Tamasya Yang Tanggung

Kali ini saya mau curhat nggak penting. Hari Minggu kemarin boleh dibilang “harlotnas”, hari nyolot nasional. Betapa tidak, saya yang sudah empot-empotan menahan emosi sejak seminggu menjelang “bulanan” harus berhadapan dengan segala hal menjengkelkan sejuta umat šŸ‘æ . Maklumlah ya, namanya perempuan pasti ada saat-saat dimana harus dilanda emosi yang tidak stabil selama beberapa hari. Menjengkelkan? Iya banget :lol:. Buat diri sendiri aja sudah terasa menjengkelkan, buat orang lain apalagi.. Untung suami sudah paham & bisa mengerti “tabiat” bulanan perempuan satu itu. Kalau enggak, mungkin sudah terjadi huru-hara & perang antar suku kali ya.. :mrgreen:

Rencana mau ke Cibubur lihat rumah. Lihat-lihat doang kok, belum beli. Kan isi celengannya belum sampai se-tong minyak tanah :D. Dan kenapa yang dipilih daerah Cibubur, CileungsiĀ dan sekitarnya? Kenapa nggak di Pondok Indah, kan lebih deket tuh. Alasannya cuma satu. Mahal, bos ! *nangis*. Rencana awal berangkat pagi biar nggak terlalu panas tapi berhubung suami harus menjalankan banyak ritual pagi (untunglah dia nggak sampai prosesi luluran, spa & siraman), jadilah kita sampai sana sudah dalam suasana tengah hari bolong nan panas membakar kulit. Tahu sendiri & bisa dibayangkan kan akses kearah Cibubur & seterusnya bukan main panasnya & kita bermotor ria ke arah sana. Well no problemlah untuk masalah bermotor ria itu, sudah biasa. Lha terus masalahnya?

Nah, setelah dari Cibubur, Jonggol dan endebrey endebrow itu, suami mengajak ke.. taraaaaaa.. Taman Buah Mekarsari !. WHAT?! Iya, ke Taman Buah Mekarsari. Ngapain coba?. “Ya kan kamu belum pernah kesini, sekali-kali kesini aja biar tahu. Aku juga belum pernah kok..”, jawabnya enteng. Percuma juga saya bilang nggak pengen kesitu tapi toh yang bawa motor kan dia, jadi ya terpaksa dengan wajah gondok & emosi berlebihan saya melangkahkan kaki dengan amat sangat ogah-ogahan. Lha, kenapa mau kalau nggak suka? Ya dalam hati sebenernya saya juga penasaran seperti apa sih Taman Buah Mekarsari yang katanya taman buah terbesar didunia itu, sambil menenangkan diri dari emosi yang naik turun nggak jelas itu.

Ternyata, kalau mood kurang menyatu dengan lokasi bisa jadi lokasi senyaman apapun bisa jadi biasa-biasa saja atau bahkan menjadi kurang menarik ya. Itu yang terjadi sama saya kemarin :mrgreen: . Datang sudah sangat siang, melihat venue-venue yang (menurut saya) kurang menarik & wahana yang “begitu-begitu” saja membuat mood saya makin turun & ingin segera enyah dari bumi Taman Buah Mekarsari. Apalagi sepanjang jalan hanya melihat jajaran pohon nggak jelas itu makin membuat saya bosan. Iya saya tahu, saya belum melihat semua lokasi kebun buahnya. Cuman, berhubung saya udah nggak mood, jadi ya semua terasa serba nggak asik. Apa sih? :lol:. Suami sih enjoy aja, sambil mengabadikan beberapa spot yang menurut dia menarik. Suami kebetulan lumayan pinter kalau mengambil angle-angle atau spot-spot untuk foto. Tapi tetep aja kalau menurut saya nggak ada yang menarik ngapain difoto. Nyebelin banget deh saya waktu itu. Ngerasa sendiri aja :mrgreen:

Karena Taman Buah Mekarsari termasuk arena wisata keluarga jadi yang datang juga keluarga-keluarga gitu, kebanyakan dalam rombongan besar, datang dengan menggunakan mobil keluarga atau bis (kebanyakan berplat daerah luar Jakarta). Ditambah lagi kemarin hari Minggu pula. Jadi makin kloplah keramaian & hiruk pikuknya, begitu pula dengan peringatan harlotnas yang saya rayakan itu :mrgreen:. Suami yang berusaha setengah mati membuat saya antusias dengan suasana disana, harus menyerah karena mood saya tak juga berubah sejak kedatangan kami di tempat itu.

” Mau naik kano nggak? Nanti kita foto-foto ditengah danau situ..”
” Ogah ah, panas.. Nanti item.. Tengah hari bolong kok panas-panas ditengah danau..”
” ya udah, mau foto disitu nggak, ditempat teduh situ?”
” Enggak ah, pemandangannya jelek. Nggak ada bunga-bunganya. Gersang..”

Masih sabar, tapi yakin deh pasti pengen njambak šŸ˜†

” Kamu udah laper? Mau makan nggak? ”
” Enggak. Belum laper.. “, dengan muka yang amat sangat nggak mood banget.
” sama sih aku juga belum laper. Mau naik bis yang itu, buat keliling-keliling nggak?”
” ogah ah, males. Liat tuh, selalu rebutan & penuh banget..”, jawab saya bikin alasan.
” ya kalau nggak mau yang penuh, harusnya tadi kamu bawa bis sendiri..”

Kali ini saya yang nahan ketawa. Membayangkan membawa sendiri bis warna-warni yang gandeng dua itu buat keliling taman Buah Mekarsari aja saya udah sakit perut. Belum lagi melihat wajah suami yang datar banget tanpa emosi, malah sesekali cengengesan. Haduh dia memang sabar banget ngeladenin saya yang pecicilan ini :lol:. Untunglah dia tabah. Kalau enggak mungkin saya udah disuruh pulang sendiri, kali. Jangan sampai deh, kan saya paling bodoh kalau menghafal jalan. Nanti saya tersesat gimana? :lol:.Ā  Jadilah acara yang seharusnya fun, karena saya yang lagi nggak mood seenggak mood-moodnya umat, akhirnya tak lama kemudian harus pulang. Suami juga memilih untuk mengalah, daripada bonyok katanya, hehe.. Iyalah ngapain lama-lama di tempat yang saya nggak bisa menikmati keindahannya samasekali šŸ˜† *ditabok bolak-balik*

Jadi? Ya, akhirnya kita pulang ke Mampang dengan sebuah cerita tamasya yang tanggung :mrgreen:. Sekianlah posting nggak penting dari saya.

Makasih :mrgreen:

Ā 

Continue Reading

Incubus – Drive

Salah satu lagu favorit saya yang hampir selalu berhasil membuat mood saya kembaliĀ  :D. Check this out, Incubus – Drive .

” Sometimes, I feel the fear of uncertainty stinging clear
And I can’t help but ask myself how much I let the fear
Take the wheel and steer
It’s driven me before
And it seems to have a vague, haunting mass appeal
But lately I’m beginning to find that I
Should be the one behind the wheel

Whatever tomorrow brings, I’ll be there
With open arms and open eyes yeah

Whatever tomorrow brings, I’ll be there
I’ll be there

So if I decide to waiver my chance to be one of the hive
Will I choose water over wine and hold my own and drive?
It’s driven me before
And it seems to be the way that everyone else gets around
But lately I’m beginning to find that
When I drive myself my light is found

Whatever tomorrow brings, I’ll be there
With open arms and open eyes yeah

Whatever tomorrow brings, I’ll be there
I’ll be there

Would you choose water over wine
Hold the wheel and drive

Whatever tomorrow brings, I’ll be there
With open arms and open eyes yeah

Whatever tomorrow brings, I’ll be there
I’ll be there..Ā  “

[devieriana]

gambar dari sini

Continue Reading

Email Untuk Seorang News Anchor

Ā 

Sejak beberapa bulan yang lalu saya punya hobi baru yang unik, yaitu “ngasih masukan”. Eh biasa aja ya? Sebenernya bukan hobby ya, kesannya kalau hobby kok sesuatu yang dikerjakan dengan suka cita & kontinyu. Ini kegiatan yang ngasal & seseneng-senengnya saya aja. Kalau lagi mood ngasih masukan ya ngasih kalau enggak ya bakal saya biarin sampai busuk.. halah, apa sih? šŸ˜†

Saya ngerti sih kalau saya juga belum tentu bener, masih sering bikin salah, malah seringnya ngawur tapi kenapa berani-beraninya ngritik orang? Kapan hari dengan 3 orang penulis novel. Syukurlah semua tanggapannya positif. Bahkan ada yang sampai bela-belain nyamperin ke kantor saya buat nganterin edisi revisi novelnya. Nggak tahu ya kalau soal yang ini saya suka spontan aja & nggak tanggung-tanggung. Karena menurut saya itu salah satu bentuk perhatian saya sama seseorang.

Nah kalau sebelum-sebelumnya saya pernah ngasih masukan atau kritik sama beberapa penulis yang bukunya saya baca, sekarang sama news anchor alias pembaca berita. Belagu ya? šŸ˜€ . Kalau yang kemarin-kemarin lebih ke kenapa begini, kenapa begitu. Kenapa nggak sebaiknya begini atau begitu. Nah kalau sama mas yang satu ini saya masih maju mundur. Takut kalau dia nggak menerima masukan saya, atau bahkan nantinya malah saya yang dicap sok tahu.

Sebelum ngantor salah satu kebiasaan pagi saya pasti liat berita di salah satu stasiun televisi.. soalnya nggak mungkin di stasiun kereta api *dilempar ember isi pel-pelan*. Nah sejak pergantian news anchor favorit saya menjadi ke yang “belum” jadi favorit saya pasti membuat zona nyaman saya sedikit terganggu. Wong biasanya ngeliat mas X kok sekarang ganti mas Y. Nggak asik ah gaya siarannya (Ini liat beritanya apa orangnya sih?). Iya saya tahu nggak fair sih memang, kesannya jadi membandingkan, lagian namanya orang kan punya style masing-masing. Nggak bisa disamain. Ya sudahlah saya terima. Tapi nggak tahu kenapa kok hati ini rasanya gemes banget sama mas Y ini ya, kalau siaran kok ngomongnya balapan melulu sama partner siarannya. Kaya mendominasi gitu & itu nggak cuma sekali dua kali dia kaya begitu, hampir tiap hari. ” Duuh, nih orang udah ada yang ngebilangin belum sih kalau gaya siarannya itu bikin gemes karena memotong percakapan melulu? Emangnya dia itu baca beritanya sendirian apa?”, pikir saya geregetan.

Akhirnya begitu sampai kantor, bukan langsung buka aplikasi kerja tapi buka.. facebook :D. Saya cari namanya.. ketemu, saya add, tentu saja dengan membubuhkan kata-kata mesra yang bikin dia langsung accept invitation saya :D. Halah, maksudnya kata-kata yang begini lho.. ” Halo mas Y, saya add yah..Makasiiih šŸ™‚ “. Ealah, standar ya? Tapi jangan salah nggak berapa lama saya langsung diapprove lhoo.. Ciih, gitu aja bangga :D. Tindakan selanjutnya, kasih dia message. Bilang makasih udah di approve dululah, baru selanjutnya melancarkan serangan saya.. eh mulai lebayatun.

Intinya saya minta maaf kalau nanti isi message saya bikin hati kurang berkenan, karena berisi kritikan. Nyadar dong, wong nggak ada orang didunia ini yang dengan sukarela mau menerima kritikan, apalagi yang bikin kuping merah. Dengan segenap kehati-hatian saya ungkapkan preambule uneg-uneg saya. Dia bilang nggak apa-apa selama itu buat kemajuan dia & acara yang dibawakannya.

Merasa dapet lampu ijo, langsung saya sampaikan apa yang saya lihat plus kegemesan saya tiap kali ngeliat dia siaran. Tapi tentu dengan tidak membandingkan dia dengan anchor sebelumnya, nggak etislah. Sambil deg-degan saya tunggu responnya. Duh, bakal marah apa makasih nih balasan emailnya ya? Sejam kemudian email saya baru ada respon. Hasilnya adalah.. Pffiuh sangat welcome. Dia bilang makasih udah nyampein semua itu ke dia. Selama ini ternyata belum ada orang yang bilang semua itu sama dia. Kalau selama ini dia terkesan mendominasi atau sering memotong percakapan partner itu secara nggak sadar (pingsan dong mas?). Berkali-kali dia menyampaikan terimakasih buat masukan saya & akan segera memperbaikinya. Saya sih seneng-seneng aja, dengan harapan nantinya nggak sekedar masukan tapi diperhatikan beneran.

Sehari, dua hari saya kok malah nggak ketemu sama mas itu di siaran paginya dia ya? Walah kemana ini? Pikir saya. Jangan-jangan dia “mutung” gara-gara habis saya kritik kemarin. Ah tapi enggak ah.. wong dianya welcome kok. Siapa tahu memang ini bukan jadwal siarannya dia. Coba besok pagi aja deh.. Hibur saya dalam hati..

Besoknya.. Taraaa.. dia siaran bersama si mbak partnerĀ  tetapnya itu. Deg-degan menantikan setiap kali pemotonganĀ  kata atau kalimat spontan bersama sang partner.. Hasilnya? Wow, saya nggak nyangka kalau saran saya bener-bener diperhatikan. Dia sekarang jadi lebih tertata bicaranya. Kalaupun dia nggak sengaja memotong percakapan langsung mengalah & memberikan waktu buat partnernya untuk bicara duluan. Nggak ada istilah balapan ngomong lagi. Sangat tertib & tektok sama partnernya. Duh, terharu saya. Nggak nyangka kalau ternyata saran saya itu beneran dipraktekkan, didenger & dimasukin ke hati, nggak cuman “inggih-inggih mboten kepanggih” alias ngiyain doang nggak dilakukan.

Terlepas dari apakah reply email saya kemarin cuma buat nyenengin saya aja atau memang dari dalam hati Anda, buat mas anchor news yang udah terima email saya beberapa waktu yang lalu, makasih udah mau berubah jadi jauh lebih OK ..
Good job, Bro ! šŸ˜‰

Ā 

Ā 

gambar dipinjam dari sini

Ā 

Ā 

Continue Reading

Diatas Langit Masih Ada Langit ..

Yang namanya manusia pasti nggak luput dari yang namanya sombong. Sudah manusiawi itu. Ketika sedikit saja merasa dirinya lebih baik dari yang lain pasti bibit-bibit kesombongan mulai muncul di hati masing-masing. Eh, saya lagi nggak ngomongin siapa-siapa kok, lagi ngomongin diri sendiri šŸ˜€ . Lagi pengen kontemplasi aja seperti biasa. Perenungan yang saya dapat dari hal-hal yang seringkali luput dari mata kita.

Jadi, ceritanya ada seorang ibu yang ketemu sama saya di lobby waktu ngurus kelengkapan & pemberkasan cpns. Dengan begitu bangganya dia menceritakan seluruh prestasi & kehebatan si anak. Yah, saya pikir wajarlah. Karena ketika seorang anak berprestasi pasti nama baik orangtua akan ikut terangkat. Karena itu juga akan menunjukkan bagaimana perjuangan orangtua mendidik & menjadikan anaknya sukses. Walaupun itu juga sebagian besar karena kerja keras anaknya sendiri, karena ketika berjuang, orangtua hanya mendukung, mendoakan, mensupport dari belakang sementara sang anak berjuang sepenuh tenaga mencapai apa yang dicita-citakan.

Saya sendiri ketika mencita-citakan sesuatu selalu berusaha melihat kemampuan saya sendiri. Karena hanya saya yang mampu mengukur kapasitas & kemampuan saya sampai mana. Nggak kan ngoyo kalau saya merasa nggak mampu. Orangtua pun sifatnya hanya mendukung untuk apapun yang saya cita-citakan, apapun yang saya lakukan selama itu baik & bermanfaat buat saya kedepannya. Tutwuri handayani, gitulah šŸ˜€ .

Kemarin, ibu yang saya temui di lobby itu bercerita dengan semangat ’45 tentang anaknya yang asisten dosen, yang lulus dengan IPK cumlaude, yang pas cpns selalu melampaui test interview. Intinya aanaknya itu pinteer & dia sangat bangga sama anaknya. Iyalah, wajar. Sayapun kalau jadi dia mungkin juga sama rasa bangganya sama anak saya. Tapi mendadak ilfil ketika dia mulai meremehkan, mengecilkan orang lain seolah hanya anaknyalah yang paling hebat diantara semuanya. Saya yang waktu itu ditanya IPK-nya berapa & lulusan mana harus menelan hampir seluruh kesabaran saya ketikaĀ  jawaban-jawaban saya berujung pada nada yang seolah bilang.. ” it’s ok. But sorry, you loose, darling”. Tahu gitu saya nggak usah jawab kali ya šŸ™‚ .

Seperti misal tentang IPK, responnya bikin males banget, ” Oh, anak saya IPK-nya lebih tinggi dari mbak, 3.8. Kalau mbak berarti nggak nyampe 3.8 dong ya..”. Bu, kalau IPK saya nggak nyampe 3.8 ya berarti lebih rendah dari anak ibu. Paham kok, nggak perlu dipertegas lagi..

Atau pas nanya lulusan mana, ” Oh, lulusan Unibraw.. anak saya Unpad lho..”. Hmm, masalahnya dimana ya? Toh sama-sama negeri kan?

Atau pas nanya saya sekarang kerja dimana, ” Oh di Telkomsel.. Kalau anak saya udah asisten dosen.. sebenernya dia udah ditawarin kerja ikatan dinas di Unpad tapi dianya nggak mau..dengan alasan.. bla..bla..bla..”. Nih ya bu, saya mah yang penting alhamdulillah udah kerja, dapet gaji, and I love my boss.. eh my job.. Rejeki orang kan beda-beda. Emang kalau jadi asisten dosen itu gengsinya lebih tinggi gitu ya?

Baru agak kesekaknya disiniĀ  : ” anak saya itu udah nyoba cpns kemana-mana & alhamdulillah semuanya melampaui tahap interview, mulai departemen ini, departemen itu, depdagri, deplu, dll.. kalau tes tulis sih selalu lulus semua deh.. Sampai bingung mau konsen ke yang mana. Ini aja pas lolos disini ya udah saya suruh konsen kesini aja. Kalau mbaknya udah nyoba berapa kali & berapa yang lolos?”. Kali ini suami saya yang jawab, ” alhamdulillah cuma sekali doang & langsung lolos bu..”. Aduh, sebenernya saya pengen ngikik-ngikik denger jawaban suami. Maafkan suami saya ya bu.. harusnya saya jawab ” saya udah nyoba berkali-kali nyoba test cpns & hanya ini yang lolos.. ” šŸ˜†

Saya sih paham betul, mungkin beliau overexcited dengan kepandaian & keberhasilan anaknya. Ya iyalah wajar, anak perempuan, masih muda, pinter, sekarang diterima di instansi yang sama kaya saya. Wajib bangga. Tapi kebanggaan itu akhirnya membawa dia jadi sedikit pongah, mengecilkan arti & keberadaan orang lain. Makanya tadi saya sms mama buat sekedar ngingetin kalau emang mama/papa ditanya sama orang tentang kami (saya & adik-adik saya), berceritalah sewajarnya. Jangan over excited, jangan sampai mengecilkan orang lain, ikutlah berbangga ketika orang lain juga bercerita tentang kelebihan anak-anaknya. Intinya jangan berlebihan. Kita nggak pernah tahu apakah orang lain yang dengar cerita kita juga sama excited responnya seperti saat kita saat menceritakannya. Kita nggak pernah tahu apakah orang lain juga sama tertariknya mendengar cerita kita. Karena tak jarang maksud mereka hanya sekedar ingin berbasa-basi šŸ™‚

Jadi keywordnya adalah.., jangan lebay, diatas langit masih ada langit. Itulah perenungan bagus saya dapat hari ini.Ā  šŸ˜€

Ā 

Ā 

Continue Reading

Pemenang Rose Heart Writing Competition 2009

By : Risa Amrikasari

Tak mudah untuk menentukan manakah tulisan yang ā€œlayak ā€œmasuk dan mana yang tidak. Tak mudah karena tema yang dibahas tak tunggal. Masing-masing penulis muncul dengan temanya masing-masing. Apa yang diangkat dan dibahas pun sangat eksperiensial. Sangat tergantung pada konteks dan latar belakang pendidikan.

Tak mudah juga karena gaya penulisan masing-masing penulis berbeda. Ada yang bermain dengan cerita, tuturan. Ada yang mencoba bermain dengan opini atau konsep. Dan ada yang betah dengan refleksi. Perbedaan itu menentukan mutu sebuah tulisan. Perbedaan itu menentukan menarik-tidaknya sebuah tulisan. Perbedaan itu menentukan dalam-tidaknya sebuah tulisan.

Meskipun demikian, kebanyakan penulis berbicara tentang perempuan, baik itu sebagai tokoh sentral (pencerita), maupun sebagai objek (bercerita tentang orang lain). Persoalan-persoalan perempuan diangkat di sini. Seks, gender, tubuh, stigma, dan lain-lain. Ada yang mengangkat persoalan itu dengan cara yang menarik dan tegas. Ada yang sedikit lebih dalam. Tapi ada juga yang biasa-biasa saja.

Karena ketaksamaan tema, gaya penulisan, dan ketajaman pembahasan, catatan dari saya ini bukanlah kata akhir. Kriteria yang saya pakai adalah tema yang diangkat, gaya penulisan, ketajaman eksplorasi dan eksplanasi, dan kedekatannya dengan pengalaman atau kekonkretan.

Mungkin ada tema yang kelihatannya menarik dan ā€berisiā€ (berbunyi akademik atau intelektual). Tetapi jika yang diangkat adalah konsep, bukankah sebaiknya kita membaca buku atau artikel yang panjang ulasannya daripada sebuah tulisan yang pendek, yang pada gilirannya meninggalkan pertanyaan yang tak selesai? Bukankah yang kita butuhkan adalah penerjemahan konsep?

Mungkin ada tema yang kelihatannya sederhana dan biasa-biasa saja. Tanpa ditulis dan dibukukan pun orang sudah tahu. Tapi mengapa diangkat dan dibukukan? Karena persoalan yang diangkat itu ā€œdekat sekaliā€ dengan pengalaman nyata. Gaya penyampaiannya pun ā€dekat sekaliā€ dengan pengalaman nyata. Sehingga ada keterwakilan emosi di situ. Bukan sebuah konsep yang jauh di atas sana. Bukan sebuah konsep yang untuk memahaminya orang membutuhkan waktu yang tak sedikit. Sederhananya begini. Kita sudah capek menghadapi berbagai kerumitan persoalan hidup. Otak kita sudah dijejali dengan berbagai hal rumit. Sehatnya, segera setelah itu kita ā€istirahatā€. Dan ā€istirahatā€ yang cocok adalah yang ringan-ringan saja.

Sementara persoalan penulisan yang baik dan benar, alias mengikuti aturan ejaan yang disempurnakan, tak saya persoalkan. Walaupun para penulis tak menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar, tak memperhatikan konstruksi kalimat yang benar, dan tak menaruh perhatian pada logika dan rasa bahasa, saya tak persoalkan.

Berdasarkan penilaian dan keputusan para juri yang terdiri dari :
1. R. Dwiyanto Prihartono, SH – Praktisi Hukum dan Aktifis HAM
2. Gabriel Goran – Redaktur Tabloid Genie
3. Dino Musido – Jurnalis Harian Merdeka

Maka dengan ini diputuskan :

Juara Pertama:
The Transformed Me – karya Devi Sutarsi

Pemenang berhak mendapatkan hadiah uang tunai sebesar Rp. 1,500,000,- (Satu Juta Lima Ratus Ribu Rupiah).

Ini cerita yang layak dibaca orang. Judul itu sangat padat dan indah (saya yakin, itu bukan sekadar berindah-indah). Mengapa indah? Karena transformasi. Dan saya berharap si penulis ini sadar bahwa dia bertransformasi dan bukan sekadar berubah. Bahwa dia bisa mempertanggungjawabkan mengapa dia menggunakan kalimat ā€œThe Transformed Meā€ dan bukan ā€œThe Changed Meā€. To be transformed dan to be changed adalah dua hal yang berbeda. Jangan kira itu sama.

Omongan Gadamer (filsuf besar) dalam bukunya yang berjudul Truth and Method berikut ini bisa memperjelas keduanya. ā€œTranformation is not change. A change always means that what is changed also remains the same and is held on to. But transformation means that something is suddenly and as a whole something else…what existed previously no longer exists. But also that what now exists is what is lasting and true.ā€ Kalimat terakhir dari penulis ini, Aku pernah menjadi ibu yang lalai. Dan aku ingin menebusnya, adalah sebuah ungkapan transformatif. Ungkapan itu adalah klimaks dari sebuah rangkaian transformasi.

Juara Kedua:
Dimana Pria Saat Wanita Membutuhkannya? (catatan hati seorang suami) – karya Kahar S. Cahyono

Pemenang berhak mendapatkan hadiah uang tunai sebesar Rp. 1,250,000,- (Satu Juta Dua Ratus Lima Puluh Ribu Rupiah).

Ini sebuah renungan yang sangat sederhana. Tampak seperti biasa-biasa saja. Tak ada yang baru. Tak ditulis dan diterbitkan pun tak apa. Tapi tulisan ini menarik. Yang menarik di sini adalah ketulusan dan kerendahan hati. Sebuah ungkapan saling menghormati. Dalam rumusan yang lain, cerita ini menunjukkan apa artinya sebuah komunitas. Keluarga adalah sebuah komunitas. Prototipe sebuah komunitas dunia. Komunitas itu selalu berdiri di atas komunikasi. Dan komunikasi itu, dalam metafisika William Desmond—ahli metafisika—adalah ā€being withā€. Itulah artinya intimasi.

Juara Ketiga:
A Beautiful Mind – karya Devi Eriana Safira

Pemenang berhak mendapatkan hadiah uang tunai sebesar Rp. 1,000,000,- (Satu Juta Rupiah).

Judulnya menarik. Saya tidak tahu apakah penulis lebih dahulu menonton film Beautiful Mind yang dibintangi Russel Crowe sebelum menulis curahan hatinya ini atau tidak. Saya anggap sudah. Kalau dia sudah menonton film He’s Just Not That Into You, besar kemungkinan dia sudah menonton film Beautiful Mind. Tapi saya tidak akan mempersoalkan keterkaitan isi film dan judulnya (Beautiful Mind) dengan isi tulisan dan judulnya (A Beautiful Mind). Bukankah ada lagu yang tak nyambung dengan judulnya? Yang menarik di sini adalah keberanian untuk membongkar diri dan menunjukkan kehadirannya yang total berbeda dengan orang lain di tengah arus umum. Kata Paul Tillich, salah seorang teolog, mesti ada courage to be untuk mempertegas diri dan merangkul nilai. Jika tidak, orang akan jatuh ke dalam anonimitas dan keseragaman. Dalam anonimitas dan keseragaman itu, orang bukan lagi pribadi. Orang sudah menjadi massa. Padahal, orang mesti menjadi pribadi. Tulisan ini, lebih tepatnya, adalah sebuah refleksi atas apa artinya menjadi ā€œpribadiā€.

Sedangkan untuk Pemenang Favorite yang juga merupakan hasil pilihan para juri adalah :

1. Destined to be A Woman – karya Ekawati Indriani P

2. Saya – karya Lala Novrinda

3. Wanitakah Pemicu Korupsi – karya Dewi Susanti

Pemenang berhak mendapatkan hadiah hiburan masing-masing Rp. 300,000 (Tiga Ratus Ribu Rupiah).

Congratulations to all the winners! You did a great job!

Buat sahabat yang belum berhasil menjadi pemenang dalam kompetisi ini, jangan putus asa, mari kita berlatih lebih giat lagi agar karya kita menjadi lebih baik lagi.

Seperti janji saya sebelumnya, semua karya yang masuk akan dibukukan dan diterbitkan dengan catatan segala perbaikan yang harus dilakukan akan dilaksanakan dan di dalam milist RHW 2009 (rhw2009@yahoogroups.com) anda akan dibimbing oleh Bang Gabriel Goran dan Bang Jacobus yang akan menjadi editor dari buku kita ini, agar artikel anda semua lebih menarik dan ā€˜layak jual’!

Mohon maaf atas keterlambatan pengumuman ini, Jakarta gitu loh! Kalau hari Jumat dan hujan, macetnya waduuuuuhh… parah! Selain itu, kepadatan jadwal kerja saya hari ini membuat saya hanya bisa mengakses internet atau facebook dari blackberry saya. Kepada para pemenang, silahkan kirim nomor rekening anda untuk pengiriman hadiah.

Dalam waktu yang tidak terlalu lama, saya akan mengadakan Launching buku ā€˜Especially for You’, saya berharap para peserta yang berada di Jakarta bisa hadir di acara tersebut karena saya juga akan berbicara mengenai kompetisi dan rencana penerbitan buku kita ini.

Thank you and love you, all! Muach!

sumber tulisan dari sini

[devieriana]

Continue Reading