No Blackberry!

Oalah, begini tho rasanya nggak bawa HP, jari-jari tak lagi sibuk menekan keypad, tak lagi sibuk dengan dunia sebatas layar 2.46 inch, tak lagi sibuk update status di twitter, tak lagi seperti orang yang nggak waras lantaran seringkali ngikik sendiri karena baca status teman. Ya saya kembali ke peradaban manusia sebelum mengenal alat komunikasi bernama handphone.

Iya, sejak hari Sabtu si Baby G – sebutan sayang saya untuk si blackberry gemini saya, halah ;)) – terpaksa harus masuk UGDB (Unit Gawat Darurat Blackberry) karena keypad-nya yang kalau ditekan terasa keras (iya kalau empuk namanya bakpau) & huruf N yang tidak berfungsi. Selama ini kalau saya mengetik dengan kalimat yang mengandung huruf “N” selalu dari hasil copy paste untuk mendukung kelancaran ber-BBM dan aktivitas texting lainnya. Kurang tahu kenapa & apa sebabnya yang jelas si Baby G sering error aja akhir-akhir ini. Kasian bangetlah pokoknya.. Saya yang kasian maksudnya.. ;))

Alhasil hari Sabtu kemarin saya membawa si Baby G ke Senayan City untuk di cek & diperiksa jenis kerusakannya. Kenapa disana? Ya karena agent Malifax Indonesia (service resmi Blackberry Indonesia) ada disana. Setelah “curhat” sedikit sama si mas customer service akhirnya diputuskan untuk diajukan klaim saja dulu setelah dipastikan bahwa si Baby G nggak pernah terjatuh parah atau kena air. Tapi kalau toh nanti setelah dicek ditemukan ada cairan ya nanti akan dikembalikan plus kita didenda Rp. 50.000 gitulah. Ya sudahlah tak apa, yang penting masalah tersolusikan, pikir saya, sambil mikir kalau cairan kena cairan apa ya.. 😕

Jadilah mulai hari Sabtu sampai dengan sekarang saya nggak pegang HP samasekali. Bagaimana rasanya? hihihihi, awalnya sih kaya agak aneh aja gitu saya nggak pegang HP, sudah gitu masih sempet-sempetnya kepikiran sama aktivitas dunia maya saya, yang mesti check in di sini-situlah (foursquare), yang seharusnya sudah bisa jadi mayor disini & disitulah, harus update status di twitter atau facebook-lah, chat di gtalk atau YM sama temen-temenlah, atau ber-BBM-ria sama temen yang habis patah hati (halah, nggak penting-penting banget). Pokoknya kegiatan ber-remeh-temeh saya dengan dunia maya itu mendadak harus dihentikan untuk paling cepat 7 hari kedepan, atau paling lama 14 hari! Whaat?! Suami saya malah seneng lho kalau saya jadi manusia abad Flinstones. Malah katanya gini :

“aku itu jadi sayang sama kamu kalau kamu nggak pakai BB. Soalnya kalau kamu pakai BB aku selalu jadi suami kedua setelah BB-mu itu”

Jadi, puaslah dia sekarang saya nggak pakai BB. Walaupun dia bersedia menanggung “resiko” saya nggak bisa dihubungi ketika di jalan atau sedang urgent. Tapi kalau saya lagi di kantor/sudah dirumah & dia masih dikantor, sementara waktu ini komunikasi kami hanya via yahoo messenger. Poor me, huh?!

Tapi ternyata nih ya, setelah 3 hari “puasa” blackberry, nyatanya saya jadi terbiasa juga. Nggak harus diperbudak sama gadget satu itu.. ciih, sekarang aja bisa ngomong kaya begitu ya, coba kalau ada blackberry.. belum tentu ngomong kaya begitu :p. Saya seolah-olah bebas untuk sementara waktu. Jadi lebih konsentrasi aja gitu. Ya kemarin-kemarin saya juga masih tetap bisa konsentrasi, tapi sekarang jadi gimana ya, agak sedikit berbeda aja gitu.. Saya jadi nggak terlalu tergantung sama teknologi.. Tsaaaahhh.. *sisir poni*. Kata suami saya begini :

“Makanya jadi orang itu jangan berlebihan. Pakai blackberry secukupnya. Kalau kamu kan over dosis. Kalau blackberry-mu itu bisa ngomong pasti sudah jerit-jerit dari kapan tahun gara-gara kamu yang over used”

Jadi untuk sementara waktu saya jangan di BBM ya. Nanti, saya lagi mau cari HP cadangan dulu. Doaku untukmu, hai Baby G.. semoga kau baik-baik saja di Malifax ya, jangan nakal, dan semoga cepat sembuh.. Mommy miss you.. >:D<

;))

[devieriana]

Continue Reading

I love my job..

Tulisan ini terinspirasi dari curhatan seorang sahabat.. 🙂

Semua orang pasti punya pekerjaan & karir masing-masing. Mau di swasta atau jadi PNS seperti saya. Pekerjaannya pun pasti juga beragam jenisnya, pun tingkat kesulitannya. Namun tak jarang ditengah-tengah pekerjaan yang kita lakukan secara rutin ada kalanya muncul kejenuhan. Jenuh dengan lingkungan & suasana kerjanya, jenuh dengan jenis pekerjaannya, pun penyebab jenuh lainnya.

Tergelitik dengan pernyataan seorang teman, “aku tuh lama-lama bosan dengan pekerjaanku. Tapi kalau aku nggak kerja aku akan jauh lebih bosan..”, keluhnya di suatu sore. Saya paham dengan apa yang dia rasakan. Kebosanannya disebabkan dengan pekerjaan yang nyaris monoton & kurang ada variasi. Lah dipikir saya juga banyak variasinya? Enggak juga. Pekerjaan saya juga sama monotonnya. Mengerjakan jenis pekerjaan yang sama hampir setiap hari. Apa lama-lama nggak bosan? Tapi ya itu pinter-pinternya kita mengelola kejenuhan & kesibukan yang “itu-itu melulu”.

Untungnya saya selama bekerja bukan tipe “kutu loncat”, yang sering pindah kerja sana-sini. Karir saya kebanyakan bertahan lama, lebih dari 2 tahun. Saya dulu sempat bekerja sebagai seorang fashion designer di sebuah perusahaan garment di Malang. Itu saya jalani hampir 3 tahun lamanya. Bosan? Pernah. Jenuh? Saya nggak bilang enggak. BT karena bos sering marah-marah? Hmm, pasti. Jenuh banget sehingga tidak ada satu ide mode apapun yang dilahirkan hari itu juga pernah ~X( . Intinya ketidaknyamanan ketika bekerja itu pasti ada.

Atau ketika saya bekerja di perusahaan telekomunikasi yang itu, yang namanya jenuh, stress, capek, makan ati, itu juga pasti ada. Tapi ya namanya bekerja di bidang public service ya pasti begitu. Dimarahi pelanggan sudah makanan sehari-hari. Kalau nggak ada yang marah-marah justru malah aneh. Lho?! ;)). Atau ketika saya pindah ke back office & saya memegang pekerjaan yang menuntut jiwa leadership dengan sekian anak buah. Yang namanya stress & under pressure itu pasti ada. Deadline di setiap akhir bulan, yang kalau laporannya nggak selesai efeknya anak buah kita gajiannya juga bakal terlambat. Nah, itu kan juga bentuk tanggung jawab yang besar. Stress? Pasti ada.. :((

Ada satu hal yang membuat saya awet berkarir dalam sebuah pekerjaan, bagaimana caranya supaya saya enjoy dengan pekerjaan saya, lingkungan saya, teman-teman saya. Nggak mungkin sebagai orang baru saya menuntut lingkungan yang harus berubah untuk saya, tapi justru sayalah yang harus menyesuaikan diri dengan lingkungan baru saya. Beruntung saya orangnya mudah menyesuaikan diri sehingga dalam waktu yang tidak terlalu lama saya sudha bisa membaur dengan orang-orangnya & pekerjaan baru saya.

Ada hal unik yang saya rasakan ketika berpindah dari karyawan swasta menjadi pegawai negeri. Ada banyak hal signifikan yang saya rasakan juah berbeda dengan pekerjaan saya sebelumnya. Mulai lingkungannya, jenis pekerjaannya, kultur & budaya kerjanya, orang-orangnya, aplikasi & alur kerjanya.. Ah, banyaklah pokoknya. Sempat mengalami  “culture shock”? Pernah, tapi ya itu tadi, alhamdulillah nggak sampai terlalu lama. Apakah lantas saya merasa bosan setelah sekian bulan saya berkarir di sini? Ada banyak hal yang membuat saya belajar. Ada banyak hal menarik yang bisa membuat diri saya berkembang. Salah satunya adalah ketika saya diajak bergabung dalam tim keprotokolan di biro kepegawaian. Yang tugasnya mempersiapkan acara pelantikan pejabat di lingkungan Sekretariat Negara. Ada banyak hal yang bisa saya pelajari disana ketika bertugas sebagai pembawa acara (MC) atau pembaca Surat Keputusan Presiden/Menteri.

Tapi terlepas dari itu, dari semua karir yang pernah saya jalani ada beberapa hal yang saya ingat :
1. tidak ada satu pun ilmu yang telah kita pelajari di bidang pekerjaan sebelumnya yang akan terbuang percuma, pasti ada yang akan terpakai;

2. ketika kita menjadi orang baru, cepatlah beradaptasi, jangan menuntut lingkungan yang harus beradaptasi dengan kita;

3. terapkan can do attitude, ketika mendapat tugas baru jangan langsung bilang “nggak bisa!”, karena ketika kita bilang “nggak bisa” itu akan menjadi pemicu ketidakbisaan-ketidakbisaan berikutnya, yang penting berusaha dulu;

4. semua ilmu yang kita dapatkan di dalam dunia kerja adalah ilmu yang bisa dipelajari, asalkan kita tekun pasti bisa;

5. jika ada banyak hal yang perlu diingat berkenaan dengan prosedur kerja, jangan segan untuk mencatat, karena yang namanya memory otak pasti ada kapasitasnya;

6. ketika kita merasa kurang nyaman atau mengalami kendala dengan pekerjaan & tidak bisa kita selesaikan sendiri, diskusikanlah dengan atasan, walau bagaimana pun mereka atasan kita & perlu tahu apa yang dialami bawahannya;

7. pimpinan akan melakukan review & menilai hasil kerja kita, just give & do your best.. :-bd

8. kalau memang kita jenuh atau bosan ambillah cuti, refreshing-lah, semoga ada kesegaran baru nantinya ketika selesai cuti;

9. jika memang ternyata ada karir yang jauh lebih baik di luar sana atau ada bisnis wiraswasta yang jauh lebih menjanjikan ya kenapa tidak? Ambiiill.. \m/

10. ketika belum ada pekerjaan baru yang lebih baik, jalanilah pekerjaan yang sekarang dengan sebaik-baiknya & jangan lupa bersyukur karena kita masih diberikan kesempatan memiliki pekerjaan padahal di luar sana ada banyak sekali orang yang kesulitan mencari pekerjaan.. 😉

[devieriana]

gambar dari sini

Continue Reading

Marhaban ya Ramadhan..

Alhamdulillah, kita masih diberikan kesempatan bertemu & menjalankan ibadah puasa Ramadhan tahun ini. Nggak terasa ya, kayanya baru kemarin lebaran, eh sekarang sudah mau lebaran lagi. Eh masih lama ya, puasa aja belum ;))

Kebetulan tahun ini adalah ramadhan ketiga saya bersama keluarga di Jakarta. Sebelumnya saya tinggal bersama orangtua & kedua adik saya di Jawa Timur. Tak banyak berbeda dengan ramadhan & lebaran tahun-tahun sebelumnya, baik di Surabaya maupun di Jakarta. Plus ketika  nanti menjelang lebaran, euphorianya pun juga tak jauh berbeda.. ;)) (puasa aja belum sudah membahas lebaran). Mungkin yang membedakan adalah karena sekarang saya domisili di Jakarta maka setiap tahunnya akan ada tradisi mudik, karena sekarang saya punya rumah yang saya mudikin. Ya walau nggak selalu harus pas lebaran sih, tapi akhirnya saya merasakan yang namanya pulang kampung, merasakan mumetnya cari tiket pesawat, merasakan kangen plus harunya bertemu keluarga & teman-teman. Pokoknya sekarang ada cerita mudiknyalah.. 😀

Kalau puasa, jadi inget jaman puasa di masa kecil dulu. Standarlah ya, pasti pengalamannya hampir sama dengan kebanyakan anak kecil lainnya. Kalau puasa setengah hari nunggu bedug & adzan dhuhur kayanya lama banget, belum lagi sebelum adzan bunyi berbagai sajian mengelilingi saya. Belum lagi kalau udara panas banget saya iseng buka-buka kulkas buat ngadem, atau mainan air di kamar mandi.

Kalau kejadian lupa puasa itu juga manusiawi, habis main sama temen, pulang ke rumah karena merasa lapar, langsung..nyam..nyam..nyam.. cegluk, cegluk, cegluk.. padahal belum jam 12.00. Tahu-tahu nyadar dan.. mak gleg, “lah kan aku lagi puasa..” :((. Tapi untungnya saya nggak pernah curang sih kalau puasa, kebanyakan karena lupa aja, tapi nggak pernah yang sengaja makan/minum lalu pura-pura puasa lagi & berbuka di jam semestinya 😀 *anak baik*

Tarawih pun dulu pas jaman masih “jahiliyah” bukan cuma sekedar shalat & denegr ceramah di masjid tapi karena.. yak benar, ada temen yang saya suka juga shalatnya di masjid yang sama.. :)). Atau karena ada tugas sekolah yang mewajibkan tarawih di masjid karena harus bikin resume ceramah ustadz-nya tentang apa. Nanti dikumpulkan, jadi tugas & tambahan nilai buat pelajaran agama. Kalau dipikir-pikir jaman ABG saya itu kok ganjen ya, padahal pas SD ada yang naksir aja saya nangis, takut, padahal yang naksir ganteng :)) *bodoh*

Menjelang puasa Ramadhan ini, izinkanlah saya memohon maaf, barangkali saya ada salah-salah kata & perbuatan baik yang sengaja maupun tidak.

“Selamat menjalankan ibadah puasa Ramadhan 1431 H ya. Semoga semua amal & ibadah puasa kita selama Ramadhan ini diterima Allah SWT. Amien3x ya rabbal alamien..”

Oh ya, kalian juga punya cerita puasa masa kecil (atau pas masa besar?) juga kan? Boleh di share lhoo.. 😉

[devieriana]

 

ilustrasi dipinjam dari sini

Continue Reading

Balada Kartu Nama..

“Kamu punya kartu nama nggak, Mbak?”
“hehehe, enggak..” *cengengesan*

Setiap kali ngumpul di sebuah forum atau lagi ngobrol sama orang baru, tak jarang yang namanya kartu nama (business card) pasti ditanyakan. Seperti biasa kalau ditanya tentang kartu nama pasti jawaban saya ya kaya begitu. Lha ya gimana, emang nggak punya kok. Dulu jaman saya SD & SMA justru punya, mulai label stiker (dari model yang agak kecil sampai yang lebar) dan kartu nama dipesenin sama si Papa, tiap kali habis pesen lagi. Kalau dipikir-pikir saya itu kecil-kecil aja sudah gaya.. Nggak ngapa-ngapain tapi punya label & kartu nama. Ironisnya pas sudah jadi mahasiswa & karyawan justru malah nggak punya ;)). Hmm.. kemunduran kayanya ya? :p. Eh, pas kerja pernah punya denk, dipesenin sama kantor waktu jaman saya masih kerja di Telkomsel dulu. Itu juga cuma satu box. Ya iyalah masa mau dipesenin satu kontainer?

Setelah satu box itu habis saya nggak pernah punya lagi. Ya kebetulan saya nggak terlalu banyak in touch sama orang yang urusannya sampai perlu harus bertukar kartu nama sih ya. Pekerjaan juga sebatas staf  back office yang nggak mewajibkan sampai harus punya kartu nama. Kebetulan juga nggak punya usaha yang butuh promo sana-sini.  So, lengkaplah sudah alasan saya untuk nggak punya kartu nama kan ya? ;))

Kalau sekarang sih kadang sempet punya keinginan punya kartu nama, secara karir sudah tetap, punya blog, nomer hp yang nggak pernah ganti-ganti, email yang terus aktif, dan sebagainya (biar banyak :p ). Tapi mikir lagi, nanti saya kasih ke siapa ya, karena jaman sekarang orang sudah jarang bertukar kartu nama sih, kecuali untuk kepentingan bisnis. Yang paling sering justru tukar menukar pin BB atau alamat email :D. Ya nggak tahu lagi kalau suatu saat nanti blackberry sudah punah orang bakal tukar menukar apa. Pin ATM kali ya? ;))

Pernah di suatu forum formal seminar keuangan, kebetulan saya diajak sama sahabat financial planner saya yang waktu itu diundang sebagai pembicara di sebuah acara seminar keuangan di Surabaya. Semua yang hadir kebanyakan petinggi perusahaan, ya iyalah wong penyelenggaranya Asosiasi Manajer Indonesia. Jiper? Iya.. soalnya saya berasa paling muda, paling ijo diantara para bos-bos yang berpenampilan eksklusif, berasa paling staf  & yang paling nggak prepare apa-apa. Lha ya memang saya datang karena diajak langsung sama temen saya itu. Dia datang lengkap pakai jas. Saya ya apa adanya baju mau ke kantor yang semi formal tapi rapi. Yang lainnya datang harus bayar, saya datangnya gratis, itu pun juga nyaru jadi asisten temen saya itu dengan gaya sok sibuk :)). Ya (sok) ikutlah saya nimbrung dalam obrolan ringan mereka. Hingga sampailah pada sesi tukar-menukar kartu nama. Waktu itu Blackberry belum sebooming sekarang sih, jadi ya banyak yang punya & kebanyakan dibawa dalam sebuah tempat yang eksklusif. Buat mereka kartu nama itu salah satu gambaran diri mereka, bagian dari harta benda sekaligus modal utama menjalin relasi dengan klien. Saya cuma bisa cengar-cengir manis ketika bilang :

“maaf, saya nggak punya kartu nama..”.

Kalau sekarang kok kayanya jadi kepikiran bikin kartu nama ya. Walaupun entah nanti terpakai atau nggak. Siapa tahu nanti saya jadi orang penting, atau punya usaha yang perlu dipromosikan, kan jadi nggak perlu bingung-bingung lagi soal kartu nama ya.. 😀 *sisir poni* . Untuk sekarang ini ya setidaknya biar kalau ditanya punya kartu nama atau nggak saya bisa kasih ke mereka, gitu ;))

[devieriana]

Continue Reading

Senam? Hyuk mari..

Kalau baca sepintas judulnya sih kayanya saya doyan senam, pecinta olahraga, dan badan langsing ya. Padahal.. ya nggak gitu-gitu amat kali. Masa-masa rajin senam itu hanya ketika SD. Bayangkan, berapa puluh tahun silam itu? Iya, jaman Fir’aun masih main gundu. Mulai senam kesegaran jasmani, sampai senam kesegaran rohani saya ikuti. Emang ada? Lah, emang nggak ada? Belum lagi senam Polantas juga saya ikuti. Pokoknya eksis habislah.. Pecinta senam sejati \m/

Begitu masuk SMP & SMA kegiatan olahraganya sudah beda. Kita boleh memilih apapun ekskul olah raganya. Pengennya sih ikut ekskul balet tapi berhubung nggak ada jadi ya akhirnya ikut ekskul basket. Tsaah.. ukuran badan sih boleh minimalis, tapi olah raganya harus dimaksimalkan dong. Walau kadang suka nyaru sama bola basketnya, tapi tak apalah.. yang penting badan sehat kan ya. Memang sih ada hal lain yang melatarbelakangi saya memilih ikut ekskul basket, salah satunya adalah karena ada gebetan disana :)). Jadwal latihan basket & ekskul lain suka berbarengan jadi ya lumayanlah sekali dayung dua tiga pulau terlampaui, sambil menyelam minum softdrink-lah. Nawaitu olah raga sambil ngeceng-ngeceng gitu. Jyaah, ngeceng..

Setelah sesi masa persekolahan itu, jangankan menyentuh lapangan buat olah raga, sekedar gerak buat senam ringan sambil ngulet aja jarang.. halah. Saya itu kalau niat olah raga suka musiman, moody -kusnaedi- gitulah. Kalau lagi pengen olah raga ya olah raga. Kalau lagi males ya nggak olah raga. Bisa ketebak memang, lebih banyak malesnya ;)). Beda banget sama papa saya yang pecinta olah raga abis. Dulu nih, setiap pagi pasti disempatkan stretching, angkat dumbel, push up, squad jump, dll. Kadang di halaman samping suka latihan pakai toya (tongkat), karena kebetulan si papa juga mengajar bela diri. Saya? Boro-boro.. liatnya aja udah capek.. :-j *pemalas*

Nah, apalagi sekarang. Yang namanya olah raga hampir nggak pernah. Padahal di kantor saya setiap Selasa & Jumat pasti ada sesi aerobik lho. Beneran aerobik kaya di fitness centre gitu, karena memang instruktur senamnya dari sana. Musiknya pun update banget, jadi kita ikut senamnya semangat & fun, bukan musik senam jadul atau instrumental yang memang khusus buat pengiring senam. Makanya waktu diklat prajabatan kemarin berhubung di lain instansi, saya sempat dejavu sama masa-masa SD, karena senam aerobiknya gerakannya sederhana & musiknya juga masih jadul tralala. Ya memang sih gerakannya masih gerakan senam yang sewajarnya,  nggak pakai koprol :D. Tapi memang gerakannya terbilang lebih simple.

Selama kerja di kantor yang sekarang saya ikut senam bisa dihitung jari. Cuma sebulan pas awal-awal jadi PNS doang, selebihnya banyak alasannya. Yang males bawa kostum senam & perabotannyalah, males bawa alat mandilah, males mandi lagilah, males mesti touch up make up lagi, dan banyak lagi alasan lainnya :D. Ya untungnya saya nggak terlalu doyan ngemil jadi badan nggak bengkak-bengkak amat. Kemarin aja waktu ada senam bersama di Monas, saya memang datang tapi sampai Monas malah neduh karena.. gila panas banget Bo’. Olah raga yang murah meriah yang masih suka saya lakukan bareng suami paling ya bersepeda kalau hari Minggu di TMII. Itupun juga sejam, selebihnya.. foto-foto.. :))

Oalaaah..

Nah, bagaimana dengan kalian? Suka olahraga juga nggak? 😀

[devieriana]

Continue Reading