Peringatan Hari Korpri

 

 

 

upacara Hari Korpri ke-43

 

Pagi itu saya datang tergopoh-gopoh sampai di kantor pukul 06.50. Buru-buru saya absen handkey dan segera menuju ke lantai 2 tempat saya bekerja. Di ruangan sudah sepi, hanya tinggal saya dan Pak OB.

“Pak, yang lain mana? Udah ke Monas semua?”

“Udah dari tadi kali…”

“Haduh! Beneran ditinggal nih… 🙁 “

Saya pun buru-buru turun. Untungnya di bawah masih ada teman-teman yang baru tiba di kantor. Pffiuh, alhamdulillah ternyata saya tidak sendirian. Hampir seluruh ruangan sudah sepi karena semua sudah berjalan menuju sayap selatan silang Monas sejak pukul 06.30 padahal upacaranya sendiri baru akan dimulai pukul 08.00. Alhamdulillah masih ada bus kantor yang siap mengantar kami menuju Monas.

Ketika kami tiba di Monas, di sana sudah penuh dengan PNS berbaju Korpri. Peringatan HUT Korpri tahun sedikit ‘istimewa’ karena dipimpin langsung oleh Presiden RI. Kalau tahun-tahun sebelumnya sih selalu upacara di kantor masing-masing. Bahkan di 2 atau 3 tahun yang lalu di kantor kami sempat mengadakan perhelatan kecil-kecilan yang dihadiri oleh seluruh pegawai beserta keluarga, plus pengundian door prize. Sayangnya saya nggak pernah dapet 😐

Di Monas sudah berbaur semua PNS dari segala kementerian, utamanya yang berkantor di sekitaran Monas. Sebagian dari kami yang ‘tercecer’ seperti beras ini bagai ayam yang kehilangan induknya. Entah di peleton sebelah mana teman-teman kantor kami berbaris, katanya sih dekat baliho di depan Monas. Lah, kami juga sudah di dekat Monas. Tapi ya sudahlah, yang penting sudah berada di lokasi, daripada kena sidak di kantor. Soal mau berbaris di mana, terserah sajalah (yang sudah pasti sih di barisan belakang).

Kurang lebih pukul 08.00 upacara dimulai. Entahlah, mungkin saya membandingkan dengan ketika upacara di kantor yang sedikit lebih rapi dibandingkan di Monas, yang entah di barisan kementerian manalah ini kami berbaris. Pokoknya agak ruwetlah. Seruwet hatiku saat itu. Halah! 😆 . Ya bisa dimaklumi sih, karena kan yang ikut upacara ribuan (ribuan nggak, ya? iya kali ya, wong saya juga nggak ngitung), sedangkan kalau di kantor kan peserta upacaranya nggak sampai ribuan. Tapi seharusnya kalau acara besar seperti ini setidaknya ada yang mengarahkanlah, kementerian apa baris di mana, gitu. Biar tertib sedikit dilihatnya. Di barisan belakang posisinya sudah seperti posisi nonton konser, berdiri tanpa lajur, tanpa banjar, bahkan ada yang duduk-duduk di dekat tangga Monas :mrgreen:

Dalam acara itu Presiden tidak memberikan amanat yang panjang, dan langsung ke pokok yang ingin disampaikan. Upacara HUT Ke-43 Korpri yang berlangsung di Monas itu bertajuk “Pencanangan Gerakan Nasional Revolusi Mental Aparatur Sipil Negara”. Dalam kesempatan itu Presiden berpesan agar segenap jajaran Korpri memberikan pelayanan birokrasi yang makin cepat, akurat, dan makin baik. Terus menjaga kode etik profesi, mempedomani sumpah jabatan, dan memegang teguh komitmen Panca Prasetya Korpri. Tapi sebenarnya inti dari upacara ini yaitu pernyataan Presiden yang meminta seluruh anggota Korpri untuk meninggalkan mental priyayi atau penguasa. “Jadilah Korpri yang mengabdi dengan sepenuh hati untuk kejayaan dan kesejahteraan rakyat Indonesia.”

Secara keseluruhan acara berlangsung lancar, walaupun (jujur) agak ribet. Dan entah kenapa kalimat-kalimat yang meluncur dari koordinator upacara (?) dari Pemprov DKI membuat kami bengong, dan lalu tertawa sendiri. Banyak aba-aba yang kurang formal yang digunakan di acara sebesar dan seformal itu. Seperti ketika tiba-tiba saja kami harus balik kanan (menghadap ke Monas) tanpa dijelaskan maksudnya apa. Baru ketika kami mulai gaduh bertanya-tanya, baru dijelaskan bahwa akan ada rombongan marching band IPDN yang akan tampil. Owalah, Pak… 😆 . Mungkin karena selama ini kami (atau mungkin cuma saya) terbiasa dengan format acara yang tertata rapi dan dengan penggunaan diksi yang sedemikian rupa. Tapi positif thinking sajalah, mungkin di setiap kementerian beda ‘adat’ dan tata cara penyelenggaraan acara.

Anyway, Selamat Hari Korpri yang ke-43 bagi seluruh ‘Korpri-ers’ di seluruh Indonesia 😀

[devieriana]

gambar dipinjam dari Pak Andri (teman kantor saya)

Continue Reading

Solusi dalam Genggaman

*lap-lap blog biar bebas dari sarang laba-laba*

 

Maklum, berhubung sekarang ada kesibukan baru; mengurus Alea yang lagi lucu-lucunya itu ternyata membuat blog ini bukan lagi menjadi satu-satunya hiburan buat saya, hihihihi. Kalau dulu sih iya. Bahkan kalau sedang banyak ide saya bisa posting sehari 2x. iya, mirip seperti minum obat. Jadi harap maklum kalau postingan blog ini tidak sesering dulu karena tenaga, pikiran dan prioritasnya sudah mulai bergeser ke Si Kecil.

Saya lagi punya hobby baru, mendandani Si Kecil itu dengan berbagai baju dan pernak-pernik bayi perempuan yang lucu-lucu. Nggak semuanya saya beli secara langsung di toko sih, kebanyakan justru saya beli via online shop. Sekarang kan zaman serba-online, tinggal search di Instagram atau buka situs di internet saja belanja bisa dengan mudah kita lakukan. Nah, saya itu kalau sudah ketemu pernak-pernik lucu buat bayi suka agak kalap gitu. Baru beli topi, eh besok ketemu jaket bayi, saya beli jaket bayi. Besoknya ketemu lagi rok/jumper lucu, saya beli juga. Tahu-tahu, lho… saldo tabungan kok jadi segini? Maklum, ibu baru. Baru on the job training, jadi apa-apa masih suka kalap ;))

Eh tapi iya lho, sekarang saya lagi suka banget belanja online, padahal dulunya saya anti belanja online karena ya menurut saya meragukan aja sih. Kan kita nggak lihat dan pegang langsung barangnya, cuma bermodal foto dan deskripsi produk saja; kalau tertarik ya silakan pesan, kalau nggak ya tinggal skip. Kalau saya, dengan modal bismillah saja sih sekarang.

Alhamdulillah selama ini sih nggak pernah ada masalah soal jual beli via online. Pilihan cara pembayarannya pun fleksibel, bisa bayar langsung ketika barang diterima atau yang lebih sering disebut Cash On Delivery (COD), atau bisa juga secara transfer. Nah, kalau saya lebih sering menggunakan fasilitas transfer via ATM atau mobile banking daripada COD, karena menurut saya sih lebih praktis.

Pernah juga sih pakai fasilitas COD tapi waktu itu saya lebih sering menggunakan alamat kantor sebagai alamat penerimaan barang karena di rumah tidak ada orang, alhasil delivatornya suka telisipan sama saya. Dianya sampai di kantor tapi sayanya pas keluar kantor atau bahkan pernah saya sudah pulang.

Ngomong-ngomong soal mobile banking, eh beneran lho, mobile banking atau sms banking atau aplikasi perbankan yang bisa diakses dengan mudah melalui HP itu memang ‘racun’ buat saya. Karena saking mudahnya bertransaksi, saya tinggal masuk ke aplikasi, tekan permintaan yang dibutuhkan… TARAAAAA! Transaksi pun berjalan dalam hitungan detik, dan dalam sehari dua hari barang sudah saya terima. Dan setelah itu… tinggal cek saldo. Hppffft! 😐

transfer via BCA mobile

Jadi ingat, dulu saya pernah bekerja di salah satu perusahaan telekomunikasi. Di rentang tahun 2004-2006 layanan m-banking masih belum se-booming sekarang. Mengapa bank bekerja sama dengan operator telekomunikasi?

Ya karena operator telekomunikasi memiliki basis pelanggan yang besar dengan jangkauan luas sehingga mampu menjangkau kalangan yang belum bankable supaya ikut mulai menggunakan layanan perbankan via mobile. Waktu itu bank yang sudah bekerja sama dengan operator telekomunikasi tempat saya bekerja yaitu Bank BCA.

Masih saya ingat m-banking BCA saat itu masih merupakan layanan single banking, di mana kartunya pun dibuat secara khusus yaitu kartu yang dilengkapi dengan fitur layanan Bank BCA. Jadi untuk nasabah Bank BCA yang ingin menggunakan layanan ini bisa langsung menukarkan kartu selulernya di pusat layanan pelanggan operator telekomunikasi. Di call center pun setiap harinya, sejak layanan m-banking BCA diluncurkan, ratusan call dari pengguna layanan Bank BCA antre untuk meminta penjelasan cara penukaran kartu, fitur kartu, hingga tarif per transaksi.

Kalau sekarang BCA sudah jauh lebih fleksibel. Tinggal klik saja https://m.klikbca.com atau tinggal masuk ke Application Store smartphone kita di Google Play Store untuk Android, App Store untuk iPhone/iPad, BlackBerry World untuk BlackBerry , terus pilih/search Info BCA, dan… TARAAAA! Aplikasi itu tinggal diinstal. Atau mau cara lain? Tinggal ketik saja https://downloadmbank.klikbca.com/infobca , install dan seluruh layanan transaksi keuangan bisa kita akses dari handphone.

Dari semua itu yang paling penting buat saya yaitu semua sistemnya sudah pasti secure karena semuanya sudah terproteksi. Hmm, jadi ingat lagi pelajaran di pelatihan yang kemarin, bahwa atribut keamanan informasi itu ada 3, yaitu Confidentiality (menjaga informasi dari orang yang tidak berhak mengakses), Integrity (informasi tidak boleh diubah tanpa seizin pemilik informasi, keaslian pesan yang dikirim melalui sebuah jaringan dan dapat dipastikan bahwa informasi yang dikirim tidak dimodifikasi oleh orang yang tidak berhak dalam perjalanan informasi tersebut), dan Availability (ketersediaan informasi). Bukan hanya instansi pemerintah, militer, dan rumah sakit saja yang sudah menerapkan tiga hal itu, semua institusi perbankan juga sudah pasti mengutamakan tiga atribut tersebut.

Kalau soal teknologi perbankan sepertinya kita sudah tidak perlu heranlah ya, karena memang kita sudah masuk ke era less cash society, di mana preferensi penggunaan uang kertas (uang tunai) mulai tergantikan ke sistem pembayaran non-tunai. Masyarakat pun sekarang sepertinya lebih suka memanfatkan fasilitas e-money (uang elektronik) sebagai alat transaksi yang praktis. Bank BCA sebagai salah satu institusi penyedia layanan perbankan sudah lama menyediakan layanan perbankan bertajuk m-BCA yang mudah diakses di mana saja dan kapan saja. Saya sering melakukan transaksi keuangan tanpa saya harus beranjak dari tempat duduk saya, hihihik. Dasar pemalas! :mrgreen:

Ya misalnya kita sedang sibuk atau sedang tidak memungkinkan untuk bertransaksi di ATM/bank, kita tinggal masuk saja ke aplikasi m-BCA, di sana bisa kok melakukan pembayaran tagihan telepon seluler/listrik, isi pulsa, melakukan transfer antarbank, cek saldo tabungan, dan lain-lain tanpa kita perlu pergi ke ATM atau ke bank. Bahkan di saat kita butuh informasi lokasi ATM terdekat pun bisa dengan mudah kita dapatkan. Ibarat memiliki ATM dalam genggaman gitu.

tampilan mobile banking BCA

Waktunya belanja bulanan juga gitu, saya lebih suka membawa uang tunai secukupnya, selebihnya saya bertransaksi menggunakan kartu debet sebagai alat pembayaran di kasir. Pernah dengar kartu Flazz-nya BCA? Ya, itu saya juga pakai sebagai alat pembayaran. Sampai halnya untuk pembelian tiket bioskop pun saya juga lebih sering menggunakan e-money ketimbang tunai.

Bawa uang tunai itu sudah pasti, ya karena belum semua merchant menerima pembayaran dengan menggunakan e-money (misalnya di warung-warung, toko/merchant yang belum ada kerja sama dengan bank), tapi kalau untuk di merchant-merchant yang sudah ada kerja sama dengan bank, saya cenderung menggunakan alat bayar elektronik untuk praktisnya.

Jujur, saya bukan orang yang gampang tergiur promo, tapi suami sayalah yang paling ‘aware’ dengan promo-promo. Misalnya ada promo diskon pemasangan tv kabel, promo di tempat-tempat makan, atau merchant-merchant tertentu, biasanya itu yang selalu dia infokan. Tapi yang paling sering diperhatikan sih biasanya promo tempat makan… Ngomong-ngomong tempat makan, hiks… apa kabar diet? Kabar baik… *ngelap timbangan badan*

Harapan saya sih dengan adanya segala kemudahan yang disediakan oleh berbagai institusi layanan perbankan ini tidak malah menjadikan kita sebagai generasi yang konsumtif, tapi justru menjadikan kita sebagai generasi yang smart dan bijak dalam mengelola keuangan dengan memaksimalkan penggunaan fitur-fitur yang telah disediakan oleh penyedia layanan perbankan itu ya 😉

Aamiiinn…. 😀

Eh iya, kalau mau bagi-bagi ilmu nggak dosa kan, ya? Untuk info lebih lengkap tentang BCA bisa lihat-lihat di sini ya :mrgreen:

 

Memanfaatkan teknologi perbankan itu ternyata seru, ya?

Selamat hari Kamis, Temans! 😉

 

 

[devieriana]

Continue Reading

Alea and Newbie Mommy

alea

Menjadi seorang ibu tentu saja sebuah pengalaman baru bagi saya. Ada banyak sekali adjustment yang harus saya lakukan sejak hadirnya Alea. Bukan suatu hal yang mudah ketika saya harus menyesuaikan ritme hidup saya dengan ritme hidup si kecil. Contoh paling mudah adalah ketika Si Kecil pola tidurnya masih belum terpola dan ‘berantakan’, saya pun harus rela jam istirahat saya ikut menjadi kacau. Apalagi di awal-awal menyusui. Duh, jangan ditanya bagaimana derita saya waktu itu. Di tengah belum pulihnya kondisi badan saya pascaoperasi, saya juga mengalami stress karena sekujur badan bentol-bentol alergi antibiotik. Belum lagi puting yang mengelupas (para ibu pasti tahu rasanya); payudara yang sempat bengkak karena terlambat menyusukan ke bayi, hingga akhirnya saya demam meriang sekujur badan. Kepala pening karena pola tidur malam yang kacau. Stress karena ASI yang kurang lancar, dan masih banyak lagi contoh lainnya.

Namun seiring dengan waktu akhirnya fisik dan psikis saya mulai menyesuaikan diri. Bahkan sering kali saya merasa berdosa pada putri saya karena di awal-awal kehadirannya saya belum sepenuhnya mencurahkan perhatian saya padanya. Masih banyak ngeluhnya. Hingga akhirnya saya ditegur Mama karena pernah di suatu malam, ketika Alea menangis karena lapar, saya tidak sanggup bangun karena ngantuk berat. Entah sadar atau tidak saya bilang begini, “kan tadi udah mimik, Dek. Masa belum 2 jam udah mimik lagi? Mama ngantuk, Nak…” Walau akhirnya saya susui juga, tapi dengan mata setengah terpejam. Dengan lembut Mama menegur saya, mengingatkan, bahwa perasaan bayi itu sangat peka. Dia bisa merasakan apakah ibunya ikhlas/tidak ketika menyusui, apakah seseorang itu tulus menyayangi dia atau tidak, apakah seseorang itu tulus menerima kehadirannya atau tidak. Jangan sampai Alea merasa saya tidak ikhlas bangun untuk menyusuinya. Jujur, teguran itu menyadarkan saya dan terasa sangat MAKJLEB; membuat saya langsung bangun untuk menyusui Alea hingga kenyang dan tertidur pulas.

“Ya beginilah perjuangan menjadi seorang ibu (baru). Harus rela bangun malam untuk menyusui bayi, mengganti popoknya kalau dia pup, dan menenangkan dia kalau dia nangis/rewel. Bayi nangis kan bukan selalu karena haus, bisa saja karena dia ngantuk atau nggak nyaman. wis, tho… yang ikhlas. Bayi itu bisa merasakan apakah kita sayang atau enggak, tulus atau enggak. Syukuri setiap detikmu menjadi seorang ibu. Banyak orang di luar sana yang menunggu untuk menjadi seorang ibu, dan ketika sudah menjadi seorang ibu pun belum tentu semua bisa menyusui anaknya karena berbagai sebab. Dinikmati saja ya, Wuk…”

Hiks, iya Ma. Terima kasih sudah diingatkan. Alea, maafkan Mama ya, Nak 😥

Ketika saya menulis postingan ini Alea genap berusia 51 hari; hampir 2 bulan. Itu juga berarti semakin dekat pula cuti saya berakhir dan harus kembali ngantor. Agak berat sih, karena saya juga belum dapat pengasuh untuk Alea 🙁 . Nggak mungkin juga saya menggantungkan Alea ke ibu mertua. Beliau sudah sibuk mengurus ayah mertua yang sedang sakit dan juga butuh perhatian. Ya mentok-mentoknya nanti kalau memang belum dapat pengasuh, mungkin Mama saya akan ke Jakarta lagi untuk bantu mengasuh Alea. Ah, kalau ini sih saya bahagia banget, hihihihi 😀

Ada banyak hal mengesankan dan mengharukan selama 51 hari saya menjadi seorang ibu. Pernah di suatu malam, Alea nangis; saya pun buru-buru bangun dan ambil posisi bersandar di headboard tempat tidur sambil memangku Alea siap untuk menyusui. Tapi apa yang terjadi? Alea, setelah tahu bahwa dia sudah ada di pangkuan saya, tangisnya mereda, selama beberapa saat dia memandang saya dan kemudian tertidur pulas dalam keadaan salah satu tangannya salah satu memeluk dada saya. Sontak air mata saya menetes. Ah, ternyata dia cuma ingin bonding, cuma ingin tidur dipeluk mamanya 🙁

Kejadian yang satu ini pun membuat saya menjadi mellow. Sore itu Alea sedang menyusu. Seperti biasa, kalau Alea sedang menyusu salah satu tangan saya pasti sambil membelai kepalanya sambil bilang, “Mama sayang kamu, Dek…”. Tapi ada hal yang berbeda sore itu. Sambil masih menyusu, tiba-tiba kedua tangan Alea memeluk erat tangan saya sambil mata beningnya menatap saya, seolah ingin bilang kalau dia juga sayang sama saya. Duh, Nak… hati Mama langsung meleleh nih 🙁

Ada lagi hal mengharukan, bertepatan dengan aqiqah Alea yang jatuh pada tanggal 21 Agustus 2014 kemarin. Biasanya, Alea suka rewel kalau jenuh, haus, atau gerah. Biasalah namanya juga bayi. Saya juga khawatir selama pengajian nanti dia akan nangis rewel karena jenuh dan capek. Tapi sepertinya saya telah meremehkan putri saya ini. Sepanjang acara yang berlangsung selama kurang lebih 2 jam itu, dia anteng di pangkuan saya seolah menyimak segala doa yang dilantunkan oleh para tamu pengajian yang diperuntukkan baginya. Hanya sekali saja dia mewek karena haus, tapi itu pun tidak lama karena setelah saya susui dia tenang kembali dan khusyu mengikuti keseluruhan jalannya acara aqiqah. Subhanallah…

Dan kejadian terakhir, baru saja terjadi. Biasanya kalau habis mandi sore Alea pengennya menyusu, dan tidur hingga habis maghrib. Lha ini tumben, sampai adzan Isya dia masih melek lebar banget padahal sudah menyusu sampai kenyang dan digendong Nina Bobo muterin kamar sampai kaki saya pegal. Akhirnya ya sudahlah, berhubung saya belum shalat, saya taruh saja dia di tempat tidur, nanti kalau selesai shalat dan dia belum tidur, saya gendong lagi. Sambil mengecup lembut keningnya, saya bilang, “Sayang, Mama mau shalat dulu ya. Sayang bobo di sini dulu ya. Nggak boleh rewel ya, Nak. Love you…” dan saya pun meninggalkan kamar untuk makan dan ambil wudhu. Setelah makan dan wudhu, saya kembali ke kamar dan ternyata menemukan pemandangan princess saya ini sudah lelap, bobo sendiri. Duh, Nak… pinter banget kamu. Tahu gitu dari tadi Mama taruh kamu di kasur ya 😀

Sebagai seorang ibu baru saya masih harus banyak belajar. Belajar jadi ibu yang baik untuk Alea dan belajar mengenal lagi putri saya. Saya tahu perjalanan mengenal Alea masih panjang. Saya juga tahu tidak ada yang manusia yang sempurna, pun menjadi orangtua. Saya dan suami hanya berusaha menjadi dan memberikan yang terbaik untuk Alea.

Maafkan kami yang belum sempurna menjadi orangtua ya, Nak. We do love you, Princess… :*

 

[devieriana]

 

 

 

Continue Reading

Welcome to the world, Alea!

sesi pemotretan sebelum pulang dari rumah sakit :D

“One of the greatest titles in the world is parent, and on of the biggest blessings in the world is to have parents to call mom and dad”
Jim De Mint

Senin pagi (14/7), saya masih beraktivitas seperti biasa, bangun dini hari, menyiapkan sahur untuk keluarga, hingga bersiap untuk berangkat ke kantor. Tapi entah kenapa ada yang tidak biasa dengan perut saya. Saya mengalami rasa mulas seperti mau menstruasi yang berlangsung secara terus menerus selama hampir seharian. Bahkan di taksi dalam perjalanan menuju ke kantor pun saya merasakan sakit yang luar biasa; saya sampai menangis menahan mulas (yang ternyata akhirnya saya tahu itu namanya kontraksi; maklum belum pernah merasakan yang namanya kontraksi itu seprti apa bentuknya 🙁 ). Tapi beruntung malam harinya rasa itu sempat hilang sehingga saya bisa tidur dengan sedikit lebih tenang.

Selasa dini hari (15/7), saya kembali merasakan kontraksi. Klai ini jauh lebih hebat dari pada hari sebelumnya. Saya berkali-kali istighfar menahan sakit sambil mencoba bangun dan mengambil wudhu. Tapi saya jadi panik sendiri karena saya ternyata saya bukan lagi mengalami flek, tapi sudah pendarahan. Segera saya membangunkan suami yang masih tertidur pulas. Dengan segera dia bangun dan memesan taksi untuk segera menuju ke UGD RSUD Pasar Rebo.

Rasanya saya sudah tak berdaya, antara menahan sakit dan panik. Bayi saya gerakannya aktif luar biasa. Entah apa yang dia rasakan di dalam perut saya. Saya hanya bisa pasrah, kalaupun memang harus terlahir saat itu ya sudahlah tak apa. Sebenarnya HPL (Hari Perkiraan Lahir) masih 1 Agustus 2014, ya itu ditepatkan 40 minggu. Kalau saat itu pun sebenarnya juga sudah boleh dilahirkan karena sudah masuk 37 minggu. Mengingat posisi bayi saya yang sungsang, dan posisi plasenta yang menutup total jalan lahir (placenta previa) jadi sebenarnya dokter pernah menawarkan opsi untuk melahirkan sebelum tanggal 1 Agustus 2014, tapi saya coba untuk tetap di HPL saja. Btw, saya pikir kalau placenta previa itu tidak akan mengalami kontraksi, ternyata sama seperti kehamilan normal, kontraksi juga; karena kontraksi adalah dorongan alamiah dari bayi di dalam perut.

Saya segera mendapat penanganan pertama di UGD; ditensi, diukur tinggi perut saya, diukur detak jantung bayi saya, dan terakhir dipasang kateter plus infus. Setelah menunggu selama sekian jam sejak pukul 03.45 wib akhirnya saya di-visit juga oleh dokter saya pukul 09.00 wib. Itu juga setelah kondisi saya dicek berkali-kali oleh perawat; beruntung kontraksi yang saya rasakan mulai banyak berkurang, jadi saya bisa sedikit beristirahat. Pukul 12.00 wib, saya di-USG untuk melihat kondisi bayi saya. Alhamdulillah dia baik-baik saja. Dokter mengusahakan untuk mempertahankan bayi saya sampai dirasa berat badannya cukup, minimal 3 kg, karena berat badan yang sekarang masih 2.8 kg. Padahal sebenarnya kalau pun mau dilahirkan hari ini juga tidak apa-apa sih, ya. Eh, itu kalau pendapat saya. Mungkin saja dokter punya alasan lain yang lebih secure daripada apa yang saya pikirkan. Dokter memberi waktu sampai dengan besok untuk melihat kondisi saya. Kalau memang seluruh kondisi saya dan baby bagus, saya boleh pulang. Untuk sementara saya ditempatkan di Ruang Observasi.

Rabu (16/7) sore, ada yang ‘aneh’ dengan perut saya. Seperti ada sesuatu yang mengalir begitu saja, di luar kendali saya. Setiap kali saya bergeser/bergerak sedikit saja cairan itu seolah keluar tanpa bisa saya kendalikan. Apakah itu ketuban? 😮 Suami saya yang posisinya tidak bisa menjaga saya di dalam ruangan karena memang bukan kamar yang bisa dibezuk, berkali-kali meminta perawat untuk mengecek kondisi saya. Hingga akhirnya salah satu perawat menyatakan ketuban saya sudah pecah, dan saya sudah pembukaan satu. Dengan segera, perawat menghubungi dokter kandungan saya, dan hasilnya operasi sesar aka dipercepat besok pagi (17/7), dan saya harus berpuasa sejak pukul 00.00 wib. Saya pun dipindahkan ke ruang yang lebih intensif penanganannya untuk persiapan operasi besok pagi.

Sepanjang malam saya tidak bisa tidur tenang. Berat rasanya tidak diperbolehkan mengelus perut saya untuk sekadar menenangkan diri dan bayi saya, karena dengan semakin sering disentuh bayi akan cenderung semakin aktif, sementara kondisi saya sedang tidak memungkinkan. Jangankan terkena gerakan bayi, saya bergerak sedikit saja ketuban sudah merembes ke mana-mana :(. Semalaman saya hanya bisa berdialog dengan bayi saya tanpa bersentuhan.

Kamis (17/7), pukul 08.00 wib saya sudah siap menuju ruang operasi. Suami dan ibu mertua menunggu saya di luar ruangan. Di selasar menuju ruang operasi ternyata sudah menunggu beberapa pasien yang juga menunggu antrean dioperasi. Setelah menunggu selama kurang lebih satu jam, akhirnya saya didorong menuju ruang operasi yang suhunya luar biasa dingin itu. Ada yang ‘unik’ di ruang operasi itu. Semua kru yang bertugas terlihat sangat santai (ya iyalah, kan memang sudah kerjaan mereka sehari-hari). Sambil menyiapkan alat-alat yang diperlukan untuk operasi, mereka asyik ngobrol tentang THR dan tunjangan-tunjangan lainnya :D. Tepat pukul 09.15 wib seluruh tim operasi yang dipimpin oleh dr. Ardian Suryo Anggoro, Sp.OG telah siap dan dengan mengucap bismillah saya memejamkan mata, berdoa semoga operasi berjalan lancar.

Efek bius lokal menyebabkan saya hanya bisa merasakan perut saya ‘digoyang-goyang’ (padahal aslinya sudah disayat-sayat, ya). Dan tahu-tahu…

“Ibu Devi Eriana Safira, selamat ya. Ini putri ibu. Perempuan ya, Bu. Tolong dilihat, semua normal, lengkap ya, Bu. Jari kakinya masing-masing 5. Dan…

“Subhanallah… Kamu cantik sekaliiii….”, komentar saya spontan demi melihat wajah putri saya dengan hidungnya yang mancung itu

“Bu Devi, tolong dilihat dulu, jari tangannya juga lengkap ya, Bu. Masing-masing 5. Berat badannya 2.820 kg, panjangnya 47 cm, lingkar kepala 34 cm…”

“Iya, Suster… :(” *menahan mewek*

“Sekarang boleh dicium deh… :)”

Ini aku waktu baru dilahirkan Mama :D
Ini aku waktu baru dilahirkan Mama 😀

Jujur, ada berjuta perasaan yang tak terkatakan. Air mata saya pecah tak terbendung. Mendadak saya menggigil dalam keharuan luar biasa melihat sesosok makhluk mungil yang helpless itu seolah tersenyum menatap saya dengan tatapan matanya yang bening. Berjuta kata syukur tak henti saya ucapkan dalam hati. Hari itu, saya resmi menyandang status seorang ibu. Sebuah status yang telah saya tunggu sekian lama. Seorang bayi yang selama kurang lebih 9 bulan di dalam perut saya, menemani aktivitas dan kesibukan saya sehari-hari, menemani di setiap ibadah malam saya; akhirnya lahir juga.

DSCN2234

Begitu banyak cerita dan keajaiban-keajaiban luar biasa yang saya lewati bersama si kecil dalam perut saya. Alhamdulillah semua proses berjalan lancar. Bahkan saya merasa segala proses di rumah sakit dimudahkan oleh Allah. Sampai dengan pencarian kamar pun dimudahkan. Di saat banyak pasien mengalami kesulitan mencari kamar karena semuanya penuh, saya tiba-tiba mendapatkan kamar kelas I karena bertepatan dengan pasien yang pulang. Pemulihan pascaoperasi pun juga alhamdulillah jauh lebih cepat dibandingkan dengan operasi yang pernah saya alami dulu. Dalam 3 hari saya sudah bisa jalan ke mana-mana, sudah bisa menggendong si kecil, dan hari Sabtu (19/7) saya sudah diperbolehkan pulang.

pemotretan by Popi p

Dear Alea, you are the most beautiful miracles in life. One of the greatest joy I can ever know. One of the reasons why there is a little extra sunshine, laughter and happiness in my world everyday…

Selamat datang malaikat cantikku, Audrey Frasya Aleshara. Semoga menjadi anak yang shalehah, berbakti kepada kedua orang tua, bertakwa kepada Allah SWT, berguna bagi nusa, bangsa, dan agamanya. Serta menjadi kebanggaan keluarga. Aamiin ya rabbal alamiin… 🙂

We love you, Alea…

[devieriana]

Continue Reading

Berkompromi dengan Kemacetan

TrafficJam

Hari Rabu (25/6) kemarin sepertinya menjadi hari macet yang paling epic se-Jakarta. Betapa tidak, saya terjebak dalam kemacetan luar biasa selama hampir 6 jam sepulang kantor! *mewek*

Sore itu mendung gelap sudah menghiasi langit Jakarta sejak pukul 15.30. Saya yang mengintip dari balik jendela sudah mulai panik-panik bergembira, bergembira semua, karena kalau hujan itu berarti saya harus berdiri di halte menunggu shuttle bus yang biasa saya tumpangi itu lewat sampai hujan reda, sementara kondisi saya sedang kurang memungkinkan untuk berdiri terlalu lama. Hiks 🙁

Pukul 16.00 saya pun bergegas menuju ke halte sambil berlomba dengan awan hitam yang sudah siap menurunkan hujan dengan lebatnya. Tepat sesuai dengan perkiraan saya, hujan pun langsung turun dengan lebatnya tepat setibanya saya sampai di halte. Tak tanggung-tanggung, hujan mengguyur Jakarta selama satu jam lamanya. Jakarta yang di hari biasa dan sedang tidak hujan saja macetnya luar biasa, apalagi ketika hujan, volume macetnya pun menjadi berkali-kali lipat.

Jalanan di depan saya sudah diam tak bergerak. Kalaupun iya ada pergerakan, hanya mampu semeter-semeter, dan itu berlangsung selama satu jam lamanya. Kaki saya pelan-pelan mulai basah terkena percikan hujan. Untung saya sedang memakai flat shoes yang terbuat dari bahan karet, jadi akan lebih mudah dibersihkan/dicuci sesampainya di rumah nanti. Tepat di saat hujan mulai reda, busa saya pun datang. Merangkak lambat di tengah jalan yang padat, driver-nya pun sudah enggan mengambil penumpang ke arah pinggir jalan karena dia harus ‘menyibak’ deretan pengendara motor. Ya daripada ribet. Ya sudahlah, yang penting saya sudah berada di dalam bus. Kalau macet ya tinggal tidur saja, semoga baby yang di perut nggak gelisah karena terlalu lama di jalan.

Sepanjang perjalanan saya hanya mampu melek-tidur-melek dan kembali tidur, karena hanya itu yang bisa dilakukan oleh hampir semua penumpang. Baterai gadget pun mulai menipis karena terlalu lama digunakan untuk mengisi waktu di sela kemacetan yang luar biasa itu. Ya wajar sih, karena perjalanan pulang kali ini memakan waktu selama hampir 6 jam! Rekor perjalanan pulang terlama sepanjang saya pulang kerja 😥 . Untunglah baby saya anteng, seolah tahu kalau dia pun sedang dalam kemacetan yang sama dengan mamanya dan seluruh penumpang di bus yang ditumpanginya. Kaki dan celana saya yang awalnya basah, lama-lama kering dengan sendirinya. Namun ada ‘konsekuensi’ yang harus saya alami, kaki saya jadi bengkak mulai mata kaki sampai ke telapak kaki selama 2 hari 😐

Hidup di Jakarta itu, seperti yang sudah beberapa kali saya tulis di sini, memang harus ekstra sabar, dan dituntut untuk mampu berkompromi dengan kemacetan yang semakin luar biasa dari hari ke hari. Andai tidak semua orang menggunakan kendaraan pribadi dan mulai sadar untuk menggunakan angkutan massal, mungkin kondisinya tidak akan separah ini 😐

Semoga cukup sekali itu sajalah saya mengalami kemacetan selama 6 jam sepulang kantor 😥

 

 

[devieriana]

 

ilustrasi dipinjam dari sini

Continue Reading