Rupiah Diantara Seblakan Sampur ..

penari

Penari-penari itu melenggak-lenggokkan pinggulnya di tengah iringan gamelan jawa sambil sesekali menyibakkan sampur (selendang) ke kiri & kekanan. Make up-nya sedikit tebal mirip make up panggung, rambutnya disasak lengkap dengan sanggul & sunggar, pakaiannya terdiri dari kemben & kain panjang. Ditengah terik matahari & dinginnya malam mereka terus menari diiringi gamelan yang dibunyikan oleh tape dengan gerakan seadanya. Mereka cantik & luwes.. Namun sayangnya mereka bukan seniman tobong yang sedang mementaskan tari di sebuah panggung. Panggung mereka bahkan terlalu luas & besar. Panggung mereka adalah jalan raya yang berdebu, penonton mereka adalah orang yang tengah makan di pinggir jalan, tukang ojek, kenek & sopir bus kota, penumpang yang menunggu bus di halte, tukang becak, mbok jamu, dan berbagai kelas masyarakat lainnya. Panggung yang berkelas? Pasti bukan..

Tak jarang bukan uang yang mereka dapatkan, melainkan sindiran, cemoohan, atau tatapan sinis. Hujan, panas, siang, malam, mereka lalui dengan konsisten. Mereka jalani kehidupan mereka sebagai seorang penari jalanan. Melihat mereka berjuang, bergulat dengan lenguh napas metropolitan ini rasanya terlalu naif jika tidak menghargai keberadaan mereka. Sama halnya dengan kaum pendatang di Jakarta, mereka ingin tetap survive. Apapun akan mereka jalani selama itu halal. Menari dengan kostum ribet, tak masalah jika memang itu yang harus mereka lakukan untuk menyambung hidup. Siapa suruh datang Jakarta, begitu syair sebuah lagu. Jika memang hidup di tengah belantara Jakarta sebagai sebuah pilihan, survive adalah sebuah jawaban.

Sebagai seorang (mantan) penari saya sedikit banyak paham dengan gerakan-gerakan mereka. Kadang memang sangat jauh dari pakem, sekedar goyang, seblak sampur, pacak gulu, sudah itu saja. Tapi apalah arti pakem jika toh orang yang menontonnya tidak banyak yang tahu tentang apa itu pakem tari tradisonal Jawa, bagaimana & berapa ketukan ketika mereka harus membawakannya. Tahunya penonton ya mereka dihibur dengan lenggokan tubuh penarinya & irama gamelan. Itu saja. Syukur-syukur kalau endingnya dikasih uang, kalau tidak.. ya sudah, life must go on, kan? So, masih pentingkah gerakan sesuai pakem itu? Ada segelintir orang yang berkedok sebagai penari tradisional jalanan tapi ternyata hanya sebatas “bungkusnya” saja namun gerakannya sangat erotis, nyata-nyata malah melecehkan busana tradisional yang dikenakannya. Sedih nggak sih? Tapi semoga itu hanya sebagian kecil saja yang mengatasnamakan penari tradisional jalanan padahal tarian mereka erotis.. *sigh*

Jika melihat mereka yang tampil secara berkelompok, kemana-mana berduyun-duyun kesana kemari dengan kostum yang eye catching, apa yang ada di pikiran Anda? Kalau saya jujur kasihan sekaligus salut. Kasian karena saya yakin mereka tidak punya pilihan & kemampuan lain untuk bisa terus bertahan hidup di Jakarta. Kalau mereka punya keahlian lain pastinya mereka akan memilih untuk tidak hidup dijalanan seperti itu. Salut karena semangat hidupnya yang harus mengalahkan gengsi & rasa malunya untuk menangguk rupiah guna bertahan hidup di ibukota.

Uniknya saya seringnya justru menikmati “tontonan” itu sebagai hiburan tersendiri, hiburan batin mungkin ya. Walaupun banyak yang komentar sinis,  

“halaah, tarian begitu apa bagusnya sih Dev? Mending kalo bisa menghibur. Ngeliatnya aja gue eneg, lenggok sana, lenggok sini. kalau sekedar kaya begitu sih gue juga bisa. Kalo lo mau liat yang lebih bagus mending ke daerah aslinya aja sana ke Jawa Tengah, atau kalau mau yang jaipong mending ke Jawa Barat sana. Atau kalo mau yang deket bisa ke Taman Mini..”.

Oh, emang harus begitukah? Oke kamu juga bisa kalau hanya sekedar lenggak lenggok badan. Masalahnya, mau nggak? berani nggak menjalani hidup seperti mereka? Kok saya lebih melihat jauh daripada hanya sekedar lenggak-lenggok tubuh ya.. Apapun, bukan hal yang mudah untuk mengalahkan gengsi, apalagi untuk berjuang & bertahan hidup di Jakarta. Semua serba multiple choice. Soal pekerjaan apa yang akan dipilih itu juga salah satu pilihan hidup. Mau jadi kriminal, orang baik-baik, kuli, pekerja kantoran, wiraswasta.. whatever,  it’s all about choice..

[youtube=http://www.youtube.com/watch?v=mTp-OxfkCao&hl=en&fs=1&rel=0]

 

gambar dari sini

Continue Reading

Why Manohara?

Popularitas wanita satu ini langsung melesat jauh bak meteor ketika kasus KDRT-nya bersama pangeran dari negeri Kelantan – Malaysia di over exposed oleh media beberapa waktu yang lalu. Ya siapa lagi kalau bukan Manohara Odelia Pinot, sang model asal Indonesia yang dipersunting keluarga kesultanan Kelantan, Tengku Mohd Fahri. Semua pasti sudah tahu kan ceritanya kaya apa. Mau beneran kaya gitu atau enggak bener samasekali terserahlah ya.. Only God knows.

Sejak nama Manohara booming, apapun yang dikenakan selalu dipastikan jadi sorotan. Mulai tas, baju, kacamata, sepatu, kebaya. Apapun. Singkat kata Manohara sudah jadi salah satu icon & trendsetter mode di Indonesia. Apapun yang dipakai Manohara bisa jadi “produk unggulan” yang menghasilkan pundi-pundi rupiah terutama bagi yang memiliki bisnis tertentu. Manohara awalnya dikenal dengan tas Red Hermes, Birkin & tas-tas model besar lainnya yang notabene harganya dalam digit juta. Sejak saat itu marak di pasaran istilah “tas Manohara”. Omaigat.. Pernah iseng saya tanya ke penjual,

“tas Manohara kaya apa sih pak?”.
“Oh, tas-tas besar kaya gini lho Non..” –> eh seneng deh dipanggil Non 😀
“ooh…(kok gak mirip yah?) “, batin saya. “Jadi, cuma karena tasnya modelnya besar gitu?”
“ya kurang lebih modelnya kaya beginilah Non..”

Oalah.. kok jauh ya.. Hermes lho yaaa.. Hermes yang aslinya dihargai sekitar 40 juta itu , ternyata di pasaran cuma dijual bisa kisaran ratusan ribu rupiah (kalau mau yang 50 ribuan juga banyak kok). Saya bukan golongan kaum socialite atau Social Climber ya tapi masih ngertilah barang-barang branded macam itu.

Belum habis masalah tas Manohara, menjelang hari raya ini pasar disibukkan dengan menjual produk dengan label baru yaitu jilbab & mukena Manohara. Hmm, ini model kaya apa lagi nih? Jilbab Manohara itu yang kaya gimana sih? Kan Manohara gak berjilbab.. Trus apalagi itu, mukena Manohara. Emang dia pernah difoto lagi shalat dengan mukena model tertentukah, sehingga modelnya bisa ditiru untuk dipopulerkan ke masyarakat? Telusur punya telusur ternyata itu semua cuma masalah pelabelan alias branding.

Masih ingat kan jaman sinetron Tersanjung beberapa tahun yang lalu? Dimana semua brand berlabel Tersanjung. Mulai tas, tshirt, kemeja, topi. Mending kalau pemilihan hurufnya classy gitu ya, ini enggak tuh. Bukan berarti kalaupun diganti font-nya trus saya beli ya, enggak juga. Jujur, ngeliat aja saya udah ogah, apalagi beli. Gak banget deh. Oya, masih ada lagi, mukena Krisdayanti. Hoalah, apa lagi itu? Ya mukena merknya Krisdayanti. Hubungannya sama Krisdayanti apa? Bikinan dia? Terinspirasi dari dia? Enggak.. ya pengen aja kasih label itu. Ngakak gak sih? 😀

Jaman berulang lagi ke Manohara. Bukan hanya brand untuk fashion atau tas ya. Pelabelan manohara ini sekarang sudah masuk ke menu makanan lho. Kalau kapan hari kita sudah mendengar  tentang ayam goreng/bakar Manohara, nah kemarin saya baru denger yang namanya Es Manohara. Wooiyah, es sebangsa apakah itu? Halah, Es Campur bo’.. es campur buah gitu. Heran ya, kayanya dulu Manohara gak pernah jualan es kenapa sekarang jadi salah satu merk culinary ya?

Orang Indonesia itu pinter menggunakan peluang bisnis. Apa yang lagi trend saat itu langsung dibuat KW1 dst-nya, dilempar ke pasaran.. voilla.. keuntungan berlipat ganda. Artis siapa yang lagi booming, apa saja yang sering melekat di tampilan kesehariannya ya itulah yang akan digarap pasar.

[devieriana]

Continue Reading

Final Destination 4 : Death Trip

Akhirnya kesampaian juga nonton sub horor movie yang sebenarnya kategorinya bukan “aku banget”, Final Destination. Awalnya gara-gara pas nonton The Proposal kan salah satu trailer filmnya Final Destination ini. Dengan sok pengen nonton saya bilang ke suami, “wah gila keren, kayanya kita musti nonton nih film “. Suami cuma ngeliatin gak percaya, “yakin mo nonton film thriller kaya begitu? Bukannya kamu spesialis rom-com & drama?”. Saya (lagi-lagi) dengan sok yakin bilang, “yeee, masa musti lihat yang jenisnya begitu terus. Sekali-kali ganti kategori bolehlah. Kayanya spesial efeknya dahsyat tuh..”. Suami manggut-manggut sambil senyum-senyum gak yakin karena dia tahu saya orangnya ngerian & penakut, hihihihihi. “Ok, we’ll see then”, sahutnya.

Nah akhirnya, kesempatan itu ada. Selesai bukber kemarin langsung meluncur ke arah Plangi buat nonton Final Destinaation. Berhubung jam mainnya baru pukul 21.10 sedangkan kami beli tiketnya pukul 19.15 makanya kita thawaf dulu keliling Plangi sampai gempor baru nangkring di bioskop 😀 . Film ini dibuat dengan 2 versi, 3D & 2D. Tapi berhubung yang versi 3D nggak available di semua bioskop jadi ya sudah kita nonton yang versi 2D-nya di bioskop terdekat. Nggak masalah sih, yang penting kan menikmati filmnya. Bioskop lumayan rame (hyaiyalah, kalo sepi mah kuburan), maksud saya untuk pertunjukan ini hampir semua seat terisi penuh sampai bangku A. Utamanya sih datang berombongan karena habis bukber juga lanjut nonton. Kayanya sih gitu ya. Hmm, ternyata banyak juga yang suka nonton film thriller kaya begini ya (atau karena sayanya yang sengaja selalu menghindari nonton film serem macam ini ya?).

Film ini diawali dari arena balap mobil dimana 2 pasang remaja : Nick, Lori, Janet & Hunt berkumpul untuk menyaksikan balap mobil maut. Awalnya semua berjalan lancar sampai suatu waktu Nick merasakan aroma kematian di sekitar mereka. Selintas Nick diperlihatkan sebuah kejadian kecelakaan dahsyat yang akan merenggut nyawa semua orang di tempat itu. Antara percaya & tidak Nick menyampaikan firasat itu ke teman-temannya. Tentu saja tidak smeudah itu mereka percaya karena memang sebelumnya Nick tidak punya kemampuan melihat kejadian yang akan datang. Sampai ketika Nick bisa menebak semua kejadian satu persatu secara detail & menyarankan semua orang keluar dari area penonton karena akan ada kejadian kecelakaan dahsyat yang akan menimpa semua orang disitu diabaikan.. BOOM!! Semuanya terlambat.. semua penonton tewas dalam kecelakaan mobil balap yang jungkir balik saling bertabrakan & rubuhnya tribun penonton. Hanya orang-orang yang mau ikut bersama Nick keluar arena saja yang selamat.

Ternyata itu baru awal dari serentetan kejadian kematian yang akan terjadi. Sang kematian mengincar korbannya berdasarkan urutan tiket masuk & urutan tempat duduk. Susah payah Nick berusaha memperingatkan orang-orang terdekatnya untuk berhati-hati, namun semua tak mengindahkan peringatannya. Walapun orang-orang termasuk 2 sahabatnya yang lain menganggap Nick sudah mulai sinting & terlalu paranoid dengan kejadian yang belum tentu terjadi itu namun Nick & Lori keukeuh berusaha menghentikan rantai kematian dengan berusaha menyelamatkan nyawa orang-orang yang dianggap akan jadi sasaran berikutnya. Dalam penglihatannya, sepandai apapun mereka berusaha mencurangi maut cepat atau lambat semuanya akan terenggut satu persatu. Yang membedakan hanya waktu, kapan mereka akan mati. Itu saja.

Sepanjang film ketegangan sangat terasa, terutama buat saya (bisa ditebak kan? Yaah, you know me well-lah yaa.. 😉  ). Yang lain kayanya santai-santai aja nontonnya. Saya malah sibuk sendiri, yang nutupin matalah, jejeritan gak jelas, remas-remas tas, untung gak sampai salah pegang tangan mas-mas sebelah kanan saya *digampar pake gilesan* (mungkin dia juga ngebatin : d’ooh mbak satu ini ribut bener sih!”, hahaha..). Sampai pas lagi tegang-tegangnya nonton adegan berdarah-darah & gencet-gencetan, mendadak.. PET! Filmnya berhenti, layarnya gelap. Mati! Innalilahii.. Tepat pas lagi tegang-tegangnya.. Bagus kan? *gemes*. Langsung moment itu saya pakai buat napas (d’ooh.. kok kesannya selama pertunjukan saya nggak napas ya..). Untung semua penontonnya sopan & sabar menunggu sampai filmnya nyambung lagi. Woalah, masa iya tadi itu petugasnya lagi ganti CD atau dibalik dulu ganti side B? (Hwee.. emang lu pikir kaset lagu?  😀 ). Gak tahu juga kenapa saya lantas jadi parno setelah liat film ini ya. Pas pulang nonton trus liat orang bawa las benerin atap mall, parno (takut atap mallnya ambruk, atau alat lasnya jatuh). Liat pekerja ngebenerin tegel dengan kabel menjuntai sana-sini, parno (takut tiba-tiba nyetrum). Pokoknya jadi parno-parno bodoh & nggak jelas gitulah. Ya semoga hanya efek sementara setelah lihat film horor aja ya. Moga-moga sih gak keterusanlah :D. Maafin ya, noraak.. :mrgreen:

Ada beberapa pesan moral yang saya ambil dari film ini, menyadarkan kita bahwa kematian tidak datang tiba-tiba. Ada satu proses panjang menuju titik ini. Ada sebuah skenario hingga seorang manusia menemui ajalnya. Buat mereka yang religius, ini disebut takdir sementara yang lebih memilih jalan logika mungkin melihatnya sebagai sebuah proses alami. Ketika maut sudah diambang nyawa tak ada seorangpun yang bisa menyelamatkan diri. Selagi masih ada kesempatan, hidup, & umur kenapa tidak kita manfaatkan sebaik-baiknya? Boleh dibilang Final Destination ini semacam film tentang safety. Artinya, sekecil apapun kecerobohan atau ketidakhati-hatian kita, bisa jadi akan membahayakan nyawa kita atau orang lain. Kita tidak pernah tahu sampai kapan kita akan hidup di dunia ini kan? So, be careful, gunakan waktu & kesempatan sebaik-baiknya guys 🙂

[devieriana]

Continue Reading

Kok Albumnya Gak Rilis-Rilis, Sih?

Beberapa hari yang lalu saya ngobrol di YM dengan salah satu sahabat tentang banyak hal. Salah satunya ya tentang album yang gak rilis-rilis, padahal promo di facebook kayanya udah digeber  awal tahun ini deh, tapi kok lagunya 1 pun belum ada yang nongol ya? Ditengah maraknya artis pendatang baru yang bisa dipastikan hampir setiap hari menghiasi layar kaca sampai saya sendiri gak bisa menghafal satu persatu saking banyaknya, dia samasekali belum tampak tanda-tanda mau promo atau muncul dimana gitu. Padahal sekarang ini banyak banget penyanyi solo sampai grup band pada berlomba-lomba ingin mencuri perhatian penikmat musik di Indonesia.

Nah kebetulan teman dekatnya teman saya ini seorang calon artis penyanyi. Soal penampilan fisik ya lumayanlah, suara juga mantap, materi lagu.. err.. saya kurang ngerti spesifikasi lagu yang bisa dijual atau enggak sih ya. Kalau menurut telinga saya yang awam ini ya suaranya enak, lagunya ear catchy. Udah itu aja  😀

Saya : ngomong-ngomong kapan albumnya si Prita (nama saya samarkan) keluar? bukannya promonya udah lama tuh..

Teman : yaa.. bisnis kaya gitu prosesnya lama, darling.. Lagi nunggu RBT-nya jadi

Saya : kirain bisa cepet, kan sekarang juga banyak artis baru. Kayanya bener jadi artis. Kenapa gak rilis album dulu baru RBT?

Teman : Penjualan CD lagi menurun sejak adanya MP3 yang bisa didonwload gratis di internet.. Sekarang aku tanya kamu: kapan terakhir kali kamu beli CD lagu?

Saya : mmh tahun lalu.. CDnya Tompi 😀 , ngidam lagunya Belahan Jiwa  😀

Teman : Tuh kan.., ga banyak yang mau beli CD lagu sekarang. Makanya produser-produser itu pada gak berani ngeluarin CD

Saya : trus solusinya?

Teman : ya main di RBT aja..

Saya : tapi kok kenapa banyak penyanyi baru ya?

Teman : iya, emang banyak. tapi kalu kamu lihat penjualan CD-nya ga bagus. Cuma mereka menjadikan  mereka menjadikan penjualan CD itu jembatan menuju nyanyi off air

Saya : promo mereka gencar juga promo di tv : Derings, Inbox & acara-acara sejenis. Trus gimana tuh? kapan rencananya? bukannya promonya udah lama banget tuh? awal tahun ini deh kayanya?

Teman : Gak ah, awal tahun sih, sekitar Maret/April kemaren. Bikin klipnya aja Maret

Saya : masa sih? kayanya dia udah gencar sejak awal tahun deh..

Teman : Produsernya emang agak telat

Saya : Oh yang mas bilang ga bisa kerja itu ya?

Teman :  Iya betul

Saya : mmh.. ga ganti manajer atau apa gitu? ga bisa ya? gak semudah itu?

Teman : Gak semudah itu. Soalnya disini Prita cuma nyanyi. Sementara lagunya diproduksi oleh label. Jadi dia yang harus nunggu. Jadi kalau labelnya lama, ya berarti dia kena ikut lama juga, soalnya bukan pakai biaya sendiri

Saya : Ooh gitu.. Trus kesibukannya sekarang apa?

Teman : Kesibukannya.. mmh, gak ada sih

Saya : lah.. kasian dong ga ada kegiatan apa-apa?

Teman : Ya.. sementara ini sih nunggu RBT-nya keluar. Paling nunggu klipnya tayang di Dashyat. Ya begitulah penyanyi

Saya : kupikir gampang jadi penyanyi..

Teman : Tapi kalau dia udah dikenal, dan nyanyinya bagus, penghasilannya dari off air bisa gedhe lho..

Saya : Oh ya? Hmm…aku banyak ngelait penyanyi sekarang kesannya banyak yang jual tampang. Atau sebelumnya emang udah artis trus melebarkan sayap jadi penyanyi.. Aji mumpung gitulah..

Teman : Ya betul.. begitulah, persaingan sangat ketat & kebetulan Prita itu nyanyinya bagus, hanya sayang dia gak punya modal untuk bikin album sendiri. Akhirnya ya begini ini, tergantung label. Sementara label gaak mau gambling ngeluarin album kalo tau pasar penjualan CD lagi lesu kaya gini.. Sementara banyak label mau memproduksi penyanyi yang bawa modal sendiri..

Saya : Oh yaaa.. Pantes.. Eh emang disambi nyanyi di kafe gitu ga boleh ya? Ya kan biar ada kesibukan gitu..

Teman : gak bolehlah..

Saya : weks? emang ada klausa yang menyebutkan itu juga?

Teman : iyalah..

Oh ternyata jadi penyanyi yang beneran itu ga gampang, sodara-sodara. Buktinya temannya teman saya itu yang notabene pernah jadi juara pop singer aja masih keteteran gitu albumnya gak keluar-keluar. Lha gimana yang modalnya cuman fisik doang ya? Ah, jangan-jangan karena bawa modal sendiri jadinya lebih cepet albumnya keluar? Hmm.. Ya begitulah namanya dunia showbiz. Ga sesimpel yang kita bayangkan. Belum tentu artis yang bener-bener qualified itu di-support penuh oleh pihak label. Yang sudah bawa modal sendiri yuk mari sini dibantu dengan senang hati. Kalau yang ga bawa modal sendiri? Err.. misi.. mo ngupi dulu.. eh tapi kamu boleh rekaman kok. Soal distribusi? Mmmh, tar yah.. saya itung dulu untung ruginya buat saya..

hehehhe.. kidding you 😉

 

[devieriana]

Continue Reading

Gempa !!

 

GEMPA!! GEMPA!! GEMPA !!! Allahu Akbar.. Astaghfirullah!!

Teriakan kami sahut menyahut begitu berasa gedung tempat kami bekerja berguncang hebat. Tangga darurat mendadak sesak oleh ratusan karyawan yang berebut keluar gedung. Yang saya khawatirkan cuma satu, nasib dua orang ibu hamil anak buah saya gimana? Untungnya salah satu dekat sama saya jadi selama evakuasi tangan kami tak lepas bergandengan tangan. Sementara 1 lainnya saya lihat sudah ada teman yang menjaga. Syukurlah, setidaknya ada yang menjaga atau mengingatkan supaya lebih berhati-hati ketika turun tangga.

 

Sampai di depan gedung suasana sudah ramai layaknya orang yang mau siap-siap upacara. Halaman gedung & parkiran yang selama ini hanya terisi mobil kini terisi lautan karyawan yang sibuk teleponan ke kerabat masing-masing untuk mengabarkan kondisi terakhirnya. Panik? Hyaiyalah, secara gedung kami Atrium Mulia ini termasuk gedung tua gitu.

 

Ditengah-tengah kepanikan kami masih saja ada kejadian lucu dibalik gempa ini, utamanya buat orang-orang callcentre. Bisa ngebayangin nggak sih pas agent lagi asyik-asyiknya melayani pelanggan mendadak seluruh ruangan terguncang & pastinya spontan pasti ingin berebut keluar ruangan kan? Bayangin deh, gimana nasib si pelanggan di ujung sana ya? Saking paniknya bilang gini :

“Pak.. ada gempa. Nanti telepon lagi ya. KLIK “ , hihihihi, emang dipikir nelpon rumah? 😀

 

Atau, saking paniknya ketika para team leader teriak-teriak mengingatkan, “jangan berebutan! Jangan berebutan!!”. Para agent mendadak semuanya tuli, nggak peduli (hyaiyalah). Panik turun tangga sambil jejeritan, “hwaaaa…hwaaaa..Hwaaa..”, sambil lari pontang-panting keluar tangga darurat. Eh nyampai bawah ketemu spv, “kamu tadi sudah pencet tombol aux?”. Dhieeengg.. Haduh sudahlah, maafin aja ya Bu, ga mungkin dong mereka balik lagi hanya untuk tekan tombol aux bukan? Aux itu semacam tombol istirahat, jadi callmasternya ngga akan terima call untuk sementara. Haduh, kalau sudah panik begitu mana sempat mikir tekan ini, tekan itu. Yang kepikiran cuma satu, menyelamatkan diri. Tapi ya begitulah kalau di kerjaan kita nih dalam situasi sepanik apapun kita masih ada rules-rulesnya.

 

Masih ngos-ngosan mendadak handphone saya bunyi. Saya lihat nomor yang muncul di layar HP saya salah satu teman team leader Medan :

“halo.. Mbak..”
“heeii.. habis ada gempa disinii..”
“hehehe.. iya tau, makanya aku telpon. Mbak baik-baik aja kan?”
“alhamdulillah baik say. Makasih udah nelpon..”
“syukur deh.. kenceng banget kan gempanya? Medan aja pas tsunami kemarin 9 skala richter, beti-lah sama kalian. Beda tipis..”
“iya, 7.3 aja udah kaya begitu.. gimana 9 ya? Udah rontok semua kali kami disini”
“oya.. tempat si Ibu (spv kami) gempa juga ya?”

Saya diam sejenak, baru beberapa detik kemudian saya ngakak..

“heh Ucrit!! Si Ibu itu kan kantornya Wisma Mulia – Gatot Subroto, aku di Atrium Mulia – Rasuna Said. Jarak kami cuman berapa kilo ini. Ya jelas, disini aja aku gempa, disana ya pasti gempalah..”
Kami ngakak berdua karena sama-sama bego beberapa detik.
“wahahaha.. Masih loading lu mbak? Kirain saking paniknya udah error..”
“sialan.. ya masihlah..”, tawa saya berderai-derai

 

Kami yang jauh dari pusat gempa begini tentu masih bisa ketawa-ketiwi. Lha kalau yang dekat dengan pusat gempa, apa ya nggak kalang kabut semua? Jangankan ketawa, paling juga jejeritan dimana-mana.. Haduuh serem ya?  🙁  . Semoga sih gak ada gempa-gempa susulan lagi deh. Cukup hari ini saja ya Tuhan.. Ngeri kami membayangkannya 🙁

 

[devieriana]

Continue Reading