:: S O U L M A T E ::

soulmate

Hmm, pernah gak kalian terpikir bahwa kalian sebenernya memiliki soulmate di luar sana? Ya syukur-syukur sih kalau sudah menemukan ya.. Sempat baca di beberapa tulisan tentang definisi soulmate itu sendiri.. jadi penasaran, sebenernya soulmate itu seperti apa sih, atau soulmate itu sendiri sebenarnya ada ga sih?

Kebanyakan orang mengartikan soulmate itu adalah bagian dari satu pasang, seperti layaknya sendal dan sepatu. Memang definisi keberpasangan itu benar adanya (ada kiri dan kanan), tetapi bisa aja kan misalnya warna si pasangan sendal itu beda (misalnya merah dan putih) atau merknya beda, atau tapi yang pasti ukurannya gak boleh beda, krn pastinya gak akan enak dipake oleh siapapun. Ya kan?

Menurut saya pribadi, untuk konsep berpasangan itu tidak bisa zaakelijk di tentukan sedemikian pas-nya seperti halnya memilih sandal dan sepatu karena pada dasarnya kita kan manusia yang punya hati dan jiwa. Seandainya berpasangan itu hanya dilandasi pada kesamaan tampilan luar, terus bagaimana dengan keberpasangan jiwa dan hati yang tentunya memiliki jauh lebih banyak kebutuhan untuk dimengerti?

Pernah saya iseng-iseng diskusi sama seorang teman pas sama-sama lagi tunggu busway.. (niat ya bo?), tentang apa sih arti soulmate, atau kamu percaya adanya soulmate dalam kehidupan kamu ga sih? atau soulmate was made by God or by human?

jawabannya pun beragam.. Ada yang bilang :

” soulmate itu ya pasangan gue, suami gue.. kalo bukan soulmate gue ngapain gue nikah ma dia.. “

” gua pernah punya soulmate nih Dev, dia jauh di luar kota, tapi gua ama dia tuh kaya ada kabel yang nyetrumin, gua bisa ngrasain apa yang dia rasain, sebaliknya dia juga gitu.. kaya berasa gua punya webcam gitu.. Seems so strange, but it’s true..”

” gue percaya soulmate itu ada, tapi ga harus yang jadi suami/istri kita sekarang.. percaya ga lo, Dev? “

” Aku ma suami seperti satu tubuh yang bisa saling merasakan… Ketika aku sakit, dan dia sedang tidak di rumah dia pasti langsung menelpon dan menanyakan apakah aku sedang sakit di bagian ini atau di bagian itu, karena pada saat yang sama dia juga merasakannya. Atau seringkali kami punya pikiran yang sama untuk melakukan sesuatu atau membicarakan sesuatu.. “

– btw, jadi inget ma mama & papa yang suka tiba-tiba kembar beli barangnya, mulai bentuk, warna, model, hari & tgl yang sama kalo beli barang tertentu padahal gak janjian.. –

Intinya sih ada dua kubu yang menyatakan bahwa soulmate itu adalah pasangan kita yang sekarang, tapi ada juga yang mengatakan bahwa sebenernya soulmate itu lebih ke belahan jiwa yang “mungkin” belum tentu orang yang menjadi pasangannya sekarang. Nah lho.. kok bisa?

Mmmh, kayanya perlu dipilah antara “word” dan “description”. Ada “soul mate” , dan ada “spouse”, yang mana kalo didefinisikan / dideskripsikan kurang lebihnya :
– soul mate : this person is very similar to you in thought and feeling
– spouse : this person is married to you

Jadi, soul mate tidak selalu berarti pasangan hidup. Ada juga yang mengatakan bahwa “soulmate” itu seperti “belahan jiwa”, orang yang match dengan kita, mulai dari cara berpikir, melihat masalah, cara memperlakukan pasangan dan cara menyelesaikan masalah, jadi bukan semata- mata satu hati, tetapi ada banyak kesamaan yang bisa membuat keduanya bisa jadi partner yang kompak (satu tujuan).

Belum puas juga mengartikan sendiri, saya bertanya juga pada mbah google. Akhirnya dapat juga jawabannya di tante wiki. Berikut ini ulasannya :

Belahan jiwa adalah sebuah istilah yang terkadang digunakan untuk menandakan seseorang yang memiliki perasaan mendalam dan daya tarik antar pribadi yang natural (tidak dibuat- buat). Konsep yang berkaitan ialah adanya dua jiwa kembar yang akan menjadi belahan jiwa terakhir bagi pasangannya, satu- satunya salah satunya hanya separuh dari sebuah jiwa yang asli, dengan begitu masing- masing jiwa yang masih separuh itu harus bergerak untuk mencari yang lain dan bersatu. Bagaimanapun, tidak semua orang menggunakan teori dan percaya pada konotasi mistiknya. Sebenarnya teori diatas berdasarkan buah pikiran Aristophanes ,plato symposium, bahwa manusia sesungguhnya tergabung dari empat lengan, empat kaki, dan sebuah kepala yang terdiri dari dua wajah, tetapi Zeus (dewa yunani) takut akan kekuatan mereka dan memecahnya menjadi separuh bagian saja, sebagai hukumannya mereka harus menghabiskan hidup mereka untuk mencari separuh bagiannya lagi untuk menjadi sempurna..

Kalau dibaca-baca di atas sepertinya jadi lebih berpihak dengan pendapat bahwa belahan jiwa sudah ditentukan dari Tuhan ya, terlepas dari teori dewa- dewa Yunani lho…Terus gimana dong kalau kita sudah memiliki belahan jiwa, atau gimana kalau kita tidak dapat menemukan belahan jiwa kita? Atau bagaimana jika kita menikah bukan dengan belahan jiwa kita.Nah lho.. (lama-lama ngembang kemana-mana pertanyaan gua ya? heheheheeh…)

Kalau sudah seperti itu apakah lantas kita harus membentuk seseorang menjadi serupa dengan kita? mendekati dengan apa yang kita perkirakan sebagai belahan jiwa? Agar kita tidak perlu mencari dan tetap seolah menikah dengan belahan jiwa kita? Tetapi menurut saya yah.. maaap-maap aja nih ya kalo salah.. kalaupun belahan jiwa adalah setengah dari jiwa kita, setengah bagian itu pasti bukan sisi yang sama, dalam arti tidak menambahi apa yang telah dimiliki, tetapi saling melengkapi satu sama lain (bingung ga? sama aku juga lama-lama bingung ma tulisanku sendiri.. hahaaha….). Maksud saya gini, jangan terlalu bangga jika saat ini memiliki seseorang yang sifatnya sama, dan cocok dalam segala hal. Saya justru mempertanyakan hal itu, apakah kalian berdua harus sama-sama bertindak sebagai hati di sisi kiri? atau sama- sama di sisi kanan? Berusaha selalu sama biar dianggap soulmate? *lieur*

Dah, ini PR buat yang baca deh, pasangan jiwa yang akan menjadi isteri or suami kita memang sudah dari lahir diciptakan untuk kita atau sebenernya kita yang harus berupaya merakit sendiri soulmate kita?

[devieriana]

Continue Reading

Tidak ada yang benar, kecuali saya..

untitled3

Hari ini, saya & sahabat saya kembali berdiskusi, after long time we did’nt do it. Karena kesibukan masing-masing & mood yang kurang pas untuk berdiskusi tentunya, hehehehe.. Beberapa waktu yang lalu saya sempat mengkritik anak buah saya yang kelupaan mencantumkan alamat email saya sebagai cc ketika melakukan request edit ke spv. Walaupun sepele tapi sekedar mengingatkan boleh dong. Tapi apa yang saya peroleh adalah : pembelaan diri & mulai menyalahkan saya. Dongkol, sebel, marah, kesel, males, itu hal yang saya rasakan. Dan saya rasa itu hal yang manusiawi jika seseorang mengingatkan rekannya tapi justru malah dikata-katain.

Kritik, menurut wikipedia adalah “masalah penganalisaan dan pengevaluasian sesuatu dengan tujuan untuk meningkatkan pemahaman, memperluas apresiasi, atau membantu memperbaiki pekerjaan”. Siapa sih di dunia ini yang pengen di kritik? siapa sih yang dengan sukarela dibilang “ga bener”? Siapa sih yang pengen kelihatan salah di mata orang lain? Siapa sih yang pengen dibilang “gak mampu” oleh orang lain? Saya rasa tidak ada. Semua orang ingin tampil sempurna, tanpa cela, selalu benar, sesuai rule & berada dalam koridor.

Jujur nih ya, sayapun ketika dikritik, entah oleh suami, mantan manager saya, atau sahabat saya awalnya pasti membela diri kenapa saya berlaku seperti itu, hehehe.. *nyengir dulu ah*. Tapi lepas dari itu pasti ada improvement, perenungan, pemikiran yang saya lakukan. Yang bisa melihat kelemahan & kekurangan kita kan orang lain. Ibarat, kita tidak bisa melihat tengkuk kita sendiri, iya kan? šŸ˜‰

Saya pernah membaca uraian Dale Carnegie, mengenai Al Capone– pemimpin mafia di Chicago sana – dan para penjahat kelas wahid ternyata tidak pernah sekalipun memandang diri mereka sebagai penjahat. Hmm, masa sih sampai begitu? Mereka yang jelas-jelas berbuat kriminal, memperkosa, membantai manusia dengan tanpa alasan, melindungi peredaran obat bius, ternyata tidak pernah memandang diri mereka bersalah. OMG.. Masih dalam buku yang sama, Dale juga menceritakan bahwa hampir 100% dari mereka yang berada dipenjara Sing-Sing – penjara kriminal nomer satu di New York- juga sama sekali tidak melihat diri mereka sebagai para kriminal, melainkan sebagai korban. Sungguh-sungguh kenyataan yang hampir tidak dapat dipercaya. Yang lebih mengherankan lagi, jika sifat yang satu itu, juga terjadi dikalangan atas. Contohnya Presiden Taft – masih menurut buku itu – ketika berbuat sebuah kesalahan, dan diberitahu tentang itu, juga tidak pernah mengaku salah. Wow, lengkap sudah. Jika demikian berarti sifat “tidak mau disalahkan” itu melekat secara merata di mahluk yang bernama manusia. Dari penjahat hingga level presiden. Dari orang miskin sampai konglomerat..

Kita memang selalu melihat lebih jelas kearah kesalahan orang lain, dibandingkan kesalahan kita sendiri. Lampu sorot untuk orang lain, sedangkan lilin redup untuk diri sendiri. Untuk orang lain, sedapat mungkin kita gunakan kata : “lah, harusnya kan dia…” . Sedangkan untuk diri sendiri : “ya gimana lagi aku kan…”.

Tidak perlu jauh-jauh deh, saya sendiri masih sering melakukan hal itu, suka mengkritisi orang lain, padahal saya sendiri juga belum tentu benar. Ketika saya menemukan ketidaksesuaian, saya langsung nyolot, mengkritik habis-habisan. Tapi ketika saya yang disalahkan pasti saya akan dengan sigap memberikan pembelaan šŸ˜€ . Sepertinya saya juga mulai menggenapi analisa Dale Carnegie tentang sifat dasar manusia, yaitu begitu mudah melihat kesalahan orang lain, tetapi buta atau membutakan diri dengan kesalahannya sendiri…jadi malu… :p . Saya juga lebih suka membicarakan kesalahan orang disekitar saya, daripada konsentrasi membenahi kekurangan-kekurangan saya sendiri. Padahal jelas-jelas lebih menguntungkan untuk memperbaiki diri sendiri dibanding, bertindak sebagai “tuhan kecilā€ yang menghakimi, mengkritik bahkan menelanjangi kesalahan orang lain. Sedangkan TUHAN ā€œyang beneranā€ saja tidak menghakimi kita, sebelum waktunya..

.. PEACE dulu ah..

[devieriana]

Ā pict source mintywhite.com

Continue Reading

Friends in chemistry ..

Ā Jujur, saya suka dengan orang yang smart, enak diajak ngobrol, nyambung ketika diajak ngobrol dengan tema apapun. Ya, memang ga banyak sih orang yang seperti itu. Tapi sekalinya ketemu & match saya bisa “jatuh cinta” sama dia.. Eiits, bukan jatuh cinta yang itu ya. Tapi lebih ke merasakan adanya chemistry sama orang lain, itu yang paling saya suka. kadang ga perlu diomongin orang itu udah nyambung, istilahnya “flip-flop” atau “tek-tok” banget..

Saya pernah menjumpai teman-teman yang berkriteria seperti itu. Rasanya menyenangkan aja bisa nyambung ketika ngobrol, ngalir, ga ada matinya deh pokoknya. Ga perlu orang yang diatas saya usianya, yang lebih mudapun saya pernah ketemu. Saya ngomong apa, dia tau. nanti ia ngobrolin apa saya juga tau. Menyenangkan banget deh ketemu “orang-orang langka” macam mereka. Yang paling sering tuh ketemu dengan orang yang keliatannya kalau dilihat dari cv sih pinter, lulusan S2 /S3 Perguruan Tinggi ternama dalam/luar negeri, tapi kalau ga ada chemistry-nya rasanya obrolan sesantai/seserius apapun rasanya garing banget.

Saya ga menganggap diri saya tahu segalanya, pinter, dan sejenisnya. Woohhhooo.. emang siapa saya? Samasekali gaklah.. Tapi kalau ketemu sama orang-orang yang saya maksudkan tadi tuh rasanya angin segar banget, dimana saya bisa berdiskusi, ngobrol, tukar pikiran.. seru aja. Apa yang sebelumnya saya ga tau akhirnya bisa jadi tahu, apa yang sebelumnya dia ga tau saya bisa kasih info (kalau kebetulan saya juga tau infonya).Ā  Lalu apakah usia juga mempengaruhi tingkat kedewasaan seseorang, atau bisa nyambung/enggaknya seseorang itu dengan kita? jawabnya.. gak banget. Kedewasaan seseorang, kepandaian seseorang bukan dilihat dari usia. Tapi lebih ke kematangan emosi, pengalaman hidup, rajinnya dia untuk mengupdate informasi & pengetahuan, membuka diri terhadap perubahan, peka terhadap orang lain.

Pernah saya ngobrol dengan seseorang yang kelihatannya cukup smart & okelah menurut saya, tapi saya kok langsung ilfil ya ketika saya ajak bincang-bincang beliaunya lebih sering bilang “oh ya? masa sih?”, yaaahh.. cape deehh šŸ™ . tapi ada juga yang biasa-biasa aja tapi ternyata “wow inside”.. alias asik banget, ilmu pengetahuannya luas.. jadi saya yang pas-pasan ini bisa belajar banyak dari dia.. šŸ™‚

Ya sudahlah tak apa, ga mungkin saya menuntut orang semuanya harus nyambung sama saya, ga mungkin orang lain harus ber-chemistry sama saya. Karena yang cehmistry kan ga bisa di setting, ga bisa dibentuk.. semuanya serba mengalir secara alamiah.. Saya ga bermaksud milih-milih temen lho ya, saya seneng ngobrol & berteman dengan siapa saja. Cuma, kalau ketemu dengan orang yang “sejiwa” dengan saya tuh rasanya blessing banget.. hehehehehe.. Soalnya termasuk fenomena yang langka kalo bisa ketemu lagi dengan teman yang seperti itu.. šŸ™‚

[devieriana]

 

gambar pinjam dari sini

Continue Reading

coping with hatred ..

Pertanyaan menarik yang saya dapatkan hari ini dari salah satu anak buah saya, “mbak dev, gimana sih caranya menghilangkan rasa benci?”. Gubraaaakk.. hehehehe. Pertanyaan yang sebenarnya sepele, tapi menjawabnya kok ribet ya?Ā  šŸ™‚

 

Sebagai manusia biasa, soal like & dislike itu hal yang human, lumrah. Kita ga mungkin harus menyukai semua orang, begitu juga orang lain ga mungkin harus menyukai kita. Dalam case tertentu ada kalanya kita tidak suka dengan orang tertentu karena tabiatnya, perilakunya, cara kerjanya, dll. Sebaliknya aada kalanya saat kita sukaa dengan seseorang mungkin karena fisiknya yang ok, tingkah lakunya yang menyenangkan, atau pribadi yang selalu ceria, dll.

 

Namun apa yang harus kita lakukan ketika kita menjumpai seseorang yang samasekali tidak kita sukai (dengan berbagai reason). Hmm, cara penanganan kebencian menurut saya masing-masing orang pasti beda. Punya cara tersendiri untuk menghilangkan kebencian pada orang lain. Sebagai orang yang tidak ada hubungan langsung & berkaitan secara emosional dengan objek yang dibenci tentu tidak mudah memberikan solusinya. Bisa saja kita menyarankan A, B, C, tapi kalau yang diberi saran tidak bisa menerima secara tulus, ya percuma. Karena ibarat memberikan motivasi, yang paling bagus adalah motivasi yang berasal dari diri sendiri. Seperti misal : kamu harus bisa dapet IPKĀ  3.5 semester ini. Kalau bukan dari kitanya sendiri yang pengen dapet IPK segitu ya IPK kita bakal segitu-segitu aja. Lain kalau target itu kita sendiri yang menciptakan, pasti kitanya juga akan berusaha banget mendapat target itu secara maksimal.

 

Sama halnya dengan melepaskan kebencian. Kebetulan saya bukan tipe pembenci, atau yang bisa marah dalam waktu yang lama sama orang lain. Saya lebih suka kalau marah saat itu juga, tegur saat itu juga, kalau bisa diselesaikan saat itu juga. Kalaupun iya sampai lebih dari 2 hari biasanya kecil kemungkinannya. Saya biasa melakukan terapi buat diri sendiri yaitu dengan melakukan review. Misal, melakukan review apa saja yang sudah saya lakukan dalam sehari itu, kesalahan apa saja yang mungkin sudah saya lakukan, pekerjaan apa saja yang sudah terselesaikan hari ini & apa saja yang masih terhutang, dan banyak lagi lainnya.

 

Ketika ada masalah dengan seseorang & itu membuat saya kecewa atau sakit hati, saya coba melihat dari sudut pandang yang berbeda. Mencoba menggunakan kacamata dia, melihat dari persepsi dia (walaupun jelas kurang sesuai di mata saya).Ā  Dari situ biasanya pikiran saya pelan-pelan mulai terbuka, saya jadi bisa menerima kekurangan saya & dia, benang yang tadinya kusut sedikit demi sedikit mulai terurai, belajar memaafkan & menerima perbedaan. Kesalahan. Siapapun bisa melakukan kesalahan & alpha. Wajar, human, manusiawi. Mungkin tanpa kita ketahui ada seseorang juga yang tidak menyukai kita, enath karena mungkin attitude kita kurang menyenangkan, berlebihan, membuat orang lain kurang nyaman, padahal kita merasa bahwa kita fine-fine aja, ga ada yang salah. Jangan menuntut orang lain untuk sempurna karena kita juga jauh dari sempurna. Kita juga belum tentu lebih baik dari orang yang kita benci.

 

Selagi bisa dikomunikasikan dengan baik, komunikasikanlah, karena bisa jadi dia sendiri tidak tahu letak kesalahannya.Ā  Sebagaimana yang tertera di dalam Johari Window, silahkan baca di sini .Membenci orang lain bukanlah solusi & pasti tidak ada manfaatnya baik untuk diri sendiri maupun untuk orang yang kita benci. Kuncinya adalah memaafkan & mau melihat orang in a whole package, lengkap dengan segala kebaikan & keburukannya.

 

 

P E A C E

šŸ™‚

 

 

 

[devieriana]

Continue Reading

A downer within

jokes

Stress karena pekerjaan? stress karena masalah keluarga, pacar, temen, bos? Akhirnya ngomel, ngedumel, nyalahin orang lain & lingkungan. Pernah ga sih kita ketemu sama orang yang kerjaan tiap harinya ngeluuuh mulu. Entah itu sodara, temen, bos, pacar,atau jangan-jangan kita sendiri yang termasuk dalam golongan seorang “downer”? uiih, .. jangan-jangan iya.. Downer itu apaan sih? nama artis yak? atau sejenis makanan, minuman, games, situs pertemanan baru atau istilah apa sih ini? –> kaya facebook gitu.. ;))

Downer adalah istilah buat seseorang yang sering melontarkan serangkaian keluhan-keluhan tentang betapa kesalnya dia atau betapa bencinya pada hal-hal tertentu. Atau kalau boleh saya istilahkan sebagai “tipe gelas separuh kosong”, si pengeluh yang selalu melihat sisi negatifnya dalam segala hal. Mmmh, kalian tau figur atau The Eeyore di kartun Winnie The Pooh, Grumpy Dwarf di cerita kartun Snow White, termasuk tokoh-tokoh antagonis dalam lakon film? Mereka adalah type downer sejati. Ciri-ciri seorang downer nih, misal : selalu menggerutu, “ih sebel banget gue sama..”, atau pas dateng telat selalu nggak mau ngakuin kalo emang itu murni kesalahan dia tapi justru menyalahkan yang jam weker ga bunyi-lah, yang jalanan macetlah. Atau seseorang yang selalu memandang rendah kemampuan dirinya sendiri. Seorang downer tidaklah mudah untuk di hadapi. Energi buruknya begitu menginfeksi sehingga jika berlama-lama menghadapinya kita bisa ketularan, karena seorang downer cenderung menjadi seorang pesimistis & hidup ga ada semangat-semangatnya..

Kalo dari apa yang pernah aku baca, konon Heath Ledger untuk menyelami perannya sebagai Joker di film Batman :Ā  The Dark Knight, dia sering ditemui dalam kondisi yang suram & depresi guna memperkuat karakter si Joker bisa masuk dalam pribadinya. Dan ternyata setelah syuting berakhir dia kesulitan untuk menghilangkan karakter yang akhirnya jadi merasuk dalam kepribadiannya ini, sampai akhirnya dia meninggal dalam keadaan depresi berat. Termasuk juga salah satu aktor imut tahun 90’an Brad Renfro (aktor imut yang pernah jadi idola saya jaman duluuu.. heheheeh), aktor muda usia 25 tahun yang harus meninggal karena overdosis. Inipun disebabkan selain dia memang seorang pecandu narkotika & dia juga mengalami depresi, setelah perannya sebagai korban pelecehan seksual dalam film Sleepers (1996). –> jadi aktor ternyata serem juga yah? makanya saya dulu ga pernah mau jadi artis..

Pernah nih saya punya teman yang downer kaya gini. Isinya tiap hari ngeluuuuh mulu, kalo ga ngeluh badannya kurang sehat ya lingkungannya yang ga support dia, menyalahkan orang lain. Pokoknya menceritakan kehidupannya yang kayanya menderita banget. padahl sih ga gitu-gitu amat. Hampir setiap hari dia selalu mengeluhkan hal yang sama. Capek ga sih dengernya?

Trus gimana dong kalo ternyata di lingkungan kita ada orang-orang dengan type seperti ini? bukankah dia lama-lama bisa menginfeksi kita dengan “virusnya” ini? Enaknya kita jauhin, deketin, dibiarin aja atau gimana? Mmh, kalo ngejauhin sih jangan ya.. Soalnya orang-orang dengan type seperti ini menurut apa yang pernah aku baca ada kecenderungan ingin diperhatikan, ingin didengarkan.. Jadi ya dengerin aja dulu bentar, kasih dia ruang buat menuangkan uneg-uneg.. tapiiiii.. jangan pernah menjadikan keluhan dia masuk ke otak kita tanpa filter. Jadinya malah kita yang ikut jadi downer.

Nah, biar kita ga ikutan jadi downer caranya dengan belajar mengucapkan selamat tinggal pada kondisi lesu, loyo dan kemurungan. Misal nih, jalan-jalan aja keluar sebentar..hirup udara segar selama 15 – 20 menit. Kalau belum cukup tulislah di selembar kertas atau blogĀ  dan ungkapkan kekesalan disana. makanya tak heran kalau sekarang banyak banget yang menulis di blog, ya salah satunya tanpa disadari itu adalah salah satu therapy supaya ga ikut jadi seorang downer. Tau ga sih, tulisan itu bukan sekedar curahan hati tapi juga bisa menjadi tolak ukur permasalahan. Kadang jika membuka kembali bagian halaman tersebut, kita akan tertawa melihat apa yg tertulis disana, “ya ampun gue ternyata dulu tolol banget ya, ngapain masalah kaya gini aja bikin gue stress ya?”

Remember, laughter is the best medicine. Dengan begitu, setidaknya kita sudah memiliki obat yang tepat mengatasi sifat downer dalam diri kita sendiri..Ā  šŸ™‚

[devieriana]

 

ilustrasi dipinjam secara semena-mena di sini

Continue Reading