Lebaran = Mudik & Baju Baru?

“Baju baru.. Alhamdulillah
Tuk dipakai.. di hari raya
Tak punya pun.. tak apa-apa
Masih ada baju yang lama
..”

Masih ingat sama lagu itu? Lagu jaman saya masih kecil dulu. Entah siapa yang mencetuskan pertama kali kalau lebaran itu identik dengan baju baru ya? Karena sebenarnya tanpa baju baru pun kita masih bisa lebaran kan? Seharusnya.. ๐Ÿ˜•
Tergelitik dengan obrolan dengan salah satu sahabat saya beberapa hari yang lalu. Dia sempat bilang begini :

“Heran deh sama orang-orang yang bilang : “Gak lebaran ah gue kalo belum dapet THR, buat beli baju baru nih!”. Lah, emang kalau nggak pakai baju baru kita nggak bisa lebaran ya?”

Saya cuma nyengir aja, karena ya memang sering ada yang bilang begitu sih, “budaya” lebaran di Indonesia juga memang seperti itu, tapi berhubung sejauh ini saya nggak pernah ambil pusing, jadi ya nggak pernah saya permasalahkan. Mmh, kadang-kadang saya juga suka begitu sih ;)) *sungkem*

Bagi tiap orang Idul Fitri bisa memiliki banyak makna. Ada yang memaknai Idul Fitri itu sebagai hari yang tersedianya banyak makanan enak, baju baru, atau banyaknya hadiah (angpau). Ada lagi yang memaknai Idul Fitri sebagai saat yang paling tepat untuk pulang kampung dan berkumpul bersama keluarga. Ada lagi yang memanfaatkannya dengan pergi mengunjungi tempat-tempat wisata bersama keluarga, dan lain-lain.

Kebanyakan dari kita kalau Ramadhan sudah jalan 3 minggu, yang seminggunya lagi sudah tercium hawa-hawa lebaran. Dengan mulai terlihatnya para ibu yang sibuk mempersiapkan kue-kue dan hidangan untuk lebaran nanti, mulai penuhnya mall dengan para pengunjung yang sibuk memilih & mematut baju baru yang akan dipakai waktu lebaran nanti. Mulai ramai & padatnya arus kendaraan menuju ke daerah asal (mudik). Pffiuh, aktivitas tahunan yang cukup melelahkan dan membutuhkan biaya yang tidak sedikit ya?

Memang sih tidak bisa dipungkiri, bahkan bagi saya sendiri, untuk lebaran saja saya sudah harus mempersiapkan biaya jauh-jauh hari terutama untuk mudik. Kalau soal baju sih nggak harus baju barulah, karena baju-baju muslim saya kebanyakan masih bagus lantaran jarang dipakai, jadi masih bisalah kalau dipakai lagi di lebaran tahun berikutnya *ngirit* ;)). Karena yang namanya tiket pesawat itu pasti mahal. Bukan sok harus naik pesawat ya, kalau pun toh naik kereta sebenarnya sama saja biayanya, tapi kalau dibandingkan waktu & tenaga kami memang prefer naik pesawat. Kalau soal hidangan lebaran sih saya biasa nebeng sama orangtua atau mertua. Tergantung lagi lebaran dimana ;)). Bukan apa-apa, mending kasih mentahnya aja, soalnya kalau pun toh saya bikin nggak bakalan jadi kue :p

Kata Pak Ustadz saya kemarin bilang begini :

” Beridul fitri itu tidak harus dengan menyiapkan banyak makanan enak, karena hidangan sederhana dalam jumlah secukupnya pun tidak akan mengurangi makna Idul Fitri itu sendiri. Idul Fitri tidak harus dengan membeli baju baru karena baju yang bersih dan layak pakai pun sudah cukup. Beridul Fitri juga tidak harus mudik karena bersilaturahmi dengan orangtua dan saudara bisa dilakukan kapan saja, tidak harus di moment Idul Fitri. Meminta maaf juga tidak harus pas lebaran, kapan pun kita merasa telah berbuat salah kepada orang lain, segeralah minta maaf, pun halnya dengan memaafkan. Insya Allah Idul Fitri tidak lagi membutuhkan biaya besar dan semuanya akan terasa lebih mudah..”

Denger ceramah itu saya kok jadi berasa ditampar ya. Mengingat betapa “nggrundelnya” saya karena nggak bisa mudik ke Surabaya tahun ini :(( . Mengingat si mbak di rumah yang barusan bilang :

“mbak, sandalnya mbak Devi yang kemarin mbak mau buang itu ternyata pas banget di kaki Ayu, anak saya. Dia suka banget, malah bilang : Bu, nanti lebaran nggak usah beli sepatu, aku mau pakai sepatu ini aja.. “

:((

Bukan saya sok kaya dengan membuang-buang sandal, tapi kebetulan sandalnya memang sudah rusak dibagian resleting belakangnya, kalau pun toh saya niatnya mau ngasih si mbaknya ya nggak yang bekaslah.. ๐Ÿ™

Jadi, buat yang tidak berlebaran dengan baju baru, tidak beropor ayam, tidak berketupat, tidak mudik (kaya saya), kita masih tetap bisa berlebaran kok.. Kan beli baju baru, makan ketupat plus opor ayam, atau mudik nggak harus pas lebaran kan? Insya Allah kita masih bisa melakukannya di luar hari lebaran.. *menabahkan diri*

Tapi masalahnya adalah.. saya, saya.., saya kangen sama kaastengels yang sangat keju bikinan mama saya ituuuu.. :((

[devieriana]

Continue Reading

I love my job..

Tulisan ini terinspirasi dari curhatan seorang sahabat.. ๐Ÿ™‚

Semua orang pasti punya pekerjaan & karir masing-masing. Mau di swasta atau jadi PNS seperti saya. Pekerjaannya pun pasti juga beragam jenisnya, pun tingkat kesulitannya. Namun tak jarang ditengah-tengah pekerjaan yang kita lakukan secara rutin ada kalanya muncul kejenuhan. Jenuh dengan lingkungan & suasana kerjanya, jenuh dengan jenis pekerjaannya, pun penyebab jenuh lainnya.

Tergelitik dengan pernyataan seorang teman, “aku tuh lama-lama bosan dengan pekerjaanku. Tapi kalau aku nggak kerja aku akan jauh lebih bosan..”, keluhnya di suatu sore. Saya paham dengan apa yang dia rasakan. Kebosanannya disebabkan dengan pekerjaan yang nyaris monoton & kurang ada variasi. Lah dipikir saya juga banyak variasinya? Enggak juga. Pekerjaan saya juga sama monotonnya. Mengerjakan jenis pekerjaan yang sama hampir setiap hari. Apa lama-lama nggak bosan? Tapi ya itu pinter-pinternya kita mengelola kejenuhan & kesibukan yang “itu-itu melulu”.

Untungnya saya selama bekerja bukan tipe “kutu loncat”, yang sering pindah kerja sana-sini. Karir saya kebanyakan bertahan lama, lebih dari 2 tahun. Saya dulu sempat bekerja sebagai seorang fashion designer di sebuah perusahaan garment di Malang. Itu saya jalani hampir 3 tahun lamanya. Bosan? Pernah. Jenuh? Saya nggak bilang enggak. BT karena bos sering marah-marah? Hmm, pasti. Jenuh banget sehingga tidak ada satu ide mode apapun yang dilahirkan hari itu juga pernah ~X( . Intinya ketidaknyamanan ketika bekerja itu pasti ada.

Atau ketika saya bekerja di perusahaan telekomunikasi yang itu, yang namanya jenuh, stress, capek, makan ati, itu juga pasti ada. Tapi ya namanya bekerja di bidang public service ya pasti begitu. Dimarahi pelanggan sudah makanan sehari-hari. Kalau nggak ada yang marah-marah justru malah aneh. Lho?! ;)). Atau ketika saya pindah ke back office & saya memegang pekerjaan yang menuntut jiwa leadership dengan sekian anak buah. Yang namanya stress & under pressure itu pasti ada. Deadline di setiap akhir bulan, yang kalau laporannya nggak selesai efeknya anak buah kita gajiannya juga bakal terlambat. Nah, itu kan juga bentuk tanggung jawab yang besar. Stress? Pasti ada.. :((

Ada satu hal yang membuat saya awet berkarir dalam sebuah pekerjaan, bagaimana caranya supaya saya enjoy dengan pekerjaan saya, lingkungan saya, teman-teman saya. Nggak mungkin sebagai orang baru saya menuntut lingkungan yang harus berubah untuk saya, tapi justru sayalah yang harus menyesuaikan diri dengan lingkungan baru saya. Beruntung saya orangnya mudah menyesuaikan diri sehingga dalam waktu yang tidak terlalu lama saya sudha bisa membaur dengan orang-orangnya & pekerjaan baru saya.

Ada hal unik yang saya rasakan ketika berpindah dari karyawan swasta menjadi pegawai negeri. Ada banyak hal signifikan yang saya rasakan juah berbeda dengan pekerjaan saya sebelumnya. Mulai lingkungannya, jenis pekerjaannya, kultur & budaya kerjanya, orang-orangnya, aplikasi & alur kerjanya.. Ah, banyaklah pokoknya. Sempat mengalamiย  “culture shock”? Pernah, tapi ya itu tadi, alhamdulillah nggak sampai terlalu lama. Apakah lantas saya merasa bosan setelah sekian bulan saya berkarir di sini? Ada banyak hal yang membuat saya belajar. Ada banyak hal menarik yang bisa membuat diri saya berkembang. Salah satunya adalah ketika saya diajak bergabung dalam tim keprotokolan di biro kepegawaian. Yang tugasnya mempersiapkan acara pelantikan pejabat di lingkungan Sekretariat Negara. Ada banyak hal yang bisa saya pelajari disana ketika bertugas sebagai pembawa acara (MC) atau pembaca Surat Keputusan Presiden/Menteri.

Tapi terlepas dari itu, dari semua karir yang pernah saya jalani ada beberapa hal yang saya ingat :
1. tidak ada satu pun ilmu yang telah kita pelajari di bidang pekerjaan sebelumnya yang akan terbuang percuma, pasti ada yang akan terpakai;

2. ketika kita menjadi orang baru, cepatlah beradaptasi, jangan menuntut lingkungan yang harus beradaptasi dengan kita;

3. terapkan can do attitude, ketika mendapat tugas baru jangan langsung bilang “nggak bisa!”, karena ketika kita bilang “nggak bisa” itu akan menjadi pemicu ketidakbisaan-ketidakbisaan berikutnya, yang penting berusaha dulu;

4. semua ilmu yang kita dapatkan di dalam dunia kerja adalah ilmu yang bisa dipelajari, asalkan kita tekun pasti bisa;

5. jika ada banyak hal yang perlu diingat berkenaan dengan prosedur kerja, jangan segan untuk mencatat, karena yang namanya memory otak pasti ada kapasitasnya;

6. ketika kita merasa kurang nyaman atau mengalami kendala dengan pekerjaan & tidak bisa kita selesaikan sendiri, diskusikanlah dengan atasan, walau bagaimana pun mereka atasan kita & perlu tahu apa yang dialami bawahannya;

7. pimpinan akan melakukan review & menilai hasil kerja kita, just give & do your best.. :-bd

8. kalau memang kita jenuh atau bosan ambillah cuti, refreshing-lah, semoga ada kesegaran baru nantinya ketika selesai cuti;

9. jika memang ternyata ada karir yang jauh lebih baik di luar sana atau ada bisnis wiraswasta yang jauh lebih menjanjikan ya kenapa tidak? Ambiiill.. \m/

10. ketika belum ada pekerjaan baru yang lebih baik, jalanilah pekerjaan yang sekarang dengan sebaik-baiknya & jangan lupa bersyukur karena kita masih diberikan kesempatan memiliki pekerjaan padahal di luar sana ada banyak sekali orang yang kesulitan mencari pekerjaan.. ๐Ÿ˜‰

[devieriana]

gambar dari sini

Continue Reading

Twitter vs Facebook

“โ€œIndonesia is the third largest tweet producer in the worldโ€

Beberapa tahun belakangan ini facebook boleh jumawa bisa menggantikan posisi kejayaan situs-situs jejaring sosial macam friendster, multiply , plurk , koprol dan beberapa situs sejenis lainnya. Ya memang sih temen-temennya bakal itu ke itu juga, lha wong cuma migrasi situs ;)). Tapi agaknya kali ini facebook harus mulai waspada dengan mulai berpindah hatinya beberapa pengguna facebook ke akun twitter. Ya situs mikroblogging yang mengijinkan para cicitcuiters mengoceh dalam 140 karakter itu.

Buat sebagian orang facebook dirasakan masih cukup bisa mengakomodir kebutuhan bersosialisasi terutama dengan teman-teman lama yang mungkin sudah jauh di negeri seberang atau bahkan hilang di antah berantah (saking nggak tahu kabarnya). Tapi twitter menyediakan media yang jauh lebih simple & berbeda daripada pendahulu-pendahulunya. Di facebook memang fiturnya jauh lebih komplit karena bisa apa saja disitu, mulai posting status, youtube, link, tag foto, tag teman, main games & kuis. Sedangkan twitter โ€œhanyaโ€ menyajikan kolom sepanjang 140 karakter yang membuat kita bisa menulis status atau bahkan melakukan retweet dan berbalas tweet dengan rekan lainnya. Tapi kalau mau posting foto, video, atau link tetap masih bisa, tapi tampilannya jelas berbeda dengan facebook. Ya iyalah kalau bikin produk baru tapi fiturnya sama saja dengan yang sudah ada ya buat apa ๐Ÿ™‚ . Hmm, cuma itu saja? Ya enggaklah, kalau sudah aktif di twitter dijamin akan ketagihan. Halah ;))

Tanpa mengurangi rasa hormat,ย  teman-teman di kantor (terutama) banyak yang masih asyik bersosialisasi melalui facebook. Tiap istirahat pasti bukanya facebook. Sementara saya sudah jarang-jarang bukanya. Buka kalau inget, buka kalau pengen. Beberapa diantara teman saya sering tanya apa bedanya twitter dengan facebook, apa kelebihannya, dimana letak keasyikannya, dll. Wah kalau soal itu jawabnya bisa panjang ya. Karena bisa jadi nanti kembalinya ke selera individu juga. Jadi saya cuman menjelaskan saja, tapi nggak mengajak, hehehe.. Soalnya sudah ada yang pernah saya ajak coba bikin akun twitterย  tapi ternyata responnya begini :

โ€œAh, ternyata nggak asyik ah. Kok bisa sih kamu suka banget maininnya? Bagusan juga facebook..โ€

Haiyaaa.. baiklah teman, mungkin jalan kita berbeda. Kita tak mungkin bersatu. Halah ;))

Ya sekali lagi kembali ke selera sih ya. Kalau saya jujur nih, sudah (nyaris) bosan sama facebook. Alasannya? Ya karena cuma begitu-begitu saja big grin. Pakai facebook buat komen iseng atau kebanyakan sih buat posting link blog ini kalau kebetulan ada postingan baru ๐Ÿ™‚

Semua situs punya era kejayaan masing-masing. Pergantian situs yang akan, sedang, sudah booming itu hanya masalah waktu. Setiap kali ada situs baru yang menawarkan sesuatu yang lebih berbeda & segar pasti akan dengan segera diikuti oleh banyak orang yang membuat akun baru. Jadi, akankah situs facebook akan menurun kejayaannya dalam beberapa waktu ke depan & digantikan dengan situs lainnya? Weโ€™ll wait & see.. \m/

Eh, eh, foursquare juga lucu loh ๐Ÿ˜‰

[devieriana]

Continue Reading

Jadi, direkam atau nggak?

Dalam beberapa hari ini merebaknya kasus tentang video porno yang dimainkan oleh 2 orang yang wajahnya mirip dengan artis Ariel & Luna Maya menjadi trending topic di berbagai media, khususnya di media elektronik. Tak heran jika menjadi trending topic, karena kebetulan keduanya adalah 2 orang artis yang cukup dikenal & image-nya tidak seburuk yang kita kira. Ya memang sih sampai sekarang belum ada kepastian tentang siapa sebenarnya kedua orang yang ada dalam video itu. Tapi publik sudah terlanjur menyimpulkan bahwa memang benar 2 artis itulah yang ada di dalam video itu ๐Ÿ˜•

Jujur nih, waktu saya mendengar heboh berita ini di twitter saya sedang di dalam kelas prajabatan ;)). Hanya kasak-kusuk sana-sini, baru pas istirahat temen-temen pada heboh membahas ini itu. Rata-rata sih pada nggak percaya, karena image Luna sebagai artis yang fun & jauh dari image negatif, kecuali waktu bermasalah dengan infotainment kapan hari ya. Tapi ya sudahlah kalau itu sih mungkin masih wajarlah ya karena namanya manusia pasti ada keselnya juga kalau dijadikan bulan-bulanan berita infotainment. Toh sekarang hubungan dia dengan pihak media juga sudah baik-baik aja kan? Kalau Ariel, ya selama ini saya (untungnya) nggak ngefans sama dia walaupun secara wajah okelah ya. Trus? Ya nggak ada, cuma pengen ngomong gitu doang :)) *plaakk!!*

Belum habis rasa keterkejutan publik, pagi ini pun kita kembali dikejutkan dengan berita tentang (lagi-lagi) pria berwajah mirip Ariel yang kali ini “versus” wanita yang wajahnya mirip dengan artis Cut Tari. Yaelah, kenapa si mas ini lagi sih yang jadi pemeran utama prianya? Nggak ada “aktor” lain apa yang juga merekam hal pribadinya?ย ;)). Eh, bukan berarti saya ngarep bakal ada artis lain yang berlaku seperti ini lho ya. Cuma heran aja kenapa dia lagi, dia lagi, ada apa dengan kakangmas satu itu? Lagian kok ya iseng banget ya merekam hal yang sifatnya sangat pribadi tanpa menyadari faktor resiko kalau rekaman/dokumentasi itu jatuh ke tangan orang lain & akhirnya mereka yang akan jadi bulan-bulanan media.

Kita tentu yakin bahwa kalau ada orang yang dengan sengaja merekam/mendokumentasikan hal-hal yang dianggap pribadi, pasti sudah sadar dengan akibat/resiko yang akan ditimbulkan jika dokumentasi itu sampai jatuh ke tangan orang lain yang notabene bukan pihak yang berhak untuk mendapatkan dokumentasi itu kan? Lagian kita juga nggak tahu ke depannya nanti hubungan kita dengan orang yang ada dalam video itu bakal seperti apa. Apakah akan baik-baik saja atau akan bermasalah. Atau jika sampai jatuh ke tangan orang lain kita juga nggak pernah tahu apa motivasi orang itu ketika menemukan & lalu menyebarluaskan dokumentasi pribadi kita. Ya kan?

Dari hari ke hari teknologi sudah semakin canggih. Kita jadi lebih mudah dalam membuat sesuatu. Tapi jangan salah, justru dari kemudahan yang sudah disediakan oleh teknologi itu bisa jadi boomerang/senjata makan tuan bagi kita kalau sampai kita lengah atau tidak bijaksana ketika menggunakannya.

Media digital itu bahaya & jangka waktunya sangat cepat. Iya, segala sesuatu yang sudah jadi digital itu sifatnya sudah tak terkontrol. Contohnya nih ya, jaman sekarang untuk merekam suara, membuat foto, sampai membuat klip pendek saja sudah bisa dibuat dari handphone.ย  Jadi, sekali saja file yang kita anggap rahasia itu ter-copy berarti ada “harapan” untuk menjadi copy-copy lainnya. Iya kalau cuma satu copy, lha kalau copy itu “beranak” menjadi puluhan bahkan ratusan copy, apa nggak hancur kitanya? :-ss

Contoh lagi nih, misal kita punya 1 foto yang kita posting di suatu forum/situs internet. Ternyata dalam waktu 1 jam jumlah yang mengakses foto kita ada 100 orang & masing-masing membuat 1 copy, berarti ada 100 copy dong ya. Nah lho, itu baru 1 jam, gimana kalau satu hari, berarti sudah ada 2400 copy. Satu bulan (30 hari) = 30 x 2400 copy = 72.000 copy. Gila banget kan? Apa nggak langsung ngetop kita jadinya? Ya syukur-syukur sih kalau manfaatnya positif. Lha kalau negatif? ~X(

Yang sifatnya pribadi biarkanlah tetap ada di zona pribadi. Karena kok rasanya nggak penting banget ya kalau sampai hal-hal yang sifatnya sangat intim kita dokumentasikan, sekali pun untuk alasan koleksi pribadi, kecuali kita benar-benar bisa selamanya waspada untuk tidak membiarkan file itu keluar kemana-mana. Ah, tapi kok kayanya nggak mungkin ya, karena sebagai manusia ada saatnya kita lengah/lupa #:-s. Nggak sadar kalau di luar sana ada orang lain yang sirik atau kurang suka sama kita trus berusaha mencari kelemahan/keburukan kita :-O. Buat mereka yang nggak suka sama kita ya jelas bakal puas banget kalau sampai bisa menemukan kartu truf kejelekan kita :-ss

Setelah kasus video ini tentu ada domino effect yang akan menyertai kehidupan para pelaku yang wajahnya terpampang di video porno tersebut. Kalau memang benar mereka adalah artis-artis yang namanya sudah kita kenal itu, bisa jadi bukan hanya nama baik mereka yang akan hancur, tapi juga karir yang mereka bangun dari nol plus kerjasama dengan pihak-pihak yang menggunakan jasa mereka pun akan hancur berantakan. Ya nggak sih? Kan sayang banget tuh kalau efeknya nanti larinya ke nafkah/pendapatan juga nama baik. Susah lho mendapatkan kepercayaan kembali kalau image kita sudah cacat. Bisa sih, tapi pasti butuh waktu lama buat kembali normal. Ibarat cermin yang pecah, bisa kita satukan, tapi retakannya nggak akan pernah bisa rata.

Ya sudahlah ya, nggak perlulah membuka aib, menghujat & menjelekkan orang lain kalau merasa diri kita bukan makhluk sempurna. Karena toh kita nggak pernah tahu apa yang akan terjadi dengan kita di masa yang akan datang. Coba posisikan dalam posisi mereka yang sedang tersudut seperti saat ini, pasti nggak enak banget kan? Menjaga diri dari perbuatan yang menyesatkan itu yang paling penting. :-bd

Jadi.. gimana? mau direkam nggak nih? :-”

[devieriana]

gambar saya pinjam dari sini

Continue Reading

Anak vs Sinetron

Sebagai orang yang tidak menggemari sinetron, saya terbilang kurang update tentang sinetron apa saja yang sedang tayang, masuk episode berapa, ceritanya tentang apa, aktrisnya siapa saja. Yang saya ingat cuma sinetron jaman tahun jebot yang waktu itu ngehits banget : TERSANJUNG, yang sekuelnya dibuat sampai season enam (belas) mungkin? Dari cerita yang awalnya menarik sampai jadi aneh dan nggak masuk akal. Mulai dari cerita wajah asli sampai kecelakaan dan harus operasi plastik padahal itu untuk menggantikan pemain yang tidak diperpanjang lagi kontraknya oleh rumah produksi #-o

Cerita sinetron kita identik dengan kehidupan yang “bumi langit”. Perbedaan mencolok antara si kaya dan si miskin, yang kalau kaya bisa jadi kaya banget, kalau miskin ya miskin banget. Atau penokohan “hitam-putih”, kalau yang baik ya baik banget, kalau yang jahat ya jahat banget. Padahal kan kalau di dunia nyata yang jahat itu justru “abu-abu” ;)) . Adegan yang sepertinya ada kemiripan satu sama lain di setiap sinetron, misal : kecipratan lumpur dari mobil si kaya yang mengotori baju si miskin nanti ujung-ujungnya ketemu lagi & lama-lama mereka saling jatuh cinta, atau adegan ibu tiri yang jahat banget yang lebih mengingatkan saya pada bintang jadul Joyce Erna (kisah Arie Hanggara) atau ibu tirinya bawang putih ;)).

Memang nggak semua sinetron ceritanya begitu. Ada sinetron yang ceritanya membumi dengan pemain-pemain yang berakting sangat natural, misalnya : Si Doel, Keluarga Cemara. Ceritanya dekat dengan kehidupan sehari-hari dan akting para pemainnya pun juga alami. Ketimbang sinetron jaman sekarang yang kadang kurang realistis, banyak memunculkan kejahatan & kelicikan. Tapi kenapa justru sinetron yang seperti itu yang justru disukai masyarakat ya? Apakah memang masyarakat kita lebih suka dijejali dengan tontonan-tontonan berbau mimpi dengan lakon yang sangat hitam putih? ๐Ÿ˜•

Dulu saya pernah berdiskusi dengan salah satu teman jurnalis televisi yang kurang lebih bilang begini :

“tema yang nggak akan pernah basi walau sudah dibahas berulang-ulang di televisi atau novel ada 3 : seks, (perebutan) harta, dan cinta (segitiga). Itu cerita yang luas banget kalau dikembangkan jadi sebuah cerita..”

Terbukti memang, cerita yang kita temukan sehari-hari di televisi atau buku ya temanya nggak jauh-jauh dari itu. Saya pun akhirnya manggut-manggut.

Nah yang lucu nih (entah saya harus tertawa atau prihatin) pas sepupu saya kemarin cerita tentang keponakan saya yang baru berusia 2 tahun, yang mau tidak mau lihat tivinya se-acara dengan yang ditonton orang-orang dewasa yang ada dirumahnya, akhirnya terpengaruh dengan adegan yang ada di televisi. Sampai akhirnya diputuskan untuk berlangganan tv kabel khusus di stel film kartun. Karena sang ibu terkejut dengan kata-kata yang keluar dari mulut si kecil yang walaupun saya waktu dengar ceritanya bisa ngakak-ngakak, tapi lama-lama mikir segitu parahnyakah efek tontonan yang tidak tersortir itu?

Kalau dengar percakapan antara si kecil dengan mbak pengasuhnya yang ini saya nggak tahu mesti tertawa atau prihatin ya,

“Mbak, mbak mau mati nggak? Ayo sini masuk kulkas..”.

Nah lho, si Mbak disuruh masuk kulkas. Emangnya dia semacam buah-buahan? Atau, percakapan telenovela banget ketika si kecil menjawab dengan formal :

“entahlah Bunda, aku tidak tahu.. aku benar-benar bingung..”

Padahal cuma ditanya hari ini mau pakai baju warna apa? ;))

Memang sih untuk beberapa tontonan tertentu pihak televisi sudah menyertakan kode tertentu untuk jenis tayangannya. Misal : BO (Bimbingan Orangtua), R (remaja), SU (Semua Umur). Tapi yang namanya orang dewasa kadang suka terlewat, tidak sengaja menonton acara kegemaran mereka sementara ada anak-anak yang juga ikut menonton. Tidak bisa dipungkiri karena memang porsi acara anak-anak jauh lebih sedikit dibandingkan dengan acara untuk orang dewasa. Bahkan tayangan yang sebenarnya dikhususkan untuk anak-anak pun juga masih berbau konten orang dewasa, misalnya acara Idola Cilik. Bener sih yang nyanyi anak-anak, tapi lihat dong materi lagunya.. lagu dewasa semua. Karena memang lagu anak-anak juga sudah jarang terdengar. jadilah lagu orang dewasa yang dimodifikasi sedemikian rupa, diubah beberapa syairnya menjadi syair yang “lebih anak-anak” :-”

Kita juga tidak bisa sepenuhnya menyalahkan media televisi sebagai kambing hitam berubahnya perilaku anak-anak menjadi lebih agresif & menjadi “kurang anak-anak” alias dewasa sebelum waktunya. Karena yang lebih penting sebenarnya adalah faktor lingkungan. Bagaimana pun mereka lebih banyak bergaul dengan lingkungan sekitarnya ketimbang televisi. Jadi kontrol memang sebaiknya tetap dari para orang tua terutama dalam menyortir tayangan-tayangan mana saja yang pantas & boleh dikonsumsi oleh anak-anak, tayangan mana saja yang butuh pendampingan orangtua, dan tentu saja memilih tayangan mana saja yang aman dari segala bentuk kekerasan baik verbal ataupun tindakan. Karena anak-anak ibarat kertas putih, isinya akan tergantung dari siapa yang menuliskan & apa isi tulisannya.. ๐Ÿ˜‰

[devieriana]

Continue Reading