Unspoken Love

Kalau ditanya paling dekat dengan Papa atau Mama, saya akan dengan mudah menjawab, Mama. Padahal kalau anak perempuan kan biasanya lebih dekat dengan ayah, daripada dengan ibunya, ya? Sebenarnya saya dekat-dekat saja sih dengan Papa, tapi mungkin karena Mama lebih banyak waktu di rumah dan jauh lebih komunikatif dengan anak-anaknya sehingga menjadikan kami bertiga lebih dekat dengan Mama daripada Papa.

Seperti tipikal ayah pada umumnya, Papa cenderung pendiam dan kurang ekspresif. Hampir tidak pernah secara terang-terangan bilang, “Papa sayang kalian…”. Beda dengan Mama, selain “lebih rame” juga ekspresif sekali. Kalau saya kebetulan pulang ke Surabaya, saya sengaja meluangkan waktu untuk ngobrol dengan Papa. Sekadar menanyakan tanaman-tanaman apa saja yang baru, kegiatan apa saja yang dilakukan Papa saat ini, dan koleksi perabotan apa saja yang sudah bertambah. Oh ya, Papa suka bercocok tanam, kadang sering diminta menjadi MC di beberapa resepsi perkawinan, dan beli pernak-pernik ini-itu untuk sekadar dikoleksi.

Waktu kami kecil dulu, Papa adalah orang yang paling sering memberikan hiburan. Membelikan kami kaset lagu, kaset Sanggar Cerita, buku cerita, dan majalah anak-anak. Belum lagi sebelum tidur, Papa selalu menyempatkan untuk mendongeng —selelah apapun beliau— walaupun tokohnya dari kancil ke kancil. Kancil yang dimodifikasilah. Tokoh kancil sering tiba-tiba dimunculkan walau itu di dongeng Cinderella sekalipun ;))

Kebiasaan saya dulu, sebelum tidur, selalu menyisipkan tangan saya diantara bantal dan leher Papa hingga saya tertidur. Nggak tahu kenapa bisa begitu, berasa hangat aja. Hanya Papa yang “tahan” lehernya saya pegangi selama tidur. Anggota keluarga yang lain? Boro-boro. Alasannya sih geli.

Ada hal lucu yang sampai sekarang masih saya ingat. Kata Papa, pernah suatu malam saya tiba-tiba terbangun dan membangunkan beliau hanya untuk menanyakan hal absurd macam ini, “Pa, kalau aku udah besar nanti aku bisa jadi peragawati, nggak?” Kalau saya pikir-pikir, buset, demi apa saya tanya begitu doang malam-malam? :)) Papa hanya tersenyum —kalau tidak boleh dikatakan menahan tawa— mengiyakan pertanyaan saya sambil menyuruh saya tidur lagi. Anehnya, habis itu saya melanjutkan tidur lagi dengan pulas. Jadi, ternyata saya ngelindur ;)).

Tumbuh sebagai anak sulung, perempuan pula, Papa selalu menjaga dan mengawal saya bak seorang bodyguard. Menjemput kalau saya pulang malam, sekalipun harus naik angkot. Motor kami habis dicuri maling, sehingga kemana-mana terpaksa harus naik angkutan umum.

Kami dulu juga pernah merasakan bagaimana sulitnya mendapatkan air karena aliran air dari PDAM mati total selama berhari-hari, dan kalau pun sempat menyala itu hanya beberapa jam habis itu mati lagi berhari-hari. Untuk memenuhi kebutuhan air, setiap malam terpaksa Papa mengambil air dengan menggunakan jerigen yang diangkut dengan menggunakan motor. Mengambil airnya pun tidak tanggung-tanggung, ke kantor beliau yang berjarak satu kilometer dari rumah. Sendirian Papa mengangkat jerigen, mengisi bak hingga penuh supaya besok kami bisa mandi, dan airnya bisa dipakai untuk kebutuhan sehari-hari. Itu dilakukan setiap hari mulai pukul 10 malam hingga pukul 2 dini hari tanpa mengeluh. Kalaupun Papa pernah terlihat meringis nyeri sambil memegang perut bagian bawah itu juga nyaris tidak pernah dikatakan secara langsung. Kami yang tanpa sengaja melihatnya.

Setelah saya pindah ke Jakarta, saya jadi jarang ngobrol lagi dengan Papa. Entah, rasanya nggak pernah kuat berlama-lama ngobrol dengan beliau, selalu ingin menangis. Seolah ada kerinduan yang terselip di setiap kata-kata yang terucap oleh beliau yang sengaja tidak diucapkan. Seperti halnya percakapan di telepon kapan hari.

Saya : Pa, sekarang Papa lega dong ya, Adek kan sudah dapat pekerjaan yang layak dan sesuai sama bidang pendidikannya di Bank Jatim, insyaallah sudah enak, ya? 🙂

Papa : iya, alhamdulillah.. Papa lega banget Adek kemarin lulus ujian masuk di sana. Papa bangga sama Adek, sama kamu, sama Echa. Doa Papa akhirnya satu persatu dikabulkan sama Allah….

Saya : mmh, emang Papa berdoa apa?

Papa : tiap malam Papa tahajud, berdoa buat kita sekeluarga, terutama buat kalian bertiga. Papa berdoa semoga kita diberikan kesehatan dan dijaga keselamatannya. Kamu dan Echa semoga hidup rukun bersama keluarga kalian dan segera diberikan momongan, Adek supaya diberikan pekerjaan yang tetap dan lebih baik daripada sebelumnya. Tiap malam Papa tahajud dan berdoa tanpa putus. Alhamdulillah satu-persatu doa Papa didengar dan dikabulkan sama Allah..

Saya : ….

Papa : lebaran nanti kamu pulang kan, Vi?

Saya : iya, insyaallah pulang, Pa… *menahan tangis*

 

“… I have learned over the years that love is sometimes unspoken. Love’s actions can speak louder than words. Unconditional love is often simple and unassuming. When you think about the men in your life, don’t think about the words they have spoken, but remember the love they have shown you in what they do and who they are….” – Anonymous

Terima kasih untuk semuanya ya, Pa. I love you.. :-* >:D<

[devieriana]

ilustrasi diambil dari sini

 

Continue Reading

Pencari Amal

Pernahkah pertanyaan dan doa kalian dijawab Tuhan hanya dalam beberapa jam saja sejak kalian mengucapkannya? Saya, kemarin malam..

Malam itu, saya bersama suami akan makan malam di daerah Tebet. Baru saja kami memarkir kendaraan di seberang tempat makan yang kami tuju, persis di samping pintu mobil sudah berjajar 3 bocah lelaki usia tanggung yang salah satunya menyodorkan kotak mirip kotak semir sepatu. Saya yang saat itu hanya menggunakan sandal jepit terpaksa menolak halus karena memang tidak butuh semir.

“Ya sudah Tante, kami boleh minta tolong belikan nasi sebungkus aja? Biar nanti kami makan bertiga…”, tutur anak lelaki yang paling kecil.

Mereka nampak kurus, kumal dan lusuh, mungkin karena sudah seharian di jalanan. Masing-masing memegang kotak kayu seukuran kardus sepatu, dengan baju yang sudah tidak jelas warnanya. Diam-diam saya merasa iba. Sudah berapa banyak orang yang menyemirkan sepatunya pada mereka hari ini? Sudah berapa lembar rupiah yang mereka dapatkan untuk menyambung hidup mereka hari ini? Tanpa berpikir lama, saya pun mengiyakan permintaan mereka untuk membelikan makan.

Suami saya lalu mengajak mereka untuk duduk, menanti nasi goreng yang kami pesankan untuk mereka. Saya belajar dari suami untuk tidak selalu memberi anak-anak jalanan itu uang. Kalau memang alasannya adalah untuk beli makan dan mereka lapar, belikanlah mereka makan. Karena kalau uang kadang belum tentu dibelikan makanan beneran.

Sesekali saya melihat mereka dari tempat duduk saya. Kebetulan mereka duduk terpisah dari kami lantaran tempat duduk yang ada di dalam sudah penuh, sehingga hanya tersisa tempat duduk di luar saja. Tapi tak apa yang penting mereka bisa menikmati makan malam dengan layak.

Ketika pesanan datang, mereka langsung menyantapnya dengan lahap sambil sesekali bergurau. Ya Allah, ternyata mereka lapar beneran.

Seusai makan, saya menghampiri mereka. “Kalian sudah selesai makannya?” tanya saya. “Sudah, Tante, terima kasih. Makan malamnya, enak…” jawab salah satu dari mereka dengan wajah sumringah. Saya tersenyum, mengangguk, sambil melirik ke arah piring mereka yang bersih.

Sambil menunggu suami saya selesai makan, saya mengambil duduk di samping mereka.

Saya : “kalian sekolah, nggak?”
Mereka : “sekolah, Tante. Tapi lagi libur..”
Saya : “oh, iya, lagi libur sekolah, ya? Kalian kelas berapa aja?”
Anak 1 : “saya kelas 2 SMP, Tante..”
Anak 2 : “kalau saya kelas 3 SMP, Tante..”
Anak 3 : “saya baru lulus SMP, Tante..”
Saya : “kamu nerusin sekolah, nggak?”
Anak 3 : “nerusin, Tante.. :)”
Saya : “wah, kalian hebat deh, masih ada semangat buat sekolah… Jarang-jarang lho ada anak-anak yang hidupnya di jalanan kaya kalian tapi masih punya semangat buat menuntut ilmu. Eh, bentar ya, Tante bayar ke kasir dulu. Kalian tunggu disini..”

Selesai membayar di kasir saya pun kembali ke meja mereka. Mendadak yang paling kecil berkata:

Anak 1 : “Tante, kami boleh minta tolong lagi, nggak?”

Dua anak lainnya duduk menunduk mendekap kotak kayu masing-masing sambil menyenggol kaki anak yang yang paling muda itu. Mungkin maksudnya mencegah dia bilang sesuatu. Tapi yang dikode sepertinya tidak sadar atau mungkin tidak mengacuhkan kode kedua temannya itu.

Saya : “Ya, apa?”
Anak 1 : “Mmmh, Tante, boleh nggak kami minta tolong dibelikan buku tulis buat sekolah?”

Keharuan langsung menyeruak dalam hati saya. Ya Allah, baru saja tadi sore ketika saya menyusuri beberapa linimasa Twitter yang concern dengan masalah sosial, saya mengucapkan sebuah pertanyaan sekaligus doa:

“Ya Allah, kapan ya saya bisa ikut membantu anak-anak yang kurang mampu tapi masih punya semangat untuk sekolah?”

Ternyata dalam waktu yang tak berapa lama Tuhan langsung menghadirkan ke hadapan kami bukan hanya 1, tapi 3 anak yang masih punya semangat sekolah tapi kurang ada biaya. Tanpa menunda waktu lagi, saya langsung mengiyakan permintaan mereka. Kami pun langsung menuju ke salah satu supermarket terdekat dan membiarkan mereka memilih apa yang mereka perlukan.

Namun sesampainya kami di tempat tujuan, mereka justru saling berpandangan ragu.

Saya : “lho, kok malah bengong? Kalian pilih apa saja yang kalian butuhkan. Buku, alat tulis?”
Anak 3 : “ini aja, Tante. Satu pak buku tulis aja udah cukup, nanti kami bagi bertiga..”
Saya : “lah, satu pak kan cuma isi 10, kalau dibagi bertiga kalian masing-masing hanya akan dapat 3 buku tulis. Ya nggak cukup dong, Sayang. Ya udah ambil buat masing-masing, gih..”

Saya mengambilkan masing-masing 1 pak buku tulis, alat tulis, dan sebuah buku gambar ukuran A3 buat anak yang paling kecil, karena katanya dia sangat suka menggambar. Ketika saya menawarkan untuk membeli keperluan sekolah lainnya, jawaban mereka, “sudah Tante, terima kasih, ini saja sudah cukup kok. Kami sebenernya cuma butuh buku tulis saja..”

Seusai membayar semuanya di kasir, ketika akan menuju ke parkiran, sambil merangkul bahu anak yang paling kecil:

Saya : “nama kamu siapa?”
Anak 1 : “Dindin, Tante..”
Saya :“kalau yang 2 itu siapa aja namanya?”
Anak 1 :“itu Adis sama Firman..”
Saya :“kalian satu sekolah?”
Dindin :“iya, mereka kakak kelas saya..”
Saya :“oh.. kalian sekolah dimana?”
Dindin : “di Perguruan Rakyat 1, Tante..”
Saya :“masuk pagi atau siang?”
Dindin :“siang..”
Saya :“Kamu tiap hari nyemir sepatu?”
Dindin :“Kami bukan nyemir sepatu, Tante..”
Saya :“lha, kotak yang kalian bawa itu tadi apa?”
Dindin :“itu kotak amal buat musala, Tante. Kami mencari infaq dan sedekah untuk musala kami..”

Mak jleb! Ya Allah, ternyata kotak yang semula saya pikir itu adalah kotak semir sepatu adalah kotak amal untuk musala yang mereka edarkan untuk diisi oleh siapa saja yang mau bersedekah? Mata saya menghangat. Air mata saya langsung menggenang.

Tahu nggak sih bagaimana rasanya ketika di akhir-akhir peristiwa kalian baru tahu kalau yang kalian bantu itu ternyata anak-anak mulia yang bergerak di jalan agama, bukan meminta uang untuk mengemis?

Firman : “Oom, Tante, nanti kami turun di tempat yang tadi aja ya. Karena kami harus mencari 1 orang teman yang lain sebelum kami pulang, dia terpisah dari kami tadi…”
Suami: “rumah kalian di mana? biar sekalian kita anter..”
Mereka : “di daerah Kampung Pulo, Oom.. Terima kasih, Oom. Nggak usah. Nanti kami pulang naik ojek saja.”

Berhubung mereka masih harus mencari teman yang lain, terpaksa mereka kami turunkan persis di tempat kami bertemu tadi. Sebelum berpisah, satu persatu mereka berpamitan dan mencium tangan saya. Wajah mereka terlihat sumringah walaupun ada gurat lelah yang tak mampu mereka sembunyikan.

Saya menggenggamkan beberapa lembar rupiah ke tangan Dindin. Ini buat kalian pulang ya. Hati-hati di jalan. Salam buat teman kalian yang satu lagi ya…”, bisik saya sambil setengah mati menahan air mata supaya tidak jatuh.

Setelah sesi perpisahan yang mengharukan itu, tangis saya pun akhirnya tak terbendung lagi. Tak disangka bahwa Allah mendengar dan mengabulkan doa saya begitu cepat. Allah bekerja melalui jalan yang benar-benar misterius, karena awalnya kami sempat berniat akan makan di daerah Megaria, tapi entah kenapa justru mengarahkan tujuan kami menuju Tebet, sehingga mempertemukan kami dengan 3 pengedar kotak amal bernama Dindin, Adis, dan Firman tadi.

Sambil mengelus kepala saya, suami berkata, “bersyukur bahwa kita masih diberikan kesempatan berbagi. Kalau soal rezeki insyaallah masih bisa kita cari. Semoga apa yang sudah kamu berikan malam ini berkah buat mereka ya…”

Saya mengangguk pelan sambil menyeka air mata yang tak henti-henti mengalir. Kami pun menyusuri jalanan yang mulai lengang dalam keheningan masing-masing.

Dalam hati saya berdoa, “semoga Allah melindungi kalian bertiga hingga sampai dengan selamat di rumah dan bertemu kembali dengan keluarga, ya. Aamiin…”

 

[devieriana]

Continue Reading

The Living Legend : Pak Raden

Sebagai generasi jaman TVRI yang hiburan untuk anak setiap hari Minggu cuma si Unyil dan beberapa film kartun, memang mau tidak mau ya tontonannya itu. Dinikmati sebosannya karena adanya cuma itu, belum ada stasiun TV swasta seperti sekarang. Jauh berbeda dengan dunia hiburan anak jaman sekarang yang lebih variatif dan modern. Tapi jika diperhatikan, sampai sekarang belum ada lho film dan tokoh rekaan yang begitu dicintai dan hidup hingga berpuluh tahun seperti Unyil dan kawan-kawan. Boleh dikatakan film Si Unyil adalah film boneka yang paling legendaris.

Nah, kalau bicara tentang Si Unyil pasti tidak akan lepas dengan sosok bapak-bapak Jawa, galak, berkumis tebal, menggunakan beskap, kain panjang, dan tak lupa blangkon. Ya, dia adalah Drs. Suyadi atau yang lebih dikenal dengan Pak Raden (Raden Mas Suryomenggolo Jalmowono) :D. Walaupun kalau di film galak tapi aslinya dia pecinta anak-anak lho. Film Si Unyil tanpa Pak Raden itu seperti sayur tanpa garam. Anyep!

Nah, hari Sabtu tanggal 25 Juni 2011, pukul 11.00 wib, bertempat di fX Sudirman, berlangsung sebuah acara yang bertajuk #PeduliPakRaden : “Kirim Cinta dengan Dongeng Untuk Anak Indonesia”. Acara ini hasil kerja sama antara Sekolah Cikal dan Rumah Main Cikal, fX Plaza, Female Radio, dan Indonesia Bercerita. Inti acara ini adalah untuk menunjukkan kepedulian kita terhadap sosok Pak Raden yang direntang usianya yang sudah tidak muda lagi (lahir di Puger, Jember, 28 November 1932) dan kesehatannya sudah tidak seprima dulu, beliau memang sedang membutuhkan bantuan dana untuk pengobatan kesehatannya.

Aha! Akhirnya saya bisa bertemu langsung, bersalaman, ngobrol sebentar, memeluk, bahkan berfoto bersama tokoh galak ngangenin yang pintar melukis dan mendongeng itu! Saya melihat beliau sedang duduk di deretan kursi panitia dan undangan. Sosoknya masih tetap sama seperti dulu, perawakan agak gemuk, memakai beskap, dan tak pernah lupa kumis artificial dan blangkon khas yang menunjang karakternya.

Namun, ketika beliau diundang untuk maju ke depan dan mulai mendongeng di sesi terakhir, saya merasa sedikit trenyuh. Untuk berjalan menuju tempat duduk yang telah disediakan di depan panggung itu, yang jaraknya sekitar 2 meteran, beliau harus dituntun dan berjalan agak tertatih-tatih, rematik. Ternyata bukan hanya tokoh boneka Pak Radennya saja yang dulu berkeluhan encok/rematiknya kumat, beliau sendiri juga mengalaminya. Saya melirik ke sebuah sudut depan panggung. Ada sebuah kursi roda yang bertuliskan “Pak Raden”. Di usianya yang hampir menginjak 80 tahun dan kondisi kesehatan yang mulai naik turun beliau memang memerlukan kursi roda untuk membantu mobilitasnya yang tak lagi gesit.

Singkat cerita, saya bersama teman-teman dari Indonesia Bercerita (Jakarta) hadir bukan hanya untuk sekedar menyaksikan acara yang dipenuhi oleh anak-anak berbagai usia itu, tapi juga melihat secara langsung bagaimana konsep mendongeng yang “seru” dan bisa menarik minat anak-anak. Saya yang masih sangat amatir di bidang dongeng jelas merasa mendapat banyak ilmu langsung dari masternya pendongeng yaitu Pak Raden, dan menyaksikan live performance menakjubkan dari Mbak Poetri Soehendro yang mendongeng dengan sangat atraktif.


Oh ya, sebagai pendongeng, Pak Raden punya ciri khas mendongeng sambil menggambar. Bisa dikatakan beliaulah pendongeng pertama di Indonesia, atau bahkan di Asia, yang menuturkan kisah dongeng sambil menggambar. Ada hal menarik yang disampaikan oleh Pak Raden, ketika ditanya mengapa dia lebih suka mendongeng sambil menggambar?

“Ya, biar anak-anak mendapatkan gambaran langsung tentang dongeng apa yang sedang diceritakan..”

Hmm, benar juga ya. Kadang anak-anak butuh penggambaran yang lebih jelas tentang jalannya sebuah cerita, jadi bukan hanya sekedar membayangkan dan mereka-reka. Oh ya, tentu kita masih ingat kan, kalau Pak Raden ini selain pendongeng juga seorang ilustrator dan pelukis handal? Ya, di rumahnya di area Petamburan kita bisa menemukan berbagai lukisan yang merupakan hasil kreatifitas tangan senimannya.

“Semua orang bisa jadi pendongeng. Tapi yang lebih penting adalah, cintai dulu siapa yang akan kita dongengi. Nah, siapa saja mereka? Ya anak-anak ini..”, tuturnya menjawab pertanyaan tentang bagaimana menjadi seorang pendongeng yang baik, sambil menunjuk ke arah puluhan anak yang mengerumuninya sebelum acara mendongeng dimulai.

Ah, betul sekali. Mendongeng dari hati. Mendongeng bukan hanya sekedar aktivitas menyampaikan sebuah cerita. Bukan hanya membacakan dongeng hingga anak tertidur. Tapi lebih dari itu, ada sebuah komunikasi dan pesan yang coba dibangun melalui dongeng itu sendiri. Akan terasa berbeda rasanya ketika mendengarkan dongeng yang disampaikan ala kadarnya (hanya membaca) dan yang disampaikan secara tulus (menjiwai). Ada ya mendongeng dengan tulus? Ada, saya menemukan dan melihatnya langsung dalam sosok Pak Raden ketika siang itu beliau mendongeng di depan puluhan anak kecil.

Beliau membawa boneka Pak Raden, Melani, Orang Gila, dan beberapa karakter boneka lainnya untuk mendukung dongeng yang akan dibawakan. Anak-anak lucu itu langsung berkerumun di sekeliling Pak Raden. Bagi mereka yang bukan hidup di jaman Si Unyil masih populer dulu, tentu merupakan hal yang menakjubkan. Tapi buat Papa Mama-nya tentu ini merupakan sesi nostalgia masa kecil ya :D. Pak Raden bukan hanya bercerita melalui boneka-boneka tangan tapi juga menulis sendiri dongenganya serta menggambarnya langsung di atas white board.

Satu hal yang saya pelajari hari itu. Jika ingin serius menjadi seorang pendongeng yang berhasil menyedot perhatian dan antusiasme anak-anak adalah dengan cara membaur dengan mereka, menghapus jarak,”ngemong”, dan jangan jaim. Tanpa mengecilkan pendongeng-pendongeng lainnya yang sudah ada, untuk semua hal diatas kita harus mengakui bahwa Pak Raden masih tetap maestronya hingga saat ini!

Di akhir pertemuan saya dengan beliau, saya bisikkan di telinga pria berjulukan “kakek sejuta cucu” itu :

“Pak, saya senang bertemu dengan idola masa kecil saya dulu. Tetap sehat ya, Pak. Sehingga Pak Raden tetap bisa berkreasi terutama untuk dunia anak-anak..”

Beliau pun mengangguk, tersenyum, sembari menepuk lengan saya, matanya terlihat sedikit berkaca-kaca. Kami pun berpelukan sebentar. Tak terasa saya pun larut dalam suasana haru dan ikut menitikkan air mata 🙁

Sampai ketemu di lain kesempatan ya, Pak. Semoga Tuhan menjaga serta senantiasa memberikan kesehatan dan usia yang panjang untuk Pak Raden. Doa kami, anak-anak Indonesia, teriring untuk Pak Raden, our living legend 🙂

[devieriana]

 

dokumentasi pribadi

Continue Reading

Berbagi Cerita dan Cinta

Hari Minggu tanggal 19 Juni 2011 kemarin bertepatan dengan kegiatan pertama tim Indonesia Bercerita Jakarta. Setelah meeting di Anomali Coffee di hari Jumatnya, kami pun berencana untuk mengadakan acara di sebuah pesantren yang bernama Missi Islam Pusat Jakarta di daerah Rawa Badak Selatan, Koja – Jakarta Utara. Lumayan jauh sih ya, ujung ke ujung karena saya pas berangkat dari rumah mertua saya di daerah Cipayung Jakarta Timur. Pondok pesantren Missi Islam Pusat Jakarta ini menyelenggarakan pendidikan pesantren bagi kaum dhuafa dan yatim piatu secara gratis sejak tahun 1983 dan masih tetap terselenggara hingga kini. Nah, kegiatan kami disana adalah untuk mendongeng sekaligus memberikan hiburan berupa workshop sederhana kepada para santri disana untuk berkreasi membuat dongeng. Ya, itung-itung sambil mengolah imajinasi mereka, gitulah..

Ini adalah kali pertama saya berkunjung ke pesantren. Kami berangkat sekitar pukul 08.30 wib lokasi acara. Karena pesantren yang akan kami kunjungi ini lokasinya agak masuk, terselip  di tengah pemukiman padat penduduk, mobil kami harus parkir jauh di ujung gang karena memang kendaraan tidak bisa masuk ke gang sesempit itu. Tapi entah bagaimana caranya tiba-tiba si Hubby sudah memarkir mobil kami persis di halaman pesantren. Mungkin dia menerbangkan mobil kami ;)).

Pesantren Missi Islam Pusat Jakarta ini sudah berdiri sejak tahun 1983. Oh ya, pesantren ini membiayai seluruh kegiatan operasionalnya secara mandiri dengan pembiayaan infak yang di kelola dari jamaah, pengajian-pengajian, dan para simpatisan. Jadi kalau masih banyak kekurangannya ya wajar, lha wong tidak ada dana :(. Guru yang mengajar disini juga dibiayai dari sumber dana yang sama. Kata si Bapak yang menemui kami kemarin, kurikulum pendidikan yang diajarkan disana adalah murni 100% kurikulum Islam dengan pembinaan aqidah dan akhlak, ada juga kurikulum tambahan mata pelajaran umum seperti matematika, biologi, kimia, fisika dan bahasa Inggris tapi sayang tidak ada gurunya. Katanya sih ada beberapa yang sempat mengajar, tapi seringnya tidak datang mengajar. Entahlah, apa karena waktu mereka yang berbenturan dengan hal lain, atau karena (hanya) dibayar secara sukarela.

Begitu masuk kita sudah dihadapkan dengan pemandangan yang sedikit kumuh. Bangunan 2 tingkat itu semacam bangunan semi permanen, campuran antara tembok dan papan (triplek). Di bawah, ada sebuah ruang yang sedikit lebih besar yang difungsikan sebagai ruang serbaguna. Jika waktu shalat telah tiba ruang tersebut difungsikan sebagai masjid, di lain waktu juga difungsikan sebagai kelas untuk belajar para santri, namun jika sedang ada acara seperti sekarang juga digunakan sebagai ruang pertemuan. Ada hal yang sedikit memprihatinkan, ketika ruangan itu difungsikan sebagai tempat belajar, pemisah “kelas”-nya hanyalah sebuah papan setingi kurang lebih 1,5 meter yang tentu saja jika proses pembelajaran sedang berlangsung di “kelas” sebelah, pasti akan terdengar oleh murid di “kelas” sebelahnya. Bersyukurlah kita yang dulu menjalani proses pendidikan di ruangan dan kondisi wajar dan nyaman.

Kami mendongeng di antara sekat pembatas santri putra dan putri. Kami membawakan dongeng fabel yang berjudul Bella Si Kupu-Kupu. Jumlah santri yang mengikuti kegiatan ini sekitar 37 orang dengan range usia antara 8-12 tahun. Ketika melihat mereka jujur hati saya trenyuh. Baju yang mereka pakai kebanyakan sudah kumal dan kusam, warna putihnya pun sudah pudar :(. Namun semua itu tak melunturkan semangat mereka untuk mengikuti acara kami hingga selesai. Mereka mendengarkan dongeng kami dengan antusias. Ya walaupun sesekali terdengar becandaan di sana-sini tapi secara keseluruhan saya melihat antusiasme mereka mengikuti kegiatan ini adalah karena mereka menganggap ini adalah sebuah kegiatan baru bagi mereka.

Seusai sesi mendongeng, kami pun mulai membagi mereka dalam beberapa kelompok kecil untuk selanjutnya bekerjasama untuk mengkreasikan sebuah dongeng baru ala mereka. Kami membagikan kertas HVS, kertas warna, krayon, pensil, penghapus, dan spidol. Jujur saya sempat meragukan kemampuan mereka dalam mengolah kata, apalagi berimajinasi membuat dongeng. Dengan melihat lingkungan di sekitar tempat tinggal mereka sepertinya kurang memberikan ruang dan kesempatan bagi anak-anak untuk mengembangkan diri apalagi berimajinasi dan berkreativitas. Hmm.. 😕

Namun di akhir sesi mengarang bebas itu, tak disangka-sangka, mereka yang awalnya tampil dan berinteraksi secara malu-malu, ternyata ketika diberi kesempatan untuk maju membawakan dongeng kreasi mereka hasilnya bagus-bagus lho. Mereka bukan hanya mampu membuat dongeng fabel, tapi sebagian besar juga menggabungkannya dengan kutipan ayat-ayat Qur’an/hadist. Pantas saja ketika kami mendongeng, beberapa diantara mereka ternyata bukan hanya sekedar mendengarkan kami mendongeng, tapi juga mengerutkan dahi mengingat-ingat dan saling bertanya pada rekan disebelahnya tentang hubungannya dengan ayat Qur’an beserta artinya. Subhanallah.. Ah, saya jadi merasa kecil dan bersalah sudah underestimate duluan sama mereka.. 🙁

Kami mengakhiri aktivitas hari itu dengan mengumumkan kelompok favorit yang berhasil mebawakan dongeng dengan baik dan memberikan mereka hadiah tambahan selain goodie bag yang berisi perlengkapan sekolah berupa buku dan alat tulis yang kami bagikan ke seluruh peserta workshop hari itu.Ternyata pemberian sederhana kami itu disambut dengan senang hati dan antusias oleh mereka. Oh ya, saya yang kapan hari sempat beli buku dongeng yang entahlah mungkin sayanya yang impulsive, dan belum sempat saya baca, akhirnya saya serahkan buku itu sebagai kenang-kenangan dan bahan hiburan/bacaan bagi mereka.

Alhamdulillah, ternyata saya dan juga teman-teman yang tergabung dalam @IDceritaJKT masih diberikan kesempatan oleh Tuhan untuk berbagi ilmu, keceriaan, dan sedikit rezeki dengan kaum dhuafa dan yatim piatu .. :). Semoga akan ada banyak kegiatan kreatif dan positif bersama anak-anak lainnya di lain waktu dan kesempatan 🙂

[devieriana]

 

 

dokumentasi pribadi

Continue Reading

Setengah Windu

Sebenarnya postingan istimewa ini terlambat satu hari. Ya, seharusnya postingan ini saya buat kemarin, tepat di hari ulang tahun pernikahan saya yang ke-4 :D. Tapi apa daya, kemarin adalah hari yang sibuk untuk saya. Mulai jam 08.00 – 11.00 harus sudah stand by untuk mempersiapkan sekaligus bertugas sebagai MC pada acara pelantikan pejabat eselon II dan IV di lingkungan Sekretariat Wakil Presiden (berdiri kelamaan itu pegel :-s). Sesampainya di kantor berkas sudah menggunung untuk menunggu penanganan. Sore/malamnya pun jadwal lain sudah menunggu. Meeting bersama @IDceritaJKT di Anomali Coffee sekaligus penyerahan hadiah yang kemarin \:D/. Pffiuh.. Sedikit capek sih, tapi menyenangkan.. 🙂

Seperti tahun-tahun sebelumnya, sms ucapan pertama datang dari Mama mewakili Papa dan adik-adik. Ucapannya walaupun nyaris sama dengan tahun-tahun sebelumnya tapi selalu bisa bikin saya mewek terharu. Biasalah, saya kan emang orangnya gampang terharu :D.

Di usia pernikahan saya yang telah memasuki setengah windu ini saya melihat ada banyak perubahan nyata dalam diri saya maupun Hubby. Semoga sih mengarah ke yang lebih baik ya. Tapi kami masih terus saling belajar memahami diri masing-masing.

Memang benar apa yang orang sering katakan. Tuhan bekerja dengan cara dan bahasa yang misterius. Kadang apa yang kita inginkan belum tentu itu yang akan diberikan. Tapi Dia selalu tepat ketika memberikan apa yang sesungguhnya kita butuhkan. Nah, apakah itu juga terjadi pada saya? Sepertinya iya..

Kalau diperhatikan, saya dan Hubby sekarang lebih saling melengkapi. Tuhan memberikan keseimbangan buat kami, diantaranya :

1. Si Hubby aslinya pendiam dan serius. Nah (seharusnya) dia merasa beruntung mendapatkan saya yang suka becanda, konyol dan yang senang menularkan hal-hal absurd, ya :p. Terbukti dia sekarang sudah tidak sependiam dan seserius dulu lagi. Sekarang dia tumbuh menjadi hubby yang lucu dan tertular absurd \m/. Dulu nih ya, kalau dia lagi berdiri/duduk dekat tembok, tembok aja sampai minder karena kalah diem sama dia. Nah sekarang tembok sudah boleh berlega hati karena saingannya sudah berkurang satu ;)). Ah ya, semoga Hubby nggak baca postingan ini.. *ngaduk semen*

2. Buat saya yang buta jalan peta dan tukang nyasar merasa beruntung mendapatkan dia yang mirip peta. Bukan, bukan mukanya! Tapi pengetahuan dan ingatannya tentang jalanan. Kalau mukanya yang kaya peta, berasa saya menikahi buku atlas dong. Nah, gara-gara saya bego banget soal jalanan dia nggak pernah bosen buat menginstalkan google maps di setiap handphone saya. Hasilnya? Saya sudah jarang nyasar dong.. \:D/. “Jarang” itu dalam artian sesekali masih nyasar ya.. ;))

3. Hubby orangnya sangat well organized, ketika akan membuat keputusan atau sedang merencanakan sesuatu benar-benar disusun secara hati-hati dan penuh perhitungan. Sementara saya orangnya agak-agak slonong boy, on the spot aja gitu. Jadi untuk hal ini saya merasa beruntung karena bisa belajar keteraturan dari dia. Contohnya saja rencana mudik lebaran ke Surabaya. Saya cenderung mikir cari tiket nantilah sebulan atau dua bulan sebelum hari raya. Kalau dia, sudah direncanakan sejak awal tahun. Dia juga sudah tahu kapan dia akan mulai mengambil cuti, berapa biaya yang kira-kira akan kita butuhkan, dll. Saya? Eerrr.. Boro-boro 😐 *milin-milin karpet*

4. Hubby termasuk orang yang telaten. Sementara saya adalah kebalikannya. Dia cenderung menikmati alur sebuah proses. Sementara saya orangnya suka gradak-gruduk. Maunya serba instant, serba cepat, nggak pakai lama. Tapi makin kesini saya melihat ternyata ketelatenan dia justru yang ada hasil konkretnya. Sepertinya saya harus banyak belajar sabar dan telaten sama dia 😀 Hubby termasuk juga yang sabar menunggu saya ketika saya sedang ada kegiatan di luar, misal meeting dengan komunitas saya. Dia juga mau mengantar dan menjemput bahkan pernah dia pulang kantor dan langsung menjemput saya trus menunggu di mobil sampai ketiduran, hihihi.. >:D<.

Sebenarnya sih ada beberapa hal lainnya yang ternyata saling menyeimbangkan diantara kami. Memang pernikahan kami baru seumur jagung. Masih banyak hal yang perlu kami benahi. Ada banyak rencana dan mimpi yang sedang berusaha kami wujudkan satu persatu. Semoga ada jalan terbuka yang mengarah kesana. Aamiin..

 

Dear Hubito, thanks for all experiences we did (happy and sad). Thanks for your acceptance and support on my undertakings. Thanks for the shoulder to cry on defeats. Thanks for filling my shortcomings. Thanks for the cheer on triumph and success. Last but not least, thanks for growing and learning each day with me.

 

 

I love you.. :-*

 

[devieriana]

 

ilustrasi : disini dan koleksi pribadi

Continue Reading
1 3 4 5 6 7 11