Batuk Yang Tak Kunjung Sembuh Itu

coughDari dulu, musuh utama saya adalah batuk. Karena kalau batuk, yang ‘menderita’ bukan cuma saya, tapi juga orang yang ada di sekitar saya; bukan cuma keluarga, tapi juga teman yang dengar saya batuk. Bukan cuma iba, tapi juga pasti akan meminta saya untuk segera ke dokter supaya ada solusi buat batuk saya. Padahal saya sebenarnya paling malas ke dokter, masa dikit-dikit ke dokter, dikit-dikit ke dokter. Ke dokter kok dikit-dikit… *eh, lho?!*

Kalau soal flu/pilek/demam ringan/pusing, masih bisa saya taklukkan dengan obat yang biasa dijual umum. Atau kalau misalnya parah, dan sudah mengganggu aktivitas di kantor ya paling saya ke klinik kantor untuk minta obat. Jadi, catatan di kartu pasien saya di klinik itu sama dari atas ke bawah: batuk, pilek, demam, radang; begitu saja diulang-ulang. Lha wong memang yang suka menghampiri saya ya itu-itu melulu.

Hingga akhirnya di sekitar bulan Juni kemarin saya mulai didera batuk. Awalnya ya biasa, radang, demam, pilek, trus mulai deh batuk-batuk ringan. Berhubung obat umum yang biasa saya minum sudah tidak mempan, terpaksalah saya ke dokter, itu pun selang setelah 3 minggu batuk pileknya tak kunjung reda, bahkan sudah mulai dibilang berat. Dua kali saya datang ke dokter kantor dengan resep yang berbeda tak mempan, akhirnya saya menyerah. Udah, nggak ke dokter-dokter lagi, bosen. Lho, gimana deh, sakit parah kok malah nggak ke dokter. Bahkan lebaran kemarin saya nggak cihuy sama sekali, lha wong bunyi batuknya sudah seperti perokok berat. Padahal kan saya nggak merokok 🙁 . Sudah habis vitamin dan obat batuk berbotol-botol hasilnya tetap nihil. Sepertinya ini adalah batuk terparah yang pernah saya alami deh… *sedih*

Mama sempat menyarankan saya untuk pergi ke internist untuk memastikan batuk apa sih sebenarnya yang kerasan banget di badan saya ini. Tapi saya sempat menolak, bukan apa-apa, saya malah takut. Takut kalau ternyata di dalam paru-paru saya ada apa-apanya. Iya, saya aneh ya? Bukannya malah bagus kalau ketahuan penyakitnya apa biar cepat diobati, mengingat saya kan punya balita yang lagi lengket-lengketnya sama saya. Sempat antara geli dan sedih kalau Alea ditanya sama papanya, “gimana kalau Mama batuk?”. Dengan ekspresi lucu Alea menirukan gaya saya batuk, “uhuk, uhuk, uhuk!”

Akhir bulan lalu akhirnya saya beranikan diri ke rumah sakit untuk mengecek kondisi saya. Jangan ke internist dulu deh, ke THT aja. Dengan diantar suami, saya pun ke RS Medistra yang kebetulan dekat dengan tempat tinggal saya. Di sana saya diperiksa oleh dr. Nirmala, Sp.THT. Ya saya ceritakan apa keluhan saya yang sudah mengalami kebosanan tingkat akut dengan batuk yang saya derita ini. Setelah dicek sana-sini, dokter bilang batuk saya ini berawal dari pilek, bisa juga karena alergi (entah debu, atau udara dingin), jadilah radang dan sebagian lendirnya turun hingga menyebabkan batuk. Dalam hati saya alhamdulillah, berarti tidak semengkhawatirkan apa yang ada di dalam pikiran saya sebelum ke rumah sakit. Oleh dokter saya dikasih obat yang dosisnya ringan saja mengingat saya masih menyusui. Awalnya kalau memang sudah parah, mau dikasih obat yang mengandung morfin, tapi risikonya ya saya bakal teler berat. Lha ya nanti anak saya ikutan teler dong? Nggaklah, jangan, ini aja dulu. Toh belum seberapa berat.

Selama mengonsumsi obat itu, lumayanlah batuk pileknya berkurang, tapi masalah datang lagi, ketika obat itu habis lha kok batuk pileknya datang lagi :(( *stress* . Sampai akhirnya saya menyerah, ya sudah… saya ke spesialis penyakit dalam :((. Sore itu, sepulang kantor saya langsung ke RS Medistra lagi sambil terbatuk-batuk. Suara saya sudah serak tak ‘berbentuk’ lagi. Sesampainya di loket pendaftaran saya tanpa memilih dokter (karena saya belum pernah ke internist mana pun di sini), akhirnya saya dipilihkan dengan dr. Telly Kamelia, SpPD. Setelah menunggu selama 30 menit, dr. Telly pun datang. Dokter yang ramah dan komunikatif, itulah kesan pertama saya pada dokter berhijab di depan saya itu.

Saya diinterview hingga detail kira-kira apa penyebab batuk yang tak kunjung sembuh ini. Dicari penyebabnya, mulai faktor dari dalam keluarga, teman, lingkungan rumah, lingkungan kerja, aktivitas sehari-hari, dan banyak lagi pertanyaan lainnya. Hingga akhirnya tiba di kesimpulan yang sama dengan dr. Nirmala, SpTHT, sepertinya saya alergi debu dan udara dingin. Setelah diperiksa dada, punggung, hidung, tenggorokan, akhirnya penyakit saya ‘ketemu’, saya didiagnosa terkena rhino-faringitis, faringitis, dan bronchitis. Intinya saluran pernafasan saya terkena infeksi, gitu deh kira-kira kesimpulannya. Dan saya harus foto thorax untuk lebih memastikan apa yang ada di sekitaran paru-paru saya. Sampai sekarang foto thoraxnya belum saya ambil, nanti saja sekalian pas kontrol lagi hari Rabu, 16/09/2015. Semoga sih nggak sampai ada apa-apa di paru-paru saya ya, hiks… 🙁

resep
Alhamdulillah, sepertinya obatnya mulai bereaksi. Kata dokter sengaja memang diberi obat yang agak tinggi dosisnya, nanti ketika kontrol kedua akan dilihat hasilnya apakah ada perubahan/tidak. Kalau memang manjur, akan pelan-pelan dikurangi dosisnya. Baru setelahnya akan diterapi. Syarat terapinya saya harus total washed out dari segala konsumsi obat, vitamin, atau jamu selama kurang lebih satu minggu. Kalau terapi itu diberikan sekarang ketika saya masih sakit, kata dokter tidak bisa. Karena saya jadi tidak punya tameng untuk menangkal penyakitnya. Jadi biar sembuh dulu baru diterapi.

Dalam sakit kemarin, walaupun ‘cuma’ batuk, saya jadi merasakan betapa kesehatan itu amat sangat berarti. Pilek sedikit saja, itu sudah pengaruh ke mana-mana. Sudah saatnya jaga kondisi kesehatan dengan lebih baik lagi, mengingat kondisi badan saya termasuk rentan, plus saya bukan pehobi olahraga pula *self keplak*.

Baik-baik jaga kondisi badan ya, temans. Sehat itu mahal dan ribet (sekalipun biaya ditanggung asuransi). Ribet karena tetap harus pergi ke rumah sakit, ketemu dokter, nebus obat, and the blablabla. Semoga kita selalu diberikan kesehatan, supaya bisa memanfaatkan usia, kesempatan, dan hari-hari yang diberikan Allah dengan lebih baik lagi, terutama bersama orang-orang tercinta. Aamiin…

 

 

[devieriana]

 

sumber ilustrasi: nedandlarry.com dan pribadi

Continue Reading

Makrempong

friendship

‘Makrempong’ adalah salah satu nama dari 10 grup whatsapp yang ada di handphone saya. Baru 10 grup? Ah, cuma dikiiit… Dibentuk pertama kali oleh salah satu teman sekitar bulan April 2015. Isinya pun cuma 11 orang, tapi ramenya mengalahkan puluhan orang yang ada di grup whatsapp lainnya. Kebetulan kami bersebelas ini teman satu angkatan ketika baru masuk di operator merah tahun 2004. Sejak awal dipertemukan di Surabaya, kami sudah mendadak akrab begitu saja, semacam sudah punya chemistry.

Kami ‘lulus’ dari operator merah sekitar tahun 2006. Sejak saat itu kami terpisah menjalani karir berikutnya di kota masing-masing. Ada yang ‘meneruskan’ di operator yang sama dengan beda bendera, ada juga yang menjadi PNS, ada yang menjadi staf di oil company, staf di hotel, menjadi guru, atau ibu rumah tangga. Sampai akhirnya salah satu dari kami berinisiatif membentuk grup watsapp, dan voilaa… jadilah grup bernama ‘Makrempong’, yang artinya emak-emak yang rumpi, bawel, dan rempong tentu saja. Eh, padahal 11 orang itu sebenarnya terdiri dari 10 orang perempuan, dan 1 orang laki-laki, tapi berhubung mayoritas adalah perempuan, jadilah 1 orang laki-laki itu kita anggap perempuan juga… *toyor para emak di grup*

Dari sekian banyak grup yang ada di handphone saya, ada 4 grup yang keaktifannya luar biasa. Luar biasa menghabiskan daya batere handphone, maksudnya. Mereka adalah whatsapp grup kantor, whatsapp grup SMA, whatsapp group SMP, dan whatsapp group ‘Makrempong’ itu tadi. Keempat-empatnya punya karakter yang berbeda-beda. Kalau di grup kantor isinya variatif, selain sebagai grup hore-hore juga bisa digunakan untuk koordinasi kedinasan. Kalau grup SMP dan SMA isinya hampir sama, ngobrol ngalor ngidul, dengan topik yang beragam, mulai serius sampai dengan OOT dan absurd. Sedangkan grup Makrempong walaupun sama-sama rame tapi sedikit beda. Bedanya ada di chemistry di antara kami bersebelas. Jiyeee…

friendship makrempongDi Makrempong, topik apapun bisa dibahas, mulai topik yang berat sampai yang remeh-temeh. Topik tentang keuangan, keluarga, parenting, pekerjaan, curhat tentang pasangan, pendidikan anak, soal tetangga yang menyebalkan, curhat soal pekerjaan, sampai tips dan trik bercinta pun ada. Intinya Makrempong adalah ruang untuk katarsis dan membahas topik yang all in!

Tapi dari sekian banyak grup yang saya ikuti, saya melihat Makrempong adalah grup yang isinya paling tulus. Mungkin karena anggota grupnya tidak terlalu banyak, jadi masing-masing bisa chat secara ‘personal’ di grup. Lagi pula kami juga sudah mengenal pribadi masing-masing sejak 11 tahun yang lalu jadi kami bisa jadi diri sendiri dan nyaman ngobrol tanpa harus jaga image. Intinya adalah toleransi, saling percaya, dan kasih sayang kami terhadap satu sama lainlah yang membuat pertemanan kami awet hingga saat ini.

Bahkan tak jarang, kalau sedang ada topik yang hangat, penting, dan itu memicu komentar para anggota grup, saya bisa ketinggalan hingga ratusan chat lantaran baru sempat mengecek handphone selang setelah sekian menit/jam kemudian. Kalau sudah ketinggalan sekian ratus chat begitu ya sudah, pasrah saja, kalau sudah senggang, baru deh saya sempatkan untuk scroll up membaca satu persatu chat yang masuk. Eh, padahal di grup lainnya saya belum tentu begitu, bahkan sering saya skip-skip saja.

Namanya saja grup yang isinya 11 orang yang punya kepala berbeda, jadi tidak selamanya kami isinya selalu happy, atau punya pemikiran yang sama dan sejalan dalam melihat sesuatu. Pasti adalah saat-saat di mana salah satu dari kami sedang labil, baper (sensitif), down, dan atau menjengkelkan bagi sebagian orang, entah itu karena bawaan PMS, stress di kantor, masalah di rumah, atau memang sudah saatnya menjengkelkan, hehehe. Tapi justru itulah yang seninya persahabatan. Kalau Makrempong isinya orang-orang yang emosinya lurus-lurus saja kok malah kurang seru ya. Perbedaan itu justru membuat persahabatan kami semakin berwarna.

Konon, katanya, kita bisa punya teman sampai puluhan hingga ratusan teman, tapi jumlah sahabat yang dimilikinya tak pernah melebihi jumlah jari di kedua tangannya. Entahlah, benar atau tidak. Tapi kebetulan yang ada di Makrempong ini kok jumlahnya pas, persis sama dengan kedua jari tangan saya ya… hehehehe…

“Family isn’t always blood. It’s the people in your life who want you in theirs. The ones who accept you for who you are. The ones who would do anything to see you smile, and who love you no matter what.”
– unknown –

[devieriana]

sumber ilustrasi dipinjam dari sini dan dokumentasi pribadi

Continue Reading

Tentang Hijab Itu

Hai, apa kabar? Lama lagi ketemunya sama postingan baru ya. Alasannya agak klise sih ya, selain load pekerjaan yang sedang tinggi ditambah dengan mood menulis yang tak kunjung muncul, padahal ide tentang postingan ini sudah ada sejak sebulan lalu.

Ada sebuah perubahan besar yang terjadi pada saya selama hampir sebulan ini; pada tampilan keseluruhan saya setelah lebaran tahun ini. Setelah sekian lama ‘cuma berjanji’ akhirnya janji itu saya penuhi. Per 27 Juli 2015 kemarin saya memutuskan untuk berhijab. Sebuah keputusan yang buat saya termasuk besar, karena saya ingin hijab ini akan menyertai keseharian saya, dan bukan cuma sekadar ikutan trend atau ikut-ikutan teman.

Setiap perempuan muslim yang belum berhijab kalau ditanya, “kamu pengen nggak pakai hijab?”, jawabannya pasti beragam. Tapi pasti ada yang menjawab, “iya, pengen”. Nah, kalau sudah ditanya, “kapan?”, dulu saya pasti menjawab, “nanti, kalau saya sudah siap lahir batin”. Dan jawaban itu semacam jawaban template karena sampai lebaran kemarin pun saya belum ada niatan serius pakai hijab.

Janji pakai hijab itu sempat terlontar secara emosional ketika saya kehilangan putri pertama saya, “kalau anakku bisa diselamatkan, aku berjanji akan pakai hijab!”, dan nyatanya memang bayi saya tidak dapat diselamatkan, ya… saya berarti belum wajib pakai hijab. Saya paham, seharusnya niat pakai hijab bukan seperti itu, sampai akhirnya niat memakai hijab itu pun menguap begitu saja. Bahkan ketika melihat ada teman yang baru berhijab, belum ada sama sekali keinginan saya untuk berbuat hal yang sama. Bahkan saya sempat BT ketika ada teman yang meminta saya untuk berhijab. Buat saya, biarlah keinginan berhijab itu muncul dengan sendirinya. Kelak ketika saya sudah ikhlas, tanpa diminta pun saya akan menggunakan hijab kok. Begitu pikir saya waktu itu.

Hingga akhirnya ketika saya kembali dipercaya untuk mengandung lagi setelah 6 tahun berselang. Di moment kehamilan saya kali ini ada sebuah kedekatan antara saya dan Sang Pemilik Hidup. Begitu banyak limpahan pertolongan, perlindungan, berkah, rezeki, dan kemudahan-kemudahan yang saya terima selama hamil hingga melahirkan putri kedua saya pada medio 17 Juli 2014 silam. Saya jadi lebih rajin beribadah dibandingkan sebelumnya. Hingga entah bagaimana awalnya, di akhir tahun yang sama muncul keinginan untuk mulai berhijab murni dari dalam diri saya. Tapi karena sesuatu dan lain hal keinginan itu baru sebatas keinginan walaupun saya mulai mempersiapkan beberapa perlengkapan untuk berhijab.

Hingga menjelang lebaran pun saya masih belum menggunakan hijab. Saya masih sempat menggunting rambut saya dengan model yang sedang hits tahun ini, dan mewarnainya dengan warna kecokelatan.

Keinginan berhijab itu baru muncul ketika saya dalam perjalanan pulang menuju Jakarta setelah cuti lebaran di Surabaya. Tapi jangan ditanya, bagaimana perang batin yang terjadi pada saya sebelum akhirnya saya memutuskan untuk berhijab. Ada pertanyaan-pertanyaan yang saling berlompatan dalam pikiran saya, ada perang dalam batin saya:

“ah, emang yakin kamu bisa seterusnya berhijab? emangnya kamu pikir berhijab itu gampang? banyak lho di luar sana yang akhirnya lepas hijab dan kembali ke tampilan dia sebelumnya…”

“kamu berhijab bukan karena pengen ngikutin trend fashion para hijabers itu, kan?

“yakin kamu mau berhijab? nggak sayang sama rambut kamu? rambut kamu lagi bagus-bagusnya lho, lagi in lho potongan rambut kaya kamu itu. trus, badan kamu juga lagi bagus, udah balik normal, yakin kamu mau pakai baju yang longgar-longgar?”

“ngapain kamu susah-susah potong rambut, rambut pakai diwarnain segala kalau kamu akhirnya berhijab? udahlah, nggak usah hijab-hijabanlah… tar ajaa…”

Begitu banyak pertanyaan yang meragukan diri saya sendir. Tapi entah kenapa justru itu makin menguatkan saya untuk mulai menyortir busana-busana saya yang pas badan dan pendek-pendek, dan mulai memilah mana baju yang masih bisa saya kenakan dan mana yang harus saya karduskan. Dan mulai memadupadankan jilbab mana yang pas dengan baju yang mana. Semacam menemukan keasyikan sendiri sembari membereskan baju-baju saya.

Pagi harinya, 27 Juli 2015, dengan mengucap bismillah, saya mulai berangkat ke kantor dengan menggunakan hijab untuk pertama kali dengan perasaan yang masih campur aduk. Kalau sekadar berhijab dalam rangka memandu acara keagamaan di kantor sih sudah sering, tapi yang untuk nantinya jadi kostum sehari-hari ya hari itulah awalnya. Suami dan mama saya yang sebenarnya sudah memberikan restu sempat kaget karena tidak mengira permintaan izin berhijab yang saya lontarkan beberapa hari sebelumnya akan saya realisasikan hari itu.

----

Sesampainya di kantor, suasana ruangan masih tampak sepi, karena masih ada teman yang cuti atau sarapan di kantin dan belum kembali ke ruangan. Saya dengan sedikit mengendap-endap memasuki kubikel saya dan jadi kaget sendiri karena saya ‘dipergoki’ oleh salah seorang teman yang ternyata tidak saya sangka dia juga berhijab. Dia kaget melihat saya berhijab, pun saya ketika melihat dia juga berhijab, mengingat celetukan dia beberapa waktu lalu kalau berhijab itu nggak bisa fashionable, dia malah terlihat seperti nenek-nenek. Rasanya ‘ajaib’ melihat dia hari itu sudah berhijab, dan tampak jauh dari sosok yang dia gambarkan, dia terlihat lebih cantik dan anggun dengan hijabnya. Kami berdua berpelukan dan mewek berjamaah, terharu; karena sama-sama tidak menyangka bahwa kami yang beberapa minggu yang lalu masih ‘mainan’ jilbab sekadar untuk foto-foto selfie, sekarang kami berdua berhijab beneran.

Alhamdulillah respon yang saya terima semuanya positif walaupun seperti yang saya duga sebelumnya pasti lebih banyak yang terkaget-kaget melihat perubahan saya yang drastis. Bahkan ada yang (saya tahu dia pasti bercanda), “ah, ini pasti pencitraan…”. Tapi ya nggak apa-apa, namanya manusia pasti berproses.

Banyak secara pribadi menanyakan di watsap/bbm/DM twitter apakah (tampilan saya) ini untuk selamanya, apakah saya serius dengan penampilan saya yang sekarang, dan berbagai pertanyaan sejenis. Tapi ya ada juga yang mengira saya berhijab dalam rangka edisi (bulan) Syawal, atau ya kalau ada yang melihat penampakan DP BBM/watsap saya yang berhijab pasti mengira ya itu sekadar pasang DP berhijab saja, bukan untuk selamanya.

Dengan segala kerendahan hati, sederhana saja, saya cuma mohon didoakan, semoga saya istiqamah dengan hijab yang saya kenakan…

Matur nuwun….

 

 

[devieriana]

Continue Reading

Kisah Lebaran

selamat lebaran*bersih-bersih blog dari sarang laba-laba*

Hai apa kabar? Kelamaan hibernasi, nunggu ilham menulis yang tak kunjung datang, jadinya malah disarangin laba-laba.

Mumpung masih bulan Syawal, izinkanlah saya mengucapkan Selamat Idul Fitri 1 Syawal 1436 H, mohon maaf lahir bathin kalau ada salah kata dan perbuatan ya… 🙂

Ramadhan kali ini terasa berbeda, karena saya melewatkan puasa Ramadhan berempat (saya, Mama, suami, dan Alea). Kalau tahun lalu saya terpaksa tidak berpuasa karena sedang hamil, tahun ini alhamdulillah bisa berpuasa penuh, cuma ‘bolong’ 2 hari karena sedang dalam perjalanan mudik.

Setelah tahun lalu kami berlebaran di Jakarta karena saya baru lahiran, tahun ini kami berlebaran di Surabaya. Dan pilihan kami adalah mudik via jalan darat! What? iya, jalan darat. Dengan membawa Alea? Ya iyalah, masa iya dia ditinggal di rumah sendirian? Sempat galau juga sebelum memutuskan memilih mudik via darat atau udara. Tapi berhubung suami dan ipar saya semangat banget untuk mencoba mudik via darat, jadi ya sudahlah, bismillah aja.

Saya, suami, adik dan ipar saya sepakat cuti 4 hari sejak tanggal 15 Juli 2015 , dan baru akan ngantor lagi tanggal 27 Juli 2015. Akhirnya, hari yang ditunggu untuk mudik pun tiba. Kami memulai perjalanan ke Surabaya mulai tanggal 14 Juli 2015 pada pukul 20.30 wib via jalur utara. Salah satu alasan kami kenapa berangkat malam, ya itu adalah jam tidurnya Alea. Tujuan kami salah satunya adalah mencoba jalan tol yang sedang heitz itu; Tol Cipali!

Sepertinya hari keberangkatan kami adalah hari puncak mudik. Perjalanan mulai bergerak lambat mulai di… ah, saya lupa, karena saya ketiduran! Tahu-tahu, sudah masuk gerbang tol Cikopo. Harapan kami akan lancarnya perjalanan, menguap begitu saja, karena di sepanjang tol itu… buset, banyak banget ya mobilnya! Ya iyalah, banyak mobil, masa iya ongol-ongol! Jadilah kami agak bete di jalanan. Ok, ‘agak’ lho ya. Karena kami masih ingat kalau kita mau mudik, mau ketemu keluarga, mau lebaran di kampung halaman. Lagian kapan lagi ‘seru-seruan’ mudik via darat nan padat itu; sekali-kalilah, masa iya pakai pesawat terus. Ye, kaaan? *lap-lap garbarata*

Karena kami membawa bayi, jadi ya di setiap rest area kami usahakan untuk istirahat, selain biar para driver-nya nggak terlalu pegel, biar bayinya juga nggak stress di jalan. Tapi alhamdulillah, kami salut sama Alea; di tengah perjalanan yang panjang itu, dia sama sekali nggak rewel. Sekalinya rewel karena ngantuk atau lapar. Selebihnya ya dia ‘sibuk’ main boneka dan main dengan kami dengan berpindah-pindah jok (depan-tengah-belakang, begitu seterusnya), sambil melihat pemandangan dan macetnya jalanan. Perjalanan mudik itu kami tempuh selama hampir 32 jam! Ya maklumlah, sesuai dengan deskripsi di atas agak kurang memungkinkan juga kalau perjalanan kami tempuh kurang dari 24 jam. Kecuali kami punya… baling-baling bambuuu!

Lebaran tahun ini jadi moment yang istimewa kuadrat. Bukan sekadar moment di mana kami bisa bertemu dan bersilaturahim dengan keluarga besar, tapi juga bertepatan dengan ulang tahun Alea yang pertama. Alhamdulillah, gadis kecil yang tahun lalu di tanggal yang sama masih ‘sibuk’ menangis ala bayi di RS, sekarang sudah berusia 1 tahun, sudah punya banyak kebisaan dan kelucuan yang membahagiakan kami.

devi instagram

Oh ya, melihat perkembangan Alea yang pesat ini, ada hal yang ‘menakjubkan’ kami; Alea sudah mulai mengenal mainan di Timezone! Awalnya, dia cuma pengen dititah-titah doang, jalan keliling foodcourt di salah satu mall di Surabaya. Tapi mendadak di depan counter cotton candy yang berbentuk mobil-mobilan, dia nggak mau jalan, maunya jongkok saja di depan counter-nya. Dikirain mainan kali ya. Akhirnya, untuk membujuk dia agar mau jalan, saya belokkan ke Timezone yang kebetulan bersebelahan dengan counter cotton candy itu. Dan you know what bagaimana reaksinya? Semacam takjub gitu. Kan, di sana ada banyak suara, warna-warni wahana, dan hal-hal baru baginya. Alhasil, ketika saya ajak duduk menghadap wahana kereta-keretaan, dianya malah mau manjat pagar pembatas area kereta-keretaan. Yaelah, kamu ini laki apa perempuan sih, Nak? Kok mau manjat-manjat pager? *ajak Alea duduk manis di pinggir pagar-pagaran.

Jadi, ya sutralah ya, karena anaknya terlihat keukeuh pengen main, papanya akhirnya beli perdana juga. Demi menyenangkan Alea, hahahahak. Dan dia ceria banget dong, ketika naik kuda-kudaan, mobil-mobilan, dan kereta-keretaan. Dia juga anteng berdiri di mesin pengambil makanan (apa itu deh namanya), mungkin buat dia itu mesin yang lucu, karena bisa gerak-gerak sendiri, maju/mundur ngambil makanan. Gitu kali, ya? *tepok jidat*
*jidat papanya*

devi instagram_2

Dari pengalaman keberangkatan di mana kami sempat terjebat macet di Brebes dan sekitarnya, pulangnya kami memutuskan untuk mengubah rute perjalanan via jalur selatan. Biar nggak bosen, sekalian mau rekreasi. Alhamdulillah perjalanan pulang menuju Jakarta via jalur selatan ini jauh lebih lancar, ya itu juga karena kami balik ke Jakartanya sudah di tanggal yang off peak juga yaitu 24 Juli 2015. Tapi ya tetap saja sampai di Jakarta hari Minggu siang, tanggal 26 Juli 2015. Lho, kok bisa? Katanya jalanan lancar, nggak macet? Iya, kita sempatkan untuk bermalam di Yogyakarta. Tujuannya selain mau ngajak Alea naik delman (di Jakarta, Alea lagi seneng-senengnya lihat kuda dan naik delman yang keliling di sekitaran Mampang), selain itu juga ingin berwisata belanja di Malioboro, Pasar Beringharjo, dan sekitarnya, hihihihik.

Secara keseluruhan, perjalanan mudik lebaran tahun ini yang via jalan darat dan memakan waktu berhari-hari itu alhamdulillah berjalan lancar. Salut dengan ketahanan tubuh Alea. Di balik perjalanan yang melelahkan itu, dia alhamdulillah dalam kondisi yang sehat. Buat orang dewasa ini merupakan perjalanan yang melelahkan dan bikin stress, apalagi buat bayi seusia Alea.

Semoga lain kali bisa kumpul dan seru-seruan lagi bareng keluarga. Tapi semoga nggak pakai macet lagi kali..

[devieriana]

 

ilustrasi dipinjam dari sini

Continue Reading

Happy Anniversary for Us

happy anniversary

17 Juni 2007 – 17 Juni 2015

Seharusnya postingan ini saya terbitkan kemarin di tanggal yang sama dengan saat pertama di mana saya memulai kehidupan saya bersama suami, 8 tahun yang lalu. Tapi karena terkendala dengan banyaknya pekerjaan kemarin, alhasil niatan posting anniversary malah batal. Ah, alesyan! Dasarnya saya aja yang males.

Wow, time flies! Tak terasa sudah 8 tahun kami mengarungi bahtera rumah tangga bersama. Selama itu pula kami menjalani up and downs sebagai sepasang suami isteri.

Bukan waktu yang sebentar untuk menjalani hidup bersama seorang pasangan sebelum akhirnya penantian panjang kami untuk menjadi orang tua berbuah manis tahun lalu. Seorang gadis mungil nan manis terlahir dari rahim saya 17 Juli 2014, alhamdulillah terlahir dalam kondisi sehat sempurna tak kurang suatu apapun. Penantian yang cukup lama sejak kehamilan yang pertama 7 tahun silam (tahun 2008).

Tak dipungkiri kehadiran Alea —yang pada tanggal 17 Juni 2015 kemarin juga genap berusia 11 bulan itu pun— memberi warna yang berbeda dalam keluarga kami. Kehadiran Alea mengubah seluruh pola, konsentrasi, dan prioritas hidup kami. Alea sekarang sedang tumbuh lucu-lucunya. Dia sudah bisa menari, menyanyi walaupun baru ‘awawawawa’, sedang belajar berjalan, sudah bisa mengenali nama diri dan orang-orang di sekitarnya, sudah bisa berdoa (menengadahkan tangan dan mengusapkan telapak tangan ke wajah seperti layaknya orang selesai berdoa), sudah bisa hormat gerak (walaupun kalau hormat tangannya ada di ubun-ubun), dan banyak lagi kelucuan lainnya.

Ada satu hal lagi yang saya syukuri, akhirnya suami saya menutup beberapa kartu kreditnya! Iya, beberapa. Nanti akan saya ceritakan sendiri kenapa saya begitu riang mendengar suami mengutarakan niatnya untuk menutup beberapa kartu kreditnya. Kalau mood tentu saja, hahahaha. I know, tidak ada yang salah dengan punya beberapa kartu kredit. Yang salah adalah orangnya, gaya hidup, cara menggunakannya, dan konsekuensi untuk membayarnya. Banyak kok yang punya beberapa kartu kredit dan hidup mereka baik-baik saja, justru terbantu dengan adanya kartu kredit. Dulu, kalau saya ngedumel soal kartu kredit, dia sih bergeming saja. Kini, alhamdulillah dia punya kesadaran sendiri untuk melunasi seluruh tagihan kartu kreditnya. Dia bilang, “sekarang sudah ada Alea, sudah saatnya aku punya cicilan yang jauh lebih real ketimbang menyicil hutang/tagihan kartu kredit.” Akhirnya! Hore! Tidak pernah ada kata terlambat untuk memulai suatu kebaikan. Selama itu baik, pasti akan saya dukung penuh!

Tak banyak kata yang ingin saya sampaikan. I have been through some very tough times in my life. I thank you God for giving me the strength to get through those times. Thank you for a great life, a wonderful husband, lovely daughter, loving family and friends.

Happy anniversary my dearest Husband. On this anniversary, I take this opportunity to thank you for the eight magnificent years. Thank you for being you. Thank you for caring, understanding, and supporting me through these years. Thank you for being my partner, spouse, lover, and friend… Growing old with you is the best thing I could ever dream of. So, I will continue to gather all my strength to love you. May Allah bless our life, our family. Aamiin…

Happy 8th wedding anniversary. Love you to Jupiter and back!

[devieriana]

Ilustrasi diambil dari sini

Continue Reading