Imaginary Friends

bing bong

Minggu lalu saya baru nonton Inside Out. Kebetulan Alea sedang senang-senangnya menonton film animasi. Tapi berhubung Eyangnya Alea agak kurang setuju kalau Alea menonton film ini, dengan alasan ada muatan film yang belum pas kalau ditonton Alea di usianya yang sedang senang-senangnya meniru apapun yang dia lihat. Jadi, ya sudahlah, saya tonton sendiri dulu kali ya.

Di sepertiga film itu itu ada adegan yang mengingatkan saya ke masa kecil dulu. Ketika tokoh Joy dan Sadness terlempar ke daerah Ingatan Jangka Panjang; saat mereka bertemu dengan sesosok makhluk yang bentuknya merupakan gabungan antara permen kapas, kucing, gajah, lumba-lumba dan memperkenalkan dirinya sebagai Bing Bong . Dia adalah teman khayalan masa kecil Riley, tokoh utama film ini.

Bicara tentang teman khayalan, dulu saya juga punya teman khayalan yang bernama Vikung. Vikung ini adalah sosok yang punya kepribadian abu-abu. Tidak selamanya baik, tapi juga tidak selalu jahat. Pokoknya manusiawi, walaupun lebih banyak ngeselinnya daripada menyenangkannya. Tapi di balik ‘ngeselinnya‘ itu Vikung tetap sosok yang baik, suka menemani saya main dan ngobrol. Sosok Vikung itu saya ‘gambarkan’ sebagai anak perempuan yang seusia saya. Rambutnya sebahu, suka dikuncir dua, berponi, agak kurus, pipi kiri kanannya masing-masing ada jerawat 3 biji, dan suka pakai kaos kaki panjang, sepintas mirip sosok Pippi Longstocking. Entah kenapa sosok Vikung mirip dengan Pippi Longstocking, apakah karena waktu itu saya lagi suka-sukanya baca buku-buku fiksi anak, macam Lima Sekawan, Pippi Si Kaus Kaki Panjang, dan sejenisnya ya?

teman khayalan - Pippi Longstocking
teman khayalan versi saya

Kurang pasti kapan Si Vikung ini hadir menemani hari-hari saya, tapi yang jelas seiring dengan semakin bertambahnya usia saya, semakin sibuknya saya di sekolah, dan semakin banyaknya teman yang saya miliki, lambat laun sosok Vikung ini ‘menghilang’ dengan sendirinya. Dulu sempat mikir, apa saya saja ya yang punya teman khayalan? Saya aneh nggak sih karena punya teman khayalan? Gimana nggak ‘aneh’ kalau saya main sendiri, ngobrol sendiri, ‘berantem-berantem’ sendiri, kadang seolah berebut sesuatu dengan ‘seseorang’ padahal ya saya sedang sendiri. Ngeri, ya? Hahaha…

manfaat-teman-imajinasi

Tapi sebenarnya sebagian besar anak kecil yang berusia antara 3-5 tahun wajar kalau memiliki teman khayalan dengan bentuknya masing-masing. Usia di mana mereka mulai membentuk identitas diri dan mulai tahu batas mana dunia khayal dan dunia nyata.

Tapi ada kelegaan juga, karena kalau merujuk pada salah satu artikel di Parents Indonesia, menyatakan:

“Penelitian menyebutkan bahwa anak yang memiliki teman khayalan punya kemampuan berempati lebih baik dibandingkan teman sebaya yang tidak punya sahabat imajiner. Studi lain juga menyatakan anak-anak tersebut memperoleh nilai tes bahasa yang lebih tinggi, mampu bersosialisasi dengan baik, dan yang paling penting punya lebih banyak teman.”

Begitu juga ketika saya iseng baca di The Verge :

“children who keep imaginary friends, eventually develop better internalized thinking, which separately has been found to help children do better with cognitive tasks like planning and puzzle solving.”

Jadi, kalau kebetulan kita punya anak yang punya teman imajiner, jangan terburu-buru mengecap anak kita aneh. Karena justru dari situlah perkembangan emosi dan cara berpikir anak dimulai. Anak yang punya teman khayalan akan tumbuh menjadi anak yang penuh rasa ingin tahu, mudah berteman, kaya kosakata, dan kreatif.

Menurut saya, selama anak tidak banyak menghabiskan waktunya setiap hari berbicara dan bermain dengan teman khayalannya, dalam artian dia masih mau berbicara dan bermain dengan teman nyata (non-imajiner), berarti masih dalam taraf normal. Tapi kalau ternyata sebaliknya, anak lebih suka menghabiskan kesehariannya untuk ngobrol dan bermain dengan teman khayalannya dibandingkan dengan teman nyatanya, mungkin ada baiknya orang tua mulai berkonsultasi dengan ahli perkembangan anak.

Kalau kalian, dulu pernah punya teman khayalan nggak?

 

[devieriana]

sumber ilustrasi: Disney dan TemanTakita

 

Continue Reading

Demam, Mau Pinter?

Sebenarnya saya kurang percaya sama yang namanya mitos. Ada hal-hal yang selama masih bisa dilogikakan, saya akan cenderung lebih percaya logika ketimbang mitosnya. Seperti mitos-mitos kehamilan dan perawatan anak, selalu saya usahakan untuk membandingkannya dengan opini dokter atau pakar yang lebih paham, bukan apa-apa, supaya kita tetap menjadi orangtua yang logis, smart, dan tetap aware. Namanya juga orangtua yang anaknya lahir dan hidup di era internet jadi mau tidak mau kita juga harus menyesuaikan diri.

Seperti misalnya ketika Alea tiba-tiba demam tinggi, ada yang bilang, “Udah, gapapa. Tenang aja, itu berarti anak kamu mau pinter…” Saya sih mengamini, semoga begitu adanya. Memang, konon, kalau anak tiba-tiba demam tinggi tandanya mau pinter, atau ada kebisaan baru, atau ada suatu perubahan yang terjadi dalam tubuhnya. Mitos ini sudah ada sejak zaman nenek moyang kita. Tapi apa iya seorang anak yang ‘mau pinter‘ itu harus didahului dengan demam/sakit?

Alea selama ini alhamdulillah jarang sakit. Ketika akan bisa tengkurap atau tumbuh gigi pun biasa saja, tidak disertai demam terlebih dahulu. Memang ada, bayi-bayi yang ketika akan tumbuh gigi badannya demam karena terjadi radang di gusinya. Kalau Alea demam/flu sih pernah, namanya kondisi badan manusia pasti ada up and down-nya, seperti orang dewasa kan juga begitu. Apalagi kondisi badan bayi/balita yang masih rentan terhadap virus, kondisi lingkungan yang tidak selamanya bersahabat, dan aktivitas bayi/balita yang cenderung meningkat. Jadi kalau bayi/balita mulai demam/batuk/pilek itu bagian dari tumbuh kembang mereka.

Nah, ceritanya saya ada dinas ke Bogor. Sepulang dinas, ketika Alea sedang memeluk saya, kok agak badannya terasa agak ‘anget‘ ya? Ketika saya ukur dengan termometer, memang benar ada sedikit kenaikan suhu badan, menjadi 38 derajat celcius. Tapi berhubung Alea tidak mengalami penurunan aktivitas, tetap semangat merangkak ke sana-ke mari, dan makannya pun lahap seperti biasa, jadi saya tidak seberapa khawatir. Jadi treatment-nya hanya saya beri minum air putih yang lebih sering, plus ASI kapan pun dia minta, plus sedia obat penurun demam anak yang diberikan oleh dokter just in case demamnya makin tinggi.

-----------Alea memang tidak rewel, tapi dia jadi lebih manja. Maunya dekat dengan saya. Hingga tidur pun dia tidak mau tidur di tempat tidur, maunya tidur di gendongan. Hingga akhirnya semakin malam, saya rasakan kok suhu tubuhnya semakin tinggi, dan puncaknya sekitar pukul 12 malam suhu tubuhnya mencapai 39.3 derajat celcius. Jujur, saya mulai panik. Tidak biasanya Alea demam setinggi ini. Paniknya karena obat penurun panasnya tidak bereaksi, dan suhu tubuhnya semakin tinggi, sementara dokter spesialis anak pasti tidak ada yang buka kalau Sabtu/Minggu. Masa iya harus ke UGD? Jangan dulu deh. Selain mengompres dahinya dengan air hangat suam-suam kuku, saya juga mencoba metode skin to skin, untuk menurunkan demam pada bayi. Hingga akhirnya saya ikut tertidur dalam kondisi duduk setelah berjaga sampai hampir pukul 4 pagi.

Ketika saya bangun, Alea masih dalam keadaan tidur pulas. Saya raba dahi, badan, dan telapak kakinya. Alhamdulillah suhu badannya mulai turun. Ketika saya ukur, suhu badannya sudah turun menjadi 37.9 derajat celcius. Sedikit lega, walaupun badannya masih terasa agak panas.

Hari itu Alea menjalani aktivitas seperti biasa. Dia makan dengan porsi seperti biasa, minum vitamin seperti biasa, tapi untuk air putih saya berikan lebih sering supaya dia lebih sering pipis jadi demamnya bisa lebih cepat turun lagi. Dan siangnya suhu badannya berangsur-angsur menjadi normal, terakhir saya ukur suhunya 36.7 derajat celcius. Alhamdulillah. Keesokan harinya saya sengaja ambil cuti dadakan untuk stand by, jaga-jaga kalau suhu badannya naik lagi. Tapi syukurlah suhu badannya stabil, jadi hari Selasa saya bisa kembali ngantor.

Percaya/tidak percaya, seminggu setelah kejadian demam tinggi itu dia mulai bisa jalan. Awalnya 1-3 langkah, lalu jatuh. Hari berikutnya menjadi 5 langkah, dan seterusnya hingga akhirnya lancar dengan sendirinya. Ah, saya jadi terharu… *kecup Alea*.

----------Jadi entahlah, ada hubungannya atau tidak antara demam dan ‘mau jadi pinter‘ itu tadi kok ndilalah pas habis demam dia bisa jalan. Padahal sih kalau menurut pemeriksaan dokter, waktu demam kemarin dikarenakan oleh virus. Tapi berhubung daya tahan tubuhnya bagus, jadi demamnya tidak terlalu lama.

Kalau yang pernah saya baca, demam itu semacam alarm dalam tubuh yang ‘menginformasikan’ bahwa sedang terjadi ‘sesuatu’ dalam tubuh (anak) kita. Jadi sama sekali tidak ada hubungannya dengan ‘mau pinter‘. Kalau memang habis demam kebetulan dia nambah kebisaan ya memang sudah waktunya.

Kalau kata dokter, penyebab demam anak itu banyak sekali, tetapi kalau demam yang terjadi pada bayi/balita/anak kebanyakan disebabkan oleh infeksi virus atau flu yang disertai batuk/pilek. Kebetulan waktu itu Alea memang juga pilek. Pada umumnya, penyakit yang disebabkan oleh virus ini bersifat self limiting disease, atau akan sembuh dengan sendiri oleh kekebalan/pertahanan tubuh dirinya. Jadi memang tidak perlu obat khusus. Ketika ada virus/kuman yang masuk ke dalam tubuh, secara otomatis tubuh akan memberikan reaksi dengan cara menghasilkan zat yang menyebabkan suhu tubuh naik. Dengan suhu tubuh yang naik ini akan membuat sel pertahanan tubuh dapat bekerja lebih optimal. Begitulah penjelasan dokter yang menangani Alea waktu itu.

Mitos itu antara percaya dan tidak percaya sih. Ada teman yang ketika hamil sama sekali tidak diperbolehkan makan lele, karena lele dipercaya dapat membuat kepala bayi membesar sangat cepat sama seperti kepala ikan lele sehingga akan menyulitkan proses persalinan. Dia juga tidak makan belut karena belut kan licin, khawatir anaknya tidak bisa diatur. Padahal belut dan lele itu kandungan nutrisinya bagus, kolesterolnya rendah, mengandung lemak baik yang bisa mencegah kelelahan pada ibu hamil, dan juga mengandung protein dan mineral yang baik untuk pertumbuhan janin. Dulu, oleh dokter saya malah disuruh makan apa saja yang enak-enak, hehehe…

Jadi, ini tips dari dokternya Alea, kalau anak tiba-tiba demam, selama dia masih riang, masih beraktivitas seperti biasa, orang tua tidak perlu terlalu panik. Level aktivitas anak kita adalah indikator yang jauh lebih akurat daripada angka pada termometer. Kecuali dia mengalami dehidrasi dan kejang, itulah saat kita mulai waspada.

Jadi, benarkah demam itu tanda anak mau pinter?

 

 

[devieriana]

Continue Reading

Nikmati Saja

IMG-20150902-WA009

Jadi sebenarnya hari ini saya itu tiba-tiba saja galau. Di week end kemarin saya total di rumah menemani Alea mulai pagi dia bangun tidur sampai malam hari dia tidur. Buat saya yang seorang ibu bekerja kebersamaan bersama Alea termasuk dalam daftar me time. Kalau ibu-ibu lain yang kesehariannya sudah bersama bocah mungkin me time-nya akan berkebalikan dengan saya, misalnya dengan nyalon-nyalon lucu atau sekadar meluangkan waktu khusus untuk diri sendiri. Ya kan namanya mengasuh anak sekaligus mengurus rumah kan lumayan PR ya, Bu… Jadi maklumlah kalau ada waktu khusus buat refreshing. Nah, berhubung saya cuma ketemu sama Alea setelah jam pulang kantor dan week end jadilah saya menyebut kebersamaan saya bersama Alea adalah termasuk me time.

Di usia balita saya yang bulan ini menginjak 14 bulan, saya lagi jatuh cinta banget sama dia. Jatuh cinta karena Alea sedang lucu-lucunya, mulai bisa menirukan omongan orang, lagi suka menonton film animasi dan mendengarkan lagu-lagu anak, suka menari, dan sedang suka bersosialisasi dengan anak-anak lain baik yang sebayanya maupun yang jauh lebih besar daripada dia. Pokoknya dia sedang seperti sebuah spons besar yang menyerap sebanyak-banyaknya air. Tapi bukan Spongebob, hehehe…

Kalau saya sedang ada di rumah, apapun aktivitas Alea maunya sama saya. Mulai makan, minum, pup, main, sampai bobonya. Seolah meminta ‘kompensasi’ dari ketidakhadiran di setiap hari kerja. Jadi, begitu ada mamanya, dia girang banget. Setelah sekian lama, oh.. ternyata begini ya rasanya punya ‘buntut’. Ke mana-mana ada yang mengikuti.

Kalau soal drama pascalahiran sudah berlalu, kini beralih ke drama sebelum ngantor. Setiap pagi, kalau dia sudah bangun dia pasti maunya ikut saya membikin sarapan. Padahal dapur itu kan kurang aman buat bayi/balita. Tapi ya bagaimana lagi, dia maunya ikut ke mana pun saya melangkahkan kaki, jadi kadang ya terpaksa kalau sudah tidak bisa dibujuk oleh papa atau eyangnya ya dia ikut saya membuat sarapan di dapur.

Kalau tiba waktunya saya berdandan, dia pun ikut sibuk ‘berdandan’. Mengusapkan kuas blush on ke wajahnya secara random dengan ekspresi kegelian. Usai mengeluarkan seluruh isi tas make up saya, biasanya kalau sudah menemukan barang yang disukai, Alea pasti langsung memojokkan diri dan asyik dengan barang ‘temuannya’ itu. Contohnya kuas blush on yang sudah dipreteli atau lipstik. Lipstik saya yang sudah hampir habis jadi belepotan ke mana-mana karena dicolek-colek Alea. Lucunya, kalau saya tanya, “siapa yang nakal mainan lipstik Mama?”. Dengan lucu dia menjawab, “Aea…”. Alea.

Kalau sudah selesai dandan, aktivitas berikutnya adalah seterika. Saya selalu menyeterika baju yang akan dipakai hari ini sebelum berangkat ke kantor. Biasanya untuk membuat dia ‘sibuk’ adalah dengan menyetelkan video film animasi kegemarannya atau video lagu anak. Tapi kalau dia sedang ‘drama’ pasti ada saja caranya meminta perhatian. Misalnya tiba-tiba minta menyusu atau minta pangku di tengah aktivitas saya menyeterika. Jadi, kadang eyangnyalah yang suka membujuk dengan mengajak main sesuatu di ruang tamu, atau apapun yang bisa mengalihkan perhatiannya sementara saya menyeterika.

Kalau lagi mellow, ada juga perasaan iba melihat begitu inginnya saya ada buat dia, menemani dia setiap hari. Melihat tangan mungilnya memeluk saya erat sembari dia menyusu dan menonton film favoritnya (Baymax, Frozen, Penguin of Madagascar, Barney, dan Gazoon); melihat dia makan dengan lahap ketika saya suapi, atau tertidur lelap di pelukan saya, itu precious banget…

Mama saya pernah bilang begini, dulu…
“Nikmati saja setiap waktu bersama anak-anakmu. Karena masa kecil tidak akan pernah kembali. Hidup juga tidak akan pernah berulang dan begitu-begitu saja karena pasti akan ada perubahan.”

Diam-diam saya merenung. Iya juga ya, nikmati saja setiap detik kebersamaan bersama Alea. Membayangkan bahwa dalam beberapa bulan ke depan Alea akan mulai sekolah playgroup. Dia akan mulai bersosialisasi, punya teman, punya lingkungan baru. Dan tanpa terasa dia akan memulai kehidupannya sebagai anak sekolah, dan seterusnya sampai akhirnya dia dewasa dan punya kehidupan sendiri.

Sederhana saja, saya dan suami ingin memberikan Alea kasih sayang semaksimal mungkin yang kami bisa, dan harapan kami semoga Alea memiliki masa kecil yang bahagia, di tengah kehidupannya sebagai seorang anak yang kedua orangtuanya bekerja.

Btw, tadi pagi agak sepi nih, nggak ada yang ngegrecoki aktivitas pagi, soalnya Alea masih tidur pulas sampai waktunya kami berangkat kerja…

****

– ditulis dalam multitasking mode (smsan, watsapan, mengoreksi berkas, input ke aplikasi, dan kegiatan clerical lainnya, sambil mengejar waktu mendekati jam pulang kantor –
[devieriana]

Continue Reading

Kisah Lebaran

selamat lebaran*bersih-bersih blog dari sarang laba-laba*

Hai apa kabar? Kelamaan hibernasi, nunggu ilham menulis yang tak kunjung datang, jadinya malah disarangin laba-laba.

Mumpung masih bulan Syawal, izinkanlah saya mengucapkan Selamat Idul Fitri 1 Syawal 1436 H, mohon maaf lahir bathin kalau ada salah kata dan perbuatan ya… 🙂

Ramadhan kali ini terasa berbeda, karena saya melewatkan puasa Ramadhan berempat (saya, Mama, suami, dan Alea). Kalau tahun lalu saya terpaksa tidak berpuasa karena sedang hamil, tahun ini alhamdulillah bisa berpuasa penuh, cuma ‘bolong’ 2 hari karena sedang dalam perjalanan mudik.

Setelah tahun lalu kami berlebaran di Jakarta karena saya baru lahiran, tahun ini kami berlebaran di Surabaya. Dan pilihan kami adalah mudik via jalan darat! What? iya, jalan darat. Dengan membawa Alea? Ya iyalah, masa iya dia ditinggal di rumah sendirian? Sempat galau juga sebelum memutuskan memilih mudik via darat atau udara. Tapi berhubung suami dan ipar saya semangat banget untuk mencoba mudik via darat, jadi ya sudahlah, bismillah aja.

Saya, suami, adik dan ipar saya sepakat cuti 4 hari sejak tanggal 15 Juli 2015 , dan baru akan ngantor lagi tanggal 27 Juli 2015. Akhirnya, hari yang ditunggu untuk mudik pun tiba. Kami memulai perjalanan ke Surabaya mulai tanggal 14 Juli 2015 pada pukul 20.30 wib via jalur utara. Salah satu alasan kami kenapa berangkat malam, ya itu adalah jam tidurnya Alea. Tujuan kami salah satunya adalah mencoba jalan tol yang sedang heitz itu; Tol Cipali!

Sepertinya hari keberangkatan kami adalah hari puncak mudik. Perjalanan mulai bergerak lambat mulai di… ah, saya lupa, karena saya ketiduran! Tahu-tahu, sudah masuk gerbang tol Cikopo. Harapan kami akan lancarnya perjalanan, menguap begitu saja, karena di sepanjang tol itu… buset, banyak banget ya mobilnya! Ya iyalah, banyak mobil, masa iya ongol-ongol! Jadilah kami agak bete di jalanan. Ok, ‘agak’ lho ya. Karena kami masih ingat kalau kita mau mudik, mau ketemu keluarga, mau lebaran di kampung halaman. Lagian kapan lagi ‘seru-seruan’ mudik via darat nan padat itu; sekali-kalilah, masa iya pakai pesawat terus. Ye, kaaan? *lap-lap garbarata*

Karena kami membawa bayi, jadi ya di setiap rest area kami usahakan untuk istirahat, selain biar para driver-nya nggak terlalu pegel, biar bayinya juga nggak stress di jalan. Tapi alhamdulillah, kami salut sama Alea; di tengah perjalanan yang panjang itu, dia sama sekali nggak rewel. Sekalinya rewel karena ngantuk atau lapar. Selebihnya ya dia ‘sibuk’ main boneka dan main dengan kami dengan berpindah-pindah jok (depan-tengah-belakang, begitu seterusnya), sambil melihat pemandangan dan macetnya jalanan. Perjalanan mudik itu kami tempuh selama hampir 32 jam! Ya maklumlah, sesuai dengan deskripsi di atas agak kurang memungkinkan juga kalau perjalanan kami tempuh kurang dari 24 jam. Kecuali kami punya… baling-baling bambuuu!

Lebaran tahun ini jadi moment yang istimewa kuadrat. Bukan sekadar moment di mana kami bisa bertemu dan bersilaturahim dengan keluarga besar, tapi juga bertepatan dengan ulang tahun Alea yang pertama. Alhamdulillah, gadis kecil yang tahun lalu di tanggal yang sama masih ‘sibuk’ menangis ala bayi di RS, sekarang sudah berusia 1 tahun, sudah punya banyak kebisaan dan kelucuan yang membahagiakan kami.

devi instagram

Oh ya, melihat perkembangan Alea yang pesat ini, ada hal yang ‘menakjubkan’ kami; Alea sudah mulai mengenal mainan di Timezone! Awalnya, dia cuma pengen dititah-titah doang, jalan keliling foodcourt di salah satu mall di Surabaya. Tapi mendadak di depan counter cotton candy yang berbentuk mobil-mobilan, dia nggak mau jalan, maunya jongkok saja di depan counter-nya. Dikirain mainan kali ya. Akhirnya, untuk membujuk dia agar mau jalan, saya belokkan ke Timezone yang kebetulan bersebelahan dengan counter cotton candy itu. Dan you know what bagaimana reaksinya? Semacam takjub gitu. Kan, di sana ada banyak suara, warna-warni wahana, dan hal-hal baru baginya. Alhasil, ketika saya ajak duduk menghadap wahana kereta-keretaan, dianya malah mau manjat pagar pembatas area kereta-keretaan. Yaelah, kamu ini laki apa perempuan sih, Nak? Kok mau manjat-manjat pager? *ajak Alea duduk manis di pinggir pagar-pagaran.

Jadi, ya sutralah ya, karena anaknya terlihat keukeuh pengen main, papanya akhirnya beli perdana juga. Demi menyenangkan Alea, hahahahak. Dan dia ceria banget dong, ketika naik kuda-kudaan, mobil-mobilan, dan kereta-keretaan. Dia juga anteng berdiri di mesin pengambil makanan (apa itu deh namanya), mungkin buat dia itu mesin yang lucu, karena bisa gerak-gerak sendiri, maju/mundur ngambil makanan. Gitu kali, ya? *tepok jidat*
*jidat papanya*

devi instagram_2

Dari pengalaman keberangkatan di mana kami sempat terjebat macet di Brebes dan sekitarnya, pulangnya kami memutuskan untuk mengubah rute perjalanan via jalur selatan. Biar nggak bosen, sekalian mau rekreasi. Alhamdulillah perjalanan pulang menuju Jakarta via jalur selatan ini jauh lebih lancar, ya itu juga karena kami balik ke Jakartanya sudah di tanggal yang off peak juga yaitu 24 Juli 2015. Tapi ya tetap saja sampai di Jakarta hari Minggu siang, tanggal 26 Juli 2015. Lho, kok bisa? Katanya jalanan lancar, nggak macet? Iya, kita sempatkan untuk bermalam di Yogyakarta. Tujuannya selain mau ngajak Alea naik delman (di Jakarta, Alea lagi seneng-senengnya lihat kuda dan naik delman yang keliling di sekitaran Mampang), selain itu juga ingin berwisata belanja di Malioboro, Pasar Beringharjo, dan sekitarnya, hihihihik.

Secara keseluruhan, perjalanan mudik lebaran tahun ini yang via jalan darat dan memakan waktu berhari-hari itu alhamdulillah berjalan lancar. Salut dengan ketahanan tubuh Alea. Di balik perjalanan yang melelahkan itu, dia alhamdulillah dalam kondisi yang sehat. Buat orang dewasa ini merupakan perjalanan yang melelahkan dan bikin stress, apalagi buat bayi seusia Alea.

Semoga lain kali bisa kumpul dan seru-seruan lagi bareng keluarga. Tapi semoga nggak pakai macet lagi kali..

[devieriana]

 

ilustrasi dipinjam dari sini

Continue Reading

Happy Anniversary for Us

happy anniversary

17 Juni 2007 – 17 Juni 2015

Seharusnya postingan ini saya terbitkan kemarin di tanggal yang sama dengan saat pertama di mana saya memulai kehidupan saya bersama suami, 8 tahun yang lalu. Tapi karena terkendala dengan banyaknya pekerjaan kemarin, alhasil niatan posting anniversary malah batal. Ah, alesyan! Dasarnya saya aja yang males.

Wow, time flies! Tak terasa sudah 8 tahun kami mengarungi bahtera rumah tangga bersama. Selama itu pula kami menjalani up and downs sebagai sepasang suami isteri.

Bukan waktu yang sebentar untuk menjalani hidup bersama seorang pasangan sebelum akhirnya penantian panjang kami untuk menjadi orang tua berbuah manis tahun lalu. Seorang gadis mungil nan manis terlahir dari rahim saya 17 Juli 2014, alhamdulillah terlahir dalam kondisi sehat sempurna tak kurang suatu apapun. Penantian yang cukup lama sejak kehamilan yang pertama 7 tahun silam (tahun 2008).

Tak dipungkiri kehadiran Alea —yang pada tanggal 17 Juni 2015 kemarin juga genap berusia 11 bulan itu pun— memberi warna yang berbeda dalam keluarga kami. Kehadiran Alea mengubah seluruh pola, konsentrasi, dan prioritas hidup kami. Alea sekarang sedang tumbuh lucu-lucunya. Dia sudah bisa menari, menyanyi walaupun baru ‘awawawawa’, sedang belajar berjalan, sudah bisa mengenali nama diri dan orang-orang di sekitarnya, sudah bisa berdoa (menengadahkan tangan dan mengusapkan telapak tangan ke wajah seperti layaknya orang selesai berdoa), sudah bisa hormat gerak (walaupun kalau hormat tangannya ada di ubun-ubun), dan banyak lagi kelucuan lainnya.

Ada satu hal lagi yang saya syukuri, akhirnya suami saya menutup beberapa kartu kreditnya! Iya, beberapa. Nanti akan saya ceritakan sendiri kenapa saya begitu riang mendengar suami mengutarakan niatnya untuk menutup beberapa kartu kreditnya. Kalau mood tentu saja, hahahaha. I know, tidak ada yang salah dengan punya beberapa kartu kredit. Yang salah adalah orangnya, gaya hidup, cara menggunakannya, dan konsekuensi untuk membayarnya. Banyak kok yang punya beberapa kartu kredit dan hidup mereka baik-baik saja, justru terbantu dengan adanya kartu kredit. Dulu, kalau saya ngedumel soal kartu kredit, dia sih bergeming saja. Kini, alhamdulillah dia punya kesadaran sendiri untuk melunasi seluruh tagihan kartu kreditnya. Dia bilang, “sekarang sudah ada Alea, sudah saatnya aku punya cicilan yang jauh lebih real ketimbang menyicil hutang/tagihan kartu kredit.” Akhirnya! Hore! Tidak pernah ada kata terlambat untuk memulai suatu kebaikan. Selama itu baik, pasti akan saya dukung penuh!

Tak banyak kata yang ingin saya sampaikan. I have been through some very tough times in my life. I thank you God for giving me the strength to get through those times. Thank you for a great life, a wonderful husband, lovely daughter, loving family and friends.

Happy anniversary my dearest Husband. On this anniversary, I take this opportunity to thank you for the eight magnificent years. Thank you for being you. Thank you for caring, understanding, and supporting me through these years. Thank you for being my partner, spouse, lover, and friend… Growing old with you is the best thing I could ever dream of. So, I will continue to gather all my strength to love you. May Allah bless our life, our family. Aamiin…

Happy 8th wedding anniversary. Love you to Jupiter and back!

[devieriana]

Ilustrasi diambil dari sini

Continue Reading
1 3 4 5 6 7 15