Welcome, My Short Hair!

Sejak kecil saya sudah terbiasa dengan rambut pendek. Selain itu Mama dan adik saya yang perempuan juga berambut pendek. Jadilah kami sekeluarga kompak berambut pendek. Rambut terpanjang yang saya punyai saat itu sepanjang sebahu, habis itu potong pendek lagi. Sejak bekerja rambut saya makin pendek lagi. Potong shaggy super pendek menjadi “trademark” saya (halah, trademark). Selain kepala terasa lebih enteng dan irit shampo, setiap harinya saya juga jadi nggak perlu repot-repot ngeblow atau menata rambut. Karena kadang hanya dengan menggunakan jemari tangan saja rambut pendek saya sudah tertata sendirinya secara alami.

Nah, sejak menikah rasanya tahun 2007 adalah tahun terakhir kali saya berambut cepak. Alasannya karena suami lebih suka melihat saya berambut panjang, katanya biar saya terkesan lebih perempuan. Katanya lagi, biar saya nggak tertukar sama sekuriti di mall-mall. Dih, masa iya segitunya saya bisa sampai ketuker sama srikiti! :|. Walaupun harus melawan ego saya yang lebih suka dengan rambut cepak, akhirnya demi memenuhi permintaan suami ya sudahlah saya relakan rambut saya gondrong.

Nah ternyata ada plus minusnya juga berambut panjang. Plusnya, kita bisa mengkreasikan rambut dalam berbagai gaya. Bisa dibuat gaya rambut ikal, atau lurus. Bisa di gerai, atau diikat. Karakter saya yang periang menjadi terlihat lebih dewasa dan kalem dengan rambut panjang ;;). Iya, nipu-nipu dikit gitulah. Minusnya, berhubung rambut saya cenderung kering namun berminyak maka mau tak mau harus keramas tiap hari, dan itu membutuhkan waktu untuk menatanya menjadi apa yang saya mau, karena kalau nggak ditata rambut saya jadi kaya kepala singa :|. Selain itu butuh budget tersendiri juga untuk membuat rambut tumbuh panjang dan sehat. Nah, padahal saya orangnya kurang telaten jika harus ribet. Alhasil rambut saya pelan-pelan mulai mengalami kerontokan :-s.

Dalam minggu ini jumlah rambut yang rontok ternyata semakin banyak. Mungkin karena rambut saya stress dan kurang nutrisi ya, jadi akarnya kurang kuat :((. Untuk langsung potong rambut begitu saja tentu bukan suatu proses yang mudah. Harus “berantem” dulu sama suami. Bukan berantem beneran kok, tepatnya diskusi panjang karena ini menyangkut keridhoan suami terhadap masa depan rambut saya. Halah :)).

Setelah berdiskusi panjang dan manyun-manyunan semaleman, akhirnya keesokan harinya si Hubby memperbolehkan saya untuk potong rambut dengan syarat : hanya 5-10 senti, dan tidak boleh lebih pendek dari bahu. Pilihan yang sulit sebenarnya, karena saya memang nawaitunya potong pendek beneran :p. Tapi ya sudahlah, setelah adegan tawar menawar yang alot, diakhiri dengan sesi mengalahnya suami terhadap keinginan saya untuk potong rambut pendek,. Hahay, akhirnya saya pun berangkat ke salon dengan hati riang dan berbunga-bunga. Dramatis banget ya? :))

Seumur-umur, baru kali ini lho berangkat ke salon aja deg-degan. Apalagi setelah dikeramasin dan duduk di kursi salon, berasa akan menghadapi tukang jagal beneran deh.

“Potong apa nih, Kak?”
“Mmmh, potong pendek aja, aku udah bosen model rambut panjang nih. Yang bagus kaya gimana yah? Maunya sih sebahu aja..”
“Ih, tanggung amat sih, Kak. Dibawah kuping sekalian yah?”
“Hah? Jangan dong, itu sih kependekan namanya.. Bisa dikarungin sama suami nih.. :|”
“Eh, biar segeran tau, Kak. Serius deh. Tar aku bikin rambutnya oke deh. Mau yah?”
“Errr, tapi jangan pendek-pendek!”
“Iyaa, tenang aja, akan kubikin Kakak keliatan lebih imut..”
” 😐 “

Dan..

KRES! KRES! KRES! Si Mas Kapster itu pun mulai membabat habis rambut panjang saya yang sepunggung itu hingga benar-benar menyisakan rambut sepanjang… dibawah telinga seperti yang dia bilang tadi :|. Haduh, saya langsung panik beneran, karena janji saya ke Si Hubby kan hanya potong sampai sepanjang bahu, bukan sependek ini :-s. Jujur kacang ijo, agak takut diomel-omelin Si Hubby yang waktu itu lagi di Hypermart nih, yang sejak saya masuk salon sudah warning di BBM : “Jangan pendek-pendek!”. Tapi nyatanya rambut saya pendek juga. Apalagi setelah di hair dryer, makin terlihat pendeklah.. 😐

Walaupun saya memang terlihat jauh lebih segar dibandingkan ketika berambut panjang, dan sebenarnya dalam hati pun saya merasa lega karena akhirnya boleh potong (ke)pendek(an), tapi diam-diam ketar-ketir juga membayangkan apa reaksi Si Hubby melihat penampakan saya nantinya :-?. Saya pun akhirnya menyusul Si Hubby ke Hypermart. Reaksinya adalah :

“Bwahahaha, ini sih Polwan banget. Kamu Briptu Devi yah? Kamu dari Sekretariat Militer yah? Hormaaat, graakk!” =)), tukasnya seraya tertawa geli.

Duh, ini reaksi positif apa negatif yah? :-w. Tapi sepertinya dilihat dari “kepasrahannya” sih positif, karena ternyata dia nggak ngomel-ngomel sama saya tuh. Malah ketawa-ketawa geli. Ya sudahlah, apapun reaksinya, sekalian menghibur diri biar kata aslinya responnya negatif saya bilang positif ajalah ya, karena toh nggak mungkin mengembalikan rambut saya menjadi panjang kan? Ibaratnya nasi sudah menjadi bubur, biar enak ya ditambahin ayam, cakue, seledri, dan bawang goreng, kan? ;)). Bubur ayam dong..

Untuk mengembalikan ke rambut panjang tentu butuh waktu. Tapi biar saya rawat dulu deh, saya kembalikan dulu kesehatannya. Supaya nanti kalau sudah siap dia akan tumbuh dengan lebih sehat. Oh ya, katanya “No picture = hoax“? Tak apalah, nanti saja kalau sudah mood foto saya upload fotonya deh :p.

Jadi, selamat datang rambut baruku.. Semoga nanti kamu tumbuh jauh lebih sehat ya.. >:D<

[devieriana]

Continue Reading

“Saya Bersumpah..”

Teman-teman, maafkan kalau saya jarang-jarang posting akhir-akhir ini. Mungkin inilah hasil kombinasi antara load kerjaan yang mulai tinggi, mood yang naik turun, dan fakir ide 😐 :-?? . Iya, itu cuma alasan saya sih, tapi ya sudahlah, semoga sindrom ini tak berlangsung lama yah πŸ™‚

Oh ya, nanya dong, kalau kalian mendadak disumpahin sama orang kira-kira reaksinya gimana? Ngamuk? Balik nyumpahin? Atau tergantung disumpahinnya gimana dulu? Kalau disumpahin jadi cakep dan kaya sih kayanya mau ya? ;)). Kalau saya disumpahin malah seneng. Karena “disumpahin” yang ini beda dengan sumpah serapah seperti orang yang sedang marah. Walaupun disumpahinnya berat, tapi dengan disumpahin itulah yang akhirnya mengubah status saya menjadi jelas.. Ini sebenernya mau ngomongin tentang apa sih?

Iya, berdasarkan Keputusan Menteri Sekretaris Negara Nomor 40 Tahun 2011 tanggal 28 Februari 2011 telah ditetapkan pengangkatan 51 Calon Pegawai Negeri Sipil menjadi Pegawai Negeri Sipil Kementerian Sekretariat Negara , yang salah satunya adalah saya \:D/. Tanggal 6 April 2011 kemarin adalah hari bersejarah bagi kami ber-51 karena saat itulah kami mengangkat sumpah Pegawai Negeri Sipil menurut agama/kepercayaan kami masing-masing. Dengan demikian berarti hilang sudah huruf “C” di depan status kepegawaian kami menjadi menjadi PNS \m/. Tentu saja dengan telah penuhnya status kami sebagai PNS, penuh pulalah hak (dan kewajiban) kami sebagai Pegawai Negeri Sipil \:D/.

Sekedar cerita, saya masuk sebagai PNS termasuk yang kurang dini, karena angkatan yang sekarang termasuk yang masih “piyik-piyik” (muda-muda). Tapi ya, ketertarikan saya untuk masuk sebagai PNS juga baru muncul di tahun 2009 sih. Itu pun hasil coba-coba dan alhamdulillah masuk [-0<

Oh ya, ada satu moment yang pasti ada di setiap pelantikan pegawai yaitu pengangkatan sumpah diatas kitab suci sesuai dengan agama yang dianut oleh masing-masing pejabat/pegawai yang akan dilantik. Entah kenapa moment pengambilan sumpah dengan mengucapkan “Saya bersumpah..”, bulu kuduk saya langsung meremang, dan kulit saya mendadak merinding. Apalagi ketika (para) rohaniwan mengambil sumpah diatas kitab suci sesuai dengan agama pegawai yang dilantik. Hiiy.. kayanya nggak tahu ya, serem aja gitu buat saya, kenapa ya? :-s. Mungkin karena bersumpah itu berat, apalagi berkaitan langsung dengan Yang Diatas. Walau ironisnya kalau sedang pacaran atau ngobrol dalam kehidupan sehari-hari, untuk meyakinkan orang lain, kayanya gampang bener ya bilang sumpah.

Pernah punya pengalaman bersumpah, diangkat sumpahnya, menyumpahi atau disumpahin, barangkali? ;))

[devieriana]

Continue Reading

Love the job, not the boss!

“hwaaa, kok Bosku gantiii?” :((

“Lho, emang kenapa dengan calon bos barumu?”

“bosku orangnya nggak enak.. πŸ™ “

“ya udah kalau nggak enak ya jangan dimakan, kasih ke kucing aja..:-“”

“:|”

Tanggal 17 Maret 2011 kemarin adalah tanggal yang sangat bersejarah bagi seluruh pejabat eselon 2, 3, dan 4 di lingkungan tempat saya bekerja. Karena di hari itu ada sejumlah 568 pejabat yang dilantik untuk menempati beberapa posisi baru. Dengan adanya pergantian (rotasi) ini otomatis menimbulkan kejutan-kejutan tersendiri bukan hanya bagi pejabat yang bersangkutan (yang baru tahu akan menduduki jabatan apa baru di hari pelantikan itu) tapi juga para anak buah dibawahnya. Ada yang tetap di posisi lamanya, tapi banyak juga yang mengalami rotasi, dan menempati posisi di biro yang baru.

Saya yang setelah pelantikan baru menyusul berangkat ke Bogor untuk bergabung bersama teman-teman di lokasi outbound setelah mengemsi di pelantikan “akbar” itu, langsung mendapatkan berondongan pertanyaan dari teman-teman, “Mbak, siapa atasanku yang baru?”. Lha ya mana saya hafal, kan ada 568 pejabat disana yang dilantik, dan yang mengalami rotasi juga banyak :(. Reaksi teman-teman yang mulai sibuk mencari tahu siapa calon atasan barunya sangat beragam. Bagi yang sudah menduga siapa calon atasan barunya kebanyakan sudah siap mental. Tapi bagi yang baru tahu siapa atasannya reaksi mereka ada yang suka cita, ada yang biasa saja, ada juga yang shock.

Uniknya ada salah satu teman yang ketika mengetahui siapa atasan barunya, matanya mendadak berkaca-kaca. Iseng saya tanya kenapa, jawabannya simple, “bakal atasanku itu orangnya agak nggak asik, Mbak..”. Saya sih sebenernya nggak mau berkomentar lagi, tapi saya penasaran ;))

“Emang kata siapa kalau calon atasan kamu nggak asik?”

“Ya ada yang bilanglah, Mbak.. :(“

“Atasan kamu yang sebelumnya emang orangnya asik?”

“Sebenernya ya nggak asik juga sih.. Tapi yang sekarang bakal lebih nggak asik lagi..”

“Lah, kalau sama-sama nggak asiknya, harusnya nggak ngaruh-ngaruh amat dong :D. Lagian kan kamu baru dengar “katanya”, belum menjalani sendiri. Siapa tahu akan ada keajaiban. Yang menurut orang lain beliau kurang asik, tapi ternyata buat kamu beliau asik-asik aja.. ;). Standar orang kan beda-beda, Dear.. “

“Iya, sih.. aku juga belum menjalani kerja sama dia. Ah, tapi aku paranoid deh, Mbak.. :(“

Iya, saya tahu, jadi pemimpin yang bisa memenuhi harapan semua orang itu memang tidak mudah. Apa yang kita sangka sudah sesuai (menurut kita) ternyata pada kenyataannya belum bisa memenuhi harapan bagi sebagian orang. Pemimpin kan juga manusia, jadi ya wajar kalau ada yang tidak sempurna.

Dulu, waktu pertama kali kerja, saya nggak langsung dapat atasan yang “asik” kok. Pengalaman kerja saya berasa kerja sama Voldemort :-ss. Kalau ada si boss, kami bisa seharian deg-degan, mode siaga penuh diaktifkan. Karena atasan saya termasuk tipe atasan yang moody dan high temper (mudah marah). Sebagai langkah antisipasi menghindari kena semprot dadakan, kami bersepakat untuk mengetahui mood apa yang sedang dialami si boss secara dini dengan melihat raut wajahnya ketika memasuki kantor. Kami mengodekan ekspresi wajah si boss dalam bentuk “cuaca”. Berhubung ruangan saya berhadapan langsung dengan ruangan pak boss maka kami bisa mengetahui secara live “cuaca” apa yang sedang berlangsung di hadapan kami. Kalau “cuaca cerah” berarti moodnya sedang bagus, nggak ada masalah, kita boleh sedikit tenang hati. Kalau “cuaca mendung”, artinya kita harus waspada karena itu bisa jadi akan hujan atau bahkan badai. Kalau “cuacanya badai dan petir menyambar-nyambar” itu artinya kita harus siaga satu, menyiapkan mental untuk menampung segenap kemarahan, menyiapkan jawaban untuk kasus yang mungkin akan dipermasalahkan. Jadi, selama kerja disana kita berasa kerja di Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika. Lha ya gimana, wong isinya laporan perubahan cuaca melulu.. :|. Tapi positifnya adalah, selama berganti-ganti atasan, mental saya akhirnya jadi lebih siap karena sudah pernah merasakan bagaimana rasanya punya atasan yang “nggak asik” tadi. Untunglah setelah itu atasan-atasan saya asik-asik saja.

Kebalikan cerita diatas, saya juga pernah mendapatkan seorang atasan yang sangat enak diajak bekerjasama. Sangat humble, dan mau membaur bersama kami. Beliau tahu cara mendekati bawahannya, sering menyempatkan berdialog dengan kami secara personal, sekedar mampir di meja kami untuk menanyakan apa yang kami kerjakan, progress apa yang sudah kami dapat, berusaha mengenal kami secara pribadi, hafal seluruh nama-nama kami, dll. Hingga pada suatu hari, ketika kami mulai merasa nyaman dengan beliau yang baru kami kenal 4 bulan itu, secara mendadak beliau harus dipindahkan ke kantor pusat untuk menangani project baru lagi. Kami merasa sangat kehilangan seorang atasan yang kami anggap ideal walaupun kadang gayanya preman ;)). Tapi ternyata ada banyak hal baru yang lebih baik di kantor kami, ada path yang beliau bentukkan untuk kami teruskan perjalanannya. Ada kedekatan baru yang terjalin diantara para karyawan yang selama ini seolah individualis.

Seorang teman memberikan tips begini, “better love the job, not the boss!”. Kalau dipikir-pikir ada benarnya juga. Karena mungkin maksudnya adalah untuk mengantisipasi timbulnya zona nyaman yang tercipta karena kepemimpinan seseorang sehingga kita tidak akan terlalu terpengaruh jika sewaktu-waktu si boss pergi meninggalkan kita untuk project lain dan lalu digantikan dengan atasan yang baru. Karena sesungguhnya posisi dan pekerjaan atasan itu bersifat dinamis. Dia harus siap ditempatkan dimana saja selagi perusahaan membutuhkan tenaga dan pikirannya.

Ah, ya.. setiap orang pasti punya gaya kepemimpinan yang berbeda-beda, begitu pun dengan kita jika suatu ketika harus menjadi pemimpin. Sebagai bawahan kita tinggal belajar menyesuaikan diri, belajar menerima perubahan kebijakan dan gaya kepemimpinan yang beragam itu. Bagi para atasan semoga tidak segan untuk berbaur, belajar bersama, siap menerima masukan dari bawahan, dan tetap berusaha menciptakan suasana yang kondusif di lingkungan kerja. Yang penting adalah saling mengingatkan, terutama jika ada hal yang berjalan diluar koridor. Selebihnya biarkan semua berjalan secara natural.

Ah, ya.. semoga suasana kerja kita semakin menyenangkan dengan kehadiran atasan kita yang baru yah.. πŸ˜‰

[devieriana]

Continue Reading

Badan yang ideal itu …

Salah satu teman pria saya dulunya pernah menangani agency modeling, maka tak heran jika perhatiannya terhadap perempuan dengan bentuk badan ideal itu sangat jeli. Dia pernah bercerita tentang bagaimana seorang model menjaga berat badannya. Bahkan ketika latihan untuk suatu pagelaran mode dan mereka ingin memakan kudapan pun harus lolos sensor pertanyaan “berapa berat badanmu & lingkar pinggangmu sekarang? Kalau masih dalam batas ideal mereka boleh memakannya, kalau ternyata lebih ya berarti mereka hanya boleh memakan buah-buahan sebagai pengganti snack. Olala..

Teman saya pun kadang jika sedang berjalan dengan kami dan kebetulan bertemu dengan seorang yang berbadan ideal ala model komentarnya adalah, “nah, badan yang bagus itu kaya begitu tuh, lingkar dada sekian, pinggang sekian, pinggul sekian..”, ujarnya sambil memincingkan satu mata dan mulai mengeker dengan ujung jari telunjuk dan ibu jari. Kami yang jalan sama dia dan merasa badan kami tidak seideal perempuan yang dimaksud ya cuma bisa pasrah, saling berpandangan sambil nyakar-nyakar tembok :((. Dia juga sangat concern dengan make up yang dipakai seseorang, “ah, seharusnya blush on jangan ketebelan, dia bisa pilih lipstik dengan warna nude bisa kelihatan lebih bagus. Pakai riasan smokey eyes juga oke tuh buat dia..and bla, bla, bla..”. Kadang saya berterima kasih sama dia karena sudah memberi masukan-masukan cara berpenampilan, selain harus tahan dengan nyinyirnya dia mengomentari setiap penampilan kami.

Penampilan ala model tentu tidak bisa didapatkan secara instant, atau sulap, tapi melalui perjuangan berat olah raga, diet secara teratur, dan rajin merawat aset diri (penampilan). Itu kalau ingin serius berkarir di dunia modeling dan ingin tetap dipakai untuk iklan, pemotretan, dll. Untuk saya yang penampilan dan tinggi badan pas-pasan begini dan kebetulan bukan berkarir di bidang model, saran si teman untuk begini begitu tentu saya perhatikan hanya saja kadang masih suka saya bantah jika berhubungan dengan perut ;)). Haduhh, saya sih kalau lapar ya makan aja. Pikir saya, daripada saya teler masuk rumah sakit hanya karena saya punya pola makan yang nggak bener, kan? Hihi, iya sih itu cuma pembelaan saya biar halal makan apa aja :p. Iya, saya itu badannya kaya karet, gampang melar, gampang susut. Eh, kalau gampang susut ya nggak juga ding, pernah amat sangat gemuk ketika hamil dan untuk mengembalikan ke bentuk badan semula butuh waktu setahun lebih :|. Ya, karena saya malas berolah raga πŸ˜€

Awalnya sih saya cuma mesam-mesem aja kalau ada yang bilang, “segeran kamu sekarang, Dev”. Anggap saja saya memang terlihat jauh lebih segar dan menarik dibanding hari-hari kemarin :-“. Tapi ketika begitu banyak yang bilang begitu termasuk ayah dan ibu mertua saya dengan embel-embel, “gapapa, tulang pipi dan cekungan leher jadi nggak terlalu kelihatan”. Nah, jadi mikir sendiri ini beneran seger atau mulai gemuk coba? :-?. Saya memang akhir-akhir ini sering banyak kegiatan, dan kalau ada diklat yang sifatnya harus menginap di pusdiklat itu sudah pasti pola makan saya jadi sangat teratur, 3x sehari plus coffee break dengan snack yang yummy-yummy itu. Sudah diusahakan hanya mengambil dalam porsi sedikit lho ya. Tapi tetep, pulangnya jangan harap jarum timbangan bergeser ke kiri. Yang ada justru tekor lemak :((. Lemak yang kemarin sudah dihilangkan dengan susah payah, akhirnya harus rela nambah dalam waktu seminggu saja. Kalau sudah gemuk itu saya agak susah turunnya, sementara saya nggak begitu suka olah raga :|. Sementara itu tinggi badan saya juga “minimalis”. Kalau saya gemuk apa saya nggak lebih mirip bola bekel?

Pembelaan saya sih, selama baju masih banyak yang muat, suami belum komplain, belum nyuruh saya jangan dekat-dekat sama pesawat takut pesawatnya bingung mana landasan buat mendarat sih berarti saya masih dalam bobot “aman” :p. Syukuri saja apa yang ada di diri kita sekarang, yang paling penting mah sehat yah ;)) *ngunyah cupcake*

[devieriana]

 

 

gambar pinjam dari istockphoto

Continue Reading

Tentang “Copy-Edit-Paste” Itu..

Akhirnya, setelah seminggu menjalani Diklat Keprotokolan di Pusdiklat, saya bisa menyentuh laptop juga. Kemarin memang selama diklat sengaja nggak bawa laptop karena bawaan sudah ribet, dan kebetulan materi yang diajarkan juga tidak ada yang berupa take home task.

Jadwal yang padat juga menyebabkan rutinitas setelah makan malam adalah ngobrol sebentar dan lalu masuk kamar masing-masing. Di kamar pun kadang saya bisa langsung terlelap. Maklum mata saya kan mata bayi, nggak bisa diajak begadang sedikit, kecuali diniatin dan minum kopi.

Baiklah, saya boleh langsung CCG alias Curhat-Curhat Gemes ya? Jadi ceritanya, beberapa hari yang lalu saya di-mention oleh seorang teman blogger di twitter yang bilang kalau ada salah satu tulisan di blog abal-abal saya ini yang di copy paste oleh seseorang di http://hanyanulis.wordpress.com/2011/02/20/pilih-mana-bekerja-atau-berkarir yang kebetulan isinya sama persis dengan tulisan saya yang berjudul Jangan Jadi PNS! cuma beda judul doang πŸ™‚

Sempat heran, masa sih blog saya yang begini-begini saja tulisannya bisa memancing orang untuk melakukan copy paste? Atau mungkin karena saking abal-abalnya blog saya itulah yang mungkin membuat orang yang berniat copy paste berpikir, “halah, nggak akan ada yang bakal aware, deh… nggak ada yang kenal ini…”

Tapi ternyata walaupun tulisan di blog saya itu terdiri dari tulisan-tulisan nggak mutu dan remeh ini ternyata masih ada yang baca dan bahkan sampai mengenaliΒ  gaya penulisan saya, dan topik yang pernah saya tulis sebelumnya.

Memang konsekuensi orang yang punya blog salah satunya adalah harus melakukan update konten secara berkala. Tapi masalahnya terkadang inspirasi nggak bisa muncul seketika dan langsung bisa dituang dalam bentuk tulisan. Kadang ide berhubungan juga dengan mood. Sudah ada ide, tapi nggak ada mood nulis. Atau sebaliknya, ada mood nulis tapi nggak ada ide. Buat saya mood itu penting untuk menghasilkan tulisan yang “berjiwa”. Nah masalahnya (lagi), moodnya jarang ada yang pas, jadi ya nggak posting-posting :((. Terlalu banyak alasan saya ini! *keplak diri sendiri*

Nah trus, gimana kalau mengalami writers block, tulisan macet, nggak ada ide samasekali? Ini sih penyakit klasik, ya. Kalau saya sihmemilih nggak nulis aja selama beberapa waktu sambil melakukan penyegaran otak. Baca-baca lagi draft postingan, atau yang paling sering ya dengan cara blog walking secara berkala di waktu senggang. Biasanya sih setelah melakukan blogwalking langsung ada beberapa ide segar untuk diolah menjadi tulisan. Ingat, bukan copy paste ya. Mengolah inspirasi hasil blog walking itu menjadi tulisan dengan gaya bahasa kita sendiri.

Yang terpenting dari keseluruhan proses blogging adalah kalau kita memang butuh kutipan pernyataan tertentu untuk melengkapi tulisan, ya minta izin dari narasumbernya, atau menyertakan link tulisan yang mengarah ke pernyataan narasumber tersebut. Akan tidak etis rasanya kalau pernyataan seseorang dengan mentah-mentah kita copy paste dan kemudian kita akui sebagai pernyataan kita. Saya yakin kalau kita minta izinnya baik-baik si empunya tulisan nggak akan keberatan kok.

Ada komentar menarik ketika seorang teman bilang begini, “harusnya kamu seneng karena tulisan kamu di copy paste sama orang, karena itu berarti tulisan kamu menarik..”. Eh, tahu nggak sih, nulis blog itu juga pakai mikir lho. Kalau cuma sekedar copy paste aja sih semua orang pasti bisa. Tapi berusaha membuat karya yang original, tentu tidak mudah.

Sebenarnya sampai sekarang saya masih menunggu itikad baik dari pemilik blog untuk bersedia melakukan klarifikasi darimana dia dapatkan kalimat per kalimat yang ditulis di blognya tersebut. Karena setelah ditelusuri oleh seorang teman ternyata yang menjadi korban plagiarisme bukan hanya tulisan saya, tapi juga ada beberapa tulisan lainnya disana πŸ™ *prihatin*

Saya nggak akan marah kok, justru akan senang kalauΒ  si pemilik blogΒ  berbesar hati mau mengakui kalau tulisan-tulisan yang diposting di blognya adalah hasil tulisan blogger yang lain. Kalau buat saya sih percuma blog saya rame, banyak yang komen, banyak yang berlangganan RSS feed, tapi kalau postingan saya nggak ada yang murni hasil tulisan saya ya buat apa? Itu kalau saya, ya.

Ya udahlah ya, saya cuma bisa ikut mendoakan, semoga pemilik blog tersebut dikembalikan ke jalan yang benar dan dibebaskan dari jiwa plagiarisme.. [-o<
Amien…

 

 

 

[devieriana]

ilustrasi dipinjam dari http://inioke.com dan http://tanyajawabannya.wordpress.com

 

 

Continue Reading