Limitless Love

happy-mom-daughter

My mother was the most beautiful woman I ever saw. All I am I owe to my mother. I attribute my success in life to the moral, intellectual and physical education I received from her.
– George Washington –

Ibu adalah sosok yang rasanya tak akan pernah habis untuk diceritakan. Sosok istimewa yang sudah jatuh cinta kepada anak-anaknya bahkan sebelum mereka terlahir ke dunia. Jadi wajar kalau akhirnya Ibu menjadi sosok inspiratif bagi semua orang. Saya pun punya pemikiran yang sama; bagi saya Mama adalah sosok yang banyak memberikan saya inspirasi.

Sejak menikah, Mama memilih untuk menjadi ibu rumah tangga. Padahal dulu Mama juga bekerja dan punya kesempatan berkarir yang cukup bagus. Namun demi keluarga yang baru dibangunnya, Mama memilih untuk menjalani karir sebagi ibu rumah tangga yang jam kerjanya 24 jam sehari, 7 hari seminggu, dan itu sepanjang tahun.

Mama adalah pribadi dengan kombinasi yang unik. Sosok ibu yang cerewet, tegas, disiplin, keras kepala, dan absurd. Namun di luar itu semua Mama adalah sosok yang penyayang, berhati lembut, konsisten, dan luwes bergaul dengan siapa saja. Bukan itu saja, saking dekatnya beliau dengan kami bertiga, Mama sampai hafal satu per satu sahabat kami lengkap dengan cerita mereka. Si A rumahnya di mana, Si B pacaran sama siapa, Si C silsilah keluarganya bagaimana, Si D sekolah/kerja di mana, dan seterusnya.

Bukan hanya itu saja, kami (terutama adik saya yang bungsu) sering menjadikan rumah sebagai tempat nongkrong, Mama pun aktif mengajak ngobrol mereka. Bagi kami, Mama bukan hanya seorang ibu, tapi juga sahabat untuk anak-anaknya. Kami bisa cerita tentang apapun, karena Mama adalah pendengar yang baik untuk setiap cerita yang kami ceritakan. Mama adalah sosok yang istimewa. Seistimewa masakan-masakannya yang racikan, takaran, dan rasanya selalu pas!

Orang tua kami kebetulan adalah pasangan yang kompak dalam membesarkan kami. Mereka bukan hanya memberikan kami hal-hal yang manis saja, tapi juga ‘pahit-pahitnya’. Kalau soal dijewer, dimarahi, dihukum, itu sih biasa. Toh imbangannya kami juga sering mendapatkan hadiah dan kebahagiaan dalam bentuk lainnya. Semua diberikan dalam ‘dosis’ yang pas dan seimbang.

Lewat Mama, saya belajar prinsip-prinsip kehidupan; baik sebagai pribadi maupun sebagai individu dalam lingkup sosial. Ada salah satu nasihat yang paling saya ingat dari Mama, “ajining diri dumunung ana ing lathi, ajining raga ana ing busana”, artinya: manusia itu dihargai dari ucapan/kata-kata dan penampilannya, karena penampilan adalah salah satu cerminan kepribadian. Masih menurut Mama, seorang Ibu harus mampu mendidik anak-anaknya lewat perilaku. Anak akan dididik oleh ibunya bukan secara lisan semata, tapi juga pada perilaku dan kesehariannya.

Kini, saya adalah ibu dari bayi mungil bernama Alea yang berusia 6,5 bulan. Menjadi seorang ibu sama seperti diberi kesempatan untuk merasakan keajaiban dalam hidup. Mata saya jadi lebih terbuka. Ternyata menjadi seorang isteri yang sekaligus ibu bekerja ternyata bukan perkara mudah. Setelah cuti selama 2 bulan pasca melahirkan, saya kelimpungan mencari pengasuh bagi Alea.

Bukan hal mudah mencari pengasuh bayi di zaman sekarang, apalagi menyerahkan begitu saja pengasuhan bayi kepada seorang yang belum saya kenal sebelumnya. Hingga akhirnya Mama menawarkan diri untuk membantu menjaga dan mengasuh Alea selama saya bekerja. Tentu saja tawaran ini saya terima dengan suka cita karena dulu saya pernah ‘bercita-cita’ kelak suatu hari kalau saya sudah punya anak, saya ingin Mama saya yang menjaga anak saya 😀 .

Keputusan ini sedikit dilematis memang, karena dengan Mama sementara tinggal bersama saya di Jakarta, berarti akan meninggalkan Papa di Surabaya. Walaupun masih ada adik bungsu saya yang tinggal sekota dengan Papa tapi tetap saja muncul segumpal rasa berat. Tapi untunglah Papa sangat pengertian. Beliau ‘merelakan’ Mama menjaga Alea daripada Alea diasuh oleh orang yang belum tentu bisa menjaga Alea dengan benar. Tentu saja kami akan beberapa kali ke Surabaya untuk pulang ke Papa.

Sampai sebegitunya ya pengorbanan orang tua. Bukan hanya berhenti sampai ke anak, tapi sampai ke cucu. Their love and affection are limitless!

Buat saya Mama adalah guru pertama saya dalam hal pengasuhan anak. Seringkali saya menemukan insight tentang parenting dari beliau. Memang beliau bukan sosok ibu yang sempurna. Sebagai manusia, saat menjalani berbagai perannya, Mama tentu punya kelebihan dan kekurangan. Tapi yang jelas, ketika saya officially menjadi orang tua, orang pertama sekaligus tempat saya berguru tentang parenting ya Mama saya sendiri. Ya, kalau misalnya ada perbedaan cara mengasuh di sana sini ya wajarlah, namanya beda zaman, beda generasi, beda up date informasi. Jadi, adjustment itu pasti diperlukan. Tapi alhamdulillah sejauh ini masih discussable.

Ada satu nasihat sekaligus doa bagi kami, anak-anaknya, “semoga kelak ketika kalian sudah menjadi orang tua, kalian bisa mendidik anak-anak kalian menjadi anak-anak yang sesuai dengan zamannya, humanis, rasional, dan bahagia.”

Pamela Druckerman menulis dalam bukunya yang berjudul Bringing Up Bebe :

” to be a different kind of parent, you do not just need a different parenting philosophy. You need a very different view of what a child actually is. “

Btw, you did it, Ma! 🙂
[devieriana]

 

___

sumber ilustrasi diambil dari sini

Tulisan ini disertakan dalam kegiatan Nulis Bareng Ibu. Tulisan lainnya dapat diakses di website http://nulisbarengibu.com

Continue Reading

Happy 6 Months Old, Baby!

----Hari ini, Sabtu, 17 Januari 2015, Alea genap berusia 6 bulan. Tak terasa dia sudah berusia 6 bulan. Padahal sepertinya baru kemarin saya menggendongnya keluar dari rumah sakit, sekarang dia sudah bisa berguling sana-sini, ngoceh babibubabibu, ‘berkomunikasi’ ala bayi, bahkan dia sekarang sudah bisa ‘menyatakan’ maunya apa melalui kode-kode dan bahasa tubuh.

Dia sedang tumbuh sebagai balita yang lucu dan menggemaskan. Iya, lagi dalam masa anak yang paling dikangenin. Ada satu hal yang… mmmh… entahlah, apakah itu copy paste dari emaknya atau bukan. Dia paling suka diajak jalan-jalan. Buat dia, kalau dia sudah dipakaikan topi itu tandanya dia akan diajak jalan-jalan, sekalipun itu cuma keluar ke ibu warung di ujung gang. Apalagi kalau sudah buka pagar; senangnya bukan main. Dia akan melonjak-lonjak dalam gendongan. Atau kalau sedang di atas stroller kaki dan tangannya akan bergerak bersama-sama. Kegirangan.

Kalau tidur dia paling anti diselimutin. Mau pakai selimut tipis atau tebal pasti akan ditendang-tendang, kecuali dia diselimuti sudah dalam keadaan tidur pulas 😀 . Entahlah, mungkin ‘trend’ bayi sekarang seperti ini, ya? Karena seperti sepupunya (anak adik saya) pun demikian. Ketika diajak oleh adik saya berlibur di daerah pegunungan, adik saya dan isterinya pakai jaket tebal, pakai kaos kaki, tidurnya pun pakai selimut, eh balita mereka yang usianya terpaut 3 bulan dengan Alea malah tidur dengan setelan yukensi dan stoking celana panjang. Beuh, sepertinya Alea juga begitu.

Dua minggu yang lalu dia sempat pilek, tapi alhamdulillah, dia sembuh dengan sendirinya. Ngomong-ngomong tentang ASI, saya bersyukur bisa memberi Alea ASI hingga saat ini. Padahal dulu sampai stress sendiri lantaran ketika diperah, ASI hanya keluar sedikit sekali, cuma basahin pantat botol 😥 . Belum pakai acara demam dan luka segala. Tapi syukurlah masa itu sudah berlalu. Sekarang alhamdulillah soal per-ASI-an lancar (walaupun kadang harus kejar tayang). Pokoknya kalau soal ASI banyak suka dukanya.

Oh ya, sekarang dia sudah boleh makan makanan pendamping ASI. Sebenarnya sudah mulai ‘di-training‘ sejak 1 minggu yang lalu. Setiap pukul 10 pagi dia makan pisang yang dikerik lembut, dan makan bubur bayi rasa manis/gurih setiap pukul 3 sore, selebihnya dia tetap mengkonsumsi ASI. Sejauh ini alhamdulillah dia tidak rewel ketika disuapi. Malah sepertinya saat makan dan minum vitamin (di mana itu adalah saat dia merasakan rasa lain selain ASI) menjadi saat yang menyenangkan buat dia. Semoga dia makannya tambah banyak, dan nggak suka pilih-pilih makanan, biar kaya mamanya, ihihihik…

Selamat 6 bulan ya balitaku. Semoga selalu sehat, tumbuh kembang sempurna, makin pinter, dan jadi kebanggaan keluarga. Doa kami selalu menyertaimu. Mwach!
Love you, Alea…

 

[devieriana]

Continue Reading

Happy Holiday!

Museum Angkut 2

Hai, apa kabar kalian? Bagaimana suasana pergantian tahun di tempat kalian? Saya, seperti biasa, seperti tahun-tahun sebelumnya menghabiskan suasana pergantian tahun di tempat tidur. Apa lagi kalau bukan tidur 😆 . Mau belum ada bayi atau sudah ada bayi pun sama saja. Bedanya, tahun ini saya melewatkan pergantian tahun di Jawa Timur, di rumah orang tua saya, sambil ngeloni bayi yang tidurnya kurang begitu tenang ketika pergantian hari karena di luar sana bunyi mercon dan kembang api sahut menyahut sampai kurang lebih pukul 01.00 wib.

Oh ya, ini adalah pertama kalinya saya beserta keluarga mudik ke Jawa Timur, bersama Alea tentu saja. Sebelum berangkat kami sempatkan untuk memenuhi jadwal kontrol Alea ke dokter sekalian konsultasi tentang semua hal yang harus dilakukan ketika terbang bersama bayi. Karena membawa bayi saat bepergian menggunakan pesawat terbang itu sedikit lebih ribet dibanding mengajak anak yang usianya di atas satu tahun. Kata dokternya Alea saat memberikan penjelasan pada kami, pada saat mengangkasa, biasanya udara di dalam kabin cenderung tidak stabil. Udara panas atau dingin dapat berubah cukup cepat. Itulah sebabnya bayi harus mendapat perhatian lebih, karena tidak semua bayi mampu beradaptasi dengan berbagai keadaan di angkasa. Kalau dilihat dari usia dan kondisi kesehatan Alea insyaallah Alea aman diajak bepergian naik pesawat.

AleaSebenarnya mau pergi naik pesawat yang jam berapapun sih aman-aman saja untuk bayi. Oleh dokter kami disarankan untuk mudahnya dan biar nggak ribet, pilih saja jam penerbangan yang merupakan jam tidurnya bayi. Tapi mau terbang di jam berapapun sih sebenarnya nggak ada masalah kok. Intinya bayi harus dalam keadaan sehat, tidak sedang flu, dan ketika take off dan landing bayi harus disusuin (dalam keadaan mengunyah).

Awalnya sih agak mikir juga, kalau jam tidur yang panjang ya malam hari atau pagi-pagi buta. Agak kasihan juga kalau harus membangunkan Alea di pagi buta untuk berangkat ke bandara. Tapi bismillah sajalah, semoga segalanya dimudahkan. Eh, ndilalahnya kami dapat penerbangan paling pagi, jam 05.00 dengan menggunakan Lion Air. Kami mulai bersiap pukul 02.30 dini hari, dan mulai membangunkan Alea pukul 03.00. Untungnya dia nggak rewel, bahkan jam segitu dia langsung bangun, ngoceh-ngoceh, ketawa, gegulingan, ceria sekali, seolah tahu kalau mau diajak pergi. Dia juga tidak rewel selama perjalanan menuju bandara, walaupun cenderung diam. Entah diam melihat pemandangan yang masih gelap gulita, atau sebenarnya dia masih ngantuk 😀

Sesampainya di bandara suami langsung mengurus segala sesuatunya termasuk konfirmasi ke petugas bandara/maskapai bahwa kami membawa bayi, karena ada formulir khusus yang harus diisi. Entahlah missed-nya di mana/siapa, hingga kami di atas pesawat pun tidak ada formulir yang kami isi, padahal hampir di setiap gate kami lapor ke petugas, bahkan sampai di ruang tunggu pun kami konfirmasi kalau kami bawa bayi. Agak heran juga. Apakah memang cukup dengan lapor secara lisan aja atau seharusnya ada formulir yang harus kami isi?

Ketika kami sudah duduk di seat kami, barulah ada pramugari dan petugas yang ‘ngeh’ kalau kami membawa bayi. Duh! Lha tadi ke mana saja? Tidak adakah koordinasi dari petugas maskapai di bandara dengan yang on board? Pramugari yang sama menanyakan pada saya berapa usia bayi sebanyak 2x. Kalau mbak itu jadi petugas callcentre bisa saya kasih nilai nol di poin “mendengarkan dengan sungguh-sungguh” lho :-p. Barulah setelah itu ada petugas yang meminta saya untuk mengisi form. Owalah, Mas, Mas. Tadi ke mana saja?

Alhamdulillah Alea tidak rewel sama sekali, selama penerbangan dia tidur dengan pulas dan baru bangun ketika sudah landing di Juanda. Kok ngerti ya kalau sudah sampai tempat tujuan, ya? :mrgreen: . Pun ketika dalam perjalanan dari Juanda menuju ke rumah, dia juga tidur dan langsung bangun ketika sudah masuk komplek rumah 😆 . Padahal dia kan baru pertama kali ke rumah eyangnya, kok bisa bangun pas sudah dekat rumah ya? 😆

Museum Angkut 1Selama liburan kami menghabiskan waktu dengan berkumpul bersama seluruh keluarga, sekalian jalan-jalan ke Malang. Ah, ya… kami juga menyempatkan ke Museum Angkut. Iya, itu satu-satunya tempat yang sempat kami kunjungi selama di Malang. Itu juga sampai di sana sudah sore karena kami harus mengantarkan adik yang pulang duluan ke Jakarta lantaran dia sebenarnya belum dapat cuti. Maklum pegawai baru 😀

Ah ya, secara keseluruhan Museum Angkut itu keren, karena menyajikan banyak sekali objek foto yang instagramable, dan spot foto yang lucu buat ajang narsis-narsisan. Tapi sayang, jiwa narsis saya sudah mulai punah. Sudah nggak pede lagi berfoto dengan badan yang menggendut dan pipi chubby seperti sekarang 😆 .

Oh ya, hampir saja saya lupa. Akhirnya saya bisa merasakan makan Bebek Sinjay yang tersohor asal Bangkalan itu! Awalnya sih beneran mau ke Bangkalan Madura sana Tapi pas kita lihat di Jln. Jemursari , Surabaya (depan taman Pelangi) kok ternyata juga ada cabang, tanpa pikir panjang kita pun langsung capcus nongkrong di depot yang pengunjungnya ramai, sampai antre-antre. Soal rasa, jangan ditanya. Enaknya pakai banget! Apalagi dimakan pas nasinya anget, bebeknya juga empuk, kremesannya juga gurih, plus ditambah pakai sambal pencit (mangga muda). Beuh… *lap iler*

bebek sinjaySo far liburan kali ini alhamdulillah lancar, dan menyenangkan. Sengaja kami pilih pulang di hari Sabtu, 3 Januari 2015, supaya hari Minggunya kami bisa istirahat. Kebetulan kali ini kami naik Garuda, penerbangan pukul 06.15 wib. Isi kabin pesawat kebanyakan anak-anak yang sepertinya akan pulang selepas libur panjang. Sengaja kami pilih penerbangan pagi biar Alea bisa bobo selama di perjalanan. Dan ternyata kami tidak salah pilih jadwal, karena Alea tidur pulas dalam gendongan sejak di ruang tunggu bandara sampai dengan di Soekarno-Hatta. Anak pintar! :-*

Hmm, sepertinya mulai siap untuk merencanakan liburan berikutnya. Hei, Bromo apa kabar, ya? Masih belum sempat ke sana padahal sudah direncanakan berkali-kali. Entahlah, mungkin kami memang belum berjodoh.

Bagaimana dengan liburan kalian di akhir tahun kemarin? Semoga juga sama menyenangkannya ya 🙂

 

[devieriana]

Continue Reading

A Self Reminder: Allah Sang Mahasutradara

-----

“Sesuatu yang kita anggap baik belum tentu baik di depan Allah, begitu pula sebaliknya, sesuatu yang kita anggap buruk belum tentu buruk di depan-Nya. Dialah Sang Mahatahu akan segala sesuatu…”

—–

Buat saya, hidup itu seperti layaknya sebuah film. Kita adalah aktor-aktor yang sedang menjalani sebuah script atau skenario, sedangkan Tuhan adalah sutradaranya. Film (kehidupan) saya dan film (kehidupan) kamu, pasti berbeda. Tapi, meski berbeda bukan berarti kita tidak pernah ada dalam satu frame yang sama. Mungkin saja kita yang berada di belahan bumi yang berbeda dipertemukan oleh-Nya untuk menjalani sebuah skenario; misalnya saling bertemu, mengerjakan sesuatu bersama, atau cuma sekadar saling sapa satu sama lain. Tapi sebaliknya mungkin saja kita yang duduk bersebelahan justru tidak saling mengenal satu sama lain karena kita lalu pergi begitu saja tanpa ada percakapan/perkenalan sama sekali. Bisa saja, kan? 🙂

Sesekali dalam hidup, kita pasti akan tertawa. Dan sebagai penyeimbang, kita pun pasti pernah menangis. Walau demikian hidup harus tetap berlanjut, kan? Dalam skenario itu mungkin kita harus beradegan berlari, terjatuh, berjalan, merangkak, bahagia, terluka, menangis dan tertawa, begitu seterusnya untuk menggenapkan skenario yang sudah ditulis oleh-Nya.

Saya adalah salah satu yang telah menjalani sebagian skenario-Nya. Hidup saya tidak selalu bahagia, tapi juga tidak selalu sedih. Namun apapun itu saya syukuri tiap sesi dalam hidup saya, karena saya yakin bahwa Allah punya rencana mahaindah yang tidak saya ketahui. Saya juga yakin dengan janji Allah, bahwa Dia tidak akan memberikan suatu cobaan di luar batas kemampuan umat-Nya. Dan, Dia menepatinya. Saya adalah salah satu ‘korban’ ketakjuban betapa indah skenario yang telah dibuat Allah bagi hamba-hamba-Nya.

Sebagai manusia yang punya banyak sekali kekurangan, saya juga sering melakukan perbuatan dosa, baik sengaja atau tidak. Dan selama itu pula Allah masih bersabar melihat tingkah laku saya. Hingga akhirnya Allah menegur saya dengan sebuah kejadian yang menjadi sebuah turning point dalam hidup saya. Kejadian yang sempat membolak-balikkan hati saya, menjungkirbalikkan nalar saya, me-roller-coaster-kan hidup saya. Di titik itulah saya sadar bahwa Allah sedang menegur saya dengan cara yang radikal; sekaligus menyapa saya dengan lembut.

“Kalau sudah begini, kamu mau minta tolong sama siapa? Manusia?”

Tuhan memberi apa yang kita butuhkan, bukan apa yang kita inginkan. Sejak itulah kehidupan spiritual saya berubah 180 derajat, karena sejatinya dengan dekat dengan-Nya-lah hidup saya jauh lebih tenang. There’s a blessing in every disguise. Saya yang dulu sering meninggalkan shalat, saya yang jarang bersedekah, saya yang jarang mengingat Allah, saya yang pecicilan sana-sini, pelan-pelan berubah. Saya luruh dalam tangis memohon ampun hampir di setiap sujud di sepertiga malam. Padahal sebelumnya, jangankan untuk tahajud, menggenapkan shalat 5 waktu saja rasanya enggan. Shalat hanya saya lakukan ketika ingin, ketika sempat, ketika ada maunya. Ya, saya pernah berada dalam fase sejahiliyah itu. Keimanan saya masih sangat tipis di usia saya yang sudah lebih-lebih dari seperempat abad ini 🙁

Seringkali kita menyebut sebuah kejadian itu cuma sebuah kebetulan, padahal tidak ada yang kebetulan di dunia ini. Kalau (iseng) kita tengok lagi ke belakang tentang film kehidupan kita, pasti ada episode di mana kita mengalami adegan-adegan layaknya sebuah kebetulan, padahal semuanya adalah hasil campur tangan Allah.

Ya Allah, terima kasih untuk semua reminder-Mu. Terima kasih untuk semua peristiwa yang terjadi dalam hidup saya. Apapun itu. Terima kasih karena masih berkenan mengingatkan hamba-Mu yang suka bertingkah semau-maunya ini.

Terima kasih, karena masih Engkau izinkan kami untuk meneruskan film kehidupan kami di planet bumi yang merupakan panggung termegah kami ini…

 

 

[devieriana]

sumber ilustrasi: clipartbest.com

Continue Reading

“I’m not always right, but i’m never wrong”

i am always right
Anyway, saya suka sekali memperhatikan karakter dan sifat/sikap orang lain, karena dari situ kadang saya bisa belajar tentang karakter manusia :D.

Dari sekian banyak teman yang saya kenal, saya memang dekat dengan salah seorang kakak tingkat saya waktu kuliah dulu. Sebut saja Kak Anggrek (karena penggunaan nama ‘Bunga’ sudah terlalu mainstream). Kebetulan dia dari fakultas dan jurusan yang berbeda. Saya mengenalnya sebagai sosok yang sederhana namun wawasannya sangat luas, sehingga ketika diajak diskusi apapun enak-enak saja. Dia juga sangat luwes dalam menilai sesuatu, tidak judgemental, menilai sesuatu dari 2 sudut pandang. Kebetulan dia juga seorang pengajar di salah satu universitas. Sepertinya kalau jadi, tahun depan dia juga akan ambil post doctoral di US atau negara lainnya. Tapi di balik semua kelebihan yang dia miliki itu dia adalah seorang yang sangat rendah hati; tidak menunjukkan siapa dia atau apa yang dia punya.

Sebaliknya, ada seorang teman yang lain yang berkebalikan dengan teman yang tadi. Sebut saja Kak Raflesia Arnoldi :mrgreen: . Di socmed, sering kali dia mengunggah quotation-quotation buatannya yang kebanyakan berisi tentang hidup, “how life should be” kepada yang lain. Menganggap socmed adalah sekolahan, dia adalah guru, sedangkan follower adalah murid-muridnya. Tak heran kalau status-status yang dibuatnya banyak menggunakan kalimat-kalimat yang terkesan menggurui lainnya.

Uniknya, dia bisa dengan ‘bangga’ mengkritik/mem-bully seseorang di social media (sebut saja Path, yang bisa tagging nama seseorang), atau siapapun yang tidak setuju dengan pemikirannya. Pernah juga dia memarahi salah satu follower-nya di Path. Kok rasanya kurang etis ya? Kalau memang dia membuat salah, kenapa tidak diselesaikan saja di media yang lebih privat? Kenapa harus diumbar di socmed? Apa sih tujuan sebenarnya dengan mengumbar kesalahan orang lain di ranah publik? Supaya yang satu terlihat salah dan lainnya terlihat benar, begitu? Namun sebaliknya ketika kalimat-kalimatnya, pemikiran-pemikirannya, asumsi-asumsinya itu ada yang mengkritisi, serta merta dia langsung menunjukkan ketidaksukaannya. Kalau sampai ada orang lain yang dia anggap menyaingi/menandingi dirinya, dia akan berusaha untuk membela diri, berperilaku layaknya orang yang tahu segalanya, padahal tujuan utamanya cuma satu. Menjaga harga diri. Hal itu selalu akan dilakukan secara spontan ketika dia diposisikan lebih rendah atau ketika dia diperlakukan kurang sesuai dengan apa yang dia mau. Baginya, apa yang dia katakan itu sudah yang paling benar, jadi jangan dibantah. Semacam sabda pandita ratu (?). Kalau sampai ada yang membantah/menyanggah, itu sama saja cari masalah. Bisa-bisa seharian dia ‘menyampah’ di akun socmednya dengan menyindir orang yang ‘berani’ menyanggah opininya. Eh, saya pernah lho sengaja mengkritisi dia dan berakhir dengan bbm yang panjang kali lebar kali tinggi, plus dibikinkan status sindiran di Path 😆 . Padahal sayanya biasa saja, lha wong memang niatnya cuma pengen ngisengin Kak Raflesia ini saja kok :mrgreen:

Entahlah, sepertinya kok masih jarang ya ada orang yang rela ‘menyembunyikan’ kemampuannya demi menghormati orang lain. Kalaupun ada, dia pasti adalah orang yang sudah ada di level sadar, bahwa apa yang dimilikinya itu cuma sebagian kecil kemampuan yang dianugerahkan oleh Tuhan kepadanya; dan percaya bahwa ada banyak orang yang jauh lebih mampu, lebih pandai, lebih mumpuni ketimbang dirinya. Jadi, pikirnya, kalau cuma sekadar untuk show off ya buat apa? Bukankah akan lebih baik jika kemampuan yang dimiliki itu diajarkan saja tanpa perlu dipamerkan/diperlihatkan ke banyak orang, ya? Walaupun agak susah juga sih kadang, karena batas antara niat tulus berbagi ilmu dan pamer kemampuan itu terlalu tipis. Tapi ya semuanya terpulang pada niat masing-masing sih.

Kemampuan terhadap penguasaan satu ilmu dengan ilmu lainnya pasti berbeda-beda. Kalau misalnya ada satu orang yang lebih mumpuni dibandingkan orang lainnya ya wajar. Jadi jangan menuntut level penguasaan yang sama terhadap sesuatu, karena sebenarnya ada hal yang jauh lebih penting untuk dicermati, yaitu ketika kita berani mengaplikasikan ilmu yang kita miliki itu untuk memberi manfaat bagi orang di sekitar kita, jadi bukan sekadar retorika semata. Kalau sudah sanggup mengaplikasikan keilmuan tersebut, nah… silakan membagikan ilmu yang dimiliki itu kepada orang lain dengan sepenuh hati.

IMHO. No matter what skills you have, but what is more important is how you enable others

Mungkin apa yang saya tulis ini cuma masalah perspektif, cara pandang. Bisa saja apa yang saya pikirkan ini berbeda dengan apa yang kalian pikirkan. Wajar, lha wong memang isi kepala kita juga beda. Tapi sebenarnya saya cuma ingin curhat, bahwa…

orang-orang yang seperti Kak Raflesia Arnoldi ini sejatinya ada… 😐
I’m not always right, but i’m never wrong. Paradoks.

[devieriana]

picture source here

Continue Reading