Mencairkan Dana Jamsostek

Setelah sekian tahun bekerja di swasta, saya sampai lupa kalau saya masih punya ‘simpanan’ dana Jamsostek. Lah, lupa? Tumben sama uang kok lupa :mrgreen: Iya, beneran lupa. Saya resign dari perusahaan tempat saya bekerja dulu sekitar tahun 2010, dan saya lupa kalau selama saya bekerja di sana gaji saya pernah dipotong sekian ribu rupiah untuk disetorkan ke Jamsostek sebagai Jaminan Hari Tua.

Nah, biasanya kita baru ingat kalau masih punya simpanan atau piutang ke orang lain kalau pas kita lagi butuh uang 😆 . Dari sana biasanya tiba-tiba teringat semua ‘simpanan’ keuangan yang kita punya untuk kemudian dicairkan/ditagihkan ke yang berhutang :D. Begitu pula saya. Pas sekarang saya lagi B.U alias Butuh Uang, kok ya ndilalah 2 kartu Jamsostek saya mendadak jadi lebih eye catching dibandingkan dengan kartu-kartu yang lain di dompet saya, misalnya kartu ATM, kartu berobat, dll. Aha! Inilah sumber dana saya yang lain, setelah mengingat kalau masih punya piutang dengan teman di sebelah dalam jumlah yang lumayan. Akhirnya, tanpa berpikir panjang dan lama, dengan semangat ’45 saya segera menyiapkan segala yang berhubungan dengan pencairan dana Jamsostek. Kebetulan ini adalah pencairan dana Jamsostek yang kedua. Dulu sih sudah pernah mencairkan dari perusahaan yang berbeda dengan yang ini, tapi berhubung belum tahu cara dan alurnya jadi kesannya sedikit agak ribet. Tapi kalau yang sekarang, berhubung sudah tahu caranya, ya terasa lebih simple 😀

Yang dibutuhkan untuk pencairan dana Jamsostek sederhana sekali, cukup menyiapkan kartu Jamsostek asli dan fotokopi, KTP/SIM yang masih berlaku (asli dan fotokopi), Kartu Keluarga (asli dan fotokopi), dan surat referensi kerja (asli dan fotokopi). Masukkan dalam sebuah tempat yang ringkas supaya tidak tercecer ke mana-mana. Kebetulan klaim pencairan dana Jamsostek saya bisa diproses di kantor Jamsostek cabang Setiabudi yang ada di Jln. Gatot Subroto, jadi setelah izin dengan Si Bapak, segeralah saya meluncur ke sana.

Alhamdulillah lalu lintas sedang bersahabat dengan saya, sehingga kurang lebih pukul 09.30 saya sudah tiba di sana. Saya lihat ruang tunggunya sudah penuh dengan orang-orang yang juga akan mengajukan klaim. Tapi tenang, di sini semua prosesnya teratur kok, petugasnya pun sangat helpful, informasi yang diberikan juga sangat jelas. Jadi, kalau semua persyaratan sudah lengkap, kita akan diberi form isian dalam sebuah map bening dan nomor antrean. Jika form sudah selesai kita isi dan persyaratan yang dibutuhkan sudah lengkap, semuanya tinggal masukkan ke dalam map bening tersebut untuk kemudian diletakkan di keranjang khusus untuk diverifikasi oleh petugas yang berwenang.

berkas kelengkapan pencairan dana Jamsostek
berkas kelengkapan pencairan dana Jamsostek

Tanpa perlu menunggu terlalu lama, nama saya pun akhirnya dipanggil untuk menerima kembali berkas tersebut dan menunggu untuk dipanggil oleh customer service. Proses menunggunya pun tidak terlalu lama, selang 10 menit kemudian saya sudah dilayani oleh customer service yang ramah. Dalam waktu kurang lebih 15 menit semuanya selesai. Tinggal menunggu proses pencairan dana di rekening yang memakan waktu kurang lebih 7 hari kerja (pada praktiknya sih kurang dari 7x 24 jam dana sudah cair kok) 😀

Alhamdulillah dananya sudah cair tepat di 3 hari kerja, dan jumlahnya alhamdulillah, ternyata melebihi ekspektasi saya, hihihik. Jadi, siapa bilang proses pencairan dana Jamsostek itu ribet? Dua kali pencairan dana, alhamdulillah dua-duanya relatif lancar dan mudah kok 😀

[devieriana]

Continue Reading

Balada Dinda

gantian duduk

Beberapa waktu yang lalu hampir semua akun socmed, media cetak dan elektronik ramai membahas status Path seorang perempuan yang bernama Dinda, yang curhat tentang kekesalannya terhadap para ibu hamil yang (menurut dia) manja karena selalu minta dikasihani dan minta tempat duduk. Pertama kali saya membaca status ini di Path jujur saya merasa geli, trenyuh, sekaligus prihatin pada Dinda. Geli karena statusnya kok kekanakan sekali padahal sepertinya usia Dinda sudah lebih dari cukup untuk lebih peka terhadap lingkungan sekitarnya. Tapi, ah… bukannya usia bukan ukuran kedewasaan seseorang, ya? Trenyuh dan prihatin, lantaran dia sendiri seorang perempuan yang suatu saat juga akan merasakan menjadi seorang ibu hamil. Tapi kalau ditilik dari kelancarannya menulis status semacam itu di Path sepertinya Dinda ini masih muda, belum menikah, dan belum pernah merasakan menjadi ibu hamil 😀

Well, terlepas dari curhatan Dinda, saya punya cerita sendiri tentang suka duka menjadi ibu hamil dan transportasi publik. Saya merasakan sendiri bagaimana perjuangan menggunakan sarana transportasi umum ketika hamil. Kebetulan saya bukan tipikal orang yang suka merepotkan orang lain. Pun ketika naik transportasi umum. Kalau dikasih tempat duduk ya terima kasih, kalau enggak ya nggak apa-apa. Tingkat keikhlasan orang kan beda-beda, ya. Apalagi hidup di Jakarta. Jadi ya dimaklumi sajalah… *usap peluh*

Dulu, ketika hamil pertama kali, jarak antara rumah dengan tempat saya bekerja relatif dekat, dan sarana transportasinya pun sangat mudah. Tapi walaupun begitu, bukan hal yang mudah bagi seorang perempuan yang sedang mengandung untuk memaksakan diri berjejalan di halte untuk naik Transjakarta atau moda transportasi umum lainnya. Kalau saya memaksakan diri harus ke pool bus ya sepertinya kok agak buang-buang waktu dan tenaga ya, karena pool-nya lebih jauh dari jarak antara kantor dan rumah saya, sedangkan lokasi kantor saya ada di tengah rute mereka. Sering kali saya terpaksa mengalah menunggu sampai antrean halte agak berkurang supaya saya bisa berdiri lebih depan sehingga tidak terhimpit oleh penumpang lainnya yang tenaganya jauh lebih besar. Di dalam bus pun sering kali bangku prioritas untuk ibu hamil/lansia/difabel/ibu dan anak, sudah diduduki oleh penumpang yang tidak sedang dalam kondisi penumpang yang wajib diprioritaskan. Dan tipikal para penumpang yang sudah mendapatkan tempat duduk itu biasanya sama, (pura-pura) tidur sambil menyumpalkan earplug di telinga. Sekali lagi, beruntung waktu itu tempat tinggal saya dekat, jadi kalau terpaksa harus berdiri pun (insyaallah) masih kuat 😀

Di kehamilan saya yang sekarang ini kondisinya sangat jauh berbeda. Jarak antara tempat tinggal dan kantor saya relatif lebih jauh, waktu untuk menempuh perjalanan pun otomatis lebih panjang, apalagi pada kalau naik Transjakarta jurusan Harmoni-PGC yang jalurnya panjang dan macetnya luar biasa. Saya sering kali terpaksa menunggu antrean bus sedikit berkurang supaya bisa dapat tempat duduk. Tapi lama-lama saya menemukan jalur antrean khusus untuk kaum prioritas, jadi saya bisa naik bus sebelum penumpang reguler naik.

Semakin besar kandungan saya, semakin tidak memungkinkan bagi saya untuk menggunakan Transjakarta yang jumlah armadanya terbatas dan banyak penggemarnya itu. Beruntung akhirnya saya menemukan alat transportasi alternatif yaitu shuttle bus yang kini banyak disediakan oleh pengelola mall, sebagai sarana transportasi alternatif bagi para pekerja yang tinggal di luar kota, tapi bekerja di Jakarta. Lumayan aman dan nyaman, walaupun biayanya lebih mahal. Tapi demi kenyamanan, penghematan waktu dan tenaga, penggunaan moda transportasi ini sangat layak 😀

Jadi, kalau kembali lagi tentang status Dinda tadi, saya sangat memaklumi, karena memang Dinda ini belum merasakan bagaimana rasanya menjadi ibu hamil. Jadi masih termasuk ‘wajar’, karena kan biasanya kalau belum mengalami sendiri, cuma melihat dari luarnya saja, memang paling mudah mengeluarkan statement :mrgreen: . Tapi terlepas dari sudah/belum pernah merasakan menjadi ibu hamil/lansia/difabel/membawa anak kecil, ketika kita berada di situasi tersebut coba kita reframe deh, bagaimana jika seandainya kita yang berada di posisi mereka. Jadi ya kembali lagi ke kesadaran masing-masing saja. Rasanya kita tidak perlu menghakimi orang lain yang belum diberi hidayah atau kepekaan melihat lingkungan sekitar. Kalau memang kita di situasi yang sama masih merasa sehat/mampu/ikhlas/kuat bergantian tempat duduk dengan mereka yang patut mendapat prioritas, ya monggo diberikan. Kita tidak pernah tahu, karena bisa saja suatu saat nanti gantian kita yang berada di kondisi yang sama dengan mereka.

Satu hal lagi yang penting untuk diingat, berhati-hatilah memposting status di akun social media, sepribadi apapun settingan akun socmed kita. Kalau dulu kita mengenal adagium “mulutmu harimaumu”, sekarang di era social media ada istilah, “tweetmu harimaumu”, “postinganmu harimaumu”, “statusmu harimaumu”. Sekali saja kita menerbitkan postingan/status, dan lalu menekan tombol enter/publish, seketika itu juga orang lain akan melihat, membaca, mengomentari, dan bahkan menyebarluaskannya ke berbagai akun social media hingga ke batas yang tidak mampu kita tentukan. Itulah saat di mana kita kehilangan kendali terhadap efek apa yang akan timbul kemudian.

Sekalipun kita berkomunikasi secara tidak langsung di ranah maya, namun perlu diingat bahwa yang kita ajak berkomunikasi, yang membaca postingan dan status kita itu juga manusia. Mungkin saja kita tidak bermaksud buruk, namun toh akan selalu ada hal-hal yang diterima secara berbeda jika dilihat dari kacamata orang lain.

Bukan berarti kita tidak boleh mengeluarkan statement/opini, tapi apa salahnya jika lebih berhati-hati ketika akan mengeluarkan opini. Terlebih jika itu sifatnya pribadi dan mengandung hal yang sensitif bagi orang lain.

Just my two cents 😉

 

[devieriana]

 

gambar diambil dari twitternya @gantijakarta

Continue Reading

Penari Trotoar

penari trotoar

Hampir di setiap Jumat, ketika shuttle bus yang saya naiki berhenti di depan trotoar Sarinah-Thamrin, saya selalu melihat lelaki paruh baya ini sedang menari. Penampilannya khas; surjan lurik, celana hitam longgar, blangkon, kacamata hitam, dan kadang dia juga menggunakan sampur (selendang) berwarna hitam yang dililitkan di pinggang. Lelaki ini menari dengan gemulai, ditambah dengan ekspresi wajah yang ceria dan jenaka, diiringi dengan gending/langgam Jawa yang mengalun dari seperangkat stereo yang ditumpangkan di atas motornya. Terlihat sebuah botol plastik berisi air minum yang menemaninya menari.

Kalau bertemu dengan penari jalanan yang berkelompok sih sudah lumayan sering. Dulu, mereka sering lewat di depan gang rumah; berhenti dari warung makan yang satu ke warung makan yang lain, dari toko yang satu ke toko yang lain, dan seterusnya. Biasanya dalam satu kelompok terdiri dari 1-2 orang penari yang mengenakan kostum tari. Dandanan mereka pun lumayan niat, karena mereka berdandan seolah akan pentas di sebuah panggung. Rambut yang tersasak dan bersanggul rapi dengan selipan bunga mawar dan roncean melati artifisial yang diuntai di sanggul mereka, kemben dan jarid wiron yang membungkus torso mereka, ditambah dengan sampur transparan dengan ujung bermote yang diikat di pinggang. Make up mereka pun ‘lengkap’, ala pertunjukan panggung. Biasanya di belakang para penari ini ada seorang pria yang membawa semacam tape recorder yang menyetel gending tari bagi penari di depannya. Apakah mereka menari for free? Tentu tidak. Pertunjukan keliling itu adalah salah satu cara mereka bertahan hidup di ibukota; cara mengamen dengan gaya yang berbeda. Ya, selama ini mengamen itu selalu diidentikkan dengan menyanyi, padahal tidak semua orang bisa menyanyi. Itulah mengapa orang-orang dengan nyali dan kemampuan lebih ini memilih untuk menari di jalanan.

Namun ada yang sedikit berbeda dengan lelaki yang satu ini. Dia selalu tampil sendiri, tidak berkelompok. Kalau dia sedang menari di depan Sarinah, dan kebetulan bus saya sedang berhenti untuk menaikkan penumpang, selalu saya sempatkan untuk menikmati tariannya walaupun cuma sebentar, karena bus saya harus segera jalan.

Uniknya lagi, selalu ada tulisan yang sengaja diletakkan di badan motornya agar terbaca oleh orang lain. Tema tulisannya pun berganti-ganti, misalnya: “Hiburan Tombo Stress”, “Melestarikan Budaya Bangsa”, “Kesenian zaman kuno jangan dilupakan. Milik bangsa Indonesia terbaik di dunia”, dan beberapa tulisan/pesan lainnya.

Kalau dilihat dari keluwesannya menari, kostum yang digunakan, dan musik yang dipilih untuk mengiringinya menari, sepertinya beliau ini bukan asli penduduk Jakarta; mungkin pendatang dari Jawa Timur atau Jawa Tengah.

Seolah tidak peduli dengan tatap mata orang-orang yang lalu lalang di sekitarnya, dia terus menari walaupun peluh membasahi sebagian wajah dan tubuhnya. Bahkan tak jarang dia melempar senyum ramah kepada beberapa orang yang berjalan sambil lalu di depannya sambil melihatnya menari.

Mungkin karena singkatnya waktu yang saya miliki untuk mengamati penari yang satu ini, hingga sampai sekarang saya belum paham dengan motivasi beliau menari. Apakah untuk menunjang ekonomi keluarga, atau hanya untuk faktor yang lain, misalnya penyaluran hobby atau murni untuk hiburan. Ah, tapi kalau untuk hiburan semata kok sepertinya bukan, ya? Hari gini, di Jakarta pula?

Anggap saja dulu ini adalah salah satu cara beliau untuk mencari nafkah dan bertahan hidup di Jakarta. Lelaki paruh baya ini membuat saya tercenung. Bukan hanya buat beliau; mungkin buat semua kaum pendatang di ibukota; Jakarta masih menjadi salah satu magnet bagi para pengejar mimpi, karena di sinilah mereka menggantungkan harapan tentang kehidupan yang jauh lebih baik ketimbang di kampung halaman. Di sinilah mereka rela berjungkir balik melakukan apapun untuk bertahan hidup dan meraih mimpi, dengan mengandalkan segenap kemampuan yang mereka miliki. Memang tak selalu harus bekerja disektor formal memang; tapi ketika ada celah yang bisa menampung kreativitas mereka, di situlah mereka akan mengais rezeki.

Terlepas dari apapun motivasi Bapak menari di atas trotoar; saya salut sama Bapak. Di usia Bapak yang mulai menapak senja, Bapak masih gigih mencari nafkah di jalur yang halal. Bapak juga masih punya semangat untuk mempertahankan budaya bangsa melalui tarian-tarian Bapak (walaupun bisa dimaklumi gerakannya tentu saja jauh dari pakem dasar sebuah tari). Tapi ah, apalah arti sebuah pakem tari, toh tak semua orang adalah penari dan paham pakem sebuah tarian, bukan? Satu hal yang membuat saya tetap salut sama Bapak. Bapak bukanlah peminta-minta yang cuma menengadahkan tangan, berharap akan jatuhnya iba dari orang di sekeliling Bapak. Semoga hasil keringat dan kerja keras Bapak tidak pernah sia-sia, dan senantiasa bermanfaat bagi keluarga Bapak di rumah.

Terus menari ya, Pak! 😉

[devieriana]

 

Continue Reading

Lagu anak, di manakah kini?

Children's Music

Kemarin siang, saya ngobrol dengan salah satu teman di kantor, sambil makan siang. Obrolan tentang berbagai topik, mulai dari hasil diklat service excellent kapan hari yang seru banget, sampai membahas warna cat tembok yang punya pengaruh psikologi. Dari sana obrolan jadi berkembang ke masalah anak. Si teman yang sudah dikaruniai dua orang putri yang lucu-lucu itu bercerita tentang perkembangan dan aneka kelucuan putri-putrinya terutama si bungsu yang kini sudah berusia 2 tahun. Diceritakan, Si Bungsu lagi hobi-hobinya menikmati koleksi lagu anak yang banyak di-download ibunya dari youtube. Koleksi lagunya pun bermacam-macam, kebanyakan berupa lagu berbahasa Inggris berdurasi 2 menitan dan terdiri dari 4 sampai 5 baris kalimat yang diulang-ulang.

Nah, ngomong-ngomong tentang lagu anak, bagi kita yang hidup di era tahun 1990-an pasti sempat akrab dengan berbagai lagu anak, ya? Di tahun itu memang sedang marak-maraknya artis cilik yang tampil dalam format solo maupun group. Masih lekat dalam ingatan kita penampilan Joshua, Enno Lerian, Bondan Prakoso, Tina Toon, Kak Ria Enes dan Boneka Suzan, Trio Kwek-Kwek, dan masih banyak lagi artis cilik lainnya. Kebanyakan melodi dan lirik lagu-lagu mereka dibuat sederhana, lucu, dan bercerita khas dunia anak. Dandanan mereka pun jauh dari kesan dewasa sebelum waktunya. Di tahun 1990-an itu pula di berbagai toko musik masih bisa dengan mudah kita dapatkan koleksi lagu anak dalam bentuk CD atau kaset.

Lagu anak sempat mengalami perubahan format menjadi lebih ‘serius’ ketika Sherina mulai masuk ke pasar lagu anak dengan suara vibranya yang diiringi dengan musik orkestra. Pasar lagu anak yang saat itu mulai jenuh mulai bangkit kembali dengan kehadiran format lagu anak ala Sherina. Dari situ mulai bermunculan penyanyi-penyanyi anak dengan format yang mirip dengan Sherina, walaupun tidak se-booming Sherina.

Nah, setelah era Sherina ada siapa? Rasanya lagu-lagu anak pelan tapi pasti mulai ‘hilang’ di pasaran. Entah karena memang pasar yang sedang jenuh, sedang mencari format musik yang baru, atau ada faktor yang lain. Kalau sekadar ingin menjadi penyanyi cilik sih saya rasa peminatnya banyak, tapi mereka akan tampil dengan format seperti apa? Adakah sesuatu yang baru dan segar, yang bisa ditawarkan kepada pasar musik anak?

Di sekitar tahun 2011 – 2013 dunia musik Indonesia mulai dimarakkan dengan kehadiran berbagai musik ala Korea. Rata-rata mereka tampil dalam format grup beranggotakan banyak orang, rambut yang dicat warna-warni, kualitas vokal yang rata-rata (tidak terlalu istimewa), dilengkapi dengan dance. Berhubung kebanyakan mereka tercipta secara instant maka kualitas mereka pun (IMHO) tidak seberapa bagus.

Nah, di antara kemunculan para artis remaja yang berambut warna-warni dan jago dance dengan suara yang tidak seberapa istimewa itu, Coboy Junior turut meramaikan panggung musik Indonesia. Awalnya sempat bingung juga, Coboy Junior ini digolongkan sebagai grup vokal lagu anak atau remaja, ya?

Mengingat usia mereka yang termasuk anak-anak tanggung. Kalau niatnya masuk sebagai group vokal anak kenapa tidak masuk ketika mereka masih anak-anak sekali, walaupun kalau ditilik dari segi usia mereka masih bisa digolongkan ke dalam usia anak-anak. Tapi kalau secara format lagu, sepertinya lagu mereka bukan diperuntukkan untuk anak-anak, melainkan untuk para ABG. Tapi uniknya, kehadiran mereka mencuri perhatian anak-anak (bahkan orang dewasa pun menyukai lagu mereka yang ear catching). Terbukti, anak-anak balita pun dengan fasih menyanyikan lagu mereka sekalipun belum paham arti syairnya. Ya maklum, setiap hari yang diperdengarkan di TV atau radio ya lagu-lagu ini, sehingga mau tak mau anak-anak pun lama-lama hafal.

Ada adegan lucu yang terjadi dalam sebuah wawancara di sebuah talk show yang dipandu oleh Sarah Sechan. Awalnya Sarah meminta si bintang tamunya itu untuk menyanyi sebuah lagu, dan anak itu bilang akan menyanyikan lagunya Cakra Khan; Tak Mungkin Bersatu. Melihat tayangan itu saya sempat mengernyitkan dahi juga, kok balita nyanyiannya lagu Cakra Khan, ya? Emang ngerti? Tapi di sinilah kelucuan bermula:

“Kamu barusan nyanyi lagu apa? Lagunya Cakra Khan atau Coboy Junior, sih? | Coboy Junior | Tadi ada kata-kata ‘cinta’-nya, emang tahu artinya cinta? | Tahu. Cinta itu… mmmh… temennya Coboy Juniooor… | Oooh. Trus, kalau bidadari? | Sama, temennya Coboy Junior jugaaa…”

Nah, kalau itu sih masih ada lucu-lucunya, ya. Beda lagi dengan tayangan di salah satu stasiun televisi yang (kalau tidak salah) waktu itu dipandu oleh Omesh. Dalam tayangan itu ditampilkan anak-anak yang dandanan dan gaya busananya sedikit ‘dewasa sebelum waktunya’. Tapi saya sempat berpikir positif sih, ah… mungkin cuma dandanannya saja, siapa tahu lagunya masih lagu anak-anak. Tapi harapan saya pupus seketika, saat melihat salah satu dari mereka menyanyi lagu dangdut Oplosan, ditambah dengan goyang pinggul patah-patah. Duh!

Anak-anak sekarang miskin lagu anak. IMHO, lagu bagus itu tidak harus yang digarap secara rumit dan dinyanyikan dengan vokal yang ‘akrobatis’, tapi yang penting adalah ada muatan positif di dalamnya, dan anak-anak bisa dengan fun menyanyikannya.

Semoga akan segera ada lagu-lagu khusus untuk anak, yang dibawakan oleh anak, yang berpenampilan sesuai dengan usianya, bukan dewasa sebelum waktunya. Itu sih harapan sederhana saya 😀

 

[devieriana]

 

sumber ilustrasi dipinjam dari sini

Continue Reading

Euphoria: Java Jazz Festival

jazz-wallpaper

Event Java Jazz sudah berakhir beberapa hari yang lalu. Tapi gaungnya masih dirasakan oleh sebagian orang, terutama yang berkesempatan datang ke acara tersebut. Euphorianya pun sudah mulai terasa sejak beberapa minggu menjelang perhelatan acara yang diprakarsai oleh Peter F. Gontha itu.

Jujur, saya sendiri belum pernah datang ke acara Java Jazz, padahal saya punya grup band beraliran jazz, ihihihik. Tahun ini pun saya melewatkan datang ke acara ini karena kondisi badan sedang kurang memungkinkan halesyan. Kalau suami masih sempat datang ke acara ini beberapa kali bersama teman-temannya. Kalau dia sih wajar, karena kebetulan dia salah satu penggemar jazz, terlihat dari koleksi lagu di hampir seluruh peralatan elektronik yang mengandung audio. Untungnya koleksi jazz dia masih termasuk yang easy listening jazz, belum jazz yang ‘black’ banget, jadi saya masih bisa mengikuti selera musiknya. Maklum, sebenarnya saya kan nggak punya selera musik selera musik saya kan random. Jenis lagu apapun asalkan easy listening ya bakal masuk-masuk saja di telinga saya.

Keriuhan status tentang Java Jazz Festival turut meramaikan timeline beberapa akun social media saya. Ada yang dengan bangga memamerkan tiket yang sudah dibeli di timeline, ada yang live tweet penampilan artis ini/itu, ada yang dengan polos menulis di status kalau dia ada di tengah crowd Java Jazz karena cuma diajak teman/gebetan, dll. Saya sendiri cuma sebagai pengamat saja. Lha ya mau komentar apa, wong nggak nonton, lagi pula pengetahuan jazz saya juga masih setengah-setengah, seperti aliran band saya yang masih angin-anginan mau main genre musik apa. Ini semua ‘gara-gara’ Tafsky Kayhatu (putra musisi jazz kenamaan Indonesia Alm. Christ Kayhatu) yang ‘menjerumuskan’ grup band saya menjadi grup band jazz, padahal awalnya band saya lebih banyak memainkan lagu-lagu Top 40 :mrgreen: . Tapi ada bagusnya juga sih, karena dari Tafsky dan teman-teman ngeband saya yang lainnya akhirnya saya bisa mendapatkan tambahan ilmu bermusik.

Teringat obrolan menggelikan dengan seorang teman yang setahu saya bukan penggemar jazz tapi berhubung sudah terlanjur dibelikan tiket oleh teman lainnya jadilah dia ‘terdampar’ di venue penyelenggaraan Java Jazz.

Him: “Jujur, gue nggak ngerti musik jazz. Kenapa gue kemarin bisa ada di Java Jazz ya gara-gara gue udah terlanjur dibeliin tiket sama Si Richard.”

 

Me: “Oh, pantes! Makanya aku heran, sejak kapan kamu antusias datang ke Java Jazz. Ternyata… 😆 ”

 

Him: “Ah, tapi gue nggak berkecil hati, Devi. Gue yakin 100% kalau yang dateng ke Java Jazz itu nggak semuanya ngerti dan suka musik jazz; kaya gue gitulah. Jujur nih ya, kadang gue bingung, banyak orang yang nggak ngerti musik, tapi giliran ada Java Jazz aja pada ribut banget nyari tiketnya. Kayanya kalo nggak bisa dapet tiket Java Jazz harga diri bakal turun, gitu. Buat apaan coba? Mending duitnya dipake buat yang lain, kan? Eh, itu sih kalo gue…”

 

Me: “Nah, kamu juga ngapain mau-maunya ada di situ, udah tahu kamunya nggak ngerti musik jazz”

 

Him: “Nah, kan gue udah bilang, gue disuruh nemenin Si Richard nonton, Malih! Jadi ya udahlah sekalian sambil hunting foto aja deh. Lagian gue juga nggak selalu di depan panggung buat nonton musiknya kok. Sesekali gue ambil gambar artis yang gue kenal, selebihnya gue lewat aja. IMHO ya; Java Jazz itu kalau buat anak musik adalah event yang bagus, karena bisa jadi ajang meet up sekaligus menambah wawasan musik mereka. Tapi kalau buat yang nggak ngerti musik kaya gue contohnya, Java Jazz itu ya cuma jadi ajang ketemuan sama temen, foto-foto, melepaskan stress di kantor, walaupun di venue itu pun gue jadi stress sendiri karena nggak ngerti sama musiknya, hahaha. Trus, bisa jadi ajang modus buat ngajak gebetan (gue batuk boleh, ya?), jadi ajang buat menaikkan gengsi, biar dibilang selera musiknya keren, gitu. Eh, percaya nggak, kalau ada yang sengaja nonton cuma pengen liat muka artisnya doang. Malah kapan hari ada yang keselip nyebut Depapepe jadi Depe. Padahal dandanannya udah keren banget, kaya yang pengetahuan musiknya di atas gue, “Siapa tuh duo gitaris Jepang yang dateng ke Java Jazz? Depe..Depe.. duh gue lupa. Depe, apa?” Gue jawab dalam hati, Dewi Persik?”

Sampai sini saya tertawa. Cerita teman saya yang nyinyir apa adanya ini membuat saya mau tak mau mengiyakan sebagian kalimat-kalimatnya, walaupun terdengar agak satir.

Him: “Keren itu adalah ketika lo nonton Java Jazz tapi lo ngerti dan tahu apa yg lo tonton bukan karena lo pengen foto-foto di depan banner yang bertuliskan Java Jazz!”

 

Me: “Nah, kemarin kamu foto di depan banner Java Jazz, nggak?”

 

Him: “Lhoo, ya foto dong yaaa! Gimana sih, masa udah jauh-jauh datang ke Java Jazz kok nggak foto di depan bannernya. Impossible dong, Devi!”

Caranya menjawab membuat saya ingin menampol mukanya pakai sandal refleksi. Mengkritisi orang lain, tapi kok dia sendiri melakukan apa yang diomongin. Hih! 😐

Terlepas dari motivasi apapun para penonton Java Jazz, saya mencoba memodifikasi pemikiran saya tentang mereka. Jazz itu seperti kopi. Dia sudah menjadi bagian dari gaya hidup masyarakat urban. Ketika kita sekadar ingin menikmati secangkir kopi di sebuah kedai kopi, bukan berarti kita harus datang sebagai seorang penggemar kopi murni yang pekat. Kalau tidak suka dengan kopi murni yang pekat toh masih ada varian kopi lainnya. Begitu juga dengan musik jazz; kalau memang tidak paham dengan jazz yang ‘black’ nan rumit, nikmati saja versi lainnya yang lebih easy listening. Toh banyak kok lagu-lagu yang bukan murni jazz tapi sengaja dibuat versi jazznya supaya pas dengan moment, acara, dan penonton musik yang tidak semua penggemar musik jazz. Kalau masih belum mengerti juga ya sudah, kan masih ada genre musik yang lain. Sama saja seperti perhelatan konser musik yang lain juga deh, belum tentu semua penontonnya paham dan menikmati apa yang mereka tonton. Siapa tahu mereka datang ke sebuah konser musik hanya karena ingin menikmati histeria dan crowd-nya saja. Tapi kalau saya boleh memilih sih, saya akan datang ke sebuah acara musik yang musiknya jelas bisa saya nikmati, daripada dana terbuang sia-sia, Kak :mrgreen:

Just my two cents 🙂

 

– devieriana –

 

 

ilustrasi dipinjam dari sini

 

Continue Reading