Service Excellent (2)

Disclaimer : tulisan ini dibuat bukan bermaksud untuk membandingkan brand taksi yang satu dengan lainnya. Hanya sekedar berbagi pengalaman yang berkesan dengan seorang sopir taksi yang attitude-nya lain daripada yang lain.

—–

Dulu, sejak saya masih di Surabaya dan masih sering mondar-mandir ke Jakarta, saya sering menggunakan jasa layanan taksi berlambang burung biru terutama guna mengantarkan saya ke bandara pagi-pagi buta untuk mengejar first flight. Di beberapa kota besar selain Jakarta sepertinya citra perusahaan transportasi tersebut masih terbilang positif dan bahkan menjadi favorit semua orang. Tak terkecuali saya pada waktu itu.

Namun sejak berdomisili di Jakarta, ternyata citra tentang perusahaan transportasi favorit saya itu justru sebaliknya. Di Jakarta, taksi-taksi dengan brand non burung birulah yang jadi favorit penumpang. Alasannya kebanyakan karena sopir taksi burung biru kurang paham dengan jalanan ibu kota. Sebenarnya sih cukup bisa dipahami. Tingkat kesulitan untuk menghafal hampir semua rute jalanan ibu kota lebih besar ketimbang menghafal jalanan di daerah yang relatif lebih kecil. Untuk ukuran kota sebesar Jakarta dengan segenap gang, ceruk, dan lekukan, serta banyaknya nama daerah/jalan yang harus dihafal kurang memungkinkan untuk driver-driver yang kebanyakan masih muda dan mungkin belum pernah berpengalaman menjadi sopir taksi untuk langsung berjibaku di jalan raya. Walaupun semua itu tidak bisa dianggap sebagai pemakluman ya. Karena resiko terjun “berkarir” sebagai seorang sopir taksi ya harus tahu jalan. Kan nggak lucu kalau driver dan penumpangnya sama-sama nggak tahu jalan dan akhirnya nyasar berjamaah.

Nah, beberapa waktu yang lalu kebetulan saya pulang kantor naik taksi. Berhubung sudah lama berdiri di pinggir jalan dan taksi yang saya tunggu selalu penuh, akhirnya ya sudahlah saya putuskan untuk naik taksi burung biru yang lewat di depan saya. Awalnya sih sama saja, seperti biasa, tidak ada yang istimewa dengan pelayanan driver-nya. Hingga beberapa meter lepas dari kantor driver itu menunjukkan pelayanan yang “lain daripada yang lain”.

Kalau soal menyapa penumpang dan menanyakan arah tujuan sih sudah biasalah ya. Tapi kalau sampai menanyakan apakah AC-nya sudah cukup/kurang dingin buat saya, apakah tempat duduknya sudah cukup nyaman, atau ada beberapa greeting yang tidak biasa saya dengar, sepertinya dia memang berbeda . Kalau naik taksi kan biasanya kalau kita sudah naik ya sudah naik saja, tinggal menyebutkan tujuan kita kemana, ingin lewat mana, sampai di tujuan kita tinggal bayar sesuai dengan argo. Selesai. Tapi ketika kita bukan hanya sekedar diantar tapi juga ditanyakan apakah kita sudah cukup nyaman berada di dalamย  taksinya. Itu yang tidak biasa.

Diam-diam di sela kesibukan saya memelototi timeline twitter, saya memperhatikan lagi si Bapak yang saya perkirakan berusia sekitar 40-an itu. Kalau pelayanannya seperti ini jangan-jangan memang perusahaan sedang ingin memperbaiki citra yang kurang bagus di mata konsumen nih. Bagus juga ide perubahannya. Pikir saya. Ah, saya benar-benar seperti seorang mistery shopper deh kalau begini. Itu lho, pihak independen yang bertugas menilai kinerja badan usaha (pihak) tertentu yang salah satunya bertujuan untuk mengukur/mengetahui tingkat kepuasan konsumen. Oh ya, ketika masih aktif di dunia pelayanan dulu saya juga sering bertindak sebagai seorang mistery shopper/caller untuk mengukur seberapa jauh pengetahuan mereka tentang produk, bagaimana cara mereka melayani pelanggan dengan berbagai macam karakter, bagaimana cara penyelesaian mereka ketika menangani kasus tertentu, dll..ย  *pasang topeng* ;))

Beberapa saat kemudian, menjelang Bundaran Hotel Indonesia, tiba-tiba handphone Si Bapak itu berbunyi nyaring. Lagi-lagi saya dibuat terkesima dengan attitude beliau. Sebelum menerima telepon ternyata dia meminta izin apakah saya berkenan jika dia menerima telepon saat itu. Kalau driver lain mah boro-boro minta izin, kadang nyetir juga ada yang disambi sms-an kok :|.

Driver : mohon maaf Ibu, saya mohon izin menerima telepon, boleh?
Saya : oh, silakan Pak.. *bengong*
Driver : terima kasih..

Tak lama, terdengarlah konversasi antara Bapak itu dengan seseorang di ujung sana :

Driver : selamat sore, Pak.. Iya, bisa dibantu? Saya sekarang sedang mengantar tamu, Pak. Benar sekali. Mohon maaf, bisa kita sambung lagi nanti, Pak? Atau nanti saya yang akan menghubungi Bapak kembali.. Baik, Pak. Terima kasih. Selamat sore..

Wow. Saya seperti mendengar seorang mantan petugas call centre atau customer service officer deh. Saya paham betul diksi dan gaya bahasa yang teratur rapi seperti itu. Kira-kira Si Bapak ini baru ikut training, sengaja berimprovisasi, atau memang pembawaannya seperti itu ya? Satu hal lagi yang membuat saya saya salut adalah beliau membahasakan saya dengan sebutan “tamu”, bukan “penumpang”. Itu yang selama ini jarang saya dengar.

Tidak hanya berhenti disitu saja ternyata. Di akhir perjalanan, mendekati tempat yang saya tuju Bapak itu menyampaikan sebuah greeting penutup :

“Sebentar lagi Ibu akan sampai di tempat, silakan diperiksa kembali barang bawaan Ibu, jangan sampai ada yang tertinggal. Jika selama perjalanan ada tingkah laku kami yang kurang berkenan, kami mohon maaf. Terima kasih telah menggunakan layanan kami, selamat sore. “

Speechless sayanya. Berasa naik pesawat yah ;)). Sebagai orang yang pernah lama menjalani pekerjaan di bidang pelayanan konsumen menjadikan saya jauh lebih peka. Beginilah seharusnya pelayanan sebuah perusahaan transportasi besar, tidak hanya sekedar mempekerjakan driver yang memiliki skill menyetir dan mengantarkan tamu/penumpang dengan selamat sampai tujuan, tapi juga juga membekali mereka dengan soft skills, pengetahuan tentang etika, dan standar pelayanan. Hal yang remeh sih ya, cuma sapaan doang. Tapi itu membuat saya harus memberi acungan jempol untuk pelayanan Bapak itu. Beliau tahu bagaimana cara memberikan service excellent. Pelayanan prima, pelayanan yang melebihi ekspektasi konsumen. Terlepas dari apakah itu hasil training (pendidikan) sebelum mereka diterjunkan ke jalan raya, ataukah memang improvisasi beliau sendiri.

Setelah kejadian itu, saya jadi penasaran untuk naik lagi brand taksi yang sama dengan yang saya naiki waktu itu. Tujuannya hanya satu yaitu untuk membuktikan apakah saya akan mendapatkan perlakuan yang sama dengan waktu saya naik taksi yang kapan hari. Iseng banget yah? :p

Hasilnya? Tidak ada satu pun yang memberikan hal yang sama dengan Bapak itu. Setelah menanyakan tujuan saya kemana, mereka kebanyakan ya lanjut saja. Tidak ada obrolan atau sapaan sekedar menanyakan AC, menanyakan kenyamanan saya, meminta izin ketika akan menerima telepon, atau menyampaikan salam ketika saya akan tiba di tempat tujuan.

Kalau iya itu adalah salah satu cara membentuk/memperbaiki citra perusahaan ya seharusnya semua attitude sopir taksinya sama dong? Lha wong dari satu label perusahaan, kenapa yang satu bisa bagus banget, sedangkan yang lainnya biasa banget? Tapi buktinya tidak begitu. Hanya satu saja yang seperti tadi.

Atau, ini misalnya ya, semua salam itu adalah bagian dari salah satu “aturan khusus” bagi driver senior dengan level tertentu tapi buktinya waktu saya di Bandung dan kebetulan menumpang brand taksi yang sama tapi pelayanannya kok nggak gitu ya? Saya sempat melihat identitas Si Bapak Driver (yang memang santun ini) levelnya sudah Ketua Group, tapi saya tidak melihat ada hal istimewa ketika membawa kami hingga ke tujuan tuh :-?. Saya dan Si Hubby bahkan sempat saling berpandangan ketika Si Bapak ini tetap menerima telepon ketikaย  Blackberry-nya berdering (tanpa izin-izinan pada kami) , menginformasikan tentang adanya interview calon driver kepada penelepon di ujung sana. Nah lho.. jadi sebenarnya tidak ada bedanya dong apakah dia seorang driver junior atau senior, apakah dia anggota group atau ketua group, kan?

Ah ya, sayang sekali saya tidak mencatat identitas Si Bapak Driver yang sudah memberikan pelayanan sempurna kapan hari. Kalau ada, sepertinya saya harus merekomendasikan Bapak itu agar bisa menjadi panutan bagi rekan kerja lainnya.

Anyway, you did a good job, Sir! :-bd


[devieriana]

 

Continue Reading

Tentang Sebuah Kejutan..

Sebuah percakapan absurd antara saya dan si Hubby, sehari sebelum ulang tahun saya :

Saya : aku mau ulang tahun, Bibo mau ngado aku apa? ;;)
Hubby : ada, tapi nanti kejutan buat kamu adanya pas aku ulang tahun.. :->
Saya : lah, lama amat Desember? Kan ulang tahunku Juni. Trus emang kejutannya apa?
Hubby : kamu beliin aku mobil.. \:D/. Gimana, cukup kejutan nggak? Kejutan dong? ;))
Saya : ๐Ÿ˜

Sebenarnya setiap kali ulang tahun saya tidak pernah mempermasalahkan masalah kado. Jangankan di kasih kado, tanggal ulang tahun saya sampai diingat dan diberi ucapan selamat saja rasanya sudah seneng banget kok. Dikasih kado ya alhamdulillah, nggak juga nggak apa-apa, kan yang penting doanya ๐Ÿ˜‰

Tidak selalu ada cerita unik di setiap ulang tahun saya. Tahun lalu saya melewatkanย moment ulang tahun di Pusdiklat BPS , bertepatan dengan prosesi prajabatan. Cukup berkesan, karena ulang tahun saya dirayakan oleh teman-teman dari berbagai kementerian yang sudah dengan sok tega nyuekin saya hingga mau tidur :D.

Tahun ini ternyata ceritanya beda lagi. Kebiasaan saya kalau mau tidur selalu meletakkan handphone di sebelah bantal. Bukan apa-apa, biar kedengeran aja alarmnya (walaupun pada prakteknya akan dimatikan dan di setting ulang sebanyak beberapa kali, sesuai dengan kebutuhan ;))). Malam itu Si Hubby baru sampai rumah sekitar pukul 22.00 wib. Saya sempat membantu membawakan beberapa kantong buah kegemaran saya dan camilan ke kamar atas. Setelah membuatkan teh dan menemani ngobrol sebentar, saya dengan mata yang sudah setengah watt itu pun pamit tidur, dengan handphone di sebelah saya seperti biasa tentu saja. Tidak ada hal yang mencurigakan malam itu. Saya juga tidak melihat dia membawa barang lain selain kantong-kantong plastik berisi makanan yang tadi. Kecuali ketika tengah malam saya dengan setengah sadar menyadari kalau handphone saya kok sepertinya tidak ada di samping saya. Tapi berhubung mata mengantuk sekali ya akhirnya tertidur lagi sampai pagi.

Sekitar pukul 05.00 pagi, tiba-tiba handphone saya berbunyi. Dengan mata setengah terpejam saya meraba-raba, mencari handphone yang bunyinya terdengar agak jauh itu. Saya tahu yang menelepon pasti keluarga di Surabaya karena ringtone yang terdengar I’m Waiting For You-nya Dave Koz. Nah, tapi kemana gerangan Gemini saya, kok tidak ada? ๐Ÿ˜ฎ

Saya pun mencari ke tempat biasa handphone kami di-charge. Namun saya tidak menemukan apa yang saya cari kecuali sebuah Blackberry Torch 9800 baru, berbalut casing warna merah maroon, warna kegemaran saya. Beberapa lama saya hanya bisa bengong, melihat ke arah handphone yang berpendar tulisan “Papa calling” silih berganti ke arah Si Hubby yang masih terlelap. Kemana Gemini saya? Trus, ini handphone siapa? :-s . Akhirnya panggilan Papa saya itu pun terputus tanpa sempat saya angkat lantaran masih takjub.


Sepertinya Si Hubby sengaja ingin bermain drama pagi itu. Karena dia terlihat sedikit “menikmati” kepanikan saya pagi itu. Melihat saya yang kebingungan karena tidak menemukan apa yang saya cari, dengan mata terpejam (pura-pura tidur mungkin) dia berkata ringan :

“Kamu ini, pagi-pagi udah berisik banget sih. Udah, nggak usah nyari Gemini kamu. Kan yang Gemini itu keypad-nya udah sering hang. Huruf “k” dan “l”-nya kan udah nggak bisa. Sini, itu memang handphone kamu yang baru, hadiah dari aku.. Ambil gih. Tadi siapa yang nelpon? Mama ya?”

Oh, jadi itu handphone baru saya? Dengan lebay saya malah nangis karena bingung harus merespon apa, antara terharu, kaget, dan masih belum sepenuhnya “nyambung” karena baru bangun tidur. Saya bawa handphone baru saya itu ke Si Hubby sambil tetap menanyakan,ย  “Trus, Geminiku manaaa, Bibo? :((

Ternyata, surprise tak berakhir disitu saja. Ketika saya menelepon kembali Si Papa, membalas sms Mama, bahkan ketika bbm-an denganย adik bungsu saya , untuk mengucapkan terimakasih atas ucapan selamat dan doanya sekaligus mengabarkan kalau saya dikasih kado BB baru dari si hubby mereka dengan seragam menjawab, “Iya, udah tau.. Torch kan?”. Lho, kok mereka sudah tahu? :-o. Bahkan adik ipar saya pun juga menjawab hal yang sama. Aneh, kan? Secara, lokasi mereka kan tidak sama. Saya sih curiga, sepertinya ada konspirasi antara Si Hubby dan keluarga saya di Surabaya ๐Ÿ˜•

Tapi ya sudahlah ya, mau dengan cara apa dan bagaimana mereka memberikan kado itu untuk saya, saya yakin mereka memberinya dari hati. Terutama Si Hubby, yang ternyata diam-diam memperhatikan saya ketika sedang stress mengutak-atik Si Gemini yang mengalami “gegar otak” itu. Karena dia tahu saya orangnya nggak pernah minta duluan kecuali dikasih, itulah kenapa akhirnya dia memilih untuk mengamati saya secara diam-diam dan memberikan kado sesuai dengan apa yang saya butuhkan. Saya juga nggak menyangka akan dikado handphone lho, karena saya pikir toh nanti juga akan dapat handphone dari hasil menang lomba mendongeng kemarin :D. Tapi nggak apa-apa sih, sekarang handphone saya jadi dua! \:D/

Oh ya, sore harinya saya berkesempatan kopdar dadakan dengan Mas Stein yang sedang berlibur di Jakarta bersama keluarganya, dan juga Oom Cah Ndableg yang jago nggambar, yang ternyata obrolannya nyambung sekali dengan suami saya karena sama-sama orang arsitektur, dan sempat saya temui di acara Kopdar Akbar di Taman Langsat kapan hari. Pas mereka ngobrol, saya dan Mas Stein hanya bisa cengengesan berdua karena nggak ngerti dengan bahasan mereka. Oh ya, saya sempat dikarikaturkan secara live lho sama Oom Cah Ndableg ini. Hasilnya adalah seperti ini, Sodara-Sodara :

Ihihihi, lucu yah? Empat puluh tahun lagi mungkin wajah saya akan kaya begitu ya ;))

Anyway, terima kasih untuk semua ucapan di facebook dan twitter kapan hari ya, Temans. Teruntuk suami dan keluarga saya, terima kasih juga untuk kadonya ya.. :*

Saya sayang kalian.. >:D<

 

[devieriana]

 

gambar karikatur diambil dari twitternya Cah Ndableg dan koleksi pribadi

Continue Reading

Obrolan Absurd (4)

Entah siapa “pencetus” keluarnya dialog-dialog absurd untuk yang pertama kali di keluarga saya. Tapi sepertinya Papa saya adalah “tersangka utama”-nya, karena biasanya kalau pas kumpul-kumpul di komunitas beliau, si Papa seringkali mengeluarkan jokes yang membuat anak didik maupun rekan sejawatnya ikut terpingkal-pingkal (walaupun Mama saya nggak pernah ikut tertawa dengan alasan : “bosen ah, jokes itu udah pernah denger!” :p).

Nah sepertinya virus ke-absurd-an itu menurun pada kami bertiga, kini tak terkecuali si hubby yang diam-diam juga ikutan tertulari.

1. BALADA MUG

Saya : kamu mau mug nggak, Ndung? Mug dari kantor aku. Terbuat dari dari stainless steel, ukuran imut, ada grafir tulisan tempatku bekerja. Bisa dipakai buat minum kopi atau teh gitu..

Adik : asiiik, mau mauuu.. kirim yah \:D/

Saya : tapi jangan sampai ilang ya. Ini mug limited edition, barang langka itu, nggak dijual di toko! :p

Adik : woogh, berat ya.. ๐Ÿ˜ฎ

Saya : jaga dengan nyawamu yah..

Adik : siyap, akan kujaga mugmu dengan nyawamu, Mbak! \m/

Lah, gimana ceritanya bisa diganti jadi nyawa saya sih? :-?? ๐Ÿ˜

—–

2. BALADA JAKET KULIT

Saya : kamu jadinya mau nitip beli apa?

Adik : mmh.., aku pengen jaket kulit dong, Mbak..

Saya : ya, ntar aku tanyain dulu harganya berapa ya, soalnya kan kulit asli., jadi kayanya sih agak mehel gitu..

Adik : yaah, kalau mahal ya nggak usah deh, Mbak. Tapi kalau kamu mau beliin sih gapapa ;;). Kan kalo kemahalan bisa bayar dengan nyawamu, Mbak.. ;))

Saya :๐Ÿ˜

Mahal banget ya harga jaket kulitnya :((

—–

3. KADONYA MANA?

Percakapan menjelang ulang tahun saya :

Saya : Bibo, kamu nggak ada rencana buat ngado aku? Kan besok aku mau ulang tahun ;;)

Hubby : ada.. tapi nanti pas ulang tahun aku yaa.. ;;)

Saya : bah, lama amat, berarti nunggu Desember dong.. ๐Ÿ˜

Hubby : ya emang gitu.. seru kan? ๐Ÿ˜‰

Saya : emang nanti kadonya apa?

Hubby : kamu beliin mobil buat akuuu.. \:D/

Lah, ini siapa yang ulang tahun dan siapa yang ngado sih? ๐Ÿ˜•

—–

4. PEMADAM KEBAKARAN

Di sebuah perhentian lampu merah di sekitaran Mampang ketika akan berangkat ke kantor, saya melihat ada 2 orang pria sedang berboncengan dengan mengenakan seragam seperti seorang petugas pemadam kebakaran. Hanya saja ini berwarna biru dengan garis silver di lengannya.

Saya : Bibo, itu bapak-bapak yang dua orang itu petugas pemadam kebakaran ya?

Hubby : *menoleh ke arah yang saya maksud* Oh, itu.. Bukan.. Kalo pemadam kebakaran kan warna uniform-nya merah, itu kan biru..

Saya : ya kali aja ada dua seragam buat gantian gitu, Bibo. Kan biar lemarinya isinya nggak baju merah doang gitu..

Hubby : bisa juga sih, atau mungkin pemakaian seragamnya tergantung kasus kebakaran yang akan ditangani..

Saya : maksudnya gimana?

Hubby : ya kalo seragam merah itu dipakai untuk penanganan kebakaran besar..

Saya : kalo yang biru?

Hubby : buat kebakaran-kebakaran kecil. Misalnya kebakaran jenggot gitu..

Saya : ๐Ÿ˜ฎ

—–

5. PARFUM

Hubby : kamu katanya mau mbeliin aku parfum.. Parfumku udah tinggal dikit nih.. *sambil semprit-semprot parfum yang tinggal seiprit*

Saya : iya, ntar.. nunggu..

Hubby : nunggu apa lagi?

Saya : nunggu kamu gajian.. :p

Hubby : lah kan aku bilang tadi “kamu beliin aku parfum”, semacam kado gitu.. Kadooo.. :((

Saya : ya kan sama aja, gaji kamu kalo udah ke aku kan jadi uang aku juga.. Nanti deh, kalo kamu udah gajian kamu boleh pilih parfum mana yang kamu suka yah.. :-” *ngikir kuku*

Hubby : ๐Ÿ˜

—–

6. MINUMNYA..

Saya : ih tumben yah aku mau minum susu putih begini *sambil meneguk susu gambar beruang*

Hubby : emang biasanya nggak mau?

Saya : enggak.. eneg aja gitu. Mungkin karena sejak kecil dicekokin susu putih terus kemana-mana, jadi sekarang ngeliatnya aja males. Dulu yah, ke sekolah dibekalin susu putih, pas pergi-pergi bekal minumnya juga susu putih. Padahal kan bisa yang seger-seger aja yah.. sirup, soft drink.. atau apalah selain susu..

Hubby : misalnya rawon, soto gitu, yah..

Saya : Hladalaaah.. MINUMNYAA.. MINUMNYA!! Mosok aku disuruh minum kuah rawon sama soto, sih? ๐Ÿ˜ *memandang prihatin*

Hubby : ooh.. :p *ngunyah kue*

—–

 

Demikian ..

 

[devieriana]

 

ilustrasi pinjam dari sini

Continue Reading

Kontes podcast itu..

Beberapa waktu lalu saya pernah cerita kalau saya ikut lomba mendongeng disini , kan? Iya, lomba mendongeng dalam bentuk podcast itu. Buat yang masih awam tentang apa itu podcast dan lomba mendongeng pasti mengira saya menulis cerita/dongeng, padahal bukan. Saya membaca dan menceritakan kembali dongeng yang sudah ada ke dalam bentuk podcast/rekaman. Tentu gaya berceritanya ya ala saya. Kalau teman-teman ada yang pernah mengalami masa-masa hitsnya kaset Sanggar Cerita, nah.. seperti itulah kurang lebih gaya saya bercerita. Tepat sekali! Seperti drama radio ;)). Bedanya, jika drama radio dilakukan bersama dengan beberapa orang dalam satu tim dan memerankan beberapa karakter/tokoh. Kalau saya hanya bercerita sendiri dengan memerankan beberapa karakter sekaligus (jika ada dan jika diperlukan).

Di postingan sebelumnya juga sempat saya ceritakan bagaimana “perjuangan” saya bersama teman-teman selama masa voting berlangsung. Tapi memang boleh dibilang saya tidak terlalu ngoyo untuk bisa mendapatkan votes sebanyak-banyaknya. Bukan kurang berusaha sih, tapi saya mikirnya gini : “ya namanya saja minta tolong, masa mau maksa? Seikhlasnya saja. Kalau misalnya mereka kurang berkenan atau nggak sempat untuk votes, ya sudah nggak apa-apa. Demikian pikir saya waktu itu :).

Tapi alhamdulillah teman-teman dengan ikhlas membantu menyumbangkan RT dan likes di twitter dan facebook, bahkan ada yang sampai membuatkan saya postingan khusus di ngerumpi! >:D<. Dengan demikian pelan-pelan jumlah votes untuk saya pun naik. Walaupun keder juga ketika melihat peserta lain yang jumlah votes-nya melejit jauh di atas saya, sementara saya baru mencapai angka sekian ratus likes saja. Sedikit terbantu dengan banyaknya yang me-retweet link dongeng saya. Ternyata sampai dengan akhir penutupan masa voting pun, teman-teman masih ada yang memberi likes dan RT di link dongeng saya (walaupun tidak dihitung dan dimasukkan dalam penjurian). Duh, sampai terharu saya.. >:D<.

Memang sempat kurang percaya diri lantaran persiapan membuat dongengnya terbilang sangat mepet, dan saya hanya menyetorkan satu judul dongeng saja. Padahal peserta lainnya ada yang mengikutsertakan sampai 13 judul dongeng lho! Hebat nggak tuh. Kalau ada yang seperti itu memang sudah diniati sejak awal untuk ikut lomba. Persiapannya matang. Nggak seperti saya :|. Jadi ya semakin tipislah harapan saya untuk menang. Sempat sedikit “down” ketika iseng saya dengarkan satu persatu podcast peserta lain. Ternyata bagus-bagus :-bd. Bahkan sepertinya ada yang niat direkam di studio. Sementara saya hanya merekamnya di rumah dengan perlengkapan seadanya :-s. Belum lagi ketika ngobrol dengan beberapa teman, saya semakin ciut melihat respon yang sangat beragam. Salah satu respon yang cukup “makjleb” adalah ini :

“Dev, sayang banget kok endingnya si katak harus mati dengan tragis sih? Menurutku itu kurang child friendly..”

Saya sempat termenung lama. Iya ya, kenapa harus mati sih kataknya? Matinya pun dalam keadaan tragis pula :-s. Kenapa ya kok saya kemarin memilih dongeng itu untuk diikutkan lomba? Kan dongeng lain yang endingnya bagus juga banyak. Berbagai respon dongeng itu pun satu persatu mulai berseliweran di pikiran saya. Jadi ada sedikit rasa “bersalah” karena sudah mendongeng dengan ending tragis dan kurang child friendly seperti itu :((. Tapi salah satu alasan kenapa saya pilih dongeng itu karena pesan moralnya bagus. Itu saja sih.

Hingga akhirnya, setelah merenung sendiri (kebiasaan saya kalau ada pikiran/masalah yang mengganggu adalah dengan “berdialog” dengan diri saya sendiri). Mendadak saya mendapatkan pencerahan dan jawaban atas pertanyaan saya sendiri.

“Semua makhluk hidup pasti akan mati. Soal kematiannya nanti akan bagaimana dan melalui proses seperti apa itu adalah bagian dari takdir, kita tidak pernah tahu karena itu adalah bagian dari rahasia Tuhan. Anak-anak pun harus sudah disadarkan sejak dini bahwa kematian bukan hal yang aneh atau tidak wajar karena nantinya semua makhluk hidup pasti akan mengalaminya. Nah, memang kebetulan katak yang jadi tokoh sentral cerita ini mati dengan perut meledak kebanyakan minum di luar batas kemampuan perutnya lantaran sangat terobsesi ingin bertubuh sebesar lembu. Dia berpikir bahwa jalan satu-satunya membesarkan badan adalah dengan cara meminum air sebanyak-banyaknya. Padahal dalam kodratnya, besar tubuh katak ya hanya sebesar itu, tidak bisa lebih. Segala sesuatu yang terlalu dipaksakan dan melebihi batas kemampuan pasti akan mencelakai diri sendiri.”

Dongeng memiliki berbagai macam ending. Ada yang berakhir bahagia, tapi ada juga yang berakhir sedih. Karena memang seperti itulah sebenarnya hidup, tidak selamanya menyenangkan, jadi pasti akan ada kisah dari sisi sebaliknya. Itu yang pelan-pelan ingin kita sampaikan melalui dongeng. Tapi lebih dari itu semua adalah pesan moral cerita tersebut dapat diterima dengan baik oleh anak-anak.

Kembali lagi ke lomba dongeng, saya sendiri kurang memperhatikan kapan seharusnya pengumuman pemenang akan diumumkan, terkait website Indonesia Bercerita sempat down selama 2-3 hari, sehingga mau tidak mau masa voting harus diperpanjang dan tanggal pengumumannya pun harus diundur. Ya sudahlah tak apa, pikir saya, kalau sudah siap semua pasti akan diumumkan. Saya pun kembali sibuk dan baru sadar kalau sudah tanggal 20 Mei. Nah lho, terus kapan ini pengumumannya? ๐Ÿ˜ฎ

Hingga akhirnya, Jumat malam kemarin ketika saya iseng buka facebook muncullah link pengumuman di akun Indonesia Bercerita. Ketika saya klik link ini kok ya pas terpampang nama saya di urutan pertama, alhamdulillah saya terpilih sebagai pemenang untuk kategori Ayah Bunda Pencerita. Yaaayyy!! \:D/. Kok ya pas banget ya, pas BB saya lagi kumat error-nya, ndilalah saya dapat gantinya :D. Tuhan itu memang adil ya. Dia memberikan apa yang kita butuhkan, bukan hanya semata-mata yang kita inginkan. Saya memang butuh handphone baru dan alhamdulillah dapat yang baru beneran ๐Ÿ˜€ \:D/.

Sekali lagi saya ucapkan terimakasih yang tak terhingga untuk semua teman (yang namanya tak mampu saya sebutkan satu persatu), atas semua bantuan, dukungan dan keikhlasannya membantu saya selama masa penjurian kemarin yaa.. >:D<

Saya sayang kalian.. :-*

[devieriana]

 

ilustrasi : http://winning-guides.blogspot.com

Continue Reading

Obrolan Absurd 3

Ada salah satu kebiasaan bersama keluarga dan teman-teman kalau sudah kumpul pasti becandaan-becandaan aneh terlontar begitu saja. Kalimat-kalimat absurd bertebaran dimana-mana. Kalau teman-teman sih kebetulan banyak yang sudah lucu dari sananya. Ditambah dengan seringnya kami berkumpul dan ngobrol di BBM makin “terasahlah” bakat lucunya.

Seperti contohnya suami saya yang aslinya pendiam, sejak menikah sepertinya dia sedikit tertular virus absurdnya saya. Bukan hanya ekspresi wajah yang ikutan sok tak bersalah, tapi celetukan-celetukannya juga kadang lucu-lucu garing gitu. Ya namanya suami, kasian kalau udah usaha tapi nggak lucu, jadi sebagai isteri yang baik ikut menyukseskan, ikut berpartisipasi, paling tidak menyumbangkan tawa :))

Seperti beberapa percakapan absurd bersama orang-orang itu saya abadikan disini. Tsaaah, abadikan. Berasa foto..

1. Dengan teman di BBM : Dongeng Dewasa

Teman : PING!
Saya : yes, Bebih..
Teman : lagi apa?
Saya : barusan selesai bikin podcast buat dongeng anak. Mau iseng ikut lomba mendongeng.. ๐Ÿ˜€
Teman : ooh.. kali ini judul dongengmu apa?
Saya : Katak Ingin Jadi Lembu..
Teman : itu cerita anak-anak?
Saya : ya iyalah, mosok judulnya begitu tapi kontennya dongeng dewasa..
Teman : eh, kamu mbok ya sekali-kali bikin dongeng dewasa gitu ..
Saya : bisa aja sih. Kamu mau judul apa? Katak Seksi Dalam Balutan Lingerie?
Teman : errrr… kok aku mendadak males ya.. ๐Ÿ˜

Makanya lain kali kalau minta dongeng dewasa jangan pas habis mendongeng tentang katak. Akhirnya seseksi-seksinya tokoh dongeng dewasanya ya nggak jauh dari tokoh dongeng sebelumnya. Katak-katak juga ;))

2. Dengan Hubby : Balada Stiker

Saya : Bibo, kamu mau stiker yang khusus buat kendaraan rangkaian, limited edition, nggak?
Hubby : Mau, mau. Ada warna apa aja?
Saya : Ada gold, putih, sama silver
Hubby : Ok, nanti beliin 3 yah..
Saya : Iya, tapi nanti aku reimburse yak ๐Ÿ˜€
Hubby : Iye, masih sepuluh ribuan kan?
Saya : Iya (padahal harga aslinya ada yang 4 ribuan dan 5 ribuan ;)) ). Dikalikan 3 jadinya 50 ribu yak!
Hubby : matematikanya dari mana sih, wong harganya masing-masing 10 ribuan, dikalikan 3 kok jadi 50 ribu. Aneh! ๐Ÿ˜
Saya : Ih, emang ngitung itu harus selalu pakai ilmu matematika? Aku ngitung pake bahasa Inggris!
Hubby : Barusan kamu ngitung pake gigi sih..
Saya : Gigimu gendut!
Hubby : Aku gigi, kamu gendut!
Saya : Kami, GIGI GENDUT!

Walaupun itu obrolan di BBM tapi closing percakapan itu bisa saya bayangkan karena sering kami lakukan dengan ####a persis seperti di Opera Van Java waktu adegan kampanye Pilkada, mengepalkan tangan pasangannya :))

3. Dengan Hubby : Goodie Bag

Saya : Bibo, aku baru dapet goodie bag dong..
Hubby : dapet dari mana?
Saya : dari acaranya ibu-ibu Dharma Wanita, ada acara di Gedung III
Hubby : Oh. Dapet apa?
Saya : tempat sampah yang buat mobil. Lumayan sih dari kulit gitu..
Hubby : ya udah nanti disimpen. Kita kumpulin dulu pernak-perniknya..
Saya : iya, mobilnya beli entah kapan yang penting tempat sampahnya udah ada..
Hubby : iya, besok beli tempat tissuenya, ambipur, bantal, sama pentil bannya..

Kadang semua hal besar itu diawali dari hal-hal kecil. Ingat, seribu langkah itu juga berawal dari satu langkah lho. Eh, jadi inget iklan susu untuk tulang ;))

4. Dengan SPG Toko Perlengkapan Bayi : Cari yang..

Saya : Mbak, ini apa sih?
SPG : oh, ini tempat buat mandiin bayi, Mbak. Jadi nggak perlu ember lagi..
Saya : oh, gitu.. Lucu yah. Eh tapi ini buat baby usia berapa sampai berapa ya?
SPG : buat bayi usia 0 – 12 bulan, Mbak..
Hubby : kalo buat yang usia anak SMA gitu ada nggak, Mbak?
Saya & SPG : *memandang Hubby dengan pandangan trenyuh* ๐Ÿ˜

Si Hubby balas melihat kami dengan muka inosen sambil beringsut duduk di kursi dan pura-pura sibuk dengan BB-nya.

5. Dengan Mas Penjual Buku Ensiklopedia : Tahan Air

Masnya : Silakan Bu, buku ensiklopedia untuk anak. Enam buku hanya 100 ribu saja. Buku ini sangat lengkap, dengan gambar-gambar berwarna yang pasti disukai anak-anak. Bla..bla..bla..
Saya : *setengah menyimak*
Masnya : Oh ya, sampul bukunya juga hard cover lho, Bu.. Jadi tahan air, dan tahan basah..
Saya : Kalau misal saya masukin ke ember isi air gimana?
Masnya : Ya Ibu ngapain masukin buku ke ember isi air?
Saya : Kan kata Mas bukunya tahan air, tahan basah.. Jadi gimana, masih basah nggak kalo kecemplung ke bak misalnya?
Masnya : iya, basah sih, Bu..

Mungkin dalam hati Mas itu : “sarap nih kayanya si Ibu, beli juga kagak.. ngecengin gue aja..” . Iya sih, saya cuma pengen becandain Masnya aja, nggak beli. Abisnya keponakan saya pada masih bayi. Jadi ya biar Bapak/Ibunya saja yang nanti beli sendiri :p

6. Dengan Hubby : Reimburse

Saya : “Nah, bon-bon pembelian baju yang tadi dikumpulin niiih..”
Hubby : “buat kamu nanti bayar ke aku yah?”
Saya : “Nuduh? Bukan dong.. ini aku kumpulin buat direimburse ke kamu… :-“”
Hubby : “Lha kan aku yang mbeliin, kok aku yang harus nggantiin sih? Aneh kamu.. :-o”
Saya : “Lho, emang nggak boleh? IYA? NGGAK BOLEH? :|”

Kirain suami saya bakal nggak nyadar gitu. Kirain dia bakal mengiyakan aja gitu, terus membayar sejumlah harga baju yang dia belikan untuk saya kemarin. Ih, ternyata enggak lho, Tweeps :p. Berarti suami saya masih sehat wal afiat, fisik, lahir dan bathin!
;))

Jadi ya begitu deh, obrolan-obrolan absurd nan tak penting itu..

[devieriana]

Continue Reading