A Reason, A Season or A Lifetime

Salah satu project menulis di awal tahun 2011 yang menurut saya cukup unik dan spektakuler adalah menulis surat untuk mantan yang nantinya akan dibukukan via @nulisbuku yang deadline-nya adalah kemarin tanggal 8 Januari 2011. Project unik ini berawal dari idenya Naluri yang berniat untuk membukukan kumpulan surat untuk mantan. Dia mengundang para penulis yang berminat untuk berbagi cerita menjadi sebuah buku. Bagi penulis perempuan bisa menulis dengan tema Surat Terakhir Untuk Penghuni Mars (STUPM), sedangkan para lelaki bisa menulis dengan tema Surat Terakhir Untuk Penghuni Venus (STUPV).

Jujur awalnya saya antusias untuk ikut project ini. Mengingat ada penggalan cerita mirip sinetron yang pernah terjadi dalam hidup saya  dan sepertinya saya akan dengan mudah menuangkannya lagi dalam bentuk prosa. Tapi entah kenapa, seiring dengan waktu, ide menulis dengan tema tersebut maju mundur, seolah berkompromi dengan mood yang naik turun. Bingung, antara ingin membagikannya dalam bentuk tulisan yang bisa dibaca secara bebas oleh orang lain, atau biar saya simpan saja sendiri. Setelah melalui pergulatan batin yang panjang (halaah..) akhirnya saya putuskan untuk membatalkan keikutsertaan saya dalam project itu karena sepertinya memang tidak ada lagi yang perlu saya sampaikan pada si beliau 😐

Di twitter sempat saya baca ada beberapa tweet dari peserta project STUPM dan STUPV yang di RT oleh @nulisbuku ; rata-rata mereka sampai nangis-nangis nulisnya. Mungkin juga karena efek emosional. Mereka “terpaksa” harus mengulik kisah lama yang (bisa saja) menyakitkan, yang sebenarnya tidak untuk diingat-ingat lagi, tapi demi project buku ini mereka mau untuk menuliskannya ulang dengan risiko ‘menangis darah’.

Tak ada yang salah dengan project unik ini, animo pesertanya juga terlihat sangat tinggi. Sepertinya seluruh kontributor sukses menulis dengan hati. Iyalah, wong pengalaman pribadi. Tapi buat saya ya sudahlah, yang sudah ya sudah. Saya merasa sudah tidak ada ‘hutang’ yang belum terselesaikan dengan siapapun. Apa yang sudah terjadi di masa lalu biarlah tersimpan rapi dalam kotak tersendiri.Itu kalau saya lho, ya… 😉

Beberapa hubungan di masa lalu tidak saya lewati secara mulus. Ada saat di mana kami sudah terantuk di depan jalan buntu, sehingga kami harus membuat keputusan apakah harus bertahan atau kami cukupkan sampai di situ saja. Buat yang sudah pernah mengalami patah hati sih pasti beratlah. Tapi syukurlah akhirnya kami bisa mengakhirinya secara baik, dan bahkan hubungan kami saat ini jauh lebih baik jika dibandingkan ketika masih jadi pacar ;)). Saya tidak ingin berusaha memaksakan sebuah hubungan yang kualitasnya sudah tidak lagi sehat. Jika memang komunikasi sudah terbentur dari berbagai sisi; semua cara untuk bertahan sudah dicoba; dan ketika masing-masing ternyata sudah tidak lagi nyaman melanjutkan hubungan, ya lantas untuk apa saling ngotot untuk mempertahankannya? Capek hati, capek pikiran, capek tenaga. Kalau toh memang akhirnya harus berpisah ya kenapa tidak? Karena siapa tahu justru setelah berpisah kita akan bertemu dengan sosok yang lebih baik, kan?

Walaupun sering kali keputusan yang sudah melalui pemikiran yang sangat matang sekalipun tidak selalu bisa memuaskan semua pihak; belum lagi harus berhadapan dengan rasa sakit dan kecewa lantaran kita harus berhadapan dengan akhir yang tidak sesuai dengan harapan di awal mula hubungan. Tapi ya itulah yang namanya hidup. Kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi semenit dua menit ke depan; apa yang akan terjadi esok hari; pun menebak dengan siapa kita berjodoh, karena nyatanya sering kali kenyataan berlari terlalu jauh dari harapan.

Beberapa waktu yang lalu saya mendapatkan email yang isinya cukup bagus, dan membuat saya merenung sendiri. Kurang lebih isinya begini :

When someone is in your life for a REASON, it is usually to meet a need you have expressed. They have come to assist you through a difficulty, to provide you with guidance and support, to aid you physically, emotionally or spiritually. They may seem like a godsend and they are. They are there for the reason you need them to be.

Some people come into your life for a SEASON, because your turn has come to share, grow or learn. They bring you an experience of peace or make you laugh. They may teach you something you have never done. They usually give you an unbelievable amount of joy. Believe it, it is real. But only for a season.

LIFETIME relationships teach you lifetime lessons, things you must build upon in order to have a solid emotional foundation. Your job is to accept the lesson, love the person and put what you have learned to use in all other relationships and areas of your life.

Ah, jadi ingat sama salah satu nasihat Papa saya. Ada kata-kata yang nancep banget sampai sekarang, saya menyebutnya dengan analogi kaca mobil. Nasihat itu diberikan ketika saya masih jadi ababil (ABG labil); lagi sedih menye-menye habis putus sama pacar :p :

“Pernah merhatiin nggak kenapa kaca depan mobil dibuat lebih besar daripada kaca spion? Itu karena ada banyak hal yang jauh lebih besar yang harus kamu lihat, dan harus kamu hadapi di depan sana. Lalu kenapa kaca spion ukurannya dibuat jauh lebih kecil dari pada kaca depan? Karena kadang kita perlu sesekali melihat ke masa lalu, tapi ingat, hanya sebatas untuk introspeksi dan belajar dari kesalahan yang telah diperbuat agar tidak terulang lagi di masa yang akan datang… Chin up! ;)”

So, …

Thank you for being a part of my life, whether you were here for a reason, a season or a lifetime..

[devieriana]

gambar pinjam dari Corbis Images

Continue Reading

Power Balance : The Placebo Effect!

Kemarin ketika teman-teman di twitter ramai membicarakan “khasiat” gelang Power Balance yang tak lagi “berkhasiat” itu, mendadak saya jadi ingat dengan salah satu sahabat saya yang juga menggunakan gelang “ajaib”  itu. Paginya saya segera mem-BBM untuk menanyakan apakah dia sudah mengetahui berita terbaru tentang Power Balance itu. Balasannya, dia memang sudah melepas gelang itu sejak kemarin dan tak lagi menggunakannya. Saya tersenyum :).

Teman saya yang lain juga menggunakan gelang yang sama dengan sahabat saya yang tadi. Beberapa kali dia menceritakan keistimewaan gelang keseimbangan itu beserta khasiat-khasiat yang bikin dia jadi lebih produktif, segar, jarang sakit, berhenti jadi makhluk nocturnal, dll. Tak lupa disebutkan pula tempat belinya disebuah international shopping mall di bilangan Sudirman Central Business District, dan harganya yang membuat saya ternganga :-o. Sempat mikir, apa iya gelang karet itu sedemikian super powernya hingga layak diberikan harga segitu? Toh hanya sebentuk gelang karet yang melingkar di pergelangan dengan stiker hologram ditengahnya saja kan? Kalau iya harganya segitu amat, mending saya beliin gelang emas beneran deh, ya nambah-nambah duit sekian ribu deh. Masa iya sih seistimewanya itu? 😕

Yang lucu, tetangga sebelah rumah juga bilang kalau sejak pakai power balance dia jadi lebih semangat di sekolah, and the bla-bla-bla :-@. Nggak diceritain juga sih apakah sejak pakai gelang itu kalau ulangan sudah nggak nyontek lagi atau masih tetep.. ;)). Buat saya jelas kurang masuk akal, karena iya kalau gelang itu dibeli dengan harga seperti yang teman saya beli itu, sekitar Rp 350.000,-. Lha ini cuma 10%-nya sodara-sodara, harganya Rp 35.000,-. Lha ya mending dipakai buat beli vitamin C dibandingkan beli gelang karet yang katanya bisa bikin seimbang itu. Seimbang dimananya sih? Kalau untuk menyeimbangkan kondisi keuangan iya deh saya mau beli ;))

Ternyata, kecurigaan saya tentang gelang Power Balance itu terjawab sudah. Melalui situs resmi Power Balance mereka mengatakan :

In our advertising we stated that Power Balance wristbands improved your strength, balance and flexibility.

We admit that there is no credible scientific evidence that supports our claims and therefore we engaged in misleading conduct in breach of s52 of the Trade Practices Act 1974.

If you feel you have been misled by our promotions, we wish to unreservedly apologise and offer a full refund.

To obtain a refund please visit our website www.powerbalance.com.au or contact us toll-free on 1800 733 436

This offer will be available until 30th June 2011. To be eligible for a refund, together with return postage, you will need to return a genuine Power Balance product along with proof of purchase (including credit card records, store barcodes and receipts) from an authorised reseller in Australia.

This Corrective Notice has been paid for by Power Balance Australia Pty Ltd. and placed pursuant to an undertaking to the Australian Competition and Consumer Commission given under section 87B of the Trade Practices Act, 1974.

Gelang Power Balance itu ibarat benda yang memiliki placebo effect. Cara “bekerjanya” adalah melalui sugesti. Padahal mungkin barang aslinya tidak mengandung khasiat apapun. Kalau pun toh akhirnya (diklaim) telah terjadi perubahan pada penggunanya itu semua tak lebih karena sugesti diri sendiri.

Sugesti memiliki kekuatan yang luar biasa dan nyaris tak terbayangkan. Kekuatan sugesti bisa menggerakkan seseorang bahkan lebih untuk melakukan suatu hal yang kadang sulit di nalar. Tentu kita masih ingat kasus Ponari si Dukun Cilik itu kan? Dilihat secara medis pun pengobatan ala Ponari ini sudah sangat tidak masuk di akal. Bagaimana mungkin hanya dengan mencelupkan sebuah batu ke dalam segelas air bisa mempunyai kekuatan menyembuhkan segala macam penyakit bahkan untuk penyakit yang sudah tak tersembuhkan oleh dokter manapun? 😕

Saya pernah baca kalau sugesti itu ada hubungannya dengan hipnosis/hipnoterapi yang analoginya seperti menginstal program pikiran tertentu ke dalam hard disk pikiran seseorang. Kalau kita menyerap dan meyakini suatu hal itu akan terjadi, maka hal itu akan terjadi persis seperti apa yang kita pikirkan. Kurang lebih seperti itulah.

Belajar dari kasus Power Balance ini, lain kali kalau ada produk tertentu yang menjual khasiat ini itu jangan buru-buru percaya juga kali ya. Namanya juga jualan, pasti ada profit oriented didalamnya. Sebagai konsumen kitalah yang harus jeli, jangan sampai tertipu hanya karena harga barangnya mahal atau karena mengikuti trend banyak yang pakai. Karena barang mahal juga belum tentu punya khasiat yang semahal harganya.

Nah bagi yang sudah terlanjur beli gelang Power Balance, dipakai lagi gelangnya. Gapapa, buat fashion aja, sayang kan udah beli mahal-mahal..  :p

Kalau ditanya : “kamu masih pakai gelang Power Balance?”. Jawab aja : “Siapa bilang? Ini gelang Power Ranger kok..” :-”

[devieriana]

gambar dipinjam dari sini

Continue Reading

Kemewahan itu bernama waktu luang

Dulu jaman kita masih belum ada kesibukan & belum ada kerjaan, yang namanya waktu luang itu jadi barang murah yang bisa kita nikmati kapan saja sampai kita bosan sendiri. Tapi giliran kesibukan sudah mulai padat merayap rasanya stress, kepala mendadak berasap, gejala penuaan dini mulai menghampiri, sensitif, badan terasa sering pegal-pegal dan pengen jambak-jambak rambut… teman ~X( *lho?!*. Jangankan untuk ngeblog, nafas aja itu juga kalau sempat :-<. Oh ya, baiklah.. memang saya sedang berlebihan.. 8-|

Ceritanya seperti sahabat saya yang baru back for good dari luar negeri dan berencana untuk menetap di Indonesia lagi. Sekarang sedang sibuk-sibuknya mencari pekerjaan disini. Ya namanya juga lagi masa penyesuaian dan sedang dalam proses mencari pekerjaan, tentu tidak semudah membalikkan telapak tangan. Butuh waktu dan kesabaran. Saya sering telpon/sms sekedar tanya kabar atau progress pencarian kerjanya. Jawabannya, “Bosen bener dah, nggak ada kesibukan 🙁 “. Padahal ketika masih tinggal di luar negeri jadwal dia termasuk padat. Bahkan ketika sakit pun masih dibela-belain ngantor dengan alasan nggak ada yang bertanggung jawab di kantor. Alhasil kalau sedang libur dimaksimalkan untuk mengerjakan pekerjaan rumah. Maklum disana dia tinggal sendiri di apartemen dan nggak ada bibik-bibik yang bantu nyuci, nyetrika atau masak. Nah ya, jadi berbahagialah kalian yang hidupnya didampingi oleh seorang asisten rumah tangga, jadi nggak harus susah-susah ngerjain pekerjaan rumah selain pekerjaan kantor :D.

Kebalikan sama teman saya satu lagi. Kalau yang ini edisi super sibuk. Sepertinya angka-angka di kalender dia semuanya berwarna hitam. Mulai Senin sampai Sabtu dia pasti sibuk beredar. Hari Minggu pun kadang masih suka diisi sama acara off air. Jadi narasumber seminar disini, disitu. Meeting dengan klien ini, anu, itu. Belum selesai meeting sudah ditunggu dengan presentasi disana dan disini. Saking sibuknya kadang saya mikir mungkin dia sehari-harinya makan batere ya. Kalau saya dengan jadwal sesibuk itu mungkin sudah jalan pakai infus kemana-mana. Dia baru benar-benar istirahat kalau lagi sakit atau cuti. Tapi ya masa sih kalau pengen istirahat harus sakit dulu? Oh ya, cuti pun jangan salah, dia juga masih meng-handle kerjaan jarak jauh lho. Tipe workaholic sejati memang si teman satu ini \m/.

Ngomongin temen sendiri jadi dejavu, saya dulu juga pernah mengalami masa-masa seperti itu :-s. Kelihatannya aja saya cuti, secara fisik saya di Surabaya. Tapi jiwa saya di Jakarta. Gimana mau merasakan cuti kalau saya masih terima telpon, masih kirim dan terima email, masih ngecek kerjaan anak buah (walau telpon/sms hanya untuk sekedar tanya ada kesulitan/nggak). Harusnya saya matiin HP dan email saya ya. Tapi nggak bisa semudah itu juga. Ada tuntutan tanggung jawab disana. Di saat itulah saya mulai merasa seperti diperbudak sama kerjaan dan deadline.. :-s

Nyadar nggak sih, ketika kita sudah terlalu sibuk dengan pekerjaan, syndrom I Hate Monday pun menggejala tanpa kita sadari. Belum berangkat ke kantor saja sudah terbayang-bayang tumpukan berkas dan email yang bejibun. Belum buka buku agenda saja sudah meriang duluan membayangkan rentetan jadwal padat didalamnya. Akhirnya saking menumpuknya pekerjaan yang harus diselesaikan terpaksa kita harus bekerja di hari libur dan tanpa dibayar pula *ngenes to the max* :((. Smartphone dan netbook harus menjadi teman di akhir pekan untuk menyelesaikan tugas padahal keluarga, teman, mall dan sale sedang menunggu.. *remet-remet kertas satu rim*

Akibatnya, hubungan dengan keluarga dan kehidupan sosial pun lambat laun jadi terabaikan. Batas antara kehidupan pribadi dan pekerjaan jadi kabur. Akhirnya kebanyakan kita memilih mengorbankan keluarga dan pribadinya untuk memenuhi tuntutan beban pekerjaan yang sudah overload. Tapi nggak semua pekerja bersedia mengorbankan keluarga diatas pekerjaan, malah ada yang akhirnya memilih resign untuk lebih konsentrasi ke keluarganya.

Idealnya sih kita harus bisa mengatur keseimbangan dan tahu posisi kita sedang ada dimana ya. Melihat mana yang paling penting dalam hidup. Keluarga atau pekerjaan? Memang keduanya sama penting tapi pasti ada skala prioritasnya. Ada waktu untuk konsen ke pekerjaan, tapi ada saatnya juga kita menjadi milik keluarga, dan menikmati “me time”.

Kalau kata Nick Deligiannis :

“Remember, a professional is a person who never allowed himself to dissolve in the job and no longer have time for personal life”

Jadi, kapan kita menikur pedikur bareng? :>

[devieriana]

Continue Reading

Hari Ibu bukan Mother’s Day

summer_flowerHampir setiap tanggal 22 Desember, Indonesia selalu memperingatinya sebagai Hari Ibu. Tapi sebenarnya ada hal unik di balik peringatan Hari Ibu di Indonesia. Latar belakang sejarah mengapa hari ini diperingati sebagai Hari Ibu, menjadi blurry ketika dalam implementasinya lebih menyerupai Mother’s Day. Padahal sebenarnya konteks peringatan Hari Ibu dengan Mother’s Day itu jauh berbeda :D.

Kalau kita menilik kembali ke sejarah masa lalu peringatan Hari Ibu itu diawali dari bertemunya para pejuang wanita dalam Kongres Perempuan Indonesia I pada tanggal 22 – 25 Desember 1928 di Yogyakarta. Kongres itu dihadiri oleh sekitar 30 organisasi perempuan dari 12 kota di Jawa dan Sumatera. Peristiwa itu dianggap sebagai salah satu peristiwa penting sejarah perjuangan kaum perempuan Indonesia, karena di sanalah para pemimpin organisasi perempuan se-Indonesia berkumpul menyatukan pikiran dan semangat untuk berjuang menuju kemerdekaan dan perbaikan nasib kaum perempuan.

Para pejuang perempuan itu mengadakan Kongres Perempuan sebanyak 3x. Kongres Perempuan II diadakan bulan Maret 1932, dan Kongres Perempuan III diadakan pada tahun 1938. Cikal bakal peringatan Hari Ibu ini dirumuskan dalam Kongres Perempuan III ini. Jadi, sebenarnya misi diperingatinya Hari Ibu pada awalnya lebih untuk mengenang semangat dan perjuangan para perempuan dalam upaya perbaikan kualitas bangsa Indonesia.

Lalu bagaimana ceritanya peringatan Hari Ibu yang misi awalnya mengenang semangat para perempuan untuk memperbaiki kualitas bangsa ini bergeser maknanya menjadi peringatan yang bersifat ‘pemujaan’ kepada ibu? Sepertinya kata-kata ‘IBU’ inilah yang membuat pemaknaan Hari Ibu mengarah menjadi Mother’s Day, padahal secara sejarah maknanya bukan seperti itu. Kalau makna Hari Ibu berdasarkan Kongres Perempuan III ya seperti yang sudah dibahas tadi. Tapi kalau peringatan Mother’s Day ini banyak diperingati di lebih dari 75 negara, seperti Australia, Kanada, Jerman, Italia, Jepang, Belanda, Singapura, Taiwan, dan Hongkong, yang lebih mengarah ke worshiping motherhood dan peran perempuan sebagai ibu dan isteri yang seutuhnya. Peringatan Mother’s Day sendiri jatuh pada bulan Maret yang berawal dari kebiasaan memuja Dewi Rhea, istri Dewa Kronos, dan ibu para dewa dalam sejarah Yunani kuno.

Nah, yang terjadi di Indonesia, makna peringatan Hari Ibu itu lambat laun mengalami pendangkalan esensi. Akhirnya banyak yang ikut menjadikan perayaan Hari Ibu menjadi peringatan hari menyayangi ibu, hari membalas jasa kepada ibu, lagi-lagi jatuhnya ke worshiping motherhood juga, bedanya peringatannya menggunakan tanggal dicanangkannya Hari Ibu yang ditetapkan melalui Dekrit Presiden No. 316 tahun 1959.

Perayaan Hari Ibu di Indonesia masih dirayakan dengan kegiatan-kegiatan yang bersifat simbolis, seperti lomba memasak, lomba merangkai bunga, lomba ngadi salira ngadi busana, bahkan ada juga acara mencuci kaki ibu yang dilakukan oleh anak-anak TK yang katanya itu adalah sebagai bentuk tanda bakti anak kepada ibunya. Selain kegiatan-kegiatan tadi ada juga yang merayakannya dengan membebastugaskan ibu dari tugas-tugas domestik yang selama ini mengiringinya.

Sebenarnya sah-sah saja kalau ada yang merayakan Hari Ibu dengan berbagai cara, tapi rasanya kok ironis ya kalau kita mengingat latar belakang sejarah tanggal ini ditetapkan, karena setelah melewati lebih dari 50 tahun ternyata realitas kondisi perempuan di Indonesia belum banyak berubah, tugas pokok dan fungsinya masih berada dalam ranah domestik. Meliburkan mereka dari peran-peran domestiknya itu sama saja menunjukkan bahwa peran utama perempuan adalah ‘peran domestik’.

Dengan mengingat latar belakang peringatan Hari Ibu ini, sudah selayaknya kita memberikan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada seluruh perempuan di Indonesia (bukan hanya yang sudah berstatus sebagai ibu saja), dengan memberi mereka ruang dan kesempatan untuk berkembang dan berkiprah bersama kaum laki-laki dalam berbagai sektor sesuai dengan kemampuan dan peran kodratinya; memberikan apresiasi atas prestasi dan pencapaian-pencapaian yang sudah diraihnya; dan satu lagi yang sering terlupakan, dalam menjalani kodratnya sebagai perempuan sekaligus ibu, sudah selayaknya mereka mendapatkan lokasi yang layak/memadai dan nyaman untuk menyusui/memerah ASI di tempat kerja maupun di tempat umum lainnya.

Terlepas dari apakah hari ini diperingati sebagai Hari Ibu yang sesuai dengan latar belakang sejarah atau ke arah Mother’s Day, saya ingin mengucapkan,

1. versi yang benar: “Selamat Hari Ibu…” untuk semua perempuan di Indonesia;

2. versi yang sudah terlanjur berlaku di masyarakat Indonesia: “Selamat Hari Ibu untuk semua ibu, terimakasih buat semuanya ya. Thousand words from a million language will never be enough to prove that I really love you.. 😡 >:D<” ;

3. untuk para PNS: “Ayo kita upacara!” ;)) *ngapalin Mars Hari Ibu & Hymne Hari Ibu*

[devieriana]

 

ilustrasi diambil dari sini

Continue Reading

Siapa suruh datang Jakarta?

Semalam adalah malam yang sangat spektakuler buat hampir semua penduduk Jakarta yang hingga tengah malam masih terkatung-katung di tengah jalan lantaran banjir dan macet yang sangat parah. Berbagai live tweet tentang banjir beserta foto yang di-upload seolah menceritakan betapa lumpuhnya arus lalu lintas di Jakarta tadi malam. Ya, saya adalah salah satu manusia yang terjebak dalam kemacetan yang parah itu pemirsa..

Niat awalnya adalah mengantarkan adik saya ke Bandara Soekarno Hatta. Janjian maksimal jam 17.00 wib sudah di Gambir terpaksa dibatalkan karena hujan dan prediksi macet yang akan terjadi sehingga tidak mungkin kalau dia harus menunggu saya sementara dia harus sudah check in di bandara. Akhirnya tinggallah saya di dalam taksi dengan mencoba tenang “menikmati” macet, banjir, dan komplain-komplain via berbagai social media. Sempat stress juga ketika taksi yang saya naiki tidak bisa bergerak samasekali. Miris, ketika saya memutuskan untuk berjalan kaki tapi ketika melongok keluar jendela taksi, wow.. SUNGAI!! :((

Kemacetan dan banjir rupanya merata hampir di seluruh Jakarta. Suami saya yang naik motor terpaksa harus berputar-putar mencari jalan alternatif (jalan tikus). Tapi ternyata jalan tikus pun macet. Karena pikiran orang mungkin sama dengan pikiran suami saya, “ah kalau lewat jalan utama pasti macet, lewat jalan alternatif sajalah..”. Eh ternyata bertemulah mereka di jalanan yang sama. Jadi ya tidak ada bedanya antara lewat jalan utama atau jalan alternatif ;)) . Saya sendiri mulai berasa stressnya ketika mulai melihat jam sudah menunjukkan pukul 21.30 wib dan saya masih terkatung-katung di Jalan Gatot Subroto. Saya lihat juga si bapak supir taksi saya sudah stress juga sepertinya. Untunglah suami saya akhirnya menjemput dan membawa saya keluar dari kemacetan di sekitaran Giant – Mampang… untuk menghadapi kemacetan berikutnya tentu saja ;))

Saya toh juga sempat ngetwit begini :

Macet itu membuat org banyak bersyukur. Maju semeter aja sudah alhamdulillah : “alhamdulillah, akhirnya maju juga”
about 17 hours ago  via Twitter for BlackBerry®

dan begini :

Kalo Jakarta macetnya kaya begini, bayangkan ada berapa ibu hamil yg akan melahirkan dijalan ya..
about 17 hours ago  via Twitter for BlackBerry®

;))

Pagi ini di kantor hampir semua orang mempunyai cerita yang sama dengan versi masing-masing tentang kemacetan. Mereka rata-rata tiba dirumah antara pukul 22.00-23.00 bahkan ada juga yang lebih malam daripada itu. Semuanya mengeluh dan ngomel tentang betapa parahnya kemacetan Jakarta kemarin malam, saya juga cerita sih, tapi nggak pakai ngomel. Tepatnya adalah PASRAH! ~X(

Tapi saya justru berpikir iseng begini :

Sebenarnya kita semuanya sudah tahu kalau Jakarta itu kota banjir & macet, kan? Jadi ya sudah, kalau sudah memutuskan untuk tinggal disini ambil itu sebagai bentuk resiko dan konsekuensi logis. Jakarta itu ibarat sebuah produk yang dijual dengan sistem bundling. Kita tidak bisa hanya membeli salah satu fasilitas yang ditawarkan. Kalau kita sudah setuju membelinya ya kita tinggal menikmati fitur paket yang dijual terlepas dari mau tidak mau, berguna atau tidak. Jakarta disajikan lengkap dengan segala mimpi tentang kesuksesan hidup, dilengkapi dengan segala ketersediaan fasilitas, diberi essence manis pahit asamnya hidup kota besar, dan tak lupa semua itu disajikan lengkap dengan hiasan pita banjir dan macetnya.

Mengomel dan saling menyalahkan/menghujat satu sama lain pun tidak akan menyelesaikan masalah. Kalau memang iya solusinya adalah dengan mengganti pejabat yang kita salahkan itu lalu apakah pejabat berikutnya atau bahkan kita sendiri dijamin pasti  mampu menyelesaikan masalah klasiknya Jakarta ini? Nah, belum tentu juga tho? Bukan berarti kita harus nerimo dengan keadaan seperti ini terus-terusan, tapi ya kenapa kita tidak mencoba untuk mengakrabkan diri dengan kondisi yang bukan untuk pertama kalinya terjadi ini? Nikmati sajalah Jakarta dengan segala pernak-perniknya, toh nanti juga akan kebal & terbiasa. Soal terlambat, kebasahan, kedinginan, tampang jadi kucrut ya sudahlah terima nasib saja. Toh kita tidak sendirian mengalaminya kan? ;))

Jadi sewaktu-waktu kalau nanti kita eksodus ke negara yang kemacetannya tidak separah Jakarta kita sudah terbiasa. Misalnya pun ternyata ada macet-macetnya sedikit kita bisa komentar : “Ah, dulu saya pernah mengalami yang lebih macet dari ini kok?” | “Oh ya, dimana?” | “di Jakarta..” 😀

Baiklah, seperti lemparan sandal, aqua galon, dan keplakan mesra sudah mampir ke jidat saya ;)). Ya namanya juga mencoba menghibur diri dengan mencoba berpikir positif biar hati dan pikiran lebih rileks kan tidak ada salahnya tho? 😀

Jadi gimana, masih minat tinggal di Jakarta?  :-”
Pindah aja yuk.. :>

[devieriana]

Continue Reading