Antara medok & Megapolitan

Kemarin timeline saya mendadak muncul bahasan yang berhubungan dengan logat yang ‘medok’. Berawal dari tweet @KeiSavourie yang menyatakan keheranannya melihat benturan budaya yang terjadi di Surabaya. Menurutnya, salah satu syarat menjadi kota megapolitan itu dengan tidak terlalu banyak menggunakan bahasa daerah, karena menurutnya penggunaan bahasa daerah menunjukkan semangat kesukuan dan eksklusifisme, jadi kurang cocok dengan modernisme.

Alhasil sore itu pun timeline saya penuh adu kicau antara Kei dengan beberapa akun lainnya. Menurut saya pribadi apa yang di-tweet Kei juga kurang tepat kalau ingin menjadi sebuah ‘teori’ baru tentang modernisasi dengan  menjadikan logat medok daerah menjadi salah satu parameter pantas tidaknya sebuah kota berpredikat sebagai kota megapolitan.

Kebetulan saya orang Jawa Timur, saya lahir di Surabaya yang besar di Surabaya dan Malang. Saya paham betul dengan pergaulan dan bahasa sehari-hari yang digunakan oleh orang-orangnya. Mayoritas kami menggunakan bahasa Jawa dengan logat Suroboyoan yang kental. Saya sendiri kalau di rumah berkomunikasi dalam 2 bahasa, Jawa dan Indonesia. Kalau bercakap-cakap dengan teman-teman kami ortu lebih memilih bercakap dengan menggunakan bahasa Indonesia, alasannya: “anak sekarang jarang ada yang bisa berbahasa daerah sesuai dengan tingkatan bahasanya.”

Bahasa Jawa memiliki 3 tingkatan bahasa, yaitu krama inggil, krama madya, dan ngoko. Krama inggil (krama alus) adalah bahasa yang digunakan saat berbicara dengan orang yang lebih tua. Krama madya digunakan saat berbicara dengan orang yang sebaya atau jarak usianya tidak terpaut jauh di atas kita. Sedangkan ngoko digunakan saat berbicara dengan orang yang sebaya/lebih muda. Walaupun demikian penggunaan bahasa Jawa halus (krama inggil dan krama madya) di kalangan orang-orang Surabaya tidak sehalus di Jawa Tengah. Kebanyakan sudah bercampur dengan kata-kata sehari-hari yang ‘lebih kasar’. Kasar di sini bukan berarti bahwa arek Suroboyo itu identik dengan kekasaran, ya. Tapi lebih merujuk ke sikap tegas, lugas, dan terus terang. Sikap basa basi yang diagung-agungkan orang Jawa ‘tidak berlaku’ di kehidupan arek Suroboyo \m/

Nah, ngomong-ngomong soal medok, ketika saya pindah ke Jakarta sekitar 6 tahun yang lalu, logat saya juga medok tapi masih dalam tahap yang bisa dimaafkan ;)). Sempat dijadikan bahan becandaan karena logat saya dianggap ‘lucu’ di antara logat Jakarta mereka yang kental, tapi saya sih santai saja, malah lucu. Apalagi ketika mereka mengira berbahasa Jawa itu mudah, ‘cuma’ mengubah kata-kata yang berakhiran “a” menjadi “o”, seperti nama jadi nomo, lupa jadi lupo. Nggak gitu juga, kali! :))

Untungnya logat medok saya itu sama sekali tidak terdengar ketika masih bertugas di call centre. Bahkan setelah ‘pensiun’ sebagai call centre officer, saya sempat mengisi kelas calon-calon call centre officer dan ikut menguji mereka bersama para rekan ‘alumnus’ officer yang lain. Kami harus jeli mendengarkan mereka bicara baik secara langsung maupun via telepon, memastikan mereka sejak awal bebas dari logat kedaerahan; mencermati kata-kata yang mengandung huruf: d, b, p, f, v, r, l; dan tentu saja mereka harus bebas cadel. Mengapa harus bebas dari logat kedaerahan? Call centre sebagai pusat pelayanan pelanggan di seluruh Indonesia idealnya suara yang terdengar juga bebas logat kedaerahan. Tentu akan terdengar lebih enak didengar ketika logat kami terdengar ‘seragam’ walaupun call centre kami tersebar di 4 kota besar, dengan 4 logat khas yang berbeda pula: Jakarta, Bandung, Surabaya, dan Medan.

Sebagai seorang yang kurang paham pergaulan di Surabaya, saya memaklumi Kei. Pada praktiknya nggak segitunya jugalah. Di forum-forum formal, di sekolah, kampus, di beberapa kantor/instansi, bahasa pengantarnya menggunakan bahasa Indonesia. Bahasa Jawa digunakan sebagai bahasa pergaulan sehari-hari non formal. Intinya bahasa Indonesia tetap dipergunakan di waktu dan tempat yang sesuai. Sebenarnya sih akan sama saja kalau kita pergi ke daerah lain, pasti akan terdengar orang bercakap-cakap dengan menggunakan bahasa daerah mereka, kan?

Setiap kota pasti punya keunikan tersendiri, pun halnya Surabaya. Salah satu keunikan Surabaya selain logat orang-orangnya yang medok, juga ragam bahasa yang jauh lebih banyak, karena meskipun Jawa adalah suku mayoritas yang ada di sana, Surabaya juga menjadi tempat tinggal berbagai suku bangsa di Indonesia, di antaranya suku Madura, Tionghoa, Arab, dan sisanya merupakan suku bangsa lain seperti Bali, Batak, Bugis, Manado, dll.


Membaca tweet di atas membuat saya jadi antara ingin tertawa dan menangis dalam waktu yang bersamaan :((. Duh, pelestarian budaya Jawa kan bukan ‘cuma’ dari memedokkan gaya bicara saja, Kak. Kalau cuma kaya begitu, apa kabar itu para bule yang mahir memainkan gamelan dan menari tarian daerah kita padahal mereka sehari-harinya bicara dalam bahasa asing? Aduh, jadi pengen tepokin jidatnya siapa gitu, deh 😐

Oleh kota mana pun predikat megapolitan itu nantinya akan disandang, biarkan dia berkembang sesuai dengan kultur masyarakatnya. Modernisasi toh bukan cuma diukur dari bahasa apa yang digunakan oleh mayoritas penduduknya, dan atau dari medok/tidak logat mereka, tapi harus dilihat secara holistik. Siapa tahu justru local wisdom justru bisa bersanding dengan modernisasi? Saya tinggal di sana sudah puluhan tahun, kalau ada yang bilang ada pemaksaan penggunaan satu bahasa kepada suku/ras lain yang ada di Surabaya, di mana letak pemaksaannya, ya? 😕

Kembali lagi ke konsep megapolitan, saya sempat membacanya di  . Saya kutipkan sedikit:

“Megapolitan adalah kota dengan ciri-ciri: (1) jumlah penduduk yang sangat besar; (2) jaringan yang tercipta menggambarkan keterkaitan bukan saja berskala nasional tapi juga internasional; (3) dari sudut ruang, menggambarkan adanya keterkaitan antar berbagai kota secara individual bahkan penggabungan.”

Bagaimana? Adakah di sana yang menyebutkan medok/tidaknya penduduk di suatu daerah menjadi parameter pantas tidaknya sebuah kota berstatus megapolitan? ;;) Ya siapa tahu predikat kota megapolitan selanjutnya justru bukan Surabaya, tapi kota lain di luar Pulau Jawa misalnya, secara fisik kota, infrastruktur, dan syarat-syarat lain-lainnya sudah terpenuhi dan siap dinyatakan sebagai kota megapolitan, apa iya hanya gara-gara masyarakatnya berlogat medok kedaerahan lantas predikat kota megapolitannya dicabut? Ya kan lucu.

Ok, mungkin Kei ingin menyampaikan hal yang jauh lebih luas dari apa yang sudah dia tuliskan kemarin, tapi berhubung cara/kalimat penyampaiannya ada yang kurang tepat akhirnya menimbulkan mispersepsi banyak pihak, dan parahnya dia sendiri jadi terjebak dalam logical fallacy.

Menyatakan ide/opini dalam bahasa tulis (yang dibatasi karakter) itu ternyata tidak mudah, ya? :p

Just my two cents

 

 

[devieriana]

 

ilustrasi dipinjam dari sini

Continue Reading

“Ibu kota yang ideal itu…”

Jakarta dikepung banjir. Selama beberapa hari topik itu menghiasi headline berbagai media, baik cetak maupun elektronik. Kalau banjir ‘biasa’ sih saya sudah pernah mengalami (walau tidak separah hujan di tahun ini), seperti di tulisan yang ini. Apalagi lalu lintas Jakarta yang hanya sepi kalau ada car free day itu membuat semakin parahnya kondisi lalu lintas ketika hujan turun.

Banjir kemarin benar-benar membuat saya melongo parah, inilah pertama kalinya saya mengalami langsung momentum banjir 5 tahunan. Beruntung tempat tinggal saya bukan daerah yang terkena banjir, tapi akses menuju kantor dan rumahlah yang banjir parah. Ya, pintar-pintarnya kita mencari jalur alternatif.

Di hari Kamis yang lalu, sepanjang jalan menuju ke kantor diguyur hujan lebat. Di sekitaran Tugu Tani dan Gambir bahkan sudah ada genangan, padahal waktu baru menunjukkan pukul 07.15 pagi. Tak heran, karena hujan memang sudah turun sejak dini hari. Sedikit panik juga sih, mengingat kendaraan saya berjenis sedan, kalau ada genangan agak tinggi sedikit khawatir kendaraan akan mogok :|. Kalau pun pulangnya saya harus naik angkutan umum juga sama ribetnya karena banyak alat transportasi massal yang tidak beroperasi akibat kesulitan menembus banjir.

Hujan yang mengguyur Jakarta dan sekitarnya hampir semalaman itu ternyata menyebabnya naiknya debit air di beberapa pintu air. Alhasil terjadi banjir dan (tentu saja) macet di mana-man. Banjir bukan hanya terjadi di jalan-jalan tertentu saja; hampir merata, bahkan istana pun tak luput dari banjir. Padahal di hari yang sama Presiden SBY ada jadwal menerima kunjungan kenegaraan Presiden Republik Argentina, Christina Elisabeth Fernandez de Kirchner. Pasti terbayang, betapa ribetnya suasana di istana ketika istana dikepung banjir menjelang penerimaan tamu negara, kan? Akhirnya demi kelancaran proses penerimaan tamu negara, pertemuan yang sedianya berlangsung pukul 10.30 itu pun diundur menjadi pukul 12.00. Nguras banjir dulu kali, Kak… 😐

Nah, beberapa hari yang lalu saya menyimak obrolan di salah satu radio swasta di Jakarta. Mereka mengusung topik obrolan, “Masih idealkah Jakarta sebagai ibu kota negara? Kalau sudah tidak ideal, sebaiknya ibu kota kita dipindah ke mana?” Jakarta adalah kota megapolitan yang semakin hari bukannya semakin hijau dan lengang tapi justru semakin macet, padat, rawan demo dan kriminalitas, juga merupakan flood plain (tampungan banjir). Banyak yang berpendapat kalau Jakarta sudah jauh dari kata ideal lagi untuk menjadi pusat pemerintahan sekaligus pusat bisnis. Di tahun 1957 sebenarnya Presiden Soekarno sudah pernah melemparkan wacana akan memindahkan ibukota RI ke Palangkaraya, Kalimantan Tengah. Secara jauh ke depan Soekarno berpikir bahwa seiring dengan perkembangan zaman, Jakarta tidak akan mampu menjalankan dua fungsi sekaligus sebagai pusat pemerintahan dan niaga; dan sepertinya pemikiran beliau itu mulai ada benarnya. Kenapa dipilih Palangkaraya? Selain berada di pulau terbesar di Indonesia, Kalimantan juga kebetulan berada di tengah gugus kepulauan di Indonesia. Hmm, kalau beneran jadi, berarti saya juga bakal pindah ke Palangkaraya dong, ya? 😕

Atau, sebagai opsi kedua, biarkan Jakarta tetap sebagai pusat pemerintahan deh, tapi pusat bisnis atau kawasan bisnisnya saja yang dipindah ke luar Jawa, tapi tentu dibangun dengan infrastruktur yang jauh lebih baik. Kalau memang alasan utama kenapa selama ini Jakarta menjadi pusat bisnis adalah karena Jakarta punya sarana dan prasana yang lengkap, yang  bisa mendukung jalannya bisnis, misalnya jalan tol, pelabuhan, pusat listrik, dan perbankan. So, kalau memang fasilitas-fasilitas itu yang menjadi alasan, seharusnya bisa dong dibangun sarana dan prasarana yang sama lengkap dan canggihnya di luar Jawa?

Namun, tentu saja wacana (lawas) pemindahan pusat pemerintahan dan pusat bisnis ini tidak semudah membalikkan telapak tangan. Butuh kajian mendalam dengan mempertimbangkan berbagai faktor. Kalau kita mau, mungkin sudah saatnya kita belajar dari negara-negara lain yang sudah memisahkan antara pusat pemerintahan dan pusat bisnisnya. Sebut saja Malaysia yang sudah membedakan pusat bisnis dan pusat pemerintahan, dari Kuala Lumpur ke Putra Jaya. Belanda, ibu kotanya adalah Amsterdam, tapi pusat pemerintahannya (termasuk perwakilan-perwakilan negara asingnya) ada di Den Haag. Australia juga memindahkan pusat pemerintahan dari Melbourne ke Canberra (Canberra dianggap ideal karena berada di antara Melbourne dan Sydney). Turki juga memindahkan pusat pemerintahannya dari Istambul ke Ankara. Pun halnya Amerika yang memindahkan pusat pemerintahannya dari New York ke Philadelphia, dan sekarang di Washington DC. Dan masih banyak lagi negara lain yang sudah melakukan pemisahan pusat pemerintahan dan pusat niaga.

Bagaimanapun penerapan terminologi ibu kota di setiap negara memang berbeda-beda. Namun pada prinsipnya makna ibu kota lebih merujuk pada suatu lokasi tempat kegiatan pemerintahan dipusatkan. Kalau di Indonesia, mengapa dulu Jakarta dipilih sebagai ibu kota karena merupakan kota yang dianggap paling memiliki kesiapan infrastruktur terutama dari peninggalan-peninggalan Belanda.

Nah, kalau memang wacana pemindahan ibu kota (pusat pemerintahan) itu jadi dilakukan, menurut kalian idealnya ibu kota kita itu dipindahkan ke kota mana? 😀

 

[devieriana]

 

 

foto dokumentasi pribadi

Continue Reading

Auld Lang Syne

Seperti tahun-tahun sebelumnya, menjelang akhir tahun biasanya saya bikin semacam rangkuman perjalanan selama satu tahun ke belakang.

Kalau dibanding dengan tahun-tahun sebelumnya, perjalanan di tahun ini relatif lebih anteng, mengalir, tidak ‘seheboh’ perjalanan di tahun-tahun sebelumnya. Tapi secara keseluruhan semua berjalan baik dan lancar.

Diawali di bulan Januari lalu, untuk pertama kalinya saya pergi agak jauh dari Jakarta, ke pulau paling luar Indonesia, Papua, untuk bertugas petugas protokol di acara pelantikan pejabat Unit Percepatan Pembangunan Provinsi Papua dan Provinsi Papua Barat.  Ada pengalaman unik selama kami di sana, yang berlaku di Jakarta, kalau pelantikan diagendakan berlangsung mulai pukul 09.00 wib, biasanya tim protokol akan sudah stand by minimal satu jam sebelumnya untuk mempersiapkan segala sesuatunya termasuk gladi bersih. Pengalaman kami yang kemarin di Papua justru sebaliknya, ketika kami sampai di Kantor Gubernur Papua ternyata pintu aulanya masih tertutup rapat, bahan ketika sudah dibuka pun kami dibuat terbengong-bengong karena sound system sama sekali belum siap, bahkan pejabat yang akan dilantik pun belum ada ;)). Ketika kami berlima ribet sendiri mengatur segala sesuatunya kami malah ditonton oleh para pegawai di lingkungan kantor gubernuran dari lantai 2. Intinya pelantikan di luar Jakarta ini menjadi pengalaman baru yang mengesankan untuk kami berlima. Bersyukur kami diberi kesempatan untuk bertugas di sana, dan berkesempatan menikmati keindahan alam Papua dari dekat walaupun kami di sana cuma 2-3 hari saja.

Bulan Februari menjadi bulan tersibuk bagi saya dan tim protokol pelantikan. Pernah dalam satu minggu penuh kami harus bertugas mulai Senin hingga Jumat dimulai dari Unit Kerja Presiden Bidang Pengawasan dan Pengendalian Pembangunan (UKPPPP) di hari Senin, keesokan harinya di Sekretariat Militer Presiden, hari Rabunya lanjut di Sekretariat Wakil Presiden, hari Kamis di Sekretariat Kementerian Sekretariat Negara, dan ditutup dengan hari Jumat di Sekretariat Dewan Pertimbangan Presiden (pukul 09.00), dan Sekretariat Presiden (pukul 15.30).Berasa pelantikan dengan sistem stripping ;))

Di bulan Maret ada pengalaman unik lainnya yang saya jalani. Unik karena baru pertama kalinya saya jalani. Keunikan lainnya lagi karena lokasi kegiatan berada jauh di belakang sebuah gedung tua yang lusuh dengan banyak  pohon besar yang berdiri tegak mengayomi lokasi itu. Ya, saya bersama Kak Starlian dan Kak Fiki diundang untuk berbincang seputar Indonesia Bercerita selama satu jam di RPK FM.

Bulan April tidak terlalu banyak kejadian istimewa, tapi ada satu kejadian yang mengesankan dan akhirnya membuat saya dengan para bapak Unit Keamanan Dalam itu lebih akrab. Sore yang macet dan ketika semua angkutan dialihkan demi menghindari kemacetan dan pemblokiran jalan di seputar Istana Merdeka dan Monas. Selama menunggu angkutan itu ternyata saya ditawari untuk pulang bersama salah satu bapak UKD. Tidak cuma itu, saya diantar sampai depan gang rumah dan sepanjang jalan itu saya tanpa helm, dong ;)). Kalau cuma jarak dekat sih mungkin masih nggak masalahlah ya…  *sungkem sama Pak Polisi*  Tapi ini mulai Jalan Veteran sampai Mampang Prapatan tanpa helm, bisa dibayangkan kan rambut saya sudah seperti apa? Yak betul, seperti Merlion kena badai tsunami! 😐

Mei 2012 tdak terlalu banyak kejadian yang unik, kecuali bertepatan dengan ulang tahun pernikahan orangtua saya yang ke-38. Happy anniversary, Pa, Ma! :-* >:D<

Bulan Juni adalah bulan spesial, apa lagi kalau bukan karena bulan Juni bertepatan dengan bulan kelahiran saya \:D/. Bukan perayaan yang heboh gimana, seperti biasa cuma makan bersama teman kantor dan keluarga, karena lebih dari itu doa dari semuanyalah yang jadi kado paling juara. Oh ya, terima kasih buat kado-kadonya, ya :-* >:D<

Di bulan ketujuh 2012 aktivitas relatif mengalir begitu saja, tidak ada kejadian superistimewa 😀

Seperti di tahun-tahun sebelumnya, bulan Agustus menjadi bulan istimewa untuk Indonesia, pun selalu menjadi moment istimewa untuk saya selama kurang lebih 3 tahun ini karena menjadi tugas tahunan menjadi petugas upacara 17 Agustus. Sebenarnya bukan moment jadi petugas upacaranya, tapi lebih ke moment ribet persiapan segala sesuatunya.

Apalagi biro saya merupakan pusat kegiatan tahunan ini, semua pegawai wajib ikut konsinyer menginap di kantor supaya tidak kesiangan sampai kantor  dan bisa stand by lebih pagi, mengingat hampir setiap tahun jalanan pasti ada pengalihan arus lalu lintas untuk persiapan upacara di Istana Merdeka. Beruntungnya tahun ini peringatan upacara 17 Agustus berdekatan dengan Hari Raya Idul Fitri, jadi jalanan sangat lengang karena sudah banyak yang mudik lebaran.

September 2012 menjadi bulan tersibuk bagi biro saya karena adanya ‘hajatan’ perekrutan pegawai negeri sipil. Memang tahun ini sebenarnya masih terhitung dalam masa moratorium, tapi karena banyaknya permintaan perekrutan CPNS di hampir semua kementerian di Indonesia maka jadilah tahun ini sebagai tahun perekrutan PNS nasional, walaupun jumlahnya masih dibatasi dengan kuota tertentu. Soal lobby-melobby jangan ditanya ada atau tidak. Banyak! :|. Tapi untungnya semua proses berlangsung dengan lancar, jujur, dan murni karena yang melakukan semua proses rekrutmen adalah pihak konsorsium 10 PTN seluruh Indonesia, sedangkan kementerian hanya sebagai pihak penyelenggara saja.
Kalau di kementerian kami dari sekitar 3000 sekian peserta yang ikut seleksi CPNS, setelah disaring dalam beberapa sesi tes, menghasilkan 11 orang yang akan dilantik sebagai CPNS Kementerian Sekretariat Negara tanggal 3 Januari 2013 nanti.

Selanjutnya, bulan Oktober, November, Desember juga relatif mengalir begitu saja, paling-paling bertambah parahnya kemacetan di Jakarta akibat hujan dan banjir, kecuali ketika bulan November lalu saya diikutkan lomba karaoke dan juara 3 :)) . Saya yakin dibalik kemenangan saya cuma ada 2 kemungkinan; kalau nggak jurinya pas khilaf, ya kasian ;))

Secara keseluruhan tahun ini saya lewatkan dengan baik, lancar, dan relatif tidak ada kendala apapun. Di penghujung tahun ini pun saya bisa melewatkan tahun baru bersama keluarga di rumah Surabaya. Sebuah moment berharga yang jarang saya lalui selama kurun waktu 5 tahun terakhir ini. Bersyukur untuk segala pencapaian dan kesempatan baik yang sudah saya lalui tahun ini. Untuk semua pengalaman kurang baik di tahun ini semoga menjadi pembelajaran berharga bagi saya di tahun-tahun yang akan datang.

Semoga tahun 2012a… eh… 2013 nanti akan menjadi tahun keberuntungan bagi kita semua [-o<

May your world be filled with warmth, joy, sweet surprises, and good cheer. To you and all your dear ones, Happy New Year! <:-P

[devieriana]

 

ilustrasi dipinjam dari sini

Continue Reading

Balada Macet

 

“Bukan Jakarta kalau nggak macet!”

Demikian kata-kata yang sering dilontarkan sebagai ‘pemakluman’ terhadap betapa padat dan parahnya lalu lintas di Jakarta. Mungkin sebenarnya bukan pemakluman, tapi sudah menjadi kepasrahan akut sebagian besar warga ibukota yang mau tidak mau harus berhadapan dengan kemacetan itu setiap hari.

Selama dua hari berturut-turut kemarin saya berhadapan dengan kemacetan  yang sungguh superb, perpaduan antara kepadatan menjelang long weekend ditambah dengan hujan deras disertai angin yang mendera Jakarta selama beberapa hari terakhir ini. Dan salah satu kemacetan itu menegangkan buat saya karena berhubungan dengan jam keberangkatan pesawat ke Surabaya.

Jumat lalu saya baru keluar kantor sekitar pukul 17.30. Cuaca di luar masih hujan gerimis setelah hujan mengguyur dengan deras disertai angin. Seperti biasa saya melangkahkan kaki menuju ke halte Harmoni untuk naik Transjakarta. Namun setibanya di depan loket ada sebuah pengumuman di secarik kertas yang menginformasikan penjualan tiket untuk ke arah Lebak Bulus dan Blok M ditutup (sementara waktu), dan bagi penumpang yang sudah terlanjur membeli tiket (mungkin untuk penumpang yang sudah terlanjur antre) uang tidak bisa dikembalikan. Penutupan loket itu mungkin karena adanya keterbatasan sarana Transjakarta, sekaligus untuk menghindari semakin menumpuknya antrean penumpang di kedua jurusan itu. Lah, terus saya pulang naik apa, dong? :((

Dari atas jembatan penyeberangan terlihat hujan masih deras mengguyur, jalanan tampak sangat padat, hanya sanggup merayap pelan. Kalau naik taksi pas macet seperti ini jelas bukan pilihan yang tepat, karena argonya bakal tidak bersahabat dengan dompet. Sementara itu di  bawah tangga jembatan penyeberangan yang biasanya banyak tukang ojeg parkir sore itu tak ada satu pun yang terlihat. Kalaupun ada, sepertinya nggak mungkin juga saya naik ojeg di saat hujan begini, apalagi saya belum sembuh dari flu berat sejak seminggu lalu .

Akhirnya saya memutuskan untuk jalan kaki ke Sarinah untuk naik Kopaja/Metromini. Dengan kaki yang agak lecet-lecet akibat memakai sepatu yang ber-hak saya pun berjalan kaki dari halte Harmoni menuju Sarinah menembus hujan. Sore itu untuk menuju ke rumah lumayan butuh perjuangan. Untung saya tidak sendiri, ada beberapa orang yang juga melakukan hal yang sama. Lumayan ya, Bo… sambil olahraga sore (walaupun nggak pernah ada olahraga yang pakai sepatu pantofel dan hujan-hujan seperti ini). Saya itu sebenarnya heran, kalau saya sudah menyiapkan ‘alat perang’ berupa sandal jepit di tas justru nggak sempat terpakai karena nggak pernah kehujanan. Tapi giliran saya nggak bawa sandal malah ada acara ‘gerak jalan sehat’ pakai pantofel begini… 😐

Nah, ternyata kisah kemacetan itu harus saya alami lagi dalam perjalanan menuju bandara Soekarno-Hatta di hari Sabtu kemarin. Jam keberangkatan pesawat saya tertera pukul 18.35 wib. Di luar cuaca hujan, langit tampak gelap disertai petir, dan jalanan macet luar biasa karena banyak terjadi genangan di sana-sini. Saya sudah berada di jalanan sejak pukul 15.45.  Kalau jalanan normal seharusnya saya tiba di bandara jauh sebelum jam keberangkatan. Wajah saya berubah tegang ketika waktu sudah menunjukkan pukul 17.30 wib dan posisi saya masih merayap di sekitaran Semanggi. Saya coba telepon ke callcentre maskapai penerbangan yang saya naiki, petugasnya menginformasikan kalau jadwal perjalanan masih normal, belum ada informasi delay, paling lambat check in pukul 18.30 wib. Waduh! Makin paniklah saya ~X(. Kalau melihat kemacetan yang luar biasa ini sepertinya mustahil saya bisa sampai di bandara tepat waktu. Saat itu saya cuma bisa pasrah dan berdoa semoga diberikan kemudahan; berharap ada keajaiban, setidaknya pesawatnya delay deh [-o<. Baru kali ini kan ada yang berharap pesawat delay? Biasanya kalau delay kan ngomel, ya?

Berkali-kali saya coba refresh web bandara untuk meng-up date informasi jadwal penerbangan sambil berdoa semoga informasi yang tertera untuk penerbangan saya tertulis ‘delayed’. Di tengah-tengah kepanikan saya itu, tepat di depan gedung DPR/MPR tiba-tiba saya melihat informasi yang tertera untuk penerbangan saya menjadi “delayed 20.03” \m/. Alhamdulillah! Barulah muka saya yang diliputi ketegangan sejak berangkat tadi menjadi sedikit cair \:D/.

Sampai di terminal 2F tepat pukul 18.20. Saya langsung check in dan memastikan apa benar pesawat saya delay atau tidak. Ternyata beneran delay sampai pukul 20.03 wib. Pffiuh… lega rasanya. Akhirnya saya jadi pulang juga ke Surabaya, setelah sebelumnya membayangkan tiket pesawat saya bakalan hangus karena sudah ketinggalan pesawat :|.

Di ruang tunggu F7 itu sudah penuh terisi penumpang yang akan berangkat ke Semarang dan Surabaya. Ternyata bukan cuma penerbangan saya saja yang mengalami delay, ada beberapa jam penerbangan yang juga mengalami delay. Ya setidaknya saya punya teman senasib sepenanggungan. Untung ada kompensasi berupa makan malam dan teh manis hangat :-bd

Saking seringnya berhadapan dengan kemacetan, (mungkin) lama-lama orang (baca: warga Jakarta) mulai berkompromi. Kalau meniadakan kemacetan sepertinya kok nggak mungkin ya, kecuali setiap hari ada car free day :p. Tapi  hal yang masih bisa dilakukan agar terhindarkan dari kemacetan (ini juga catatan bagi diri saya sendiri) ya dengan berangkat jauh lebih awal. Istilahnya sih mending datang di tempat acara kepagian, ketimbang terlambat, lalu menggerutu dan menyalahkan kemacetan sebagai biang keterlambatan.

Jadi ingat kejadian ketika saya harus menunggu salah satu klien yang keukeuh minta ketemu untuk meeting pukul 17.00 wib di sekitaran Sarinah tapi baru datang pukul 19.00 wib dengan alasan klise “macet”, sementara meeting-nya sendiri cuma berjalan 30 menit, dan muka saya sudah kuyu karena terlalu lama menunggu.

Untuk mengantisipasi terjebak dalam kemacetan mungkin benar apa yang pernah iseng saya twit waktu itu:

:-<

Kalian pernah punya cerita kemacetan apa?


[devieriana]

 

ilustrasi dipinjam dari sini

Continue Reading

Suara yang menggelegar itu…

Kalian pernah nggak ada dalam sebuah situasi di antara sekian banyak orang, lalu mendadak ada orang yang teleponan kenceng banget kaya pakai megaphone? Pernah? Saya juga mengalaminya beberapa hari yang lalu.

Seperti biasa, saya pulang kantor menggunakan Transjakarta yang banyak penggemarnya itu. Ketika saya datang, kondisi antrian di halte Harmoni memang sudah mengular, tapi belum terlalu panjang. Di depan saya berdiri seorang wanita paruh baya, berjilbab, berperawakan sedang, yang tengah sibuk smsan. Beberapa saat kemudian dia terdengar sedang menghubungi seseorang dalam bahasa Padang yang kental. Awalnya sih belum terlalu ‘mengganggu’, tapi beberapa saat kemudian entah kenapa mendadak suara ibu itu mendadak naik satu oktaf lebih tinggi.

“OOOH, JADI ANAKNYA IDA LEMAN LAHIRAN? KAPAN? OH, HARI INI? OKE, OKE… YA UDAH… YUK, BYE…!”

Beberapa orang termasuk saya spontan mengernyitkan dahi sambil melirik ke arah ibu itu. Mungkin mereka sepemikiran dengan saya, ibu ini kok  lebay bnaget ya? Emang nggak bisa ya volume suaranya biasa aja, gitu? Sepintas seolah ingin pamer kalau dia kenal dengan seorang publik figur (yang mungkin saat ini tidak banyak orang yang tahu karena sudah banyak bermunculan artis baru). Belum hilang kelebayan yang tadi, ibu itu bergumam, tapi malah lebih mirip sedang memberi pengumuman ketimbang menggumam.

“Wah hebat, Ida Leman punya cucu lagi! Hari ini anaknya lahiran. Hari ini… berarti tanggal 10 Desember ya, jam 4 tadi lho! Wah, salut! Salut!” *manggut-manggut*

Dalam hati saya mulai ngedumel, “Nih Bu ya, biar kata yang lahiran itu Ida Leman, Ida Royani, Ida Kusuma, Ida Jubaeda… atau Elya Khadam sekalipun, volume suaranya nggak perlu segitu kencengnya kali! &*^%$#@(*&^+~?!  =;”

Apakah itu saja kehebohan yang dimunculkan oleh ibu itu? Tentu tidak. Itu baru sebagian saja. Karena kehebohan lainnya terjadi ketika dia menelepon koleganya yang lain untuk mengabarkan hal yang sama. Bedanya, kali ini sambil koordinasi orderan syuting iklan.

“HALOH! EH, KAU SUDAH TAHU KALAU ANAKNYA IDA LEMAN SORE INI BARU LAHIRAN? IYO… AKU TADI BARUSAN TELEPON, KATANYA DIA MASIH SIBUK NGURUSIN ANAKNYA… IYO, KAKAKNYA MORIN… EH, KAPAN MULAI SYUTING IKLAN BEBI PODER? UANGNYA ADA DI AKU INI… AKU TRANSFER DULU 3 JUTA, YA?”

Ternyata beberapa orang sudah terlihat geregetan, karena sudah ada yang bilang, “hih, lebay!”, “berisik banget sih!”. Tapi ibu itu seolah cuek saja dengan kondisi sekitarnya. Mungkin dia pikir sedang teleponan di hutan rimba 😕

“OH, SYUTING YANG KEMARIN BATAL LAGI? HALAH, ARTIS SEKARANG ITU MANJA-MANJA! KEMARIN ADA YANG TIBA-TIBA NGEBATALIN SYUTING CUMA GARA-GARA MASUK ANGIN! MASUK ANGIN AJA NGELUHNYA UDAH KAYA ORANG MAU MATI! AKU AJA NIH YA… YANG UDAH 37 TAHUN DI DUNIA ENTERTEINMEN NGGAK PERNAH TUH NGELUH-NGELUH CEMEN KAYA GITU! MASA KERJA DI DUNIA ENTERTEINMEN KOK FISIKNYA NGGAK TAHAN BANTING GITU! [-(“

HAH? Apah?! Waduh, sebagai seorang entertainer sejati saya jadi kesindir nih. Masa fisik saya dibilang nggak tahan banting. Jadi pengen ngangkat lemari! \m/

Tak cukup sampai di situ kehebohan si ibu itu, ternyata di dalam bus pun masih berlanjut telepon-teleponan dengan berbagai orang dengan beragam tema seputar dunia entertainment. Hmm… iya deh, yang sudah berkarir selama 37 tahun di dunia enterteinmen… 8-|

Saya sering menjumpai ‘fenomena’ semacam ibu-ibu tadi. Ada yang bertelepon dengan suara sangat lantang sampai semua yang ada di tempat itu tahu isi percakapan yang diobrolkan. Mulai soal syuting, soal transfer-mentrasfer (apalagi kalau nominalnya puluhan hingga ratusan juta), dll. Entah memang tipikal orangnya yang seperti itu, atau diam-diam ada tendensi tujuan tertentu misalnya untuk pamer.

Kalau untuk kasus ibu yang tadi sih cukup membuat dahi berkernyit, masa sih kita nggak bisa mengukur suara sendiri? Kalau memang kondisi di sekitarnya ramai, mungkin akan dimaklumi kalau kita menelepon dengan suara yang keras karena orang yang di ujung telepon sana kurang mendengar dengan jelas suara kita. Tapi kalau dalam situasi yang tenang, kenapa tidak ngobrol saja dalam volume suara yang normal, jadi obrolan antara 2 orang di telepon tidak sampai jadi konsumsi orang banyak. Apalagi kalau itu cuma urusan pekerjaan atau obrolan tentang orang-orang yang cuma mereka saja yang tahu ya apa gunanya ‘diperdengarkan’ ke banyak orang? Menurut saya ini masalah etika berkomunikasi sih.

Nah, sebelum postingan ini saya tutup, pertanyaan superpenting di postingan ini adalah: siapa sebenarnya ibu itu? 😕

[devieriana]

 

ilustrasi dipinjam dari sini

Continue Reading