Bukan Jakarta kalau…

traffic-jam

…nggak macet!

———-

Demikian seloroh klasik hampir semua orang yang mengomentari betapa macetnya lalu lintas di Jakarta. Seolah ingin menggambarkan bahwa macet dan Jakarta adalah dua buah kata identik yang sudah lumrah dan jamak. Kalau Jakarta sepi, lengang, seperti halnya suasana beberapa hari menjelang Lebaran malah aneh, karena Jakarta itu terlanjur identik dengan macet.

Sudah hampir sepekan ini Jakarta dilanda kemacetan yang luar biasa parahnya. Bukan hanya dirasakan oleh pengguna kendaraan pribadi saja, tapi juga dirasakan oleh seluruh pengguna jasa layanan angkutan umum. Tingginya volume kendaraan yang melintas makin memperburuk kondisi lalu lintas, belum lagi cuaca hujan hingga menyebabkan banyaknya genangan di beberapa ruas jalan, makin memperparah kondisi lalu lintas di ibu kota tercinta ini.

‘Penderitaan’ yang dirasakan bukan hanya kaki yang pegal-pegal karena terlalu lama berdiri, dan waktu yang terbuang di jalanan lebih lama, tapi juga bahan bakar yang terhambur jadi lebih banyak, ditambah dengan ke-BT-an tingkat tinggi yang menyergap hampir semua yang terjebak di kemacetan. Sepertinya orang yang hidup di Jakarta itu harus punya stok kesabaran, ketabahan, dan daya tahan tubuh yang luar biasa untuk berjuang menghadapi kemacetan setiap harinya.

Bayangkan, dengan kondisi fisik dan psikis yang lelah karena sudah seharian beraktivitas di kantor masih harus ditambah dengan lamanya waktu tempuh menuju rumah yang lebih lama. Sesampai di rumah pun cuma sempat istirahat ala kadarnya, karena besok paginya harus bangun lebih awal, dan kembali berkejaran dengan waktu supaya tidak terlambat di kantor.

Beruntung hari Jumat kemarin saya memutuskan untuk pulang tepat waktu, sehingga antrean di halte Transjakarta belum terlalu padat, masih dapat tempat duduk, begitu pula level kemacetan jalan raya masih dalam batas ‘wajar’. Level wajar di sini maksudnya kendaraan masih bisa jalan di tengah kemacetan, tidak sampai stuck dan berhenti dalam waktu yang lama. Di saat saya sudah leyeh-leyeh di rumah, di twitter dan status bbm teman-teman saya bermunculan keluhan terjebak kemacetan di mana-mana,  ada yang keluar kantor pukul 16.15 tapi sampai di rumah hampir pukul 22.00 WIB, bahkan ada yang menjelang pukul 24.00 WIB! Epic, ya? 😐

Banyak orang yang ‘menyalahkan’ makin macetnya Jakarta akhir-akhir ini salah satunya disebabkan karena adanya sterilisasi jalur busway. But, hey… bukankah macetnya Jakarta bukan baru terjadi sehari dua hari ini? Toh, meski sudah ada peraturan tentang sterilisasi jalur busway nyatanya masih banyak juga kendaraan yang masuk ke jalur busway, apalagi ketika jalur jalanan normal sudah sangat padat, satu-satunya ‘alternatif’ untuk bisa tetap jalan ya masuk ke jalur busway. Oh ya, satu lagi. Trotoar. Pffft!

Kondisi seperti itu sih masih ‘mending’. Bagaimana kalau misalnya Transjakarta mengalami trouble di tengah jalur karena mesinnya tergenang air/mati, sementara itu di belakang bus berderet antrean kendaraan yang bermaksud mengambil kesempatan jalur bebas hambatan. Mau tidak mau mereka ikut berhenti total karena beberapa separator busway yang sengaja dibuat tinggi itu tidak memungkinkan mereka untuk memotong jalur seperti dulu. Tidak ada jalan lain selain ikut pasrah menanti hingga Transjakarta selesai diperbaiki. Nah, makin PR lagi, kan?

Tapi beruntung kemarin saya tidak coba naik angkutan alternatif yaitu shuttle bus. Memang sedikit agak lama menunggu shuttle bus itu lewat di Sudirman, tapi daripada saya terjebak di halte Harmoni selama berjam-jam karena ternyata Transjakartanya tidak beroperasi untuk sementara waktu lantaran banjir di sekitar Kampung Melayu, yah well… saya diam-diam bersyukur, walaupun sampai rumah hampir pukul sembilan malam 😐

Jadi ingat beberapa baris kalimat dari Seno Gumira Ajidarma dalam salah satu tulisannya yang bertajuk Menjadi Tua di Jakarta,

“Alangkah mengerikannya menjadi tua dengan kenangan masa muda yang hanya berisi kemacetan jalan, ketakutan datang terlambat ke kantor, tugas-tugas rutin yang tidak menggugah semangat, dan kehidupan seperti mesin, yang hanya akan berakhir dengan pensiun tidak seberapa”

Soal bertahan hidup di Jakarta, menjadi Homo Jakartensis, menjadi sosok-sosok yang mengembara dalam pencarian, sebenarnya cuma masalah pilihan. Kalau ternyata masih kuat bertahan hidup di sini ya silakan dilanjut dengan segala konsekuensinya. Tapi kalau sudah tidak kuat ya silakan lambaikan tangan ke kamera… :mrgreen:

Btw, kapan ya jalanan di Jakarta suasananya mirip seperti car free day setiap harinya?
*tidur lelap*

 

[devieriana]

ilustrasi dipinjam dari sini

Continue Reading

Pilih mana?

career-choices-2

Di sebuah pagi, saya mengetik pesan di smartphone sambil sesekali menyesap secangkir teh poci di kantin,

“Bro, lagi di mana, Bro?”

“Hahaha, aku lagi di kementerian anu, lagi nunggu giliran :D”

“Giliran? Maksudnya kamu lagi ada kerjaan di sana?”

“Nunggu giliran buat ikut test CPNS, sesiku masih nanti, jam 09.40. Hihihik… Doain yak!”

Saya yang awalnya ingin menanyakan hal yang lain, jadi surprise sendiri. Bukan
apa-apa, selama ini saya mengenal dia sebagai sosok yang paling anti sama hal yang berbau tes CPNS-CPNS-an, di setiap kalimat yang keluar dari bibirnya sama sekali tidak tergambar keinginan untuk menjadi seorang PNS. Pokoknya emoh ajalah. Nah, kalau tiba-tiba mendengar dia ikut test CPNS ya jelas heran. Ada angin apa kiranya sehingga dia tertarik untuk ikut tes CPNS?

Peserta ujian CPNS itu dari berbagai kalangan, kalau bukan fresh graduate, yang belum bekerja sama sekali, atau yang sudah bekerja. Motivasinya pun bermacam-macam, ada yang cuma iseng, ingin mencoba kemampuan/peruntungan, tapi banyak juga yang memang serius ingin cari kerja.

Seperti beberapa waktu yang lalu, saya dicurhati seorang teman via email. Dia mengaku sedang galau karena ‘terjebak’ dalam excitement akan diterima sebagai CPNS di salah satu kementerian (sudah sampai tahap interview user). Tapi uniknya di saat yang sama dia masih sangat nyaman dengan posisi dan lingkungan tempat dia bekerja sekarang. Bermula dari iseng dan sekadar ingin mengukur kemampuan diri sendiri secara rutin dia mengikuti tes CPNS selama 3 tahun berturut-turut. Hingga akhirnya tahun ini dia dinyatakan lolos seleksi Tes Kemampuan Dasar dan berhak ikut tahap selanjutnya. Melihat pengumuman itu mendadak dia galau sendiri; galau membayangkan bagaimana kalau setelah dijalani ternyata menyandang status sebagai PNS itu tidak sesuai dengan harapan dan jiwanya. Bagaimana kalau ternyata menjadi PNS itu pekerjaannya jauh lebih membosankan dibandingkan dengan pekerjaannya sekarang; dan banyak lagi ‘bagaimana-bagaimana’ lainnya. Ya wajar sih, karena di dalam mindset-nya PNS masih identik dengan birokrasi yang ribet, mengurus apa-apa sulit, belum lagi dari segi materi dan budaya kerja yang menurut dia masih kalah jauh dari swasta.

Kita sederhanakan saja, sebenarnya semua pekerjaan itu pasti ada sisi positif dan negatifnya; tergantung dari sisi mana kita melihat, kan? Begitu juga dari segi tantangan kerja dan pendapatannya. Kalau orang Jawa bilang, “urip kuwi sawang sinawang”, cuma melihat kulit luarnya saja…
*benerin blangkon*

Tapi ada kalanya kita butuh move on ketika pekerjaan yang sekarang dirasakan kurang memberikan kenyamanan, atau kita butuh pengalaman yang jauh lebih menarik/menantang, atau kita butuh pengembangan karir yang lebih signifikan. Ya kenapa tidak? Mungkin ini saatnya kita mengajukan pengunduran diri. Banyak kok yang sudah enak kerja di swasta, malah resign dan jadi PNS atau berwiraswasta. Pun sebaliknya, ada yang awalnya jadi PNS lalu resign dan melamar kerja di perusahaan swasta/BUMN karena katanya lebih sesuai dengan jiwanya.

Pekerjaan itu seperti jodoh; cocok-cocokan. Awal mula saya menjadi PNS juga sempat stress sendiri karena harus merasakan perubahan yang sangat drastis; baik secara lingkungan, sistem kerja, gaji, budaya kerja, dan lain-lain. Soal pindah tempat kerja memang bukan hal baru buat saya, tapi karena kebetulan bidang pekerjaan yang saya isi sebelumnya masih saling berkorelasi jadi penyesuaiannya tidak terlalu sulit.

Soal cocok-cocokan tadi, kalau memang setelah dijalani ternyata pekerjaan itu dirasa kurang nyaman, kurang ada tantangannya, atau karirnya dirasa kurang berkembang, ya sudah, tinggal mengajukan surat pengunduran diri saja. Atau, kalau ternyata yang di dalam mindset kita kisarannya masih di besaran gaji, ya mungkin inilah saat yang tepat untuk berkarir di sektor swasta karena jelas lebih menjanjikan pendapatan yang lebih besar daripada menjadi PNS. Seperti yang pernah saya tulis di sini 😉

Jadi, gimana? Masih galau? 😀

 

[devieriana]

ilustrasi dipinjam dari sini

Continue Reading

Marah di Socmed?

emoticon

Twitter, Facebook, Path, Instagram. Atau sebut saja semua nama situs pertemanan yang ada; sengaja dibuat agar komunikasi antarpersonal menjadi jauh lebih mudah. Salah satu persamaan situs-situs tersebut adalah adanya fasilitas bagi para penggunanya untuk menuliskan apapun yang mereka lihat, rasakan, dengar, dan lakukan ke dalam sebuah kolom khusus untuk up date status, di mana mereka bisa saling berinteraksi dan langsung mendapatkan respon balik dari pemilik akun lainnya.

Keberadaan social media membuat up date status menjadi bagian dari gaya hidup. Hampir semua kegiatan bisa jadi bahan untuk up date status. Saat jatuh cinta, up date status. Kangen, up date status. Galau, up date status. Marah, up date status. Meeting, up date status. Lagi ngopi-ngopi cantik atau makan-makan di tempat tertentu, up date status. Bahkan sampai lapar dan kebelet ke belakang pun sempat-sempatnya up date status. Luar biasa sekali penemu ide kolom up date status ini! 😆 Karena kebetulan memang sebelumnya mungkin belum terbersit dalam pikiran kita metode apa yang kira-kira bisa mengeluarkan apa yang dipikirkan secara cepat dan mudah… :mrgreen:

Bak pisau bermata dua, keberadaan social media ini punya sisi positif sekaligus negatif. Ketika social media digunakan untuk berbagi hal-hal yang positif, dia akan memberikan manfaat bagi para penggunanya; tapi sebaliknya, ketika social media digunakan untuk hal-hal yang negatif tentu efeknya akan mengikuti.

Saya pibadi, sejak awal membuat akun di social media memang sengaja cuma untuk berbagi hal-hal yang menyenangkan saja; tidak ingin menuliskan status bernada kemarahan atau galau. Bukan apa-apa, sayanya yang malu :mrgreen:. Lebih sering meng-update status lucu ketimbang status yang serius. Pernah sih sesekali memosting hal-hal serius kalau memang diperlukan.

Sebagai pengguna social media tentu tak asing dengan berbagai status yang berhamburan di timeline socmed kita. Tidak melulu hal-hal yang positif/lucu, tapi pasti juga status-status kemarahan dan emosi. Berbeda dengan galau yang kadang masih saya maklumi, lebih sering bertanya-tanya mengapa seseorang harus menuliskan kemarahan dan caci maki di social media? Kalau memang punya masalah dengan seseorang kenapa tidak diselesaikan saja melalui media yang lebih pribadi, bukan di media terbuka seperti Twitter, Facebook, atau Path? Talk in person.

Social media bisa menjadi alat yang hebat jika digunakan secara benar dan produktif. Tapi kalau kita justru menghabiskan terlalu banyak waktu di sana, sama saja kita mengisolasi diri sendiri. Salah satu trainer saya pernah bilang,

“sekarang ini kita terlalu dikerdilkan oleh sebuah alat bernama gadget. Bahkan ketika berkumpul bersama pun yang terlihat adalah orang-orang yang asyik menekuri gadget masing-masing.”

Iya juga sih. Seringkali menghadapi sebuah situasi di mana beberapa orang sedang berkumpul tapi wajahnya pada menunduk terkonsentrasi ke gadget masing-masing. Bahkan saya sendiri pernah ada di sebuah meet up tapi malah asyik mention-mention-an sama peserta meet up yang lain 😆

Sering berlintasan di kepala saya ketika melihat seseorang yang menulis status marah-marah di social media:

“Apa sih menariknya melihat tulisan capslock berbalas capslock? Apa bagusnya sih memarahi orang lain di social media? Apakah ingin menunjukkan kalau pemilik akun lebih superior, sementara yang lain lebih subordinat?”

Di manapun itu, ketika seseorang dalam kondisi sedang marah, mereka cenderung sulit untuk berpikir secara logis karena dikuasai oleh emosi. Di situlah bahayanya sebuah media komunikasi instan ketika berada di dalam genggaman seseorang yang sedang marah dan lepas kontrol.

Sama seperti lainnya, saya pun pernah mengalami hal-hal menjengkelkan. Tapi ketika saya ingin memosting ’emosi’ saya ke social media, selalu terjadi dialog dengan diri saya sendiri. Apa iya saya benar-benar menginginkan emosi, kemarahan, dan konflik saya dengan orang lain itu layak ‘dipertontonkan’ di depan umum? Atau, perlukah seluruh follower dan orang-orang yang ada di friend list saya tahu kegalauan saya? Is it worth the energy? Kalau ternyata jawabannya ternyata lebih banyak tidaknya, ya berarti mungkin memang tidak perlu.

Obrolan di BBM, sms, atau chat di media lainnya pun sebenarnya berpotensi menimbulkan kesalahpahaman. Tidak semua orang punya kemampuan yang bagus dalam berkomunikasi, menerjemahkan apa yang dimaksud ke dalam bahasa tulis, sekaligus memilih diksi yang tepat agar mudah dipahami oleh lawan bicara. Sebaliknya, tidak semua orang punya kemampuan yang cepat dalam memahami maksud kita. Karena ketika dikomunikasikan ke dalam bahasa tulis, seringkali isyarat verbal dan non-verbal menjadi ‘hilang’ esensinya. Itulah mengapa saya sebenarnya lebih memilih bertemu langsung atau menelepon yang bersangkutan untuk menjelaskan apa maksud saya supaya tidak terjadi kesalahpahaman yang berlarut-larut.

Kebanyakan kita menggunakan social media untuk berjejaring, menambah teman, dan untuk tujuan positif lainnya, kan? Kalau kita lebih sering memosting status-status bernada kemarahan, apa iya memang itu ‘pesan’ yang ingin kita sampaikan kepada teman, kolega, dan follower kita; bahwa kita adalah seorang hot headed? Is this the message that you really want to deliver?

Think again 😉

[devieriana]

sumber ilustrasi dari sini

Continue Reading

Welcome, supershort haircut!

hair-cutSebenarnya sudah lama saya ingin punya rambut pendek lagi pascamenikah. Dulu, rambut saya hampir selalu pendek; kurang lebih seperti rambut Demi Moore di film Ghost. Rasanya lebih ringan dan cenderung nggak ribet kalau punya rambut segitu. Nggak perlu waktu lama untuk menata rambut, bahkan disisir pakai tangan saja rasanya sudah terlihat stylish. Dasar pemalas! :mrgreen:

Terakhir punya rambut cepak sekitar tahun 2007, setelah itu selalu ‘gondrong’; paling pendek sepanjang bahu, itu pun kalau ingin potong rambut lebih pendek lagi izinnya akan lebih ribet daripada pengurusan KTP. Jadi ya sudahlah daripada urusannya panjang, mendingan sementara saya pendam dalam-dalam keinginan saya untuk berambut cepak lagi. Karena toh rambut panjang pun masih bisa dibikin stylish dengan model curly di ujungnya, diluruskan, diikat/kepang, dibikin pony tail, digelung, dll; hibur saya dalam hati. Jadi, begitulah gaya rambut panjang saya dalam beberapa tahun terakhir ini.

Setiap kali melihat perempuan berambut pendek, rasanya gatal ingin potong rambut segitu juga. Tapi kalau melihat sudah sepanjang apa rambut yang saya punya kok jadi agak sayang ya. Rambut saya jarang dipotong, pergi ke salon cuma untuk keperluan treatment atau sekadar merapikan model potongannya saja. Kebayang kan seberapa panjang rambut yang saya punya? Iya, panjang banget! *lebay* . Nggak ding, kurang lebih sepingganglah kalau dicatok lurus 😆 Pertimbangan lainnya mengapa saya begitu ‘ngidam’ punya rambut pendek, karena rambut saya mulai banyak yang rontok. Beruntung saya memiliki helaian rambut yang tebal, jadi serontok-rontoknya rambut saya masih terlihat banyak dan megar. Padahal kalau sedang menyisir ya lumayan merasa ngenes juga melihat jumlah helai rambut yang rontok dari kulit kepala saya :(.

Nah, entah ada angin apa, tiba-tiba saya mendapat izin untuk potong rambut. Yaaaay! Mungkin dia lama-lama jengah juga tiap mendengar kata-kata saya ingin punya rambut pendek. Jadi ya sudahlah, terserah deh, rambut-rambut kamu ini. Yess! Kesempatan ini saya manfaatkan dengan maksimal. Akhirnya dengan kemantapan hati yang nyaris 1000% ditambah dengan rasa deg-degan yang lumayan lebay, saya melangkahkan kaki menuju ke salah satu salon di Pejaten Village, Jakarta Selatan.

Kenapa pakai deg-degan segala? Ya karena saya sudah terbiasa melihat diri sendiri dengan tampilan rambut panjang; dan dalam beberapa waktu ke depan saya harus siap melihat hal yang akan mengubah keseluruhan penampilan saya. Itu juga kalau hasilnya bagus, kalau ternyata kapsternya salah potong model rambut dan saya kembali berpenampilan seperti mbak-mbak Briptu seperti dulu, bagaimana? 😐

Setelah memutuskan di salon mana rambut saya akan ‘dibantai’, akhirnya di sinilah saya, duduk di kursi customer, siap untuk dieksekusi.

“Ok, ini rambutnya mau digimanain? | Dipotong pendek 😀 | Ok, seberapa pendek? *sambil memegang dan mengurai rambut saya yang masih tergelung pakai jepit rambut* | Hmm,  kalau sependek rambutnya Fenita Arie, bagus nggak? :mrgreen:  | What, serius? Bagus sih, tapi ini rambutnya panjang banget lho. Yakin mau dipotong sependek itu? 😮 | Iya 😀 | Baru kali ini nih saya dapat customer yang ditanya pengen potong rambut sependek apa dan dia yakin potongnya langsung pendek banget. Biasanya sih selalu ada kata-kata, “jangan pendek-pendek ya, Mas”. Kalau Mbak minta langsung cepak. Ya udah, tunggu sebentar, aku ambil karet gelang ya… :)”

Mas kapster itu mengambil karet gelang di meja receptionist, mengikat rambut saya, dan… “Kress! Kress! Kresss!”, suara gunting terdengar begitu dekat di telinga, memangkas rambut panjang saya.

“Ok, ini rambut Mbak. Mau dibawa pulang? | Oh, boleh ya? | Ya bolehlah, lagian di sini juga buat apa, nanti juga dibuang… | Yah, jangan dong kalau dibuang, ya udah deh, sini buat aku lagi! :lol:”

Selanjutnya, dia basahi rambut saya ala kadarnya dan dengan cekatan rambut saya pun ‘disulap’ sedemikian rupa tanpa banyak komentar kecuali, “rambutnya tebel juga ya…” Dalam hitungan tak kurang dari 15 menit penampilan rambut saya pun berubah.

Dengan perasaan excited saya mengacak-acak rambut yang baru saja selesai dipotong itu. Inilah model rambut yang saya saya inginkan selama beberapa tahun terakhir ini. Setelah melalui beberapa tahap ‘pengolahan’, tibalah pada saat finishing touch.

Voila!

devi short

Sepertinya mas kapster ini tahu betul apa yang saya mau. Tanpa perlu saya beri arahan tertentu, dia sudah langsung memberikan model rambut seperti yang saya inginkan 😀

Reaksi teman dan keluarga melihat saya berubah tatanan rambut tentu saja beragam, tapi sejauh ini masih positif, walaupun pertanyaan, “nggak sayang tuh rambut sepanjang itu dipotong jadi sependek itu?” selalu menyertai hampir di setiap komentar.

Entah apa komentar teman-teman kantor saya besok, karena kami belum bertemu sejak hari Sabtu; kan ada Senin ada cuti bersama menjelang Idul Adha :mrgreen:

So, welcome back my supershort haircut!

[devieriana]

 

ilustrasi dipinjam dari sini dan pribadi

Continue Reading

Balada Cincin Berlian

diamond ring

Di suatu siang, di tengah kesibukan saya menyelesaikan berkas yang menumpuk di meja, tiba-tiba smartphone saya berbunyi lirih. Sepintas terlihat nama seorang teman dari biro sebelah. Hmm, tumben dia bbm; biasanya jarang banget kalau nggak ada perlu/nanya sesuatu 😀

Teman: Hei, Mbak… Kamu suka cincin, nggak?

Saya: Hmm, suka… Aku suka pakai aksesoris-aksesoris gitu. Cincin apaan?

Teman: Nah, kalau gitu kebetulan banget dong, aku ada cincin berlian nih, Mbak. Mbak mau nggak? hehehe….

WHAT?! Siang-siang begini tiba-tiba ditawari cincin berlian? 😮

Saya: Bentar, bentar, kamu ini nanya, mau ngasih, apa mau jualan? :mrgreen:

Teman: Hihihihihik, mbak mau liat nggak? Ada sertifikatnya kok, Mbak….

Saya: Wah, jualan nih kayanya 😆

Teman: Kinda, Mbak :lol:. Ya, namanya nyoba bisnis kecil-kecilan, Mbak…

Saya: Kalau bisnis berlian aja disebut bisnis kecil-kecilan, gimana bisnis gede-gedeannya? Jual langsung di tambangnya kaya grosiran gitu? 😆

Teman: Cuma bantuin bisnisnya mertua aku, Mbak…

Saya: Kamu tuh, mbok ya kalau nawarin berlian itu ke ibu-ibu deputi, Bu Menteri, atau ibu-ibu pejabat lainnya gitu. Nawarin berlian kok ke staf Kepala Biro. Udah gitu nawarinnya nggak pakai kira-kira, yang paling gede pula berliannya 😆

Teman: Hahahahak, kemarin aja aku bawa 6 buah ke kantor, cuma sisa 1 yang paling besar dan paling bagus. Menurutku sih modelnya ok banget!

Saya: Laris amat? 😮 Emang harganya berapaan sih? Bisa dicicil lewat koperasi, nggak? :mrgreen:

Teman: Murah kali, Mbak. Dari mertua aku harganya 22,5 juta. Mbak mau ambil berapa? Buat mamanya Mbak juga gapapa, kok. Kemarin aku bawa cincinnya lengkap, tapi aku lupa mau nawarin ke Mbak 😀

Eh, buset dah ya, demi apa siang-siang begini ditawari cincin berlian seharga dua puluh dua setengah juta? Habis beli berlian trus saya harus puasa, gitu? 😮

Iseng saya cerita ke salah satu teman di kantor yang kebetulan mengurusi masalah simpan pinjam di kantor, beliau komentar,

“Kan kalau pinjaman yang kemarin di-approve masih ada kembaliannya tuh, Dev. Udah, beli aja! Cuma 22,5 juta ini! :mrgreen:”

Hih, kompor!

Lain lagi dengan komentar salah satu teman saya yang pecah tawanya seketika mendengar saya ditawari cincin berlian seharga 22,5 juta itu.

“Nah, berarti menurut dia kamu itu potential customer, Mbak….”

Oh, gitu ya? Jadi gimana? Perlu nge-print duit sekarang nggak nih?
😆

 

[devieriana]

 

ilustrasi dipinjam dari sini

Continue Reading