Inside Out 2

Film Inside Out perdana ditayangkan di Cannes pada 18 Mei 2015 dan kemudian dirilis di Amerika Serikat pada 19 Juni 2015. Sepuluh tahun berselang setelah kesuksesan film Inside Out, Pixar kembali memanjakan para penggemarnya dengan sekuel yang dinantikan, Inside Out 2 pada 14 Juni 2024. Jika dalam sekuel pertama dikisahkan Riley berusaha mengatasi masa kanak-kanak dengan menghadapi perasaannya terkait kepindahan keluarganya dari Minnesota ke San Fransisco, sekarang Riley telah menemukan rumah baru dalam bentuk sahabat-sahabat barunya, Bree dan Grace. Dalam sekuel ini, fokus cerita lebih pada hubungan Riley dengan teman-temannya daripada keluarganya, juga tentang rumitnya perjalanan emosional Riley yang saat ini berusia 13 tahun, dan sedang mempersiapkan diri untuk masuk ke SMA. Riley sangat fokus pada olahraga hoki yang telah membuatnya meraih banyak penghargaan.

Joy, Anger, Sadness, Fear, dan Disgust dihadapkan pada tantangan tentang rumitnya dinamika emosi masa remaja. Anxiety, Ennui, Embarrassment, dan Envy merupakan karakter-karakter baru yang memperkaya alur cerita dalam Inside Out 2. Masing-masing karakter ini mempersonifikasikan emosi dan perasaan yang lebih kompleks, serta menambahkan lapisan emosi yang lebih dalam dalam perjalanan emosional Joy, Anger, Sadness, Fear, dan Disgust. 

Anxiety, yang mewakili kecemasan, memperkenalkan ketegangan dan kekhawatiran yang mendalam. Ennui, yang berarti kebosanan, membawa nuansa emosi yang lebih suram, monoton, dan membosankan. Embarrassment yang mewakili rasa malu, memperkenalkan konflik internal yang terkait dengan harga diri dan citra diri Riley. Sementara itu, Envy, yang mewakili rasa iri, membawa persaingan dan konflik interpersonal yang lebih pelik. Jujur saya kagum dengan konsep desain Envy dan Embarrasement, yang menunjukkan bahwa “iri hati” digambarkan sebagai emosi yang kecil, sementara “malu” digambarkan sebagai emosi yang besar, yang secara realistis mencerminkan definisi dari kedua emosi tersebut.

Entah mengapa rasanya sekuel kedua ini sengaja menunggu kita tumbuh (lebih) dewasa. Mungkin salah satu tujuannya adalah supaya kita bisa lebih memahami apa yang dirasakan Riley yang sudah menjadi seorang remaja. Dan, memang, bahasan di film ini jauh lebih mendalam dari apa yang saya pikirkan sebelumnya.

Riley mulai mengalami dan menghadapi berbagai emosi yang berbeda saat memasuki masa pubertas. Riley mengalami munculnya berbagai emosi baru menggantikan emosi-emosi masa kanak-kanak dengan yang lebih dewasa. Perasaan kebahagiaan tergeser oleh kepanikan, ketakutan ditutupi oleh kebosanan, dan terkadang sarkasme digunakan untuk menyembunyikan rasa malu. Ketidakpastian Riley tentang masa depannya dalam grup hoki Firehawk membuatnya cemas dan mengambil langkah yang salah. Di sinilah peran orang tua dibutuhkan untuk secara penuh mendampingi anak-anak saat mereka merasa cemas, memberikan validasi perasaan, dan membantu mereka mengambil keputusan yang tepat.

Dalam perjalanannya membentuk jati diri, Riley juga pernah berusaha untuk menjadi orang lain agar diterima dalam grup hoki Firehawk, yang salah satu anggotanya, Valentina “Val” Ortiz adalah idola Riley. Namun pada akhirnya Riley menyadari pentingnya kejujuran dan menjadi diri sendiri. Dalam keadaan ini, penting bagi kita para orang tua untuk mengedukasi anak-anak agar tetap setia pada identitas mereka sendiri, tanpa perlu meniru orang lain hanya serta merta ingin diterima dalam lingkungan tertentu. Pun halnya ketika Joy berusaha keras menghapus kenangan negatif Riley untuk membentuknya menjadi pribadi yang positif, pada akhirnya, Joy menyadari bahwa semua kenangan, baik positif maupun negatif, penting untuk perkembangan Riley, karena kenangan tersebut membentuk bagian integral dari identitas dan pengalaman hidup Riley.

Ada saat di mana Riley mengalami momen emosional saat bermain di lapangan. Akibat tindakan terlalu ambisiusnya, menyebabkan dia dihukum sementara tidak bisa bermain di lapangan. Dia menangis, kecewa, dan merasa emosional, namun akhirnya menemukan kedamaian setelah menerima dan merangkul semua emosinya, berdamai dengan dirinya sendiri, serta memperbaiki hubungannya dengan orang-orang di sekitarnya. Sadness isn’t just crying. It’s the emotion of change, acceptance and most importantly, love.

Satu momen yang cukup membekas dalam benak dan berhasil membuat saya sesenggukan di sepertiga film. Adalah saat Joy menyadari bahwa hidup Riley tidak harus selalu diisi dengan kebahagiaan. “I don’t know how to stop anxiety, maybe it’s true that when you grow old, you’ll feel less happy.” Dan sejujurnya semua itu benar. Tapi semua itu tidak menjadi masalah. Tidak masalah merasa cemas, tidak masalah merasa takut, dan tidak masalah menyadari bahwa dunia ini bukan hanya tentang kebahagiaan. Saat kita tumbuh dewasa, kita menyadari bahwa Joy (kebahagiaan) bukanlah satu-satunya emosi yang utama. Tidak masalah merasakan apa pun yang perlu kita rasakan. Kita semua adalah campuran emosi, dan itulah yang membuat kita unik dan indah. Film ini mengajarkan kita bahwa semua emosi valid. Oleh karenanya orang tua wajib mengenalkan berbagai emosi kepada anak serta mengajari mereka cara mengendalikannya.

Inside Out 2 dengan sangat akurat menggambarkan berbagai emosi yang muncul karena berbagai perubahan yang menekan dalam kehidupan seorang manusia. Komedi yang menghibur dipadu adegan yang memperluas pemikiran dan perasaan, Pixar berhasil menciptakan sebuah film yang enjoyable. Alih-alih mengandalkan kisah klise yang sudah terlalu sering digunakan, mereka berhasil menjaga agar ceritanya tetap unik, tanpa kesan menggurui. Film ini cocok dinikmati oleh anak-anak sebagai tontonan yang menghibur, sementara bagi orang tua, film ini dapat menjadi kesempatan belajar tentang pentingnya memahami kondisi emosional anak-anak.

Inside Out 2 dirilis secara eksklusif di bioskop pada 14 Juni 2024, hampir tepat sepuluh tahun setelah rilis film pertamanya pada 24 Juni 2015. Keberhasilan Inside Out 2 ini tak bisa dipandang remeh. Dengan pendapatan mencapai 295 juta dolar AS hanya dalam sepekan penayangan perdananya menjadikan Inside Out 2 sebagai salah satu film animasi dengan pembukaan penayangan terbaik sepanjang masa. Hal ini menunjukkan betapa menarik dan kuat cerita/narasi yang dimiliki oleh Inside Out 2. Tentu saja dengan keberhasilan ini, Pixar sekali lagi mengukuhkan posisinya sebagai raja animasi yang mampu menyentuh hati dan pikiran penonton dari segala usia, sekaligus menegaskan kontribusinya dalam mengangkat standar industri animasi secara keseluruhan.

— devieriana —

Ilustrasi dipinjam dari sini

Continue Reading

Beyond the Report Card

Pagi itu, saya, suami, dan Alea, bersiap untuk menghadiri penerimaan rapor di sekolah. Kami sengaja tiba di sekolah 30 menit lebih awal untuk mengantisipasi segala kemungkinan. Di depan kelas, sudah ada beberapa orang tua yang sudah mendapat giliran sebelumnya. Saya pun bergabung di antara mereka, sekadar say hello dan berkoordinasi tentang pembagian kenang-kenangan untuk guru Alea. Di antara topik percakapan pagi itu jauh dari bahasan tentang nilai atau prestasi akademis. Sebaliknya, kami lebih banyak berdiskusi tentang rencana liburan, destinasi menarik, dan kegiatan lainnya. Meskipun ada yang sempat menceritakan hasil rapor anaknya yang naik/turun dari semester lalu, namun topik itu segera berganti dengan obrolan ringan lainnya.

Tibalah giliran Alea tiba untuk masuk ke kelas untuk menerima rapor. Jantung saya berdegup makin kencang meski mencoba menenangkan diri dan menaruh harapan yang paling realistis. Saya tanamkan dalam pikiran saya, apapun hasilnya, saya yakin itu adalah pencapaian terbaik yang Alea bisa raih selama kelas 4. Setelah mempresentasikan tentang target dan realisasi pembelajaran semester 2 dalam Student-Led Conference, tibalah penyerahan rapor kelas 4 semester 2. Meski diselingi dengan candaan-candaan di antara Miss/Mr-nya Alea, namun hal itu tidak cukup mampu mengompromikan detak jantung saya yang makin menjadi-jadi. Buku rapor pun dibuka, satu persatu nilai mata pelajaran mulai dibandingkan dengan semester sebelumnya. Saya menyimak dengan saksama. Rasa haru tiba-tiba saja menyeruak. Ada rasa hangat yang menghampiri. Tertera nilai-nilai Alea yang hampir semua meningkat secara signifikan dibandingkan dengan semester sebelumnya. Alhamdulillah, Ya Rabb.

Jujur, setiap kali terima rapor, saya butuh lebih mempersiapkan mental dalam menerima hasil belajar Alea. Karena dalam kesehariannya, Alea adalah anak yang lebih banyak berkomunikasi dalam bahasa Inggris ketimbang bahasa Indonesia, sementara mata pelajaran di sekolah meskipun bilingual, banyak pelajaran berbahasa indonesia yang menuntut pemahaman secara menyeluruh. Selama ini Alea harus struggle menghadapi berbagai pelajaran yang berbahasa Indonesia yang perlu dihafal. Apalagi waktu kemarin mata pelajaran IPAS, di mana bab terakhirnya membahas tentang kerajaan-kerajaan di Indonesia. Bukan suatu hal yang mudah bagi Alea menghafalkan berbagai istilah berbahasa Sansekerta. Seringkali untuk menghafal beberapa istilah bahasa Indonesia, Alea harus menghubungkan dengan kata tertentu supaya mudah diingat. Dia pun membutuhkan waktu belajar yang sedikit lebih lama supaya mendapatkan gambaran dan pemahaman yang lebih mendalam. Kecuali di mata pelajaran bahasa Inggris, saya tidak perlu menghabiskan waktu yang lama untuk mendampingi Alea belajar.

Bahasa Inggris bagi Alea layaknya bahasa ibu, karena kesehariannya baik berkomunikasi dengan kami di rumah (meskipun kami selalu berbahasa Indonesia, namun jawaban Alea 90% menggunakan bahasa Inggris) maupun dengan teman-temannya di sekolah atau bermain Roblox pun Alea konsisten menggunakan bahasa Inggris. Sedikit intermezzo, ketika kami menginap di salah satu hotel di Bali, di kolam renang dia bisa langsung mingle dengan sekelompok anak keluarga turis asing asal Australia. “Mama, I made friends with some of Australian kids. May I met them again tommorrow in the pool?”  Alea adalah seorang native speaker.

Dan seperti biasa, seusai sesi terima rapor, saya selalu berbagi kabar dengan aunty-nya Alea (adik saya), dan eyangnya Alea (Mama saya). Sama, mereka pun bersyukur atas pencapaian akademik Alea. Tapi entahlah, sepertinya Mama bisa membaca pikiran saya meski jarak jauh. Tiba-tiba saja Mama berpesan, “Sudah, jangan membanding-bandingkan Alea dengan anak lainnya. Setiap anak punya latar belakang yang berbeda-beda, tumbuh dalam lingkungan yang unik, dididik oleh orang tua yang berbeda, serta menganut nilai-nilai yang bervariasi. Pelajaran-pelajaran Alea jauh lebih menantang daripada pelajaran kamu yang dulu. Jadi beri dia kesempatan untuk berkembang sesuai dengan kemampuannya sendiri. Kamu sebagai orang tua wajib memberi dukungan supaya Alea bisa terus memperbaiki diri.” Ah, Mama. Bagaimana Mama bisa tahu apa yang sedang saya pikirkan? Tak terasa, air mata mulai menggenang di pelupuk mata.

Malamnya, ketika semua sudah terlelap, pikiran saya tetap sibuk. Sibuk berkontemplasi dan mengevaluasi diri sendiri. Mencurahkannya ke dalam bentuk tulisan sebagai pengingat diri. Sebagai ibu bekerja yang juga mahasiswa, saya merasa belum adil dalam meluangkan waktu untuk berbagai peran dalam hidup saya. Acapkali saya belum bisa memberikan waktu yang maksimal untuk Alea. Dalam beberapa semester kemarin saya berjibaku mengatur keseimbangan hidup. Belum lagi batas waktu penyelesaian tugas kuliah dan jadwal ulangan Alea yang saling berkejaran, hal itu sering membuat saya cranky. Memang inti dari semua ini adalah manajemen waktu.

Sedikit flashback ke masa saya masih sekolah, nilai ulangan dan rapor saya tidak selalu dihiasi dengan angka-angka sempurna. Tak jarang nilai saya lebih pantas dikatakan mengenaskan dibanding sempurna. Beberapa kendala yang saya alami mungkin kombinasi antara keterbatasan saya dalam mencerna pelajaran, atau mood belajar yang tidak selalu stabil. Jadi kalau ada nilai mata pelajaran yang di atas 80, sudah selayaknya dia diperlakukan layaknya sebuah mahakarya yang patut diselebrasi. Entahlah, apakah kedua orang tua saya pernah bangga pada saya waktu itu. Titik kulminasi prestasi akademis saya adalah saat menuntaskan pendidikan di sekolah menengah atas dan bangku kuliah. Di luar itu, saya adalah siswa dengan nilai yang rata-rata.

Sebagai orang tua, melihat anak berhasil dan selalu menjadi yang terbaik di kelas adalah suatu kebahagiaan dan kebanggaan. Prestasi anak merupakan hasil dari kerja keras mereka dan dukungan orang tua. Namun, dalam lingkungan yang kompetitif, penting untuk menyadari bahwa kemampuan anak tidak bisa diukur secara hitam-putih. Meskipun penting untuk memastikan anak meraih prestasi baik di sekolah dan menunjukkan peringkat, sejatinya terdapat aspek non-akademis yang lebih berpengaruh dalam menentukan kesuksesan anak di masa depan. Hidup penuh ketidakpastian, hidup bukan layaknya soal ujian kelas yang selalu punya kunci jawaban. Banyak kejutan tak terduga muncul di berbagai tikungan kehidupan, kemampuan sosial, emosional, dan mengambil risiko memainkan peran penting dalam kesuksesan anak.

Setiap anak memiliki minat dan bakatnya sendiri, dan proses pendidikan adalah perjalanan seumur hidup. Mungkin di sekitar kita ada siswa yang menyukai Matematika namun tidak jago di bahasa Inggris, ada siswa yang menyukai Sejarah namun tidak pintar di Matematika, dan ada pula siswa yang kurang pintar di bidang akademis namun jago dalam olahraga atau aktivitas fisik, karena setiap anak memiliki minat dan bakatnya masing-masing. Setiap anak itu unik dan istimewa. Akan tidak adil rasanya, jika anak hanya dinilai dari ranking atau nilai akademisnya. Anak juga perlu memahami bahwa you’re not the center of the universe, tidak semua keinginan bisa terwujud, kehidupan tidak akan selalu sesuai harapan, dan ini merupakan bagian penting dalam pembelajaran menghadapi tantangan dan penyesuaian diri. Dengan memahami bahwa hidup tidak selalu berjalan mulus, anak-anak dapat belajar untuk menjadi lebih tangguh, fleksibel, dan mampu mengatasi rintangan yang mungkin terjadi di masa depan. Memberikan pemahaman ini juga dapat membantu mereka mengembangkan sikap positif terhadap kegagalan dan ketidakpastian, yang pada akhirnya akan membantu mereka tumbuh dan berkembang sebagai individu yang kuat dan mandiri.

Pasti bukan hal mudah bagi kita yang hidup di zaman tolok ukur kepandaian dilihat dari nilai rapornya. Tapi mau tidak mau, suka tidak suka, kita harus mengubah mindset bahwa nilai rapor hanya sebagai salah satu indikator untuk mengetahui titik lemah, titik unggul, dan progress belajar anak, sehingga kita sebagai orang tua tahu di titik mana harus membantu anak belajar. Dan, penekanan yang berlebihan pada ranking dan nilai akademis sejatinya dapat memberikan tekanan psikologis (kecemasan, rendahnya rasa percaya diri, dan persepsi yang keliru tentang nilai diri) pada anak. Untuk itulah, orang tua wajib memerhatikan kesehatan emosional anak, serta memberikan apresiasi terhadap beragam bakat dan minat yang dimiliki oleh setiap anak. Sesekali boleh lho mengajak mereka keluar rumah, menikmati lingkungan, bergaul, belajar dengan cara praktik langsung.

Setiap anak memiliki potensi dan kelebihan yang tidak selalu tercermin dalam pencapaian akademis. Ketika orang tua memerhatikan aspek non-akademis, kesehatan mental, dan motivasi intrinsik anak, akan membantu menciptakan lingkungan belajar yang inklusif dan berkelanjutan bagi anak-anak tercinta.

Semangat mendampingi anak-anak belajar dan berkembang, Parents!

— Devieriana —

sumber gambar dipinjam dari https://www.educationworld.com/teachers/beyond-report-card-alternative-ways-assess-student-progress

Continue Reading

Meniti Kembali Perguruan Tinggi pada Usia Matang

Terinspirasi dari buku karya Rebecca Klein-Collins yang bertajuk “Never Too Late” The Adult Student’s Guide To College” sengaja saya memilih frasa “usia matang” untuk judul tulisan ini, tujuannya adalah untuk menunjukkan bahwa kuliah di usia yang tidak lagi muda membawa serta tantangan dan peluang yang unik. Frasa ini lebih menekankan pada kematangan, pengalaman, dan perspektif yang dibawa oleh individu yang kembali ke bangku kuliah setelah beberapa waktu, serta untuk menggambarkan bahwa pendidikan di tahap ini adalah keputusan yang diambil dengan penuh kesadaran dan tujuan. Ya selain alasan sebenarnya adalah supaya tidak terlalu terlihat usia uzur, sih.

Sebagian orang mungkin beranggapan bahwa pendidikan formal hanya diperuntukkan bagi mereka yang berusia 20-an. Namun, sebenarnya tidak ada batasan usia yang tepat untuk memulai kuliah. Banyak orang memilih untuk melanjutkan pendidikan mereka di usia 30-an atau bahkan lebih. Alasan di balik keputusan ini pun beragam, mulai dari kebutuhan untuk memperluas keterampilan, mengubah arah karier, atau bahkan kuliah hanya untuk kepuasan pribadi atau mengisi waktu luang. 

Secara umum, tidak ada aturan yang mengikat mengenai batasan usia untuk pendidikan sarjana di Indonesia. Program S-1 didesain dengan sedemikian fleksibel sehingga memungkinkan mahasiswa memulai studi sesuai kemampuan masing-masing. Meskipun tidak diatur secara resmi, beberapa universitas menerapkan kebijakan usia. Universitas negeri biasanya membatasi usia maksimal hingga 21 tahun atau 3 tahun setelah lulus SMA/SMK/sederajat, sedangkan universitas swasta tidak menerapkan batasan usia.

Namun di Indonesia banyak sekali universitas yang membolehkan orang dengan usia berapapun untuk kuliah S1. Universitas Terbuka adalah salah satu yang tidak menerapkan batasan usia serupa. Dengan pendekatan yang inklusif terhadap usia, Universitas Terbuka memberikan kesempatan bagi siapa saja yang ingin mendapatkan pendidikan tinggi, tanpa terkekang oleh batasan usia yang mungkin diterapkan oleh universitas negeri maupun swasta di Indonesia, dengan syarat asalkan sanggup menjalaninya. 

Kuliah sambil bekerja atau berkeluarga memiliki tantangan tersendiri. Tantangan terbesar bagi mereka yang kuliah di usia matang adalah menyeimbangkan waktu antara kuliah, pekerjaan, dan tanggung jawab keluarga. Selain itu, perkembangan teknologi dan metode pembelajaran yang pesat bisa menjadi kendala bagi mereka yang sudah lama meninggalkan lingkungan akademik.

Jangan khawatir, kembali kuliah di usia matang justru menawarkan banyak peluang, lho. Dengan lebih banyak pengalaman hidup dan kerja, mereka cenderung memiliki pemahaman yang lebih baik tentang apa sih yang mereka inginkan dari pendidikan. Jadi, secara keseluruhan, kembali kuliah di usia matang dapat menjadi pengalaman yang sangat berharga. Jadi meski ada tantangan yang harus dihadapi, namun manfaat dan peluang yang ditawarkan juga sangat signifikan.

Namun sebelum memutuskan untuk kuliah, ada baiknya menjawab beberapa pertanyaan dasar berikut ini seperti “apa sebenarnya tujuan saya kuliah? Apakah untuk pengembangan karier, memenuhi passion di bidang yang berbeda dari pekerjaan saya, atau sekadar mengisi waktu luang?” Nah, kalau tujuan sudah jelas, baru deh kita pilih jurusan dan universitas yang sesuai dengan fleksibilitas kita; baik dari segi pendanaan, lokasi, maupun jenis perkuliahan (tatap muka langsung, hybrid, atau daring/online). Jika memilih kelas tatap muka, jangan lupa untuk memastikan tentang ada tidaknya kelas karyawan/ekstensi/non-reguler yang menawarkan perkuliahan malam atau akhir pekan agar tidak berbenturan dengan pekerjaan sehari-hari.

Tidak ada kata terlambat untuk belajar dan berkembang. Pesan saya, apapun bidang studi yang dipilih, semoga tidak memberikan tekanan berlebihan pada kesehatan, fokus, dan tanggung jawab sehari-hari kita baik dalam kehidupan berkeluarga maupun di kantor, ya. 

— devieriana —

Ilustrasi dipinjam dari collegetransfer.net

Continue Reading

Tentang Memaafkan (2)

Konon, hati manusia itu seluas samudera. Tapi dalamnya siapa tahu? Pun tentang kekuatan hati. Tak ada satupun manusia yang tahu kekuatan hati manusia lainnya. Itulah mengapa tidak semua orang memiliki sikap dan pandangan yang sama ketika harus berhadapan dengan komentar tajam dan jahatnya perbuatan orang lain.

Bagi yang terlahir dengan hati yang sekeras baja, semua hal yang membuat rasa sakit hati mungkin akan dianggap sebagai angin lalu, ya. Tapi tidak demikian dengan orang yang hatinya serapuh cangkang telur. Rasa sakit hati akan lebih rentan mendera dan meninggalkan bekas. Bukan hanya sehari, bisa berbulan-bulan, bertahun-tahun, hingga menggumpal menjadi dendam tak berkesudahan, bahkan ada yang dibawa hingga ke liang lahat.

Dari dulu saya mengklaim bahwa saya adalah seorang pemaaf. Jika ada yang menyakiti saya baik itu lewat kata maupun perbuatan, biasanya saya cepat melupakan dan memaafkan. Tapi praktiknya saya belum sepemaaf itu. Ada suatu masa di mana saya pernah menyimpan rasa sakit hati yang berkepanjangan.

Semua berawal dari peristiwa 3 tahun tahun lalu, ketika saya harus pulang mendadak karena sepulang umrah Papa masuk ruang ICU. Kondisi Papa waktu itu sudah tidak terlalu bagus. Selain karena usia, juga ada cairan di paru-paru hingga Papa mengalami kesulitan bernafas dengan lega.

Saya, adik-adik, dan Mama saling bergantian menjaga Papa di rumah sakit. Meski tetap berharap yang terbaik untuk kesembuhan Papa, tapi entah kenapa melihat perkembangan kesehatan Papa yang tidak stabil dan sempat beberapa kali menurun, membuat saya tidak berharap terlalu banyak.

Hingga ketika saya berkesempatan berjaga tepat di hari ulang tahun saya. Keadaan Papa saat itu sedikit lebih baik dan sudah dipindahkan ke ruang HCU setelah sempat tak sadarkan diri di hari sebelumnya,

“Pa, Papa pengen ngobrol atau telepon siapa gitu, nggak?”  

Dengan tersenyum Papa mengatakan kalau ingin sekali disambungkan dengan Oom (kakak kandungnya) di Jakarta, sebentar saja. Dengan sigap saya segera menyambungkan ke nomor Oom, walaupun pasti akan diterima Tante terlebih dahulu, yang penting bisa tersambung, dan dua kakak beradik yang sudah sangat lama tak bertemu ini bisa ngobrol sebentar.

Tapi siapa sangka kalau permintaan sederhana itu tidak dapat saya wujudkan hingga Papa kembali mengalami masa kritis sebelum akhirnya berpulang. Perasaan saya campur aduk, antara sedih, marah, dan menyesal.

Sejak Papa bilang kalau ingin menelepon kakaknya, tak henti-hentinya saya berusaha untuk menghubungi nomor Oom di Jakarta.  Sebenarnya selalu tersambung, walau tidak pernah diangkat. Pesan singkat yang saya kirimkan via aplikasi Whatsapp pun sebenarnya selalu dibaca karena 2 checklist biru pada pesan Whatsapp selalu terlihat. Tapi berhari-hari saya coba menghubungi nomor tersebut, namun tak jua membuahkan hasil.

Hingga selang beberapa hari setelah Papa berpulang, sebuah nomor asing menghubungi saya. Suara di ujung telepon adalah suara yang saya kenal. Suara tante yang saya pernah saya harapkan akan berkenan menyambungkan kepada Oom. Dengan suara yang agak parau beliau menyampaikan kalimat duka cita dan permintaan maaf karena tidak sempat mengangkat telepon dan membalas pesan-pesan saya lantaran terlalu sibuk mengurus rumah dan Oom yang kondisinya mulai menurun. Tante sengaja tidak mengangkat telepon saya, lantaran beliau khawatir hal itu akan mengganggu kesehatan Oom. By the way, hingga akhir hayatnya, Oom tidak pernah tahu kalau Papa sudah pergi mendahului.  

Entahlah, mungkin saat itu hati saya masih diselimuti emosi dan rasa kecewa, sehingga semua kalimat yang diucapkan Tante terdengar begitu egois bagi saya. Seolah semua ingin jadi pihak yang paling dipahami, dimengerti, dan dimaklumi. Jadi meski saat itu mulut saya memaafkan, tapi sesungguhnya tidak demikian dengan hati saya.

Selang dua tahun setelah kepergian Papa, sebuah kabar duka beredar di grup Whatsapp keluarga. Kakak kesayangan Papa ini pun berpulang menyusul hampir semua saudara kandungnya yang sudah lebih dulu pergi. Berhubung beliau dulunya adalah seorang mantan perwira tinggi TNI Angkatan Darat, maka setelah disalati sebagai penghormatan terakhir pada pukul 16.00 akan dimakamkan dengan upacara militer di Taman makam Pahlawan di Kalibata.

Gamang. Haruskah saya pergi melayat? Mampukah saya bertemu dengan orang yang dulu membuat permintaan terakhir Papa tidak terwujud? Apakah lebih baik saya berpura-pura tidak tahu saja kalau Oom meninggal dunia? Saya sempat sebatu itu, lho.

Hingga akhirnya saya ditegur oleh suami,

“Sampai kapan kamu kaya gitu? Memendam rasa sakit yang nggak perlu. Papa insyaallah juga sudah tenang di alamnya. Mama juga sudah lama memaafkan Tante dan memaklumi semua keadaan. Kenapa malah kamu yang belum bisa memaafkan? Mau kamu apakan rasa dendammu itu?”

Air mata saya tumpah bak kubangan sisa air hujan yang menjebolkan plafon rumah. Tuhan, sungguh semua rasa ini membuat saya bukan jadi diri saya. Saya yang katanya seorang pemaaf ini nyatanya adalah seorang tokoh antagonis yang kejahatannya dibalut rasa sakit hati. Rasa yang sama sekali bukan terbangun di hati, namun di kepala, yang kemudian bermetamorfosa sedemikian rupa hingga akhirnya malah membutakan diri saya sendiri.

Dengan emosi yang pelahan luruh, saya sekeluarga dan adik saya sampai juga di Taman Makam Pahlawan Kalibata menjelang magrib, karena memang upacara militer untuk beliau baru selesai. Di blok makam tempat peristirahatn Oom yang terakhir, terlihat seorang perempuan seusia Mama sedang duduk di kursi menghadap gundukan tanah yang masih merah dan penuh taburan bunga. Perawakannya kecil, matanya sembab, wajahnya pucat, dan badannya jauh lebih kurus jika dibanding dengan saat terakhir bertemu beberapa tahun lalu. Beliau adalah Tante saya.

Tante yang menyadari kehadiran kami berdua, langsung berdiri dan memeluk saya erat. Dia menangis tergugu.

Wallahualam, apakah beliau tahu apa yang saya rasa dan pikirkan, ya? Karena di sela sedu tangisnya beliau bilang begini,

“Devi, maafkan semua kesalahan Oom semasa hidup, ya. Maafkan Tante yang nggak bantu Devi buat memenuhi keinginan terakhir Papa buat ngobrol sama Oom. Maafkan keegoisan Tante waktu itu. Jujur kalau inget almarhum Papa, Tante sedih banget dan merasa bersalah. Sampaikan juga maaf Tante kepada Mama, ya. Dengan tulus Tante minta maaf… Semoga Devi berkenan memaafkan …”

Saya mengangguk dalam tangis yang tak kalah derasnya. Di sela azan magrib yang bergema, saat itu pula ego dan luka hati saya luruh bersama air mata. Permintaan maaf yang tulus sudah sewajarnya mendapatkan maaf yang sama tulusnya. Pikiran saya terbuka pelahan. Sekalipun kata maaf dari orang yang telah menyakiti itu penting, tapi sesungguhnya ada hal lain yang jauh lebih penting dari itu semua, yaitu berdamai dengan masa lalu dan memaafkan diri sendiri.

Dalam perjalanan pulang ke rumah, mata saya bengkak tapi hati saya jauh lebih damai dan lapang.

Ternyata sakit hati yang selama ini saya simpan, tak malah membuat saya merasa lebih baik. Bukannya malah sembuh, rasa sakit dan kecewa yang saya pelihara itu makin menjadi-jadi. Hingga sore itu, ketika semua sudah saling memaafkan, luka-luka saya pun sembuh. Saya tidak pernah ingin mendatangi rasa sakit itu lagi.

Jadi, last but not least, bagi siapapun yang mungkin pernah tersinggung atau sakit hati atas kata-kata dan perbuatan saya, baik yang saya sengaja maupun tidak, dengan segenap kerendahan hati saya mohon dimaafkan, ya 🙂

-devieriana-

picture source mindful.org

.

Continue Reading

Pandemi oh Pandemi

Pandemi coronavirus (COVID-19) telah menyebabkan banyak organisasi di seluruh dunia menyarankan para stafnya untuk mengisolasi diri dan bekerja dari rumah untuk mengurangi penyebaran virus. Bagi banyak orang, yang mungkin untuk pertama kalinya beralih dari tempat kerja komunal ke rumah, tentu butuh banyak penyesuaian.

Ketika sekolah dan kantor ditutup untuk sementara waktu karena wabah Coronavirus, orang tua berusaha mencari cara agar bisa melakukan tiga pekerjaan penuh waktu sekaligus, sebagai karyawan jarak jauh, sebagai orang tua, sekaligus sebagai pengajar di rumah. Tentu bukan suatu hal yang mudah, karena menjalani pekerjaannya sendiri saja sudah membutuhkan energi, apalagi menjalani sekaligus sebagai pengajar di rumah, pasti lebih membutuhkan energi ekstra.

Bekerja di rumah tentu banyak tantangannya. Tak jarang anak-anak menganggap orang tua mereka sedang tidak sedang bekerja Jadilah mereka mengajak bermain. Bagi anak-anak, keberadaan kita di rumah seolah mengibaratkan adanya ketersediaan waktu dan kesiapan kita untuk bermain atau memanjakan mereka. Padahal sebenarnya ada pekerjaan bertenggat waktu yang sudah menunggu untuk diselesaikan. Selama pandemi ini, sekalipun kita berada di rumah, tidak serta merta memberi kita lebih banyak waktu bersama keluarga, karena meskipun kita di rumah, kita juga masih bekerja. Idealnya kita perlu memberikan batasan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi, meskipun kedua hal itu akan terjadi di tempat yang sama.

Bagaimana dengan belajar di rumah? Selama pandemi berlangsung, murid belajar via daring setiap hari atau di waktu yang telah ditentukan, para guru mengirimkan rekomendasi pelajaran, lembar kerja, dan PR ke rumah untuk membantu anak-anak untuk tetap berada dalam rutinitas sekolah dan mengikuti pelajaran akademik. Pada awalnya masa pembelajaran, mungkin masih terasa seru bagi orangtua karena bisa menemani anak mereka belajar. Tapi lama kelamaan, seiring dengan semakin bertambahnya target pelajaran dan tugas yang harus diselesaikan, yang terasa bukan lagi seru, tapi justru emosi jiwa.

Bagi keluarga yang didukung dengan akses internet cepat, penyelesaian tugas secara online ini tidak terlalu berkendala. Tapi sebaliknya bagi mereka yang memiliki keterbatasan akses internet, tentu hal ini jadi beban tambahan karena penyelesaian tugas sekolah maupun pekerjaan jadi terhambat.

Sama halnya dengan para orang tua yang mendambakan bisa kembali beraktivitas di luar rumah seperti sedia kala, anak-anak pun berharap bisa kembali lagi ke sekolah untuk bertemu teman-teman dan guru mereka. Tapi di sisi lain kita semua pasti takut terpapar virus Corona. Sehingga mau tidak mau kita semua harus tetap di rumah sampai dengan pandemi mereda.

Namun selalu ada hal positif di balik semua kejadian negatif. Meskipun histeria massal sedang berlangsung, kenyataannya orang-orang masih membeli barang-barang dan kebutuhan hidup. Itulah sebabnya meskipun beberapa sektor bisnis mengalami kelumpuhan selama pandemi berlangsung, namun pada kenyataannya beberapa bisnis online sebenarnya sedang tumbuh.

Mau tidak mau, suka tidak suka, kita sedang menghadapi badai yang sama, walau tidak berada di kapal yang sama. Bisa saja kapal kita yang tenggelam atau sebaliknya. Tetapi di satu, sisi pandemi ini sejatinya tidak hanya destruktif – namun bisa juga konstruktif. Mereka juga bisa menyebabkan perubahan, dan sering memicu perkembangan ilmiah dan reformasi sosial. Pandemi juga sesungguhnya tengah menguji kreativitas kita dalam bertahan hidup. Semoga kelak ketika pandemi telah reda, kita berhasil lulus dengan lebih banyak keterampilan dan motivasi. We are all trying to survive the apocalypse.

Doa sederhana yang tidak sederhana untuk saat ini, semoga badai segera berlalu. 

— devieriana —

Continue Reading