenapa kok tidak pumping? Padahal kalau sudah waktunya pumping tapi tidak di-pumping kan sakit ya. Jujur saya melihat tatapan sedih ketika dia melihat kami sedang pumping. Dia bercerita, sejak bayinya lahir sampai dengan saat itu usia si bayi menginjak 6 bulan, dia belum pernah menyusui bayinya. Bukan dia tidak mau, atau tidak ingin, karena naluri seorang ibu pasti menginginkan adanya bonding dengan anaknya, yang salah satu caranya dengan menyusui. Benar adanya, seorang ibu harus dalam keadaan bahagia, rileks, tidak dalam kondisi tertekan ketika menyusui. Namanya ibu baru, kalau belum luwes/lancar ketika menggendong atau menyusui ya wajar. Tapi tidak dengan si teman, dia tidak mendapatkan bimbingan yang layak tentang bagaimana seharusnya menyusui, menggendong, dan memperlakukan bayi, yang didapat justru ‘bullying‘ dari sang ibu, orang dekatnya sendiri. Dia dianggap belum siap menjadi ibu, karena menggendong/menyusui saja tidak tahu caranya. Duh, saya beneran sedih dengar ceritanya. Dan sudah bisa ditebak, perpaduan antara bingung, panik, sedih, dan tertekan itu menghasilkan kombinasi yang ‘sempurna’ tidak keluarnya air susu. Jangan ditanya sudah usaha apa saja yang sudah dijalani oleh si teman demi bisa menyusui bayinya, tapi kondisi psikis yang kurang kondusif dan tekanan yang dirasakan hampir setiap harinya menyebabkan ASI-nya malah tidak keluar sama sekali. Di situlah cerita berawal kenapa si bayi harus mengonsumsi susu formula sejak awal kehidupannya.

Pun ketika saya harus menjalani sectio ketika melahirkan Alea, ada beberapa teman yang menanyakan kenapa kok tidak melahirkan secara normal saja, kan lebih ‘bagus’. Bahkan ada yang bilang, seorang perempuan akan lebih sempurna ketika melahirkan secara normal. Duh! Andai riwayat kehamilan saya normal-normal saja, mungkin saya juga akan mengambil pilihan untuk melahirkan secara normal. Tapi kondisinya saya mengalami placenta previa, di mana plasenta bayi saya menutup jalan lahir. Jadi, gimana ceritanya saya mau ngotot ngeden kalau jalan lahirnya saja tertutup plasenta? Dengan kondisi yang force majeur seperti itu apa iya saya dianggap belum sempurna sebagai seorang perempuan hanya gara-gara saya melahirkan secara sectio? Padahal, apapun cara yang harus dijalani, setiap ibu adalah sejatinya wanita, karena mereka rela bertaruh nyawa untuk melahirkan buah hati mereka ke dunia.

There’s a story behind everything. Sudah saatnya kita menghentikan mommy wars dan mulai menyadari bahwa sebenarnya kita berada di sisi yang sama kok; kita pasti ingin memberikan yang terbaik untuk buah hati dan keluarga. Kalau setiap ibu punya treatment yang berbeda untuk bayinya ya wajar saja karena saya kondisi setiap bayi tidak sama, pun dengan situasi yang dihadapi oleh masing-masing ibu. Tanpa disadari, ketika kita menge-judge orang lain ini-itu lantaran dia tidak menjalankan hal yang ‘tidak seharusnya’ itu sama saja menyakiti orang lain karena bagaimanapun sudah melabel dengan asumsi tentang bagaimana sosok ‘ibu yang baik’ itu.

Masih banyak tugas besar yang harus kita jalani dalam mendidik dan membesarkan buah hati daripada sibuk berdebat dan saling membandingkan. Sometimes you know what path you’ll choose, but sometimes, you just make your choice and hope for the best. Apapun pilihan yang kita ambil semoga itulah yang terbaik untuk buah hati kita. Let’s love more, and judge less…

So, tetap semangat, Bunda!

[devieriana]

 

ilustrasi dipinjam dari sini

foto-foto tentang mommy wars bisa dilihat di sini

Continue Reading